Komplotan Curanmor Jaringan Lampung Dibongkar Polisi Batuceper, 9 Motor Diduga Sudah Digasak

SIDIKPOST| Kota TANGERANG – Polisi berhasil mengungkap aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang diduga dilakukan oleh jaringan pelaku asal Lampung. Seorang pelaku berhasil diamankan oleh Tim Opsnal Unit Reskrim Polsek Batuceper, Polres Metro Tangerang Kota, saat hendak membawa kabur sepeda motor hasil curian.

Pelaku yang diamankan berinisial O (27), warga Lampung. Ia ditangkap pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 04.00 WIB di kawasan Poris Jaya, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang.

Kapolsek Batuceper Kompol Gunawan menjelaskan bahwa penangkapan bermula dari patroli mobile yang dilakukan tim opsnal saat melakukan penyelidikan kasus curanmor di wilayah tersebut.

“Anggota mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya dua orang yang mencurigakan dan bukan warga setempat. Tim kemudian menuju lokasi dan mendapati salah satu pelaku keluar dari gang dengan mengendarai sepeda motor,” ujar Gunawan.

Unit Reskrim Polsek kemudian langsung melakukan pengejaran dan berhasil menghentikan pelaku. Saat digeledah, pelaku mengakui bahwa sepeda motor yang dikendarainya baru saja dicuri dari rumah kontrakan di sekitar lokasi.

Sementara satu pelaku lainnya yang berperan sebagai pemetik berinisial Rica berhasil melarikan diri dan saat ini telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa sepeda motor Honda Beat Street, kunci letter T, anak kunci palsu, pisau dapur, hingga alat modifikasi kunci yang biasa digunakan untuk membobol kendaraan.

Berdasarkan hasil interogasi awal, pelaku mengaku telah melakukan pencurian sepeda motor di berbagai wilayah Jabodetabek.

“Dari pengakuan pelaku, mereka sudah melakukan pencurian sepeda motor sebanyak sembilan kali di sejumlah wilayah seperti Cipondoh, Serpong, Curug, Cikupa, Balaraja hingga Cengkareng,” jelas Kapolsek.

Motor hasil curian tersebut rencananya dikirim ke wilayah Tanggamus, Lampung, menggunakan kendaraan travel jenis pikap dari wilayah Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Polisi juga sempat melakukan penggeledahan di kontrakan pelaku lainnya di wilayah Cikupa. Namun saat didatangi petugas, kontrakan tersebut sudah kosong. Di lokasi hanya ditemukan beberapa barang seperti helm dan mesin gerinda yang diduga digunakan untuk membuat kunci palsu.

Saat ini pelaku berikut barang bukti telah diamankan di Polsek Batuceper untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Polisi juga masih melakukan pengembangan untuk menangkap pelaku lain yang terlibat dalam jaringan tersebut.

Kapolrestro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan kunci pengaman tambahan guna mencegah aksi curanmor.

“Peran aktif masyarakat sangat membantu kami dalam mencegah dan mengungkap tindak kejahatan. Segera laporkan jika melihat aktivitas mencurigakan, dapat lapor langsung ke Polres atau Polsek terdekat atau melalui layanan call center kami di 110 layanan bebas pulsa” pungkasnya.

 

Penulis : Anton Teef

Editor: Redaksi

Sekda Pastikan Pemerintahan Rejang Lebong Tetap Berjalan Usai OTT KPK

SIDIKPOST| Kota Tangerang – Sekretaris Daerah Rejang Lebong, Iwan Sumantri Badar, memastikan roda pemerintahan di Kabupaten Rejang Lebong tetap berjalan normal meski muncul kabar Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah pejabat daerah.

Iwan mengaku baru mengetahui informasi mengenai OTT tersebut setelah sahur pada Selasa (10/3/2026) pagi. Ia menyebut hingga kini belum menerima informasi resmi mengenai siapa saja pihak yang diamankan dalam operasi tersebut.

“Saya baru tahu setelah sahur tadi pagi. Artinya saya belum mendapat kepastian mengenai hal itu, termasuk siapa saja yang ikut diamankan,” ujar Iwan kepada awak media.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai kabar yang beredar. Menurutnya, publik sebaiknya menunggu keterangan resmi dari KPK agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi.

“Biasanya ada rilis resmi dari KPK. Kita tunggu saja agar tidak terjadi disinformasi. Selain itu kita juga harus menghormati proses hukum yang sedang berjalan,” katanya.

Meski identitas pihak yang diamankan masih simpang siur, jejak penindakan KPK terlihat jelas di pusat pemerintahan daerah. Berdasarkan pantauan di lokasi, tim penyidik telah memasang garis segel di pintu ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong.

Terkait penyegelan tersebut, Iwan menegaskan bahwa pemerintah daerah menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada penyidik KPK. Ia juga menegaskan bahwa Pemkab Rejang Lebong menghormati proses hukum yang tengah berlangsung.

Pantauan awak media diperkantoran Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, menunjukkan aktivitas aparatur sipil negara tetap berjalan seperti biasa.
Pelayanan kepada masyarakat juga masih berlangsung normal meskipun kasus OTT menjadi perhatian publik.

Namun demikian, sejumlah ASN memilih tidak memberikan komentar ketika dimintai keterangan oleh wartawan. Para pejabat di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Rejang Lebong juga terlihat enggan diwawancarai.

Sementara itu, ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong masih dalam kondisi disegel oleh tim KPK sebagai bagian dari proses penyelidikan. Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dikabarkan akan menggelar rapat internal sebelum memberikan pernyataan resmi kepada publik mengenai situasi pemerintahan daerah setelah peristiwa tersebut.(Z)

KPK OTT Bupati Rejang Lebong, Kantor dan Rumah Pejabat Disegel

SIDIKPOST | Kota Tangerang – Lembaga antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Muhammad Fikri Thobari, Bupati Rejang Lebong, bersama sejumlah pejabat daerah dan pihak swasta pada Senin (9/3/2026).

Sebanyak tujuh orang yang terjaring dalam operasi tersebut langsung diterbangkan ke Jakarta pada Selasa (10/3/2026) sekitar pukul 06.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan operasi penindakan tersebut. Ia menyatakan tim KPK sedang mendalami dugaan praktik suap atau pemberian fee proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong.

“Benar, tim kami sedang menjalankan operasi penindakan di wilayah Bengkulu. Pagi ini beberapa pihak yang terjaring, termasuk Bupati Rejang Lebong, dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Budi.

Operasi senyap itu dilakukan setelah tim KPK memantau aktivitas Fikri sejak Senin pagi. Pengintaian berlanjut hingga ia kembali ke kediamannya di kawasan Jalan Hibrida, Kelurahan Sidomulyo, Kota Bengkulu. Sesaat setelah tiba di rumah, tim penyidik langsung melakukan penyergapan dan penggeledahan.

Dalam penggeledahan tersebut, penyidik mendapati kehadiran Kepala Dinas PUPR Rejang Lebong bersama sejumlah pengusaha kontraktor. KPK juga menyita sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan uang fee proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong.

Selain mengamankan sejumlah pihak, KPK juga melakukan penyegelan di beberapa lokasi. Di antaranya ruang kerja Bupati dan Wakil Bupati di kantor Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong serta rumah pribadi Kepala Dinas PUPR. Pantauan pada Selasa (10/3/2026) menunjukkan ruangan tersebut telah dipasangi garis segel dan dijaga aparat Satpol PP.

Sebelum diterbangkan ke Jakarta, Fikri bersama beberapa pihak lainnya sempat menjalani pemeriksaan awal di Mapolresta Bengkulu. Sementara itu, Yuriko Fernanda menyebut bahwa Polres Kepahiang hanya digunakan sebagai lokasi pemeriksaan sementara oleh tim KPK.

“Ya, cuma dipakai tempat saja. Terkait persoalannya kami belum bisa bicara banyak,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tujuh orang yang diamankan terdiri dari unsur pimpinan daerah, pejabat teknis, hingga pihak swasta. Mereka antara lain Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong, Kepala Dinas PUPR, seorang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), serta dua pihak kontraktor.

Saat ini publik masih menunggu penetapan status hukum para pihak yang diamankan. Sesuai aturan, KPK memiliki waktu 1 x 24 jam sejak penangkapan untuk menentukan status tersangka dalam kasus dugaan suap proyek yang menyeret pejabat daerah tersebut.(Z)

RSUD Curup Tambah Tiga Dokter Spesialis, Pasien Tak Perlu Lagi Banyak Dirujuk ke Luar Daerah

SIDIKPOST| CURUP — Pelayanan kesehatan di RSUD Curup kini semakin lengkap. Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong tersebut menambah tiga dokter spesialis baru untuk memperkuat layanan medis kepada masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Curup, drg. Asep Setia Budiman, mengatakan penambahan tenaga spesialis ini menjadi kabar baik bagi masyarakat Rejang Lebong dan wilayah sekitarnya yang selama ini membutuhkan layanan kesehatan spesialistik.

Tiga dokter spesialis yang kini bergabung di RSUD Curup masing-masing adalah dokter spesialis mata, dokter spesialis patologi anatomi, serta dokter spesialis THT dan bedah kepala leher.

Menurut Asep, kehadiran dokter-dokter spesialis tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan yang sebelumnya masih terbatas.

“Dengan hadirnya dokter spesialis ini, pasien yang membutuhkan penanganan di bidang mata, THT, maupun pemeriksaan patologi anatomi tidak perlu lagi dirujuk ke rumah sakit di luar daerah,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, sejumlah kasus medis terpaksa dirujuk karena keterbatasan tenaga dokter spesialis di rumah sakit tersebut. Kondisi itu tidak jarang membuat pasien harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan penanganan.

Kini, layanan tersebut sudah bisa dilakukan langsung di RSUD Curup. Hal ini dinilai akan membuat proses penanganan pasien menjadi lebih cepat, efektif, dan efisien.

Penambahan tenaga spesialis ini juga merupakan bagian dari upaya manajemen rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Selain memangkas waktu tunggu, masyarakat juga tidak lagi terbebani biaya tambahan untuk transportasi rujukan ke luar daerah. Proses diagnosis hingga penanganan pasien diharapkan dapat berjalan lebih cepat.

Sebagai rumah sakit rujukan regional, RSUD Curup tidak hanya melayani masyarakat Kabupaten Rejang Lebong, tetapi juga pasien dari sejumlah daerah sekitar.

Karena itu, penguatan layanan spesialistik menjadi langkah penting untuk mendukung peran strategis rumah sakit tersebut.

Manajemen RSUD Curup berharap kehadiran dokter spesialis baru ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.(Jul)

Pemkot Tangerang Terapkan Fleksibilitas Kerja ASN Jelang Libur Idulfitri 1447 H

SIDIKPOST| kota Tangerang – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang menerbitkan kebijakan penyesuaian tugas kedinasan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) selama periode libur nasional dan cuti bersama Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Kebijakan tersebut bertujuan memberikan fleksibilitas kerja bagi pegawai tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Tangerang, Jatmiko, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Tangerang Nomor 5138 Tahun 2026. Melalui edaran tersebut, sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diberikan kesempatan untuk menerapkan sistem kerja Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret 2026 serta 25–27 Maret 2026.

“Kami memberikan kesempatan bagi sejumlah OPD untuk menyesuaikan tugas kedinasan bagi pegawainya di momen mudik dan Lebaran nanti. Surat edaran sudah diterbitkan dengan memberikan fleksibilitas bekerja secara WFA pada dua hari sebelum libur nasional dan cuti bersama serta tiga hari sesudahnya,” ujar Jatmiko, Kamis (5/3/2026).

Meski demikian, Pemkot Tangerang tetap menerapkan sistem Work From Office (WFO) bagi beberapa perangkat daerah yang memiliki tugas pelayanan publik secara langsung kepada masyarakat.

Beberapa instansi yang tetap menjalankan tugas secara langsung di kantor di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Kesbangpol, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Selain itu, petugas teknis lapangan pada sejumlah OPD serta seluruh instansi kecamatan dan kelurahan juga tetap menjalankan tugas seperti biasa.

Jatmiko menegaskan bahwa kebijakan fleksibilitas kerja ini tidak boleh mengganggu target kinerja pelayanan di setiap OPD. Menurutnya, pelayanan publik kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Kota Tangerang.

“Namun, kami juga menekankan bahwa surat edaran ini tidak boleh mengganggu target kinerja pelayanan di setiap OPD karena kepuasan masyarakat terkait pelayanan publik tetap menjadi prioritas bersama,” tambahnya.

Melalui kebijakan penyesuaian tugas kedinasan ini, Pemkot Tangerang berharap para ASN dapat memanfaatkan momentum libur Idulfitri untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus tetap menjaga produktivitas kerja.

Selain itu, fleksibilitas kerja tersebut diharapkan dapat memberikan keseimbangan antara kebutuhan pegawai dalam menjalani tradisi mudik dan perayaan Lebaran dengan tetap menjaga kinerja pemerintahan agar tetap optimal saat kembali bertugas setelah cuti bersama. (ADV)

Bisnis Gelap Kemasan Oli Palsu di Tambun Selatan Terbongkar “Aparat Buta, Tuli dan Lumpuh

SIDIKPOST| Bekasi – Praktik ilegal penjualan kemasan oli palsu terungkap di Kampung Buaran RT 003 RW 001, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Aktivitas yang semula diduga sebagai tempat pencucian botol oli bekas ternyata diduga menjadi bagian dari bisnis jual beli kemasan oli palsu yang berpotensi merugikan konsumen dan industri otomotif.

Temuan tersebut terungkap setelah awak media melakukan investigasi langsung di lokasi. Dari hasil penelusuran, aktivitas di tempat tersebut tidak sekadar membersihkan botol oli bekas, melainkan diduga menjadi tempat pengumpulan dan penjualan kembali kemasan oli yang menyerupai produk asli.

Seorang pekerja bernama Farel yang ditemui di lokasi pada Rabu (24/9/2025) mengaku hanya sebagai pekerja. Ia menyebut usaha tersebut dimiliki oleh seseorang bernama Bahtiar.

“Saya hanya pekerja, pemiliknya Pak Bachtiar,” ungkap Farel kepada wartawan.

Praktik penjualan kemasan oli palsu bukan hanya merugikan konsumen, tetapi juga berpotensi melanggar sejumlah ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Perbuatan tersebut dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang melarang pelaku usaha memperdagangkan barang palsu atau barang yang tidak sesuai dengan standar keamanan.

Dalam aturan tersebut, pelaku dapat dikenakan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun dan/atau denda hingga Rp2 miliar.

Selain itu, praktik tersebut juga berpotensi melanggar Pasal 382 bis Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait perbuatan curang dalam perdagangan. Pelaku juga dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis jika terbukti menggunakan atau memperdagangkan kemasan yang menyerupai merek dagang resmi.

Ancaman pidana dalam aturan tersebut dapat mencapai empat tahun penjara serta denda hingga Rp2 miliar.

Secara teknis, peredaran kemasan oli palsu membuka peluang bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan oli oplosan atau berkualitas rendah menggunakan kemasan yang menyerupai produk asli. Kondisi ini berisiko merusak mesin kendaraan konsumen sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih luas.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat belum memberikan keterangan resmi terkait temuan tersebut.

Saat awak media mencoba mengonfirmasi Kanit Reskrim Polsek Tambun Selatan, Iptu Deto, pada Senin (9/3/2026), yang bersangkutan belum memberikan tanggapan terkait informasi tersebut.

Masyarakat sekitar berharap aparat penegak hukum segera turun tangan melakukan penyelidikan mendalam dan menindak tegas praktik ilegal tersebut, demi melindungi konsumen serta menjaga kepercayaan terhadap produk oli resmi yang beredar di pasaran. (*)

Reklame Diduga Ilegal di Cilandak Timur Belum Ditertibkan, Warga Pertanyakan Kinerja Satpol PP Jaksel

SIDIKPOST| Jakarta – Sebuah reklame berukuran besar yang berdiri di kawasan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, diduga melanggar Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta terkait penyelenggaraan reklame.

Selain itu, reklame tersebut juga diduga tidak membayar pajak sehingga berpotensi merugikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta.

Berdasarkan laporan warga, reklame tersebut telah dilaporkan melalui sistem pengaduan pemerintah daerah. Dari hasil pengecekan pada database perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), reklame di lokasi tersebut disebut tidak terdaftar memiliki Izin Penyelenggaraan Reklame (IPR).

Laporan tersebut telah dikoordinasikan ke instansi terkait, termasuk Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Selatan untuk dilakukan penertiban.

Namun hingga kini, sekitar 10 hari sejak laporan disampaikan, reklame tersebut masih berdiri dan belum ada tindakan penertiban di lapangan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari warga sekitar terkait lambannya penanganan laporan tersebut.

Andre (35), warga yang tinggal di sekitar lokasi, mempertanyakan mengapa hingga saat ini belum ada tindakan tegas dari Satpol PP Jakarta Selatan terhadap reklame yang diduga tidak berizin tersebut.

“Kami sudah melaporkan dan dari hasil pengecekan juga disebutkan tidak terdaftar izinnya. Tapi sampai sekarang reklamenya masih berdiri. Kami jadi bertanya, kapan Satpol PP Jakarta Selatan akan menindak?” ujar Andre. (9/3)

Ia menilai penertiban reklame yang melanggar aturan seharusnya dapat dilakukan lebih cepat, terlebih jika sudah ada hasil verifikasi bahwa reklame tersebut tidak memiliki izin resmi.

Warga berharap pemerintah daerah, khususnya Satpol PP Jakarta Selatan, segera melakukan penertiban agar aturan mengenai penyelenggaraan reklame dapat ditegakkan secara konsisten dan tidak merugikan daerah dari sisi pajak.

Hingga berita ini diturunkan, reklame tersebut masih berdiri di lokasi dan warga masih menunggu langkah penertiban dari pihak berwenang.

 

Penulis : RDK

Editor : Redaksi

Kisah Rohani Petugas Lapangan Bagian Ke Enam : LA TAHZAN, WAHAI JIWA (Tuhan, Aku Hampir Runtuh)

La Tahzan….Wahai Jiwa…

Di kota Industri yang tidak pernah bertanya,

Berapa Banyak luka yang kau sembunyikan,

Seorang Petugas lelaki berdiri,

Dengan seragam Dinas lapangan sederhana,

Dan isi dada yang terus bergemuruh…

Gaji yang jauh dari cukup,

Menjawab harga dirinya…

Banyak Tunggakan mengetuk pintu,

Serta Kata-kata tajam menikam sunyi.

Namun di sepertiga malam,

Ketika dunia berhenti menghakimi,

Keningnya jatuh ke bumi,

Air matanya mengetuk pintu langit.

“Ya Tuhan … aku hampir runtuh,”

Bisiknya lirih….

Dan dari gelap yang paling dalam,

Hadir seberkas cahaya paling pelan;

La tahzan…

Aku tidak pernah meninggalkanmu sendirian…

 

PROLOG

Mungkin Hampir semua laki-laki tidak pernah menangis di depan dunia, Termasuk Ia yang sedang berjuang untuk keluarganya.

Ia melaksanakan tugas dan berdiri tegak di siang hari, mengenakan seragam dinas lapangan, menerima perintah, menahan terik matahari dan kritik masyarakat.

Ketika di malam hari…Ia runtuh dalam sujudnya. ‘Bhumi’ Panggilannya, Seorang ASN lapangan golongan rendah Dengan Gajinya kecil jauh dari cukup apalagi membuat sejahtera tidak sebanding dengan Tanggung jawabnya yang besar serta luka batinnya yang tidak terlihat.

Di kantor, ia dan rakan lapangan lainnya, hanya sebatas angka dalam daftar kehadiran dan Di rumah, ia sering terasa hanya seperti angka dalam daftar kekurangan.

Kontrakan sederhana menjadi saksi mulai dari tunggakan listrik menunggu dibayar, hutang yang menekan dari arah yang tak terlihat, Orang tua di kampung sedang terbaring sakit, Anak yang terus tumbuh dan menunggu masa depan serta Istri selalu menunggu perubahan. Di antara semua itu, Bhumi menunggu dirinya sendiri yang hampir hilang.

Sigmund Freud pernah berkata, “Unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in uglier ways.”

(Emosi yang tidak pernah diungkapkan tidak akan mati. Ia akan terkubur hidup-hidup dan suatu hari muncul dalam bentuk yang lebih menyakitkan.)

Berapa banyak laki-laki seperti Bhumi yang selalu mengubur lelahnya?

Berapa banyak suami yang menahan tangis karena merasa itu bukan lagi haknya?

Seorang Carl Jung pernah menulis, “The most terrifying thing is to accept oneself completely.”

(Hal yang paling menakutkan adalah menerima diri sendiri sepenuhnya.)

Bagaimana jika yang paling ditakuti seorang suami bukan Kondisi kemiskinan…Tapi kenyataan bahwa Ia merasa tidak lagi di hargai apalagi dihormati di rumahnya sendiri?

Alfred Adler, seorang tokoh psikologi individual, mengatakan, “Manusia terdorong bukan hanya oleh kebutuhan materi, tetapi oleh kebutuhan untuk merasa berarti.”

Bukankah itu inti luka Bhumi, Bukan sekadar gaji Kecil yang tidak mencukupi, Tapi rasa bahwa dirinya tidak lagi cukup sebagai imam atau kepala keluarga.

Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jika niat Bhumi adalah menjaga keluarganya tetap utuh dan terus berjuang untuk mencukupi, Apakah kegagalannya di mata manusia berarti kegagalan di sisi Allah?

Allah berfirman, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Dan pertanyaan yang lebih dalam, Apakah Bhumi masih mampu melihat kemudahan itu di tengah tekanan yang bertubi-tubi?

Walaupun Seorang Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Kesabaran adalah kuda yang tidak pernah lelah.” Tapi bagaimana jika penunggangnya hampir jatuh?

Prolog ini bukan hanya tentang kemiskinan, Bukan pula hanya tentang rumah tangga yang mendingin, apalagi hanya tentang tekanan pekerjaan lapangan.

Ini tentang seorang laki-laki yang berada di batas antara, Bertahan atau pergi, Sabar atau hancur dan Beriman atau menyerah pada putus asa.

Dan Ini tentang jiwa yang berbisik dalam gelap, “Tuhan… aku hampir runtuh.”

Di titik itulah pertanyaan-pertanyaan mulai mengetuk, Apakah harga diri seorang suami hanya diukur dari angka di slip gaji?

Apakah cinta mampu bertahan tanpa adanya keaamanan ekonomi?

Apakah sabar berarti diam tanpa batas?

Karena Sampai kapan seorang laki-laki harus kuat sebelum boleh mengaku lelah?

Dan jika dunia tidak lagi memberinya penghargaan, apakah sujudnya cukup untuk membuatnya tetap berdiri?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis, “Hati tidak akan pernah tenang kecuali dengan mendekat kepada Allah.”

Maka di antara kontrakan sederhana Ada Tunggakan yang menunggu dan kata-kata yang melukai, Bhumi memilih satu jalan yang tidak terlihat dunia dengan “Sujud.”

Karena mungkin, Di saat manusia menutup pintu penghargaan, Langit justru sedang menunggu ketukan air matanya dan dari sanalah kisah ini dimulai.

 

Langit Seperti Ikut Murung

 

Di Rumab kontrakan sederhana tengah kota Industri, Bhumi terbaring dengan tubuh menggigil, Demamnya belum turun sejak semalam. Kepala terasa berat, tulang seperti dipukul-pukul, badan panas tinggi, tenggorokan kering karena puasa yang tetap ia jalankan meski sedang sakit.

Hari ini ia tidak masuk kerja seperti biasanya, bukan karena ingin bermalas-malasan, Tapi karena tubuhnya benar-benar meminta Istirahat.

Bhumi merupakan salah satu personel ASN lapangan golongan rendah. Gajinya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Di antara rekan-rekannya, Satria Perkasa yang selalu berapi-api, Kang Ibay yang jenaka, Cak IIP yang bijak, Erdan yang pendiam, Bang Luky yang keras tapi setia kawan, Yoga yang cekatan, Ahmad Aris yang tenang, dan Abien yang selalu penuh harapan sedangkan Bhumi yang paling sering diam. Diam bukan karena tidak punya suara, Tapi karena terlalu banyak yang ditahan.

Beberapa hari lalu di kantor, suara Satria Perkasa menggelegar saat briefing, “Kalau target kegiatan lapangan tidak tercapai, kita yang kena, gaji kita dipotong! Pimpinan nggak mau tahu alasan!”

Bhumi diam dan hanya mengangguk, Kondisi lapangan tidak pernah ramah dan terik matahari, keluhan masyarakat, perintah atasan yang tidak kenal lelah.

Bang Luky pun menepuk pundaknya, “Lu Pasti kuat, Bhum. Tapi jangan dipendam sendirsendirinya.”

Bhumi pun tersenyum tipis. Kalimat sederhana yang hampir membuatnya menangis waktu itu, karena di rumah, tidak ada yang menepuk pundaknya seperti itu.

Ketika sore menjelang, tubuhnya makin panas dan Anak lelakinya duduk di sudut ruangan, mengerjakan PR dalam diam, sedangkan Istrinya lalu-lalang tanpa bicara apalagi sebuah tanya, “Abang udah minum obat?”

Tidak ada lagi sentuhan di dahi, yang ada hanya jarak dan beberapa malam sebelumnya, pertengkaran kembali pecah.

“Aku capek denger alasan demi alasan terus!” suara istrinya tajam.

“Gaji kecil dan segitu-gitu aja!, Mau sampai kapan hidup kayak gini?”

Bhumi pun menarik nafas dalam dan mencoba tenang, “Aku nggak lari dari tanggung jawab, Aku masih kerja, masih urus anak dan Aku terus berusaha…”

“Sudahlah, jangan Janji-janji terus, percuma nggak ada perubahan.” Jawab ketus Istrinya.

Kalimat itu seperti palu yang menghantam harga dirinya Sebagai suami sekaligus imam keluarga. Ia bukan tidak mau memiliki penghasilan lebih, hanya kondisinya belum mampu.

Langit kadang murung bukan karena ia lemah, tetapi karena terlalu lama menahan hujan. Begitu pula seorang suami yang diam, bukan karena tidak peduli tentang kekurangan kebutuhan hidup, melainkan karena ia sedang menahan badai sendirian.

 

Angka yang Mencekik

 

Di sudut meja kecil sebelah kamar tidur, ada secarik kertas mulai dari Tunggakan listrik, Cicilan hutang, Biaya sekolah anak, Les tambahan dan Obat orang tua di kampung.

Sedangkan nominal Gajinya sangat jauh dari angka yang sudah menunggu di secarik kertas itu dan angka-angka itu seperti mengejeknya.

Bhumi pun menunduk, “Ya Allah… aku ini kurang apa lagi?” bisiknya lirih.

Ia tidak pernah mabuk, judi apalagi meninggalkan nafkah keluarga dengan sengaja. Bahkan pekerjaan rumah pun ia kerjakan, Tapi di mata istrinya, apapun yang dia usahakan tetap tidak cukup dan rasa tidak dihargai itu lebih menyakitkan dari demam yang menggerogoti tubuhnya.

Meski dalam keadaan sedang sakit, ia tetap berpuasa. Bukan karena merasa paling kuat, tapi karena ia butuh pegangan.

Menjelang waktu magrib, tubuhnya gemetar. Ia duduk di sajadah tipis dan Air mata jatuh tanpa suara. Lalu dari kedalaman dada yang hampir runtuh, ia pun berzikir, “La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minaz-zalimin…” Secara Berulang-ulang.

Seperti Nabi Yunus dalam Perut ikan dan kondisi gelap dan Bhumi merasa hidupnya juga berada dalam tiga gelap, Gelap ekonomi, Gelap rumah tangga dan Gelap harga diri yang perlahan terkikis.

“Tuhan… aku hampir runtuh…” bisiknya.

Bukan ingin lari, Bukan pula ingin meninggalkan anaknya. Tapi ia lelah berjuang sendirian.

Tiba-tiba Ponselnya bergetar, sebuah Pesan masuk dari Satria Perkasa.

“Bhum, kabar kondisi badan lu gimana sekarang? Lu nggak masuk, Jangan tumbang sendirian. Kita ini bukan cuma rekan kerja, tapi saudara.”

Bhumi membaca pesan itu cukup lama. Di kantor, mungkin ia hanya ASN golongan rendah. Tapi di antara rekan-rekannya, ia masih dianggap berarti.

Kang Ibay pernah berkata saat patroli bersama, “Yang bikin kita bertahan bukan gaji, Bhum. Tapi rasa bahwa kita masih punya harga diri.”

Kalimat itu terngiang kembali, Apakah harga dirinya benar-benar hilang, Atau hanya tertutup luka?

Beberapa kali terlintas dalam pikirannya, “Kalau aku pergi… mungkin mereka lebih bahagia.”

Tapi wajah anaknya menghentikan pikiran itu. Seorang ayah boleh miskin. Tapi jangan sampai anak kehilangan bayangannya. Ia sadar, yang ingin ia tinggalkan bukan keluarga. Tetapi, yang ingin ia tinggalkan adalah rasa gagal, Rasa tidak dihargai dan Rasa lelah.

 

Sujud yang Panjang

 

Malam itu sudah masuk malam ke 18 bulan puasa, setelah berbuka sederhana, Bhumi berdiri melaksanakan Ibadah meski tubuhnya lemah.

Di akhir Sholat tarawih malam itu, Tangannya terangkat, “Ya Allah… aku tidak minta kaya, Cukupkanlah agar keluargaku hidup layak, Lembutkanlah hati istriku dan Kuatkan aku, serta Jangan Engkau biarkan aku runtuh.”

Air matanya membasahi sajadah. Ia tidak tahu bagaimana caranya mencukupi kebutuhan keluarganya serta melunasi hutang-hutangnya serta membantu pembiayaan pengobatan orang tuanya.

Ia tidak tahu kapan hutangnya lunas dan kapan istrinya kembali hangat. Tapi yang ia tahu satu hal, “Allah tidak pernah salah menghitung perjuangan hamba-Nya.”

Subuh mulai menyingsing, demamnya belum sepenuhnya turun dan Masalahnya pun belum selesai. Rekening Listrik masih menunggu belum dibayar. Hutang masih belum berkurang dan Istrinya masih dingin.

Tapi di dalam dada Bhumi, ada sesuatu yang sedikit berbeda. Bukan sebuah solusi instan apalagi keajaiban mendadak. Tapi ketenangan kecil, Seperti bisikan lembut, “La tahzan… jangan bersedih.”

Karena barangkali yang sedang Allah persiapkan bukan hanya rezekinya. Tapi keteguhan jiwanya.

Bhumi menatap anaknya yang masih tidur terlelap. Ia tersenyum tipis.

“Ayah akan terus berjuang dan belum menyerah,” bisiknya pelan.

Dan meski dunia belum berubah, meski angka-angka tunggakan masih mencekik dan meski kata-kata istrinya masih menusuk, Bhumi memilih satu hal, “Bertahan hari ini dan Melangkah pelan besok.”

Ia menyerahkan sisanya pada Tuhan. Sebab kadang, pertolongan tidak datang dengan suara gemuruh. Ia datang secara perlahan…melalui hati yang tidak jadi runtuh.

Langit sore itu berwarna pucat, seperti kelelahan menahan terlalu banyak doa yang belum terjawab.

Di pos pantau yang sederhana, Bhumi akhirnya kembali masuk kerja setelah beberapa hari ijin karena demam. Tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat, tetapi hidup tidak pernah memberi ruang terlalu lama untuk beristirahat.

Satria Perkasa baru turun dari mobil patroli, Kang Ibay mengeluh tentang panasnya cuaca. Cak IIP duduk sambil merapikan laporan hasil patroli, namun ada satu hal yang Bhumi rasakan hari itu, Yoga terlihat berbeda.

Biasanya Yoga menjadi orang yang paling banyak bercanda. Tapi Hari itu wajahnya terlihat pucat, matanya sembab seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur.

Bhumi mendekat pelan, “Ga tidur lagi semalam?” tanya Bhumi lirih.

Yoga tersenyum hambar, “Udah biasa kalau sekarang, bang.”

 

Malam-Malam Tanpa Tidur

Yoga tidak tinggal di kontrakan seperti Bhumi. Ia tinggal di rumah mertuanya di sebuah komplek perumahan. Setelah ayah mertuanya meninggal, rumah itu dihuni oleh, Ibunya mertua, Istrinya, Dua anaknya dan dirinya sendiri

Secara fisik rumah itu cukup besar dan luas, Tapi secara batin… Yoga sering merasa tidak punya tempat untuk bernafas. Karena hampir setiap minggu, orang-orang datang silih berganti mengetuk pintu rumah itu. Bukan saudara apalagi tetangga. Tapi debt collector pinjaman online.

Suatu siang beberapa hari lalu, dua pria tinggi dan besar berdiri di depan rumah.

“Pak Yoga ada?,” Suara mereka cukup keras hingga terdengar sampai dapur.

Mertua perempuannya pun keluar dengan wajah bingung, “Maaf Siapa ya?”

“Kami dari “debt collector” penagihan pinjaman.” Jawab mereka.

Kalimat itu seperti petir dan Tetangga mereka pun mulai melirik, sedangkan Anak-anaknya berhenti bermain.

Yoga pun keluar dengan wajah tertunduk, “Maaf ya Bu…” bisiknya pada mertua.

Ia tidak berani menatap wajah wanita tua itu dan Istrinya berdiri di belakang pintu dengan mata merah.

Setelah debt collector itu kembali dengan rasa kecewa, tapi dalam rumah itu pertengkaran kembali pecah.

“Kamu pinjam online lagi?!” suara istrinya bergetar.

“Aku hanya ingin menutup yang lama…” jawab Yoga pelan.

“Kamu bilang kemarin terakhir! Tapi kenapa masih ada lagi?!” jawab sang Istrinya.

Yoga pun terdiam. Karena sebenarnya ia sendiri sudah kehilangan hitungan dan Pinjaman menutup pinjaman, Bunga menumpuk bunga dan dari luar, rumah yang terlihat cukup besar itu menyimpan kegelisahan yang tidak terlihat.

Di Pos pantau sore itu, Bhumi dan Yoga duduk di bawah pohon yang sejuk. Angin sore bertiup pelan.

Yoga akhirnya bicara secara pelan, “Aku sudah ga tidur tiga malam, Bang.”

Bhumi lalu menatapnya, “Kenapa ga?”

Yoga pun tertawa pahit, sambil berkat, “Karena setiap pejam mata aku dengar ketukan pintu.” Lalu Ia menarik napas panjang.

“Aku malu sama mertua, Malu sama kakak-kakak istriku dan Setiap kali ada debt collector datang… rasanya aku bukan kepala keluarga, Aku cuma beban keluarga.”

Bhumi terdiam lama…Kalimat itu terasa sangat dekat dengan lukanya sendiri, luka yang Tidak Terlihat tapi begitu menyakitkan.

Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, pernah berkata, “What is most personal is most universal.”

(Apa yang paling pribadi dalam diri manusia sering kali justru dialami banyak orang).

Bhumi menatap tanah, ternyata bukan hanya dirinya yang hampir runtuh. Di sebelahnya duduk lelaki lain yang memikul dunia yang sama beratnya.

Lalu Bhumi berkata pelan, “Emang Sudah Berapa totalnya?”

Yoga menatap langit, “Udah bang, hampir 50 juta.”

Bhumi kaget, “Itu Pinjol semua ga?”

Yoga pun mengangguk, “Awalnya cuma lima juta buat sekolah anak… terus nutup yang lama… terus nutup lagi…”

Ia menunduk, “Sekarang aku ga tahu lagi cara keluarnya dan sampai sekarang belum ketemu solusi.”

Semua kembali diam, Sunyi turun di antara mereka.

Lalu Yoga berkata lirih, “Aku kadang sering mikir… kalau aku hilang aja dari dunia ini, mungkin semua masalah selesai.”

Bhumi langsung menoleh tajam, “Jangan ngomong gitu ga.”

Yoga tersenyum lemah, “Aku cuma capek, Bang.”

Viktor Frankl, seorang psikolog yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah menulis, “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”

(Ketika kita tidak lagi mampu mengubah keadaan, kita ditantang untuk mengubah diri kita.)

Bhumi mengingat kalimat itu dari sebuah buku yang pernah ia baca.

Ia menepuk bahu Yoga, “Kita belum kalah ga.”

Yoga menatapnya, “Lu juga lagi susah kan bang.”

Bhumi tersenyum tipis, “Makanya itu kita jangan runtuh barengan.”

_______

Malam itu Bhumi pulang dengan rasa lelah setelah seharian bekerja dan langkahnya pun pelan.

Di rumah kontrakan yang sederhana, setelah Mandi dan makan seadanya, ia kembali berdiri dalam membentangkan sejadah. Tapi kali ini doanya tidak hanya untuk dirinya.

Kemudian, Ia berbisik dalam sujud khusuknya,

“Ya Allah…

jika aku hampir runtuh,

Sahabatku Yoga lebih dekat lagi dengan jurang.

Jangan Engkau biarkan kami jatuh.”

Air mata kembali jatuh.

“Ya Rabb…

Engkau tahu kami bukan orang jahat.

Kami hanya ayah-ayah yang ingin anaknya makan, sekolah dan hidup layak.”

Ia sujud lebih lama lagi.

Keningnya menempel di sajadah tipis yang mulai basah oleh air mata dan dari dada yang sesak oleh tekanan hidup, keluarlah doa yang tidak lagi disusun oleh logika tapi oleh luka,

“Ya Allah…

Engkau yang Maha Mengetahui apa yang tidak sanggup aku ceritakan kepada siapa pun.

Aku lelah, ya Rabb…

Bukan karena kerja keras, Tapi karena merasa sendirian dalam berjuang.

Aku tidak mengeluh tentang rezeki-Mu, Tapi aku takut tidak mampu menjaga amanah-Mu.

Ya Allah…

Jika Engkau uji aku dengan sempitnya harta,

Lapangkanlah dadaku.

Jika Engkau uji aku dengan dinginnya rumah tangga, Hangatkanlah hatiku agar tidak membeku.

Jika Engkau uji aku dengan kata-kata yang melukai harga diriku, Jangan Engkau cabut rasa sabarku.”

Air matanya jatuh semakin deras….

“Ya Allah…

Aku ini hamba yang lemah.

Aku tidak minta hidup mewah.

Aku hanya ingin cukup…

Cukup untuk membayar listrik,

Cukup untuk menyekolahkan anakku,

Cukup untuk membuat istriku tersenyum tanpa cemas.

Ya Rabb…

Aku hampir runtuh.

Bukan karena dunia terlalu berat,

Tapi karena pundakku terasa sendirian memikulnya.”

Ia terdiam sejenak. Tangisnya pecah tanpa suara dan dadanya makin sesak…

“Ya Allah…

Engkau tahu aku tidak lari dari tanggung jawab….

Engkau tahu aku bekerja, aku berusaha, aku menjaga anakku….

Jika di mata manusia aku dianggap gagal,

Jangan Engkau anggap aku gagal di sisi-Mu.”

Sajadah itu kini basah seluruhnya.

“Ya Rabb…

La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minaz-zalimin.

Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim…

Zalim karena sering merasa putus asa, Zalim karena kadang meragukan takdir-Mu, Zalim karena merasa sendirian padahal Engkau selalu dekat.”

Suara hatinya makin dalam….

“Ya Allah…

Jangan biarkan anakku tumbuh melihat ayahnya hancur, Jangan biarkan aku kehilangan arah.

Jika rezekiku masih kecil, Besar-kanlah keberkahannya.

Jika jalanku masih sempit, Bukakan pintu dari arah yang tak pernah aku sangka.”

Ia menahan napas….

“Dan jika Engkau belum mengubah keadaanku sekarang,

Ubah dulu hatiku….Kuatkan dulu imanku.

Teguhkan dulu kakiku…Agar aku tidak pergi dalam keadaan kalah.”

Sujudnya makin lama.

“Ya Rabb…

Aku tidak tahu bagaimana caranya mencapai hasil yang cukup untuk kebutuhan sebulan.

Aku tidak tahu bagaimana caranya melunasi hutang-hutangku.

Aku tidak tahu bagaimana cara melembutkan hati istriku…Tapi Engkau tahu dan cukuplah Engkau yang tahu.”

Tangis itu kini menjadi tenang…

“Ya Allah…

Kalau hari ini aku masih bertahan,

Itu karena Engkau yang menahanku.

Kalau esok aku bangkit,

Itu karena Engkau yang menguatkanku.

Aku berserah.

Aku menyerah kepada-Mu,

Bukan kepada keadaan.”

Dalam sunyi itu, tak ada suara gemuruh, tak ada langit terbelah. Tapi ada satu hal yang berubah, Hati yang hampir runtuh itu…Tidak jadi jatuh sepenuhnya.

Karena kadang pintu langit diketuk bukan dengan teriakan, Tapi dengan sujud yang panjang dan air mata yang jujur di antara gelapnya malam,

Bhumi tahu satu hal, “Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang berserah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.” 🤲

Setelah sholat dan mengadu kepada Allah, Ia duduk di teras rumah kontrakan, Ia termenung karena begitu banyak pertanyaan di hatinya, Pertanyaan yang Mengguncang Dalam sunyi malam itu,

Mengapa begitu banyak lelaki yang terlihat  kuat tapi runtuh dalam diam?

Mengapa tekanan masalah ekonomi mampu meretakkan keluarga?

Mengapa dunia sering menilai seorang suami hanya dari angka penghasilannya?

Apakah Allah melihat semua air mata ini?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah menulis, “Tidak ada satu tetes air mata pun yang jatuh karena Allah kecuali Dia menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”

Di luar sana, Yoga mungkin masih terjaga di rumah mertuanya… memandangi langit-langit sambil menghitung hutang yang Tidak sanggup lagi dihitung.

Dua lelaki dengan Dua rumah berbeda Tapi memiliki luka yang hampir sama.

Bulan Ramadhan masih berjalan menuju malam-malam terakhirnya. Sementara langit…Masih menunggu doa-doa yang paling jujur dari hamba-Nya.

 

EPILOG

Ketika Jiwa Tidak Jadi Runtuh karena tidak semua badai berhenti dalam semalam. Tidak semua doa dijawab dengan cara yang kita bayangkan.

Demam Bhumi akhirnya turun, tapi Tunggakan listrik belum langsung lunas, Hutang belum serta-merta hilang dan Sikap istrinya pun belum sepenuhnya berubah hangat. Tapi ada satu hal yang berubah pelan-pelan, Cara Bhumi berdiri.

Ia tidak lagi berdiri sebagai lelaki yang menuntut dunia memahami lelahnya. Ia berdiri sebagai hamba yang tahu, Bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh nilai slip gaji, Melainkan oleh keteguhan hati ketika diuji. Ia mulai melangkah kecil, Mencari tambahan rezeki walau sederhana dan Menyusun ulang keuangan walau sempit.

Berbicara dengan istrinya bukan lagi dengan nada membela diri, Tetapi dengan hati yang lebih tenang. Ia belajar satu hal penting, Bahwa terkadang Allah tidak langsung mengubah keadaan, Karena yang lebih dulu harus diubah adalah cara kita memandang keadaan itu.

Bhumi semakin menyadari, Ia tidak pernah benar-benar sendirian, hanya terlalu lama memikul semuanya sendiri.

Ada satu malam, dalam sujud yang tidak lagi penuh tangis, Bhumi berbisik, “Ya Allah… terima kasih karena Engkau tidak membiarkanku runtuh.”

Ia sadar yang hampir hancur waktu itu bukan rumah tangganya, pekerjaannya, ekonominya. Tapi harapannya. Ketika harapan kembali menyala, Meski kecil, Itu cukup untuk menyalakan semangat melangkah esok hari.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah, karena tiada yang berputus asa kecuali orang yang sesat.”

Bhumi memilih untuk tidak menjadi orang yang putus asa. Ia mungkin bukan suami sempurna, bukan ayah bergaji besar, bukan pula ASN dengan jabatan tinggi. Tapi ia adalah lelaki yang tetap sujud ketika hidup menekannya dan itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang tidak terlihat. Mungkin suatu hari, Anaknya akan tumbuh dan berkata, “Ayah tidak pernah kaya, Tapi ayah tidak pernah menyerah.”

Mungkin suatu hari, istrinya akan menyadari, Yang ia butuhkan bukan sekadar angka slip gaji yang besar, Melainkan lelaki yang tidak pergi saat keadaan sulit. Karena sesungguhnya, Keluarga tidak selalu diselamatkan oleh harta yang banyak, Tapi oleh hati yang tetap bertahan.

La tahzan, wahai jiwa…Jika hari ini masih terasa berat, Ingatlah bahwa kamu pernah hampir runtuh dan tetap memilih untuk sujud dan siapa yang masih mampu sujud, Ia belum kalah, karena kadang kemenangan terbesar bukan ketika masalah hilang, Tetapi ketika hati tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤲

 

===== BERSAMBUNG =====

 

BACA JUGA :

 

KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah  Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094

 

KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//

 

KISAH KE – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : https://sidikpost.com/?p=129119

 

KISAH KE – 4 : Puasa Di Antara Neraca Retak (Doa di Tengah Timbangan yang Patah) https://sidikpost.com/?p=129149

 

KISAH KE – 5 : Mengadu Pada Langit  (Sujud Yang Menggugat Kebijakan) https://sidikpost.com/?p=129224

 

ARDHI MORSSE, SABTU 7 MARET 2026

 

 

Kapolrestro Tangerang Kota Pimpin Penanganan Banjir, Polres Dirikan Posko dan Dapur Umum

SIDIKPOST | TANGERANG – Personel Polres Metro Tangerang Kota bergerak cepat menangani banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Tangerang. Sejak banjir mulai merendam permukiman warga, aparat kepolisian langsung turun ke lapangan untuk melakukan evakuasi warga serta membantu penanganan darurat di berbagai titik terdampak. Minggu (8/3/2026).

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari mengatakan bahwa jajarannya langsung mengerahkan personel ke lokasi banjir guna membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

“Personel kami langsung turun melakukan evakuasi warga yang terdampak banjir serta membantu masyarakat di titik-titik yang mengalami genangan cukup tinggi,” ujar Jauhari.

Selain mengevakuasi warga, Polres Metro Tangerang Kota juga mendirikan posko siaga bencana untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir. Posko tersebut difungsikan sebagai pusat koordinasi bantuan sekaligus tempat pelayanan bagi warga.

Petugas kepolisian juga melakukan pengaturan lalu lintas di sejumlah ruas jalan yang terdampak banjir guna menghindari kemacetan dan mencegah kendaraan terjebak genangan air.

Tak hanya itu, bagi warga yang harus mengungsi, Polri bersama unsur TNI dan Pemerintah Kota Tangerang juga menyiapkan dapur umum serta layanan pemeriksaan kesehatan bagi para korban banjir.

“Kami bekerja sama dengan TNI dan Pemerintah Kota Tangerang untuk memastikan masyarakat yang terdampak tetap mendapatkan bantuan, mulai dari evakuasi, makanan hingga layanan kesehatan,” kata Kapolres.

Ia menegaskan bahwa seluruh personel akan terus disiagakan di lapangan hingga kondisi banjir benar-benar surut dan situasi kembali normal.

“Prioritas kami adalah keamanan dan keselamatan masyarakat. Personel akan terus berada di lapangan untuk membantu warga sampai kondisi benar-benar aman,” tegasnya.

Kehadiran aparat kepolisian bersama TNI dan pemerintah daerah di lokasi banjir pun mendapat apresiasi dari warga yang merasa terbantu dengan proses evakuasi dan bantuan yang diberikan.

 

PENULIS : ANTON TEEF

EDITOR : REDAKSI

 

Buka Puasa Bersama Dan Santunan Anak Yatim Piatu KELUARGA BESAR PEMUDA KALI CHAGAX RT 02 & RT 01 / RW 01 KAPUK MUARA

SIDIKPOST |Jakarta Utara – Keluarga Besar Pemuda Kali Chagax Mari Luangkan Waktu Untuk Hadir Di Acara Buka Puasa Bersama Kami. Semoga Kebersamaan Ini Mempererat Silaturahmi Kita. Acara Dimeriahkan Oleh KH. Yusuf Ismail S. Ag Penceramah Dan Acara Tersebut Dilaksanakan Di Musholla Al-Muttaqin RT 02/ RW 01 Kapuk Muara Kelurahan Kapuk Muara Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara.(08/03/26)

RT Ridwan Ketua RT 02 Menyampaikan ,” Assalamualaikum Warahmatullahi Wabatokatuh Alhamdulillah Puji Syukur Kepada Allah SWT. Pelaksanaan Kegiatan Acara Buka Puasa Bersama Dan Santunan Anak Yatim Piatu Keluarga Besar Pemuda Kali Chagax Di Musholla Al-Muttaqin RT 02 RW 01 Kapuk Muara , Penjaringan Jakarta Utara “.

“MARHABAN YA RAMADHAN 1447 H/2026 M” ACARA BUKA PUASA BERSAMA DAN SANTUNAN ANAK YATIM PIATU KELUARGA BESAR PEMUDA KALI CHAGAX DI MUSHOLLA AL-MUTTAQIN RT 02/ RW 01 KAPUK MUARA PENJARINGAN JAKARTA UTARA.

” Dalam Rangka Indahnya Berbagi Dengan Bersedekah Dan Saling Berbagi Kepada Anak Yatim. Semoga Kita Semua Diberikan Keberkahan Serta Nikmat Sehat Dan Selalu Dalam Lindungan Allah SWT Dan Mudah-mudahan Doa Kita Semua Dapat Dijabah Oleh Allah SWT. “Amiin ya Robbal Alamin, Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh”. Kami Mengucapkan Banyak Terima Kasih, Ucap RT Ridwan Ketua RT 02 “.

PENULIS : Kendy

EDITOR : REDAKSI

PPBNI Satria Banten Gelar Santunan Yatim dan Dhuafa di Desa Lembangsari Rajeg

SIDIKPOST| Rajeg, Tangerang – Organisasi masyarakat PPBNI Satria Banten menggelar kegiatan santunan bagi anak yatim dan dhuafa yang berlangsung di RT 009 RW 005 Desa Lembangsari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus PPBNI Satria Banten serta tokoh masyarakat setempat.

Acara dimulai pada pukul 15.30 WIB dengan pembukaan oleh panitia. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan tawasul dan pembacaan Maulid yang dipimpin oleh Ustadz Harun Arrosyd bersama Assidiqiah pada pukul 16.00 WIB.

Memasuki sesi sambutan, Ketua PPBNI Satria Banten Ranting Lembangsari, Dedi Sugianto, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pengurus dan masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan sosial tersebut. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua DPAC PPBNI Satria Banten Kecamatan Rajeg, Amaludin ST, yang menegaskan pentingnya kepedulian sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Kegiatan semakin khidmat dengan sambutan dari Ketua Umum DPP PPBNI Satria Banten, Abah Oyim Munandar Sugriwa, SH, MBA, yang hadir langsung dalam acara tersebut. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh anggota organisasi untuk terus menjaga kebersamaan serta meningkatkan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Iqbal pada pukul 17.15 WIB, kemudian tausiyah agama yang disampaikan oleh Ustadz Ilyas Z.U pada pukul 17.30 WIB.

Puncak acara berlangsung pada pukul 17.45 WIB, yaitu pembagian santunan kepada anak yatim dan dhuafa yang diserahkan secara simbolis oleh Ketua Umum PPBNI Satria Banten Abah Oyim Munandar Sugriwa SH, MBA, bersama Ketua DPAC Rajeg Amaludin ST serta jajaran pengurus PPBNI se-Kecamatan Rajeg. Setelah penyerahan santunan secara simbolis, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan pembagian santunan kepada para penerima.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang diikuti oleh panitia dan tamu undangan. Menjelang waktu berbuka puasa, panitia juga membagikan snack buka puasa, dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah dan makan bersama, sehingga kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan.

Kegiatan sosial ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antara anggota PPBNI Satria Banten dengan masyarakat serta menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap anak yatim dan kaum dhuafa di wilayah Kecamatan Rajeg.

 

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

Polres Tangsel Musnahkan 6,8 Kg Sabu dan Puluhan Ekstasi Hasil Pengungkapan Kasus Narkotika

SIDIKPOST| Tangsel – Polres Tangerang Selatan memusnahkan barang bukti narkotika dari tiga laporan polisi (LP) hasil pengungkapan kasus oleh Satresnarkoba Polres Tangerang Selatan. Kegiatan pemusnahan dilaksanakan di Mapolres Tangerang Selatan.

Pemusnahan dipimpin oleh Wakapolres Tangerang Selatan Kompol Muchammad Tri Yandi Permana, S.I.K., M.A. dan dihadiri Kasat Resnarkoba AKP Pardiman, S.H., M.H., perwakilan Kejaksaan Negeri Kota Tangerang Selatan, Pengadilan Negeri Tangerang, Puslabfor Polri, tokoh agama, penasehat hukum serta para tersangka.

Wakapolres Tangerang Selatan menjelaskan bahwa barang bukti yang dimusnahkan terdiri dari narkotika jenis sabu seberat 6.829,68 gram, tembakau sintetis seberat 4,82 gram, serta 87 butir ekstasi.

“Barang bukti terlebih dahulu dilakukan pengecekan oleh tim Puslabfor Polri untuk memastikan keasliannya, kemudian dimusnahkan dengan cara diblender dan dicampur dengan cairan pelarut,” ujar Wakapolres.

Kegiatan pemusnahan ini merupakan bagian dari komitmen Polres Tangerang Selatan dalam memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkotika di wilayah hukum Kota Tangerang Selatan.

 

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi