Polres Metro Tangerang Kota Tutup 2025 dengan Evaluasi Kamtibmas, Soroti Lonjakan Kejahatan Digital

SIDIKPOST| KOTA TANGERANG — Polres Metro Tangerang Kota menggelar Rilis Akhir Tahun 2025 di Mapolres Metro Tangerang Kota, Rabu (31/12/2025).

Agenda tahunan ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh atas situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), penegakan hukum, serta pelayanan kepolisian sepanjang tahun 2025 di wilayah Kota Tangerang.

Kegiatan dipimpin langsung oleh Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Raden Muhammad Jauhari S.H., S.I.K., M.Si, dan dihadiri sejumlah pejabat daerah, antara lain Wali Kota Tangerang Sachrudin, Wakil Wali Kota Tangerang Maryono, Ketua DPRD Kota Tangerang Rusdi Alam, serta Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar. Hadir pula para Pejabat Utama (PJU) Polres Metro Tangerang Kota dan awak media Kota Tangerang.

Dalam pemaparannya, Kapolres menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025 terjadi peningkatan crime total yang sejalan dengan meningkatnya jumlah laporan masyarakat.

Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong kenaikan laporan adalah maraknya kejahatan berbasis media sosial, khususnya penipuan digital, sehingga masyarakat semakin aktif melapor ke pihak kepolisian.

Meski demikian, Kapolres menegaskan bahwa peningkatan laporan tersebut turut diimbangi dengan peningkatan kinerja penanganan perkara oleh jajaran penyidik.

Sepanjang tahun 2025, Polres Metro Tangerang Kota berhasil mencatat capaian 3.846 penanganan kasus, baik untuk tindak pidana serius maupun kejahatan konvensional.

Pada aspek kejahatan konvensional, Kapolres menyampaikan adanya dinamika naik turun pada beberapa jenis tindak pidana.

Namun, ia menegaskan bahwa kasus narkoba menjadi perhatian utama, khususnya pada periode Juli hingga Desember 2025. Pemberantasan narkoba difokuskan pada peredaran sabu dan obat-obatan terlarang, termasuk obat daftar G, yang dinilai kerap memicu tindak pidana lain seperti kekerasan dan gangguan kamtibmas.

Sementara itu, pada bidang lalu lintas, Polres Metro Tangerang Kota juga memaparkan data kecelakaan lalu lintas yang menunjukkan adanya perbandingan kenaikan dan penurunan pada sejumlah indikator. Kapolres menyoroti masih adanya tantangan seperti keterbatasan sarana prasarana serta rendahnya disiplin berlalu lintas di masyarakat.

Sebagai langkah ke depan, kepolisian akan kembali mengoptimalkan penegakan hukum berlalu lintas melalui penerapan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) serta penindakan manual secara selektif, terutama terhadap pelanggaran kasat mata seperti tidak menggunakan helm dan bonceng lebih dari satu penumpang.

Melalui rilis akhir tahun ini, Polres Metro Tangerang Kota menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pelayanan publik, memperkuat penegakan hukum, serta menjaga sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat guna menciptakan Kota Tangerang yang aman, nyaman, dan kondusif.

 

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

Polres Kukar Gelar Apel Gabungan Pengamanan Tahun Baru 2026, Perkuat Sinergi TNI–Polri dan Pemda

SIDIKPOST| Kutai Kartanegara — Polres Kutai Kartanegara menggelar Apel Gabungan Kesiapan Pengamanan Malam Tahun Baru 2026, Rabu (31/12/2025) sore sekitar pukul 17.00 WITA. Kegiatan yang berlangsung di halaman depan Mako Polres Kutai Kartanegara ini dipimpin langsung oleh Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar, S.I.K., S.H., M.H.

Apel gabungan tersebut dihadiri unsur Forkopimda serta instansi terkait, di antaranya Bupati Kutai Kartanegara dr. Aulia Rahman Basri, M.Kes, Dandim 0906/Kutai Kartanegara Letkol Arm. Benny Budiman, S.A.P., Wakapolres Kukar, para pejabat utama Polres Kukar, serta perwakilan dari BPBD, Jasa Raharja, Satpol PP, Dishub, Damkar, dan instansi pendukung lainnya.

Peserta apel terdiri dari personel gabungan TNI-Polri serta unsur terkait, meliputi satu pleton perwira Polri, personel Sat Samapta, Sat Lantas, Sat Polair, Sat Reskrim dan Resnarkoba, Sat Intelkam, unsur Kodim 0906/Kukar, Satpol PP, Dishub, Damkar, BPBD, hingga Setkom.

Dalam arahannya, Kapolres Kutai Kartanegara menegaskan bahwa apel kesiapan ini merupakan bentuk komitmen Polri bersama TNI, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder dalam memberikan rasa aman serta kenyamanan masyarakat pada perayaan Malam Tahun Baru.

“Perayaan Natal dan Tahun Baru merupakan momentum masyarakat untuk beribadah, berkumpul, dan merayakan pergantian tahun. Oleh karena itu, negara harus hadir memberikan jaminan keamanan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan aman dan tertib,” ujar AKBP Khairul Basyar.

Kapolres menjelaskan, berdasarkan mapping kerawanan terdapat sejumlah potensi gangguan kamtibmas yang perlu diantisipasi, di antaranya ancaman intoleransi, radikalisme dan terorisme, tindak kriminal seperti pencurian dan kekerasan, balap liar, penyalahgunaan narkoba, pesta miras, petasan, perusakan fasilitas umum, hingga kemacetan lalu lintas di pusat aktivitas masyarakat.

Untuk itu, Kapolres menekankan beberapa poin penting kepada seluruh personel pengamanan, yakni menjaga soliditas dan sinergi antarinstansi, memastikan kesiapan fisik dan mental, melakukan deteksi dini terhadap perkembangan situasi, serta mengedepankan pola pengamanan yang profesional dan humanis.

“Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, tetap waspada, perhatikan keselamatan diri, dan berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Rekan-rekan sekalian adalah representasi kehadiran negara di tengah masyarakat,” tegasnya.

Apel gabungan ditutup dengan pembacaan doa dan penghormatan pasukan. Kegiatan berakhir sekitar pukul 17.30 WITA dalam situasi aman, tertib, dan kondusif. Dengan apel kesiapan ini, Polres Kutai Kartanegara berharap seluruh rangkaian pengamanan Malam Tahun Baru 2026 dapat berjalan optimal sehingga masyarakat dapat merayakan pergantian tahun dengan aman dan penuh ketenangan. (Rls)

Polres Kukar Tutup 2025 dengan Rilis Kinerja dan Pemusnahan Barang Bukti Narkoba-Miras

SIDIKPOST| Kukar — Polres Kutai Kartanegara menggelar Rilis Akhir Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan pemusnahan barang bukti narkoba dan minuman keras (miras), Rabu (31/12/2025) sore. Kegiatan berlangsung di Ruang Catur Prasetya Lantai 3 dan Halaman Lobi Mako Polres Kutai Kartanegara, mulai pukul 14.00 WITA hingga 15.40 WITA, dan berjalan aman serta lancar.

Rilis akhir tahun ini dipimpin langsung oleh Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar, serta dihadiri unsur Forkopimda, pejabat utama Polres Kukar, instansi terkait, dan sekitar 25 awak media dari berbagai platform.

Dalam sambutannya, Kapolres Kukar menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan rilis akhir tahun sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kinerja kepolisian kepada masyarakat. Kapolres juga mengapresiasi peran awak media yang dinilai selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang benar dan faktual kepada publik.

“Rilis akhir tahun ini kami laksanakan untuk memberikan gambaran capaian kinerja Polres Kutai Kartanegara selama satu tahun terakhir, yang kami sajikan melalui video selayang pandang. Kami terbuka terhadap masukan dan pertanyaan dari rekan-rekan media,” ujar AKBP Khairul Basyar.

Kapolres menegaskan, penanganan dan pemberantasan narkoba masih menjadi fokus utama Polres Kukar di tahun 2025, mengingat dampak besar yang ditimbulkan terhadap generasi muda dan stabilitas kamtibmas. Komitmen tersebut diwujudkan dengan berbagai upaya penindakan, pencegahan, serta peningkatan sinergi bersama stakeholder terkait.

Dalam kegiatan tersebut, Polres Kukar menayangkan video selayang pandang yang memuat sejumlah capaian selama tahun 2025. Mulai dari bidang pembinaan personel, perbandingan pengungkapan kasus gangguan kamtibmas tahun 2024 dan 2025, penanganan kasus lalu lintas, hingga implementasi strategi cooling system melalui kegiatan preemtif, preventif, serta penegakan hukum.

Paparan tersebut juga menampilkan sejumlah kasus menonjol sepanjang tahun 2025, pelaksanaan berbagai operasi kepolisian, serta pemberian penghargaan kepada personel berprestasi sebagai bentuk motivasi dan penguatan profesionalisme anggota Polri.

Usai sesi tanya jawab dan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pemusnahan barang bukti narkoba dan miras hasil pengungkapan kasus oleh jajaran Polres Kutai Kartanegara. Barang bukti narkotika yang dimusnahkan meliputi 224,37 gram sabu dalam 91 bungkus, 17 butir ekstasi seberat 4,45 gram, serta 989 butir obat keras jenis Double L. Selain itu, turut dimusnahkan 1.820 botol miras pabrikan.

Pemusnahan tersebut menjadi simbol kuat komitmen Polres Kukar dalam memberantas peredaran narkoba dan miras demi menciptakan lingkungan yang aman, sehat, serta kondusif bagi seluruh masyarakat Kutai Kartanegara.

Melalui kegiatan rilis akhir tahun ini, Polres Kutai Kartanegara berharap kepercayaan publik terhadap Polri semakin meningkat, serta sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat terus terjaga dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di wilayah hukum Polres Kukar. (Rls)

67 Personel Polres Kukar Naik Pangkat Jelang 2026, Kapolres: Ini Amanah yang Harus Dijaga

SIDIKPOST| Kukar — Polres Kutai Kartanegara menggelar Upacara Korps Raport Kenaikan Pangkat Personel terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Januari 2026, pada Rabu (31/12/2025) pagi. Upacara yang berlangsung khidmat di halaman Mako Polres Kutai Kartanegara tersebut dipimpin langsung oleh Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WITA ini dihadiri oleh Wakapolres Kukar, para pejabat utama Polres Kutai Kartanegara, seluruh perwira, bintara, ASN Polri, serta Ketua Bhayangkari Cabang Kutai Kartanegara Ny. Bella Khairul bersama pengurus Bhayangkari.

Dalam amanatnya, Kapolres Kukar menegaskan bahwa kenaikan pangkat merupakan bentuk penghargaan dari institusi atas dedikasi, loyalitas, serta kinerja personel dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pangkat baru juga merupakan amanah besar yang harus dijaga dengan sikap dan tindakan yang lebih baik.

“Kenaikan pangkat bukan sekadar perubahan tanda kepangkatan, namun merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas kinerja, sikap mental, serta keteladanan dalam bertugas,” ujar AKBP Khairul Basyar.

Kapolres juga menekankan pentingnya menjadikan momen ini sebagai motivasi untuk bekerja lebih profesional, humanis, dan berintegritas, sejalan dengan semangat Polri Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan).

Sebanyak 67 personel Polres Kutai Kartanegara resmi menerima kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dengan rincian sebagai berikut:

  • Iptu ke AKP: 7 personel
  • Ipda ke Iptu: 9 personel
  • Aipda ke Aiptu: 9 personel
  • Bripka ke Aipda: 11 personel
  • Brigpol ke Bripka: 3 personel
  • Briptu ke Brigpol: 10 personel
  • Bripda ke Briptu: 18 personel

Kapolres mengingatkan, tanda pangkat yang kini disandang merupakan simbol kemampuan sekaligus kepercayaan institusi, sehingga setiap personel diminta segera menyesuaikan diri serta menunjukkan perilaku dan kinerja yang selaras dengan tanggung jawab baru.

“Jadikan kenaikan pangkat ini sebagai momentum untuk bersyukur dan memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat. Jangan lupa, keberhasilan ini juga merupakan buah dari doa dan dukungan keluarga,” tambahnya.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tanda pangkat baru serta pemberian karangan bunga oleh istri atau Bhayangkari kepada personel yang naik pangkat sebagai simbol dukungan keluarga terhadap tugas dan pengabdian anggota Polri. Kegiatan ditutup dengan pemberian ucapan selamat serta foto bersama dalam suasana penuh kebanggaan dan kekeluargaan. (*)

Polda Kaltim Gelar Rilis Akhir Tahun 2025, Tegaskan Komitmen Transparansi dan Pelayanan Presisi

SIDIKPOST| Balikpapan — Sebagai wujud akuntabilitas serta keterbukaan informasi kepada masyarakat, Polda Kalimantan Timur menggelar Rilis Akhir Tahun 2025 yang memaparkan capaian kinerja, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta berbagai dinamika penanganan keamanan selama tahun 2025 di wilayah Kalimantan Timur. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa (30/12/2025).

Rilis akhir tahun ini dihadiri langsung oleh Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Endar Priantoro, S.H., S.I.K., C.F.E., M.H., didampingi Wakapolda Brigjen Pol Dr. H. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.H., para Pejabat Utama Polda Kaltim, serta awak media cetak, online, dan elektronik.

Dalam paparannya, Kapolda Kaltim menyampaikan bahwa secara umum situasi kamtibmas di wilayah hukum Polda Kaltim sepanjang tahun 2025 berada dalam kondisi aman dan terkendali. Ia menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan di Kalimantan Timur.

Kapolda juga menuturkan bahwa sepanjang tahun 2025, Polda Kaltim telah melaksanakan berbagai operasi kepolisian, baik operasi terpusat maupun kewilayahan. Operasi tersebut dilakukan untuk pengamanan agenda nasional, penanggulangan potensi gangguan kamtibmas, serta pengamanan hari besar keagamaan hingga perayaan akhir tahun. Dalam pelaksanaannya, Polda Kaltim mengedepankan pendekatan humanis, profesional, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Tidak hanya fokus pada aspek kamtibmas, Kapolda Kaltim turut menyoroti upaya peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis Presisi, termasuk optimalisasi layanan kepolisian, penguatan kepercayaan masyarakat, serta peningkatan integritas personel. Ia menegaskan, Polda Kaltim terus melakukan pembinaan internal secara konsisten untuk mencegah pelanggaran disiplin maupun kode etik, sekaligus meningkatkan profesionalisme anggota di lapangan.

Pada kesempatan tersebut, Kapolda Kaltim juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Polda Kaltim dan jajaran atas dedikasi dan pengabdian selama tahun 2025. Ia turut menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kalimantan Timur atas dukungan serta kerja sama dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Menutup paparannya, Kapolda menegaskan bahwa Polda Kaltim berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja di tahun 2026 demi mewujudkan Polri yang Presisi, humanis, dan semakin dipercaya masyarakat. (*)

MAHLIGAI YANG RETAK OLEH PENGKHIANATAN

Sinopsis

Mahligai yang Retak oleh Pengkhianatan merupakan kisah tentang seorang lelaki perantau yang sejak kecil ditempa oleh keterasingan dan kemandirian. Jauh dari keluarga, ia tumbuh menjadi perintis usaha yang menggantungkan hidup pada kerja keras dan perjalanan antarkota.

Pernikahannya dengan seorang perempuan karier yang bekerja di lembaga pendidikan internasional semula menjadi rumah bagi harapan: tentang cinta, kesetiaan, dan masa depan seorang anak Perempuan yang mereka miliki.

Namun jarak yang tercipta oleh tuntutan hidup pelan-pelan membuka celah pengkhianatan. Ketika sang suami sibuk menjaga keberlangsungan usaha, sang istri justru terjerat hubungan terlarang dengan rekan kerja, Seorang lelaki beristri dan juga anak.

Pengkhianatan itu terungkap bukan lewat pengakuan, melainkan dari kepolosan sang anak, yang tanpa sadar dipaksa menyebut lelaki lain sebagai “ayah”.

Alih-alih meledak dalam amarah, sang suami memilih jalan sunyi: menasihati, memberi kesempatan dan bertahan demi anak. Namun luka yang tidak disembuhkan hanya berubah wujud.

Bertahun kemudian, pengkhianatan kembali terulang dengan sosok berbeda.
Kembali berhubungan dengan seorang duda muda dari lingkungan kerja sang istri, Hal tersebut menjadi batas kesabaran sang suami benar-benar diuji.

Di tengah dinginnya sikap istri, privasi yang semakin tertutup, dan cinta yang tak lagi berbalas, sang suami tetap menjalankan perannya: mengurus rumah, membesarkan anak, dan memikul beban rumah tangga tanpa keluh.

Ia menyerahkan sisa hidupnya pada takdir Allah, sembari menegakkan satu batas terakhir, bahwa pengkhianatan berikutnya akan menjadi akhir dari kebersamaan.

Cerita ini bukan sekadar kisah perselingkuhan, melainkan potret sunyi tentang martabat, kesetiaan, dan keberanian seorang lelaki menjaga mahligai rumah tangga hingga batas terakhir.

Dengan bahasa reflektif dan kritis, Mahligai yang Retak oleh Pengkhianatan menghadirkan pelajaran hidup tentang cinta yang diuji oleh jarak, kesabaran yang hampir berubah menjadi pengabaian, serta pilihan paling berat dalam rumah tangga: bertahan dengan harga diri, atau pergi dengan kehormatan.

*“LELAKI YANG MEMILIH DIAM DI TENGAH PENGKHIANATAN”*

Sejak kecil, lelaki itu telah belajar berdiri tanpa sandaran. Ia tumbuh jauh dari pelukan orang tua dan hangatnya rumah keluarga. Perantauan bukan pilihan, melainkan takdir yang lebih dulu mengetuk pintu hidupnya. Dari usia yang belum matang, ia mengerti satu hal: hidup tak pernah menunggu seseorang siap.

“Lelaki yang tumbuh jauh dari keluarga tak pernah benar-benar meminta dunia berlaku adil; ia hanya belajar kuat sebelum sempat mengeluh.”

Ia merintis segalanya dari nol, dari keringat, dari lapar yang ditelan senyap, dari sepi yang dipeluk sebagai kawan.

Hingga suatu hari ketika Ia merintis usahanya, ia bertemu seorang perempuan yang menggetarkan hatinya: Sederhana, cerdas, senyum yang indah dengan lesung pipit di pipinya dan bercahaya oleh kariernya.

Perempuan itu bekerja di sebuah lembaga pendidikan internasional, membawa wangi masa depan yang bisa mendidik anaknya kelak.

Lelaki itu jatuh cinta, bukan karena kecantikan, karier apalagi kemewahan, tetapi karena percaya: bahwa cinta adalah Ibadah sekaligus kerja sama, bukan panggung untuk bersaing apalagi saling menaklukkan.

Setelah menjalin hubungan yang cukup lama, akhirnya mereka menikah dengan pernikahan yang sederhana dan di saksikan kedua keluarga serta rekan-rekan dan para sahabat.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa pernikahan sudah di jalani selams tujuh tahun dan sudah hadir Seorang anak perempuan yang saat ini berusia lima tahun. Anak perempuan tersebut kemudian menjadi alasan utama mengapa lelaki itu tetap bangun setiap pagi dengan dada lapang, meski hidup sering menampar tanpa aba-aba.

“Anak adalah doa yang berjalan; untuknya, seorang ayah sanggup menunda luka.”

Sebagai perintis usaha, lelaki itu sering pergi keluar kota. Mengantarkan barang, menjemput kepercayaan reseller, mengejar keberlangsungan hidup.

Keluarga di Rumah kerap ia tinggalkan, bukan karena ingin, tetapi karena harus. Ia percaya, cinta yang matang tak runtuh hanya karena jarak.

Lalu suatu hari, ketika Ia baru pulang dari luar kota dan sedang beristirahat sambil bermain dengan anak, sang istri meminta izin berlibur bersama rekan-rekan kerjanya.

Lelaki itu mengangguk dan memberikan Izin. Tidak ada kecurigaan sedikitpun. Ia tak pernah belajar mencintai dengan prasangka.

Namun di antara rombongan itu, ada seorang lelaki yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan pariwisata dan kantornya tidak jauh dari kantor sang Istri berkerja, laki-laki itu di kemudian hari di ketahui sudah beristri dan memiliki tiga orang anak. Sebuah ironi yang kelak menjelma luka.

Kebenaran akhirnya datang bukan dari pengakuan apalagi kejujuran, melainkan dari mulut polos seorang anak.

Saat sang ayah pulang dari perjalanan, anak itu bercerita tentang mobil pribadi, tentang seorang lelaki yang menjemput dan jalan-jalan, tentang panggilan “PAPA” yang dipaksakan.

“Pengkhianatan selalu ceroboh; ia lupa bahwa anak-anak tak pandai berbohong.”

Dunia lelaki itu runtuh tanpa suara. Ia tidak berteriak. Ia memilih menasihati. Memberi kesempatan. Ia berkata dengan suara yang menahan amarah:

“Hentikan sebelum aku bertindak. Aku masih ingin menyelamatkan keluarga ini.”

Hubungan itu katanya berakhir, Tetapi lelaki yang pernah mengkhianatkan sumpah selalu menemukan cara bersembunyi di balik senyum dan alasan.

Tahun-tahun berlalu. Luka yang pernah di buat belum bahkan tidak sembuh, hanya berdebu.

Hingga suatu hari, pengkhianatan sang Istri kembali hadir berwajah baru, Kali ini bersama seorang duda muda, Rekan satu tempat kerja hanya beda bidang.
Awal dekat hanya berbicara tentang kerjaan, kemudian Konsultasi tentang jenis kendaraan, percakapan panjang, hingga suatu hari sang duda dengan rayuan yang sudah sering di ucapkan mengajak sang Istri bertemu di hotel. Kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri, semuanya terbaca dari layar handphone yang tak sempat disembunyikan.

Amarah kembali membara di ambang pintu. Namun anak itu, mata kecil yang selalu menunggu ayahnya pulang, membuat lelaki itu mengalah. Lagi.

“Seorang ayah sering kalah bukan karena lemah, melainkan karena terlalu mencintai.”

Sejak pengkhianat demi pengkhianatan yang sering ketahuan, sejak kegagalan pertemuan di hotel, saat ini sang istri berubah dingin, Menjaga jarak, jika di rumah setelah pulang kerja hanya sibuk bermain handphone tanpa perduli sama suami dan perkembangan anak, bahkan tidak ada cerita-cerita apalagi pelukan dan ciuman hangat terhadap suaminya,
Hidup hanya bersama handphone baik pagi, siang, sore, malam bahkan ketika hari libur, semua dalam privasi berlapis kata sandi. Ponsel menjadi dunia yang tak boleh disentuh. Sang Suami itu tak lagi bertanya. Ia menyerahkan segalanya pada takdir Allah.

Walaupun ia letih setelah keluar kota, Ia tetap mencuci pakaian, masak, merapikan rumah, mengurus anak, membuat kopi sendiri saat lelah.

Bukan karena ia ingin terlihat sebagai suami mulia, tetapi karena ia percaya: rumah tangga adalah ibadah, bukan perlombaan siapa paling dihargai.

Namun, berbeda dari sang istri yang tak pernah benar-benar melihat Tidak bersyukur serta Tidak menghargai.

“Perempuan yang terlalu sering dikejar akan lupa bahwa kesetiaan bukan barang yang selalu tersedia.”

Kini lelaki itu hidup dalam diam yang panjang. Ia telah menetapkan batas: satu kali lagi pengkhianatan, maka perpisahan adalah jalan pulang. Bukan karena benci, tetapi karena harga diri juga bagian dari iman.

“Kesabaran bukan alasan untuk terus disakiti; ia hanya jembatan menuju keputusan.”

Apakah lelaki itu salah karena terlalu baik? Atau justru kebaikannya membuat ia diremehkan?

Jawabannya menggantung di udara, tetapi pelajarannya jelas:

“Kesetiaan yang diabaikan akan berubah menjadi keberanian untuk pergi.”

“Cinta bukan tentang siapa paling sibuk, tetapi siapa yang tetap setia saat diberi kepercayaan.

“Perempuan yang berkhianat sering lupa: lelaki yang diam sedang menghitung batas terakhirnya.”

Dan lelaki itu masih berdiri, masih berdoa, masih ayah yang utuh. Ia tahu, jika rumah ini runtuh, ia akan tetap membangun hidupnya kembali. Sebab sejak kecil, ia telah belajar satu hal paling penting:

“Aku pernah hidup tanpa siapa pun. Kehilanganmu tak akan membuatku kehilangan diriku.”

PENUTUP : UJUNG KESABARAN”

Ia akhirnya mengerti, bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat pulang, melainkan medan panjang tempat manusia diuji: sejauh mana ia mampu setia pada sumpahnya sendiri. Ia tidak lagi bertanya siapa yang paling salah, sebab pertanyaan itu sering hanya melahirkan dendam, bukan kesadaran.

Dalam diam, ia belajar bahwa kesetiaan bukan perkara pengawasan, melainkan perkara nurani. Tak ada gembok yang cukup kuat menahan orang yang memang ingin pergi. Dan tak ada pengorbanan yang akan dihargai oleh mereka yang telah kehilangan rasa malu.

Kesetiaan tidak mati karena jarak, tetapi karena kehendak untuk mengkhianati.

Ia memilih bertahan bukan karena takut kehilangan, melainkan karena ia ingin anaknya kelak tahu: bahwa ayahnya pernah berjuang sampai batas terakhir, tanpa menjual harga diri dan tanpa menanggalkan iman.

Namun ia juga mencatat satu hal penting di dalam hatinya, bahwa kesabaran tanpa batas hanya akan melahirkan penindasan yang halus.

Seseorang boleh memaafkan berkali-kali, tetapi tidak boleh membiarkan martabatnya diinjak tanpa perlawanan.

Mahligai rumah tangga, ia pahami kemudian, tidak runtuh oleh badai dari luar, melainkan oleh kebocoran kecil yang dibiarkan terus-menerus.
Pengkhianatan yang dianggap sepele hari ini akan menjelma keruntuhan esok hari. Dan cinta yang tidak dirawat oleh kejujuran, lambat laun akan berubah menjadi kewajiban yang hampa.

Rumah tangga tidak membutuhkan kesempurnaan, tetapi kejujuran yang keras dan tanggung jawab yang dewasa.

Ia menyerahkan segalanya kepada Tuhan, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai keputusan. Sebab manusia yang telah berusaha sekuat tenaga berhak menyerahkan sisanya kepada Yang Maha Mengetahui.

Jika kelak perpisahan adalah jalan yang harus ditempuh, maka ia akan berjalan tanpa kebencian. Jika kebersamaan masih mungkin diselamatkan, maka itu harus lahir dari kesadaran, bukan ketakutan.

Tuhan tidak menyukai perusakan, tetapi Ia juga tidak memuliakan penindasan yang dibungkus kesabaran.
Pada akhirnya, ia tahu: lelaki tidak diukur dari seberapa lama ia menahan sakit, melainkan dari keberaniannya mengambil keputusan yang benar. Dan perempuan tidak dinilai dari seberapa tinggi kariernya, melainkan dari kesetiaannya menjaga amanah yang telah diikrarkan.

Cinta adalah janji yang harus dijaga, atau ditinggalkan dengan terhormat.

Maka di titik itu, ia berdiri tegak. Tidak meminta dikasihani. Tidak menunggu dimengerti. Ia telah menyelesaikan kewajibannya sebagai suami dan ayah.

Selebihnya, biarlah hidup mencatat siapa yang setia, dan siapa yang kelak harus menjelaskan pengkhianatannya pada sunyi.

Sebab sejarah itu seperti rumah tangga, tidak pernah lupa pada mereka yang memilih setia, atau sengaja mengkhianati.

Penulis : ARDHI MORSSE, 29 DESEMBER 2025

Kapolres Kukar Ingatkan Personel Hindari Gaya Hidup Hedon dan Pelanggaran

SIDIKPOST| Kukar – Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar, menegaskan pentingnya menjaga integritas, etika, dan perilaku personel Polri baik di lingkungan kedinasan maupun di tengah masyarakat. Penekanan tersebut disampaikan saat menghadiri Apel Pagi Personel Polres Kutai Kartanegara yang digelar di halaman Mako Polres Kukar, Senin (29/12/2025) pagi.

Apel pagi yang dipimpin Wakapolres Kutai Kartanegara Kompol M. Aldy Harjasatya, diikuti para pejabat utama, perwira, bintara, serta ASN Polres Kukar. Dalam arahannya, pimpinan mengapresiasi kinerja seluruh personel yang telah melaksanakan tugas selama sepekan terakhir dengan baik dan lancar.

Kapolres Kukar secara khusus mengingatkan seluruh personel agar menjauhi gaya hidup hedon, meminimalisir pelanggaran, serta menghindari perbuatan yang dapat mencoreng citra institusi Polri. Ia menekankan bahwa perilaku anggota Polri menjadi sorotan masyarakat, tidak hanya saat bertugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Perilaku yang baik dan sesuai aturan bukan hanya diterapkan di lingkungan dinas, tetapi juga di lingkungan tempat tinggal. Kita harus menjadi contoh di tengah masyarakat, dari hal kecil seperti tertib berlalu lintas dan penggunaan helm,” tegas AKBP Khairul Basyar.

Selain itu, Kapolres juga mengingatkan agar personel bijak dalam bermedia sosial, menghindari sikap pamer berlebihan, serta menjaga profesionalisme dan etika sebagai aparat penegak hukum. Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap Polri.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Kukar turut mengingatkan kesiapan personel menjelang pengamanan malam pergantian Tahun Baru 2026. Ia menekankan agar pengamanan dilaksanakan secara humanis, mengedepankan pendekatan persuasif, serta tetap berpedoman pada aturan dan petunjuk pimpinan.

Apel pagi berakhir pada pukul 08.30 Wita dan berlangsung dengan aman, tertib, serta penuh semangat kebersamaan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum penguatan disiplin, soliditas, dan komitmen personel Polres Kutai Kartanegara dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.(*)

Bhabinkamtibmas Loa Janan Ulu Turun ke Sawah, Dampingi Warga Cek Pertumbuhan Jagung

SIDIKPOST| Kukar – Wujud nyata kepedulian Polri terhadap ketahanan pangan terus ditunjukkan di tingkat desa. Bhabinkamtibmas Desa Loa Janan Ulu, Aipda Suwarno, turun langsung ke lahan pertanian bersama warga untuk mengecek perkembangan tanaman jagung yang tengah dibudidayakan masyarakat, Minggu (28/12/2025).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendampingan Bhabinkamtibmas terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong peningkatan produktivitas pertanian di wilayah desa binaan. Kehadiran Polri di tengah aktivitas pertanian diharapkan mampu memberikan rasa aman, motivasi, serta semangat bagi para petani.

Aipda Suwarno menyampaikan bahwa pendampingan ini tidak hanya sebatas pemantauan, namun juga sebagai bentuk dukungan moril kepada masyarakat agar tetap konsisten dan optimis dalam mengelola lahan pertanian. Menurutnya, komoditas jagung memiliki peran penting sebagai salah satu penopang ketahanan pangan desa.

“Kami akan terus hadir mendampingi warga, memastikan keamanan lahan pertanian, sekaligus memberikan motivasi agar hasil panen nantinya bisa maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Aipda Suwarno.

Ia juga mengapresiasi semangat warga Desa Loa Janan Ulu yang tetap berkomitmen mengembangkan sektor pertanian di tengah berbagai tantangan. Kolaborasi antara Polri dan masyarakat ini dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan program ketahanan pangan di tingkat desa.

Sementara itu, warga setempat menyambut positif kehadiran Bhabinkamtibmas yang aktif turun ke lapangan. Mereka menilai kehadiran aparat kepolisian memberikan rasa aman sekaligus menambah semangat dalam mengelola lahan pertanian.

Melalui sinergi yang terus terjalin antara Polri dan masyarakat, diharapkan sektor pertanian desa semakin produktif dan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian serta kesejahteraan warga.

(*)

Kasi Humas Polres Kukar Hadiri Pembukaan Konferkab III PWI Kutai Kartanegara

SIDIKPOST| Kukar – Kepolisian Resor Kutai Kartanegara terus memperkuat sinergi dan kemitraan dengan insan pers. Hal tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Kasi Humas Polres Kutai Kartanegara, IPTU Maryono, dalam pembukaan Konferensi Kabupaten (Konferkab) ke-III Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Kartanegara, Minggu (28/12/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Radio Pemerintah Kutai Kartanegara (RPK), Kompleks Stadion Rondong Demang, Kecamatan Tenggarong, ini dibuka secara resmi pada pukul 09.00 Wita dan dihadiri oleh sejumlah unsur Forkopimda, pengurus PWI, serta wartawan dari berbagai media di wilayah Kutai Kartanegara.

IPTU Maryono hadir mewakili Kapolres Kutai Kartanegara sebagai bentuk dukungan Polri terhadap pelaksanaan Konferkab PWI sekaligus mempererat hubungan kerja sama yang telah terjalin antara kepolisian dan media massa.

Selain Kasi Humas Polres Kukar, kegiatan ini turut dihadiri Ketua PWI Kalimantan Timur Abdurrahman Amin, Dandim 0906/Kutai Kartanegara Letkol Arm Benny Budiman, perwakilan Diskominfo Kukar Zainudin Efendi, Ketua PWI Kutai Kartanegara periode 2023–2025 Bambang Irawan, Ketua Panitia Konferkab Syaiful Aulia, serta seluruh pengurus dan anggota PWI Kutai Kartanegara.

Rangkaian acara pembukaan berlangsung khidmat, diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PWI, dilanjutkan pembacaan doa, laporan Ketua Panitia, serta sambutan dari Ketua PWI Kutai Kartanegara dan Ketua PWI Kalimantan Timur.

Kasi Humas Polres Kutai Kartanegara IPTU Maryono menyampaikan bahwa Polri, khususnya Polres Kukar, selalu terbuka dan siap bersinergi dengan insan pers dalam penyampaian informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif kepada masyarakat.

“Kami mengapresiasi peran PWI sebagai mitra strategis Polri dalam menjaga iklim informasi yang sehat. Kehadiran kami di sini merupakan bentuk dukungan dan komitmen Polres Kukar untuk terus menjalin komunikasi yang baik dengan insan pers,” ujar IPTU Maryono.

Kegiatan pembukaan Konferkab III PWI Kutai Kartanegara berakhir sekitar pukul 09.30 Wita dalam situasi aman dan kondusif, kemudian dilanjutkan dengan agenda internal PWI berupa sidang pleno hingga penetapan kepengurusan baru.

Melalui momentum Konferkab ini, diharapkan sinergitas antara Polri dan insan pers di Kutai Kartanegara semakin solid dalam mendukung keterbukaan informasi dan menjaga kondusivitas daerah. (*)

DI TERAS WAKTU: SURYA TERAKHIR MAJAPAHIT

Sinopsis

Di sebuah malam penghujung tahun, seorang lelaki duduk tenang di teras rumah, ditemani hujan, kopi hitam, dan sebatang rokok. Dalam kesunyian itu, ia membaca buku sejarah tentang akhir kejayaan Majapahit. Perlahan, bacaan tersebut menyeretnya masuk ke sebuah lorong waktu, tempat masa kini bertaut dengan masa lalu.

Ia menyaksikan Majapahit bukan sekadar sebagai kerajaan yang runtuh, melainkan sebagai peradaban besar Nusantara yang dibangun dengan kecerdasan politik, hukum yang tertata, kekuatan prajurit, serta pengelolaan pertanian dan laut yang menjadikannya negara adikuasa. Di tengah dinamika itu berdiri Bhre Kertabumi, raja di masa peralihan, yang didampingi Sabda Palon dan Naya Genggong, mereka dua penjaga kebijaksanaan zaman yang memahami perubahan sosial, politik, dan spiritual.

Cerpen ini mengisahkan masuknya ajaran Islam ke Jawa melalui jalur damai para saudagar dan ulama, konflik batin di dalam istana Majapahit, kecemburuan permaisuri Dewi Amarawati, serta pengasingan Siu Ban Ci yang melahirkan Jinbun (Raden Hasan), Ia akan menjadi tokoh cikal bakal berdirinya Kesultanan Demak. Di sisi lain, Raden Bondan Kejawan dididik untuk menjadi jembatan antara dunia lama dan dunia baru.

Kembali ke teras rumah, sang pembaca menutup buku dengan kesadaran bahwa kejatuhan Majapahit bukanlah tanda kekalahan, melainkan perubahan zaman.

Cerpen ini menjadi refleksi tentang kebesaran nenek moyang Nusantara, kebijaksanaan politik, dan pesan abadi bahwa sebuah bangsa tidak pernah benar-benar runtuh selama ia mau mengingat, memahami, dan belajar dari sejarahnya.

Lorong Waktu di Teras Rumah

Hujan turun pelan di penghujung tahun, seperti waktu yang sengaja melambat agar manusia sempat merenung.

Di teras rumah aku duduk sendiri. Kopi hitam mengepul tipis, rokok menyala perlahan, dan malam menggantungkan sunyinya di antara suara air yang jatuh ke tanah.

Aku membuka sebuah buku sejarah “PUDARNYA SURYA MAJAPAHIT,” tentang akhir kejayaan Majapahit.

Kertasnya sudah kuning, baunya menyimpan jejak ratusan tahun. Aku membaca tanpa tergesa, sebab sejarah tidak pernah suka dikejar. Ia lebih suka dipahami.

Asap rokok naik, membentuk garis-garis samar di udara. Di sanalah lorong waktu seakan terbuka. Teras rumah berubah menjadi batas antara kini dan masa lalu. Aku hanyut Kedalamnya.

Majapahit berdiri di hadapanku, bukan sebagai legenda, melainkan sebagai sebuah peradaban yang hidup. Lumbung-lumbung padi penuh, sungai dan laut terkelola, pelabuhan ramai oleh kapal dari berbagai negeri.

Negeri ini tidak besar karena congkaknya, melainkan karena kemampuannya mengatur kehidupan.

Nenek moyang Nusantara memahami satu hal penting: negara tidak dibangun dengan amarah, melainkan dengan Akal, Kecerdasan, ketelitian dan perhitungan. Mereka tahu bahwa hukum adalah tulang punggung kekuasaan, dan pangan adalah dasar ketenteraman.

Negara yang kuat bukan yang paling sering berperang, melainkan yang membuat rakyatnya tidak cemas menghadapi hari esok, Sejahtera, aman dan Tentram.

Para prajurit Majapahit bukan sekadar pengangkat senjata. Mereka adalah penjaga batas, disiplin, dan martabat. Di istana, hukum ditegakkan bukan untuk menyenangkan penguasa, melainkan menjaga keseimbangan.

“Ketika hukum dijadikan alat kekuasaan, saat itulah sebuah negeri mulai kehilangan arah.”

Di singgasana duduk Bhre Kertabumi, raja Kerajaan Keling, memerintah di masa yang genting (Akhir Masa Kejayaan Majapahit). Ia bukan raja di zaman keemasan, melainkan raja di persimpangan sejarah. Dunia lama mulai rapuh, dunia baru perlahan mengetuk pintu.

Berada Di sisinya berdiri dua sosok yang tak terikat usia, Merekalan yang di panggil dengan nama Sabda Palon dan Naya Genggong. Mereka bukan sekadar penasihat, melainkan pembimbing raja sekligus penjaga kesadaran zaman.

Sabda Palon merupakan titisan Resi Agastya, Kemampuannya membaca politik, ancaman, tata negata hingga membaca perubahan cuaca. Ia juga memahami bahwa kekuasaan tidak bisa melawan waktu.

“Raja yang besar bukan yang menolak perubahan, melainkan yang mampu mengendalikannya tanpa kehilangan jati diri.”

Ia mengajarkan bahwa perang bukan selalu jawaban dan damai bukan berarti menyerah. Tapi Memperkecil pertumbuhan darah di Majapahit adalah jalan terbaik sebuah perubahan.

Politik sejati bukan tentang menang hari ini, tetapi memastikan negeri tetap Ada dengan utuh dan bersama di masa depan.

Naya Genggong menjaga sebagai penyeimbang dan menjadi akar idiologi dan spiritual Majapahit, mengingatkan bahwa negeri tanpa ingatan leluhur akan mudah tergoda oleh kilau asing.

“Bangsa yang lupa asal-usulnya akan sibuk mencari identitas di tanah orang lain. Namun perubahan datang juga dari arah yang tak bisa dicegah.”

Dari laut, dari para saudagar dan ulama atas angin, Islam tumbuh pelan namun pasti. Ia tidak datang dengan teriakan perang, melainkan melalui pasar, pernikahan, dan keteladanan.

Di Ngampel Denta, Sunan Ampel membangun peradaban baru dengan kesabaran.
Ajaran yang bertahan lama bukan yang dipaksakan, melainkan yang membuat manusia merasa dimuliakan.

“Majapahit tidak runtuh karena agama baru. Ia goyah karena gagal menyatukan perbedaan dalam satu kehendak bersama.”

Ketika perbedaan dianggap ancaman, persatuan berubah menjadi kenangan.

Selain itu, balik dinding istana, politik tidak hanya bergerak di ruang sidang, tetapi juga di ruang batin sang prameswari keling, Dewi Amarawati, permaisuri Bhre Kertabumi berdarah Champa, membawa pengaruh dan kecemburuan yang sunyi.

Sementara Siu Ban Ci, selir cantik dan kesayangan bhre kertabumi dari keluarga saudagar Tionghoa, sudah mengandung seorang anak yang kelak mengubah arah Jawa.

Istana sering runtuh bukan oleh musuh di luar, melainkan oleh api kecil yang dibiarkan menyala di dalam.

Kehamilan Siu Ban Ci menjadi keputusan politik yang pahit. Demi meredam gejolak, ia dipindahkan ke Palembang dan diserahkan kepada Arya Damar (Raja Palembang sekaligus Paman Kertabumi).

“Sejarah sering lahir dari pengasingan, bukan dari singgasana.”

Dari rahim yang dijauhkan itulah lahir Jinbun (Raden Hasan/Raden Patah), anak yang kelak mendirikan Kesultanan Demak. Ia tumbuh bukan di bawah bayang-bayang kemewahan, melainkan di kerasnya kenyataan.

“Pemimpin besar jarang tumbuh di tempat nyaman; mereka ditempa oleh jarak, luka, dan penolakan.”

Sementara itu, di tanah Jawa, Raden Bondan Kejawan, putra Bhre Kertabumi, dididik oleh Jaka Tarub (Kidang Talangkas) yang berada di dukuh tarub dan jauh dari kerjaan keling. Ia diajari ilmu pengetahun, olah kanuragan, membaca lontar (Sloka) dengan harapan menjadi jembatan, bukan tembok serta menghormati masa lalu tanpa membenci masa depan.

Kekuatan Nusantara bukan pada satu raja, tetapi pada kemampuannya merawat keberagaman.

Hujan di teras rumahku mulai reda. Kopi telah dingin, rokok tinggal abu.

Aku menutup buku perlahan, seakan takut mengganggu mereka yang baru saja kulihat.
Aku tersenyum kecil.

Nenek moyang kita bukan bangsa yang kalah.
Mereka membangun peradaban dengan kecerdasan, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Mereka menata hukum, mengelola tanah, menjaga laut, dan memahami bahwa kekuasaan sejati adalah kemampuan bertahan tanpa kehilangan martabat.
Bangsa besar bukan yang tak pernah jatuh, melainkan yang mau belajar dari sejarahnya sendiri.

Tahun akan berganti. Malam semakin sunyi. Namun aku tahu, selama kita masih membaca, mengingat, dan merenung “Nusantara tidak pernah benar-benar runtuh. Ia hanya menunggu untuk kembali dipahami.”

Penulis : ARDHI MORSSE, 28 DESEMBER 2025

Kapolres Metro Tangerang Kota Cek Kesiapan Pos Pam dan Pos Yan Ops Lilin Jaya 2025

SIDIKPOST | TANGERANG – Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si. memimpin langsung kegiatan asistensi dan pengecekan Pos Pengamanan (Pos Pam) dan Pos Pelayanan (Pos Yan) dalam rangka pengamanan Operasi Kepolisian Terpusat “Lilin Jaya 2025”, pada Sabtu (27/12/2025).

Kegiatan pengecekan dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan personel, kelengkapan sarana prasarana, serta sinergi lintas instansi dalam menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat selama perayaan Natal dan libur Tahun Baru 2026.

Adapun pos yang dilakukan pengecekan meliputi:
– Pos Pam Gereja Santa Maria;
– Pos Pam Gereja Santo Agustinus;
– Pos Yan Rest Area KM 14 Tol Tangerang–Jakarta;
– Pos Pam City Plaza Ciledug;
– Pos Yan Rest Area KM 13,5 Tol Jakarta–Merak;

Dalam kegiatan tersebut, Kapolres didampingi Wakapolres Metro Tangerang Kota AKBP Eko Bagus Riyadi, S.H., S.I.K., M.Si., para Pejabat Utama Polres, unsur TNI, Dishub, Satpol PP, Dinkes Kota Tangerang, serta potensi masyarakat seperti Pokdarkamtibmas, Senkom, dan Saka Bhayangkara.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari menegaskan bahwa pengamanan Ops Lilin Jaya merupakan bentuk kehadiran negara dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Kami memastikan seluruh pos pengamanan dan pelayanan siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya umat Kristiani yang melaksanakan ibadah Natal serta masyarakat yang melakukan mobilitas selama libur akhir tahun,” ujar Kapolres.

Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga situasi kamtibmas dan mematuhi aturan lalu lintas selama masa libur Nataru.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tertib, menjaga keamanan lingkungan, serta segera melaporkan kepada petugas atau menghubungi layanan kepolisian apabila menemukan potensi gangguan kamtibmas. Polri hadir untuk melayani dan melindungi masyarakat,” tegasnya.

Secara umum, hasil pengecekan menunjukkan seluruh pos dalam kondisi siap operasional, personel lengkap, serta koordinasi antarinstansi berjalan dengan baik. Hingga kegiatan berakhir, situasi di wilayah hukum Polres Metro Tangerang Kota terpantau aman, tertib, dan kondusif.

Penulis : Anton Teef

Editor ; Redaksi

Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota Ungkap Gudang Pengelolaan 30.000 Benih Lobster Ilegal

SIDIKPOST| Tangerang — Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Metro Tangerang Kota berhasil mengungkap kasus dugaan penjualan benih bening lobster (BBL) jenis pasir tanpa dokumen resmi, Kamis (25/12/2025).

Pengungkapan kasus tersebut dilakukan oleh Unit 4 Krimsus Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota yang dipimpin oleh AKP Rahis Fadhlillah, S.Tr.K., S.I.K., M.H., dan Kasat Reskrim Kompol Awaludin Kanur, S.I.K, M.H, berdasarkan informasi dari masyarakat terkait aktivitas mencurigakan pengelolaan BBL ilegal.

Kasus tersebut terungkap di Perum Duta Gardenia Cluster Mediterania, Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, sekitar pukul 13.00 WIB.

Dalam pengungkapan tersebut, petugas mengamankan dua orang terduga pelaku, masing-masing berinisial AA (31) dan AR (29). Keduanya didapati tengah melakukan pengelolaan benih bening lobster tanpa dilengkapi dokumen perizinan yang sah yang akan di kirim ke Singapura.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., menjelaskan bahwa para pelaku diduga melanggar ketentuan tindak pidana di bidang perikanan.

“Dari hasil pemeriksaan di lokasi, kami menemukan ribuan benih bening lobster jenis pasir yang tidak dilengkapi dokumen resmi. Total sebanyak sekira 30.000 ekor BBL berhasil kami amankan,” jelas Kombes Pol Jauhari.

Selain BBL, personel kami juga mengamankan sejumlah barang bukti pendukung berupa empat koper, tabung oksigen, handphone, buku tabungan, serta perlengkapan lain yang diduga digunakan dalam aktivitas penjualan dan distribusi benih lobster ilegal.

“Pengungkapan ini merupakan komitmen Polres Metro Tangerang Kota dalam mendukung upaya perlindungan sumber daya kelautan dan perikanan, serta menindak tegas praktik ilegal yang merugikan negara,” tambahnya.

Saat ini, Satreskrim Polres Metro Tangerang Kota tengah melakukan gelar perkara, melengkapi proses penyidikan, serta berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk penanganan lebih lanjut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Atas perbuatannya, para terduga pelaku disangkakan melanggar Pasal 92 jo Pasal 26 ayat (1) dan/atau Pasal 88 jo Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, ancaman hukuman 8 tahun penjara, dengan kerugian negara mencapai 3,3 milyar rupiah.

Kapolres juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan jika mengetahui adanya peredaran sesuatu yang bersifat ilegal dan segala bentuk gangguan kamtibmas di lingkungan sekitar dengan menghubungi call center 110 atau layanan aduan masyarakat Polres Metro Tangerang Kota di no. Wa. 0822-11-110-110 layanan gratis dan bebas pulsa.

 

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi