Epilog
Di kota Industri yang menyebut dirinya sebagai penyangga ibu kota yang maju, pertumbuhan ekonomi terus berkembang dan diukur dengan angka masuknya investasi dan pembangunan-pembangunan yang terus bertambah. Lampu-lampu jalan menyala terang menghiasai suasana malam, lalu lintas diatur kendaraan yang tidak pernah sepi, dan ketertiban yang terus dijaga oleh aparat yang terus berpatroli tanpa mengenal waktu di bawah panas dan hujan. Kota industri terlihat hidup, teratur, rapih dan terkendali.
Diantar kesibukan kota industri, ada pertanyaan yang jarang terdengar di ruang-ruang rapat pemerintahan, bagaimana kehidupan mereka sebagai petugas lapangan golongan rendah yang menjaga kota itu setiap hari?
Apakah kesejahteraan hanya sebuah angka statistik yang sering di manipulasi atau juga milik manusia yang berdiri di balik seragam negara?
Bagaimana mungkin sebuah kota menetapkan standar upah minimum bagi pekerja swasta, tetapi membiarkan aparaturnya sendiri hidup jauh di bawah standar itu? Apakah keadilan hanya berlaku untuk yang berada disektor industri, tetapi berhenti dan tidak menyentuh kesejahteraan petugas lapangan?
Mengapa pegawai lapangan yang dituntut disiplin dan loyalitas justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi bahkan hanya penderitaan yang selalu di terima?
Mengapa aparat yang menjaga ketertiban masyarakat harus pulang dengan kegelisahan dan kebingungan memikirkan kebutuhan keluarga?
Mengapa ada pegawai lapangan yang malu pulang ke rumah karena belum mampu membayar kontrakan?
Mengapa ada yang kehilangan bantuan sosial setelah diangkat menjadi ASN, padahal kehidupannya justru semakin sulit bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya?
Lebih jauh lagi, mengapa kebijakan pemimpin kota madya terasa begitu jauh dari kenyataan hidup pegawai lapangan?
Apakah para pemimpin benar-benar tidak tahu, atau sekadar memilih untuk tidak melihat kondisi kehidupan pegawainya?
Apakah laporan kesejahteraan pegawai hanya berhenti di atas meja birokrasi tanpa pernah menyentuh hati para pengambil keputusan?
Berapa banyak aparat yang harus jatuh sakit tanpa perlindungan dan bantuan yang layak sebelum persoalan ini dianggap serius?
Berapa banyak keluarga pegawai lapangan yang harus retak sebelum kebijakan dianggap perlu diperbaiki?
Berapa banyak pegawai yang harus kehilangan harapan sebelum negara menyadari bahwa pengabdian tanpa keadilan merupakan beban yang terlalu berat untuk dipikul manusia biasa?
Bulan Ramadhan seharusnya menjadi waktu perenungan tentang keadilan dan kepedulian. Tetapi bagi sebagian aparat lapangan, bulan suci justru menjadi waktu ketika kegelisahan terasa lebih nyata, Di antara doa dan sujud, mereka tidak hanya meminta kekuatan untuk beribadah, tetapi juga memohon jalan keluar dan kebijakan adil dari tekanan hidup yang semakin sempit.
Cerita dalam Kisah ini bukan sekadar tentang kesulitan ekonomi atau beban pekerjaan. Ia menjadi evaluasi dan gambaran dari pertanyaan yang lebih besar tentang tanggung jawab negara terhadap aparaturnya sendiri dan menjadi saksi nyata tentang bagaimana kebijakan yang tidak adil dapat menjelma menjadi penderitaan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dan mungkin pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab adalah ini:
Jika aparat yang menjaga ketertiban kota madya saja harus mengadu kepada langit karena tidak lagi menemukan keadilan di bumi, lalu kepada siapa sebenarnya mereka harus berharap?
Kebijakan Yang Menciptakan Penderitaan
Tanpa Terasa Sudah berjalan Hari kesembilan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan kegiatan rutin terasa seperti beban yang perlahan menekan dan menyesakkan dada.
Matahari begitu menyengat dan Suhu terasa begitu panas di Kota Industri. Panasnya menyengat laksana palu yang memukul ubin jalanan. Seragam dinas lapangan yang dikenakan olen Satria Perkasa bersama rekan-rekan seprofesi diantaranya Kang Ibay, Cak IIP, Erdan, Bang Luky, Yoga, Ahmad Aris, dan Abien sudah basah oleh keringat bahkan sebelum waktu Zuhur berlalu.
Mereka baru saja selesai melaksanakan tugas rutin berpatroli di kawasan pasar tumpah, Lalu berlanjut ke penertiban anak jalanan, dan Setelah itu PAM di lampu merah besar yang tidak pernah benar-benar sepi.
Mereka Menjalankan tugas Tidak ada yang mengeluh keras, Tapi wajah-wajah mereka seperti kertas kusut.
Terdengar Azan Ashar berkumpul lalu mereka bersama-sama menuju mushola kecil pinggir jalan untuk melaksanakan sholat dan beristirahat. Selepas sholat Ashar mereka duduk bersila di teras muhola dan menyender di tembok sambil merasakan Angin dan hawa panas kota madya.
Tiba-tiba Bang Luky membuka percakapan, “Kalian dengar kabar dari personil lapangan regu tiga?”
Semua yang sedang duduk menoleh, “Si Bondan… katanya semalam mencoba bunuh diri.”
Suasana jadi hening dan Sunyi.
Lalu Yoga bertanya lirih, “Memangnya Kenapa bang?”
Bang Luky pun menghela napas panjang, “Istrinya pergi dan Anaknya dibawa. Katanya dia sudah tidak sanggup lagi hidup serba kekurangan sama bondan.”
Semua kembali diam dan ada yang berani bicara beberapa saat.
Kang Ibay menatap lantai sambil berkata, “Kadang sistem pemerintah tidak membunuh kita sekaligus,” katanya pelan, “Tapi memotong dan membunuh hidup kita sedikit] demi sedikit.”
Erdan mengangguk, lalu berkata pelan, “Karl Marx pernah bilang, Sistem yang tidak adil akan membuat manusia terasing dari hidupnya sendiri.”
Kemudian Ia menatap teman-temannya…
“Mungkin itu yang terjadi pada kita saan ini.” Jelasnya pelan.
Abien menyandarkan punggungnya ke dinding mushola, lalu berkata, “Ada juga Personil dari yang sekarang tidur pindah-pindah dari masjid ke masjid,” katanya pelan.
Lalu Satria menoleh dengan cepat,“Siapa Bang?”
“Danil dari regu Dua. Katanya Mau pulang malu, karena Kontrakannya udah nunggak tiga bulan.” Jawab Abien pelan.
Aris pun menunduk, “Personil lapangan ASN pula, tapi tidur dari masjid ke masjid.”
Ia pun tersenyum pahit, lalu berkata, “Negara memberi kita seragam dan tanggung jawab besar, Tapi tidak memberi kita tempat pulang.”
Suasana di teras masjidpun kembali Sunyi…
Lalu Cak IIP berkata pelan, “Antonio Gramsci mengatakan bahwa kekuasaan sering bertahan bukan karena kekuatan, tapi karena orang-orang kecil dipaksa menerima keadaan sebagai hal biasa.”
Ia menatap pinggir jalan dengan tatapan jauh, lalu berkata lirih, “Kita dipaksa menganggap penderitaan ini normal.”
Yoga pun menyambung dan berkata lirih, “Kalian tahu kan, senior kita Pak Saman yang meninggal bulan lalu?”
Semua pun mengangguk, “Sampai sekarang keluarganya belum dapat bantuan dari pemeriksaan.” Jelasnya Pelan.
Bang Luky pun menghela napasnya, “Bahkan gajinya masih dipotong karena dianggap tidak masuk, padahal dia ijin karena berobat sakit.”
Bhumi sedang Ijin dan tidak ada hari itu. Tapi seandainya ia ada, mungkin akan mengatakan sesuatu tentang angka.
Satria hanya menggenggam lututnya dan berkata, “Orang sakit hingga mati pun masih ditagih kehadirannya.”
Kang Ibay pun berkata pelan, “Negara ini kadang seperti mesin absensi, yang tidak hadir dianggap tidak ada, Bahkan kalau dia sudah mati sekalianpun.”
Kebijakan yang Membunuh Tanpa Pisau
Lalu Satria berbicara pelan namun dalam, “Kita ini bukan korban pekerjan, Tetapi Kita korban kebijakan Pemimpin kota yang jauh dari Adil apalagi mensejahterakan.”
Erdan pun mengangguk, lalu berkata pelan, “Kebijakan seorang pemimpin yang tidak adil itu seperti racun tanpa warna.”
Lalu Cak IIP menambahkan, “Pemimpin sering bicara stabilitas atas Pembagian anggaran, Tapi stabilitas rumah tangga kita semakin hari runtuh satu persatu.”
Bang pun Luky berkata lirih, “Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia dihukum untuk bebas. Tapi kita bahkan tidak bebas dari kemiskinan yang diciptakan oleh hukum kebijakan pimpinan.”
Yoga memegangi kepalanya. “Anak saya sejak semalam demam tinggi,” katanya lirih.
Satria menoleh dan berkata, “Apa Sudah di bawa ke dokter?”
Yoga menggeleng, “Belum ada uang, bang.”
Kata-kata itu seperti jatuh pelan tapi menghancurkan.
“Lucu ya. Aparat negara yang menjaga kota industri tidak mampu membeli obat.” Jawab Satria lirih, kemudian Ia berdiri sambil berkata, “Kita jangan diam. Diam Tidak merubah apapun yang kita hadapi hari ini, Che Guevara pernah berkata, ‘Jika kamu gemetar melihat ketidakadilan, maka kamu adalah kawan seperjuanganku’.”
Lalu Bang Luky berkata lirih, “Masalahnya kita Diam dan gemetar bukan cuma karena marah… tapi juga karena takut.”
Satria menatap mereka satu per satu, kemudian berkata pelan, “Kita semua boleh takut. Tapi jangan pernah berhenti bersujud.”
Suasana kembali hening, semua terdiam dan membenarkan apa yang baru saja di sampaikan satria.
Waku Maghrib dan berbuka hampir tiba. Langit berwarna merah tua seperti luka yang belum sembuh. Tidak berselang lama, suara Azan pun berkumandang, mereka mengucapkan syukur Alhamdulillah karena mampu melewati puasa hari ini dengan baik, lalu mereka berbuka puasa bersama-sama.
Setelah berbuka seadanya, mereka pun menuju tempat berwudhu samping mushola dan melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Satu per satu mereka berdiri dalam sholat yang khusuk, Tidak ada pidato, rapat apalagi laporan kegiatan. Hanya sujud, Sujud yang panjang, berat, penuh luka Sekaligus Sujud yang menggugat langit.
Sujud Satria belum berakhir, keningnya masih menempel pada sajadah tipis yang mulai basah oleh air mata. Nafasnya berat, seperti memikul sesuatu yang tidak terlihat tapi nyata menekan sekaligus menyesakkan dada.
Di belakangnya kang Ibay, Cak IIP, Erdan, Bang Luky, Yoga, Aris, dan Abien masih terdiam dalam sujud masing-masing. Di Mushola kecil itu sunyi, hanya terdengar suara kipas tua yang berderit pelan dan detak jam dinding yang seperti menghitung kesabaran mereka satu per satu.
Satria berbisik lirih, hampir seperti desah yang pecah dari dada yang lama menahan,
“Ya Allah… Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan di balik seragam ini…”
Air matanya jatuh semakin deras….
“Orang melihat kami berdiri tegak di jalan-jalan… tapi Engkau tahu betapa sering kami pulang dengan langkah gemetar karena memikirkan beras yang hampir habis…”
Sujudnya semakin dalam…
“Ya Allah… jika kesabaran ini merupakan ujian dari cintaMU… maka kuatkanlah kami… karena kami mulai lelah…”
Tangannya menggenggam sajadah…
“Anak-anak kami tidak mengerti apa itu kebijakan… mereka hanya tahu ayahnya pulang atau tidak… membawa makanan atau tidak…”
Suaranya pecah….
“Istri-istri kami tidak meminta kemewahan… mereka hanya ingin dapur tetap menyala…”
Hening panjang…
Lalu ia berbisik lagi.
“Ya Allah… ada di antara kami yang kehilangan keluarganya karena kemiskinan… ada yang tidur berpindah-pindah masjid… ada yang malu pulang karena tak mampu membayar kontrakan…”
Suaranya bergetar semakin dalam…
“Ya Allah… kami bukan pemberontak… kami hanya orang kecil yang mencoba bertahan…”
Air mata mengalir tanpa tertahan…
“Jika suara kami tidak sampai kepada pemimpin… maka biarlah ia sampai kepada-Mu…”
Sujudnya semakin lama…
“Ya Allah… Engkau Maha Adil… sementara dunia ini sering tidak…”
Nafasnya terputus-putus…
“Jika kebijakan manusia menutup pintu rezeki kami… maka bukakanlah pintu-Mu…”
Beberapa orang di belakangnya mulai terisak…
Yoga mengusap matanya, Aris menunduk dalam dan Abien menggigit bibirnya agar tidak menangis keras.
Satria melanjutkan dengan suara yang hampir habis…
“Ya Allah… jangan Engkau uji kami dengan keputusasaan…”
Ia berhenti sejenak….Suaranya hampir hilang.
“Karena ada di antara saudara kami… yang sudah tidak sanggup lagi bertahan…”
Air mata menetes jatuh seperti hujan kecil…
“Ya Allah… jangan biarkan anak-anak kami memandang ayahnya sebagai orang yang gagal…”
Tangannya gemetar…
“Jangan biarkan keluarga kami hancur karena pengabdian yang tidak dihargai…”
Ia menarik napas panjang yang berat…
“Jika perjuangan ini adalah ibadah… maka terimalah…”
Sunyi panjang….
Lalu kalimat terakhir keluar seperti luka yang akhirnya pecah….
“Ya Allah… kami menjaga kota ini setiap hari…”
Air matanya jatuh deras….
“Tapi malam ini… kami mohon… Engkau saja yang menjaga kami…”
Tangis pun pecah di mushola kecil itu. Tidak ada yang bersuara keras. Tapi bahu-bahu mereka bergetar…
Sujud malam itu bukan hanya ibadah. Itu merupakan jeritan yang tidak pernah masuk laporan kegiatan dan itulah doa orang-orang yang hampir patah, tetapi masih percaya Tuhan tidak tidur.
Malam itu, di bawah langit Ramadhan yang sunyi, Air mata mereka mengalir lebih deras daripada kata-kata, karena kadang-kadang, Iman terakhir manusia bukan lagi pada sistem, Melainkan pada Tuhan yang masih mau mendengar.
Epilog
Ibadah Puasa bulan Ramadhan tahun ini terus berjalan menuju malam-malam yang semakin sunyi. Kota Industri tetap berdenyut seperti biasa, kendaraan memadati jalan dan melintas tanpa henti, lampu merah berganti warna dengan disiplin, baliho-baliho pemimpin tetap berdiri tegak menjanjikan kesejahteraan.
Tidak ada yang berubah sama sekali di permukaan. Tetapi di balik seragam-seragam yang mulai kusam oleh matahari dan hujan, ada jiwa-jiwa yang perlahan belajar menerima kenyataan dengan cara yang paling berat, mereka tetap mengabdi sambil menahan luka.
Satria Perkasa berdiri lama di depan mushola kecil malam itu setelah semua pulang dan Lampu neon bergetar redup. Jalanan mulai sepi. Ia memandang sajadah yang masih basah oleh air matanya.
Di tempat itulah ia menyadari sesuatu yang pahit sekaligus jernih, bahwa orang-orang kecil sering kali harus menjadi kuat bukan karena pilihan, melainkan karena tidak ada jalan lain.
Ia teringat wajah anaknya yang demam, suara istrinya yang berusaha tetap tegar, rekan kerjanya yang tidur berpindah-pindah masjid, anggota senior meninggal tanpa bantuan bahkan ketika masih hidup, gajinya pun tetap dipotong walaupun ijin sakit.
Dan perlahan ia mengerti, ketidakadilan tidak selalu datang dengan wajah marah. Kadang ia datang dengan wajah resmi, Dengan tanda tangan pejabat dalam bahasa kebijakan menggunakan bahasa istilah efisiensi. Kezaliman modern sering tidak berteriak, ia hanya diam sambil bekerja.
Cak IIP pernah berkata, “Negara tidak runtuh karena musuhnya kuat, tetapi karena ia lupa kepada orang-orang kecil yang menopangnya.”
Kalimat itu terngiang kembali di kepala Satria, karena sesungguhnya kota itu berdiri bukan hanya karena gedung-gedungnya, tetapi karena orang-orang yang menjaganya setiap hari.
Namun orang-orang kecil selalu punya cara bertahan yang tidak dimiliki kekuasaan, mereka masih punya iman dan dalam kelelahan yang hampir mematahkan punggung mereka, mereka masih menemukan jalan pulang kepada Tuhan.
Mereka tetap berpuasa walau tubuh lemah, tetap berjaga walau hati resah dan tetap sujud walau dunia terasa sempit. Karena mereka percaya satu hal yang tidak pernah tertulis dalam peraturan apa pun, “keadilan manusia boleh terlambat, tetapi keadilan Tuhan tidak pernah salah alamat.”
Cerita dari kisah ini bukan hanya tentang kesabaran. Kisah ini merupakan sebuah Cermin bagi para pemimpin yang duduk di ruang berpendingin udara.
Cermin bagi pejabat yang menandatangani kebijakan tanpa melihat akibatnya.
Cermin bagi lembaga-lembaga yang berbicara tentang pelayanan publik tanpa pernah berdiri di bawah terik matahari.
Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah dan amanah bukan hanya soal program dan laporan, tetapi tentang kehidupan manusia yang dititipkan di bawahnya.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan Kita semua, “bahwa Setiap pemimpin adalah pemelihara, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipeliharanya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi berat Sekaligus dalam, Karena di akhirat kelak, mungkin tidak akan ada pertanyaan tentang baliho yang berdiri megah. Tetapi akan ada pertanyaan tentang:
berapa aparat yang menangis diam-diam,
berapa keluarga yang hidup dalam kekurangan,
berapa pegawai yang sakit tanpa perlindungan,
dan berapa yang putus asa tanpa pernah didengar.
Satria akhirnya melangkah pulang malam itu. Langkahnya pelan. Namun tidak lagi seberat sebelumnya, karena ia tahu satu hal, “suara yang tidak didengar manusia masih bisa didengar Tuhan dan mungkin sejarah selalu dimulai dari orang-orang kecil yang tetap berdiri ketika keadilan belum datang.”
Di Kota Industri itu, mereka tetap bertugas, berpatroli dan berjaga. Bukan karena semuanya sudah adil, tetapi karena mereka masih percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan dan selama mereka masih bisa berdiri di atas sajadah, masih bisa mengangkat tangan dalam doa, masih bisa berkata “Ya Allah” dengan hati yang jujur, maka harapan belum mati. Namun kisah ini meninggalkan satu peringatan yang tidak bisa diabaikan:
Tidak ada kota yang benar-benar sejahtera jika aparat yang menjaganya hidup dalam penderitaan dan tidak ada kekuasaan yang benar-benar aman jika doa orang-orang yang terzalimi terus naik ke langit setiap malam. Karena ketika sujud telah berubah menjadi gugatan, maka sejarah biasanya sedang menunggu waktunya untuk berbicara.
======= BERSAMBUNG=====
BACA JUGA :
KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094
KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//
KISAH KE – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : https://sidikpost.com/?p=129119
KISAH KE – 4 : Puasa Di Antara Neraca Retak (Doa di Tengah Timbangan yang Patah) https://sidikpost.com/?p=129149
ARDHI MORSSE, JUMAT 27 FEBRUARI 2026







