Kisah Rohani Petugas Lapangan Bagian Ke Tiga : “Sujud Yang Diuji Ketidakadilan”

Prolog

Bulan Ramadhan selalu datang membawa janji, ketenangan, pengampunan dan cahaya bagi jiwa yang letih. Akan tetapi tidak semua orang menyambut bulan suci dengan meja penuh hidangan dan hati yang penuh kebahagiaan. Ada mereka yang tetap berjaga di wilayah dan sudut-sudut kota, mereka mengamankan malam, menertibkan kegaduhan dan menjaga ketentraman masyarakat, sementara didapur mereka sendiri nyaris di penuhi kepedihan dan air mata.

Advertisements

“Sujud Yang Diuji Ketidakadilan” bukan sekadar cerita tentang aparat yang lelah atau pegawai ASN rendahan yang mengeluh. Ini merupakan potret tentang manusia-manusia biasa yang memikul tanggung jawab besar di pundaknya, Tapi sering kali dilupakan dalam kebijakan yang dingin dan tidak berpihak kepada mereka. Mereka berbicara tentang kondisi ironis atas ketidakadilan bukan sebuah bentuk Pemberontakan dan juga bukan pencari sensasi, Mereka hanyalah hamba yang ingin bekerja dengan bermartabat dan beribadah dengan tenang.

Di malam-malam bulan Ramadhan, ketika seharusnya hati dipenuhi zikir, mereka justru dihimpit pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin terjawab:

Mengapa pengabdian tidak sebanding dengan kesejahteraan?

Mengapa status dianggap cukup untuk meniadakan hak padahal kondisi kehidupan sungguh memprihatinkan?

Mengapa keluhan pegawai kecil selalu terdengar seperti angin lalu dan di acuhkan?

Kisah cerita ini tidak bermaksud menghasut. Ia hanya ingin mengetuk. Mengetuk hati, nurani dan Mengetuk ruang-ruang kebijakan yang mungkin terlalu lama tertutup oleh kepentingan.

Dan pada akhirnya, kisah ini berbicara tentang satu hal yang sederhana namun mendasar, yaitu Hak dan keadilan.

Sujud dalam cerita ini bukan sekadar ritual. Ia merupakan simbol harapan terakhir ketika suara tidak lagi didengar. Ia menjadi bahasa sunyi yang melampaui rapat-rapat formal dan janji-janji politik. Dalam sujud, manusia yang mengakui keterbatasannya dan pada saat yang sama menantang ketidakadilan dengan doa yang Tidak pernah sia-sia.

Semoga kisah ini menjadi cermin, Bagi yang lelah, agar tetap kuat. Bagi yang berkuasa, agar tetap peka dan Bagi yang membaca, agar tidak lupa bahwa di balik seragam dan tugas, ada keluarga yang menunggu, ada anak yang berhayang dan ada hati yang terus berjuang untuk tetap percaya.

Karena ketika sujud diuji oleh ketidakadilan, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan, melainkan juga kemanusiaan.

 

Ramadhan yang Menyimpan Gugatan

Waktu berjalan begitu cepat, Tanpa terasa sudah memasuki Malam keempat di bulan suci Ramadhan yang belum ada perubahan sedikitpun dan masih berwajah muram. Langit terlihat menggantung mendung, seperti hati yang menahan tangis.

Setelah melaksanakan Shalat tarawih, Satria Perkasa duduk di pos ronda depan rumahnya, Dengan Sarung masih melilit dipinggangnya, kaos biru yang mulai pudar warnanya oleh realitas. Di tangan kanannya secangkir kopi yang mulai panas yang baru di sedu dan Di tangan kirinya sebatang rokok murah yang asapnya tipis, seperti sebuah harapan yang nyaris habis.

Satria lalu membuka Ponselnya dan mencoba menghubungi yoga melalui Video call. Tidak berselang lama, komunikasi pun tersambung dan terlihat Wajah Yoga muncul di layar dengan Mata cekung serta Di belakangnya terlihat anak-anaknya yang baru saja tidur.

“Baru selesai makan ga?” tanya Satria.

Yoga tersenyum hambar dan menjawab, “Baru, Bang. Nasi, garam sama cabai cabe ijo 5 biji, Alhamdulillah masih bisa makan walaupun cukup memprihatinkan.”

Tidak berselang lama, sambungan baru hari ikut ngobrol melalui sambungan Video Call  handphone.

Baca Juga   Kapolres Hadiri Rapat Koordinasi Tim Pakem Oleh Kejaksaan Negeri Kutai Kartanegara

Terlihat Komandan regu Irsan Abien dan Ahmad Aris, mereka sedang patroli malam. Lampu rotator mobil patroli berpendar biru, memantul di wajah mereka yang letih. Mereka semua terhubung dalam satu layar kecil, tapi dipersatukan oleh satu kenyataan besar yaitu  penderitaan yang sama atas ketidakadilan struktural.

Abien membuka percakapan, “Kalian tahu, aku ini ketua RT di wilayah tempat tinggalku. Setiap bulan membantu mengurus warga untuk medaftar bansos. Tapi giliran keluargaku sendiri mau daftar… aku kok rasanya malu.”

Satriapun terdiam, lalu menjawab, “Malu kenapa Danru, atau karena?” tanya pelan.

“Malu karena aku aparat sekaligus pegawai ASN, Malu karena warga di lingkunganku menganggapku sudah ‘cukup’. Padahal dapur di rumah bisa ngebul kalau ada pinjaman. Ini fakta Ironis kan?,” jawabnya sambil tersenyum getir.

“Kerjaan kita mulai dari patroli pagi, siang, sore dan malam, juga penertiban mulai dari pasar hingga seluruh wilayah dan pinggir-pinggir jalan, mengamankan sekaligus menertibkan anak-anak jalanan, pengemis, hingga ODGJ. Semua kita kerjakan agar kota madya ini selalu dalam keadaan tertib, aman dan tentram. Tapi apa hasil yang kita dapatkan?, Sangat Jauh dari kata cukup apalagi sejahtera.” Yoga menyela, suaranya bergetar.

“Bulan Ramadhan harusnya perbanyak ibadah dan hidup dalam ketenangan. Tapi bagi kita Petugas Lapangan, jika malam hanya hitung utang yang terus bertambah, bukan menghitung tasbih sambil berzikir.” Lanjutnya sambil tersenyum pahit.

Lalu suasana begitu Hening…

Arispun menarik napas panjang sambil berkata, “Sejak diangkat menjadi ASN, bantuan sosial yang dulu saya dapat dari relawan bencana langsung dicabut, Kata mereka saya sudah ‘mampu’.”

Ia tertawa kecil sambi berkata, “Mampu membeli rokok “AVATAR” rokok tanpa cukai bermerek jagoan semua elemen, hehehe… tapi ya bersyukur aja, daripada tidak ada sama sekali.”

Satria pun memejamkan mata lalu berkata, “Negara ini seringkali menilai kesejahteraan itu dari status, bukan dari fakta yang membuat dapur keluarga pegawai seperti kita selalu kosong ,” katanya pelan.

Abien pun menimpali, “Kebijakan untuk pegawai seperti kita itu dibuat di ruangan mewah dan ber-AC. Tapi Dampaknya menghantam rumah-rumah pegawai lapangan yang atapnya bocor.”

 

Meniti Puasa diantara jalan tidakadilan

 

Hujan pun mulai turun. Rintiknya berjatuhan secara  pelan dan Suhu Dingin mulai merayap.

Satria kembali berkata pelan namun dalam, “Puasa tahun itu menahan lapar. Tapi lebih berat lagi menahan rasa diperlakukan tidak adil oleh pemimpin kota madya.”

Yoga mengangguk sambi bicara lirih, “Kalau rakyat kecil menuntut hak, mereka disebut pembangkang. Tapi, Kalau pejabat menuntut fasilitas, disebut wajar dan biasa.”

Aris terlihat terus menatap kamera, “Kita ini aparat paling bawah. Kita yang pertama disalahkan kalau ada masalah. Tapi paling terakhir diingat kalau ada kesejahteraan.”

Abien menghela napas panjang, “Kadang aku berpikir… apakah doa-doa di sujud kita benar-benar sampai ke langit? Atau tertahan oleh kebijakan yang terus menindas dan penuh ke zaliman?”

Satria pun lalu berdiri. Ia memandang langit yang semakin gelap.

“Ketidakadilan,” katanya pelan, “bukan hanya soal kurangnya uang. Tapi ketika pengabdian  sudah tidak dihargai.”

Lalu, Ia melanjutkan dengan suara lebih tegas, “Negara boleh miskin anggaran, tapi tidak boleh miskin hati.”

Hujan mulai turun rintik-rintik dan mulai membasahi kota iindustri.

Baca Juga   Tertimpa Pohon Tumbang di Balai Kota, Polisi Patah Tulang dan Jalani Operasi

Yoga pun berkata lirih, “Bang, apa salah kita hingga para pemimpin begitu zalim dan tidak adil ya?”

Satria pun tersenyum samar, “Tidak ada yoga. Yang salah adalah sistem yang memuja citra, tapi lupa pada kesejahteraan pegawainya.

Aris menunduk dan berkata pelan, “Kadang kebijakan bukan soal keadilan, tapi soal kepentingan kelompok dan warna. Kita hanya bagian terkecil angka dalam laporan.”

Abien pun ikut menimpali, “Iya Betu, karena Warna bisa membutakan nurani dan Jabatan bisa menulikan telinga.”

 

Satria menatap tajam ke layar handphone,  lalu berkata,“Pemimpin yang lupa pada pegawai kecilnya, mereka sedang menggali lubang bagi moral kotanya sendiri.”

Yoga pun mengangguk pelan sambil berkata, “Kalau mereka para pejabat tinggi tidak  mendengar, siapa yang akan mengadili?”

Satria menjawab tenang, “Yakinlah bahwa Allah tidak pernah tidur.”

Terdengar suara Azan Isya dari mushola di ujung jalan. Suaranya  terdengar jelas walaupun gemercik hujan semakin deras.

Satria kembali berkata, “Kita mungkin tidak memiliki kuasa di meja kebijakan untuk keputusan yang adil, Tapi kita punya sujud yang akan melagitkan doa-doa kita.”

Kembali hening, Mereka semua terdiam…

Di mushola, sudah datang beberapa personil lain terlihat bersujud dan Di layar video call, cahaya mushola tampak hangat.

Satria berkata lirih, “Sujud bukan tanda bahwa kita menyerah. Sujud menjadi bentuk perlawanan paling sunyi terhadap ketidakadilan.”

Abien mengusap wajahnya Sambil berkata, “Kalau doa orang terzalimi tidak ada penghalang, mungkin malam ini langit sedang penuh laporan.”

Aris tersenyum tipis, “Benar Danru, Laporan ke langit yang tidak bisa dimanipulasi.”

Yoga sambil menatap anaknya yang tertidur, “Saya cuma ingin anak saya tidak mewarisi penderitaan atas  ketidakadilan ini.”

Satria pun akhirnya menutup percakapan dengan kalimat pelan namun tajam, “Jika pemimpin dingin seperti hujan malam ini, maka biarlah doa kita menjadi petir yang menyadarkan.”

Satria kembali duduk dan Kopinya sudah mulai habis serta Rokoknya tinggal abu.

Ia menengadah, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, Ramadhan menjadi cermin. cermin yang memantulkan wajah-wajah yang lelah, tapi tidak pernah menyerah, Karena mereka tahu, “Ketidakadilan mungkin menguji hidup, tapi sujud menguji iman.”

Malam pun semakin dalam, Namun di antara dinginnya kebijakan dan kerasnya realitas, masih ada satu hal yang hangat, yaitu Harapan dan sujud yang tak pernah berhenti menggugat langit.

 

Epilog : Sujud yang Tidak Pernah Tunduk pada Kezaliman

 

Malam ke empat Ramadhan akan berlalu dan menuju malam ke lima. Hujan pun akan berhenti. Kopi sudah habis di gelas dan Rokok berubah menjadi abu, Akan tetapi satu hal yang tidak boleh ikut padam yaitu, kesadaran dan Perlawanan terhadap kezaliman dan ketidakadilan.

Kisah ini bukan sekadar tentang Satria, Abien, Aris atau Yoga. Ia menjadi wajah bagi sebuah sistem yang kerap lupa bahwa di balik angka-angka anggaran ada denyut jantung manusia dan Di balik laporan kinerja ada mata anak-anak yang menunggu ayahnya pulang dengan harapan, bukan dengan kegelisahan apalagi penderitaan.

Baca Juga   Pemkot Tangerang Kejar Target Progress Venue Porprov Banten

Ketidakadilan yang di rasakan para pegawai lapangan seringkali hadir bukan dalam bentuk kekerasan yang kasar, melainkan dalam bentuk kebijakan yang dingin. Ia tersenyap dalam keputusan yang tampak administratif, namun melukai secara eksistensial. Ia tidak berteriak, tetapi perlahan menggerogoti martabat para pegawai lapangan.

Dalam buku dan kajian filsafat keadilan, manusia tidak hanya butuh hidup, Tapi juga butuh dihargai, dan ketika pengabdian dibalas dengan pengabaian, yang hancur bukan hanya ekonomi, tetapi makna.

Bulan Ramadhan mengajarkan lapar agar kita mengerti arti sebuah penderitaan. Bagaimana jika yang lapar justru mereka yang menjaga keamanan dan garda terdepan menciptakan lingkungan yang tertib dan nyaman?

Bagaimana jika petugas lapangan itu berpuasa bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari hak-haknya sendiri yang membuat mereka hidup penuh keprihatinan?

Di sinilah sujud paling esensial menemukan maknanya yang paling radikal. Sujud bukan simbol kelemahan, tapi deklarasi bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dari kursi jabatan. Dan Dengan Bersujud ada harapan bahwa pernyataan menjadi suara nurani yang tidak bisa dibungkam oleh struktur serta mejadi perlawanan spiritual terhadap ketidakadilan sosial.

“Ketika hukum tunduk pada kepentingan, Maka doa menjadi pengadilan terakhir.”

Para tokoh dalam kisah ini tidak turun ke jalan dengan berdemo melampiaskan amarahnya. Mereka turun ke sajadah dengan air mata dan dalam air mata itu tersimpan kekuatan yang tidak kasat mata.

Sebab sejarah selalu membuktikan, Kezaliman mungkin tampak kokoh, Tetapi ia rapuh di hadapan kesabaran yang sadar.

Kritik bukanlah bentuk kebencian. Ia merupakan cinta yang kecewa, iman yang menolak diam dan keberanian untuk berkata bahwa kesejahteraan bukan hadiah, melainkan hak.

“Negeri tidak runtuh karena kemiskinan, Tetapi karena ketidakadilan yang dibiarkan.”

Jika memiliki pemimpin yang pelupa, waktu akan mengingatkan. Jika pejabat yang menutup telinga, langit tidak pernah tuli dan Jika laporan bisa direkayasa, doa tidak bisa dimanipulasi.

Pada akhirnya, setiap manusia akan berdiri di hadapan keadilan yang mutlak, Bukan sebagai pejabat, aparat maupun rakyat kecil. Tetapi sebagai jiwa yang ditanya: Apa yang telah kau lakukan terhadap sesamamu?

Satria dan kawan-kawan mungkin hanya penjaga Ruang dan waktu di sudut-sudut kota. Namun dalam sujud mereka, ada gugatan yang lebih kuat dari pidato mana pun.

Hari-hari Bulan Ramadhan akan terus berjalan dan pertanyaan tentang keadilan akan tetap tinggal. Maka biarlah kisah ini berakhir bukan dengan keputusasaan, Melainkan dengan keyakinan, “Ketidakadilan boleh menguji hidup, Tetapi sujud akan selalu menjaga iman.”

Dan selama masih ada manusia yang berani bersujud dengan hati yang jujur, Harapan belum pernah benar-benar mati.

 

=========BERSAMBUNG======

 

BACA JUGA :

 

KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah  Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094

 

KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//

 

ARDHI MORSSE, SABTU 21 FEBRUARI 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *