KONI Series 6 Taekwondo Championship 2025: Dua Atlet Sakti Club RPTRA Pulogebang Permai Ukir Prestasi

SIDIKPOST | Jakarta — Kejuaraan KONI Series 6 Indonesia Taekwondo Championship 2025 yang digelar di Gedung Oemar Basri Syaaf Koarmada RI, Jakarta Pusat, pada 30 November 2025, menjadi panggung prestasi bagi atlet-atlet muda Indonesia.

Dari ajang terbuka yang diikuti ratusan peserta Jabodetabek ini, Taekwondo Sakti Club RPTRA Pulogebang Permai menorehkan hasil gemilang.

Sakti Club RPTRA Pulogebang Permai menurunkan dua atlet putra, yakni Arnes Pratama (15) dan Damar Falah Oktorian (15). Keduanya tampil pada nomor pertandingan tunggal dan berhasil mempersembahkan dua medali: emas diraih Damar Falah Oktorian, sementara perak dipersembahkan Arnes Pratama.
Pelatih I Made Sumarjaya menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas capaian anak didiknya.

Menurutnya, keberhasilan ini merupakan buah dari latihan rutin, kedisiplinan, dan kesiapan mental atlet saat bertanding. “Dengan keterbatasan jumlah atlet yang diturunkan, hasil dua medali ini menunjukkan efektivitas pembinaan dan fokus pada kualitas,” ujarnya.

Arnes Pratama mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Meski baru pertama kali mengikuti kejuaraan berskala besar, ia mengaku tampil percaya diri menghadapi ketatnya persaingan. “Saya bangga bisa meraih perak. Ke depan saya akan berlatih lebih giat untuk mengejar medali emas,” kata Arnes, seraya berterima kasih kepada pelatih yang telah membimbingnya secara konsisten.

Keberhasilan Arnes Pratama dan Damar Falah Oktorian menegaskan peran penting pembinaan usia muda dalam mencetak atlet berprestasi. Capaian ini sekaligus menjadi modal optimisme bagi Sakti Club RPTRA Pulogebang Permai untuk terus berkontribusi pada pengembangan taekwondo nasional.

 

Penulis : Jafaruddin

editor : Redaksi

Kick-Off HPN 2026 di Serang, Pokja PWI Jakbar: Momen Kebangkitan Moral Pers untuk Melawan Disinformasi

SIDIKPOST | BANTEN – Alun-alun Kota Serang, Banten, menjadi saksi peluncuran resmi (Kick-Off) Hari Pers Nasional (HPN) 2026 pada Minggu (30/11/2025) pagi, yang bertujuan memperkuat peran penting pers di tengah arus disinformasi dan maraknya media tidak kredibel.

Acara yang dihadiri oleh ribuan insan pers dari berbagai daerah ini dipimpin oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sekaligus Penanggung Jawab HPN 2026, Akhmad Munir. Dalam sambutannya yang penuh semangat, Munir menegaskan pentingnya pers untuk kembali kepada khittahnya, yaitu mengabdi kepada masyarakat. “Pers itu pengabdi kepada masyarakat. Jika kita menyebut diri sebagai insan pers, maka kita adalah guru bagi masyarakat,” ungkap Munir dalam sambutannya.

Munir menyatakan bahwa kedekatan pers dengan publik perlu diwujudkan melalui kickoff HPN di ruang terbuka yang diadakan di Alun-alun Kota Serang, sebagai tanda bahwa pers berdiri bersama rakyat. Ia memperingatkan bahwa tantangan besar saat ini adalah maraknya disinformasi dan media abu-abu, yang hanya dapat diatasi jika insan pers mengedepankan nilai-nilai dasar profesi dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Acara ini juga diwarnai dengan pesan solidaritas Munir terhadap bencana alam di berbagai daerah di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. “Melalui program PWI Peduli kami akan membantu saudara-saudara kita yang saat ini mengalami bencana alam di berbagai daerah di Indonesia,” sambungnya.

Dukungan terhadap penyelenggaraan HPN 2026 datang dari berbagai kalangan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Gubernur Provinsi Banten, Andra Soni, beserta jajaran Bupati dan Walikota, serta Anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto, menyatakan komitmen penuh untuk mendukung HPN 2026 di Banten. Mereka sepakat bahwa perhelatan tahun ini harus lebih besar dan meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Asisten Daerah III Provinsi Banten, Denny Hermawan, juga menegaskan dukungan pemerintah daerah. “Kami tidak dapat mempercepat pembangunan tanpa dukungan pers, baik nasional maupun daerah. Hubungan antara Pemprov Banten dan PWI Banten selama ini terjalin harmonis,” katanya.

Ketua Pokja PWI Jakarta Barat, Noto Prayitno, dan puluhan anggota Pokja yang hadir turut serta mendukung semangat konsolidasi pers nasional. Noto menyoroti relevansi pesan Munir dengan kondisi dunia pers saat ini, yang semakin teruji oleh derasnya informasi keliru. “Pesan Pak Munir sangat menohok dan mengingatkan jati diri kita sebagai wartawan. Kami, terutama dari Pokja PWI Jakarta Barat, melihat momen ini sebagai kebangkitan moral pers yang harus bersih, berintegritas, dan kembali menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat,” ujar Renoto, sapaan akrab owner beberapa media online di Jakarta Barat ini.

Noto Prayitno berharap HPN 2026 bukan sekadar hajatan tahunan, melainkan juga ruang refleksi bagi seluruh insan pers untuk berbenah dan melawan disinformasi. Ia menekankan bahwa Pokja PWI Jakarta Barat siap terlibat aktif dalam agenda besar ini demi memperbaiki kualitas pemberitaan dan mempererat hubungan pers dengan publik. “Harapan kami sederhana tetapi besar, pers kembali dipercaya, kembali didengar, dan kembali menjadi pilar demokrasi,” tegasnya.

Dengan dukungan beragam yang terungkap dalam kickoff ini, HPN 2026 di Banten tidak hanya diharapkan menjadi acara yang meriah, tetapi juga titik balik penting untuk memperkuat profesionalisme pers Indonesia di tengah perubahan zaman yang kompleks.

 

Penulis : Rds

Editor : Redaksi

Pokja PWI Jakarta Barat Apresiasi Pesan Kebangkitan Pers dalam Kick-Off HPN 2026 di Serang

SIDIKPOST| Serang — Gala Dinner kick-off Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang, Banten, Sabtu (29/11/2025), menjadi momentum penguatan kembali peran pers di tengah derasnya disinformasi dan menjamurnya media tak kredibel. Dalam acara yang dihadiri ribuan insan pers dari berbagai daerah, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang juga Penanggung Jawab HPN 2026, Akhmad Munir, menyampaikan seruan tegas agar pers kembali kepada khittahnya: mengabdi kepada masyarakat.

“Pers itu pengabdi kepada masyarakat. Jika menyebut diri insan pers, maka kita adalah guru masyarakat,” tegas Munir dalam sambutan berapi-api yang disambut tepuk tangan tamu undangan. Munir yang juga Direktur Utama LKBN Antara menegaskan bahwa kedekatan pers dengan publik akan diwujudkan melalui kick-off HPN di ruang terbuka, yakni Alun-alun Kota Serang, sebagai simbol bahwa pers berdiri bersama rakyat.

Munir juga mengingatkan bahwa tugas pers sebagai penyambung suara dan penjaga kepercayaan publik kini berada pada masa yang paling menantang. Maraknya disinformasi dan media abu-abu disebutnya sebagai ancaman yang hanya bisa dihadapi jika insan pers kembali pada nilai dasar profesi dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Acara tersebut turut diwarnai dengan pesan solidaritas Munir terhadap para penyandang disabilitas yang hadir melalui sebuah yayasan. “Mereka memiliki impian dan ketabahan yang mungkin lebih besar dari kita semua. Kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar mereka,” ucapnya.

Dukungan penuh terhadap penyelenggaraan HPN 2026 juga datang dari berbagai pihak. Anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto, mewakili ketua yang tengah bertugas di daerah, menyampaikan bahwa sembilan konstituen Dewan Pers sepenuhnya mendukung HPN 2026 di Banten sebagai perhelatan yang lebih besar dan meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Komitmen Pemerintah Provinsi Banten diwakili oleh Asisten Daerah III, Denny Hermawan, yang menegaskan bahwa Pemprov siap memberikan dukungan penuh. “Kami tidak dapat melakukan akselerasi pembangunan tanpa dukungan pers, baik nasional maupun daerah,” ujarnya sembari menyebut hubungan Pemprov Banten dan PWI Banten selama ini terjalin harmonis.

Di sisi lain, acara tersebut juga diikuti Ketua Pokja PWI Jakarta Barat, Noto Prayitno, bersama puluhan anggota Pokja yang hadir sebagai bentuk dukungan nyata terhadap semangat konsolidasi pers nasional. Noto menyampaikan bahwa kehadiran mereka merupakan komitmen untuk memperkuat sinergi antara wartawan daerah dengan organisasi induk.

Noto menilai pesan Ketua Umum PWI dalam acara tersebut sangat relevan dengan kondisi dunia pers saat ini yang sedang diuji oleh derasnya informasi keliru. “Pesan Pak Munir sangat menohok dan mengingatkan jati diri kita sebagai wartawan. Kami, terutama dari Pokja PWI Jakarta Barat, melihat momen ini sebagai kebangkitan moral pers. Pers harus bersih, berintegritas, dan kembali menjadi sumber pencerahan bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semangat ini akan diteruskan ke jajaran Pokja Jakarta Barat sebagai langkah memperbaiki kualitas pemberitaan sekaligus mempererat hubungan pers dengan publik. “Harapan kami sederhana tetapi besar: pers kembali dipercaya, kembali didengar, dan kembali menjadi pilar demokrasi. HPN 2026 harus menjadi momentum pemulihan kepercayaan itu,” tegasnya.

Noto Prayitno berharap HPN 2026 bukan sekadar hajatan tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi bagi seluruh insan pers agar berani berbenah, melawan disinformasi, dan menghadirkan jurnalisme yang mendidik. Ia menegaskan Pokja PWI Jakarta Barat siap mengambil bagian dalam agenda besar ini.

Dengan berbagai dukungan yang disampaikan dalam gala dinner tersebut, HPN 2026 di Banten tidak hanya diproyeksikan meriah, tetapi juga menjadi titik balik penting untuk memperkuat profesionalitas pers Indonesia di tengah perubahan zaman yang kompleks.

 

Penulis : RKS

Editor : Redaksi

Mayat Pria Membusuk Ditemukan di Belakang Ruko Fotokopi, Polsek Tenggarong Lakukan Penanganan Cepat

SIDIKPOST| Kukar — Warga Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, digegerkan oleh penemuan mayat seorang pria dalam kondisi membusuk di area belakang bangunan Fotokopi UD Hikmah Jaya di Jalan Patin RT 16, Sabtu (29/11/2025) sekitar pukul 11.30 WITA. Temuan tersebut sontak memicu kehebohan karena lokasi penemuan berada di kawasan yang cukup padat aktivitas warga.

Penemuan mayat berawal dari seorang teknisi AC yang hendak memeriksa unit outdoor di bagian belakang bangunan. Saat mendekat, saksi mencium bau menyengat yang awalnya dikira berasal dari bangkai hewan. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, ia menemukan tubuh seorang pria dalam kondisi tidak bernyawa dan sudah mengalami pembusukan berat.

Terkejut dengan apa yang dilihatnya, saksi langsung memberitahukan pemilik rumah sekaligus pemilik usaha fotokopi. Informasi diteruskan kepada Ketua RT setempat yang segera menuju lokasi untuk memastikan situasi. Tak berselang lama, warga sekitar mulai berdatangan setelah mencium bau busuk yang mulai terdeteksi sejak beberapa hari terakhir.

Piket Pamapta Polres Kutai Kartanegara bersama personel Sabhara tiba di lokasi pada pukul 12.04 WITA. Petugas langsung memasang garis polisi untuk mengamankan area dan mencegah kerumunan warga mendekati titik penemuan. Lima menit kemudian, Tim Inafis Polres Kukar tiba dan melakukan olah TKP serta pemeriksaan awal terhadap kondisi jenazah. Dari hasil identifikasi awal, diperkirakan korban telah meninggal beberapa hari sebelum ditemukan.

Pada pukul 12.45 WITA, setelah proses identifikasi awal dinyatakan selesai, jenazah dievakuasi menggunakan Ambulance TEA menuju RSUD A.M. Parikesit Tenggarong Seberang untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk upaya mengetahui identitas korban.

Pemilik rumah menyebut korban bukan penghuni tetap, namun sesekali terlihat berada di area belakang bangunan. Korban terakhir kali terlihat dua hari sebelum penemuan dan dikenal sebagai sosok yang jarang berinteraksi dengan warga, namun tidak pernah menimbulkan masalah.

Kapolsek Tenggarong, IPTU Achmad Hanafi, menegaskan bahwa pihak kepolisian telah menjalankan seluruh prosedur sesuai SOP dalam menangani kasus tersebut. “Kami bergerak cepat mengamankan lokasi, memanggil Tim Inafis, serta mengevakuasi korban ke rumah sakit. Identitas korban sedang dalam pendalaman,” ujarnya.

Polisi juga meminta warga untuk tidak berspekulasi atau menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya. Proses penyelidikan akan dilaksanakan secara profesional, dengan perkembangan informasi yang akan disampaikan setelah identifikasi selesai dilakukan.

Kasus penemuan mayat ini kini ditangani Polsek Tenggarong bersama Satreskrim dan Tim Inafis Polres Kutai Kartanegara untuk memastikan penyebab kematian dan identitas korban secara pasti.

Penulis : Rds

Editor : Redaksi

Cerita Fiksi : TANAH KARUHUN TERANCAM PUNAH” (Ancaman Proyek Tambang Dan Kerusakan Alam

PENGANTAR
SIDIKPOST| Kisah ini mengikuti perjuangan Iqbal Khusaeri, pemuda desa Giriwening yang berpegang teguh pada filosofi Sunda yaitu Pohon Bambu, Bambu yang lentur namun berakar kuat dan Sadulur Papat Kalima Pancer sebagai kompas moral dalam menghadapi kerakusan korporasi tambang PT Sura Jaya dan kaki tangannya di pemerintahan.
Ketika suara mesin bor milik perusahaan pertambangan menyalak di Hutan Larangan, kampung yang hidup dari air, tanah, dan doa leluhur itu berubah menjadi medan perang. Camat Somara memanipulasi warga dengan janji palsu, sementara preman dan polisi dipakai untuk menindas perlawanan. Fitnah, teror malam, pembakaran rumah tetua, hingga kriminalisasi dijadikan senjata untuk mematahkan persatuan rakyat.

Namun Iqbal menolak tunduk. Ia memadukan strategi rakyat, jalur hukum, dan kekuatan spiritual yang diwariskan karuhun. Bersama sahabatnya, Awan, dan warga yang masih setia, ia membongkar jaringan korupsi, rekayasa perizinan, dan pembelian tanah ilegal yang dirancang elite gelap.

Ketika tambang dihentikan, muncul ancaman baru: Dewa Lahan, aktor besar di balik proyek tambang nasional. Dengan kekayaan, koneksi politik, premanisme, hingga praktik mistis, ia mengobarkan perang baru—lebih kejam dan sistemik. Pengkhianatan aparat desa, warga yang tergoda uang, dan serangan brutal membuat pertahanan Giriwening hampir runtuh.

Di tengah pertarungan fisik, politik, dan spiritual itu, Iqbal berdiri tegak sebagai Pancer, pusat kekuatan moral yang menjaga bukan hanya tanah leluhur, tetapi martabat manusia. Ketika warga tercerai-berai, ia kembali menyatukan mereka dengan suara yang jernih: bahwa hutan bukan komoditas, tapi warisan hidup.

Pertempuran di Bukit Cakra menjadi titik puncak: benteng bambu rakyat melawan alat berat negara; keserakahan melawan kehormatan; kegelapan melawan cahaya niat yang bersih.

Mari kita ikuti kisah Cerita pendek ini menjadi kritik pedas terhadap korupsi struktural, manipulasi proyek strategis nasional, dan kerakusan yang dibungkus jargon pembangunan, seraya mengangkat kembali filosofi kepemimpinan Sunda sebagai kekuatan moral yang tak bisa dibeli uang.

KABUT DI ATAS LEUWEUNG LARANGAN
Kabut tebal turun cepat malam itu. Hutan Larangan, tempat para karuhun menanam doa selama ratusan tahun, seperti menahan napas. Di kejauhan, suara mesin bor tambang perusahaan raksasa PT Sura Jaya menggema—pelan tapi menyakitkan, seperti tulang bumi yang dipatahkan.
Di antara kabut yang menutup sebuah kampung , seorang pemuda berdiri tegap, memakai iket Sunda warna putih yang melingkar rapi di kepalanya. Itulah Iqbal Khusaeri, Seorang pemuda sederhana yang terkenal ramah, ahli silat Cimande dan pemegang nilai-nilai kehidupan sejati masyarakat Sunda yang diwariskan kakeknya. Dia bukan pejabat, bukan pula orang kaya, tapi wibawanya tumbuh dari laku hidup yang bersih dan hati yang jembar.
Suara langkah mendekat, Awan, sahabatnya, berbisik cepat, “Bal, tim survei tambang masuk lagi, Mereka bawa orang-orang ormas bayaran. Warga takut.”
Iqbal menatap ke arah hutan dan dalam dirinya, ajaran karuhun seakan bergetar, “Lamun leuweung rusak, cai beak. Lamun cai beak, hirup musnah.”
(Jika hutan rusak, air hilang. Jika air hilang, hidup musnah.)
Iqbal mendesah, menarik napas panjang. Hari-hari damai kampung Giriwening akan segera berubah menjadi gelanggang perlawanan.
Malam semakin larut, udara semakin dingin… mereka memasuki rumah untuk istirahat.
=========
Pagipun tiba, Sebelum melangkah keluar, Iqbal memejamkan mata. Ia mengingat petuah kakeknya, Filosofi Bambu dan Sadulur Papat Kalima Pancer;
Bambu melengkung saat diterpa angin, tapi tidak patah. Yang Artinya: pemimpin bukan untuk melawan angin, tapi menaklukkannya dengan lentur.
Sadulur Papat adalah empat kekuatan kehidupan, yang artinya, Akang dan Adik Jaga Diri, Jaga Rasa, Jaga Bayu, dan Jaga Buana.
Dan terakhir Pancer, yang artinya diri yang berdiri di tengah, yang menentukan arah.
Iqbal lalu membuka mata. Ia tahu, untuk menghadapi kekuasaan hitam dan politik rakus, ia harus menjadi seperti bambu: tenang, lentur, tapi mengakar kuat.

MUSYAWARAH YANG RETAK DIANTARA RENCANA LICIK
Di balai desa kampung Giriwening warga sudah ramai berkumpul. Suara-suara saling tumpang tindih, Ketakutan bercampur amarah.
Lalu datanglah Camat Somara, iya seorang pejabat kecamatan yang dikenal licin, pandai bersandiwara, sering memakai ayat untuk menutupi niat busuk. Beberapa warga sudag mengetahui niat dan tujuannya mengundang warga hadir di balai pertemuan, di belakangnya berdiri perwakilan Perusahaan PT Sura Jaya dan preman-preman pengendara motor besar.
“Mohon Pergatiannya Warga Giriwening,” ujar Camat Somara manis. “Tambang ini merupan berkah untuk kampung kita dan warga seluruhnya, nanti akan banyak terbuka Lapangan kerja serta banyak Pembangunan-pembangunan yang merubah wajah kampung kita. Apa kalian mau terus miskin?”
Sebagian warga yang hadir terlihat bingung dan beberapa warga mulai ragu dan bimbang. Kata-kata seorang pemimpin wilayah kecamatan yang terlihat indah dan palsu memang sering terdengar seperti kebaikan yang dioles madu.
Diantara suasana yang penuh keraguan, Iqbal berdiri dengan sikap Tenang tanpa meninggikan suaranya.
“Mohon Ijin berbicara Pak Camat,” katanya lembut namun tegas. Camatpun menjawab dengan Anggukan dan mempersilakan. Ibal Melanjutkan, “semua warga yang hadir termasuk kita ini, dari buyut kita, lahir dan hidup di tanah karuhun, jika apa yang pak camat sampaikan tentang Pembangunan melalui adanya Perusahaan atau proyek tambang, itu bukan sebuah keberkahan tapi akan menjadi bencana dan kerusakan serta kutukan.”
Camat Somara memandang iqbal dan tersenyum sinis, lalu berkata, “Memangnya kamu siapa, Iqbal? Mahasiswa, Guru Silat, atau Ulama? Apapun Itu tidak bisa melawan kekuasaan.”
Iqbal pun menatapnya lurus dan menjawab, “Nu boga kakuatan lain sok nu gedé ku pangkat. Tapi nu kuat ku iman.”
(Yang punya kekuatan bukan yang besar jabatannya, tapi yang kuat imannya.)
Suasana pertemuan mulai memanas. Para preman yanng di luar balai pertemuan lalu masuk dan mendekat, tapi warga segera berdiri di belakang Iqbal. Satu pemuda miskin, satu suara jernih, ternyata bisa mematahkan manipulasi politik.
Pertemuan pun tidak menghasilkan keputusan yang di harapkan pejabat kecamatan apalagi perusahaan, mereka kembali ke tempat masing-masing.
Camat Somara manandang Iqbal dan warga kampung dengan tatapan sinis sambil berbisik lirih, “Mari kita lihat, sejauh mana kalian bertahan dan mempertahankan kampung kalian, karena kalian tidak akan bisa melawan kekuasaan dan kekuatan yang mendapat dukungan penuh.”
Tapi Iqbal pun bersama warga memiliki tekad yang kuat apapun tantangannya, mereka akan terus menjaga kampung mereka,
“Bumi lain warisan karuhun, tapi titipan budak urang nu keur ngadagoan dewasa. Sunda teu diajar ngarebut, tapi lamun dipaksa mundur, kami moal ngarendem.”
(Tanah bukan peninggalan leluhur, tetapi titipan anak cucu yang menunggu masa depan. Orang Sunda tidak diajari merebut, tetapi jika dipaksa mundur, kami tak akan tenggelam.)

SERANGAN TENGAH MALAM DAN FITAH PEMBUNGKAMAN.
Malam itu seperti malam sebelumnya, namu ketika warga desa mulai tidur, preman-preman bayaran perusahaan atas perintah camat Somara datang. Mereka mulai membuat masalah dengan membakar lumbung padi, merusak pos ronda dan memukuli warga yang mengetahui aksinya dan mencoba melawan.
Iqbal yang dari pertemuan di balai desa sudah mulai waspada dan berkeliling menjaga kampung akhirnya muncul dari gelap. Gerakannya cepat, halus dan menghantam para perusuh tepat sasaran. Jurus Cimande mengalir dari tubuhnya seperti air sungai.
“Whoosh, Bruk, bruk, bruk!”
Tiga preman langsung tumbang seketika di tempat, duanya lagi mundur terhuyung dan lari tenggang langgang ketakutan.
Tiba-tiba preman-preman lainnya berdatangan mengepung dan melawan iqbal, jumlah mereka terlalu banyak, Iqbal sempat terpojok, tetapi Awan dan pemuda desa lainya datang menolong.
Dari kejauhan, Camat Somara menyaksikan semua itu sambil tersenyum dingin.
“Hari ini kalian menang, kita lihat Besok,” gumamnya, “kita akan mainkan strategi yang lebih halus tapi dampaknya akan lebih besar.”
Politik tidak selalu menyerang dengan pukulan. Kadang ia menusuk dengan dokumen, laporan palsu dan hukum yang dibengkokkan uang.
Pemuda-pemuda kampung yang terus siaga menjaga kampungnya semakin memiliki tekad yang kuat namun penuh kewaspadaan dan mereka meyakini bahwa,
“Kuat kawas bambu, daek ngaleuleus asal henteu pegat ku angin goreng. Niat bersih leuwih matak pikasieuneun tibatan pedang nu seukeut.”
(Jadilah seperti bambu: boleh lentur, tapi jangan sampai patah oleh angin jahat. Niat yang bersih lebih menakutkan daripada pedang paling tajam.).

Keesokan harinya, rombongan polisi datang membawa kendaraan Patroli serta surat panggilan. Iqbal dituduh memprovokasi warga dan menghalangi investasi negara.
Semua warga kampung apalagi kelompok pemuda yang semalam itu menjaga kampung serta menghadapi para perema bayar mengetahui bahwa surat pemanggilan itu fitnah, tapi uang tambang bergerak seperti racun: mengalir cepat, tak terlihat, dan mematikan.
Awan mendekat dan berbisik, “Bal, mereka memanpaatkan aparat melalui uang mau membuat kamu terlihat ekstrem dan Mereka mau agar warga takut dekat sama kamu.”
Iqbal pun tersenyum pahit dan menjawab, “Sadulur papat tidak pernah membiarkan pancer sendirian. Selama kita jaga niat, kita tidak kalah.”
Suasana hari itu semakin tegang, tapi bagi ibal dan barisan pemuda kampung mengetahui bahwa ini merupakan permulaan dari tantangan yang lebih besar.
Iqbal meyakinkan pesan-pesan kakeknya dahulu, “Ngajaga alam sarua jeung ngajaga diri, sabab diri téh sarupaning ciptaan tina taneuh. Lamun duit bisa meuli tanah, teu bisa meuli berkahna.”
(Menjaga alam sama dengan menjaga diri sendiri, karena diri berasal dari tanah. Jika uang bisa membeli tanah, ia tak bisa membeli keberkahannya.)
==============
Senjapun tiba menyambut malam, Iqbal meninggalkan rumah dan pergi menuju hutan Larangan untuk mendatangi sebuah pohon hanjuang. Ia menjalankan tirakat, memadukan silat, dzikir dan doa karuhun.
Angin berputar lembut dan suasana hutan begitu sunyi.
Suara burung hantu terdengar seperti isyarat.
Di dalam keheningan itu, Iqbal mendapat ilham, Bukan kekuatan tangan yang akan memenangkan perlawanan ini, Tapi membongkar korupsi yang disembunyikan perusahaan tambang dan pejabat.
Setalah pulang dari hutan Larangan, Iqbal mengumpulkan semua pemuda yang memiliki keyakinan serta keberanian mempertahankan kampungnya dari kerusakan dan kerakusan pengusaha tambang serta pejabat wilayah. Ia menyampaikan rencana kepada seluruh pemuda untuk bersama-sama mengumpulkan barang bukti. Baik itu berupa Surat, rekaman maupun dokumen pembelian tanah ilegal yang dilakukan PT Sura Jaya. Mereka menyadari permainan dan gerakan ini sangat berbahaya. Tetapi jika tanah karuhun dibiarkan hancur, generasi selanjutnya akan menjalani hidup sebagai tamu di tanah sendiri.
Iqbal menyakini pesan para luluhur, “Leuweung ruksak, manusa ruksak; cai kotor, haté leuwih kotor. Sabar lain hartina cicing. Sabar teh strategi pikeun nangtung dina waktu nu pas.”
(Hutan rusak, manusia rusak; air kotor, hati lebih kotor. Kesabaran bukan berarti diam. Kesabaran adalah strategi untuk berdiri pada saat yang benar.)

PERTEMPURAN DI BALAI KABUPATEN
Hari itu sidang terbuka terhadap iqbalpun tiba. Camat Somara mengira ia akan menang mudah. Namun Iqbal di bantu para pemuda dann datang dengan membawa data lengkap mulai dari bukti suap, transfer gelap dan perizinan palsu.
Ruang sidang pun ramai dan riuh. Ketua hakim terdiam lama dan Warga kampung pun berbondong-bondong memenuhi halaman.
Tidak berselang lama, keputusan hakimpun keluar:
Penghentian operasi tambang dan Investigasi korupsi pejabat serta Penangkapan beberapa eksekutif.
Camat Somara pun pucat. Ia kalah bukan oleh kekerasa, tapi oleh pemuda-pemuda desa yang menjaga nilai leluhur lebih teguh dari batu karang.
Warga yang hadir meyakini pesan para karuhun terdahulu, “Lamun kakawasaan dijalankeun ku hawa napsu, hukum ngan ukur jadi seragam tanpa jiwa. Ninggalkeun leluhur sarua jeung motong akar diri sorangan.”
(Jika kekuasaan digerakkan nafsu, hukum hanyalah seragam tanpa jiwa. Melupakan leluhur sama dengan memotong akar diri sendiri.)
===============
Setalah Pristiwa persidangan yang di menangkal Iqbal bersama Warga kampung, Hutan Larangan pun pulih secara perlahan, Air sungai kembali jernih, Warga -warga secara bergotong royong menanam ribuan bibit bambu sebagai simbol perlawanan dan harapan.
Iqbal bersama sahabatnya awan, duduk di pinggir sungai, menatap matahari terbit.
Awan berkata pelan, “Bal, kamu bukan pemimpin yang kami pilih… tapi pemimpin yang kami butuhkan.”
Iqbal tersenyum lalu berkata, “Pancer bukan dihormati karena berdiri di tengah keramaian, Tapi karena mampu menuntun arah tanpa kehilangan dirinya sendiri.”
Iqbal pun melanjutkan, “Pancer kudu jernih, sabab nu opat salawasna narik ka unggal arah. Pemimpin lain nu aya di paling hareup, tapi nu berani nanggung dosa lamun ngajak bohong.Hirup lain pikeun menang, tapi pikeun nyepeng kebenaran sangkan moal éléh.Bakti ka alam teh sarua jeung bakti ka Gusti.”
(Poros diri harus jernih, karena empat saudara batin selalu menarik ke arah berbeda. Pemimpin bukan yang berdiri paling depan, tetapi yang berani menolak mengajak pada kebohongan. Hidup bukan untuk menang, tetapi untuk memegang kebenaran agar tak kalah. Menghormati alam sama dengan menghormati Tuhan.)
Awan pun tersenyum bangga.
(Bersambung)

ARDHI MORSSE, TANGERANG 29 NOVEMBER 2025.

SEGEL MENGGANTUNG (Permainan Srigala Birokrasi dan Anjing Liar Makelar Kasus yang Rakus)

SIDIKPOST| PT. Satu Putra Sejahtera, perusahaan keluarga di bidang alas sepatu, menghadapi tekanan luar biasa ketika dua gudang mereka yang sedang dalam proses perizinan disegel oleh berbagai pihak. Yugo, anak bungsu yang memimpin perusahaan, harus menghadapi ambisi gelap kakaknya, Hugo, yang gagal dalam usaha sendiri dan berusaha mengambil alih perusahaan melalui intrik, media, dan tekanan birokrasi.
Permainan licik pun terjadi: wartawan lokal, ormas, oknum dewan, aparat penegak perda, hingga Aspri wakil kepala daerah dan ketua pemuda yang rakus ikut menekan perusahaan dengan motif tersembunyi, menuntut upeti dan keuntungan pribadi. Segel yang menempel bukan hanya simbol fisik, tetapi lambang dari sistem penuh keserakahan, manipulasi, dan kepentingan sempit.
Yugo, dengan integritas dan strategi, perlahan menyingkap pola tekanan dan memanfaatkan jalur hukum serta media untuk mempertahankan perusahaan. Ia belajar menghadapi “srigala kelaparan” dan “anjing liar yang rakus” di dunia bisnis dan birokrasi, mempertahankan prinsip, dan menjaga nama baik keluarga.
Cerita ini adalah perjalanan dramatis seorang pemimpin muda menghadapi intrik keluarga, politik, dan birokrasi yang korup, di mana integritas dan kecerdikan menjadi senjata utama untuk bertahan dan menang.

A.PENYEGELAN YANG DI PAKSAKAN

“Dalam permainan ini, keberanian tanpa strategi sama dengan daging yang diserbu srigala.” (Thomas, Sang Pengacara)

Di tengah kota yang tenang di permukaan, PT. Satu Putra Sejahtera berjalan sebagai salah satu perusahaan terkemuka di bidang alas sepatu. Gudang-gudang besar mereka tersebar di pinggiran kota, penuh dengan mesin produksi dan tumpukan bahan baku. Dua dari gudang itu masih menunggu izin resmi, namun perusahaan tetap beroperasi sesuai prosedur yang sedang berjalan.
Pemilik perusahaan, Pak Santoso, mempercayakan anak bungsunya, Yugo, untuk memimpin perusahaan. Meski secara teknis masih berada di bawah pengawasan kedua orang tua, Yugo tampak percaya diri menghadapi rutinitas manajemen perusahaan.
Sementara itu, kakaknya, Hugo, gagal dalam membangun usaha otomotifnya sendiri. Kerugian dan ambisi membuat Hugo memandang perusahaan milik adiknya sebagai target.
Dengan strategi senyap, gelap dan penuh ambisi, Hugo mulai menyusun serangkaian tekanan. Ia membayar massa aksi yang dipimpin Tedy Markus (ketua forum wartawan lokal), agar menggalang masa dan pemberitaan negatif. Selain itu, Ia pun menghubungi oknum Jumakir seorang Ketua Komisi DPRD Kota (veteran militer yang sudah pensiun) untuk menekan perusahaan.
Dengan Demonstrasi, Pemberitaan media yang viral akhirnya Dinas penegakan peraturan daerah kota, Dinas perdagangan dan industri hingga Dinas lingkungan hidup serta tenaga kerja kota pun ikut terlibat. Tujuannya jelas, agar di lakukan sidak, penutupan serta penghentian operasional perusahaan untuk memuluskan ambisinya.
Hari itu pun datang, Jumakir bersama Tedy dan rombongan tiba di perusahaan melakukan Sidak Perusahaan, setalah sidak di ketahui terdapat dua gudang yang sedang dalam proses pengurusan izin dan hal tersebut menjadi sorotan sekaligus mejadi celah utama.
Jumakir tersenyum licik menatap Tedy, kemudian mereka menghubungi sekaligus menekan intansi penegak perda kota untuk melaksanakan penyegelan terhadap perusahaan dan menghentikan semua aktivitas perusahaan yang sedang berlangsung.
Pada waktu bersamaan, Mobil Robicon hitam Tiba di lokasi perusahaan. Pemilik mobil turun dari kendaraannya. Thomas, Pengacara perusahaan, tanpa membuang waktu menemui Jumakir dan Tedy yang berdiri di depan gudang, Ia Segera mempertanyakan dalih mereka yang mendesak Intansi penegakan perda kota untuk menyegel gudang perusahaan, sedangkan Proses perizinan serang berjalan.
Jumakir dan Tedy pun senyum sinis dengan pertanyaan Thomas, Karena sudah menerima upeti dari Hugo, Jumakir dan Tedy tidak memperdulikan pertanyaan Thomas, mereka terus menekan petugas dari penegakan hukum daerah kota dan akhirnya gudangpun di segel, aktivitas produksi berhenti, karyawan histeris karena mereka harus di rumahkan, akses masuk di tutup dan produksi berhenti.

 

 

B.PENYEGELAN YANG CACAT HUKUM

“Segel bukan sekadar logam; ia adalah cermin dari keserakahan, tipu daya, dan ambisi yang membusuk.Ketika semua orang tampak bersahabat, periksa siapa yang tersenyum di belakangmu, itulah srigala yang menunggu darahmu.” (Thomas, Sang Pengacara)

Thomas sebagai kuasa hukum perusahaan sudah mulai mencium adanya permainan diantara proses penyegelan yang di lakukan tanpa prosedur, Iya Mempertanyakan, Apakah Dewan dan ketua forum wartawan lokal serta ormas punya hak serta dasar hukum untuk mendesak Intansi penertiban peraturan daerah melakukan penyegelan?,
Apalagi penyegelan di lakukan tanpa adanya pemberitahuan, surat peringatan serta surat perintah yang jelas dan Penyegelan saat proses perizinan berjalan bertentangan dengan UU Cipta Kerja, PP 5/2021, PP 6/2021, Peraturan BKPM 5/2021, dan AUPB.
Ini jelas-jelas sebuah penyegelan yang di paksakan serta cacat hukum.
Akhirnya Thomas mendesah lirih, permainan dengan menyegel dan menutup perusahaan yang melibatkan pemerintah kota jelas ada kaitannya dengan orang dalam keluarga.
Segel resmi ditempatkan di pintu utama gudang dan dalam sekejap, hiruk-pikuk pun muncul: wartawan meliput dengan nada provokatif dan ormas berunjuk rasa.
Beberapa hari kemudian, Robin bersama beberapa oknum dari instansi penegak hukum daerah kota menghubungi Thomas, mereka berpura-pura menawarkan solusi terkait pembukaan segel dan penyelesaian perizinan dan semua penawaran solusi dengan motif sama, menuntut bayaran fantastis, menjadi calo perizinan.
Mereka bagaikan “kelompok srigala kelaparan” yang menggigit siapa pun yang ketakutan dan terlihat lemah.
Karena banyaknya tekanan dan desakan, Perusahaan pun memanggil konsultan untuk menyelesaikan semua proses perizinan dan berharap prosedur perizinan yang benar dapat membuka jalan.
Setelah proses yang panjang tanpa menuggu waktu lagi, NIB pun diunggah ke aplikasi OSS-RBA, dokumen lengkap, tapi segel tetap bertahan dengan berbagai alasan dan tidak ada satupun pihak yang benar-benar membantu; semua bermain di balik bayangan keuntungan pribadi.
Akhirnya, pengusaha meminta Thomas untuk menghubungi asisten pribadi wakil kepala daerah kota dan berharap bisa komunikasi langsung dengan wakil kepala daerah kota untuk menemukan solusi dari permasalahan yang di hadapi Perusahaan.

Setelah mengatur pertemuan dan tiba di hari yang di sepakati, Datanglah Maliki seorang Aspri dari wakil kepala daerah kota ke rumah pribadi Thomas.
Namun Maliki tidak datang sendiri, dia membawa serta Robert seorang ketua pemuda kota yang terkenal licik, rakus, dan cerdik.
Pertemuan awal di kediaman thomas tampak biasa, niat baik saling ditunjukkan. Namun beberapa hari berlalu, pekerjaan tak bergerak, segel belum terbuka, dan Robert ketua pemuda mulai bertanya tentang “Nomimal harga” kepada Maliki yang telah mengajaknya ke rumah Thomas.
Dengan persaan yang berat, Aspri terpaksa menanyakan nominal ke orang kepercayaan perusahaan.
Thomas, sebagai Orang kepercayaan mengingat waktu pertemuan di rumahnya, Ia menyadari sebuah kesalahan, karena Awalnya nominal itu hanya candaan pencair suasana, tapi ketua pemuda yang datang bersama Aspri menjadikan hal tersebut sebagai alat tekan sekaligus tiket untuk memeras lebih jauh.
Ketua pemuda akhirnya mendapatkan angka dari nilai upeti yang sangat besar, Ia tersenyum penuh kemenangan.
Aspripun terdiam, sadar integritasnya sudah tergerus, dan Ia telah salah membawa Anjing liar kelaparan yang pada akhirnya berdampak pada hilangnya kepercayaan seorang pengusaha.
Aspri pun mendesah lirih, “Srigala bisa berlari, anjing liar bisa menggigit, tapi manusia yang berintegritas tidak bisa ditundukkan. Kamu bisa menyerah pada tekanan, tapi tidak bisa menyerah pada akal sehat dan kebenaran.”

C.SEGEL DI ANTARA SRIGALA DAN ANJING LIAR YANG KELAPARAN

“Hanya mereka yang melihat permainan dari jauh yang bisa memimpin dengan cerdas. Mereka menekan dengan kekuasaan, tapi mereka tak bisa menekan prinsip yang terlatih.” (Thomas, Sang Pengacara)

Hari terus berlalu, Segel tetap tidak terbuka. Pengusaha semakin menyadari sebuab pola yang sama: tekanan datang dari forum wartawan, ormas, dewan, instansi, bahkan Aspri dan ketua pemuda, semua berpura-pura memberi solusi, tapi tujuannya sama, ingin mengambil keuntungan.
Perusahaan berada pada dua kelompok, yang awalnya takut pada “kelompok srigala buas”, namun terjebak di tengah “anjing-anjing jalanan yang rakus”.
Meski proses perizinan masih berjalan, pandangan pengusaha terhadap lingkungan pemerintah telah berubah. Kota tampak tenang di permukaan, tapi di meja transaksi, gaduh, licik, dan penuh intrik.
Dunia yang tadinya dianggap sebagai regulasi dan birokrasi kini hanyalah arena bandit dan bedebah, tempat setiap orang mencari untung dari kesulitan orang lain dan di tengah semua itu, Yugo tahu, untuk melangkah maju, ia harus lebih cerdas, lebih waspada dan lebih kuat daripada mereka semua, Ia selalu mengingat bahwa integritas dan keberanian akan menjadi senjata terbaik di medan yang penuh tipu muslihat ini.
Di ruang kantor, Yugo menatap dokumen perizinan yang kini tertata rapi. Ia tersenyum tipis, bukan karena yang sudah mulai menemukan solusi, tetapi karena perusahaan tetap berdiri, karyawannya harus bekerja kembali dan prinsipnya tetap utuh. Ia sadar, perjalanan menghadapi tekanan dari luar dan dalam masih panjang, tapi ia siap. Setiap segel yang menempel, setiap ancaman dan intimidasi, kini menjadi pelajaran berharga.
Kota tetap tenang di permukaan, namun Yugo tahu bahwa di balik meja transaksi, banyak pihak yang masih mengintai. Tetapi sekarang, ia tidak takut. Ia belajar membaca pola, mengantisipasi langkah licik, dan menjaga integritas sebagai senjata utama.
Segel yang menggantung di gudang bukan hanya simbol tekanan dan ancaman, tetapi kini menjadi simbol kemenangan prinsip atas tipu muslihat, keberanian atas ketakutan dan integritas atas keserakahan.
Dari permasalahan yang di hadapi, Yugo memahami satu hal, bahwa di dunia bisnis dan birokrasi semua keputusan dan kebijakan dipenuhi bandit dan bedebah, hanya mereka yang teguh pada prinsip dan cerdas dalam strategi yang bisa bertahan dan menang.

ARDHI MORSSE, TANGERANG 28 NOVEMBER 2025

Polsek Muara Wis Dengarkan Aspirasi Warga Lewat Program Jumat Curhat di Desa Lebak Mantan

SIDIKPOST | Kukar – Upaya mendekatkan diri dengan masyarakat kembali ditunjukkan Polsek Muara Wis melalui pelaksanaan Program “Jumat Curhat” yang digelar pada Jumat (28/11/2025) di Desa Lebak Mantan, Kecamatan Muara Wis. Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara aparat kepolisian dan warga untuk membahas berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Tim Polsek Muara Wis yang hadir terdiri dari Aiptu Didik W., Aiptu Hardi W., Brigpol Tony, Brigpol Arifin, dan Bripda Dody. Kehadiran mereka disambut baik oleh para tokoh masyarakat, Ketua RT, serta warga yang ingin menyampaikan langsung aspirasi dan keluhan mereka. Diskusi berlangsung santai dan akrab, mencerminkan hubungan yang harmonis antara polisi dan masyarakat.

Dalam forum tersebut, dua warga, yaitu Sumarna dan Agus Sutanto, mengemukakan beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian. Di antaranya maraknya aktivitas menangkap ikan menggunakan setrum di Sungai Lebak Mantan, pembukaan lahan sawit di kawasan gambut melalui cara pembakaran, hingga fungsi Pos Kamling yang tidak berjalan akibat minimnya ronda malam.

Aparat Polsek Muara Wis mencatat seluruh masukan itu sebagai bahan evaluasi dan komitmen perbaikan pelayanan kepolisian ke depan. Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada warga di Dusun Mekar Sari yang selama ini aktif menjaga keamanan dan ketertiban di wilayahnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, Polsek akan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan (Binluh) kepada para ketua RT serta tokoh masyarakat mengenai larangan penggunaan setrum untuk menangkap ikan. Pemerintah desa juga diminta memasang spanduk imbauan di sejumlah titik agar pesan dapat tersampaikan secara luas.

Selain itu, Polsek Muara Wis berencana memberikan penyuluhan mengenai bahaya pembakaran lahan, terutama di kawasan gambut pengembangan sawit. Spanduk peringatan bahaya kebakaran juga akan disiapkan untuk dipasang di area rawan.

Terkait persoalan Pos Kamling, Bhabinkamtibmas akan menggerakkan warga untuk membahas kembali mekanisme ronda malam serta menyusun jadwal jaga agar fungsi Pos Kamling dapat kembali berjalan optimal.

Melalui kegiatan Jumat Curhat ini, Polsek Muara Wis berharap tercipta jalinan komunikasi yang semakin kuat antara aparat dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas kamtibmas serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman di Desa Lebak Mantan.

Penulis : Rls

Editor : Redaksi

Polsek Loa Kulu Tebar Kebaikan di Hari Jumat: Nasi Kotak Dibagikan untuk Jamaah Masjid Al-Hikmah

SIDIKPOST| Kukar – Kepedulian terhadap sesama terus ditunjukkan Polsek Loa Kulu melalui program Jumat Berkah yang kembali digelar pada Jumat (28/11/2025). Bertempat di Masjid Jami Al-Hikmah, Desa Loh Sumber, personel Polsek membagikan puluhan nasi kotak kepada jamaah usai pelaksanaan Sholat Jumat.

Suasana hangat tercipta ketika para petugas yang telah bersiap sejak pagi membagikan nasi kotak dengan sikap ramah dan penuh keikhlasan. Para jamaah menerima pembagian tersebut dengan tertib, sementara anggota kepolisian berbaur tanpa jarak, menciptakan momen kebersamaan yang sarat nilai sosial dan religius.

Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk implementasi Polri yang hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang senantiasa menebar manfaat.

“Jumat Berkah ini kami laksanakan sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan. Islam mengajarkan pentingnya berbagi rezeki, dan kami berharap langkah sederhana ini dapat membawa keberkahan bagi masyarakat dan mempererat hubungan Polri dengan jamaah,” ujar AKP Hari.

Ia menegaskan bahwa pendekatan keagamaan yang humanis menjadi bagian dari strategi pembinaan kamtibmas. Lewat sentuhan kegiatan sosial seperti ini, Polsek Loa Kulu berharap terjalin komunikasi dan hubungan emosional yang lebih baik antara kepolisian dan masyarakat.

Sementara itu, sejumlah jamaah Masjid Al-Hikmah menyampaikan apresiasi mereka terhadap kegiatan Jumat Berkah tersebut. Mereka merasa terbantu dan tersentuh dengan perhatian yang diberikan, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah.

Kegiatan berjalan dengan tertib dan penuh kekeluargaan. Program Jumat Berkah Polsek Loa Kulu kembali menegaskan bahwa penguatan hubungan antara aparat dan masyarakat dapat dilakukan melalui aksi-aksi sederhana yang disampaikan dengan ketulusan. Semoga kegiatan ini terus berlanjut sebagai amal kebaikan yang membawa manfaat bagi warga Kecamatan Loa Kulu.

Penulis : Rls

Editor : Redaksi

Pemuda Asal Bangun Rejo Ditangkap Polisi Usai Kedapatan Buang 7 Poket Sabu

SIDIKPOST| Kukar – Respons cepat Polsek Tenggarong Seberang terhadap informasi masyarakat kembali membuahkan hasil. Seorang pemuda berinisial MSE (23) ditangkap pada Rabu malam (26/11/2025) setelah kedapatan membawa tujuh poket narkotika jenis sabu di wilayah Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Penangkapan dilakukan sekitar pukul 23.30 Wita. Berawal dari laporan warga terkait aktivitas sekelompok anak muda yang diduga terlibat transaksi mencurigakan di RT 20, Unit Reskrim Polsek Tenggarong Seberang segera bergerak menuju lokasi. Saat dilakukan penyisiran, petugas melihat seorang pemuda dengan tingkah laku tidak biasa di pinggir jalan.

Ketika petugas mencoba menghampiri, MSE sempat berupaya melarikan diri dan membuang sebuah bungkusan plastik ke semak-semak. Pelarian tersebut gagal karena petugas berhasil mengejar dan mengamankan dirinya beberapa meter dari lokasi.

Hasil pemeriksaan terhadap bungkusan yang dibuang menunjukkan adanya tujuh poket sabu dengan berat sekitar 4,04 gram. Barang haram itu disembunyikan dalam kemasan makanan ringan untuk mengelabui petugas. Selain sabu, polisi turut menyita ponsel, dompet, kotak rokok, dan plastik klip sebagai barang bukti tambahan.

Kapolsek Tenggarong Seberang IPTU Aulia Hadi Rahman mengonfirmasi penangkapan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat dalam memberikan informasi terkait aktivitas narkotika di lingkungannya.

“Kami sangat mengapresiasi warga yang berani melaporkan dugaan peredaran narkoba. Informasi dari masyarakat sangat membantu kepolisian dalam menjaga keamanan wilayah. Siapa pun yang coba-coba mengedarkan narkotika pasti kami tindak tegas,” ujar IPTU Aulia.

Saat ini, MSE telah diamankan di Mapolsek Tenggarong Seberang dan ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 114 ayat (1) jo Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Narkotika dan menjalani penyidikan lebih lanjut.

Kapolsek kembali mengimbau masyarakat agar tidak ragu melapor bila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan. Kolaborasi warga dan aparat disebut menjadi kunci memotong rantai peredaran narkoba di Kota Tenggarong Seberang khususnya dan Kukar pada umumnya.

Penulis : Rls

Editor : Redaksi

Satlantas Polres Kutai Kartanegara Amankan 32 Remaja dan 26 Motor dalam Penindakan Balap Liar

SIDIKPOST| Kukar – Guna merespons keresahan masyarakat terkait maraknya aksi balap liar yang kerap membahayakan pengguna jalan, Satlantas Polres Kutai Kartanegara menggelar penindakan besar-besaran dalam rangka Operasi Zebra Mahakam 2025 pada Jumat malam (28/11/2025).

Kegiatan dimulai pukul 23.00 Wita, diawali apel kesiapan di Mako Satlantas yang dipimpin Kasat Lantas Polres Kukar AKP Ahmad Fandoli dan diikuti jajaran perwira serta 40 personel Satlantas. Operasi kemudian dilanjutkan dengan penyisiran dua lokasi yang dilaporkan masyarakat sering dijadikan arena balapan liar, yakni Jl. Pesut, Kelurahan Timbau, dan Jl. Poros Tenggarong–Samarinda di Kecamatan Tenggarong Seberang.

Dalam penindakan tersebut, petugas mengamankan 32 remaja dan 26 unit sepeda motor yang diduga terlibat balapan liar. Seluruh pengendara kemudian diberikan edukasi mengenai bahaya aksi tersebut, termasuk risiko kecelakaan fatal, gangguan keamanan, serta keselamatan pengguna jalan lainnya. Selain pembinaan, petugas juga memberikan tindakan tegas berupa tilang.

Kasat Lantas Polres Kutai Kartanegara AKP Ahmad Fandoli menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kehadiran Polri dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan berlalu lintas.

“Balapan liar bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam nyawa. Kami bertindak tegas karena banyak aduan masuk dari masyarakat yang merasa terganggu dan terancam keselamatannya. Edukasi tetap kami kedepankan, namun penindakan tegas tetap dilakukan agar memberikan efek jera,” tegasnya.

Operasi yang berlangsung hingga pukul 05.00 Wita tersebut berjalan aman, tertib, dan tanpa hambatan berarti.

Masyarakat di sekitar lokasi pun menyampaikan apresiasi atas tindakan cepat kepolisian. Sejumlah warga mengaku selama ini sangat terganggu dengan suara bising motor, kerumunan remaja, hingga aksi ugal-ugalan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Warga Kelurahan Timbau menyebut kegiatan tersebut sangat membantu menciptakan kembali suasana kondusif di lingkungan mereka. “Akhirnya area ini kembali tenang. Terima kasih kepada polisi yang sigap menindak balapan liar,” ujar salah seorang warga.

Satlantas Polres Kutai Kartanegara berharap penindakan ini menjadi pembelajaran bagi para remaja untuk lebih bijak dan tertib berlalu lintas. Polri juga mengajak masyarakat terus berperan aktif memberikan informasi apabila menemukan kegiatan yang mengganggu keamanan dan keselamatan di jalan raya.

Penulis : Rls

Editor : Redaksi

Pemilik Bangunan di Cikokol Mulai Dipanggil Satpol PP, Warga Kritik Asas Keadilan dalam Penertiban

SIDIKPOST | Kota Tangerang — Polemik terkait maraknya bangunan yang diduga tidak berizin di Kota Tangerang mendapat perhatian baru setelah pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangerang melalui Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah (Kabid Gakumda ) memberikan keterangan bahwa pemilik salah satu bangunan telah dipanggil untuk dimintai klarifikasi. Pemanggilan ini dilakukan setelah muncul keluhan warga terkait bangunan yang berdiri sebelum mengantongi perizinan lengkap, terutama di kawasan Cikokol.

Meski demikian, sejumlah warga menilai langkah tersebut masih belum memadai. Mereka menyoroti lemahnya efek jera terhadap pelanggar tata ruang dan perizinan, sehingga pembangunan tanpa izin terus terjadi di beberapa titik kota.

Salah seorang warga, Mukhlis (44), menilai bahwa penerapan aturan sering tidak berjalan adil. Ia menganggap tindakan penertiban terlihat berbeda antara masyarakat biasa dan pihak yang dianggap memiliki modal kuat.

“Kalau rakyat kecil, Satpol PP cepat dan gercep. Tapi kalau bangunan milik pihak yang punya modal kuat, seolah-olah Satpol PP takut dan lambat. Ini yang membuat warga merasa ada perlakuan berbeda,” ujar Mukhlis.

Mukhlis meminta Wali Kota Tangerang untuk bersikap tegas dan memastikan bahwa seluruh bangunan yang belum memiliki izin tetapi sudah melakukan pembangunan harus ditertibkan sesuai aturan.

“Kami hanya ingin keadilan. Jika belum punya izin, ya jangan membangun dulu. Wali kota harus tegas menertibkan, demi tata ruang yang rapi sekaligus menambah PAD dari denda atau retribusi yang semestinya masuk,” tegasnya.

Sebelumnya, warga seperti Mad Nur juga telah menyampaikan keresahan serupa. Menurutnya, tanpa sanksi tegas seperti yustisi ataupun denda administratif, para pelanggar merasa leluasa mendirikan bangunan tanpa mengikuti ketentuan tata ruang yang berlaku.

Bangunan tak berizin, menurut warga, tidak hanya menimbulkan potensi penyimpangan tata ruang, tetapi juga merugikan daerah karena hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari proses perizinan atau sanksi yang seharusnya diterapkan.

Sementara itu, Kabid Gakumda Satpol PP Kota Tangerang memastikan bahwa proses klarifikasi kepada pemilik bangunan tetap berjalan dan tahapan pengawasan akan terus dilakukan. Pemanggilan tersebut disebut sebagai bagian dari penegakan aturan dan langkah awal untuk menentukan tindakan lanjutan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Warga berharap langkah pemanggilan tersebut tidak berhenti sebagai formalitas, tetapi menjadi komitmen nyata pemerintah kota untuk memastikan tidak ada pembangunan yang berjalan tanpa prosedur perizinan yang lengkap. Mereka menegaskan bahwa penegakan aturan harus dilakukan secara setara, tanpa memandang besar atau kecilnya modal, demi menjaga tertib kota dan keadilan bagi seluruh warga.

Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat masih menunggu kelanjutan tindak lanjut Pemkot Tangerang atas bangunan-bangunan yang diduga belum mengantongi izin, serta langkah tegas dalam penegakan tata ruang agar perbedaan perlakuan tidak kembali terjadi.

Penulis : Anton Teef

Redaksi : editor

Solusi Banjir Cakung: Pemkot Jaktim Dorong Realisasi Embung

SIDIKPOST| JAKARTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur terus mendorong percepatan pembangunan embung di wilayah Cakung sebagai langkah strategis pengendalian banjir yang masih menjadi ancaman di kawasan tersebut. Upaya itu kembali ditegaskan Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, saat ditemui di Jakarta, Jumat.

Munjirin mengatakan bahwa pembangunan embung Cakung merupakan kebutuhan yang sejak lama diharapkan warga sekaligus menjadi prioritas pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan bersama Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta sebagai instansi teknis yang akan menangani pembangunan fasilitas penampungan air itu.

Menurutnya, Pemkot Jakarta Timur berharap proyek embung dapat segera masuk dalam program kerja terdekat. “Kita sudah melakukan dorongan dan koordinasi. Mudah-mudahan segera diprogramkan. Untuk kepastian waktu mulai, silakan konfirmasi ke Dinas SDA,” ujar Munjirin.

Terkait komunikasi dengan warga, Munjirin memastikan bahwa aspirasi masyarakat telah lama disampaikan dan menjadi perhatian pemerintah. Ia menegaskan bahwa Dinas SDA memahami kebutuhan tersebut, sehingga saat ini yang diperlukan hanya percepatan realisasi.

Pembangunan embung diharapkan mampu memperbesar kapasitas tampungan air hujan dan mengurangi risiko genangan di kawasan yang kerap terdampak banjir. Pemkot Jakarta Timur menekankan komitmennya untuk mengawal seluruh proses hingga pembangunan benar-benar terlaksana.

Sebelumnya, warga Jalan Pool PPD RT 02/RW 07, Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, telah meminta pemerintah mempercepat realisasi pembangunan embung sebagai antisipasi banjir di wilayah mereka. Seorang warga, Jainal, mengatakan bahwa meski beberapa tahun terakhir banjir besar sudah jarang terjadi, keberadaan embung tetap krusial untuk pengaturan tata air, terutama di tengah meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur.

Jainal juga mengungkapkan masalah baru berupa debu tebal dan lalu lintas kendaraan berat yang melintasi kawasan itu setiap hari. Ia menilai, meskipun saluran drainase telah diperbaiki sejak adanya rencana pembangunan Rumah Sakit Internasional, embung tetap dibutuhkan untuk memastikan kawasan tetap aman dari banjir musiman.

 

Penulis : Jafaruddin

Editor : Redaksi