Prolog
Ibadah Puasa merupakan kegiatan disiplin spiritual. Ia melatih manusia menahan hasrat, mengendalikan ego, dan membersihkan batin dari kerak keserakahan. Akan tetapi, dalam kegiatan tersebut timbul pertanyaan, bagaimana jika yang menahan diri hanyalah rakyat kecil, pegawai rendahan, sementara yang para pimpinan yang memegang kebijakan tidak pernah berpuasa dari kuasa dan ego rakusnya?
Kisah cerita ini hadir dari kegelisahan yang terus membara seperti api dalam sekam dan tidak bisa lagi disimpan dalam diam.
Teori keadilan sosial menjelaskan bahwa, negara hadir untuk memastikan distribusi kesejahteraan berjalan proporsional. Prinsipnya sederhana, beban sebanding dengan hak, tanggung jawab sejalan dengan penghargaan.
Namun di lapangan, realitas sering kali bergerak terbalik. Mereka yang bekerja paling keras justru berdiri paling jauh dari kesejahteraan dan Mereka yang berjaga siang – malam justru dihitung paling kecil dalam neraca anggaran, Apakah ini sekadar salah hitung?, Ataukah memang timbangan itu telah patah sejak lama?
“Puasa di Antara Neraca Retak” bukan sekadar kisah tentang aparat lapangan yang berpuasa sambil bekerja. Ini menjadi refleksi tentang ketimpangan struktural yang sering disamarkan oleh retorika formal, Tentang janji peningkatan kesejahteraan yang ditunda-tunda, Tentang tunjangan yang stagnan di tengah kenaikan biaya hidup dan Tentang angka-angka yang di atas kertas terlihat rapi, tetapi di dapur rumah terasa menyayat.
Secara ilmiah, kesejahteraan pegawai mejadi faktor penting dalam produktivitas dan stabilitas sosial. Ketika kompensasi tidak sebanding dengan beban kerja, maka yang lahir bukan hanya kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial. Kelelahan eksistensial adalah pintu masuk krisis moral dalam sistem pelayanan publik.
Negara tidak runtuh karena kritik. Tapi, Negara runtuh ketika kritik dianggap ancaman. Bulan Suci Ramadhan mengajarkan kita sebagai manusia tentang empati, merasakan lapar agar memahami yang kekurangan. Namun kebijakan yang tidak adil justru menciptakan lapar baru, mulai dari lapar akan pengakuan, lapar akan keadilan, hingga lapar akan martabat.
Apakah adil jika jam kerja dan resiko di lapangan lebih besar tetapi penghasilan lebih kecil?
Apakah rasional jika status administratif menjadi alasan untuk menunda hak-hak yang seharusnya bisa memenuhi kebutuhan pegawai lapangan dan keluarganya?
Apakah bisa di katakan bermoral jika janji kesejahteraan dijadikan komoditas politik?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk kritik pembangkangan ataupun pemberontakan. Ini hanya sebuah bentuk kepedulian, Karena diam terhadap ketimpangan berarti menyetujui ketidakadilan terus berlangsung.
Di tengah neraca yang retak, doa menjadi satu-satunya ruang yang tidak bisa diintervensi. Sujud menjadi bentuk keberanian paling sunyi dan Dalam bahasa teologi sosial, doa orang yang terzalimi bukan sekadar ibadah, melainkan gugatan moral terhadap sistem yang lalai akan penderitaan.
Kisah cerita ini tidak bermaksud menjadi provokasi, hanya sebagai pengingat bahwa keadilan bukan sekadar slogan dalam pidato, tetapi fondasi keberlangsungan bangsa. Karena Tanpa keadilan, kesejahteraan hanyalah ilusi statistik dan Tanpa kesejahteraan, loyalitas perlahan berubah menjadi kekecewaan kolektif.
Jika suatu kebijakan tetap keruh, maka masyarakatlah yang akan terus menanggung dampaknya.
Doa di Tengah Timbangan yang Patah” menjadi simbol bahwa harapan belum habis dan kritik masih mungkin disampaikan dengan iman, serta keberanian bertanya merupakan bagian dari ibadah berpikir.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa lama kita berpuasa. Tapu Sejarah akan bertanya:
Apakah kita membiarkan neraca itu tetap retak, Atau kita bersatu dan berani memperbaikinya?
Semoga kisah cerita ini mejadi sebuah pertimbangan dalam perbaikan, bukan untuk merusak apalagi membiarkan ketidakadilan terus berjalan dan semoga ia menjadi pengingat bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada jabatan yang lebih tinggi dari keadilan.
Di Hadapan Neraca Retak
Tanpa terasa sudah Hari Keenam menjalani ibadah puasa dan waktu begitu berat Ketika Timbangan Keadilan Tidak Lagi Seimbang.
Dari Pagi terlihat hari begitu cerah, Cahaya matahari siang membakar aspal dan Waktu terasa lebih panjang dari biasanya.
Satria Perkasa dan rekan-rekan personil lapangan lainnya memasuki shif siang. Seragam melekat di tubuh yang menahan hawa panas. Setelah melaksanakan Apel, mereka melakukan Patroli wilayah yang di anggap rawan pelanggaran perda. Mereka berpatroli tanpa kompromi pada panas dan tanpa menunda pada kewajiban.
Di dalam mobil patroli, Cak IIP mengusap keringat yang mulai memenuhi wajahnya, “Puasa harusnya mejadi ibadah dengan menahan lapar, ya. Tapi yang lebih berat itu menahan rasa diperlakukan tidak setara.”
Semua yang ikut berpatroli tidak ada yang menjawab. Mereka tahu, itu bukan sekadar keluhan, tapi sebuah kesimpulan.
Terdengar suara Azan Ashar berkumandang dari masjid Asrama TNI Kodim yang tidak begitu jauh dari Pos Pantau. Lalu Mereka menuju masjid lalu berwudhu. Satria merasakan, Air terasa lebih sejuk dari biasanya.
Setelah Berwudhu, mereka berbaris Dalam saf yang rapi dan berdiri menghadap kiblat. Dalam sujud yang sama, mereka meletakkan dahi, walaupun beban di dada masing-masing tidak pernah benar-benar sama.
Usai melaksanakan sholat ashar, mereka duduk di teras masjid. Angin sore berembus pelan membawa kesejukan, lalu Bang Luky membuka percakapan, “Berat, tahun ini hidup terasa berat sekali ya…. Gaji tidak naik dan Tunjangan tidak berubah. Janji peningkatan tahun lalu tinggal janji dan Turunnya pun saja ditunda-tunda.”
Ia pun tertawa pahit.
“Sepertinya kita ini diciptakan untuk terus kuat dan hidup menderita.” Sela Kang Ibay, sambil menyandarkan punggungnya ke tembok masjid.
“Lucu ya, kita disebut pasukan lapangan dan garda terdepan menjaga lingkungan tetap tertib dan aman. Tapi lapangan itu seolah menjadi tempat menguji seberapa kuat kita diperas dan di tindas.” Tegas kang Ibay.
Sambil menatap lantai keramik, Satria berkata lirih, “Saya sampai sekarang belum menemukan logika berpikir dari para pemimpin kita.”
Semua personil lapangan mata tertuju padanya,
Lalu Ia melanjutkan, “Coba kita Sama-sama berpikir, bagaimana logika Pemimpin kota ini berjalan, Kita semua tahu, Untuk yang bekerja di Perusahaan industri mereka mendapatkan UMK sebesar Rp. 5.400.000., kemudian ASN PPPK paruh waktu sebesar Rp. 4.500.000. Sedangkan Kita ini?, hanya Rp. 2.500.000. Ditambah TPP RP. 300.000 dan Tukin Rp. 300.000, yang totalnya sebesar Rp. 3.100.000. Kita Paling Kecil tapi Tanggung jawab dan resiko paling besar”
Satria berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Padahal jam kerja dan waktu kerja kita tanpa jeda istirahat, dan Kegiatan lebih banyak serta Beresiko besar.”
Lalu Erdan menyela, “Lihat mereka yang ASN Paruh waktu bisa pulang semaunya. Sedangkan Kita? Apapun kegiatan dan perintah pun harus siap.”
Cak IIP mengangkat alisnya, lalu berkata pelan, “Apakah keadilan sekarang dihitung dari status, bukan dari beban kerja ya?”
Suasana kembali Sunyi…Pertanyaan itu pun menggantung seperti awan yang enggan hujan.
Bang Luky kembali berkata pelan, “Kalau keadilan hanya retorika para pimpinan pemilik kekuasaan, apakah kita sedang berpuasa di hadapan neraca yang retak itu?”
Kang Ibay pun mengangguk, lalu menjawab, “Dalam kajian filsafat, keadilan itu memberi sesuai porsi. Tapi berbeda di sini, beban dan resiko yang lebih besar, tetapi haknya lebih kecil. Itu bukan sekadar salah hitungan, tapi salah niat.”
Satria menghembuskan nafas berat sambil menatap langit sore dan berkata, “Ibadah Puasa itu melatih kita menahan diri, akan tetapi apakah pemimpin juga sedang berpuasa dari ego dan keserakahan?”
Erdan pun tersenyum getir, “Jangan-jangan yang berpuasa hanya kita, sedangkan yang lain terus berpesta di ruang rapat.”
Cak IIP kembali berbicara dengan suara lebih yang tajam, “Jika negara memiliki aturan dan memerintahkan rakyatnya taat, apakah negara juga wajib berlaku adil?”
Bang Luky sambil menatapnya, lalu berkata, “Jika kesejahteraan hanya untuk golongan tertentu, apakah itu masih bisa disebut pemerintahan yang berpihak dan menerapkan ajas keadilan menyeluruh?”
Satria menghela napas panjang, “Apakah kita ini pegawai pemerintah yang sah atau hanya angka dalam laporan serapan anggaran tahunan?”
Angin sore terus berhembus menciptakan suasana yang sejuk, Suara anak-anak bermain di sekitar area dalam masjid terdengar ramai.
Sebuab Ironi terasa begitu dekat dan begitu menyakitkan bagi para pegawai lapangan yang terus bekerja tanpa mengenal hari libur.
Ibadah Puasa dan Kesadaran
Suasana masjid yang mulai ramai anak-anak semakin menghangatkan suasana diskusi pegawai lapangan sambil Istirahat dan menunggu waktu untuk melanjutkan kegiatan patroli.
Satria kembali berkata pelan namun tegas, “Puasa bukan hanya ibadah menahan lapar. Tapi Ibadah Puasa merupakan kesadaran moral. Jika pemimpin tidak punya kesadaran itu, maka jabatan hanya menjadi topeng yang tidak memiliki makna.”
Bang Luky pun mengangguk, “Ketika kesejahteraan pegawai rendahan seperti kita ditunda-tunda, yang ditunda bukan sekadar angka. Tapi nafas kehidupan dan masa depan anak-anak kita.”
Kang Ibay pun berkata lirih, “Kadang saya bertanya, apakah kita sedang diuji oleh Tuhan sebagai pemilik takdir atau sedang diabaikan oleh manusia yang bernama pemimpin?”
Erdan yang sejak tadi hanya diam lalu berkata pelan, “Jika sebuah Kebijakan tanpa empati itu meruapakan kekerasan yang dilegalkan dan Ketika kerja keras tidak dihargai, yang mati bukan hanya motivasi, tetapi makna pengabdian itu sendiri.”
Cak IIP tersenyum getir sambil berkata, “Jika ibadah Puasa itu melatih lapar, tetapi ketidakadilan menciptakan kelaparan yang lebih dalam, sedangkan neraca keadilan retak, maka jangan salahkan rakyat bila kepercayaan ikut pecah. Negeri tidak membutuhkan pejabat yang pintar berbicara, tetapi yang berani menimbang dengan hati.”
Satria dan yang lainya lalu melangkah dan memakai kembali sepatu dinas lapangannya, mereka kembali melakukan tugasnya di pos pantau serta Patroli agar wilayah kota selalu dalam keadaan tertib dan tentram.
Mereka terus menghinbau anak jalanan dan pengemis yang mulai menjamur memenuhi Lampu-lampu merah ketika bulan ramadhan dan menjelang hari raya. Entah siapa yang mengkoordir mereka, jika Beberapa orang yang membandel dan di tertibkan untuk di bina di Dinas sosial, maka ke esokan harinya akan bertambah lebih banyak lagi.
Mereka semua bekerja sambil menjalankan ibadah puasa, dengan menahan dahaga dan lapar karena perut kosong, Tetapi yang membuat dada mereka sesak adalah kosongnya rasa keadilan.
Di dalam mobil patroli, Satria berkata pelan, “Kita mungkin hanya bagian terkecil dalam struktur. Tapi jangan kecil dalam kesadaran.”
Bang Luky menatap ke depan, sambi mejawab “Jika suara kita tidak didengar hari ini oleh mereka yang memiliki kekuatan sekaligus kekuasaan, semoga sejarah akan mencatatnya besok.”
Cak IIP menutup percakapan dengan kalimat yang membuat semua personil patroli terdiam, “Puasa mengajarkan kita bahwa lapar itu sementara. Tapi Mendiamkan dan membiarkan ketidakadilan terus berlangsung… bisa menjadi dosa kolektif.”
Menjelang waktu Maghrib, Langit pun berubah jingga. Azan sebentar lagi berkumandang.
Satria memandang jam tangannya, “Waktu Berbuka nanti, mungkin hanya dengan air, gorengan dan rokok murah tanpa cukai. Tapi jangan pernah berbuka dengan jiwa yang pesimis apalagi menyerah.”
Mereka saling menatap dan tersenyum getir, Lelah karena terus bekerja, iya. Tapi Putus asa, tidak. Karena mereka semua sadar, “Ibadah Puasa di hadapan neraca retak bukan untuk melemahkan kita. Tetapi untuk menguatkan mental dan keberanian bertanya.”
Dan selama masih ada keberanian untuk bertanya, maka masih ada harapan untuk memperbaiki neraca itu. Bulan Ramadhan belum selesai, Ujiannya masih terus berlangsung Namun iman mereka harus terus tegak berdiri.
Epilog : Doa di Tengah Timbangan yang Patah
Langit Senja di hari ke enam bulan Ramadhan turun perlahan di kota madya. Empat personil masih menggunakan Seragam dinas lapangan yang sedikit kusut oleh keringat, serta wajah letih oleh panjangnya hari, tetapi sujud mereka tetap khusuk.
Melewati hari dengan patroli dan Penertiban tanpa kenal jeda, serta Laporan tetap harus diketik dan di kirim. Karena Kota tetap harus dijaga. Walaupun di dalam dada mereka, ada pertanyaan yang lebih nyaring dari suara kendaraan:
Apakah pengabdian yang tidak pernah mengenal libur akan selalu harus dibayar dengan ketimpangan dan ketidakadilan?
Timbangan kebijakan itu masih tergantung dalam bayangan. Satu sisi ringan dengan angka-angka kecil yang tidak pernah mencukupi kebutuhan keluarga, sisi lain berat dengan nominal yang terasa timpang. Retaknya bukan hanya pada besi, tetapi pada rasa keadilan.
Ibadah Puasa yang senantiasa mengajarkan lapar sebagai latihan empati. Tetapi ketika ketimpangan dan ketidakadilan menjadi sistemik dan perut yang lapar berubah menjadi simbol bahwa ada kebijakan yang belum selesai ditimbang dengan nurani.
Setelah sholat magrib berjamaah, salah satu dari mereka berbisik pelan, “Yang kami minta bukan keistimewaan, Hanya sebuah keadilan yang proporsional.”
Negara ini tidak berdiri hanya di atas regulasi. Tapi berdiri di atas kepercayaan. Ketika kebijakan tidak selaras dengan rasa keadilan, maka yang retak bukan hanya neraca, melainkan legitimasi moral.
Para pemangku kebijakan dan pembuat keputusan perlu memahami satu hal mendasar dalam teori tata kelola publik, kesejahteraan aparatur bukan sekadar belanja rutin, melainkan investasi stabilitas. Karena Ketimpangan yang dibiarkan bukan sekadar selisih angka, melainkan akumulasi kekecewaan, dan kekecewaan kolektif, bila terus diabaikan, tidak meledak dengan teriakan. Ia membeku dalam diam. Diam yang perlahan mengikis loyalitas dan yang menggerus semangat pelayanan.
Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum muhasabah diri, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi institusi. Karena sesungguhnya, “Kebijakan yang adil tidak lahir dari kekuasaan yang kuat, tetapi dari hati yang mau mendengar semuanya dan Anggaran bisa disusun dengan kalkulator, tetapi keadilan hanya bisa ditimbang dengan nurani bersih.”
Kisah cerita ini tidak menawarkan revolusi, hanya menawarkan refleksi dan tidak mengajak melawan negara, hanya mengajak negara berdamai dengan prinsip keadilan yang menjadi fondasinya sendiri.
Sejarah selalu mencatat dua hal, Siapa yang bekerja dalam diam, dan siapa yang memilih untuk tidak mendengar.
Empat personil itu akhirnya berdiri, dengan Air putih membasahi tenggorokan yang seharian kering, serta Doa mereka sederhana, “Ya Tuhan, jika neraca itu belum seimbang di dunia, jangan biarkan hati kami ikut retak Dan tanpa keadilan di hadapanMU.”
Dan mungkin, doa itu bukan hanya milik mereka, tapi doa bagi siapa pun yang masih percaya bahwa keadilan bukan sekadar wacana, melainkan tanggung jawab.
Bulam Ramadhan akan berlalu dan kegiatan Patroli terus berjalan, serta Laporan akan tetap diketik dan di kirim,Tetapi pertanyaan ini akan selalu tertahan di dada masing-masing yang mengalami dampak ketidakadilan, Apakah kita akan membiarkan neraca ketidakadilan itu terus retak, Atau bersatu dan berani memperbaikinya sebelum kepercayaan benar-benar patah?
========BERSAMBUNG======
BACA JUGA :
KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094
KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//
KISAH KE – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : https://sidikpost.com/?p=129119
ARDHI MORSSE, SENIN 23 FEBRUARI 2026







