La Tahzan….Wahai Jiwa…
Di kota Industri yang tidak pernah bertanya,
Berapa Banyak luka yang kau sembunyikan,
Seorang Petugas lelaki berdiri,
Dengan seragam Dinas lapangan sederhana,
Dan isi dada yang terus bergemuruh…
Gaji yang jauh dari cukup,
Menjawab harga dirinya…
Banyak Tunggakan mengetuk pintu,
Serta Kata-kata tajam menikam sunyi.
Namun di sepertiga malam,
Ketika dunia berhenti menghakimi,
Keningnya jatuh ke bumi,
Air matanya mengetuk pintu langit.
“Ya Tuhan … aku hampir runtuh,”
Bisiknya lirih….
Dan dari gelap yang paling dalam,
Hadir seberkas cahaya paling pelan;
La tahzan…
Aku tidak pernah meninggalkanmu sendirian…
PROLOG
Mungkin Hampir semua laki-laki tidak pernah menangis di depan dunia, Termasuk Ia yang sedang berjuang untuk keluarganya.
Ia melaksanakan tugas dan berdiri tegak di siang hari, mengenakan seragam dinas lapangan, menerima perintah, menahan terik matahari dan kritik masyarakat.
Ketika di malam hari…Ia runtuh dalam sujudnya. ‘Bhumi’ Panggilannya, Seorang ASN lapangan golongan rendah Dengan Gajinya kecil jauh dari cukup apalagi membuat sejahtera tidak sebanding dengan Tanggung jawabnya yang besar serta luka batinnya yang tidak terlihat.
Di kantor, ia dan rakan lapangan lainnya, hanya sebatas angka dalam daftar kehadiran dan Di rumah, ia sering terasa hanya seperti angka dalam daftar kekurangan.
Kontrakan sederhana menjadi saksi mulai dari tunggakan listrik menunggu dibayar, hutang yang menekan dari arah yang tak terlihat, Orang tua di kampung sedang terbaring sakit, Anak yang terus tumbuh dan menunggu masa depan serta Istri selalu menunggu perubahan. Di antara semua itu, Bhumi menunggu dirinya sendiri yang hampir hilang.
Sigmund Freud pernah berkata, “Unexpressed emotions will never die. They are buried alive and will come forth later in uglier ways.”
(Emosi yang tidak pernah diungkapkan tidak akan mati. Ia akan terkubur hidup-hidup dan suatu hari muncul dalam bentuk yang lebih menyakitkan.)
Berapa banyak laki-laki seperti Bhumi yang selalu mengubur lelahnya?
Berapa banyak suami yang menahan tangis karena merasa itu bukan lagi haknya?
Seorang Carl Jung pernah menulis, “The most terrifying thing is to accept oneself completely.”
(Hal yang paling menakutkan adalah menerima diri sendiri sepenuhnya.)
Bagaimana jika yang paling ditakuti seorang suami bukan Kondisi kemiskinan…Tapi kenyataan bahwa Ia merasa tidak lagi di hargai apalagi dihormati di rumahnya sendiri?
Alfred Adler, seorang tokoh psikologi individual, mengatakan, “Manusia terdorong bukan hanya oleh kebutuhan materi, tetapi oleh kebutuhan untuk merasa berarti.”
Bukankah itu inti luka Bhumi, Bukan sekadar gaji Kecil yang tidak mencukupi, Tapi rasa bahwa dirinya tidak lagi cukup sebagai imam atau kepala keluarga.
Dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Jika niat Bhumi adalah menjaga keluarganya tetap utuh dan terus berjuang untuk mencukupi, Apakah kegagalannya di mata manusia berarti kegagalan di sisi Allah?
Allah berfirman, “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Dan pertanyaan yang lebih dalam, Apakah Bhumi masih mampu melihat kemudahan itu di tengah tekanan yang bertubi-tubi?
Walaupun Seorang Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Kesabaran adalah kuda yang tidak pernah lelah.” Tapi bagaimana jika penunggangnya hampir jatuh?
Prolog ini bukan hanya tentang kemiskinan, Bukan pula hanya tentang rumah tangga yang mendingin, apalagi hanya tentang tekanan pekerjaan lapangan.
Ini tentang seorang laki-laki yang berada di batas antara, Bertahan atau pergi, Sabar atau hancur dan Beriman atau menyerah pada putus asa.
Dan Ini tentang jiwa yang berbisik dalam gelap, “Tuhan… aku hampir runtuh.”
Di titik itulah pertanyaan-pertanyaan mulai mengetuk, Apakah harga diri seorang suami hanya diukur dari angka di slip gaji?
Apakah cinta mampu bertahan tanpa adanya keaamanan ekonomi?
Apakah sabar berarti diam tanpa batas?
Karena Sampai kapan seorang laki-laki harus kuat sebelum boleh mengaku lelah?
Dan jika dunia tidak lagi memberinya penghargaan, apakah sujudnya cukup untuk membuatnya tetap berdiri?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis, “Hati tidak akan pernah tenang kecuali dengan mendekat kepada Allah.”
Maka di antara kontrakan sederhana Ada Tunggakan yang menunggu dan kata-kata yang melukai, Bhumi memilih satu jalan yang tidak terlihat dunia dengan “Sujud.”
Karena mungkin, Di saat manusia menutup pintu penghargaan, Langit justru sedang menunggu ketukan air matanya dan dari sanalah kisah ini dimulai.
Langit Seperti Ikut Murung
Di Rumab kontrakan sederhana tengah kota Industri, Bhumi terbaring dengan tubuh menggigil, Demamnya belum turun sejak semalam. Kepala terasa berat, tulang seperti dipukul-pukul, badan panas tinggi, tenggorokan kering karena puasa yang tetap ia jalankan meski sedang sakit.
Hari ini ia tidak masuk kerja seperti biasanya, bukan karena ingin bermalas-malasan, Tapi karena tubuhnya benar-benar meminta Istirahat.
Bhumi merupakan salah satu personel ASN lapangan golongan rendah. Gajinya tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Di antara rekan-rekannya, Satria Perkasa yang selalu berapi-api, Kang Ibay yang jenaka, Cak IIP yang bijak, Erdan yang pendiam, Bang Luky yang keras tapi setia kawan, Yoga yang cekatan, Ahmad Aris yang tenang, dan Abien yang selalu penuh harapan sedangkan Bhumi yang paling sering diam. Diam bukan karena tidak punya suara, Tapi karena terlalu banyak yang ditahan.
Beberapa hari lalu di kantor, suara Satria Perkasa menggelegar saat briefing, “Kalau target kegiatan lapangan tidak tercapai, kita yang kena, gaji kita dipotong! Pimpinan nggak mau tahu alasan!”
Bhumi diam dan hanya mengangguk, Kondisi lapangan tidak pernah ramah dan terik matahari, keluhan masyarakat, perintah atasan yang tidak kenal lelah.
Bang Luky pun menepuk pundaknya, “Lu Pasti kuat, Bhum. Tapi jangan dipendam sendirsendirinya.”
Bhumi pun tersenyum tipis. Kalimat sederhana yang hampir membuatnya menangis waktu itu, karena di rumah, tidak ada yang menepuk pundaknya seperti itu.
Ketika sore menjelang, tubuhnya makin panas dan Anak lelakinya duduk di sudut ruangan, mengerjakan PR dalam diam, sedangkan Istrinya lalu-lalang tanpa bicara apalagi sebuah tanya, “Abang udah minum obat?”
Tidak ada lagi sentuhan di dahi, yang ada hanya jarak dan beberapa malam sebelumnya, pertengkaran kembali pecah.
“Aku capek denger alasan demi alasan terus!” suara istrinya tajam.
“Gaji kecil dan segitu-gitu aja!, Mau sampai kapan hidup kayak gini?”
Bhumi pun menarik nafas dalam dan mencoba tenang, “Aku nggak lari dari tanggung jawab, Aku masih kerja, masih urus anak dan Aku terus berusaha…”
“Sudahlah, jangan Janji-janji terus, percuma nggak ada perubahan.” Jawab ketus Istrinya.
Kalimat itu seperti palu yang menghantam harga dirinya Sebagai suami sekaligus imam keluarga. Ia bukan tidak mau memiliki penghasilan lebih, hanya kondisinya belum mampu.
Langit kadang murung bukan karena ia lemah, tetapi karena terlalu lama menahan hujan. Begitu pula seorang suami yang diam, bukan karena tidak peduli tentang kekurangan kebutuhan hidup, melainkan karena ia sedang menahan badai sendirian.
Angka yang Mencekik
Di sudut meja kecil sebelah kamar tidur, ada secarik kertas mulai dari Tunggakan listrik, Cicilan hutang, Biaya sekolah anak, Les tambahan dan Obat orang tua di kampung.
Sedangkan nominal Gajinya sangat jauh dari angka yang sudah menunggu di secarik kertas itu dan angka-angka itu seperti mengejeknya.
Bhumi pun menunduk, “Ya Allah… aku ini kurang apa lagi?” bisiknya lirih.
Ia tidak pernah mabuk, judi apalagi meninggalkan nafkah keluarga dengan sengaja. Bahkan pekerjaan rumah pun ia kerjakan, Tapi di mata istrinya, apapun yang dia usahakan tetap tidak cukup dan rasa tidak dihargai itu lebih menyakitkan dari demam yang menggerogoti tubuhnya.
Meski dalam keadaan sedang sakit, ia tetap berpuasa. Bukan karena merasa paling kuat, tapi karena ia butuh pegangan.
Menjelang waktu magrib, tubuhnya gemetar. Ia duduk di sajadah tipis dan Air mata jatuh tanpa suara. Lalu dari kedalaman dada yang hampir runtuh, ia pun berzikir, “La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minaz-zalimin…” Secara Berulang-ulang.
Seperti Nabi Yunus dalam Perut ikan dan kondisi gelap dan Bhumi merasa hidupnya juga berada dalam tiga gelap, Gelap ekonomi, Gelap rumah tangga dan Gelap harga diri yang perlahan terkikis.
“Tuhan… aku hampir runtuh…” bisiknya.
Bukan ingin lari, Bukan pula ingin meninggalkan anaknya. Tapi ia lelah berjuang sendirian.
Tiba-tiba Ponselnya bergetar, sebuah Pesan masuk dari Satria Perkasa.
“Bhum, kabar kondisi badan lu gimana sekarang? Lu nggak masuk, Jangan tumbang sendirian. Kita ini bukan cuma rekan kerja, tapi saudara.”
Bhumi membaca pesan itu cukup lama. Di kantor, mungkin ia hanya ASN golongan rendah. Tapi di antara rekan-rekannya, ia masih dianggap berarti.
Kang Ibay pernah berkata saat patroli bersama, “Yang bikin kita bertahan bukan gaji, Bhum. Tapi rasa bahwa kita masih punya harga diri.”
Kalimat itu terngiang kembali, Apakah harga dirinya benar-benar hilang, Atau hanya tertutup luka?
Beberapa kali terlintas dalam pikirannya, “Kalau aku pergi… mungkin mereka lebih bahagia.”
Tapi wajah anaknya menghentikan pikiran itu. Seorang ayah boleh miskin. Tapi jangan sampai anak kehilangan bayangannya. Ia sadar, yang ingin ia tinggalkan bukan keluarga. Tetapi, yang ingin ia tinggalkan adalah rasa gagal, Rasa tidak dihargai dan Rasa lelah.
Sujud yang Panjang
Malam itu sudah masuk malam ke 18 bulan puasa, setelah berbuka sederhana, Bhumi berdiri melaksanakan Ibadah meski tubuhnya lemah.
Di akhir Sholat tarawih malam itu, Tangannya terangkat, “Ya Allah… aku tidak minta kaya, Cukupkanlah agar keluargaku hidup layak, Lembutkanlah hati istriku dan Kuatkan aku, serta Jangan Engkau biarkan aku runtuh.”
Air matanya membasahi sajadah. Ia tidak tahu bagaimana caranya mencukupi kebutuhan keluarganya serta melunasi hutang-hutangnya serta membantu pembiayaan pengobatan orang tuanya.
Ia tidak tahu kapan hutangnya lunas dan kapan istrinya kembali hangat. Tapi yang ia tahu satu hal, “Allah tidak pernah salah menghitung perjuangan hamba-Nya.”
Subuh mulai menyingsing, demamnya belum sepenuhnya turun dan Masalahnya pun belum selesai. Rekening Listrik masih menunggu belum dibayar. Hutang masih belum berkurang dan Istrinya masih dingin.
Tapi di dalam dada Bhumi, ada sesuatu yang sedikit berbeda. Bukan sebuah solusi instan apalagi keajaiban mendadak. Tapi ketenangan kecil, Seperti bisikan lembut, “La tahzan… jangan bersedih.”
Karena barangkali yang sedang Allah persiapkan bukan hanya rezekinya. Tapi keteguhan jiwanya.
Bhumi menatap anaknya yang masih tidur terlelap. Ia tersenyum tipis.
“Ayah akan terus berjuang dan belum menyerah,” bisiknya pelan.
Dan meski dunia belum berubah, meski angka-angka tunggakan masih mencekik dan meski kata-kata istrinya masih menusuk, Bhumi memilih satu hal, “Bertahan hari ini dan Melangkah pelan besok.”
Ia menyerahkan sisanya pada Tuhan. Sebab kadang, pertolongan tidak datang dengan suara gemuruh. Ia datang secara perlahan…melalui hati yang tidak jadi runtuh.
Langit sore itu berwarna pucat, seperti kelelahan menahan terlalu banyak doa yang belum terjawab.
Di pos pantau yang sederhana, Bhumi akhirnya kembali masuk kerja setelah beberapa hari ijin karena demam. Tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat, tetapi hidup tidak pernah memberi ruang terlalu lama untuk beristirahat.
Satria Perkasa baru turun dari mobil patroli, Kang Ibay mengeluh tentang panasnya cuaca. Cak IIP duduk sambil merapikan laporan hasil patroli, namun ada satu hal yang Bhumi rasakan hari itu, Yoga terlihat berbeda.
Biasanya Yoga menjadi orang yang paling banyak bercanda. Tapi Hari itu wajahnya terlihat pucat, matanya sembab seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur.
Bhumi mendekat pelan, “Ga tidur lagi semalam?” tanya Bhumi lirih.
Yoga tersenyum hambar, “Udah biasa kalau sekarang, bang.”
Malam-Malam Tanpa Tidur
Yoga tidak tinggal di kontrakan seperti Bhumi. Ia tinggal di rumah mertuanya di sebuah komplek perumahan. Setelah ayah mertuanya meninggal, rumah itu dihuni oleh, Ibunya mertua, Istrinya, Dua anaknya dan dirinya sendiri
Secara fisik rumah itu cukup besar dan luas, Tapi secara batin… Yoga sering merasa tidak punya tempat untuk bernafas. Karena hampir setiap minggu, orang-orang datang silih berganti mengetuk pintu rumah itu. Bukan saudara apalagi tetangga. Tapi debt collector pinjaman online.
Suatu siang beberapa hari lalu, dua pria tinggi dan besar berdiri di depan rumah.
“Pak Yoga ada?,” Suara mereka cukup keras hingga terdengar sampai dapur.
Mertua perempuannya pun keluar dengan wajah bingung, “Maaf Siapa ya?”
“Kami dari “debt collector” penagihan pinjaman.” Jawab mereka.
Kalimat itu seperti petir dan Tetangga mereka pun mulai melirik, sedangkan Anak-anaknya berhenti bermain.
Yoga pun keluar dengan wajah tertunduk, “Maaf ya Bu…” bisiknya pada mertua.
Ia tidak berani menatap wajah wanita tua itu dan Istrinya berdiri di belakang pintu dengan mata merah.
Setelah debt collector itu kembali dengan rasa kecewa, tapi dalam rumah itu pertengkaran kembali pecah.
“Kamu pinjam online lagi?!” suara istrinya bergetar.
“Aku hanya ingin menutup yang lama…” jawab Yoga pelan.
“Kamu bilang kemarin terakhir! Tapi kenapa masih ada lagi?!” jawab sang Istrinya.
Yoga pun terdiam. Karena sebenarnya ia sendiri sudah kehilangan hitungan dan Pinjaman menutup pinjaman, Bunga menumpuk bunga dan dari luar, rumah yang terlihat cukup besar itu menyimpan kegelisahan yang tidak terlihat.
Di Pos pantau sore itu, Bhumi dan Yoga duduk di bawah pohon yang sejuk. Angin sore bertiup pelan.
Yoga akhirnya bicara secara pelan, “Aku sudah ga tidur tiga malam, Bang.”
Bhumi lalu menatapnya, “Kenapa ga?”
Yoga pun tertawa pahit, sambil berkat, “Karena setiap pejam mata aku dengar ketukan pintu.” Lalu Ia menarik napas panjang.
“Aku malu sama mertua, Malu sama kakak-kakak istriku dan Setiap kali ada debt collector datang… rasanya aku bukan kepala keluarga, Aku cuma beban keluarga.”
Bhumi terdiam lama…Kalimat itu terasa sangat dekat dengan lukanya sendiri, luka yang Tidak Terlihat tapi begitu menyakitkan.
Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, pernah berkata, “What is most personal is most universal.”
(Apa yang paling pribadi dalam diri manusia sering kali justru dialami banyak orang).
Bhumi menatap tanah, ternyata bukan hanya dirinya yang hampir runtuh. Di sebelahnya duduk lelaki lain yang memikul dunia yang sama beratnya.
Lalu Bhumi berkata pelan, “Emang Sudah Berapa totalnya?”
Yoga menatap langit, “Udah bang, hampir 50 juta.”
Bhumi kaget, “Itu Pinjol semua ga?”
Yoga pun mengangguk, “Awalnya cuma lima juta buat sekolah anak… terus nutup yang lama… terus nutup lagi…”
Ia menunduk, “Sekarang aku ga tahu lagi cara keluarnya dan sampai sekarang belum ketemu solusi.”
Semua kembali diam, Sunyi turun di antara mereka.
Lalu Yoga berkata lirih, “Aku kadang sering mikir… kalau aku hilang aja dari dunia ini, mungkin semua masalah selesai.”
Bhumi langsung menoleh tajam, “Jangan ngomong gitu ga.”
Yoga tersenyum lemah, “Aku cuma capek, Bang.”
Viktor Frankl, seorang psikolog yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah menulis, “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”
(Ketika kita tidak lagi mampu mengubah keadaan, kita ditantang untuk mengubah diri kita.)
Bhumi mengingat kalimat itu dari sebuah buku yang pernah ia baca.
Ia menepuk bahu Yoga, “Kita belum kalah ga.”
Yoga menatapnya, “Lu juga lagi susah kan bang.”
Bhumi tersenyum tipis, “Makanya itu kita jangan runtuh barengan.”
_______
Malam itu Bhumi pulang dengan rasa lelah setelah seharian bekerja dan langkahnya pun pelan.
Di rumah kontrakan yang sederhana, setelah Mandi dan makan seadanya, ia kembali berdiri dalam membentangkan sejadah. Tapi kali ini doanya tidak hanya untuk dirinya.
Kemudian, Ia berbisik dalam sujud khusuknya,
“Ya Allah…
jika aku hampir runtuh,
Sahabatku Yoga lebih dekat lagi dengan jurang.
Jangan Engkau biarkan kami jatuh.”
Air mata kembali jatuh.
“Ya Rabb…
Engkau tahu kami bukan orang jahat.
Kami hanya ayah-ayah yang ingin anaknya makan, sekolah dan hidup layak.”
Ia sujud lebih lama lagi.
Keningnya menempel di sajadah tipis yang mulai basah oleh air mata dan dari dada yang sesak oleh tekanan hidup, keluarlah doa yang tidak lagi disusun oleh logika tapi oleh luka,
“Ya Allah…
Engkau yang Maha Mengetahui apa yang tidak sanggup aku ceritakan kepada siapa pun.
Aku lelah, ya Rabb…
Bukan karena kerja keras, Tapi karena merasa sendirian dalam berjuang.
Aku tidak mengeluh tentang rezeki-Mu, Tapi aku takut tidak mampu menjaga amanah-Mu.
Ya Allah…
Jika Engkau uji aku dengan sempitnya harta,
Lapangkanlah dadaku.
Jika Engkau uji aku dengan dinginnya rumah tangga, Hangatkanlah hatiku agar tidak membeku.
Jika Engkau uji aku dengan kata-kata yang melukai harga diriku, Jangan Engkau cabut rasa sabarku.”
Air matanya jatuh semakin deras….
“Ya Allah…
Aku ini hamba yang lemah.
Aku tidak minta hidup mewah.
Aku hanya ingin cukup…
Cukup untuk membayar listrik,
Cukup untuk menyekolahkan anakku,
Cukup untuk membuat istriku tersenyum tanpa cemas.
Ya Rabb…
Aku hampir runtuh.
Bukan karena dunia terlalu berat,
Tapi karena pundakku terasa sendirian memikulnya.”
Ia terdiam sejenak. Tangisnya pecah tanpa suara dan dadanya makin sesak…
“Ya Allah…
Engkau tahu aku tidak lari dari tanggung jawab….
Engkau tahu aku bekerja, aku berusaha, aku menjaga anakku….
Jika di mata manusia aku dianggap gagal,
Jangan Engkau anggap aku gagal di sisi-Mu.”
Sajadah itu kini basah seluruhnya.
“Ya Rabb…
La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minaz-zalimin.
Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim…
Zalim karena sering merasa putus asa, Zalim karena kadang meragukan takdir-Mu, Zalim karena merasa sendirian padahal Engkau selalu dekat.”
Suara hatinya makin dalam….
“Ya Allah…
Jangan biarkan anakku tumbuh melihat ayahnya hancur, Jangan biarkan aku kehilangan arah.
Jika rezekiku masih kecil, Besar-kanlah keberkahannya.
Jika jalanku masih sempit, Bukakan pintu dari arah yang tak pernah aku sangka.”
Ia menahan napas….
“Dan jika Engkau belum mengubah keadaanku sekarang,
Ubah dulu hatiku….Kuatkan dulu imanku.
Teguhkan dulu kakiku…Agar aku tidak pergi dalam keadaan kalah.”
Sujudnya makin lama.
“Ya Rabb…
Aku tidak tahu bagaimana caranya mencapai hasil yang cukup untuk kebutuhan sebulan.
Aku tidak tahu bagaimana caranya melunasi hutang-hutangku.
Aku tidak tahu bagaimana cara melembutkan hati istriku…Tapi Engkau tahu dan cukuplah Engkau yang tahu.”
Tangis itu kini menjadi tenang…
“Ya Allah…
Kalau hari ini aku masih bertahan,
Itu karena Engkau yang menahanku.
Kalau esok aku bangkit,
Itu karena Engkau yang menguatkanku.
Aku berserah.
Aku menyerah kepada-Mu,
Bukan kepada keadaan.”
Dalam sunyi itu, tak ada suara gemuruh, tak ada langit terbelah. Tapi ada satu hal yang berubah, Hati yang hampir runtuh itu…Tidak jadi jatuh sepenuhnya.
Karena kadang pintu langit diketuk bukan dengan teriakan, Tapi dengan sujud yang panjang dan air mata yang jujur di antara gelapnya malam,
Bhumi tahu satu hal, “Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang berserah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.” 🤲
Setelah sholat dan mengadu kepada Allah, Ia duduk di teras rumah kontrakan, Ia termenung karena begitu banyak pertanyaan di hatinya, Pertanyaan yang Mengguncang Dalam sunyi malam itu,
Mengapa begitu banyak lelaki yang terlihat kuat tapi runtuh dalam diam?
Mengapa tekanan masalah ekonomi mampu meretakkan keluarga?
Mengapa dunia sering menilai seorang suami hanya dari angka penghasilannya?
Apakah Allah melihat semua air mata ini?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah menulis, “Tidak ada satu tetes air mata pun yang jatuh karena Allah kecuali Dia menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”
Di luar sana, Yoga mungkin masih terjaga di rumah mertuanya… memandangi langit-langit sambil menghitung hutang yang Tidak sanggup lagi dihitung.
Dua lelaki dengan Dua rumah berbeda Tapi memiliki luka yang hampir sama.
Bulan Ramadhan masih berjalan menuju malam-malam terakhirnya. Sementara langit…Masih menunggu doa-doa yang paling jujur dari hamba-Nya.
EPILOG
Ketika Jiwa Tidak Jadi Runtuh karena tidak semua badai berhenti dalam semalam. Tidak semua doa dijawab dengan cara yang kita bayangkan.
Demam Bhumi akhirnya turun, tapi Tunggakan listrik belum langsung lunas, Hutang belum serta-merta hilang dan Sikap istrinya pun belum sepenuhnya berubah hangat. Tapi ada satu hal yang berubah pelan-pelan, Cara Bhumi berdiri.
Ia tidak lagi berdiri sebagai lelaki yang menuntut dunia memahami lelahnya. Ia berdiri sebagai hamba yang tahu, Bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh nilai slip gaji, Melainkan oleh keteguhan hati ketika diuji. Ia mulai melangkah kecil, Mencari tambahan rezeki walau sederhana dan Menyusun ulang keuangan walau sempit.
Berbicara dengan istrinya bukan lagi dengan nada membela diri, Tetapi dengan hati yang lebih tenang. Ia belajar satu hal penting, Bahwa terkadang Allah tidak langsung mengubah keadaan, Karena yang lebih dulu harus diubah adalah cara kita memandang keadaan itu.
Bhumi semakin menyadari, Ia tidak pernah benar-benar sendirian, hanya terlalu lama memikul semuanya sendiri.
Ada satu malam, dalam sujud yang tidak lagi penuh tangis, Bhumi berbisik, “Ya Allah… terima kasih karena Engkau tidak membiarkanku runtuh.”
Ia sadar yang hampir hancur waktu itu bukan rumah tangganya, pekerjaannya, ekonominya. Tapi harapannya. Ketika harapan kembali menyala, Meski kecil, Itu cukup untuk menyalakan semangat melangkah esok hari.
Imam Syafi’i pernah berkata, “Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah, karena tiada yang berputus asa kecuali orang yang sesat.”
Bhumi memilih untuk tidak menjadi orang yang putus asa. Ia mungkin bukan suami sempurna, bukan ayah bergaji besar, bukan pula ASN dengan jabatan tinggi. Tapi ia adalah lelaki yang tetap sujud ketika hidup menekannya dan itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang tidak terlihat. Mungkin suatu hari, Anaknya akan tumbuh dan berkata, “Ayah tidak pernah kaya, Tapi ayah tidak pernah menyerah.”
Mungkin suatu hari, istrinya akan menyadari, Yang ia butuhkan bukan sekadar angka slip gaji yang besar, Melainkan lelaki yang tidak pergi saat keadaan sulit. Karena sesungguhnya, Keluarga tidak selalu diselamatkan oleh harta yang banyak, Tapi oleh hati yang tetap bertahan.
La tahzan, wahai jiwa…Jika hari ini masih terasa berat, Ingatlah bahwa kamu pernah hampir runtuh dan tetap memilih untuk sujud dan siapa yang masih mampu sujud, Ia belum kalah, karena kadang kemenangan terbesar bukan ketika masalah hilang, Tetapi ketika hati tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤲
===== BERSAMBUNG =====
BACA JUGA :
KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094
KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//
KISAH KE – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : https://sidikpost.com/?p=129119
KISAH KE – 4 : Puasa Di Antara Neraca Retak (Doa di Tengah Timbangan yang Patah) https://sidikpost.com/?p=129149
KISAH KE – 5 : Mengadu Pada Langit (Sujud Yang Menggugat Kebijakan) https://sidikpost.com/?p=129224
ARDHI MORSSE, SABTU 7 MARET 2026







