Tanggap Bencana, Polres Kukar Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Loa Ipuh dan Maluhu

SIDIKPOST | Kukar — Kepedulian terhadap masyarakat yang dilanda bencana terus diwujudkan oleh jajaran Polres Kutai Kartanegara. Melalui aksi kemanusiaan, Polres Kukar menyalurkan bantuan paket sembako kepada warga terdampak banjir di dua kelurahan, yaitu Loa Ipuh dan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, pada Jumat sore (30/5/2025).

Penyaluran bantuan tersebut dipimpin langsung oleh AKP Joko Sutomo selaku Kasubbag Dalops dan AKP M. Imron selaku Kasubbag Kerma, yang turut didampingi sembilan personel Polres. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 80 paket sembako diserahkan secara langsung kepada warga yang rumahnya terdampak banjir, dengan koordinasi ketat bersama para ketua RT setempat.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kapolres Kutai Kartanegara, AKBP Dody Surya Putra, yang menekankan pentingnya kehadiran Polri secara langsung dalam kondisi darurat sebagai bentuk respons cepat dan empati sosial.

“Kami tidak hanya hadir saat masyarakat membutuhkan perlindungan hukum, tapi juga saat mereka mengalami musibah. Bantuan ini adalah bentuk solidaritas Polri agar masyarakat tidak merasa sendiri,” tutur AKP Joko Sutomo.

Bantuan diserahkan dari rumah ke rumah, menciptakan suasana haru dan kehangatan. Banyak warga yang menyampaikan rasa terima kasih, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata karena merasa diperhatikan secara langsung oleh aparat kepolisian.

Lebih dari sekadar bantuan logistik, aksi ini menjadi simbol bahwa Polri hadir sebagai bagian dari masyarakat, yang bergerak bersama saat masa sulit, memperkuat semangat gotong royong dan solidaritas sosial.

“Kami berharap kehadiran Polres Kukar bisa menjadi penyemangat bagi warga, serta menumbuhkan rasa saling peduli antar sesama,” tambah AKP M. Imron.

Aksi kemanusiaan ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa membangun kepercayaan publik bisa dimulai dari langkah sederhana: hadir, peduli, dan ikut merasakan beban yang dirasakan warga. (.)

Bhabinkamtibmas Pendingin Takziah, Sampaikan Duka dan Pesan Keamanan

SIDIKPOST| Kukar — Kepedulian terhadap sesama terus ditunjukkan oleh jajaran Polri, salah satunya melalui kehadiran Aiptu Budi Santoso, Bhabinkamtibmas Kelurahan Pendingin, yang melayat ke rumah duka warga di Jalan Jaya Makmur, Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat (30/5/2025).

Dalam suasana haru, Aiptu Budi hadir untuk memberikan dukungan moral dan ucapan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Ia disambut hangat oleh keluarga dan warga sekitar yang turut berduka atas kepergian salah satu anggota masyarakat.

Tak hanya menyampaikan simpati, Bhabinkamtibmas juga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan pesan-pesan kamtibmas, mengajak masyarakat tetap menjaga keamanan lingkungan, serta mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi tindak kriminalitas.

“Kami hadir bukan hanya ketika terjadi pelanggaran hukum, tetapi juga di tengah masyarakat saat mereka mengalami duka. Ini adalah bentuk kehadiran Polri yang lebih humanis dan peduli,” ujar Aiptu Budi.

Kehadiran polisi dalam kegiatan sosial seperti ini diharapkan bisa memperkuat ikatan emosional dan kepercayaan antara Polri dan warga, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib.

Sementara itu, Kapolsek Sangasanga AKP M. Zulhijah menyampaikan bahwa kegiatan sambang duka adalah salah satu pendekatan yang efektif dalam memperkuat komunikasi dengan masyarakat.

“Kehadiran Bhabinkamtibmas dalam berbagai situasi kehidupan warga adalah cerminan dari Polri yang hadir secara nyata, bukan hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam membangun kepekaan sosial,” tegasnya.

Langkah ini mendapat apresiasi dari warga yang merasakan langsung kehangatan dan perhatian dari kepolisian. Dengan pendekatan seperti ini, Polri semakin dipercaya sebagai mitra masyarakat yang tidak hanya menjaga hukum, tetapi juga mengayomi dengan hati. (.)

Patroli Dini Hari, Polsek Kota Bangun Jaga Keamanan di Titik Rawan Kriminalitas

SIDIKPOST | Kukar — Dalam upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, jajaran Polsek Kota Bangun menggelar patroli rutin pada Jumat dini hari (30/5), mulai pukul 00.30 hingga 03.30 WITA. Patroli menyasar sejumlah titik rawan kriminalitas di wilayah Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Fokus pengamanan dilakukan di sejumlah jalur vital seperti Jalan Sri Bangun, Jalan Kenanga, dan Jalan Mulawarman II. Lokasi tersebut dikenal sebagai kawasan yang masih memiliki aktivitas warga di malam hari, namun minim penerangan dan rawan terhadap aksi kejahatan.

Patroli dilakukan secara mobiling dan dialogis, di mana personel Polsek tidak hanya berkeliling mengawasi situasi, tetapi juga menyempatkan berdialog dengan warga yang dijumpai. Dalam interaksi tersebut, petugas memberikan imbauan kamtibmas dan mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, terutama terhadap individu tak dikenal yang menunjukkan gelagat mencurigakan.

Kapolsek Kota Bangun, AKP Ribut, menuturkan bahwa kegiatan patroli dini hari ini merupakan bagian dari langkah preventif untuk mencegah potensi gangguan keamanan seperti pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pencurian dengan pemberatan (curat), maupun tindak kriminalitas lainnya yang kerap terjadi pada jam rawan.

“Kami ingin memberikan rasa aman bagi masyarakat. Patroli ini menjadi bentuk kehadiran Polri di saat-saat yang paling dibutuhkan, terutama untuk mencegah terjadinya aksi kejahatan sebelum terjadi,” jelasnya.

Selama pelaksanaan patroli, situasi di lapangan terpantau aman dan terkendali. Warga memberikan apresiasi atas kesigapan dan komitmen aparat kepolisian dalam menjaga kenyamanan lingkungan, terutama di waktu-waktu rawan.

Dengan pelaksanaan patroli yang konsisten, Polsek Kota Bangun berharap kepercayaan masyarakat terhadap Polri semakin kuat, sekaligus menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif. (*)

Polsek Tabang Ulurkan Bantuan untuk Warga Desa Sidomulyo yang Terdampak Bencana Alam

SIDIKPOST| Kukar — Langkah kecil penuh makna kembali ditunjukkan oleh jajaran Polsek Tabang. Pada Jumat pagi (30/5), sejumlah personel Polsek turun langsung ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Tabang, untuk menyalurkan bantuan sosial kepada warga yang tengah dilanda kesulitan akibat bencana alam.

Sejak pukul 09.00 WITA, para anggota Polsek yang dipimpin oleh IPTU Aldino Subroto, melalui timnya, mendatangi warga dari rumah ke rumah. Bantuan yang dibawa bukan hanya berupa paket kebutuhan pokok, tetapi juga membawa harapan, empati, dan bukti bahwa di tengah kesulitan, negara hadir lewat sosok berseragam coklat.

Di tengah senyum yang mulai mengembang dari warga yang menerima bantuan, terpancar kelegaan dan rasa terima kasih. Bagi mereka, perhatian sekecil apa pun sangat berarti, terlebih saat harus menghadapi kenyataan pahit akibat bencana.

Kapolsek Tabang menegaskan bahwa kehadiran Polri bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga menjadi penopang harapan di tengah situasi sulit.

“Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tapi juga membawa pesan bahwa masyarakat tidak sendiri. Di tengah duka, ada tangan kami yang siap menggenggam, ada hati kami yang turut peduli,” ungkap IPTU Aldino dengan tulus.

Kegiatan berakhir pukul 12.00 WITA dalam suasana hangat dan haru. Bantuan ini diharapkan menjadi penyemangat bagi warga Desa Sidomulyo untuk bangkit dan kembali menata kehidupan pasca bencana.

Karena di setiap tugas kami, ada cinta dan tanggung jawab untuk menjaga kemanusiaan. (*)

Cerpen Sosial: “Tanggal Merah Tak Pernah Sampai”

SIDIKPOST | “Tanggal merah belum pernah sampai. Tapi suara kami sudah mulai terdengar dan kadang, itu cukup untuk terus bertahan.”

Jumat itu hari kedua seharusnya hari libur nasional dan Cuti bersama. Di kantor-kantor pemerintahan, para pegawai ASN Menikmati liburan keluarga, baik itu di rumah maupun di tempat-tempat Wisata.

Tapi bagi SATRIA PERKASA dan rekan-rekan Timnya, sebagai ASN lapangan bagian ketertiban umum, libur hanyalah ilusi yang tidak pernah singgah ke tangannya.

Sejak pagi, ia dan rekan-rekan lapangan sudah berjibaku di Pasar Irigasi, sebuah wilayah kecamatan yang setiap hari hingga akhir pekan menjadi lautan pedagang kaki lima, kepadatan lalulintas, motor yang menyerobot trotoar hingga kemacetan tak berujung.

Pasar itu berdiri di pinggir kali irigasi, bersebelahan dengan proyek pelebaran jalan dan pengerukan drainase yang tengah berlangsung. Alat berat lalu-lalang, menggali dan memuntahkan tanah. Di sisi lain, pedagang tetap ngotot menggelar dagangan di bahu jalan.

“Kalau saya pindah dan minggir, dagangan saya tidak laku, Pak.”

“Kalau saya tertibkan dan di gusur, siapa yang ganti rugi rugi dagangan saya?”

Suara-suara pedagang itu bukan hanya keluhan, Mereka membawa beban hidup yang berat. Tapi di sisi lain, jalanan macet total, Mobil-mobil tak bergerak, klakson membentur udara seperti dentang kemarahan. Pengguna jalan meluapkan emosi:

“Mana petugasnya ini?, Jalan kayak begini dibiarkan saja!”

Padahal Satria dan Personil lapangan sudah berdiri sejak subuh, berteriak menertibkan, mengatur arus lalu lintas semampu mereka, tanpa bantuan dari DISHUB KOTA atau POLANTAS yang seharusnya menjadi TUGAS MEREKA namun TIDAK pernah terlihat di lokasi.

Di tengah tugas yang tak kunjung reda, menjelang siang dan sangatan matahari semakin tajam,

Satria dan beberapa personil lapangan duduk sebentar di pos kecil yang di bangun di atas jembatan irigasi. Seragam mereka masih basah oleh keringat, Napas tersengal. Mereka mengecek Handphone grup dinas, khawatir ada printah pimpinan yang belum terbaca, laporan belum terkirim atau ada pesan penting dari keluarga

Di tengah rehat itulah, seseorang diam-diam memotret mereka. Gambar itu disebar di media sosial dengan kata-kata Fitnah yang menyakitkan jauh dari kebenaran, namun pengguna jalan seolah-olah bertindak benar,

“Petugas cuma duduk-duduk, main HP, minum kopi, sedangkan Jalanan macet, mereka santai!”

“Di gaji dari uang rakyat, tapi tidak berguna, kerja semuanya tanpa melihat kondisi lingkungan.”

Fitnah yang keji, Tidak ada yang melihat mereka berpanas-panasan sejak pagi. Tidak ada yang tahu bahwa mereka bahkan tidak dapat jatah makan siang dari Intansinya. Yang dilihat hanya satu detik mereka duduk, lalu dijadikan bukti kemalasan.

Namun satria tetap berdiri. Meski hatinya remuk. Ia tahu, inilah konsekuensi menjadi petugas yang bekerja di tempat yang tidak dilihat kamera sebelum ribut terjadi.

Gambar Foto Personil lapangan yang sedang duduk itu tersebar cepat seperti api menyambar ilalang kering. Caption-nya tajam:

“Petugas hanya duduk santai saat jalanan macet parah. Beginikah kerja Pemerintah di lapangan?!”

Komentar membanjir, penuh caci maki. Tak ada yang peduli kalau mereka itu sudah berdiri sejak subuh. Tak ada yang tahu betapa mereka sudah bersitegang dengan pedagang, dimaki saat menertibkan, bahkan harus berdiri tepat di bawah terik matahari sambil mengatur lalu lintas.

Padahal yang lebih berwenang langsung menangani lalu lintas dan pengaturan parkir sembarangan di pinggir jalan merupakan TUGAS DISHUB KOTA dan POLANTAS, sedangkan mereka tidak pernah terlihat sekalipun batang hidungnya.

Jalanan macet parah karena irigasi dipersempit alat berat dan pedagang tetap memaksakan lapak di bahu jalan. Tapi yang difoto dan disalahkan, tetap Petugas lapangan berseragam khaki tua kehijau-hijauan itu.

===========

Bapak ANDI ABDULRROHMAN, Kepala Seksi Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat, Melihat Foto Personilnya yang Viral di media sosial langsung bereaksi. Ia segera mengumpulkan dokumen lapangan: daftar kehadiran, laporan pengamanan pagi, dokumentasi pembersihan pasar, serta notulensi interaksi dengan pedagang. Semua dibawanya ke meja Kepala Bidang dan Kepala Dinas Satuan.

Di hadapan Forum tertutup Rapat para pimpinan, ia bicara lantang:

“Saya keberatan jika Personil lapangan disalahkan sepihak! Mereka bekerja sejak sebelum matahari terbit. Apa para penuduh itu tahu, berapa lapis peluh yang jatuh di kaus dalam seragam mereka?”

“Kalau hari itu Dishub dan Polantas tak ada, bukan tanggung jawab mereka. Tapi demi kelancaran wilayah, personil lapangan kita tetap pasang badan. Mereka ditugaskan menertibkan, bukan mengatur arus kendaraan atau parkir.”

“Dan jangan kalian nilai kerja mereka dari satu foto saat istirahat! Apakah kalian pikir, mereka robot yang tak butuh jeda?”

Seluruh yang hadir di Rapat tertutup dari berberapa kepala seksi, kepala bidang juga dihadiri kepala dinas Satuan terdiam. Kepala Dinas Satuan hanya mengangguk pelan. Beberapa kepala bidang menunduk. Tak ada yang bisa membantah integritas Pak Andi serta keberanian Petugas ASN lapangan yang ia lindungi.

===============

Keesokan harinya, Satria dipanggil ke ruang Pak Andi. Bukan untuk dihakimi, tapi untuk didengar,

“Jangan patah, Satria, Ini bukan pertama kalinya kita diserang karena kita bekerja.”

“Tapi Pak… kok rasanya kami selalu salah…”

“Karena kita yang kelihatan, yang diam di ruangan tidak akan pernah viral.”

Pak Andi memahami kondisi psikologi Personil lapangan, lalu menepuk bahunya,

“Tapi percayalah, Di antara seribu yang mencaci, akan ada satu dua orang yang melihat perjuangan kalian di lapangan dan itu cukup.”

===============

Setelah berita viral tentang petugas yang duduk santai, kembali muncul fitnah baru yang lebih licik, lebih berbahaya. Beberapa oknum ormas lokal dan ketua wilayah pasar irigasi mulai menyebarkan kabar:

“Petugas ketertiban lapangan melakukan pungli dari pedagang, Mereka minta setoran harian dengan dalih jaga keamanan.”

Berita itu dikirim lewat pesan WhatsApp, lalu dibumbui di grup-grup warga, bahkan dikirimkan ke Kepala Dinas Satuan. Tiba-tiba, Satria dan Personil lapangan lainnya dianggap pemeras berseragam.

Namun melihat fitnah keji tersebut, satria tidak tinggal diam,

Satria datang ke kantor dengan map tebal. Ia membawa Dokumentasi pengamanan harian dengan waktu dan lokasi yang berisi;

Rekaman percakapan dari pedagang yang mengeluh soal pungli justru dari oknum ormas dan ketua wilayah, bukan dari Petugas lapangan,

Video pendek berisi pernyataan pedagang ketika salah satu anggota ormas meminta Iuaran harian kepada pedagang-pedagang yang berada di pinggir jalan irigasi dengan dalih “Untuk keamanan lapak.”

Ia serahkan semua data itu kepada Pak Andi, kepala seksi-nya,

“Saya tahu ini bisa berisiko, Pak. Tapi kalau saya diam, nama kami dan Intansi habis.”

Pak Andi langsung bertindak. Ia hadir dalam rapat evaluasi internal dinas dan meminta agenda khusus,

“Saya ingin menyampaikan keberatan atas fitnah kepada anggota lapangan saya.”

Ia keluarkan satu per satu bukti yang dibawa Satria,

“Yang dituduh memeras, Yang difitnah pungli, justru menyelamatkan marwah institusi ini.”

“Fitnah ini bukan hanya menghancurkan nama baik pribadi tapi juga nama baik kita sebagai ASN. Jika pimpinan diam, besok seluruh lapangan akan lumpuh karena rasa takut.”

Sunyi. Tidak ada yang membalas. Bukti terlalu kuat. Data terlalu rapi dan keberanian Satria bersama Personil lapangan terlalu nyata untuk diabaikan.

Beberapa waktu kemudian, ormas yang terlibat mulai diselidiki. Ketua wilayah yang menyebar fitnah diminta klarifikasi resmi. Rapat evaluasi berikutnya ditutup dengan kalimat dari Kepala Dinas Satuan:

“Kami berutang integritas kepada ASN lapangan seperti Satria dan Personil lapangan lainnya. Jangan sampai kita membiarkan mereka jadi tumbal politik lokal.”

Siang itu, di pos penjagaan Pasar Irigasi, Satria duduk menghadap jalan yang mulai lengang. Ia tak mencari pujian. Tapi hari itu ia tahu—kejujuran mungkin sering kalah di awal, tapi tidak pernah sepenuhnya kalah.

Di ponselnya masuk pesan dari Pak Andi Kepala Seksinya:

“Tetaplah jujur , berani menyampaikan kebenaran dan Jaga Integritas sebagai petugas lapangan Satria. Dunia mungkin tidak selalu adil. Tapi sejarah akan mencatat siapa yang pernah berdiri.”

=====================

Setelah fitnah dari luar mulai mereda, badai justru datang dari dalam lingkup internal sendiri. Di balik tembok kantor berpendingin, bisik-bisik mulai terdengar.

“Itu Satria dan Personil lapangan kebanyakan ribut, Baru kerja dikit, sudah teriak minta keadilan.”

“Libur Tanggal merah dan Cuti bersama saja ngeluh. Kalau gak tahan, ya pindah aja.”

“Kita juga kerja, kok mereka merasa paling menderita?”

Suasana kantor hari itu memanas diam-diam.

Beberapa staf bahkan secara terang-terangan memandang sinis saat Personil lapangan menyapa mengantar dokumentasi. Tidak ada ucapan terima kasih, apalagi dukungan.

Padahal dokumentasi lapangan yang dikumpulkan Satria dan timnya setiap hari merupakan bahan utama laporan kinerja dinas, yang digunakan untuk:

-Menyusun laporan bulanan seluruh Personil dalam bidang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

-Menjadi lampiran wajib tunjangan kinerja pegawai.

-Digunakan sebagai bukti fisik realisasi kegiatan dinas.

Tanpa Personil lapangan, tidak akan ada laporan foto, tidak ada rekap kegiatan, tidak ada justifikasi tunjangan.

Pak Andi sebagai kepala seksi, menyadari tensi semakin tinggi, memanggil rapat internal. Ia berdiri di depan staf kantor dan Personil lapangan.

Suaranya dalam dan tajam, tanpa meninggikan nada:

“Saya mendengar, ada yang tidak senang karena personil lapangan menuntut keadilan soal libur. Ada yang bilang mereka terlalu banyak bicara. Bahkan ada yang mulai memusuhi.”

Ia diam sejenak, lalu menatap satu per satu para staf yang termasuk dalam bidang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat,

“Saya justru heran. Bukannya kalian berterima kasih kepada mereka Personil lapangan?”

“Setiap kali kalian menikmati libur panjang, siapa yang kalian andalkan untuk mengambil dokumentasi kegiatan? Siapa yang foto lapangan untuk laporan bulanan? Siapa yang membuat kalian tetap punya dasar laporan kinerja sehari-hari hingga dapat tunjangan tambahan di akhir bulan?”

“Kalian enak tidur di rumah atau jalan-jalan wisata keluarga disaat tanggal merah. Mereka personil di lapangan, kejar-kejaran dengan pedagang, di hujat dan di maki-maki dari pengguna jalan. Tapi saat ini, malah kalian yang menggonggong. Saya bilang terus terang: Mereka bukan musuh kalian, Mereka penopang kerja kalian.”

“Yang harusnya kalian itu berterimakasih kepada mereka, bukan dendam dan caci maki bahkan bikin Opini yang menyudutkan. Jangan jadi seperti Ular yang selamtkan dari bahaya, setelah selematkan kalian malah mengigit dengan bisa.”

Ruangan rapat hening. Tak ada yang membalas. Karena tak ada yang bisa menyangkal kebenaran itu.

Usai rapat, suasana perlahan berubah. Tidak semua langsung luluh, tapi ada yang mulai sadar. Mulai menyapa Personil lapangan dengan hormat atau sekadar tidak lagi sinis saat Personil lapangan masuk membawa laporan.

Dan bagi Satria serta Personil lapangan lainnya, yang terpenting bukanlah ucapan maaf, tapi pengakuan bahwa apa yang mereka kerjakan meski kotor, panas, caci maki, fitnah hingga penuh resiko yang terus mengancam merupakan bagian penting dari roda pelayanan negara.

“Kami bukan mencari pujian. Kami hanya ingin diperlakukan adil. Karena kami juga manusia. Kami juga ASN. Kami juga bagian dari dinas ini.”

Beberapa hari setelah rapat tegas dari Kepala Seksi, suasana sedikit mereda. *Tapi di balik meja kantor yang dingin, masih ada yang menganggap petugas lapangan seperti Satria merupakan pegawai kelas dua. Mereka lupa: tugas lapangan tidak hanya butuh tenaga, tapi bertaruh nyawa.

Pada minggu berikutnya, Satria dan Personil lapangan kembali bertugas di pasar dekat irigasi. Hari itu lebih parah. Jalan makin sempit karena alat berat parkir sembarangan, pedagang tumpah ke badan jalan dan satu mobil hampir terguling karena menghindari pejalan kaki.

Dishub pernah tidak datang. Polantas entah ke mana dan seperti biasa, Satria dan rekan-rekannya yang harus menanggung amarah pengendara, makian pedagang dan tatapan curiga warga. Tapi mereka tetap berdiri. Tetap bekerja.

Saat malam menjelang, mengecek laporan lapangan yang dikirim ke grup dinas, salah satu staf membalas:

“Terima kasih untuk dokumentasinya. Ini bisa kami pakai untuk laporan harian di aplikasi untuk bulan ini.”

Itu sederhana. Tapi buat Satria dan Personil lapangan merupakan embun di tengah gurun. Akhirnya, ada juga yang sadar.

Pada rapat koordinasi bulanan dinas yang dihadiri kepala bidang, perwakilan staf dan tim lapangan, Pak ANDI ABDULRROHMAN meminta waktu bicara lima menit. Tapi yang ia sampaikan membekas seumur hidup,

“Saya ingin menyampaikan satu hal: kita sering membedakan pegawai berdasar posisi, bukan kontribusi.”

“Personil lapangan, seperti Satria dan Timnya, sering difitnah, di caci maki, di tekan, di ancam bahkan sering dilupakan. Tapi tanpa mereka, kita semua tak akan punya bahan laporan harian dan bulanan. Tanpa mereka, kita tak bisa tunjukkan hasil kerja ke publik. Tanpa mereka, sistem tak akan hidup.”

“Sudah saatnya kita berhenti memandang remeh mereka yang bekerja dengan kaki dan wajah berdebu, Karena mereka yang kalian pandang rendah itulah, yang membuat institusi ini tetap berjalan.”

Seluruh isi ruangan diam. Beberapa kepala bidang mulai mengangguk dan yang lainnya, menunduk.

==============

Penutup: Tanggal Merah Masih Belum Sampai

Hari itu, Satria pulang agak larut. Ia masih belum tahu apakah keadilan bisa benar-benar datang. Tapi setidaknya, ia tahu: kebenaran sudah mulai bicara.

Di meja kayunya, ia menulis di buku catatan kecilnya:

“Tanggal merah belum pernah sampai. Tapi suara kami sudah mulai terdengar Dan kadang, itu cukup untuk terus bertahan.”

SERTA PUISI :

“Secangkir Hitam, Seteguk Perlawanan”

Di pinggir jalan berdebu dan gaduh, Kami duduk tanpa sorotan lampu gedung, Segelas kopi hitam mengepul di tangan, Lebih jujur dari laporan untuk mendapatkan tunjangan —lebih hangat dari jabatan.

Kopi ini pahit, tapi tidak memaksa manis. Seperti hidup kami: tak selalu indah tapi tetap tulus dinikmati. Setiap tegukan adalah kisah: Tentang dicaci karena kerja, Tentang dituduh saat berjuang, Tentang difitnah oleh yang tak paham medan perang.

Kami tidak bicara banyak, Karena perjuangan yang tulus tidak butuh sorakan. Kami tidak memakai dasi, Tapi kami ikat kehormatan di hati.

Kepala Seksi, beliau bukan hanya atasan, Ia saudara di tengah badai penindasan. Ia tidak sekadar menyuruh, Ia berdiri di sisi, menanggung caci yang tak seharusnya.

Secangkir kopi hitam ini jadi saksi, Bahwa kami bukan ASN tanpa nama, Kami adalah jiwa yang bertugas bukan untuk dipuja, Tapi untuk menjaga: Ketertiban yang nyata, ketenteraman dan keamanan yang sering dilupa.

Jangan ajari kami tentang arti pengabdian, Sebab pahitnya kopi ini telah kami reguk lebih dulu—Dan tetap kami nikmati. Bukan karena nikmatnya, Tapi karena dalam pahit itulah kejujuran tinggal.

TAMAT

Menikmati Secangkir Kopi hitam di Pagi hari, Salam Hormat Para Pembaca yang Sedang Berjuang untuk Negeri. ARDHI MORSSE, Sabtu, 31 Mei 2025.

Peduli Korban Banjir, Polsek Loa Kulu Gelar Bakti Sosial di Desa Loa Kulu Kota

SIDIKPOST| Kukar — Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan oleh jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Loa Kulu melalui kegiatan bakti sosial (baksos) bagi warga terdampak banjir di Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat pagi (30/5).

Kegiatan kemanusiaan ini dilaksanakan di Jl. H. Masdamsi RT.004 dan dipimpin oleh Kanit Intelkam Aiptu Filman Ardiansyah, didampingi Kanit Samapta Bripka I Made B, Bhabinkamtibmas Bripka Indra K.Y, serta Brigpol Rendi dari unit Intelkam. Bantuan diberikan langsung kepada warga terdampak, yakni Ibu Suhartati, Bapak Ali, dan Ibu Surti.

Kapolsek Loa Kulu, AKP Elnath S. W. Gemilang, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kehadiran Polri dalam merespons setiap kondisi darurat, sekaligus bentuk solidaritas kepada warga yang tengah dilanda musibah.

“Bakti sosial ini bukan sekadar pemberian bantuan, tetapi juga bentuk empati dan dukungan moral kami kepada warga yang terdampak banjir. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban mereka dan memperkuat rasa kebersamaan,” tutur AKP Elnath.

Selain menyalurkan bantuan logistik, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun kedekatan emosional antara polisi dan masyarakat, serta menunjukkan bahwa Polri hadir tidak hanya dalam penegakan hukum, namun juga dalam aspek sosial kemasyarakatan.

Warga setempat menyambut hangat kehadiran personel Polsek Loa Kulu dan menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan. Kehadiran polisi di tengah-tengah warga menjadi penguat semangat dalam menghadapi masa sulit.

Melalui kegiatan seperti ini, Polsek Loa Kulu terus memperkuat peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, terutama dalam situasi bencana yang memerlukan solidaritas dan aksi nyata. (*)

Polsek Kota Bangun Panen 150 Karung Jagung Bersama Kelompok Tani Makmur

SIDIKPOST| Kukar — Wujud nyata sinergi antara kepolisian dan masyarakat kembali ditunjukkan oleh Polsek Kota Bangun melalui kegiatan panen jagung bersama Kelompok Tani Makmur di lahan pertanian yang berlokasi di Jalan Sri Bangun RT 021, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Kamis (29/5).

Kegiatan panen ini merupakan bagian dari dukungan Polsek Kota Bangun terhadap program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kelompok Tani Makmur sendiri merupakan kelompok binaan Polsek yang berada di Desa Kota Bangun Ulu, dan telah mendapat pendampingan sejak masa tanam.

Sebagai bentuk konkret dukungan, Polsek Kota Bangun telah memberikan bantuan berupa bibit unggul dan pupuk kepada para petani. Dukungan ini menjadi bagian dari strategi Polri untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian.

Kapolsek Kota Bangun, AKP Ribut, yang turut hadir dalam kegiatan panen tersebut, menyampaikan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kolaborasi dan kerja keras bersama. “Panen ini bukan semata soal hasil, tetapi juga tentang kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian kami terhadap kesejahteraan masyarakat. Polri hadir bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga membantu masyarakat tumbuh dan mandiri,” ungkapnya.

Dari hasil panen tersebut, sebanyak 150 karung jagung berhasil dipanen, masing-masing dengan berat sekitar 70 kilogram. Jagung hasil panen ini akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekitar serta menjadi cadangan pangan lokal yang strategis.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para petani yang merasa termotivasi oleh perhatian dan dukungan pihak kepolisian. Mereka berharap program serupa dapat terus berlanjut dan berkembang ke wilayah lain di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kolaborasi seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana keterlibatan semua pihak, termasuk aparat keamanan, sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (*)

Pelajar Ditemukan Meninggal di Sungai, Polisi Tangani Kasus dengan Humanis

SIDIKPOST| Kukar — Kepolisian Sektor (Polsek) Tenggarong menunjukkan respons cepat dan pendekatan humanis dalam menangani peristiwa penemuan jasad seorang pelajar yang tenggelam di aliran Sungai Mahakam, tepatnya di wilayah RT 04 Kelurahan Loa Tebu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Korban diketahui berinisial MS, pelajar berusia 12 tahun asal Jalan Matlimat RT 09 Kelurahan Loa Tebu, yang sebelumnya dilaporkan hilang oleh pihak keluarga. Sekitar pukul 08.10 WITA, jasad korban ditemukan tersangkut di antara kumpai (rumput sungai) oleh warga yang sedang melintas di pinggiran sungai.

Mendapatkan laporan tersebut, jajaran Polsek Tenggarong yang dipimpin langsung oleh Kapolsek IPTU Budi Santoso segera menuju lokasi kejadian. Petugas melakukan pengamanan area, mengevakuasi korban, serta melakukan koordinasi intensif dengan keluarga dan tim medis Puskesmas terdekat.

Kapolsek IPTU Budi Santoso menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarga korban. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menangani kasus ini dengan penuh empati dan profesionalitas.

“Setiap kejadian yang melibatkan kehilangan nyawa, apalagi anak-anak, menjadi perhatian serius kami. Pendekatan kami tidak hanya prosedural, tapi juga mengedepankan sisi kemanusiaan,” ujar IPTU Budi.

Dari hasil pemeriksaan awal, korban diduga kuat meninggal dunia akibat tenggelam. Meski demikian, pihak kepolisian masih mendalami kronologi kejadian untuk memastikan bahwa tidak ada unsur tindak pidana yang terlibat.

Situasi di sekitar lokasi kejadian telah aman dan kondusif. Jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak, dan pihak kepolisian turut mendampingi proses tersebut sebagai bentuk empati dan pelayanan kepada masyarakat. (*)

Sigap Atasi Kebakaran, Polsek Sebulu Bantu Padamkan Api di Dusun Antai

SIDIKPOST | Kukar — Kepolisian Sektor (Polsek) Sebulu menunjukkan respons cepat dalam menangani insiden kebakaran yang menghanguskan satu unit rumah tinggal dan satu gudang milik warga bernama Jumali (70), di Jalan Poros RT 01 Dusun Antai, Desa Sebulu Modern, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Kamis (29/5) sekitar pukul 18.30 WITA.

Api dilaporkan pertama kali muncul dari dalam gudang yang berada tepat di samping rumah korban. Dalam waktu singkat, kobaran api disertai asap pekat menyelimuti area sekitar dan mengancam bangunan lainnya.

Mendapat laporan dari warga, personel Polsek Sebulu yang dipimpin langsung oleh Kapolsek AKP Randy Anugrah Putranto segera menuju lokasi. Mereka turut serta dalam proses pemadaman bersama warga dan petugas dari satu unit mobil pemadam kebakaran. Setelah upaya intensif selama lebih dari satu jam, api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 20.00 WITA.

“Personel kami langsung terjun membantu, tidak hanya memadamkan api tetapi juga mengamankan lokasi dan mengevakuasi barang-barang penting milik warga,” ujar AKP Randy.

Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik yang berasal dari area gudang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 200 juta. Saat ini, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan oleh pihak kepolisian untuk memastikan penyebab pasti kebakaran.

AKP Randy juga mengingatkan pentingnya pengecekan rutin terhadap instalasi listrik, terutama pada bangunan penyimpanan seperti gudang yang rawan terhadap gangguan teknis.

“Ini adalah bagian dari tugas kami untuk selalu hadir dan tanggap terhadap situasi darurat. Sinergi antara aparat dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah dan menanggulangi bencana,” tambahnya.

Situasi pasca kebakaran kini telah terkendali. Warga diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan kepada pihak berwajib apabila menemukan potensi bahaya serupa. (*)

Kepedulian Polri: Baksos Polres Kukar Ringankan Beban Warga Terdampak Longsor

SIDIKPOST| Kukar — Kepolisian Resor Kutai Kartanegara (Polres Kukar) kembali menunjukkan komitmennya dalam melayani dan melindungi masyarakat, kali ini melalui kegiatan bakti sosial (Baksos) bagi warga terdampak tanah longsor yang terjadi di kilometer 28, RT 25, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (29/5/2025) pukul 15.00 WITA ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Loa Janan, AKP Abdillah Dalimunthe, didampingi tujuh personel dari Polsek Loa Janan. Dalam aksi kemanusiaan tersebut, disalurkan bantuan berupa 50 karung beras ukuran 5 kilogram dan 25 paket sembako kepada masyarakat yang terdampak longsor.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis kepada Kepala Dusun Tani Jaya, Ibu Nurhayati, serta disaksikan oleh Ketua RT 25, Bapak Idris, dan 25 warga penerima manfaat.

Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Kapolres Kutai Kartanegara, AKBP Dody Surya Putra, sebagai wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat, tidak hanya dalam aspek penegakan hukum tetapi juga dalam solidaritas sosial, terutama pada masa-masa sulit akibat bencana alam.

“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa kehadiran Polri tidak hanya sebatas menjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra yang peduli dan siap membantu saat masyarakat menghadapi musibah,” ungkap AKP Abdillah Dalimunthe saat menyampaikan sambutan.

Warga yang menerima bantuan menyampaikan apresiasi atas kepedulian Polres Kukar. Mereka merasa terbantu dan semakin yakin bahwa institusi kepolisian adalah bagian dari elemen penting yang selalu siap mendampingi masyarakat dalam berbagai situasi.

Kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kehangatan. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat jalinan kemitraan antara Polri dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang aman, peduli, dan harmonis. (*(

Cerita Fiksi “tanggal merah tak pernah sampai, yang libur hanya mereka”

Hari ini kamis, tanggal merah, besoknya masih Cuti bersama, Kalender sudah lama ditandai merah terang dan grup WhatsApp ramai dengan cerita bahagia,

“Selamat liburan, teman-teman!”

serta foto-foto keluarga ASN bagian administrasi yang sedang sarapan di vila pegunungan atau bermain air di pantai.

Tapi tidak dengan Satria Perkasa dan Seluruh Personil lapangan.

Pukul 05.30 Wib. pagi, Ia sudah mengenakan seragam dinas lapangan. Sepatu PDL’nya belum sempat di semir, karena hari sebelumnya seharian anter jemput anak sekolah dan Istirahat pengganti Tidur malam. Ia menyalakan Handy Talkie (HT) yang langsung menyala dengan suara lantang:

“Satria, segera kamu dan Peletonmu ke Pasar. PKL tidak mau merapihkan dan menutup dagangannya dan ngotot tetap buka lapak. Ingat, ketertiban wilayah dalam kota harus dijaga…!”

Satria dengan tenang menarik napas. Melihat anak dan Istrinya Masih tidur dengan sendu, seharusnya hari libur bisa bermain dan bercengkrama dengan mereka.

Ia mengeluarkan motor yang biasa dia pakai kerja secara perlahan agar tidak membangunkan anak istrinya.

Dalam hati ia menertawakan kata “cuti bersama” yang hanya jadi hak istimewa segelintir orang di kantor atas.

“Kami ini saat ini ASN juga, tapi kenapa rasanya seperti rakyat kelas dua yang terus dalam ancaman dan tekanan?” gumamnya.

Sesampainya di pasar, ia langsung bergabung bersama rekan-rekan sesama personil lapangan menghadapi pedagang-pedagang yang masih menggelar lapak dagangannya. Pedagang yang masih membandel akhirnya di tertibkan secara paksa, karena pedagang menempati jalan umum, jika di biarkan akan mengakibatkan terganggunya Ketertiban umum.

“Bang, kok Abang nggak libur?, kan ini tanggal merah, besok masih Cuti bersama, Masa kita disuruh kelapangan terus, padahal yang lain santai-santai, status sama?,” ledek rekannya sesama personil lapangan.

Satria hanya bisa diam, walaupun Hatinya mendidih, tapi mulutnya bungkam.

Bukan karena mau bicara, tapi karena ia tahu, bicara terlalu keras bisa berujung pada surat peringatan bahkan ancaman-ancaman Pimpinan serta pikiran negatif rekan-rekan yang sedang menikmati liburan.

Pukul 09.15 Wib, setalah menertibkan pedagang di sepanjang jalan Pasar yang di mulai dari subuh, satria dan rekan-rekannya Istirahat di warung kopi belakang ruko. Sesuai perintah Pimpinan sebelumnya, “jika mau istirahat jangan terlihat publik. Nanti di anggap petugas ketertiban tidak bekerja dan hanya duduk-duduk main handphone, ketika ada yang mengambil foto bisa viral di media sosial.”

Pukul 10.00 Wib, Matahari mulai menyengat, Baru saja satria dan rekan-rekannya duduk istirahat dan sedang menunggu kopi yang belum jadi. HT-nya berbunyi lagi.

“Satria, personil lapangan pada kemana, ini tenda-tenda lapak pedagang dan jugabpedagang-pedagangnya masih bertumpuk di sepanjang jalan pasar, Kerja kalia apa, yang benar kalau kerja.”

“Ini Pelayanan atau penindasan?” batin satria.

Handphone satria bergetar, di rumah, istrinya mengirim pesan:

“Anak nangis aja mau ngajak keluar jalan-jalan. Karena temen-temen sekolahnya sedang liburan, Kamu pulang jam berapa?”

Satria hanya membalas singkat, “Belum tahu.”

Di balik status ASN yang dianggap stabil dan bergengsi, Satria dan rekan-rekannya di lapangan hidup dalam sistem yang timpang.

Di balik kata-kata “pengabdian” dan “profesionalisme”, ada kenyataan bahwa tak semua ASN diperlakukan adil.

Yang biasa sehari-hari di meja kantor, mereka bisa tertawa saat long weekend, sementara yang di lapangan tak pernah tahu rasa libur.

Satria hanya menatap nanar. IA TIDAK IRI. IA HANYA MUAK

================

Saat malam menjelang, tubuhnya lelah. Tapi HT-nya tidak berhenti,

“Satria, besok kamu dan Personil lapangan tetap standby ya. Masih banyak pedagang-pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan dan pinggir pagar irigasi”

Ia ingin marah. Tapi marah ke siapa?

“Pimpinan hanya mengenal perintah, bukan beban kerja. Mereka hanya mengerti laporan rapi, bukan lelah di bawah tekanan dan panas.”

Malam itu, Di rumah kontrakannya, Rangga duduk di samping anaknya yang Seharian nangis karena tidak dia ajak keluar Jalan-jalan. Matanya sembab. Istrinya, Tania, sedang membuatkan kopi di dapur.

“Abah kok kerja terus ya, kan hari libur selama empat hari?” tanya anaknya lirih.

Satria tersenyum kecut. “Iya, Nak. Negara belum kasih Abah waktu buat libur.”

Tania datang membawa kopi sambil menatap suaminya dengan prihatin.

“Bah, emangnya Abah nggak bisa minta gantian? Masa kamu terus yang kerja di lapangan? Apa yang mereka berikan jika kamu roboh karena sakit?”

Satria menggeleng pelan, “Bun, Abah sudah pernah coba ngomong, Tapi jawaban pimpinan, ‘Kalau nggak kuat kerja di lapangan, banyak yang mau gantiin. ASN itu PENGABDIAN, bukan ngeluh-ngeluh.’”

Tania, menghela napas panjang menatap suaminya dengan Iba.

“Itu bukan pengabdian. Itu penindasan, Bah. Temen-temen Abah yang di balik meja kan statusnya sama, mereka liburan dan nyaman. sementara Abah disuruh kerja lapangan terus tanpa ada Istirahat untuk keluarga, bahkan yang katanya libur, itu hanya pengganti Istirahat malam. Itu juga abah jarang Istirahat, masih harus nganter jemput sekolah.”

Karena bagi kami yang di lapangan, “Tanggal Merah hanyalah warna di kalender. Bukan di hidup Kami, Jika Protes maka harus siap di cibir, di jauhi, di pindah bahkan di singkirkan.”

Kemudian, Istri dan anak Satria tidur karena sudah larut malam.

Satria secara perlahan menuju teras kontrakan untuk minum kopi buatan istrinya yang sudah mulai dingin.

Setalah minum kopi dan menghabiskan dua batang rokok, Satria membuat laporan kerja seperti biasa dan mulai membuat surat pengaduan dan Ditulis dengan jujur, tentang diskriminasi di birokrasi, tentang beban ASN lapangan yang tak pernah diberi hak libur, tentang TEKANAN SISTEMATIS yang dibungkus kata “PENGABDIAN”.

Ia tahu surat itu mungkin tidak akan pernah di kirim apalagi dibaca. Tapi malam itu, ia tidak ingin diam dan menunggu waktu untuk bersuara.

Di akhir surat, ia menulis:

“Kami saat ini sama dengan yang di kantor sebagai ASN. Kami juga manusia. Jangan jadikan LOYALITAS sebagai ALAT PEMERASAN. Jangan jadikan PENGABDIAN sebagai TOPENG PENINDASAN. Karena kami MENJAGA KETERTIBAN, tapi HIDUP KAMI SENDIRI TIDAK TERTIB, TIDAK TENANG, dan JAUH DARI RASA ADIL.”

Surat itu ia simpan. Mungkin suatu hari akan ia kirim. Mungkin suatu hari ada yang mau dengar. Tapi untuk saat ini, esok hari ia tetap akan tugas di lapangan, Karena di sistem ini,

“YANG LIBUR, HANYA MEREKA.”

===================

Siang hari berikutnya nya, ia dipanggil ke ruang atasan di kantor Satpol PP.

Suasana sepi karena sebagian besar staf cuti bersama.

“Satria,” kata atasannya tanpa basa-basi, “Saya apresiasi kamu dan rekan-rekan personil lapangan yang tetap jaga pasar dan Menertibkan pedagang, Tapi minggu depan kamu jangan minta libur ya, karena Pemindahan pedagang dari depan ke dalam.”

Satria ingin bicara. Ingin jujur soal kelelahan, soal gaji, soal ketidakadilan. Tapi mulutnya kelu.

Ia hanya mengangguk dan berkata, “Siap Laksanakan Komandan.”

Karena ia sadar di kantor ini, jika Diam dianggap loyal. Jika mengeluh dan meminta keadilan dianggap pembangkangan.

Dalam sistem birokrasi ini, yang patuh bukan yang paling dihargai, tapi yang paling bisa dibebani.

==================

Ketika Satria pulang kerja di malam Hari. istrinya, duduk di meja makan dengan wajah cemas.

“Bah, uang belanja tinggal segini. Bayar listrik belum, Si kakak butuh buku paket bulan depan…”

Satri menghela nafas lalu diam, Pandangannya kosong. Pikirannya melayang ke kampus hukum tempat dulu ia kuliah, penuh idealisme tentang keadilan dan kesetaraan.

“Kamu nggak bisa terus kayak gini, bah,” Tania bicara lagi.

“Status kamu sama dengan yang lainnya, tapi kamu terus di lapangan, gaji kecil, tidak dianggap. Mau sampai kapan?”

Satria menatap istrinya. Bingung harus menjawab apa, karena fakta kebenarannya tidak bisa dibantah.

“Mungkin sudah waktunya bicara.”

Pukul 10 malam, ketika istri dan anaknya sudah tidur. Ia kembali membuka laptop. Surat pengaduan yang dulu pernah ia tulis, kini ia lengkapi dengan data-data konkret:

Jumlah hari kerja tanpa libur, jumlah kegiatan yang ia tangani tanpa ganti waktu istirahat, dan perbandingan perlakuan antara ASN lapangan dan staf kantor.

Lalu, dengan hati berdebar, ia kirim ke Komisi ASN BKN dan salin ke inspektorat Pemerintah daerah.

Esoknya ia tetap bekerja ke lapangan, Tapi kali ini, bukan dengan rasa kalah. Ia tahu risikonya. Tapi ia lebih takut jika anaknya nanti bertanya:

“Abah dulu diam karena takut atau karena tidak peduli pada penindasan dan ketidakadilan?”

Penutup:

Beberapa minggu kemudian, seorang pejabat dari provinsi datang diam-diam ke kantor mereka. Melakukan verifikasi, meminta data. Tak banyak yang tahu kenapa.

Tapi Satria tahu. Mungkin keadilan berjalan lambat. Tapi ia tak lagi sendiri. Ia sudah memulai.

“KARENA PENGABDIAN BUKAN BERARTI MENERIMA PENINDASAN DAN STATUS SAMA SEHARUSNYA MEMILIKI HAK YANG SAMA PULA.”

TAMAT

ARDHI MORSSE, KAMIS 29 MEI 2025

Warga Cipulir Permai Desak Pembongkaran Tower BTS Tak Berizin

SIDIKPOST | Jakarta Selatan – Warga Perumahan Cipulir Permai Blok P No. 10, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mendesak pembongkaran menara Base Transceiver Station (BTS) milik Indosat yang berdiri persis di depan rumah warga tanpa izin.

Pembangunan tower yang berlangsung tanpa persetujuan pemilik lahan ini telah menimbulkan keresahan dan kerugian bagi warga sekitar.

Salah seorang warga yang terdampak, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut bahwa pihak kontraktor membangun tower tanpa meminta izin darinya, padahal lokasi tower sangat dekat dengan rumahnya yang berada di hook dan samping lapangan basket. Protes sudah dilayangkan ke Ketua RT 14/9 Perumahan Cipulir Permai

“Pembangunan tower ini tanpa izin dari kami sebagai pemilik rumah yang terdampak langsung. Kerugiannya bukan hanya mengganggu kesehatan karena sinyal, tapi juga nilai jual properti kami jadi turun drastis,” keluhnya.

 

Laporan terkait pelanggaran ini telah disampaikan kepada pihak berwenang melalui sistem pengaduan terpadu.

Berdasarkan tindak lanjut dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), terungkap beberapa fakta penting:

Sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) 47 Tahun 2017, aspek teknis terkait keberadaan menara BTS yang tidak berizin atau tidak sesuai izin merupakan kewenangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

Berdasarkan database perizinan DPMPTSP dan pengecekan di Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG), bangunan menara BTS pada lokasi tersebut tidak terdaftar memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB)/Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) maupun Izin Pelaksanaan Pengembangan Bangunan Pelengkap (IPPBP).

Terkait aspek keteknisan mengenai menara yang tidak berizin, merupakan kewenangan SKPD terkait.

Menanggapi hal ini, akademisi dan pengamat kebijakan publik, Awy Eziary, S.H., S.E., M.M., memberikan dukungan penuh terhadap tuntutan warga. Menurutnya, pembangunan infrastruktur tanpa izin merupakan pelanggaran serius yang tidak hanya merugikan masyarakat secara langsung, tetapi juga mencerminkan lemahnya penegakan aturan.

“Keberadaan tower BTS tak berizin ini jelas melanggar peraturan yang berlaku. Pihak Indosat harus bertanggung jawab dan segera membongkar tower tersebut. Pemerintah daerah melalui SKPD terkait juga harus segera mengambil tindakan tegas, tidak bisa hanya sebatas koordinasi,” ujar Awy Eziary.

Awy Eziary menambahkan bahwa kasus ini menjadi preseden buruk jika tidak diselesaikan dengan cepat dan adil.

“Masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman, bebas dari gangguan infrastruktur yang tidak legal. Dukungan penuh harus diberikan kepada warga untuk memastikan hak-hak mereka terpenuhi,” tegasnya.

Hingga saat ini, warga masih menantikan langkah konkret dari pihak berwenang untuk membongkar tower BTS tak berizin tersebut.

Mereka berharap agar kerugian yang telah dialami dapat segera terselesaikan dan ketertiban hukum ditegakkan. (*)