Polsek Muara Kaman Bongkar Peredaran Sabu di Muara Siran

SIDIKPOST| Kukar – Komitmen pemberantasan narkotika kembali ditegaskan jajaran Polsek Muara Kaman. Seorang pria berinisial IY alias IIN (46) diamankan atas dugaan tindak pidana peredaran narkotika jenis sabu di Desa Muara Siran RT 08, Kecamatan Muara Kaman, Selasa (24/2/2026).

Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat yang diterima Unit Opsnal Reskrim pada Senin malam (23/2/2026). Warga melaporkan adanya aktivitas mencurigakan yang diduga berkaitan dengan transaksi narkotika di wilayah tersebut. Informasi itu langsung ditindaklanjuti dengan serangkaian penyelidikan dan pemantauan intensif.

Dipimpin langsung Kanit Reskrim, petugas bergerak cepat melakukan pendalaman. Setelah memastikan kebenaran informasi, tim melakukan penggerebekan di sebuah rumah di Desa Muara Siran. Suasana siang itu mendadak tegang ketika petugas memasuki lokasi dan mengamankan seorang pria yang berada di dalam rumah.

Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan 13 bungkus plastik bening berisi kristal putih yang diduga kuat narkotika jenis sabu dengan berat kotor 2,22 gram. Barang haram tersebut ditemukan tersimpan di dalam kantong celana tersangka. Selain itu, turut diamankan satu dompet warna hitam, satu unit handphone merek OPPO warna biru, uang tunai sebesar Rp3.450.000 yang diduga hasil penjualan, serta satu celana pendek kargo warna abu-abu.

Di hadapan petugas, tersangka mengakui bahwa seluruh barang bukti tersebut adalah miliknya. Ia juga mengakui sabu tersebut rencananya akan diedarkan kembali.

Kapolsek Muara Kaman IPTU Herwin, menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bentuk respons cepat kepolisian atas laporan masyarakat serta komitmen dalam menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

“Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku peredaran narkotika di wilayah hukum Polsek Muara Kaman. Peran serta masyarakat sangat kami apresiasi, karena informasi sekecil apa pun sangat berarti dalam upaya pemberantasan narkoba,” tegasnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika junto ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dengan ancaman pidana penjara yang berat.

Saat ini tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Mapolsek Muara Kaman guna proses penyidikan lebih lanjut. Kepolisian juga terus melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat.

Pengungkapan ini menjadi peringatan keras bahwa peredaran narkotika masih menjadi ancaman nyata. Namun di sisi lain, sinergi antara masyarakat dan aparat penegak hukum terbukti mampu memutus mata rantai peredaran barang haram yang merusak generasi bangsa. (*)

Tiga Pilar Turun Langsung Amankan Tarawih

SIDIKPOST| Kukar – Suasana hangat dan penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan Sholat Tarawih di Desa Tani Bhakti, Kecamatan Loa Janan, Kamis (26/2/2026). Di tengah lantunan ayat suci Al-Qur’an, tampak kehadiran aparat Tiga Pilar yang turut memastikan ibadah masyarakat berjalan aman dan nyaman.

Bhabinkamtibmas Desa Tani Bhakti Polsek Loa Janan, Bripka Wahyudi Aminudin, bersama unsur Babinsa dan Pemerintah Desa, turun langsung melaksanakan patroli serta pengamanan di sejumlah masjid. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) selama bulan suci Ramadhan.

Pengamanan difokuskan pada waktu pelaksanaan Tarawih, dengan pemantauan di area parkir kendaraan, halaman masjid, hingga lingkungan sekitar. Langkah tersebut bertujuan mencegah terjadinya tindak kriminalitas seperti pencurian kendaraan bermotor maupun pencurian rumah kosong yang ditinggal pemiliknya beribadah.

Tidak hanya melakukan pengawasan, Bripka Wahyudi juga menyempatkan diri berdialog dengan para jamaah dan pengurus masjid. Dalam suasana penuh keakraban, ia menyampaikan pesan-pesan kamtibmas serta mengimbau masyarakat agar memastikan kendaraan terkunci ganda, tidak meninggalkan barang berharga di dalam kendaraan, dan saling peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Kehadiran kami bersama Tiga Pilar merupakan bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat yang menjalankan ibadah. Kami juga mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif selama Ramadhan,” ungkapnya.

Sinergitas antara aparat keamanan dan masyarakat menjadi kunci utama terciptanya situasi yang aman dan tertib. Patroli serupa akan terus dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan, khususnya pada jam-jam rawan, guna memastikan setiap rangkaian ibadah di bulan suci dapat berlangsung dengan khusyuk dan penuh keberkahan.

Dengan kebersamaan dan kepedulian seluruh elemen masyarakat, Ramadhan di Desa Tani Bhakti diharapkan tidak hanya menjadi momentum peningkatan keimanan, tetapi juga penguatan solidaritas dan keamanan lingkungan. (*)

Satresnarkoba Polres Kukar Ringkus Dua Pelaku Sabu di Sebulu

SIDIKPOST| Kukar – Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Kutai Kartanegara bergerak cepat membongkar dugaan peredaran narkotika jenis sabu di Desa Manunggal Daya, Kecamatan Sebulu. Dalam operasi yang berlangsung Selasa malam (24/2/2026) sekitar pukul 21.30 Wita, dua pria berhasil diamankan beserta sejumlah barang bukti.

Kedua tersangka masing-masing berinisial MC (43), warga Sebulu, dan S (55), warga Desa Manunggal Daya. Keduanya diduga terlibat dalam penyalahgunaan dan peredaran narkotika jenis sabu.

Kasatresnarkoba Polres Kutai Kartanegara AKP Yohanes Bonar Adiguna, menjelaskan, pengungkapan bermula dari informasi masyarakat pada Sabtu (21/2/2026) terkait maraknya transaksi sabu di wilayah tersebut. Informasi itu langsung ditindaklanjuti dengan penyelidikan intensif dan pemantauan tertutup selama beberapa hari.

Tim kemudian mengantongi ciri-ciri terduga pelaku yang kerap menggunakan sepeda motor Yamaha Jupiter Z warna biru. Pada Selasa malam, petugas mendapati seorang pria dengan ciri-ciri identik tengah berada di depan sebuah rumah kayu.

Tanpa membuang waktu, tim langsung melakukan pengamanan terhadap pria tersebut yang diketahui berinisial MC. Di lokasi yang sama, petugas juga mengamankan seorang pria lain berinisial S yang berada di dalam rumah dan diduga hendak mengonsumsi sabu menggunakan pipet kaca dan alat hisap (bong).

Dari hasil penggeledahan dan pengembangan, petugas menemukan tiga bungkus plastik bening diduga berisi sabu dengan berat kotor 1,90 gram yang disimpan di dalam dompet kecil warna biru dan pink di bawah meja dapur rumah MC.

Selain sabu, turut diamankan sejumlah barang bukti lain berupa dua pipet kaca, sedotan plastik, sendok takar dari sedotan, plastik klip, tiga korek api gas, satu bungkus rokok, satu alat hisap sabu (bong), tiga dompet, dua unit telepon genggam merek Oppo dan Vivo, satu unit sepeda motor Yamaha Jupiter Z warna biru, serta uang tunai Rp1.300.000 yang diduga hasil transaksi.

Dari hasil interogasi awal, S mengaku memperoleh sabu dari MC. Sementara MC mengakui masih menyimpan sisa barang haram tersebut di rumahnya.

Kedua tersangka kini diamankan di Mapolres Kutai Kartanegara untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Mereka dijerat Pasal 114 ayat (1) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika junto ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dengan ancaman hukuman pidana berat.

Kasatresnarkoba menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas.

“Perang terhadap narkoba tidak bisa ditawar. Kami akan terus melakukan penindakan tegas terhadap pelaku peredaran gelap narkotika di wilayah hukum Polres Kutai Kartanegara,” tegasnya.

Pengungkapan ini menjadi bukti bahwa respons cepat atas informasi masyarakat dan kerja taktis di lapangan mampu memutus mata rantai peredaran narkotika, sekaligus menjaga generasi muda dari ancaman bahaya narkoba. (*)

Kapolres Tangerang Kota: Pers Mitra Strategis Polri dalam Menjaga Kamtibmas

SIDIKPOST| Tangerang – Momentum Ramadan dimanfaatkan jajaran Polres Metro Tangerang Kota untuk mempererat sinergitas bersama insan pers.

Rabu (25/2/2026) sore, kegiatan bertajuk “Buka Puasa Polri Bersama Insan Pers 2026” digelar di Aula Serbaguna Lantai 2 Polres Metro Tangerang Kota, dilanjutkan dengan santunan kepada anak yatim.

Acara yang dihadiri insan pers, Pejabat Utama Polres, para Kapolsek jajaran, serta anak-anak yatim yang menerima santunan. Kegiatan berlangsung hangat, penuh kebersamaan, dan sarat pesan kamtibmas.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Raden Muhammad Jauhari, dalam sambutannya menegaskan bahwa pers memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan informasi di tengah masyarakat.

“Peran pers sangat penting dalam menyampaikan informasi yang positif, berimbang, dan edukatif kepada masyarakat, khususnya terkait kinerja Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” ujar Kombes Pol. Jauhari.

Ia menyampaikan bahwa pemberitaan yang objektif dan konstruktif dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Menurutnya, insan pers juga memiliki peran besar dalam membantu menyuarakan aspirasi masyarakat, termasuk warga di pelosok wilayah yang membutuhkan perhatian.

“Dengan jangkauan media yang luas, berbagai persoalan sosial bisa tersampaikan secara cepat dan tepat kepada para pemangku kepentingan. Sinergi ini yang harus terus kita jaga,” lanjutnya.

Kapolres juga berharap media tetap mengedepankan prinsip konfirmasi dan klarifikasi sebelum mempublikasikan berita, agar informasi yang sampai ke masyarakat tetap utuh dan tidak menimbulkan kegaduhan.

“Pers memiliki fungsi strategis dalam meluruskan suatu peristiwa agar tidak berkembang menjadi informasi yang tidak utuh dan berpotensi merugikan institusi maupun publik,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa masih banyak anggota Polri yang bekerja dengan penuh integritas dan dedikasi sebagai insan Bhayangkara.

“Kerja-kerja positif anggota di lapangan juga perlu mendapatkan ruang pemberitaan yang proporsional,” tambahnya.

Terkait dinamika demokrasi seperti unjuk rasa maupun kritik terhadap pemerintah dan Polri, Kapolres menyebut hal tersebut sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang harus disikapi secara dewasa dan profesional.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah Ramadan, doa bersama, buka puasa, serta ramah tamah yang semakin mempererat silaturahmi antara Polri dan awak media.

Selain memperkuat hubungan kemitraan, kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian sosial Polri melalui pemberian santunan kepada anak-anak yatim di bulan suci Ramadan.

Kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kehangatan. Diharapkan, sinergitas antara Polri dan insan pers terus terjalin secara profesional dan berimbang demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Metro Tangerang Kota. (*)

Izin Belum Terbit, Tower BTS Sudah Berdiri di Cipinang Besar Utara, Warga: Harusnya Disegel Dulu

SIDIKPOST| Jakarta Timur – Sebuah menara telekomunikasi (BTS) yang berdiri di Jalan Bekasi Timur Raya RT 014/RW 09, Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur, menuai sorotan warga.

Pasalnya, menara tersebut diduga belum mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), namun konstruksinya telah berdiri lengkap di lokasi yang disebut-sebut merupakan lahan fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum-fasos).

Laporan warga sebelumnya telah disampaikan melalui kanal pengaduan resmi pemerintah daerah. Dalam tindak lanjutnya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menyampaikan bahwa berdasarkan data perizinan, menara telekomunikasi tersebut masih dalam proses pengajuan PBG atas nama perusahaan terkait.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bangunan menara sudah berdiri dan terpasang perangkat pendukungnya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai pengawasan serta penegakan aturan terhadap bangunan yang izinnya belum terbit.

Reno (48), warga yang kerap melintas di kawasan tersebut, mengaku heran dengan situasi yang terjadi.

“Kalau memang izinnya belum keluar dan masih dalam proses, kenapa tower sudah berdiri? Seharusnya ada tindakan tegas dulu seperti penyegelan. Jangan sampai dinas terkesan hanya menyampaikan keterangan perusahaan tanpa ada langkah konkret di lapangan,” ujar Reno kepada wartawan. (25/2)

Menurutnya, aturan soal PBG seharusnya jelas: pembangunan dilakukan setelah izin terbit, bukan sebaliknya. Ia menilai, apabila benar izin belum ada, maka semestinya ada penghentian sementara aktivitas pembangunan hingga seluruh dokumen dinyatakan lengkap.

“Ini menyangkut ketertiban tata ruang dan kepatuhan hukum. Kalau masyarakat bangun rumah tanpa izin bisa ditindak, masa ini tidak?” tambahnya.

Dalam penjelasannya, pihak DPMPTSP menyebut kewenangan mereka terkait aspek perizinan administrasi, sementara pengawasan teknis konstruksi berada pada perangkat daerah terkait.

Meski demikian, warga berharap ada koordinasi lintas instansi untuk memastikan tidak ada pembangunan yang berjalan sebelum mengantongi izin resmi.
Keberadaan menara telekomunikasi di atas lahan yang disebut sebagai fasum-fasos juga menjadi perhatian tersendiri.

Warga meminta transparansi status lahan serta kejelasan legalitas proyek agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kemungkinan penyegelan atau penghentian sementara operasional menara tersebut.

Penulis : Rdk

Editor : Redaksi

Komitmen Bersih dari Narkoba, Kapolres Tangerang Kota Periksa Seluruh Anggota

SIDIKPOST | Kota Tangerang – Sebagai bentuk komitmen menjaga integritas dan kedisiplinan anggota, Polres Metro Tangerang Kota menggelar tes urine terhadap seluruh personel, Senin (23/2/2026) pagi.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB itu dipimpin langsung oleh Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., serta dihadiri Wakapolres, para pejabat utama (PJU), Kapolsek jajaran, hingga personel Pamen, Pama, Bintara dan ASN Polres Metro Tangerang Kota.

Tes urine ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut perintah Kapolri dalam rangka pencegahan dan pengawasan internal guna menghindari pelanggaran disiplin, kode etik, maupun tindak pidana, khususnya penyalahgunaan narkoba.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah preventif sekaligus bentuk pengawasan internal yang tegas dan transparan.

“Tes urine ini adalah bentuk komitmen kami untuk memastikan seluruh personel Polres Metro Tangerang Kota bersih dari narkoba. Tidak ada toleransi bagi anggota yang terlibat penyalahgunaan narkotika,” tegas Kombes Jauhari.

Ia menambahkan bahwa pengawasan internal harus dimulai dari institusi sendiri sebelum melakukan penegakan hukum terhadap masyarakat.

“Kami ingin memberi contoh. Kalau kita menindak tegas peredaran narkoba di luar, maka ke dalam pun harus sama tegasnya. Ini bagian dari menjaga marwah institusi Polri,” tambahnya.

Pelaksanaan tes urine berjalan tertib dan lancar dengan pengawasan ketat. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi seluruh personel untuk senantiasa menjaga integritas, profesionalisme, serta kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Polres Metro Tangerang Kota memastikan kegiatan pengawasan seperti ini akan dilakukan secara berkala sebagai bagian dari komitmen menuju Polri yang Presisi dan bebas dari penyalahgunaan narkoba.

 

penulis : anton Teef

editor : redaksi

Satlantas Polres Kukar Intensifkan Patroli Blue Light

SIDIKPOST| Kukar – Satuan Lalu Lintas Polres Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar patroli Blue Light dan patroli di sejumlah titik keramaian pada Senin (23/2/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung pukul 19.30 hingga 21.00 Wita tersebut difokuskan untuk mengantisipasi aksi balap liar serta menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif.

Patroli menyasar sejumlah ruas jalan yang kerap menjadi pusat aktivitas masyarakat pada malam hari, di antaranya Jalan Krama Jaya, Jalan AP Mangkunegara, Jalan KH Dahlan, Jalan Patin, serta Jalan Diponegoro (kawasan Taman Musik). Personel yang terlibat terdiri dari Piket Pos Pol Lembuswana, Piket Pos PAL 4, serta Staf 90 Satlantas Polres Kukar.

Kasat Lantas Polres Kukar, AKP Ahmad Fandoli, menjelaskan bahwa patroli Blue Light merupakan langkah preventif untuk menekan potensi pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, termasuk aksi balap liar yang berisiko membahayakan keselamatan pengguna jalan.

“Patroli ini kami laksanakan sebagai upaya pencegahan terhadap balap liar dan potensi gangguan kamtibmas lainnya. Kehadiran personel di lapangan diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus mencegah niat pelaku melakukan pelanggaran,” ujarnya.

Selain patroli mobile, personel juga melakukan pengaturan lalu lintas di titik-titik rawan kecelakaan serta lokasi yang berpotensi terjadi kepadatan kendaraan. Satlantas turut melaksanakan pemantauan dan laporan langsung (live report) terkait kondisi arus lalu lintas guna memastikan situasi tetap terkendali.

Dengan intensifikasi patroli pada malam hari, Satlantas Polres Kukar berharap dapat menciptakan kamseltibcar lantas yang aman dan tertib, sekaligus menekan angka kecelakaan maupun tindak kriminalitas seperti curanmor dan kejahatan jalanan lainnya.

Polres Kukar juga mengimbau masyarakat, khususnya para remaja, untuk tidak terlibat dalam aksi balap liar serta selalu mematuhi aturan lalu lintas demi keselamatan bersama. (*)

Kapolsek Loa Janan Hadiri Safari Ramadhan di Desa Tani Harapan, Perkuat Sinergi dan Pesan Kamtibmas

SIDIKPOST| Kukar – Kapolsek Loa Janan AKP Dhalimunthe, menghadiri kegiatan Safari Ramadhan yang digelar Forkopimca Kecamatan Loa Janan di Masjid Al Hikmah, Desa Tani Harapan. Kehadiran Kapolsek menjadi wujud komitmen Polri dalam menjaga kedekatan dengan masyarakat, khususnya di bulan suci Ramadhan.

Kegiatan diawali dengan buka puasa bersama antara unsur Forkopimca dan masyarakat. Dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan, Kapolsek Loa Janan tampak berbaur dengan warga, mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi antara kepolisian dan masyarakat.

Usai berbuka, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib, Isya, dan Tarawih berjamaah. Momentum tersebut dimanfaatkan Kapolsek untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas kepada jamaah. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan, meningkatkan kewaspadaan, serta memperkuat nilai persaudaraan dan toleransi selama Ramadhan.

“Kami berharap kebersamaan seperti ini terus terjalin. Keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Kapolsek dalam sambutannya.

Kapolsek juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak-anak, khususnya pada malam hari, guna mencegah potensi gangguan kamtibmas seperti balap liar maupun kenakalan remaja.

Kegiatan Safari Ramadhan ditutup dengan ceramah agama yang menambah kekhusyukan malam itu. Melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat, Kapolsek Loa Janan menegaskan bahwa Polri senantiasa hadir memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman demi terciptanya situasi yang aman, damai, dan kondusif di wilayah Desa Tani Harapan dan sekitarnya. (*)

Kisah Rohani Petugas Lapangan Bagian Ke Empat : Puasa Di Antara Neraca Retak (Doa di Tengah Timbangan yang Patah)

Prolog

Ibadah Puasa merupakan kegiatan disiplin spiritual. Ia melatih manusia menahan hasrat, mengendalikan ego, dan membersihkan batin dari kerak keserakahan. Akan tetapi, dalam kegiatan tersebut timbul pertanyaan, bagaimana jika yang menahan diri hanyalah rakyat kecil, pegawai rendahan, sementara yang para pimpinan yang memegang kebijakan tidak pernah berpuasa dari kuasa dan ego rakusnya?

Kisah cerita ini hadir dari kegelisahan yang terus membara seperti api dalam sekam dan tidak bisa lagi disimpan dalam diam.

Teori keadilan sosial menjelaskan bahwa, negara hadir untuk memastikan distribusi kesejahteraan berjalan proporsional. Prinsipnya sederhana, beban sebanding dengan hak, tanggung jawab sejalan dengan penghargaan.

Namun di lapangan, realitas sering kali bergerak terbalik. Mereka yang bekerja paling keras justru berdiri paling jauh dari kesejahteraan dan Mereka yang berjaga siang – malam justru dihitung paling kecil dalam neraca anggaran, Apakah ini sekadar salah hitung?, Ataukah memang timbangan itu telah patah sejak lama?

“Puasa di Antara Neraca Retak” bukan sekadar kisah tentang aparat lapangan yang berpuasa sambil bekerja. Ini menjadi refleksi tentang ketimpangan struktural yang sering disamarkan oleh retorika formal, Tentang janji peningkatan kesejahteraan yang ditunda-tunda, Tentang tunjangan yang stagnan di tengah kenaikan biaya hidup dan Tentang angka-angka yang di atas kertas terlihat rapi, tetapi di dapur rumah terasa menyayat.

Secara ilmiah, kesejahteraan pegawai mejadi faktor penting dalam produktivitas dan stabilitas sosial. Ketika kompensasi tidak sebanding dengan beban kerja, maka yang lahir bukan hanya kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial. Kelelahan eksistensial adalah pintu masuk krisis moral dalam sistem pelayanan publik.

Negara tidak runtuh karena kritik. Tapi, Negara runtuh ketika kritik dianggap ancaman. Bulan Suci Ramadhan mengajarkan kita sebagai manusia tentang empati, merasakan lapar agar memahami yang kekurangan. Namun kebijakan yang tidak adil justru menciptakan lapar baru, mulai dari lapar akan pengakuan, lapar akan keadilan, hingga lapar akan martabat.

Apakah adil jika jam kerja dan resiko di lapangan lebih besar tetapi penghasilan lebih kecil?

Apakah rasional jika status administratif menjadi alasan untuk menunda hak-hak yang seharusnya bisa memenuhi kebutuhan pegawai lapangan dan keluarganya?

Apakah bisa di katakan bermoral jika janji kesejahteraan dijadikan komoditas politik?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk kritik pembangkangan ataupun  pemberontakan. Ini hanya sebuah bentuk kepedulian, Karena diam terhadap ketimpangan berarti menyetujui ketidakadilan terus berlangsung.

Di tengah neraca yang retak, doa menjadi satu-satunya ruang yang tidak bisa diintervensi. Sujud menjadi bentuk keberanian paling sunyi dan Dalam bahasa teologi sosial, doa orang yang terzalimi bukan sekadar ibadah, melainkan gugatan moral terhadap sistem yang lalai akan penderitaan.

Kisah cerita ini tidak bermaksud menjadi provokasi, hanya sebagai pengingat bahwa keadilan bukan sekadar slogan dalam pidato, tetapi fondasi keberlangsungan bangsa. Karena  Tanpa keadilan, kesejahteraan hanyalah ilusi statistik dan Tanpa kesejahteraan, loyalitas perlahan berubah menjadi kekecewaan kolektif.

Jika suatu kebijakan tetap keruh, maka masyarakatlah yang akan terus menanggung dampaknya.

Doa di Tengah Timbangan yang Patah” menjadi simbol bahwa harapan belum habis dan kritik masih mungkin disampaikan dengan iman, serta keberanian bertanya merupakan bagian dari ibadah berpikir.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa lama kita berpuasa. Tapu Sejarah akan bertanya:

Apakah kita membiarkan neraca itu tetap retak, Atau kita bersatu dan berani memperbaikinya?

Semoga kisah cerita ini mejadi sebuah pertimbangan dalam perbaikan, bukan untuk merusak apalagi membiarkan ketidakadilan terus berjalan dan semoga ia menjadi pengingat bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada jabatan yang lebih tinggi dari keadilan.

 

Di Hadapan Neraca Retak

Tanpa terasa sudah Hari Keenam menjalani ibadah puasa dan waktu begitu berat Ketika Timbangan Keadilan Tidak Lagi Seimbang.

Dari Pagi terlihat hari begitu cerah, Cahaya matahari siang membakar aspal dan Waktu terasa lebih panjang dari biasanya.

Satria Perkasa dan rekan-rekan personil lapangan lainnya memasuki shif siang. Seragam melekat di tubuh yang menahan hawa panas. Setelah melaksanakan Apel, mereka melakukan Patroli wilayah yang di anggap rawan pelanggaran perda. Mereka berpatroli tanpa kompromi pada panas dan tanpa menunda pada kewajiban.

Di dalam mobil patroli, Cak IIP mengusap keringat yang mulai memenuhi wajahnya, “Puasa harusnya mejadi ibadah dengan menahan lapar, ya. Tapi yang lebih berat itu menahan rasa diperlakukan tidak setara.”

Semua yang ikut berpatroli tidak ada yang menjawab. Mereka tahu, itu bukan sekadar keluhan, tapi sebuah kesimpulan.

Terdengar suara Azan Ashar berkumandang dari masjid Asrama TNI Kodim yang tidak begitu jauh dari Pos Pantau. Lalu Mereka menuju masjid lalu berwudhu. Satria merasakan, Air terasa lebih sejuk dari biasanya.

Setelah Berwudhu, mereka berbaris Dalam saf yang rapi dan berdiri menghadap kiblat. Dalam sujud yang sama, mereka meletakkan dahi, walaupun beban di dada masing-masing tidak pernah benar-benar sama.

Usai melaksanakan sholat ashar, mereka duduk di teras masjid. Angin sore berembus pelan membawa kesejukan, lalu Bang Luky membuka percakapan, “Berat, tahun ini hidup terasa berat sekali ya…. Gaji tidak naik dan Tunjangan tidak berubah. Janji peningkatan tahun lalu tinggal janji dan Turunnya pun saja ditunda-tunda.”

Ia pun tertawa pahit.

“Sepertinya kita ini diciptakan untuk terus kuat dan hidup menderita.” Sela Kang Ibay, sambil menyandarkan punggungnya ke tembok masjid.

“Lucu ya, kita disebut pasukan lapangan dan garda terdepan menjaga lingkungan tetap tertib dan aman. Tapi lapangan itu seolah menjadi tempat menguji seberapa kuat kita diperas dan di tindas.” Tegas kang Ibay.

Sambil menatap lantai keramik, Satria berkata lirih, “Saya sampai sekarang belum menemukan logika berpikir dari para pemimpin kita.”

Semua personil lapangan mata tertuju padanya,

 

Lalu Ia melanjutkan, “Coba kita Sama-sama berpikir, bagaimana logika Pemimpin kota ini berjalan, Kita semua tahu, Untuk yang bekerja di Perusahaan industri mereka mendapatkan UMK sebesar Rp. 5.400.000., kemudian ASN PPPK paruh waktu sebesar Rp. 4.500.000. Sedangkan Kita ini?, hanya Rp. 2.500.000. Ditambah TPP RP. 300.000 dan Tukin Rp. 300.000, yang totalnya sebesar Rp. 3.100.000. Kita Paling Kecil tapi Tanggung jawab dan resiko paling besar”

Satria berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Padahal jam kerja dan waktu kerja kita tanpa jeda istirahat, dan Kegiatan lebih banyak serta Beresiko besar.”

Lalu Erdan menyela, “Lihat mereka yang ASN Paruh waktu bisa pulang semaunya. Sedangkan Kita? Apapun kegiatan dan perintah pun harus siap.”

Cak IIP mengangkat alisnya, lalu berkata pelan, “Apakah keadilan sekarang dihitung dari status, bukan dari beban kerja ya?”

Suasana kembali Sunyi…Pertanyaan itu pun menggantung seperti awan yang enggan hujan.

Bang Luky kembali berkata pelan, “Kalau keadilan hanya retorika para pimpinan pemilik kekuasaan, apakah kita sedang berpuasa di hadapan neraca yang retak itu?”

Kang Ibay pun mengangguk, lalu menjawab, “Dalam kajian filsafat, keadilan itu memberi sesuai porsi. Tapi berbeda di sini, beban dan resiko yang lebih besar, tetapi haknya lebih kecil. Itu bukan sekadar salah hitungan, tapi salah niat.”

Satria menghembuskan nafas berat sambil menatap langit sore dan berkata, “Ibadah Puasa itu melatih kita menahan diri, akan tetapi apakah pemimpin juga sedang berpuasa dari ego dan keserakahan?”

Erdan pun tersenyum getir, “Jangan-jangan yang berpuasa hanya kita, sedangkan yang lain terus berpesta di ruang rapat.”

Cak IIP kembali berbicara dengan suara lebih yang tajam, “Jika negara memiliki aturan dan memerintahkan rakyatnya taat, apakah negara juga wajib berlaku adil?”

Bang Luky sambil menatapnya, lalu berkata, “Jika kesejahteraan hanya untuk golongan tertentu, apakah itu masih bisa disebut pemerintahan yang berpihak dan menerapkan ajas keadilan menyeluruh?”

 

Satria menghela napas panjang, “Apakah kita ini pegawai pemerintah yang sah atau hanya angka dalam laporan serapan anggaran tahunan?”

Angin sore terus berhembus menciptakan suasana yang sejuk, Suara anak-anak bermain di sekitar area dalam masjid terdengar ramai.

Sebuab Ironi terasa begitu dekat dan begitu menyakitkan bagi para pegawai lapangan yang terus bekerja tanpa mengenal hari libur.

 

Ibadah Puasa dan Kesadaran

Suasana masjid yang mulai ramai anak-anak semakin menghangatkan suasana diskusi pegawai lapangan sambil Istirahat dan menunggu waktu untuk melanjutkan kegiatan patroli.

Satria kembali berkata pelan namun tegas, “Puasa bukan hanya ibadah menahan lapar. Tapi Ibadah Puasa merupakan kesadaran moral. Jika pemimpin tidak punya kesadaran itu, maka jabatan hanya menjadi topeng yang tidak memiliki makna.”

Bang Luky pun mengangguk, “Ketika kesejahteraan pegawai rendahan seperti kita ditunda-tunda, yang ditunda bukan sekadar angka. Tapi nafas kehidupan dan masa depan anak-anak kita.”

Kang Ibay pun berkata lirih, “Kadang saya bertanya, apakah kita sedang diuji oleh Tuhan sebagai pemilik takdir atau sedang diabaikan oleh manusia yang bernama pemimpin?”

Erdan yang sejak tadi hanya diam lalu berkata pelan, “Jika sebuah Kebijakan tanpa empati itu meruapakan kekerasan yang dilegalkan dan Ketika kerja keras tidak dihargai, yang mati bukan hanya motivasi, tetapi makna pengabdian itu sendiri.”

Cak IIP tersenyum getir sambil berkata, “Jika ibadah Puasa itu melatih lapar, tetapi ketidakadilan menciptakan kelaparan yang lebih dalam, sedangkan neraca keadilan retak, maka jangan salahkan rakyat bila kepercayaan ikut pecah. Negeri tidak membutuhkan pejabat yang pintar berbicara, tetapi yang berani menimbang dengan hati.”

Satria dan yang lainya lalu melangkah dan memakai kembali sepatu dinas lapangannya, mereka kembali melakukan tugasnya di pos pantau serta Patroli agar wilayah kota selalu dalam keadaan tertib dan tentram.

Mereka terus menghinbau anak jalanan  dan pengemis yang mulai menjamur memenuhi Lampu-lampu merah ketika bulan ramadhan dan menjelang hari raya. Entah siapa yang mengkoordir mereka, jika Beberapa orang yang membandel dan di tertibkan untuk di bina di Dinas sosial, maka ke esokan harinya akan bertambah lebih banyak lagi.

Mereka semua bekerja sambil menjalankan ibadah puasa, dengan menahan dahaga dan lapar karena perut kosong, Tetapi yang membuat dada mereka sesak adalah kosongnya rasa keadilan.

Di dalam mobil patroli, Satria berkata pelan, “Kita mungkin hanya bagian terkecil dalam struktur. Tapi jangan kecil dalam kesadaran.”

Bang Luky menatap ke depan, sambi mejawab “Jika suara kita tidak didengar hari ini oleh mereka yang memiliki kekuatan sekaligus kekuasaan, semoga sejarah akan mencatatnya besok.”

Cak IIP menutup percakapan dengan kalimat yang membuat semua personil patroli terdiam, “Puasa mengajarkan kita bahwa lapar itu sementara. Tapi Mendiamkan dan membiarkan ketidakadilan terus berlangsung… bisa menjadi dosa kolektif.”

Menjelang waktu Maghrib, Langit pun berubah jingga. Azan sebentar lagi berkumandang.

Satria memandang jam tangannya, “Waktu Berbuka nanti, mungkin hanya dengan air, gorengan dan rokok murah tanpa cukai. Tapi jangan pernah berbuka dengan jiwa yang pesimis apalagi menyerah.”

Mereka saling menatap dan tersenyum getir, Lelah karena terus bekerja, iya. Tapi Putus asa, tidak. Karena mereka semua sadar, “Ibadah Puasa di hadapan neraca retak bukan untuk melemahkan kita. Tetapi untuk menguatkan mental dan keberanian bertanya.”

Dan selama masih ada keberanian untuk bertanya, maka masih ada harapan untuk memperbaiki neraca itu. Bulan Ramadhan belum selesai, Ujiannya masih terus berlangsung Namun iman mereka harus terus tegak berdiri.

 

Epilog : Doa di Tengah Timbangan yang Patah

Langit Senja di hari ke enam bulan Ramadhan turun perlahan di kota madya. Empat personil masih menggunakan Seragam dinas lapangan yang sedikit kusut oleh keringat, serta wajah letih oleh panjangnya hari, tetapi sujud mereka tetap khusuk.

Melewati hari dengan patroli dan Penertiban tanpa kenal jeda, serta Laporan tetap harus diketik dan di kirim. Karena Kota tetap harus dijaga. Walaupun di dalam dada mereka, ada pertanyaan yang lebih nyaring dari suara kendaraan:

Apakah pengabdian yang tidak pernah mengenal libur akan selalu harus dibayar dengan ketimpangan dan ketidakadilan?

Timbangan kebijakan itu masih tergantung dalam bayangan. Satu sisi ringan dengan angka-angka kecil yang tidak pernah mencukupi kebutuhan keluarga, sisi lain berat dengan nominal yang terasa timpang. Retaknya bukan hanya pada besi, tetapi pada rasa keadilan.

Ibadah Puasa yang senantiasa mengajarkan lapar sebagai latihan empati. Tetapi ketika ketimpangan dan ketidakadilan menjadi sistemik dan perut yang lapar berubah menjadi simbol bahwa ada kebijakan yang belum selesai ditimbang dengan nurani.

Setelah sholat magrib berjamaah, salah satu dari mereka berbisik pelan, “Yang kami minta bukan keistimewaan, Hanya sebuah keadilan yang proporsional.”

 

Negara ini tidak berdiri hanya di atas regulasi. Tapi berdiri di atas kepercayaan. Ketika kebijakan tidak selaras dengan rasa keadilan, maka yang retak bukan hanya neraca, melainkan legitimasi moral.

Para pemangku kebijakan dan pembuat keputusan perlu memahami satu hal mendasar dalam teori tata kelola publik, kesejahteraan aparatur bukan sekadar belanja rutin, melainkan investasi stabilitas. Karena Ketimpangan yang dibiarkan bukan sekadar selisih angka, melainkan akumulasi kekecewaan, dan kekecewaan kolektif, bila terus diabaikan, tidak meledak dengan teriakan. Ia membeku dalam diam. Diam yang perlahan mengikis loyalitas dan yang menggerus semangat pelayanan.

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum muhasabah diri, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi institusi. Karena sesungguhnya, “Kebijakan yang adil tidak lahir dari kekuasaan yang kuat, tetapi dari hati yang mau mendengar semuanya dan Anggaran bisa disusun dengan kalkulator, tetapi keadilan hanya bisa ditimbang dengan nurani bersih.”

Kisah cerita ini tidak menawarkan revolusi, hanya menawarkan refleksi dan tidak mengajak melawan negara, hanya mengajak negara berdamai dengan prinsip keadilan yang menjadi fondasinya sendiri.

Sejarah selalu mencatat dua hal, Siapa yang bekerja dalam diam, dan siapa yang memilih untuk tidak mendengar.

Empat personil itu akhirnya berdiri, dengan Air putih membasahi tenggorokan yang seharian kering, serta Doa mereka sederhana, “Ya Tuhan, jika neraca itu belum seimbang di dunia, jangan biarkan hati kami ikut retak Dan tanpa keadilan di hadapanMU.”

Dan mungkin, doa itu bukan hanya milik mereka, tapi doa bagi siapa pun yang masih percaya bahwa keadilan bukan sekadar wacana, melainkan tanggung jawab.

Bulam Ramadhan akan berlalu dan kegiatan Patroli terus berjalan, serta Laporan akan tetap diketik dan di kirim,Tetapi pertanyaan ini akan selalu tertahan di dada masing-masing yang mengalami dampak ketidakadilan, Apakah kita akan membiarkan neraca ketidakadilan itu terus retak, Atau bersatu dan berani memperbaikinya sebelum kepercayaan benar-benar patah?

 

========BERSAMBUNG======

BACA JUGA :

 

KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah  Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094

 

KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//

 

KISAH KE – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : https://sidikpost.com/?p=129119

 

 

ARDHI MORSSE, SENIN 23 FEBRUARI 2026

 

 

 

 

Tindak Lanjuti Arahan Presiden RI, Polsek Benda Kompak Jaga Lingkungan Bersama 3 Pilar

SIDIKPOST| Tangerang – Semangat menjaga kebersihan dan lingkungan ditunjukkan jajaran Polsek Benda bersama TNI, pemerintah daerah, dan potensi masyarakat (Potmas), Jumat (20/2/2026) pagi.

Kegiatan yang dimulai dari pagi hari dan diawali dengan apel kesiapan di Lapangan Apel Polsek Benda, dipimpin langsung Kapolsek Benda AKP Sriyono, S.H., M.H. Selanjutnya, sebanyak 77 personel gabungan bergerak melakukan kerja bakti (korvey) di sepanjang Jalan Husein Sastra Negara, Kelurahan Benda, Kota Tangerang.

Personel yang terlibat berasal dari unsur Koramil 02 Batuceper, Polsek Benda, Polsek Batuceper, Polsek Neglasari, Trantib Kecamatan Benda, Satgas Kecamatan, ojek online kamtibmas, hingga unsur ormas.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI dalam rangka memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun sinergitas antar unsur di wilayah.

“Kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi juga bentuk nyata sinergi 3 Pilar dan potensi masyarakat. Kita ingin lingkungan bersih, nyaman, dan masyarakat merasakan langsung kehadiran TNI-Polri,” ujar Kombes Pol. Jauhari.

Ia menambahkan, melalui kegiatan seperti ini diharapkan tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan secara berkelanjutan.

“Kalau lingkungan bersih, masyarakat juga sehat dan nyaman. Ini tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah atau aparat,” tambahnya.

Selain menciptakan lingkungan yang lebih rapi di sepanjang Jalan Husein Sastra Negara, kegiatan ini juga semakin mempererat kebersamaan antara aparat dan masyarakat di wilayah hukum Polsek Benda.

Melalui program bapak Presiden diharapkan kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat terus terjalin demi menciptakan lingkungan yang aman, bersih, dan kondusif di Kota Tangerang.

Penulis : Anton Teef

Redaksi : Editor

100 Personel Gabungan Meriahkan Bang Jasri di Pinang, Wujud Kepedulian dan Kebersamaan

SIDIKPOST| Tangerang – Program Bang Jasri (Bhayangkara Jakarta ASRI) kembali digelar oleh Polres Metro Tangerang Kota. Kali ini kegiatan berlangsung di Masjid Nurul Haq, Kelurahan Pakojan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Senin (23/2/2026) sore.

Kegiatan yang dipimpin langsung Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., dan dihadiri Wakapolres, jajaran pejabat utama, Kapolsek Pinang, unsur TNI, Trantib, Satpol PP, Pokdar Kamtibmas, Garda Bird, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Sebanyak 100 personel gabungan dari unsur Polri, TNI, pemerintah daerah, dan potensi masyarakat terlibat dalam kegiatan tersebut. Rangkaian acara diawali dengan apel bersama, dilanjutkan kegiatan Bang Jasri, pembagian takjil kepada masyarakat, hingga penyerahan cinderamata dan foto bersama.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari mengatakan bahwa Bang Jasri merupakan bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya dalam momentum kebersamaan menjelang waktu berbuka puasa.

“Program Bang Jasri ini bukan hanya soal kegiatan seremonial, tapi bentuk kepedulian dan kebersamaan antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kita ingin terus memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan dan kebersihan lingkungan,” ujar Kombes Jauhari.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah Kota Tangerang.

“Keamanan tidak bisa dijaga sendiri. Perlu kerja sama semua pihak, termasuk tokoh agama dan masyarakat. Dengan kebersamaan seperti ini, insyaallah situasi tetap aman dan harmonis,” tambahnya.

Suasana kebersamaan terlihat hangat saat aparat dan warga berbaur membagikan takjil serta berdialog santai di lingkungan masjid.

Melalui kegiatan Bang Jasri, Polres Metro Tangerang Kota berharap hubungan antara aparat dan masyarakat semakin erat serta semangat menjaga lingkungan dan keamanan terus terbangun di wilayah hukum Kota Tangerang. (*)

Kapolres Kutai Kartanegara Sambut Tim Audit Itwasda Polda Kaltim

SIDIKPOST| Kukar – Kapolres Kutai Kartanegara, AKBP Khairul Basyar, menyambut langsung pelaksanaan Audit Kinerja Tahap I Tahun Anggaran 2026 oleh Tim Itwasda Polda Kaltim yang digelar pada Senin (23/2/2026) pukul 10.10 WITA di Ruang Catur Prasetya, Lantai III Mako Polres Kutai Kartanegara.

Audit yang berfokus pada aspek perencanaan dan pengorganisasian tersebut dipimpin oleh Ketua Tim, Kombes Pol Yudhi Suhariyadi, bersama sejumlah pemeriksa dari bidang operasional, SDM, garkeu, logistik, dan fungsi lainnya. Kegiatan ini turut dihadiri Wakapolres, para Kabag, Kasat, Kasi, Kapolsek jajaran, serta pejabat fungsi terkait.

Dalam sambutannya, Kapolres menegaskan bahwa audit kinerja merupakan bagian penting dari mekanisme pengawasan dan pengendalian internal guna memastikan seluruh perencanaan dan pengorganisasian di lingkungan Polres Kutai Kartanegara berjalan sesuai ketentuan serta prinsip akuntabilitas.

“Pelaksanaan audit ini bukan untuk dicemaskan, tetapi harus kita maknai sebagai momentum evaluasi dan perbaikan. Dengan perencanaan yang baik dan pengorganisasian yang tepat, maka pelaksanaan tugas operasional dan pelayanan kepada masyarakat akan berjalan optimal,” tegas Kapolres.

Ia juga menekankan kepada seluruh pejabat fungsi dan personel agar menyajikan data serta dokumen secara lengkap, akurat, dan terbuka. Setiap temuan maupun rekomendasi dari tim audit, lanjutnya, harus segera ditindaklanjuti sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan peningkatan kinerja organisasi.

Kapolres berharap melalui audit ini, Polres Kutai Kartanegara mampu terus meningkatkan kualitas tata kelola manajemen, profesionalisme personel, serta kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.

Sementara itu, Ketua Tim Audit menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan dengan sasaran evaluasi triwulan akhir tahun 2025. Audit difokuskan pada kesiapan perencanaan anggaran, kesesuaian struktur organisasi, peningkatan kinerja dan akuntabilitas, serta pencegahan penyimpangan dalam pengelolaan keuangan negara.

Tim audit kemudian melakukan pendalaman terhadap sejumlah bidang, di antaranya operasional, SDM, reskrim, garkeu, logistik, lalu lintas, intelkam, samapta, pengawasan, narkoba, polair, hingga tahti.

Hingga berita ini diturunkan, kegiatan audit masih berlangsung dalam situasi aman dan tertib. Kapolres menegaskan komitmennya untuk menjadikan hasil audit sebagai landasan penguatan manajemen organisasi yang presisi, transparan, dan bertanggung jawab di Polres Kutai Kartanegara. (*)