Sat Brimob Polda Kaltim Perkuat Pengamanan Liga 2 Antara Persiba Balikpapan Vs PSIS Semarang

SIDIKPOST | Balikpapan – Guna memastikan pelaksanaan pertandingan sepak bola berjalan aman, lancar, dan kondusif, Satuan Brimob Polda Kalimantan Timur melalui Batalyon C Pelopor melaksanakan pengamanan pada pertandingan lanjutan Pegadaian Championship Liga 2 musim 2025/2026 antara Persiba Balikpapan menghadapi PSIS Semarang, yang digelar di Stadion Batakan, Kota Balikpapan, Minggu (01/03/26).

Pengamanan dilakukan menyusul tingginya animo masyarakat dan suporter kedua tim yang memadati stadion. Untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas, personel Brimob diterjunkan guna mendukung pengamanan yang dilaksanakan bersama Polresta Balikpapan.

Sebanyak satu Satuan Setingkat Peleton (SST) personel Batalyon C Pelopor yang memiliki kemampuan khusus penanggulangan massa dilibatkan dalam kegiatan tersebut di bawah kendali Ipda Rifai Yusni. Selain itu, satu unit kendaraan taktis (rantis) juga disiagakan di sekitar area stadion sebagai langkah antisipatif terhadap situasi kontinjensi. Personel melaksanakan pengamanan secara menyeluruh, mulai dari area pintu masuk hingga pengawasan di dalam stadion demi menjamin keselamatan pemain, ofisial, dan penonton.

Secara terpisah, Komandan Satuan Brimob Polda Kaltim, Kombes Pol Andy Rifai, menyampaikan bahwa kehadiran Brimob dalam pengamanan pertandingan olahraga merupakan bagian dari komitmen Polri dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya pada kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

“Pengamanan ini kami laksanakan secara maksimal agar pertandingan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Kami ingin seluruh penonton dapat menikmati pertandingan sepak bola dengan nyaman,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kombes Pol Andy Rifai menghimbau kepada seluruh suporter agar tetap menjaga ketertiban serta menjunjung tinggi nilai sportivitas selama pertandingan berlangsung. Menurutnya, kedewasaan suporter menjadi faktor penting dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif.

“Rivalitas cukup di dalam lapangan. Mari kita jaga kebersamaan dan persaudaraan demi terciptanya suasana yang aman dan damai. Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan,” tutupnya. (*)

Humas Polda Kaltim

Kabur ke Lebak, Pelaku Curanmor Truk Colt Diesel Dibekuk Tim Opsnal Polsek Benda

SIDIKPOST | Kota Tangerang – Satuan Reskrim Polsek Benda berhasil membekuk seorang residivis pelaku pencurian kendaraan bermotor roda enam (R6) jenis Mitsubishi Colt Diesel yang beraksi di wilayah Kecamatan Benda, Kota Tangerang. Senin (2/3/2026).

Pengungkapan kasus tersebut dibenarkan oleh Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si.

Bahwa benar pelaku berinisial T.K. (31) ditangkap pada Sabtu (28/2/2026) di wilayah Kabupaten Lebak, Banten, setelah tim opsnal melakukan pengembangan dari laporan kehilangan kendaraan Colt Diesel senilai Rp150 juta.

“Pelaku ini merupakan residivis kasus curanmor yang pernah menjalani hukuman di Lapas Rangkasbitung tahun 2016. Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengakui telah melakukan pencurian mobil sebanyak dua kali,” tegas Kombes Pol. Jauhari dalam keterangannya.

Kapolres mengungkapkan, dalam aksi pencurian kendaraan, pelaku berupaya menghilangkan jejak dengan mengubah warna bak belakang menggunakan pilox warna hitam serta memasang pelat nomor palsu. Pelat nomor asli disembunyikan di dalam kendaraan.

“Modus pelaku adalah mencuri kendaraan pada dini hari, kemudian membawa ke luar kota untuk dijual. Kendaraan diubah tampilannya agar sulit dikenali pemilik maupun petugas,” jelasnya.

Dalam penangkapan tersebut, Unit Reskrim Polsek Benda mengamankan barang bukti berupa satu unit Mitsubishi Colt Diesel tahun 2007, sebilah golok yang digunakan saat beraksi, pelat nomor asli dan palsu, enam kaleng pilox, serta lem perekat pelat nomor.

Kapolsek Benda AKP Sriyono menambahkan, pelaku tidak beraksi sendiri. Berdasarkan hasil pengembangan, terdapat dua orang rekan pelaku yang kini telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) yaitu saudara IA dan R.

“Kami masih melakukan pengejaran terhadap dua pelaku lainnya. Tidak ada ruang bagi pelaku kejahatan di wilayah hukum Polsek Benda. Kami akan tindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” tegas Kapolsek.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan:
Pasal 477 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.

Apabila dalam proses penyidikan ditemukan unsur pemberatan lain atau keterlibatan jaringan, penyidik tidak menutup kemungkinan penerapan pasal tambahan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Kapolres juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam memarkir kendaraan operasional bernilai tinggi.

“Kami mengajak masyarakat untuk menggunakan pengaman tambahan dan segera melapor ke call center kami di layanan 110 apabila menemukan aktivitas mencurigakan. Keamanan adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.

 

Penulis : Antoon Teef

Editor : Redaksi

Pastikan Ibadah Minggu Khidmat, Pampta Polres Kukar Gelar Patroli Dialogis di Sejumlah Gereja

SIDIKPOST| Kukar – Guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah, jajaran Polres Kutai Kartanegara melalui Satuan Samapta melaksanakan pengamanan dan patroli dialogis di sejumlah gereja di wilayah Kecamatan Tenggarong, Minggu (01/03/2026).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Pamapta III Polres Kukar, IPDA Muhammad Safri, dengan menerjunkan personel Sat Samapta untuk menyisir beberapa titik rumah ibadah di sepanjang Jalan Maduningrat.

Adapun sasaran pengamanan meliputi Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI) Jemaat Filadelfia, Gereja Protestan Di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Efata, Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), serta Gereja Katolik Paroki Santo Pius X Tenggarong.

IPDA Muhammad Safri menyampaikan bahwa kehadiran Polri di lokasi ibadah bertujuan untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas serta menjamin kekhusyukan umat kristiani dalam menjalankan ibadahnya.

“Kami hadir bukan hanya untuk berjaga, tetapi juga berdialog langsung dengan pengurus gereja dan para jemaat. Kami ingin memastikan bahwa seluruh rangkaian ibadah Minggu berjalan tanpa rasa khawatir,” ujar IPDA Muhammad Safri di sela-sela kegiatannya.

Selain melakukan pengamanan di area pintu masuk dan parkir, petugas juga menyampaikan imbauan kamtibmas kepada panitia pelaksana. Polri mengajak seluruh pengurus gereja untuk tetap waspada terhadap lingkungan sekitar dan segera berkoordinasi dengan petugas jika menemukan hal-hal yang mencurigakan.

Pendekatan humanis yang dilakukan personel Polres Kukar ini mendapat apresiasi positif dari para jemaat. Kehadiran polisi di lapangan dinilai sangat membantu dalam menciptakan suasana kondusif di tengah mobilitas warga pada hari libur.

Hingga seluruh rangkaian ibadah selesai, situasi di kawasan Jalan Maduningrat terpantau aman, tertib, dan kondusif. Kegiatan rutin ini merupakan wujud nyata komitmen Polres Kutai Kartanegara dalam menjaga toleransi dan keamanan antarumat beragama di wilayah hukum Kutai Kartanegara. (*)

Kota Tangerang Kian Maju di Usia ke-33, Kepemimpinan Sachrudin–Maryono Catatkan Berbagai Capaian Strategis

SIDIKPOST| kota Tangerang -;Kota Tangerang Kian Maju di Usia ke-33, Kepemimpinan Sachrudin–Maryono Catatkan Berbagai Capaian Strategis
Kota Tangerang memasuki usia ke-33 dengan deretan capaian pembangunan yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan di Provinsi Banten.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Tangerang H. Sachrudin dan Wakil Wali Kota Tangerang H. Maryono, berbagai indikator pembangunan menunjukkan tren positif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Salah satu capaian paling menonjol adalah kontribusi signifikan Kota Tangerang terhadap realisasi investasi Provinsi Banten yang mencapai Rp130 triliun. Kota Tangerang menjadi salah satu penyumbang terbesar, mencerminkan kuatnya daya saing daerah serta tingginya kepercayaan investor terhadap iklim usaha yang kondusif.

Keberhasilan ini tak lepas dari kebijakan pemerintah kota dalam menciptakan kemudahan perizinan, stabilitas wilayah, serta dukungan infrastruktur yang memadai.

Secara geografis yang strategis sebagai gerbang utama berbatasan langsung dengan Jakarta, Kota Tangerang berhasil memaksimalkan posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Pertumbuhan ekonomi kota tetap terjaga positif dan inklusif, sejalan dengan visi pembangunan yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama.

Di bidang pembangunan manusia, kepemimpinan Sachrudin–Maryono juga berfokus pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan layanan pendidikan, kesehatan, serta berbagai program sosial yang mendorong peningkatan kualitas hidup warga.

Semangat “Bersama Membangun Kota” dan “Melayani Tiada Henti” menjadi landasan dalam memastikan setiap program benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kolaborasi yang erat dengan Pemerintah Provinsi Banten turut mempercepat berbagai agenda pembangunan strategis. Sinergi ini memperkuat posisi Kota Tangerang sebagai kota maju, berdaya saing, dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan regional.

Memasuki usia ke-33, Kota Tangerang tidak hanya mencatatkan keberhasilan dalam angka-angka pembangunan, tetapi juga memperlihatkan konsistensi kepemimpinan yang adaptif dan responsif terhadap tantangan.

Capaian-capaian tersebut menjadi bukti bahwa di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Sachrudin dan Wakil Wali Kota H. Maryono, Kota Tangerang terus melangkah mantap menuju kota yang semakin maju dan sejahtera. ( ADV)

Teriakan Korban Berbuah Penangkapan, Tim Opsnal Polsek Pinang Bekuk Pelaku Curanmor

SIDIKPOST | Tangerang – Unit Reskrim Polsek Pinang berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan (curanmor) roda dua dan mengamankan dua orang pelaku beserta sejumlah barang bukti sepeda motor hasil kejahatan. Minggu (01/03/2026).

Pengungkapan tersebut merupakan bagian dari penanganan laporan polisi yang masuk sepanjang Januari hingga Februari 2026, dengan lokasi kejadian di wilayah Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, membenarkan penangkapan tersebut dan menyampaikan bahwa keberhasilan ini berawal dari patroli cipta kondisi (cipkon) yang dilakukan jajaran Polsek Pinang. Peristiwa terakhir terjadi pada Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 03.20 WIB di kawasan Panunggangan Utara.

Kapolsek Pinang Iptu Adityo Wijanarko menjelaskan Saat itu korban memarkirkan sepeda motor Honda Beat miliknya di halaman rumah dalam keadaan terkunci stang. Ketika waktu sahur, korban mendengar suara mencurigakan dari teras rumah dan mendapati seseorang tengah mencoba membawa kabur sepeda motornya.

“Korban spontan berteriak “maling”, yang kemudian terdengar oleh Tim Opsnal Polsek Pinang yang sedang melaksanakan patroli antisipasi 3C (curas, curat, curanmor) dan gangguan kamtibmas. Petugas langsung melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan satu pelaku di lokasi.” Jelasnya.

Dari hasil interogasi dan pengembangan yang dipimpin Kanit Reskrim Polsek Pinang, petugas bergerak ke wilayah Cisoka dan berhasil mengamankan satu pelaku lainnya beserta lima unit sepeda motor berbagai merek yang diduga hasil tindak pidana.

Kedua pelaku yang diamankan berinisial M (30) dan R (38), yang diketahui berprofesi sebagai buruh harian lepas. Saat ini keduanya telah diamankan di Polsek Pinang, pelaku dikenakan Pasal 477 UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru) tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan (curat) dengan ancaman pidana penjara maksimal 7-9 tahun.

Selain 6 unit sepeda motor berbagai merek, polisi juga menyita sejumlah alat yang digunakan untuk melakukan aksi kejahatan, di antaranya kunci letter T yang telah dimodifikasi, kunci letter L, obeng, serta dua mesin gerinda yang diduga digunakan untuk membuat anak kunci modifikasi.

Kapolres menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan jaringan dan lokasi kejadian lainnya.

“Kami tidak akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan jalanan, khususnya curanmor yang meresahkan masyarakat. Patroli rutin dan tindakan tegas akan terus kami lakukan demi menjaga keamanan wilayah,” tegasnya.

Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif, serta menelusuri kemungkinan adanya TKP lain yang berkaitan dengan kedua pelaku.

Polres Metro Tangerang Kota mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, menggunakan kunci ganda saat memarkir kendaraan, serta segera melapor ke call center 110 apabila melihat atau mengalami tindak kejahatan.

Penulis : Anton Teef

Redaksi : editor

Kisah Rohani Petugas Lapangan Bagian Ke Lima : Mengadu Pada Langit (Sujud Yang Menggugat Kebijakan)

Epilog

Di kota Industri yang menyebut dirinya sebagai penyangga ibu kota yang maju, pertumbuhan ekonomi terus berkembang dan diukur dengan angka masuknya investasi dan pembangunan-pembangunan yang terus bertambah. Lampu-lampu jalan menyala terang menghiasai suasana malam, lalu lintas diatur kendaraan yang tidak pernah sepi, dan ketertiban yang terus dijaga oleh aparat yang terus berpatroli tanpa mengenal waktu di bawah panas dan hujan. Kota industri terlihat hidup, teratur, rapih dan terkendali.

Diantar kesibukan kota industri, ada pertanyaan yang jarang terdengar di ruang-ruang rapat pemerintahan, bagaimana kehidupan mereka sebagai petugas lapangan golongan rendah yang menjaga kota itu setiap hari?

Apakah kesejahteraan hanya sebuah angka statistik yang sering di manipulasi atau juga milik manusia yang berdiri di balik seragam negara?

Bagaimana mungkin sebuah kota menetapkan standar upah minimum bagi pekerja swasta, tetapi membiarkan aparaturnya sendiri hidup jauh di bawah standar itu? Apakah keadilan hanya berlaku untuk yang berada disektor industri, tetapi berhenti dan tidak menyentuh kesejahteraan petugas lapangan?

Mengapa pegawai lapangan yang dituntut disiplin dan loyalitas justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi bahkan hanya penderitaan yang selalu di terima?

Mengapa aparat yang menjaga ketertiban masyarakat harus pulang dengan kegelisahan dan kebingungan memikirkan kebutuhan keluarga?

Mengapa ada pegawai lapangan yang malu pulang ke rumah karena belum mampu membayar kontrakan?

Mengapa ada yang kehilangan bantuan sosial setelah diangkat menjadi ASN, padahal kehidupannya justru semakin sulit bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya?

Lebih jauh lagi, mengapa kebijakan pemimpin kota madya terasa begitu jauh dari kenyataan hidup pegawai lapangan?

Apakah para pemimpin benar-benar tidak tahu, atau sekadar memilih untuk tidak melihat kondisi kehidupan pegawainya?

Apakah laporan kesejahteraan pegawai hanya berhenti di atas meja birokrasi tanpa pernah menyentuh hati para pengambil keputusan?

Berapa banyak aparat yang harus jatuh sakit tanpa perlindungan dan bantuan yang layak sebelum persoalan ini dianggap serius?

Berapa banyak keluarga pegawai lapangan yang harus retak sebelum kebijakan dianggap perlu diperbaiki?

Berapa banyak pegawai yang harus kehilangan harapan sebelum negara menyadari bahwa pengabdian tanpa keadilan merupakan beban yang terlalu berat untuk dipikul manusia biasa?

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi waktu perenungan tentang keadilan dan kepedulian. Tetapi bagi sebagian aparat lapangan, bulan suci justru menjadi waktu ketika kegelisahan terasa lebih nyata, Di antara doa dan sujud, mereka tidak hanya meminta kekuatan untuk beribadah, tetapi juga memohon jalan keluar dan kebijakan adil dari tekanan hidup yang semakin sempit.

Cerita dalam Kisah ini bukan sekadar tentang kesulitan ekonomi atau beban pekerjaan. Ia menjadi evaluasi dan gambaran dari pertanyaan yang lebih besar tentang tanggung jawab negara terhadap aparaturnya sendiri dan menjadi saksi nyata tentang bagaimana kebijakan yang tidak adil dapat menjelma menjadi penderitaan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab adalah ini:

Jika aparat yang menjaga ketertiban kota madya saja harus mengadu kepada langit karena tidak lagi menemukan keadilan di bumi, lalu kepada siapa sebenarnya mereka harus berharap?

 

Kebijakan Yang Menciptakan Penderitaan

Tanpa Terasa Sudah berjalan Hari kesembilan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan kegiatan rutin terasa seperti beban yang perlahan menekan dan menyesakkan dada.

Matahari begitu menyengat dan Suhu terasa begitu panas di Kota Industri. Panasnya menyengat laksana palu yang memukul ubin jalanan. Seragam dinas lapangan yang dikenakan olen Satria Perkasa bersama rekan-rekan seprofesi diantaranya Kang Ibay, Cak IIP, Erdan, Bang Luky, Yoga, Ahmad Aris, dan Abien sudah basah oleh keringat bahkan sebelum waktu Zuhur berlalu.

Mereka baru saja selesai melaksanakan tugas rutin berpatroli di kawasan pasar tumpah, Lalu berlanjut ke penertiban anak jalanan, dan Setelah itu PAM di lampu merah besar yang tidak pernah benar-benar sepi.

Mereka Menjalankan tugas Tidak ada yang mengeluh keras, Tapi wajah-wajah mereka seperti kertas kusut.

Terdengar Azan Ashar berkumpul lalu mereka bersama-sama menuju mushola kecil pinggir jalan untuk melaksanakan sholat dan beristirahat. Selepas sholat Ashar mereka duduk bersila di teras muhola dan menyender di tembok sambil merasakan Angin dan hawa panas kota madya.

Tiba-tiba Bang Luky membuka percakapan, “Kalian dengar kabar dari personil lapangan regu tiga?”

Semua yang sedang duduk menoleh, “Si Bondan… katanya semalam mencoba bunuh diri.”

Suasana jadi hening dan Sunyi.

Lalu Yoga bertanya lirih, “Memangnya Kenapa bang?”

Bang Luky pun menghela napas panjang, “Istrinya pergi dan Anaknya dibawa. Katanya dia sudah tidak sanggup lagi hidup serba kekurangan sama bondan.”

Semua kembali diam dan ada yang berani bicara beberapa saat.

Kang Ibay menatap lantai sambil berkata, “Kadang sistem pemerintah tidak membunuh kita sekaligus,” katanya pelan, “Tapi memotong dan membunuh hidup kita sedikit] demi sedikit.”

Erdan mengangguk, lalu berkata pelan, “Karl Marx pernah bilang, Sistem yang tidak adil akan membuat manusia terasing dari hidupnya sendiri.”

Kemudian Ia menatap teman-temannya…

“Mungkin itu yang terjadi pada kita saan ini.” Jelasnya pelan.

Abien menyandarkan punggungnya ke dinding mushola, lalu berkata, “Ada juga Personil dari yang sekarang tidur pindah-pindah dari masjid ke masjid,” katanya pelan.

Lalu Satria menoleh dengan cepat,“Siapa Bang?”

“Danil dari regu Dua. Katanya Mau pulang malu, karena Kontrakannya udah nunggak tiga bulan.” Jawab Abien pelan.

Aris pun menunduk, “Personil lapangan ASN pula, tapi tidur dari masjid ke masjid.”

Ia pun tersenyum pahit, lalu berkata, “Negara memberi kita seragam dan tanggung jawab besar, Tapi tidak memberi kita tempat pulang.”

Suasana di teras masjidpun kembali Sunyi…

Lalu Cak IIP berkata pelan, “Antonio Gramsci mengatakan bahwa kekuasaan sering bertahan bukan karena kekuatan, tapi karena orang-orang kecil dipaksa menerima keadaan sebagai hal biasa.”

Ia menatap pinggir jalan dengan tatapan jauh, lalu berkata lirih, “Kita dipaksa menganggap penderitaan ini normal.”

Yoga pun menyambung dan berkata lirih, “Kalian tahu kan, senior kita Pak Saman yang meninggal bulan lalu?”

Semua pun mengangguk, “Sampai sekarang keluarganya belum dapat bantuan dari pemeriksaan.” Jelasnya Pelan.

Bang Luky pun menghela napasnya, “Bahkan gajinya masih dipotong karena dianggap tidak masuk, padahal dia ijin karena berobat sakit.”

Bhumi sedang Ijin dan tidak ada hari itu. Tapi seandainya ia ada, mungkin akan mengatakan sesuatu tentang angka.

Satria hanya menggenggam lututnya dan berkata, “Orang sakit hingga mati pun masih ditagih kehadirannya.”

Kang Ibay pun berkata pelan, “Negara ini kadang seperti mesin absensi, yang tidak hadir dianggap tidak ada, Bahkan kalau dia sudah mati sekalianpun.”

 

Kebijakan yang Membunuh Tanpa Pisau

Lalu Satria berbicara pelan namun dalam, “Kita ini bukan korban pekerjan, Tetapi Kita korban kebijakan Pemimpin kota yang jauh dari Adil apalagi mensejahterakan.”

Erdan pun mengangguk, lalu berkata pelan, “Kebijakan seorang pemimpin yang tidak adil itu seperti racun tanpa warna.”

Lalu Cak IIP menambahkan, “Pemimpin sering bicara stabilitas atas Pembagian anggaran, Tapi stabilitas rumah tangga kita semakin hari runtuh satu persatu.”

Bang pun Luky berkata lirih, “Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa manusia dihukum untuk bebas. Tapi kita bahkan tidak bebas dari kemiskinan yang diciptakan oleh hukum kebijakan pimpinan.”

Yoga memegangi kepalanya. “Anak saya sejak semalam demam tinggi,” katanya lirih.

Satria menoleh dan berkata, “Apa Sudah di bawa ke dokter?”

Yoga menggeleng, “Belum ada uang, bang.”

Kata-kata itu seperti jatuh pelan tapi menghancurkan.

“Lucu ya. Aparat negara yang menjaga kota industri tidak mampu membeli obat.” Jawab Satria lirih, kemudian Ia berdiri sambil berkata, “Kita jangan diam. Diam Tidak merubah apapun yang kita hadapi hari ini, Che Guevara pernah berkata, ‘Jika kamu gemetar melihat ketidakadilan, maka kamu adalah kawan seperjuanganku’.”

Lalu Bang Luky berkata lirih, “Masalahnya kita Diam dan gemetar bukan cuma karena marah… tapi juga karena takut.”

Satria menatap mereka satu per satu, kemudian berkata pelan, “Kita semua boleh takut. Tapi jangan pernah berhenti bersujud.”

Suasana kembali hening, semua terdiam dan membenarkan apa yang baru saja di sampaikan satria.

Waku Maghrib dan berbuka hampir tiba. Langit berwarna merah tua seperti luka yang belum sembuh. Tidak berselang lama, suara Azan pun berkumandang, mereka mengucapkan syukur Alhamdulillah karena mampu melewati puasa hari ini dengan baik, lalu mereka berbuka puasa bersama-sama.

Setelah berbuka seadanya, mereka pun menuju tempat berwudhu samping mushola dan melaksanakan sholat magrib berjamaah.

Satu per satu mereka berdiri dalam sholat yang khusuk, Tidak ada pidato, rapat apalagi laporan kegiatan. Hanya sujud, Sujud yang panjang, berat, penuh luka Sekaligus Sujud yang menggugat langit.

Sujud Satria belum berakhir, keningnya masih menempel pada sajadah tipis yang mulai basah oleh air mata. Nafasnya berat, seperti memikul sesuatu yang tidak terlihat tapi nyata menekan sekaligus menyesakkan dada.

Di belakangnya kang Ibay, Cak IIP, Erdan, Bang Luky, Yoga, Aris, dan Abien masih terdiam dalam sujud masing-masing. Di Mushola kecil itu sunyi, hanya terdengar suara kipas tua yang berderit pelan dan detak jam dinding yang seperti menghitung kesabaran mereka satu per satu.

Satria berbisik lirih, hampir seperti desah yang pecah dari dada yang lama menahan,

“Ya Allah… Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan di balik seragam ini…”

Air matanya jatuh semakin deras….

“Orang melihat kami berdiri tegak di jalan-jalan… tapi Engkau tahu betapa sering kami pulang dengan langkah gemetar karena memikirkan beras yang hampir habis…”

Sujudnya semakin dalam…

“Ya Allah… jika kesabaran ini merupakan ujian dari cintaMU… maka kuatkanlah kami… karena kami mulai lelah…”

Tangannya menggenggam sajadah…

“Anak-anak kami tidak mengerti apa itu kebijakan… mereka hanya tahu ayahnya pulang atau tidak… membawa makanan atau tidak…”

Suaranya pecah….

“Istri-istri kami tidak meminta kemewahan… mereka hanya ingin dapur tetap menyala…”

Hening panjang…

Lalu ia berbisik lagi.

“Ya Allah… ada di antara kami yang kehilangan keluarganya karena kemiskinan… ada yang tidur berpindah-pindah masjid… ada yang malu pulang karena tak mampu membayar kontrakan…”

Suaranya bergetar semakin dalam…

“Ya Allah… kami bukan pemberontak… kami hanya orang kecil yang mencoba bertahan…”

Air mata mengalir tanpa tertahan…

“Jika suara kami tidak sampai kepada pemimpin… maka biarlah ia sampai kepada-Mu…”

Sujudnya semakin lama…

“Ya Allah… Engkau Maha Adil… sementara dunia ini sering tidak…”

Nafasnya terputus-putus…

“Jika kebijakan manusia menutup pintu rezeki kami… maka bukakanlah pintu-Mu…”

Beberapa orang di belakangnya mulai terisak…

Yoga mengusap matanya, Aris menunduk dalam dan Abien menggigit bibirnya agar tidak menangis keras.

Satria melanjutkan dengan suara yang hampir habis…

“Ya Allah… jangan Engkau uji kami dengan keputusasaan…”

Ia berhenti sejenak….Suaranya hampir hilang.

“Karena ada di antara saudara kami… yang sudah tidak sanggup lagi bertahan…”

Air mata menetes jatuh seperti hujan kecil…

“Ya Allah… jangan biarkan anak-anak kami memandang ayahnya sebagai orang yang gagal…”

Tangannya gemetar…

“Jangan biarkan keluarga kami hancur karena pengabdian yang tidak dihargai…”

Ia menarik napas panjang yang berat…

“Jika perjuangan ini adalah ibadah… maka terimalah…”

Sunyi panjang….

Lalu kalimat terakhir keluar seperti luka yang akhirnya pecah….

“Ya Allah… kami menjaga kota ini setiap hari…”

Air matanya jatuh deras….

“Tapi malam ini… kami mohon… Engkau saja yang menjaga kami…”

Tangis  pun pecah di mushola kecil itu. Tidak ada yang bersuara keras. Tapi bahu-bahu mereka bergetar…

Sujud malam itu bukan hanya ibadah. Itu merupakan jeritan yang tidak pernah masuk laporan kegiatan dan itulah doa orang-orang yang hampir patah, tetapi masih percaya Tuhan tidak tidur.

Malam itu, di bawah langit Ramadhan yang sunyi, Air mata mereka mengalir lebih deras daripada kata-kata, karena kadang-kadang, Iman terakhir manusia bukan lagi pada sistem, Melainkan pada Tuhan yang masih mau mendengar.

 

Epilog

Ibadah Puasa bulan Ramadhan tahun ini terus berjalan menuju malam-malam yang semakin sunyi. Kota Industri tetap berdenyut seperti biasa, kendaraan memadati jalan dan melintas tanpa henti, lampu merah berganti warna dengan disiplin, baliho-baliho pemimpin tetap berdiri tegak menjanjikan kesejahteraan.

Tidak ada yang berubah sama sekali di permukaan. Tetapi di balik seragam-seragam yang mulai kusam oleh matahari dan hujan, ada jiwa-jiwa yang perlahan belajar menerima kenyataan dengan cara yang paling berat, mereka tetap mengabdi sambil menahan luka.

Satria Perkasa berdiri lama di depan mushola kecil malam itu setelah semua pulang dan Lampu neon bergetar redup. Jalanan mulai sepi. Ia memandang sajadah yang masih basah oleh air matanya.

Di tempat itulah ia menyadari sesuatu yang pahit sekaligus jernih, bahwa orang-orang kecil sering kali harus menjadi kuat bukan karena pilihan, melainkan karena tidak ada jalan lain.

Ia teringat wajah anaknya yang demam, suara istrinya yang berusaha tetap tegar, rekan kerjanya yang tidur berpindah-pindah masjid, anggota senior meninggal tanpa bantuan bahkan ketika masih hidup, gajinya pun tetap dipotong walaupun ijin sakit.

Dan perlahan ia mengerti, ketidakadilan tidak selalu datang dengan wajah marah. Kadang ia datang dengan wajah resmi, Dengan tanda tangan pejabat dalam bahasa kebijakan menggunakan bahasa istilah efisiensi. Kezaliman modern sering tidak berteriak, ia hanya diam sambil bekerja.

Cak IIP pernah berkata, “Negara tidak runtuh karena musuhnya kuat, tetapi karena ia lupa kepada orang-orang kecil yang menopangnya.”

Kalimat itu terngiang kembali di kepala Satria, karena sesungguhnya kota itu berdiri bukan hanya karena gedung-gedungnya, tetapi karena orang-orang yang menjaganya setiap hari.

Namun orang-orang kecil selalu punya cara bertahan yang tidak dimiliki kekuasaan, mereka masih punya iman dan dalam kelelahan yang hampir mematahkan punggung mereka, mereka masih menemukan jalan pulang kepada Tuhan.

Mereka tetap berpuasa walau tubuh lemah, tetap berjaga walau hati resah dan tetap sujud walau dunia terasa sempit. Karena mereka percaya satu hal yang tidak pernah tertulis dalam peraturan apa pun, “keadilan manusia boleh terlambat, tetapi keadilan Tuhan tidak pernah salah alamat.”

Cerita dari kisah ini bukan hanya tentang kesabaran. Kisah ini merupakan sebuah Cermin bagi para pemimpin yang duduk di ruang berpendingin udara.

Cermin bagi pejabat yang menandatangani kebijakan tanpa melihat akibatnya.

Cermin bagi lembaga-lembaga yang berbicara tentang pelayanan publik tanpa pernah berdiri di bawah terik matahari.

Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah dan amanah bukan hanya soal program dan laporan, tetapi tentang kehidupan manusia yang dititipkan di bawahnya.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan Kita semua, “bahwa Setiap pemimpin adalah pemelihara, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipeliharanya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi berat Sekaligus dalam, Karena di akhirat kelak, mungkin tidak akan ada pertanyaan tentang baliho yang berdiri megah. Tetapi akan ada pertanyaan tentang:

berapa aparat yang menangis diam-diam,

berapa keluarga yang hidup dalam kekurangan,

berapa pegawai yang sakit tanpa perlindungan,

dan berapa yang putus asa tanpa pernah didengar.

Satria akhirnya melangkah pulang malam itu. Langkahnya pelan. Namun tidak lagi seberat sebelumnya, karena ia tahu satu hal, “suara yang tidak didengar manusia masih bisa didengar Tuhan dan mungkin sejarah selalu dimulai dari orang-orang kecil yang tetap berdiri ketika keadilan belum datang.”

Di Kota Industri itu, mereka tetap bertugas, berpatroli dan berjaga. Bukan karena semuanya sudah adil, tetapi karena mereka masih percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan dan selama mereka masih bisa berdiri di atas sajadah, masih bisa mengangkat tangan dalam doa, masih bisa berkata “Ya Allah” dengan hati yang jujur, maka harapan belum mati. Namun kisah ini meninggalkan satu peringatan yang tidak bisa diabaikan:

Tidak ada kota yang benar-benar sejahtera jika aparat yang menjaganya hidup dalam penderitaan dan tidak ada kekuasaan yang benar-benar aman jika doa orang-orang yang terzalimi terus naik ke langit setiap malam. Karena ketika sujud telah berubah menjadi gugatan, maka sejarah biasanya sedang menunggu waktunya untuk berbicara.

 

======= BERSAMBUNG=====

BACA JUGA :

 

KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah  Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094

 

KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//

 

KISAH KE – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : https://sidikpost.com/?p=129119

 

KISAH KE – 4 : Puasa Di Antara Neraca Retak (Doa di Tengah Timbangan yang Patah) https://sidikpost.com/?p=129149

 

ARDHI MORSSE, JUMAT 27 FEBRUARI 2026

Menuju MUNAS IV, PERADI Jakarta Barat Siap Kawal Pemilihan Berbasis E-Voting

SIDIKPOST| JAKARTA — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Jakarta Barat dari Perhimpunan Advokat Indonesia Rumah Bersama Advokat (PERADI RBA) menggelar Rapat Anggota Cabang (RAC) sebagai bagian dari rangkaian persiapan Musyawarah Nasional (MUNAS) IV yang dijadwalkan berlangsung pada 25 April 2026 mendatang.

RAC dilaksanakan pada Jum,at (27/2/2026) di Eatime Stories, Jakarta Barat, sesuai dengan ketentuan Panitia MUNAS IV sebagaimana tertuang dalam Surat Nomor 043/SK–PANITIA MUNAS/XII/2025, yang menetapkan pelaksanaan RAC di seluruh cabang dalam periode 10 Januari hingga 28 Februari 2026.

Ketua DPC PERADI RBA Jakarta Barat, Parulian Nadeak, menegaskan bahwa MUNAS IV merupakan momentum penting dalam meneguhkan prinsip demokrasi di tubuh organisasi advokat.

“DPC PERADI Jakarta Barat berkomitmen mendukung penuh terselenggaranya MUNAS IV secara demokratis, transparan, dan bermartabat guna menghasilkan Ketua Umum yang mampu menjaga marwah serta memperkuat organisasi,” ujarnya, Sabtu (28/02).

RAC kali ini juga dirangkaikan dengan kegiatan buka puasa bersama, mengingat pelaksanaannya bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ketua Panitia Pengarah, Nia Rosalina, menyampaikan bahwa momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi sekaligus merumuskan usulan perbaikan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang akan dibawa dalam forum MUNAS.

MUNAS IV PERADI akan menggunakan mekanisme One Member One Vote (OMOV) berbasis e-voting. Seluruh anggota yang tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) akan menggunakan hak pilihnya secara langsung melalui sistem elektronik yang telah diverifikasi.

Model ini dinilai sebagai bentuk adaptasi organisasi terhadap perkembangan teknologi sekaligus upaya menjamin transparansi dan akuntabilitas proses pemilihan.

Berdasarkan Surat Pemberitahuan Nomor 044/SK–PANITIA MUNAS/I/2026, terdapat dua bakal calon Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERADI yang telah memenuhi persyaratan administrasi, yakni Ahmad Fikri Assegaf dan B. Halomoan Sianturi.

Dalam RAC tersebut, Halomoan B. Sianturi hadir secara langsung untuk memaparkan visi dan misinya. Ia menekankan pentingnya sosialisasi Kemenkumham PERADI RBA, serta komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas organisasi.

Sementara itu, Ahmad Fikri Assegaf diwakili oleh Fredrik J. Pinakunary yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya RAC. Ia juga menginformasikan bahwa sesi pemaparan visi, misi, dan tanya jawab bersama Ahmad Fikri Assegaf akan dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri.

Setelah melalui tahapan musyawarah anggota, DPC PERADI Jakarta Barat secara resmi menyatakan dukungan kepada Halomoan B. Sianturi sebagai calon Ketua Umum DPN PERADI pada MUNAS IV.

Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, serta komitmen terhadap penguatan organisasi dan independensi profesi advokat. Meski demikian, cabang menegaskan bahwa dukungan ini merupakan sikap kelembagaan yang tidak mengurangi hak setiap anggota untuk menentukan pilihannya secara langsung melalui mekanisme OMOV.

Sekretaris DPC PERADI Jakarta Barat, Ericson Tua Sianturi, menekankan bahwa aspek etika dan integritas menjadi perhatian utama dalam seluruh tahapan MUNAS.

“Kami menekankan pentingnya menjaga etika profesi, soliditas organisasi, dan independensi cabang agar proses demokrasi internal berjalan dengan baik dan tidak mencederai kehormatan advokat,” tegasnya.

Sebagai organisasi yang bebas dan mandiri sebagaimana diamanatkan Pasal 28 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, PERADI menegaskan bahwa seluruh anggota memiliki hak penuh menentukan kepemimpinan tanpa campur tangan pihak luar, dengan tetap berpedoman pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.

Menutup RAC, jajaran pengurus dan anggota DPC PERADI Jakarta Barat menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan Ketua Umum terpilih hasil MUNAS IV dalam menghadapi dinamika hukum nasional, termasuk pembaruan KUHAP dan KUHP, secara profesional, berintegritas, dan bermartabat. ( *)