Polisi Bongkar Penjualan Obat Daftar G Tanpa Izin di Kabupaten Tangerang

SIDIKPOST| Tangerang – Dalam rangka Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Jaya 2026, jajaran Polsek Tangerang Polres Metro Tangerang Kota berhasil mengungkap dugaan tindak pidana peredaran obat-obatan daftar G jenis Tramadol dan Hexymer tanpa izin edar di wilayah Kabupaten Tangerang. Rabu (11/02/2026).

Pengungkapan tersebut dilakukan pada Selasa siang, 10 Februari 2026, di belakang sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Raya Pakuhaji, Kelurahan Kayu Agung, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si. menegaskan bahwa peredaran obat keras tanpa izin menjadi perhatian serius karena dampaknya sangat merusak, khususnya bagi generasi muda.

“Peredaran obat-obatan daftar G seperti Tramadol dan Hexymer tanpa izin merupakan ancaman nyata bagi kesehatan dan masa depan generasi muda. Melalui Operasi Pekat Jaya 2026, kami berkomitmen menindak tegas segala bentuk penyalahgunaan dan peredarannya,” tegas Kapolres.

Dalam pengungkapan tersebut, Unit Reskrim Polsek Tangerang yang dipimpin Kanit Reskrim AKP Ronald Sianipar, S.H., M.H. mengamankan seorang laki-laki berinisial RA (23) yang diduga sebagai pengedar.

Dari tangan terduga pelaku, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 404 butir obat keras jenis Hexymer, 459 butir Tramadol, uang tunai hasil penjualan sebesar Rp298.000, serta sejumlah barang pendukung lainnya.

Kapolsek Tangerang melalui Kanit Reskrim menjelaskan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat yang resah dengan aktivitas penjualan obat keras di lingkungan mereka.

“Berdasarkan laporan masyarakat, kami lakukan penyelidikan dan observasi. Saat dilakukan penindakan, pelaku kedapatan menyimpan dan memperjualbelikan obat daftar G tanpa izin edar yang sah,” ujar AKP Ronald Sianipar.

Saat ini, terduga pelaku beserta seluruh barang bukti telah diamankan di Polsek Tangerang guna menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Pelaku dijerat Pasal 435 dan/atau Pasal 436 Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Polres Metro Tangerang Kota mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan setiap aktivitas mencurigakan terkait peredaran obat keras, narkotika, maupun penyakit masyarakat lainnya.

“Kami mengajak masyarakat untuk terus bersinergi dengan kepolisian. Peran aktif warga sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan bebas dari peredaran obat berbahaya,” tutup Kapolres. ( Anton)

Polsek Kota Bangun Sosialisasikan Bahaya Narkoba dan Miras

SIDIKPOST| Kukar – Polsek Kota Bangun menggelar kegiatan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba dan bahaya minuman keras (miras) kepada pelajar SMAN 2 Kota Bangun, Rabu (11/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung di SMAN 2 Kota Bangun, Desa Kota Bangun III, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara tersebut dilaksanakan dalam rangka Bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang diselenggarakan oleh PT Gunung Bayan Pratamacoal.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SMAN 2 Kota Bangun Hartono, Safety Officer PT Gunung Bayan Pratamacoal Benny, Kanit Reskrim Polsek Kota Bangun IPDA Andi Cheris Fachrizal, Bhabinkamtibmas AIPTU Johan Syah Alam, para dewan guru, karyawan perusahaan, serta siswa-siswi SMAN 2 Kota Bangun.

Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Sekolah yang menyampaikan apresiasi atas kepedulian Polsek Kota Bangun dan pihak perusahaan dalam memberikan edukasi kepada para pelajar terkait bahaya narkoba dan miras. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan PT Gunung Bayan Pratamacoal.

Dalam penyampaian materinya, IPDA Andi Cheris Fachrizal menjelaskan secara rinci mengenai dampak negatif penyalahgunaan narkoba dan konsumsi miras, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun konsekuensi hukum yang dapat menjerat pelaku. Ia juga mengajak para pelajar untuk menjadi generasi yang cerdas, berprestasi, serta berani menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika dan minuman beralkohol.

“Kami mengimbau kepada seluruh siswa-siswi agar tidak mencoba-coba narkoba maupun miras. Selain merusak kesehatan dan masa depan, perbuatan tersebut juga memiliki konsekuensi hukum yang tegas. Jadilah generasi yang membanggakan orang tua dan mampu meraih cita-cita tanpa terjerumus pada hal-hal negatif,” tegasnya.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab antara pemateri dan para siswa. Untuk meningkatkan antusiasme peserta, panitia juga memberikan hadiah berupa tas kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar.

Kapolsek Kota Bangun IPTU Asnan Rusmawan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen Polri dalam upaya pencegahan sejak dini terhadap penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

“Kami terus berupaya melakukan langkah preventif melalui edukasi dan sosialisasi di lingkungan sekolah. Harapannya, para pelajar memiliki pemahaman yang kuat tentang bahaya narkoba dan miras, sehingga dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” ujarnya. (*)

Propam Polres Kukar Gelar Gaktibplin, Tegakkan Disiplin dan Profesionalisme

SIDIKPOST| Kukar – Seksi Profesi dan Pengamanan (Si Propam) Polres Kutai Kartanegara menggelar kegiatan Penegakan Ketertiban dan Disiplin (Gaktibplin) terhadap personel Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim), Rabu (11/2/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kasi Propam Polres Kukar, AKP Slamet Rijadi, sebagai bentuk pengawasan internal guna meminimalisir terjadinya pelanggaran disiplin (garplin) maupun pelanggaran kode etik (garkep) di lingkungan Polres Kutai Kartanegara.

Gaktibplin meliputi pemeriksaan sikap tampang, kerapian dan kelengkapan gampol (seragam dinas), serta kelengkapan administrasi data diri yang wajib dibawa setiap anggota Polri, seperti KTP, KTA, NPWP, SIM, dan STNK.

AKP Slamet Rijadi menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan surat perintah pimpinan, sebagai upaya menjaga kedisiplinan serta meningkatkan profesionalisme anggota dalam pelaksanaan tugas.

“Penegakan disiplin ini bukan semata-mata mencari kesalahan, tetapi sebagai bentuk pengingat dan pembinaan agar seluruh personel selalu siap, tertib administrasi, serta menjadi contoh yang baik bagi masyarakat,” ujar AKP Slamet.

Dalam pemeriksaan tersebut, Propam masih menemukan satu pelanggaran administrasi, yakni SIM C milik salah satu personel yang telah habis masa berlakunya. Terhadap yang bersangkutan diberikan teguran serta tindakan disiplin disertai arahan agar segera melengkapi administrasi dan tidak mengulangi kembali.

AKP Slamet menegaskan bahwa keteladanan anggota Polri dimulai dari kedisiplinan terhadap diri sendiri, termasuk kelengkapan identitas dan surat-surat pribadi. Dengan tertib administrasi dan penampilan yang rapi, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri semakin meningkat.

Melalui Gaktibplin ini, Polres Kutai Kartanegara menunjukkan komitmennya untuk terus melakukan pembenahan internal secara humanis dan berkelanjutan demi mewujudkan Polri yang Presisi, profesional, dan terpercaya. (*)

Polsek Loa Kulu Sambut Kunjungan TK dalam Program Polisi Sahabat Anak

SIDIKPOST| Kukar – Suasana Aula Polsek Loa Kulu tampak berbeda pada Rabu (11/2/2026) pagi. Sebanyak 20 murid TK Satu Atap Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, bersama para guru dan orang tua, berkunjung dalam kegiatan Polisi Sahabat Anak (Polsanak).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 Wita tersebut menjadi momen edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Mereka disambut langsung oleh jajaran personel Polsek Loa Kulu, di antaranya Kanit Binmas AIPDA Sugeng bersama anggota lainnya.

Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto, melalui kegiatan ini menegaskan komitmen Polri untuk membangun kedekatan dengan anak-anak sejak usia dini melalui pendekatan yang humanis dan edukatif.

“Melalui program Polisi Sahabat Anak, kami ingin mengenalkan tugas-tugas kepolisian secara sederhana dan menyenangkan. Harapannya, anak-anak tidak takut kepada polisi, melainkan melihat polisi sebagai sahabat, pelindung, dan penolong,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak dikenalkan dengan profesi dan tugas Polri di lingkungan Polsek Loa Kulu, mulai dari berbagai jenis seragam, ruangan kerja, hingga kendaraan dinas kepolisian. Dengan penuh antusias, para murid mendengarkan penjelasan dan melihat langsung fasilitas yang ada.

Selain itu, personel Polsek juga memberikan pendidikan karakter sederhana seperti pentingnya disiplin dan berani berkata jujur. Nilai-nilai tersebut disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.

Tak kalah menarik, petugas turut memberikan edukasi tentang keselamatan berlalu lintas. Anak-anak diajarkan mengenal rambu-rambu lalu lintas, cara menyeberang jalan yang aman, serta pentingnya menggunakan helm saat berkendara, baik sebagai pengendara maupun penumpang.

Kepala Sekolah TK Satu Atap Desa Sumber Sari, Amini, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Polsek Loa Kulu. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan berkesan bagi anak-anak.

Melalui program ini, Polsek Loa Kulu terus berupaya menanamkan nilai-nilai positif sekaligus membangun citra Polri yang ramah anak dan dekat dengan masyarakat. (*)

Polres Kukar Gelar Pemeriksaan Kesehatan Berkala

SIDIKPOST| Kukar – Polres Kutai Kartanegara melalui Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) melaksanakan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Berkala Tahun Anggaran 2026 bagi personel Polres Kukar, Rabu (11/2/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Catur Prasetya Lantai 3 Polres Kukar dan bekerja sama dengan Laboratorium Tirta Medical Centre.

Pemeriksaan kesehatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kesiapan dan kondisi fisik personel dalam mendukung pelaksanaan tugas kepolisian di lapangan. Rikkes dilaksanakan oleh Klinik Polres Kukar bersama tim medis dari Labkes Tirta.

Adapun rangkaian pemeriksaan meliputi pengecekan tinggi dan berat badan, tekanan darah, pemeriksaan fisik dan gigi, pengambilan sampel darah serta urin, rontgen, EKG, treadmill, pemeriksaan visus mata, hingga tes kesehatan jiwa.

Dari kuota 210 personel, pada hari pertama tercatat sebanyak 108 personel hadir dan mengikuti pemeriksaan, terdiri dari Intensif 1 sebanyak 52 orang, Intensif 2 sebanyak 28 orang, dan Intensif 3 sebanyak 28 orang.

Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra melalui Kasi Dokkes Iptu Supriadi Nurdin menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebagai formalitas administrasi, tetapi sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan anggota. “Kesehatan personel adalah modal utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Dengan kondisi yang prima, anggota dapat melaksanakan tugas secara optimal dan profesional,” ujarnya.

Pemeriksaan kesehatan berkala ini diharapkan dapat mendeteksi secara dini kondisi kesehatan personel sekaligus mendorong pola hidup sehat di lingkungan Polres Kutai Kartanegara. (*)

Bedah Buku Jakarta Menyala, Refleksi 100 Hari Kepemimpinan Pramono–Rano di Jakarta Barat

SIDIKPOST | JAKARTA – Kegiatan bedah buku berjudul Jakarta Menyala yang mengangkat cerita 100 hari kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono–Rano digelar di Gedung A, Ruang Ali Sadikin, Lantai 1, Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Rabu (11/2/2026) pukul 13.00 WIB.

Buku karya Frans Ekodhanto tersebut mengulas berbagai kebijakan, program prioritas, serta dinamika pemerintahan selama 100 hari pertama kepemimpinan Pramono–Rano dalam memimpin Jakarta. Buku ini menjadi catatan awal perjalanan kepemimpinan yang menitikberatkan pada pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, serta partisipasi masyarakat.

Asisten Pemerintahan Wali Kota Jakarta Barat, Holi Susanto, yang hadir mewakili Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, bedah buku ini menjadi ruang refleksi bersama atas capaian dan tantangan pemerintah daerah.

“Bedah buku Jakarta Menyala ini menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat capaian sekaligus tantangan pemerintahan DKI Jakarta dalam 100 hari pertama kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur,” ujar Holi Susanto.

Ia menambahkan, kegiatan literasi seperti bedah buku penting untuk membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat. “Melalui forum seperti ini, masyarakat dapat memahami arah kebijakan sekaligus memberikan masukan konstruktif bagi pembangunan Jakarta,” tambahnya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta, Muhamad Matsani, menilai buku Jakarta Menyala memiliki nilai strategis dalam memperkuat literasi politik masyarakat.

“Buku ini tidak hanya mendokumentasikan kebijakan, tetapi juga menjadi sarana edukasi politik agar masyarakat lebih memahami proses dan arah pemerintahan daerah,” kata Muhamad Matsani.

Sementara itu, Tenaga Ahli Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Reinhard Sirait, menegaskan bahwa 100 hari pertama merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan program pemerintahan.

“Dalam 100 hari awal, pemerintah meletakkan dasar kebijakan yang akan berdampak jangka panjang bagi pembangunan Jakarta,” ujarnya.

Penulis buku Jakarta Menyala, Frans Ekodhanto, menjelaskan bahwa buku tersebut disusun sebagai catatan reflektif atas kinerja awal kepemimpinan Pramono–Rano.

“Buku ini saya tulis sebagai dokumentasi sekaligus refleksi kritis terhadap capaian, tantangan, dan harapan dalam 100 hari kepemimpinan Pramono–Rano,” jelas Frans.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi bahan diskusi publik yang mendorong partisipasi masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan. “Harapannya, buku ini bisa mendorong partisipasi masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan DKI Jakarta,” tuturnya.

Ketua Pokja PWI Jakarta Barat, Noto Prayitno, turut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai buku Jakarta Menyala menjadi bagian penting dalam memperkaya literasi publik sekaligus dokumentasi perjalanan awal kepemimpinan daerah.

“Buku Jakarta Menyala tidak hanya menjadi catatan 100 hari kerja Gubernur dan Wakil Gubernur, tetapi juga menjadi referensi publik untuk melihat bagaimana arah kebijakan dibangun sejak awal masa kepemimpinan. Ini penting sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat,” ujar Noto Prayitno.

Ia menegaskan bahwa media dan insan pers memiliki peran strategis dalam mengawal jalannya pemerintahan melalui pemberitaan yang objektif dan berimbang. “Pers memiliki tanggung jawab untuk terus mengawal kebijakan pemerintah sekaligus menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Kegiatan literasi seperti ini menjadi ruang kolaborasi yang positif antara pemerintah, penulis, dan insan pers,” tambahnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kevin Fransico, Staf Ahli Komisi A DPRD DKI Jakarta, yang mewakili Anggota DPRD DKI Jakarta Komisi A Hilda Kusuma Dewi. Ia menilai kegiatan bedah buku ini penting sebagai jembatan antara kebijakan eksekutif dan fungsi pengawasan legislatif.

Kegiatan bedah buku berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab, serta mendapat antusiasme dari para peserta yang hadir. (*)

Atap Yang Retak (Surga Yang Di Lupakan)

Sebuah Pengantar

Setiap Rumah Tangga Dibangun Dengan Harapan, Harapan Tentang Kebahagiaan, Ketenangan, Dan Masa Depan Yang Lebih Baik. Tapi Tidak Semua Rumah Berdiri Di Atas Fondasi Cinta Yang Kuat. Sebagian Dibangun Dari Tekanan, Gengsi Dan Tuntutan Keadaan. Ketika Itu Terjadi, Retakan Kecil Sering Muncul Tanpa Disadari Dan Bila Dibiarkan, Retakan Itu Bisa Merobohkan Seluruh Atap Kehidupan.

Kisah “Atap Yang Retak, Surga Yang Dilupakan” Lahir Dari Kenyataan Yang Tidak Selalu Indah. Ia Berbicara Tentang Seorang Laki-Laki Yang Berusaha Bertahan Di Tengah Tekanan Rumah Tangga, Tentang Harga Diri Yang Dilukai, Tentang Keluarga Yang Menjadi Tempat Pulang, Dan Tentang Kesabaran Yang Sering Dianggap Kelemahan.

Cerita Ini Bukan Sekadar Tentang Konflik Antara Suami, Istri Dan Keluarga Besar. Ia Adalah Cermin Kehidupan Banyak Orang, Tentang Bagaimana Uang, Pekerjaan Dan Penilaian Sosial Bisa Merusak Hubungan Yang Seharusnya Dibangun Dengan Cinta Dan Penghormatan. Tentang Bagaimana Kata-Kata Bisa Menjadi Luka Dan Bagaimana Kesabaran Bisa Menjadi Satu-Satunya Benteng Yang Tersisa.

Melalui Kisah Syam, Pembaca Diajak Melihat Bahwa Rumah Tangga Bukan Hanya Soal Cinta Di Awal Pernikahan, Tetapi Tentang Bagaimana Dua Manusia Dan Dua Keluarga Belajar Saling Memahami. Bahwa Surga Dalam Pernikahan Bukan Sekadar Konsep, Melainkan Tanggung Jawab Yang Harus Dijaga Bersama.

Kisah Ini Mungkin Tidak Sempurna, Sebagaimana Kehidupan Itu Sendiri. Akan Tetapi Di Dalam Setiap Luka, Selalu Ada Pelajaran. Di Dalam Setiap Retakan, Selalu Ada Kesempatan Untuk Memperbaiki.

Semoga Cerita Ini Tidak Hanya Dibaca, Tetapi Juga Direnungkan Dan Semoga Setiap Pembaca Menemukan Makna, Pelajaran Dan Mungkin Cermin Bagi Kehidupannya Sendiri.

Akhir Kata, Penulis Menyadari Bahwa Karya Ini Masih Jauh Dari Kata Sempurna. Kritik Dan Saran Yang Membangun Selalu Penulis Harapkan Demi Perbaikan Di Masa Yang Akan Datang. Selamat Membaca.

DUA KELUARGA BERSATU

Laki-Laki Itu Bernama Lengkap Syam Dzukri. Orang-Orang Dikampungnya Hanya Mengenalnya Sebagai Syam. Ia Anak Kedua Dari Tiga Bersaudara, Anak Dari Keluarga Yang Cukup Berada, Tidak Terlalu Kaya, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Kekurangan.

Ia Tumbuh Di Rumah Yang Tenang, Rumah Dengan Pagar Sederhana, Halaman Cukup Luas Dan Deretan Kontrakan Kecil Milik Orang Tuanya Di Samping Rumah.

Dari Kecil, Ia Tidak Pernah Merasakan Lapar Yang Membuat Perut Melilit, Tidak Juga Mengenal Hutang Yang Membuat Orang Tuanya Berdebat Tengah Malam. Ia Hidup Di Keluarga Menengah Yang Percaya Satu Hal, “Sekolah Tinggi Adalah Jalan Paling Aman Agar Anak Tidak Hidup Seperti Orang Tuanya.”

Ketika Masih Kuliah, Syam Bukan Mahasiswa Biasa. Ia Aktif Di Organisasi Mahasiswa, Ikut Rapat, Diskusi, Aksi, Dan Kegiatan Sosial.

Pagi Ia Berangkat Kuliah, Siangnya Ia Bekerja Di Bagian Logistik Maskapai Swasta Dekat Bandara Internasional Dan Ketika Malam Ia Mengikuti Kajian Serta Rapat Organisasi. Waktunya Habis Untuk Mengejar Mimpi, Bukan Untuk Cinta.

Teman-Temannya Sering Nongkrong, Berpacaran, Atau Sekadar Menghabiskan Malam Di Warung Kopi. Tapi Syam Tidak Punya Waktu Untuk Itu. Ia Terlalu Sibuk Mengejar Masa Depan.

“Orang Yang Terlalu Fokus Pada Masa Depan Sering Lupa Bahwa Masa Depan Juga Butuh Hati Yang Hidup.”

Orang Tuanya Mulai Khawatir, Anak Laki-Laki Mereka Sudah Hampir Lulus Kuliah, Sudah Bekerja Juga Dan  Cukup Hasilnya Untuk Menghidupi Keluarga. Tapi Belum Terlihat Menjalin Hubungan Dengan Seorang Gadis Dan Masih Jomblo.

Akhirnya Muncul Satu Nama, Desty Apsari. Ia Anak Tunggal Tetangga Dan Masih Terbilang Asa Ikatan Saudara Walaupun Jauh, Gadis Yang Sudah Dikenal Sejak Kecil Tapi Tidak Ada Yang Istimewa Menurut Syam. Ia Bukan Tipe Perempuan Yang Membuat Jantung Berdebar, Karena Di Kampus, Banyak Aktivis Perempuan Yang Lebih Cantik, Lebih Berani, Lebih Mengagumkan.

Desty Hanya… Biasa Saja, Namun Orang Tua Mereka Punya Logika Sendiri, “Jangan Cari Yang Jauh, Biar Keluarga Makin Dekat Dan Biar Warisan Tidak Kemana-Mana.”

Pada Akhirnya, Pertemuan-Pertemuan Orang Tua Berlangsung Tanpa Sepengetahuan Syam Dan Suatu Hari, Ia Diberi Kabar Bahwa Keluarga Sudah Sepakat Untuk Menjodohkannya.

Awalnya Syam Terkejut, Namun Setelah Mulai Berkomunikasi, Akhirnya Mereka Mulai Jalan Berdua, Makan Bersama Dan Ia Mengetahui Sesuatu Yang Tidak Pernah Ia Duga.

Desty Ternyata Sudah Lama Menyukainya Secara Diam-Diam Bahkan Sejak Masih Sekolah, Syam Pun Tertawa Dalam Hati, “Ternyata Aku Seganteng Itu Ya.”

“Kadang Cinta Tidak Datang Dari Tempat Yang Kita Cari, Tapi Dari Tempat Yang Selalu Kita Abaikan.”

Hari-Hari Mereka Terus Berlalu, Bahkan Ada Informasi Dari Kepala Desa Bahwa Kampung Mereka Akan Di Gusur Untuk Perluasan Bandara Internasional.

Warga Kampung Mulai Resah, Mereka Sering Berkumpul Dan Berdiskusi Terkait Harga Tanah Dan Kapan Waktu Penggusuran Di Mulai.

Akhirnya Semua Terjawab, Tidak Begitu Lama, Pendataan Tanah Dan Bangunan Warga Di Kampung Itu Dilakukan Selanjutnya Ganti Rugi Dibagikan Secara Bertahap Dari Setiap RT/RW Serta Wilayah Yang Menjadi Garapan.

Suasana Di Kampung Merekapun Berubah, Yang Dulu Mereka Hidup Dengan Sederhana Lalu Berubah Secara Drastis, Mulai Dari Motor Baru, Mobil Bekas Hingga Handphone Mahal Terus Mewarnai Perkumpulan Para Remaja Dan Pemuda.

Warung-Warung Di Penuhi Pembeli, Orang-Orang Yang Dulu Duduk Di Bangku Kayu Kini Berbicara Tentang Investasi Dan Disnilah Sebuah Realita Bahwa “Uang Tidak Mengubah Manusia, Uang Hanya Memperjelas Siapa Sebenarnya Mereka.”

Berbeda Dengan Keluarga Syam Dan Keluarga Desty,  Mereka Tidak Ikut Euforia Itu. Mereka Justru Merencanakan Sesuatu Yang Lebih Tenang Mulai Dari Membeli Lahan Berdekatan, Membangun Rumah Bersebelahan Agar Dua Keluarga Menjadi Satu Lingkungan Dan Satu Masa Depan Yang Akhirnya Sebuah Keputusan Untuk Masa Depan Syam Dan Desty Pun Datang, Dua Keluarga Sudah Bersepakat Bahw Mereka Harus Menikah.

Setelah Pembangunan Rumah Dan Kontrakan Selanjutnya Acara Pernikahan Syam Dan Desty Yang Meriah Dan Berlangsung Cukup Besar. Mulai Dari Tenda Panjang, Panggung Hiburan Yang Tinggi, Musik Dangdut Hingga Lampu Warna-Warni Menghiasi Acara Pernikahan Mereka. Orang-Orang Kampung Pun Datang Berbondong-Bondong.

Mereka Datang Menikmati Hidangan Makanan Yang Mewah Dan Banyak, Bercanda Hingga Memberi Doa.

Hari Itu, Syam Dan Desty Merasa Hidupnya Sempurna. Mereka Memiliki Keluarga Juga Rumah Baru Serta Menjadi Suami Istri Yang Menyatukan Dua Keluarga Semakin Dekat.

“Pernikahan Bukan Hanya Tentang Dua Orang Yang Saling Mencintai, Tapi Tentang Dua Dunia Yang Harus Belajar Hidup Berdampingan.”

Setelah Acara Resepsi Pernikahan Syam Dan Desty, Suasana Kampung Tempat Yang Baru Berjalan Seperti Biasanya.

Sebuah Awal Rumah Tangga Terasa Manis, Mereka Mewarnai Hari-Hari Mereka Dengan Tertawa, Makan Bersama, Belanja Perabotan, Menata Kamar Agar Nyaman.

 

ATAP YANG RETAK

Hari-Hari Terus Berlalu Begitu Cepat, Waktu Menjadi Penguji Paling Jujur. Perlahan, Perubahan Itu Muncul Di Mulai Dari Mertua Perempuan Mulai Ikut Campur Urusan Rumah Tangganya, Satu Persatu Keluarga Besar Istri Sering Datang, Mulai Mengeluarkan Komentar-Komentar Kecil Yang Terdengar Seperti Tentang Dapur, Tentang Kamar. Tentang Cara Syam Duduk, Makan, Berbicara, Semua Dikomentari.

Lalu Datang Pukulan Berikutnya, Tidak Berselang Lama Dari Acara Pernikahan, Syam Menganggur. Ia Belum Mendapat Pekerjaan Tetap, Tapi Ekonomi Rumah Tangganya Dibantu Orang Tua Dan Kakaknya. Sehari-Hari Syam Membantu Di Warung Kakaknya, Ia Mengantar Barang-Barang Serta Melayani Setiap Pembeli Yang Datang.

Tapi Bagi Keluarga Istrinya, Itu Tidak Penting, Karena Yang Mereka Lihat Hanya Satu, “Seorang Laki-Laki Tanpa Pekerjaan, Membuat Keluarga Mereka Malu Di Hadapan Keluarga Lainnya.”

Setiap Hari Syam Di Hadapkan Pada Ejekan, Cibiran, Sindiran Halus Hingga Sindiran Kasar Dan Setiap Tamu Dari Keluarga Istri Datang, Setiap Kali Ada Pembicaraan Tentang Uang, Tentang Kerja, Hingga Tentang Harta… Nama Syam Selalu Jadi Bahan Perbandingan.

Syam Hanya Diam, Dia Menarik Nafas Dengan Berat, Walaupun Kebutuhan Rumah Tangganya Tidak Berkurang Tapi, “Di Dunia Yang Memuja Uang, Orang Yang Belum Berhasil Sering Dianggap Tidak Berguna.”

Dan Semua Keluargan Istrinya Tahu, Bahwa Tanggung Jawabnya Sebagai Suami Tetap Ia Jalankan, Ia Tidak Kabur Apalagi Meninggalkan Rumah, Namun Ia Merasa Menjalani Hidup Sendirian.

Hanya Keluarganya Yang Selalu Menguatkan, Baik Ayah, Ibu Maupun Kakaknya… Ia Selalu Di Minta Bersabar Dan Terus Mencari Informasi Lowongan Pekerjaan Sambil Membantu-Bantu Di Warung.

Ketika Istrinya Melahirkan Anak Pertamanya, Istrinya Mulai Berubah Dan Tidak Lagi Seperti Dulu, Tidak Ada Lagi Bahasa Cinta Apalagi Pelukan Hangat, Karena Syam Tahu, Omongan-Omongan Dari Saudara Istrinya Lambat Laun Akan Menjadi Racun Dalam Diri Istri Dan Mertuanya. Rumah Yang Dulu Terasa Hangat, Kini Terasa Seperti Ruang Sidang Tanpa Hakim, Karena “Luka Paling Dalam Bukan Berasal Dari Musuh, Tapi Dari Rumah Yang Tidak Lagi Memberi Pelukan.”

Setiap Malam, Syam Duduk Di Ruang Tamu Sendirian Kadang Di Temeni Mertua Laki-Lakinya Yang Banyak Diam Namun Memahami Kondisi Syam Dan Hanya Mertua Laki-Lakinya Yang Tidak Pernah Berubah Dan Selalu Baik Terhadapnya.

Setiap Ia Bangun Tidur Selalu Mendengar Suara Orang Bercakap Di Dapur,Kadang Namanya Disebut Lalu Disindir. Ia Ingin Sekali Membela Diri, Tapi Setiap Kata Yang Keluar Dari Mulutnya Seolah Hanya Memperburuk Keadaan.

Ia Mulai Merasa Tidak Dihargai, Tidak Dipercaya, Dan Tidak Dianggap. Padahal Dulu, Ia Adalah Aktivis Seorang Pekerja Di Maskapai Dan Anak Yang Dibanggakan Orang Tua.

Tapi Sekarang, Ia Hanya Disebut Sebagai Suami Yang Belum Berhasil. Ia Pernah Membaca Buku Fyodor Dostoevsky Mengatakan, “Manusia Tidak Hancur Karena Kegagalan, Tapi Karena Kehilangan Harga Diri.”

Hari Demi Hari Terus Berganti, Jarak Antara Syam Dan Desty Semakin Terasa Mereka Masih Satu Atap, Masih Satu Kasur Dan Masih Satu Meja Makan, Tapi Hati Mereka Seperti Tinggal Di Kota Yang Berbeda, Bagi Syam Itu Merupakan Hal Yang Menyakitkan, Karena “Yang Paling Menyakitkan Dalam Pernikahan Bukan Pertengkaran, Tapi Ketika Dua Orang Berhenti Saling Memahami.”

Syam Tidak Tahu Harus Marah, Harus Pergi Atau Harus Bertahan. Ia Hanya Tahu Satu Hal, Ia Tidak Ingin Rumah Tangganya Hancur Dan Ia Tidak Ingin Anaknya Tumbuh Tanpa Ayah.

Dan Setiap Hari, Sendiran-Sindiran Dari Istri Dan Mertua Perempuannya Terus Menerus Tanpa Henti, Bahkan Makin Menyakitkan, Itu Membuat Hatinya Terluka Amat Dalam Dan Membuat Dirinya Semakin Merasa Semakin Kecil Dan Tak Berarti.

 

SURGA YANG DILUPAKAN

Setelah Retakan Pertama Itu Muncul, Rumah Tangga Syam Dan Desty Tidak Lagi Sama, Jika Dulu Hanya Sindiran Kecil, Kini Berubah Menjadi Kata-Kata Tajam Dan Jika Kemarin Hanya Bisikan, Kini Menjadi Bentakan Di Depan Keluarga.

Desty Yang Dulu Lembut Dan Pemalu, Perlahan Berubah, Nada Suaranya Meninggi, Bahasanya Kasar Dan Tatapannya Tidak Lagi Hangat.

Di Dalam Kamar, Ia Sering Mengungkit Satu Hal Yang Sama, “Suami Macam Apa Kamu Ini, Bikin Malu Keluarga Aja?”

Di Depan Keluarga, Ia Tidak Segan Mempermalukan Syam, Seolah Harga Diri Suami Itu Hanyalah Benda Murah Yang Bisa Diinjak Siapa Saja. Mertua Perempuan Pun Tidak Kalah Keras, Setiap Ucapan Terasa Seperti Pisau Yang Diasah Di Atas Luka. Tidak Ada Lagi Bradab Dan Tidak Ada Lagi Batas Antara Orang Tua Dan Menantu, Yang Ada Hanya Suaranya Tentang Suami Anaknya Yang Dianggap Gagal.

Mahatma Gandhi, Pernah Mengatakan Dalam Biografinya, “Kata-Kata Yang Kasar Bisa Lebih Melukai Daripada Pukulan.”

Di Tengah Badai Itu, Hanya Satu Tempat Yang Masih Hangat Bagi Syam Yaitu Rumah Orang Tuanya, Disana Ibunya Terus Berdoa, Ayahnya Memberi Nasihat Dan Kakak Perempuannya Menjadi Penyangga Ekonomi Rumah Tangganya, Mualai Dari Kebutuhan Dapur, Biaya Anak, Hingga Keperluan Rumah, Semua Dibantu Oleh Kakaknya Tanpa Banyak Bicara.

Bagi Keluarga Syam, Membantu Bukan Soal Kewajiban, Itu Soal Cinta, “Keluarga Bukan Tempat Kita Dilahirkan Saja, Tapi Tempat Kita Selalu Diterima Kembali.”

Tapi Di Sisi Lain, Keluarga Istri Justru Menjadikan Itu Bahan Ejekan, “Suami Tidak Berguna, Cuma Numpang Makan, Suami Benalu, Tidak Punya Pikiran Maju Dan Banyak Lagi Lainnya.”

Setiap Kata Itu Seperti Duri Yang Menancap Perlahan Di Dada Syam, Bukan Hanya Melukai Dirinya, Tapi Juga Melukai Orang Tuanya Yang Diam-Diam Mendengar Semua Itu.

Padahal, Tanpa Diketahui Banyak Orang, Justru Keluarga Syam Yang Menutup Semua Kekurangan Itu, “Orang Sering Menilai Dari Apa Yang Tampak, Bukan Dari Pengorbanan Yang Tak Terlihat.”

Hingga Suatu Malam, Syam Pulang Setelah Seharian Melamar Pekerjaan, Wajahnya Lelah Dan Langkahnya Berat. Ia Berharap Setidaknya Rumah Menjadi Tempat Istirahat, Tapi Yang Ia Dapatkan Justru Sebaliknya.

Mertuanya Mulai Mencibir, “Kerja Nggak Dapat-Dapat.

Maunya Cuma Makan Di Sini.”

Desty Ikut Menyambung, “Sumi Bikin Malu Keluarga, Keluarga Yang Lain Maju, Banyak Harta Dan Terhormat, Ini Malah Makin Gak Jelas,” Dengan Nada Suaranya Tinggi.

Kata-Katanya Kasar, Tanpa Adab, Tanpa Hormat Tapi Syam Hanya Diam. Bukan Karena Ia Tidak Punya Jawaban, Tapi Karena Di Dalam Rumah Itu Ada Putri Kecilnya. Ia Tidak Ingin Anaknya Melihat Ayah Dan Ibunya Bertengkar, Tapi Malam Itu, Batas Kesabaran Manusia Diuji.

Desty Berteriak, “Kalau Kamu Nggak Bisa Jadi Suami Yang Berguna, Keluar Saja Dari Rumah Ini!”

Pakaian Syam Dilempar Ke Teras, Satu Demi Satu Mulai Dari Baju, Celana Dan Tas. Semua Jatuh Ke Lantai Teras Seperti Harga Dirinya Yang Ikut Dijatuhkan.

Malam Itu, Tidak Ada Bentakan Dari Syam Dan Tidak Ada Perlawanan. Hanya Air Mata Yang Jatuh Pelan.

“Laki-Laki Juga Menangis, Hanya Saja Mereka Belajar Melakukannya Dalam Diam.”

Ia Menunduk, Mengambil Pakaiannya, Lalu Pergi Tanpa Kata, Tanpa Berteriak Apalagi Marah. Karena Hatinya Sudah Terlalu Lelah Dan Kembali Ke Rumah Yang Tidak Pernah Mengusir

Syam Berjalan Menuju Rumah Orang Tuanya, Langkahnya Pelan. Matanya Merah Dan Ketika Pintu Dibuka, Ibunya Langsung Tahu, “Ada Sesuatu Yang Hancur, Tanpa Banyak Tanya, Ibunya Memeluknya. Ayahnya Menepuk Bahunya.”

Di Ruang Tamu Rumah, Syam Menceritakan Semuanya. Setiap Kata Membuat Hati Orang Tuanya Seperti Diremas, Mereka Sakit Sekaligus Merasa Terhina Tapi Mereka Memilih Diam. Bukan Karena Lemah, Tapi Karena Tidak Ingin Memperbesar Api. “Orang Tua Yang Baik Tidak Selalu Membalas, Mereka Sering Memilih Menahan Luka Demi Anaknya.”

Malam Itu, Mereka Hanya Menenangkan Syam Dan Ayahnya Berkata Pelan “Laki-Laki Diuji Bukan Saat Dia Kuat, Tapi Saat Dia Jatuh.”

Lalu Ibunya Menambahkan, “Yang Penting Kamu Tetap Jadi Ayah Yang Baik.”

Dan Kakak Perempuannya Duduk Di Sampingnya, Lalu Berkata, “Tenang Saja. Kita Cari Jalan Keluar. Kamu Tidak Sendirian.”

Syam Mulai Tenang, Ia Menyadari Bahwa, “Ketika Dunia Menutup Pintu, Keluarga Adalah Satu-Satunya Rumah Yang Tidak Pernah Mengunci.”

Dan Malam Itu, Syam Sadar Satu Hal, “Rumah Tangga Bukan Hanya Soal Cinta, Tapi Soal Saling Menjaga Harga Diri.”

Ia Teringat Satu Nasihat Yang Pernah Ia Dengar, “Surga Istri Ada Pada Ridha Suami, Dan Surga Suami Ada Pada Tanggung Jawabnya Kepada Keluarga. Tapi Dalam Rumah Tangganya, Semua Itu Seperti Telah Dilupakan, Yang Ada Hanya Penilaian, Perbandingan Dan Tekanan Dari Keluarga Luar.”

Rumah Yang Seharusnya Menjadi Tempat Berteduh, Justru Berubah Menjadi Tempat Menghakimi. “Seperti Atap Yang Retak, Air Hujan Masuk Sedikit Demi Sedikit, Hingga Akhirnya Merusak Seluruh Rumah Dan Pernikahan Hancur Bukan Karena Badai Besar, Tapi Karena Retakan Kecil Yang Dibiarkan Terlalu Lama.”

 

TITIK TERENDAH SEORANG SUAMI

Setelah Malam Pengusiran Itu, Hidup Syam Seperti Kehilangan Arah. Ia Tidak Lagi Pulang Ke Rumah Yang Dulu Ia Sebut “Rumah Sendiri”.

Ia Kembali Menjadi Anak Di Rumah Orang Tuanya, Bukan Karena Ingin, Tetapi Karena Tidak Punya Pilihan. Setiap Pagi, Ia Bangun Lebih Awal Dari Biasanya. Bukan Karena Pekerjaan, Melainkan Karena Rasa Malu Yang Tak Bisa Ia Jelaskan.

Ia Melihat Ayahnya Menyapu Halaman Dan Melihat Ibunya Menanak Nasi Serta Melihat Kakaknya Bersiap Berangkat Kerja.

Semua Tampak Normal, Hanya Dirinya Yang Terasa Seperti Beban Inilah “Titik Terendah Seorang Laki-Laki, Saat Ia Merasa Tidak Berguna Bagi Orang-Orang Yang Ia Cintai.”

Padahal Keluarganya Tidak Pernah Memperlakukannya Seperti Beban, Ibunya Selalu Menyiapkan Sarapan Dan Ayahnya Selalu Menyapanya Dengan Senyum Serta Kakaknya Tetap Menaruh Uang Di Meja Untuk Kebutuhan Dapur Istrinya.

Tidak Ada Satu Pun Kata Yang Menyudutkannya, Tapi Justru Itu Yang Membuat Dada Syam Semakin Sesak.

“Kadang Kebaikan Orang Lain Justru Membuat Kita Sadar

Betapa Kecilnya Diri Kita.”

______

Setiap Hari, Syam Berkeliling Kota Dari Satu Perusahaan Ke Perusahaan Lain, Dari Satu Gerbang Pabrik Ke Gerbang Berikutnya. Ia Membawa Map Cokelat Berisi Berkas Lamaran. Map Yang Semakin Kusut Setiap Harinya. Kadang Ia Ditolak Halus, Kadang Bahkan Tidak Diberi Kesempatan Masuk Dengan Kata “Maaf, Lowongan Sudah Penuh.” Atau “Kami Cari Yang Berpengalaman” Dan Ada Juga Yang Mengatakan, “Nanti Kami Hubungi.” Tapi Handphonenya Tidak Pernah Berbunyi.

Siang Hari, Ia Duduk Di Halte Atau Warung Kecil, Memesan Teh Hangat Paling Murah, Lalu Membuka Ponselnya.

Bukan Untuk Hiburan, Tapi Untuk Melihat Foto Anaknya.

Putri Kecilnya. Senyumnya Membuat Hati Syam Terasa Hangat Sekaligus Perih, “Seorang Ayah Bisa Hidup Tanpa Harga Diri, Tapi Tidak Bisa Hidup Tanpa Melihat Anaknya Bahagia.”

Ia Tetap Mengirimkan Nafkah Tanpa Pernah Putus Walaupun Tidak Lagi Tinggal Di Rumah Istrinya, Syam Tidak Pernah Berhenti Memberi.

Setiap Kali Kakaknya Memberi Uang, Sebagian Ia Sisihkan Untuk Biaya Melamar Kerja, Sebagian Ia Transfer Ke Rekening Istrinya.

Tidak Banyak, Kadang Hanya Cukup Untuk Susu Anak Atau Kadang Hanya Cukup Untuk Belanja Dua Atau Tiga Hari, Tapi Itu Tetap Ia Lakukan.

Tanpa Pesan Panjang Apalagi Menuntut Balasan. Hanya Satu Kalimat Sederhana, “Untuk Anak.”

“Laki-Laki Sejati Tidak Diukur Dari Tempat Ia Tidur, Tapi Dari Tanggung Jawab Yang Tetap Ia Pikul.”

Bagi Syam Setiap Malam Terasa Begitu Panjang Dan Sunyi. Ia Sering Duduk Di Teras Rumah Orang Tuanya, Menatap Jalan Yang Sepi Sambil Bertanya Dalam Hati, “Apakah Pernikahannya Masih Bisa Diselamatkan?, Apakah Anaknya Akan Tumbuh Jauh Darinya?, Apakah Ia Akan Selalu Dianggap Gagal?”

Tapi Setiap Kali Pikirannya Mulai Gelap, Ia Teringat Wajah Ibunya Dan Suara Ayahnya Yang Berkata, “Jangan Menyerah, Rezeki Tidak Pernah Salah Alamat. Ketika Hidup Menutup Semua Pintu, Jangan Berhenti Mengetuk, Karena Pintu Terakhir Sering Terbuka Saat Kita Hampir Putus Asa.”

 

PEKERJAAN YANG MENGEMBALIKAN HARGA DIRI

Suatu Pagi, Handphone Syam Berdering Ada Nomor Baru Yang Tidak Dikenal. Ia Ragu Mengangkatnya, Karena Biasanya Itu Hanya Tawaran Kartu Kredit Atau Pinjaman, Tapi Pagi Itu Berbeda, “Selamat Pagi, Apakah Ini Bapak Syam Dzukri?, Kami Dari Perusahaan Logistik Dekat Bandara, Lamaran Anda Diterima Dan Bisa Mulai Kerja Minggu Depan?”

Dunia Terasa Berhenti Sejenak….Syam Terdiam, Matanya Berkaca-Kaca, Ia Hanya Bisa Menjawab Pelan,

“Iya, Pak… Bisa.”

Setelah Telepon Ditutup, Ia Menunduk Dan Menangis, Bukan Karena Sedih, Tapi Karena Lega. Akhirnya, Ia Punya Alasan Untuk Berdiri Tegak, “Kerja Bukan Sekadar Mencari Uang, Tapi Cara Seorang Laki-Laki Menjaga Harga Dirinya.”

Ia Langsung Memberi Kabar Pada Orang Tuanya, Ibunya Menangis Haru, Ayahnya Tersenyum Bangga Dan Kakak Perempuannya Menepuk Bahunya, “Lihat Kan? Rezeki Nggak Kemana.”

Walaupun Sudah Bekerja, Syam Belum Kembali Ke Rumah Istrinya. Hubungan Mereka Masih Dingin Dan Masih Penuh Luka, Tapi Satu Hal Tidak Berubah Yaitu Tanggung Jawabnya.

Setiap Bulan, Ia Mengirim Uang, Lebih Banyak Dari Sebelumnya. Untuk Kebutuhan Anaknya, Untuk Rumah Tangga Yang Dulu Ia Bangun. Ia Melakukan Itu Tanpa Banyak Bicara Apalagi Menuntut Permintaan Maaf.

Karena Baginya, Menjadi Ayah Tidak Tergantung Pada Keadaan, “Seorang Ayah Tetaplah Ayah, Bahkan Ketika Ia Tidak Lagi Dianggap Suami.”

Walaupun Di Hati Kecilnya Masi Mimiliki Harapan Agar Keluarga Kecilnya Kembali Utuh.

Di Sela-Sela Kesibukan Kerja, Syam Sering Memikirkan Anaknya. Ia Berharap Suatu Hari Nanti, Putri Kecilnya Tahu Satu Hal, “Ayahnya Tidak Pernah Lari Dan Ayahnya Tidak Pernah Berhenti Memberi Serta Ayahnya Tidak Pernah Berhenti Mencintainya. Karena Ia Tahu Anak Tidak Butuh Ayah Yang Sempurna, Mereka Hanya Butuh Ayah Yang Tetap Ada.”

 

KEMBALI KE RUMAH YANG PERNAH MENOLAK

Waktu Berjalan Perlahan, Namun Luka Di Hati Syam Belum Sepenuhnya Kering. Ia Kini Bekerja Di Perusahaan Logistik Dekat Bandara, Setiap Hari Ia Bangun Pagi, Berangkat Kerja, Pulang Sore, Lalu Duduk Di Teras Rumah Orang Tuanya. Rutinitas Itu Sederhana, Tapi Penuh Arti. Ia Kembali Merasa Menjadi Laki-Laki Yang Berguna. Setiap Akhir Bulan, Sebagian Gajinya Ia Kirimkan Ke Rekening Istrinya, Tanpa Pesan Panjang Apalagi Kata-Kata Manis. Hanya Satu Kalimat Yang Selalu Sama, “Untuk Anak.”

Suatu Sore, Telepon Syam Berdering, Nomor Yang Muncul Adalah Nomor Istrinya Padahal Sudah Lama Mereka Tidak Berbicara Langsung. Dengan Hati Berdebar, Ia Mengangkat Telepon Itu. Suara Di Seberang Terdengar Pelan Dan Bergetar, “Mas… Bapak Sakit Keras Dan Masuk Rumah Sakit.”

Syam Terdiam Beberapa Detik, Tidak Ada Rasa Dendam Yang Muncul Apalagi Kemarahan, Yang Ada Hanya Satu Pikiran, “Itu Ayah Istrinya, Kakek Dari Anaknya Dan Sosok Mertua Yang Selalu Baik Sama Syam”

Malam Itu Juga, Syam Datang Ke Rumah Sakit. Ia Berdiri Di Depan Ruang Perawatan Dan Melihat Mertua Laki-Lakinya Terbaring Lemah. Tubuh Yang Dulu Tegap, Kini Tampak Rapuh.

Desty Terlihat Lelah, Matanya Sembab Dan Wajahnya Pucat.

Untuk Pertama Kalinya Setelah Sekian Lama, Mereka Berdiri Berdekatan Tanpa Kata-Kata Kasar.

Hanya Kesunyian Dan Kekhawatiran Yang Sama, “Sakit Sering Menjadi Bahasa Yang Membuat Manusia Kembali Saling Mengerti.”

Malam Syam Tidak Pulang, Ia Membantu Mengurus Dan Menjaga Di Malam Hari, Membantu Membelikan Makanan Tanpa Banyak Bicara.

Ia Hanya Bekerja Dalam Diam Dan Beberapa Keluarga Mertua Yang Dulu Sering Menghina, Kini Melihat Syam Dengan Tatapan Berbeda.

Mereka Tidak Menyangka, Laki-Laki Yang Pernah Mereka Sebut “Benalu” Justru Menjadi Orang Yang Paling Sering Berada Di Rumah Sakit.

“Karakter Manusia Terlihat Bukan Saat Ia Dihormati, Tapi Saat Ia Diperlakukan Tidak Adil.”

 

Beberapa Hari Kemudian, Malam Yang Ditakuti Itu Akhirnya Datang. Mertua Laki-Laki Syam Menghembuskan Napas Terakhirnya. Tangispun Pecah Di Ruang Rumah Sakit, Desty Memeluk Ibunya Dan Keluarga Besarnya Berkumpul.

Syam Berdiri Sedikit Jauh, Menunduk, Membacakan Doa. Ia Tidak Ingin Terlihat, Tapi Ia Tetap Ada.

Sejak Hari Pemakaman, Syam Hampir Setiap Hari Datang Ke Rumah Mertuanya. Ia Membantu, Mulai Dari Mengurus Tamu, Menata Kursi, Membelikan Kebutuhan Dapur Hingga Menjaga Anak-Anak Kecil Keluarga.

Dari Hari Pertama, Hari Ketujuh, Hari Kedua Puluh, Hingga Malam Keempat Puluh. Ia Selalu Ada, Tanpa Diminta Apalagi Pamer Dan Menyinggung Masa Lalu.

Ibunya Desty Atau Mertua Perempuan Yang Dulu Paling Keras, Kini Mulai Melihat Syam Dengan Mata Yang Berbeda.

Ia Melihat Laki-Laki Itu Bekerja Dalam Diam, Tidak Pernah Mengungkit Hinaan Apalagi Membalas Sakit Hati.

“Kebaikan Yang Konsisten, Lebih Keras Suaranya Daripada Seribu Kata Pembelaan.”

Malam Keempat Puluh Selesai, Tamu Mulai Pulang Dan Rumah Kembali Sepi.

Di Ruang Tamu, Hanya Tersisa Beberapa Orang, Mertua Perempuannya Memanggil Syam, Suaranya Tidak Lagi Keras Seperti Dulu. Tidak Ada Nada Tinggi Apalagi Sindiran. Ia Berbicara Pelan, “Syam… Kalau Kamu Masih Mau, Pulanglah Kembali Ke Rumah Ini.”

Syam Terdiam. Ia Tidak Langsung Menjawab.

Mertua Itu Melanjutkan, “Anakmu Butuh Ayahnya Dan Rumah Ini… Juga Butuh Kamu.”

Desty Menunduk, Matanya Berkaca-Kaca Dan Untuk Pertama Kalinya Tidak Ada Amarah Di Wajahnya…Hanya Penyesalan.

Syam Tahu Itu, Karena “Tidak Semua Permintaan Maaf Diucapkan Dengan Kata-Kata, Kadang Cukup Dengan Air Mata Dan Keheningan.”

Malam Itu, Syam Masuk Ke Kamar Yang Dulu Pernah Ia Tinggalkan, Kamar Yang Sama Dan Tempat Tidur Dan Lemari Yang Sama.

Tapi Suasananya Berbeda, Desty Berdiri Di Dekat Pintu. Anaknya Berlari Kecil Menghampirinya,

“Ayaaahhhh…” Suara Kecil Itu Membuat Dada Syam Sesak. Ia Berlutut, Memeluk Anaknya Dengan Erat. Air Mata Jatuh Tanpa Bisa Ditahan.

Desty Mendekat Perlahan. Tanpa Banyak Kata, Ia Ikut Memeluk Mereka. Untuk Pertama Kalinya Setelah Sekian Lama, Keluarga Kecil Itu Kembali Dalam Satu Pelukan.

“Kadang Rumah Tidak Dibangun Dari Tembok, Tapi Dari Pelukan Yang Akhirnya Kembali.”

Rumah Yang Belajar Memperbaiki Diri, Tidak Ada Janji Besar Malam Itu Apalagi Kata-Kata Dramatis. Hanya Keheningan Yang Penuh Makna.

Syam Tahu, Luka Tidak Hilang Dalam Satu Malam, Tapi Setidaknya, Pintu Itu Sudah Terbuka Dan Ia Memilih Masuk, Bukan Sebagai Laki-Laki Yang Dulu Diusir, Tapi Sebagai Ayah Dan Suami Yang Tetap Bertahan.

“Orang Kuat Bukan Yang Membalas Luka, Tapi Yang Tetap Pulang Ketika Rumahnya Memanggil.”

 

EPILOG: RUMAH YANG BELAJAR BERTEDUH

Setelah Malam Keempat Puluh Itu, Hidup Syam Perlahan Berubah. Ia Kembali Ke Rumah Yang Dulu Pernah Mengusirnya, Bukan Sebagai Tamu, Bukan Sebagai Orang Asing, Tetapi Sebagai Suami Dan Ayah Yang Memilih Untuk Bertahan.

Awalnya, Suasana Masih Canggung, Percakapan Terasa Kaku. Langkah-Langkah Di Dalam Rumah Terdengar Seperti Orang Yang Berjalan Di Atas Pecahan Kaca, Tapi Waktu Memiliki Caranya Sendiri Untuk Menyembuhkan.

Desty Mulai Berubah. Ia Tidak Lagi Sekeras Dulu Dan Ia Mulai Menahan Kata-Kata Yang Dulu Mudah Keluar Dari Mulutnya Serta Mulai Belajar Menghargai Syam, Walaupun Tidak Selalu Berhasil.

Beberapa Bulan Kemudian, Kabar Bahagia Datang, Desty Kembali Hamil Anak Kedua,  Kabar Itu Seperti Cahaya Kecil Di Dalam Rumah Yang Pernah Gelap. Syam Tidak Banyak Bicara, Tapi Dalam Setiap Sujudnya, Ia Selalu Berdoa, “Ya Tuhan, Jadikan Anak Ini Pengikat Hati Kami.”

Waktu Berjalan Begitu Cepat Dan Akhirnya Lahirlah Anak Kedua Mereka, Seorang Bayi Laki-Laki Yang Tangisnya Memenuhi Ruang Bersalin Dan Di Saat Itu, Syam Merasa Hidupnya Kembali Utuh.

Ia Kini Memiliki Seorang Putri Dan Seorang Putra. Keluarga Kecilnya Pun Terasa Lengkap.

“Anak Adalah Cahaya Yang Menyalakan Kembali Rumah Yang Hampir Padam.”

Setelah Kelahiran Anak Kedua, Desty Mulai Bekerja. Ia Diterima Di Sebuah Klinik Kesehatan, Sesuai Dengan Bidang Yang Ia Pelajari. Ia Mulai Membantu Ekonomi Keluarga Dan Mulai Mengenal Lelahnya Dunia Kerja Serta Merasakan Bagaimana Sulitnya Mencari Uang.

Sedikit Demi Sedikit, Ia Memahami Apa Yang Dulu Pernah Dialami Syam, Tapi Rumah Tangga Mereka Tidak Serta-Merta Berubah Menjadi Sempurna. Suasana Panas Masih Sering Terjadi Mulai Dari Perbedaan Pendapat, Nada Suara Yang Meninggi Serta Kata-Kata Yang Terkadang Masih Melukai.

Atap Rumah Itu Memang Sudah Diperbaiki, Tapi Bekas Retaknya Masih Terlihat. Kali Ini, Syam Tidak Membalas Dengan Emosi. Ia Memilih Diam, Tenang Dan Mengalah. Bukan Karena Ia Lemah Apalagi Tidak Punya Harga Diri.

Tapi Karena Ia Punya Dua Alasan Untuk Bertahan, Semua Demi Putri Dan Putranya.

“Laki-Laki Yang Sudah Menjadi Ayah, Tidak Lagi Hidup Untuk Dirinya Sendiri.”

Kesabaran Yang Menjadi Pondasi, Setiap Kali Suasana Memanas Dan Syam Melihat Wajah Anak-Anaknya.

Ia Masih Teringat Malam Saat Pakaiannya Dilempar Ke Teras, Tangisan Ibunya Serta Kesepian Di Rumah Orang Tuanya Dan Ia Tidak Ingin Anak-Anaknya Mengalami Hal Yang Sama.

Maka Ia Memilih Satu Jalan, Kesabaran Karena “Kesabaran Dalam Rumah Tangga Bukan Tanda Kekalahan, Tapi Bukti Kedewasaan.”

Ia Bekerja Setiap Hari, Memberi Nafkah, Mengantar Anak Sekolah Dan Menemani Mereka Bermain.

Bagi Syam, Kebahagiaan Bukan Lagi Soal Dihormati Atau Dipuji, Melihat Anak-Anaknya Tertawa, Itu Sudah Lebih Dari Cukup.

Rumah Yang Tidak Sempurna, Tapi Tetap Berdiri, Rumah Tangga Mereka Tidak Seperti Cerita Dongeng. Tidak Selalu Penuh Senyum Dan Tenang, Tapi Rumah Itu Masih Berdiri, Masih Ada Tawa Anak-Anak,Masih Ada Suara Piring Di Dapur Dan Masih Ada Lampu Yang Menyala Setiap Malam.

Dan Bagi Syam, Itu Sudah Menjadi Surga Kecilnya, Surga Yang Dulu Sempat Dilupakan, Surga Yang Hampir Runtuh Karena Retakan Dan Surga Yang Kini Dijaga Dengan Kesabaran.

“Rumah Tangga Yang Kuat, Bukan Yang Tidak Pernah Retak, Tapi Yang Mau Terus Diperbaiki.”

 

 

=========TAMAT======

 

ARDHI MORSSE, SELASA 10 FEBRUARI 2026

 

Fasum Jadi Arena Bisnis? Proyek Padel di Meruya Utara Disorot Soal Izin dan Dokumen

SIDIKPOST| JAKARTA – Pembangunan fasilitas olahraga lapangan padel di Kavling DKI Blok 52 RW 10, Kelurahan Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, memantik tanda tanya besar.

Proyek yang berdiri di atas lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu kini diselimuti berbagai dugaan persoalan hukum, mulai dari misteri perizinan dan status sewa lahan hingga indikasi permufakatan sejumlah pihak.

Penelusuran dan investigasi lapangan yang dilakukan media melalui konfirmasi paralel menemukan adanya dugaan kesepakatan terselubung antara pihak-pihak berkepentingan.

Dugaan tersebut melibatkan unsur pejabat Pemerintah Kota Jakarta Barat, oknum masyarakat, bahkan disebut-sebut menyeret aparat penegak hukum setempat.

Tak hanya itu, investigasi juga mengungkap adanya dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen serta kesepakatan yang dinilai janggal.

Salah satu temuan krusial adalah beredarnya surat dari seorang warga berinisial HR yang ditujukan kepada Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) DKI Jakarta. Dalam surat tersebut, HR menuntut ganti rugi hingga ratusan juta rupiah.

Ironisnya, berdasarkan keterangan sejumlah sumber yang dihimpun, surat tersebut diduga tidak murni inisiatif pribadi, melainkan disebut-sebut atas arahan atau inisiasi dari instansi terkait.

Saat dikonfirmasi pada Selasa (10/2/2026), HR memilih irit bicara. “Baik pak, nanti saya pelajari dulu. Terima kasih,” tulisnya melalui pesan WhatsApp. Hingga berita ini diterbitkan, HR belum memberikan klarifikasi lanjutan.

Permintaan ganti rugi tersebut dikaitkan dengan pembangunan tempat pembuangan sampah di lokasi proyek lapangan padel.

Sejumlah pihak menyebut terdapat dugaan pemalsuan tanda tangan beberapa pejabat wilayah dalam dokumen yang beredar.

Praktisi hukum sekaligus akademisi dan pengamat kebijakan publik, Awy Eziari, S.H., S.E., M.M., menilai persoalan ini sebagai potret buram pengelolaan aset daerah, khususnya lahan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di Jakarta Barat.

“Kalau oknum pejabat setingkat kota dan oknum aparat penegak hukum bermain dengan masyarakat, bagaimana Jakarta Barat ini mau maju dan bersih dari praktik korupsi?” ujar Awy, Rabu (11/2).

Menurutnya, dugaan penyalahgunaan aset daerah bukan isu baru. Ia merujuk pada Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi DKI Jakarta tahun 2023 dan 2024 yang mencatat adanya puluhan ribu meter persegi lahan milik Pemprov yang tidak jelas keberadaannya.

“Dari LHP BPK tahun 2023 dan 2024 saja ada puluhan ribu meter lahan milik Pemprov yang tidak jelas keberadaannya. Lalu siapa yang bermain di wilayah ini?” tegasnya.

Awy mendesak Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pejabat dan aparat yang diduga terlibat dalam praktik penyimpangan aset daerah.

“Gubernur harus segera mengambil langkah tegas dan serius melakukan evaluasi terhadap oknum-oknum pejabat yang bermain terhadap aset Pemprov. Publik juga harus dilibatkan untuk mengawasi,” pungkasnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Jakarta Barat maupun BPAD DKI Jakarta terkait dugaan perizinan, status sewa lahan, serta tudingan pemalsuan dokumen dalam proyek tersebut.

Kasus ini kembali membuka pertanyaan lama tentang tata kelola aset daerah di Jakarta Barat

apakah lahan fasum dan fasos benar-benar dikelola untuk kepentingan publik, atau justru menjadi lahan permainan segelintir oknum?

Publik kini menanti transparansi dan penegakan hukum yang tegas.

 

Penulis : RDK

Editor : Redaksi

KLARIFIKASI DAN SANGGAHAN RESMI : Terkait Pemberitaan Dugaan “Kondusifitas Berbayar” di Proyek Pembangunan Jalan Saham No. 16, Sukasari

SIDIKPOST | Kota Tangerang – Menanggapi pemberitaan yang beredar terkait dugaan praktik “kondusifitas berbayar” dalam proyek pembangunan rumah tinggal di Jalan Saham No. 16, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, serta penyebutan nama “Anton” dalam rangkaian percakapan digital yang beredar, dengan ini disampaikan klarifikasi dan sanggahan sebagai berikut:

Anton secara tegas membantah tuduhan yang menyebut dirinya sebagai pihak yang “mengatur” maupun “mengondisikan” wartawan guna mencegah pemberitaan negatif. Tuduhan tersebut dinilai tidak berdasar dan berpotensi mencemarkan nama baik serta integritas pribadi maupun profesional yang bersangkutan.

Anton menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan praktik intervensi terhadap kerja jurnalistik, tidak pernah menawarkan ataupun memfasilitasi pemberian uang kepada pihak mana pun dalam rangka memengaruhi pemberitaan. Ia menghormati independensi pers serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip Kode Etik Jurnalistik.

Terkait beredarnya percakapan digital yang menyeret namanya, Anton menyatakan bahwa informasi tersebut perlu diuji kebenaran, keutuhan, serta konteksnya secara menyeluruh. Ia mengingatkan agar publik tidak menarik kesimpulan sepihak sebelum ada verifikasi dan pembuktian yang sah.

Sebagai bentuk keseriusan dalam menyikapi persoalan ini, Anton menyampaikan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan pimpinan redaksi untuk membawa permasalahan ini ke ranah Dewan Pers guna mendapatkan penilaian objektif dan proporsional sesuai mekanisme penyelesaian sengketa pers yang berlaku.

Selain itu, apabila terdapat indikasi dugaan pelanggaran hukum lainnya di luar aspek etik jurnalistik, Anton juga telah melakukan konsultasi hukum untuk menempuh langkah-langkah yang diperlukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Anton menegaskan komitmennya untuk menghormati proses klarifikasi secara terbuka dan transparan. Ia juga mengajak semua pihak untuk tetap menjunjung asas praduga tak bersalah serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

Terkait persoalan administrasi perizinan bangunan yang menjadi pokok pemberitaan, Anton menilai hal tersebut sepenuhnya merupakan ranah dan kewenangan instansi pemerintah daerah yang berkompeten untuk melakukan pemeriksaan dan penindakan sesuai regulasi yang berlaku.

Demikian klarifikasi ini disampaikan agar publik memperoleh informasi yang berimbang serta tidak terjadi kesimpangsiuran pemberitaan. Anton menyatakan siap mengikuti seluruh proses sesuai mekanisme hukum dan etik yang berlaku.

Dinas PUPR Kota Tangerang Bergerak Cepat Tangani Jalan Rusak, 72 Ruas Terdampak Hujan Deras

SIDIKPOST | KOTA TANGERANG – Keluhan warga Kota Tangerang terkait kerusakan jalan yang semakin banyak muncul di musim hujan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Tangerang. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Pemkot terus melakukan perbaikan demi menjaga kenyamanan serta keselamatan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Kepala Dinas PUPR Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, mengungkapkan bahwa saat ini tercatat sedikitnya 72 ruas jalan mengalami kerusakan akibat tingginya intensitas hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Dari 72 ruas jalan yang rusak itu, diidentifikasi sebanyak 207 titik, atau kalau luasnya sekitar 320 meter persegi. Jumlah ini memang lebih massif dibandingkan tahun lalu,” ujar Taufik Syahzaeni saat menjadi narasumber dalam Podcast Satelit News, pekan lalu.

Ia menjelaskan, kerusakan jalan tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, namun juga dipicu beberapa faktor lainnya. Mulai dari kondisi cuaca ekstrem, beban kendaraan yang melebihi kapasitas, hingga aktivitas utilitas yang dilakukan melalui galian.

“Penyebabnya ada faktor eksternal seperti cuaca atau curah hujan tinggi, kemudian beban muatan kendaraan yang over kapasitas, dan juga faktor penyediaan utilitas seperti galian air bersih, kabel, dan lainnya,” terangnya.

Dalam menangani kerusakan tersebut, Dinas PUPR Kota Tangerang menerapkan dua metode perbaikan agar proses penanganan tetap efektif meski terkendala cuaca.

Metode pertama adalah patching atau tambal sulam, yang digunakan sebagai solusi cepat di lapangan. Pada sejumlah titik, petugas bahkan menggunakan konblok atau paving block untuk mempercepat penanganan, terutama pada lokasi yang rawan tergenang air.

Menurut Taufik, penggunaan konblok merupakan langkah yang lazim dilakukan saat musim hujan karena dinilai lebih tahan terhadap kondisi basah dibanding aspal biasa.

“Yang kemarin sempat viral, jalan raya kok pakai konblok. Sebenarnya penggunaan konblok ini adalah cara yang lazim digunakan sebagai cara cepat memperbaiki jalan saat kondisi musim hujan. Konblok cukup kuat menghadapi cuaca dan lebih awet dibanding aspal. Tapi harus dipastikan kekerasan dan penempatannya agar tidak membahayakan,” jelasnya.

Selain sebagai penanganan cepat, metode ini juga dipilih sebagai bagian dari strategi mitigasi agar kerusakan tidak melebar dan mengganggu pengguna jalan.

“Kami menutup lubang jalan dengan material yang sesuai kondisi cuaca untuk mencegah kerusakan semakin parah. Jadi pengguna jalan tetap aman, dan perbaikan bisa bertahan lebih lama,” tambahnya.

Sementara itu, metode kedua yang digunakan adalah hotmix, yang juga dikenal cepat dan kuat. Namun metode ini sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“Hotmix itu cepat, tapi kalau kondisi hujan maka tidak bisa digunakan karena akan tergerus air,” ungkapnya.

Tak hanya melakukan perbaikan permukaan jalan, Dinas PUPR Kota Tangerang juga melakukan langkah pendukung berupa pembersihan saluran air dan drainase di sekitar lokasi pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan jalan yang sudah diperbaiki tidak kembali rusak akibat genangan.

“Kalau jalannya diperbaiki tapi drainasenya mampet, maka jalan akan kembali rusak,” tegas Taufik.

Lebih lanjut, Pemkot Tangerang juga mendorong partisipasi masyarakat agar perbaikan dapat dilakukan lebih cepat. Salah satunya melalui program Perjaka Gesit (Perbaikan Jalan Kota Gerakan Sehari Tuntas).

Melalui aplikasi Tangerang LIVE atau layanan pengaduan di nomor 0811-1500-152, warga dapat melaporkan titik jalan rusak dengan melampirkan foto dan lokasi koordinat. Laporan tersebut akan langsung diteruskan ke tim lapangan untuk segera ditindaklanjuti.

“Begitu ada laporan masuk, tim langsung cek dan tindak. Harapannya kerusakan bisa ditangani sebelum membesar,” tandasnya.

Dengan langkah cepat ini, Pemkot Tangerang berharap kualitas jalan tetap terjaga dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman meski cuaca masih didominasi hujan. ( ADV)

Polwan Bid Propam Bersama Bhayangkari Salurkan Baksos “Polda Kaltim Berbagi”

SIDIKPOST | Balikpapan – Polwan Bid Propam Polda Kaltim bersama Bhayangkari Daerah Kaltim melaksanakan kegiatan bakti sosial melalui program “Polda Kaltim Berbagi”, Selasa (10/2/2026).

Kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial Polri terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Bakti sosial ini dilaksanakan di Rumah Ketua RT 66, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara. Dalam kegiatan tersebut, Polwan Bid Propam Polda Kaltim menyalurkan bantuan berupa gula pasir kepada warga, dengan masing-masing penerima mendapatkan 2 kilogram gula.

Kegiatan baksos dipimpin oleh AKP Suka R. dan diikuti oleh jajaran Polwan Bid Propam Polda Kaltim bersama Bhayangkari Daerah Kaltim. Penyaluran bantuan berlangsung tertib dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat.

Melalui program “Polda Kaltim Berbagi”, Polwan dan Bhayangkari tidak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan pokok, tetapi juga mempererat tali silaturahmi serta memperkuat kehadiran Polri di tengah masyarakat.

Pakor Polwan Polda Kaltim AKBP Nina Ike Herawati, S. H., M.H mengatakan “Melalui kegiatan bakti sosial ini, kami ingin berbagi dan hadir langsung di tengah masyarakat. Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat dan meringankan kebutuhan sehari-hari warga.

Kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian serta komitmen Polwan Polda Kaltim untuk terus berkontribusi positif bagi masyarakat,” ujar AKBP Nina. (*)

Humas Polda Kaltim

Polres Kutai Kartanegara Gelar Samjas Berkala Semester I 2026

SIDIKPOST| Kukar – Polres Kutai Kartanegara melalui Bagian SDM melaksanakan kegiatan Kesamaptaan Jasmani (Samjas) Berkala Semester I Tahun Anggaran 2026, Senin (9/2/2026), bertempat di Mapolsek Kota Bangun. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 Wita dalam suasana tertib dan penuh semangat.

Kegiatan ini diikuti oleh personel dari sejumlah polsek jajaran, yakni Polsek Kota Bangun, Polsek Muara Kaman, Polsek Muara Wis, Polsek Muara Muntai, Polsek Kenohan, Polsek Kembang Janggut, dan Polsek Tabang. Hadir dalam kegiatan tersebut Kasubbagdalpers Bag SDM Polres Kukar bersama Tim Samjas Polres Kukar.

Samjas berkala merupakan agenda rutin yang dilaksanakan sebagai bentuk evaluasi sekaligus pembinaan kemampuan fisik personel Polri. Melalui kegiatan ini, kondisi kebugaran setiap anggota dapat terpantau secara terukur guna menunjang pelaksanaan tugas di lapangan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel persiapan dan doa bersama, dilanjutkan dengan pengisian daftar hadir serta formulir samjas. Sebelum pelaksanaan tes fisik, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran berat badan dan pengecekan tekanan darah untuk memastikan kondisi fisik dalam keadaan siap.

Adapun materi tes meliputi lari selama 12 menit, sit up satu menit, push up satu menit, shuttle run, serta pull up satu menit. Setiap tahapan dilaksanakan sesuai prosedur dan dalam pengawasan tim penguji guna menjamin objektivitas hasil.

Kabag SDM Polres Kutai Kartanegara menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kewajiban administrasi berkala, tetapi juga sebagai upaya membangun budaya hidup sehat di lingkungan kepolisian.

“Dengan kondisi fisik yang prima, personel diharapkan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menjalankan tugas kepolisian secara profesional dan humanis,” ujarnya.

Semangat kebersamaan dan sportivitas tampak mewarnai pelaksanaan samjas, mencerminkan komitmen Polres Kutai Kartanegara dalam menjaga kesiapan personel demi mendukung terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polres Kutai Kartanegara. (*)