Sebuah Pengantar
Setiap Rumah Tangga Dibangun Dengan Harapan, Harapan Tentang Kebahagiaan, Ketenangan, Dan Masa Depan Yang Lebih Baik. Tapi Tidak Semua Rumah Berdiri Di Atas Fondasi Cinta Yang Kuat. Sebagian Dibangun Dari Tekanan, Gengsi Dan Tuntutan Keadaan. Ketika Itu Terjadi, Retakan Kecil Sering Muncul Tanpa Disadari Dan Bila Dibiarkan, Retakan Itu Bisa Merobohkan Seluruh Atap Kehidupan.
Kisah “Atap Yang Retak, Surga Yang Dilupakan” Lahir Dari Kenyataan Yang Tidak Selalu Indah. Ia Berbicara Tentang Seorang Laki-Laki Yang Berusaha Bertahan Di Tengah Tekanan Rumah Tangga, Tentang Harga Diri Yang Dilukai, Tentang Keluarga Yang Menjadi Tempat Pulang, Dan Tentang Kesabaran Yang Sering Dianggap Kelemahan.
Cerita Ini Bukan Sekadar Tentang Konflik Antara Suami, Istri Dan Keluarga Besar. Ia Adalah Cermin Kehidupan Banyak Orang, Tentang Bagaimana Uang, Pekerjaan Dan Penilaian Sosial Bisa Merusak Hubungan Yang Seharusnya Dibangun Dengan Cinta Dan Penghormatan. Tentang Bagaimana Kata-Kata Bisa Menjadi Luka Dan Bagaimana Kesabaran Bisa Menjadi Satu-Satunya Benteng Yang Tersisa.
Melalui Kisah Syam, Pembaca Diajak Melihat Bahwa Rumah Tangga Bukan Hanya Soal Cinta Di Awal Pernikahan, Tetapi Tentang Bagaimana Dua Manusia Dan Dua Keluarga Belajar Saling Memahami. Bahwa Surga Dalam Pernikahan Bukan Sekadar Konsep, Melainkan Tanggung Jawab Yang Harus Dijaga Bersama.
Kisah Ini Mungkin Tidak Sempurna, Sebagaimana Kehidupan Itu Sendiri. Akan Tetapi Di Dalam Setiap Luka, Selalu Ada Pelajaran. Di Dalam Setiap Retakan, Selalu Ada Kesempatan Untuk Memperbaiki.
Semoga Cerita Ini Tidak Hanya Dibaca, Tetapi Juga Direnungkan Dan Semoga Setiap Pembaca Menemukan Makna, Pelajaran Dan Mungkin Cermin Bagi Kehidupannya Sendiri.
Akhir Kata, Penulis Menyadari Bahwa Karya Ini Masih Jauh Dari Kata Sempurna. Kritik Dan Saran Yang Membangun Selalu Penulis Harapkan Demi Perbaikan Di Masa Yang Akan Datang. Selamat Membaca.
DUA KELUARGA BERSATU
Laki-Laki Itu Bernama Lengkap Syam Dzukri. Orang-Orang Dikampungnya Hanya Mengenalnya Sebagai Syam. Ia Anak Kedua Dari Tiga Bersaudara, Anak Dari Keluarga Yang Cukup Berada, Tidak Terlalu Kaya, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Kekurangan.
Ia Tumbuh Di Rumah Yang Tenang, Rumah Dengan Pagar Sederhana, Halaman Cukup Luas Dan Deretan Kontrakan Kecil Milik Orang Tuanya Di Samping Rumah.
Dari Kecil, Ia Tidak Pernah Merasakan Lapar Yang Membuat Perut Melilit, Tidak Juga Mengenal Hutang Yang Membuat Orang Tuanya Berdebat Tengah Malam. Ia Hidup Di Keluarga Menengah Yang Percaya Satu Hal, “Sekolah Tinggi Adalah Jalan Paling Aman Agar Anak Tidak Hidup Seperti Orang Tuanya.”
Ketika Masih Kuliah, Syam Bukan Mahasiswa Biasa. Ia Aktif Di Organisasi Mahasiswa, Ikut Rapat, Diskusi, Aksi, Dan Kegiatan Sosial.
Pagi Ia Berangkat Kuliah, Siangnya Ia Bekerja Di Bagian Logistik Maskapai Swasta Dekat Bandara Internasional Dan Ketika Malam Ia Mengikuti Kajian Serta Rapat Organisasi. Waktunya Habis Untuk Mengejar Mimpi, Bukan Untuk Cinta.
Teman-Temannya Sering Nongkrong, Berpacaran, Atau Sekadar Menghabiskan Malam Di Warung Kopi. Tapi Syam Tidak Punya Waktu Untuk Itu. Ia Terlalu Sibuk Mengejar Masa Depan.
“Orang Yang Terlalu Fokus Pada Masa Depan Sering Lupa Bahwa Masa Depan Juga Butuh Hati Yang Hidup.”
Orang Tuanya Mulai Khawatir, Anak Laki-Laki Mereka Sudah Hampir Lulus Kuliah, Sudah Bekerja Juga Dan Cukup Hasilnya Untuk Menghidupi Keluarga. Tapi Belum Terlihat Menjalin Hubungan Dengan Seorang Gadis Dan Masih Jomblo.
Akhirnya Muncul Satu Nama, Desty Apsari. Ia Anak Tunggal Tetangga Dan Masih Terbilang Asa Ikatan Saudara Walaupun Jauh, Gadis Yang Sudah Dikenal Sejak Kecil Tapi Tidak Ada Yang Istimewa Menurut Syam. Ia Bukan Tipe Perempuan Yang Membuat Jantung Berdebar, Karena Di Kampus, Banyak Aktivis Perempuan Yang Lebih Cantik, Lebih Berani, Lebih Mengagumkan.
Desty Hanya… Biasa Saja, Namun Orang Tua Mereka Punya Logika Sendiri, “Jangan Cari Yang Jauh, Biar Keluarga Makin Dekat Dan Biar Warisan Tidak Kemana-Mana.”
Pada Akhirnya, Pertemuan-Pertemuan Orang Tua Berlangsung Tanpa Sepengetahuan Syam Dan Suatu Hari, Ia Diberi Kabar Bahwa Keluarga Sudah Sepakat Untuk Menjodohkannya.
Awalnya Syam Terkejut, Namun Setelah Mulai Berkomunikasi, Akhirnya Mereka Mulai Jalan Berdua, Makan Bersama Dan Ia Mengetahui Sesuatu Yang Tidak Pernah Ia Duga.
Desty Ternyata Sudah Lama Menyukainya Secara Diam-Diam Bahkan Sejak Masih Sekolah, Syam Pun Tertawa Dalam Hati, “Ternyata Aku Seganteng Itu Ya.”
“Kadang Cinta Tidak Datang Dari Tempat Yang Kita Cari, Tapi Dari Tempat Yang Selalu Kita Abaikan.”
Hari-Hari Mereka Terus Berlalu, Bahkan Ada Informasi Dari Kepala Desa Bahwa Kampung Mereka Akan Di Gusur Untuk Perluasan Bandara Internasional.
Warga Kampung Mulai Resah, Mereka Sering Berkumpul Dan Berdiskusi Terkait Harga Tanah Dan Kapan Waktu Penggusuran Di Mulai.
Akhirnya Semua Terjawab, Tidak Begitu Lama, Pendataan Tanah Dan Bangunan Warga Di Kampung Itu Dilakukan Selanjutnya Ganti Rugi Dibagikan Secara Bertahap Dari Setiap RT/RW Serta Wilayah Yang Menjadi Garapan.
Suasana Di Kampung Merekapun Berubah, Yang Dulu Mereka Hidup Dengan Sederhana Lalu Berubah Secara Drastis, Mulai Dari Motor Baru, Mobil Bekas Hingga Handphone Mahal Terus Mewarnai Perkumpulan Para Remaja Dan Pemuda.
Warung-Warung Di Penuhi Pembeli, Orang-Orang Yang Dulu Duduk Di Bangku Kayu Kini Berbicara Tentang Investasi Dan Disnilah Sebuah Realita Bahwa “Uang Tidak Mengubah Manusia, Uang Hanya Memperjelas Siapa Sebenarnya Mereka.”
Berbeda Dengan Keluarga Syam Dan Keluarga Desty, Mereka Tidak Ikut Euforia Itu. Mereka Justru Merencanakan Sesuatu Yang Lebih Tenang Mulai Dari Membeli Lahan Berdekatan, Membangun Rumah Bersebelahan Agar Dua Keluarga Menjadi Satu Lingkungan Dan Satu Masa Depan Yang Akhirnya Sebuah Keputusan Untuk Masa Depan Syam Dan Desty Pun Datang, Dua Keluarga Sudah Bersepakat Bahw Mereka Harus Menikah.
Setelah Pembangunan Rumah Dan Kontrakan Selanjutnya Acara Pernikahan Syam Dan Desty Yang Meriah Dan Berlangsung Cukup Besar. Mulai Dari Tenda Panjang, Panggung Hiburan Yang Tinggi, Musik Dangdut Hingga Lampu Warna-Warni Menghiasi Acara Pernikahan Mereka. Orang-Orang Kampung Pun Datang Berbondong-Bondong.
Mereka Datang Menikmati Hidangan Makanan Yang Mewah Dan Banyak, Bercanda Hingga Memberi Doa.
Hari Itu, Syam Dan Desty Merasa Hidupnya Sempurna. Mereka Memiliki Keluarga Juga Rumah Baru Serta Menjadi Suami Istri Yang Menyatukan Dua Keluarga Semakin Dekat.
“Pernikahan Bukan Hanya Tentang Dua Orang Yang Saling Mencintai, Tapi Tentang Dua Dunia Yang Harus Belajar Hidup Berdampingan.”
Setelah Acara Resepsi Pernikahan Syam Dan Desty, Suasana Kampung Tempat Yang Baru Berjalan Seperti Biasanya.
Sebuah Awal Rumah Tangga Terasa Manis, Mereka Mewarnai Hari-Hari Mereka Dengan Tertawa, Makan Bersama, Belanja Perabotan, Menata Kamar Agar Nyaman.
ATAP YANG RETAK
Hari-Hari Terus Berlalu Begitu Cepat, Waktu Menjadi Penguji Paling Jujur. Perlahan, Perubahan Itu Muncul Di Mulai Dari Mertua Perempuan Mulai Ikut Campur Urusan Rumah Tangganya, Satu Persatu Keluarga Besar Istri Sering Datang, Mulai Mengeluarkan Komentar-Komentar Kecil Yang Terdengar Seperti Tentang Dapur, Tentang Kamar. Tentang Cara Syam Duduk, Makan, Berbicara, Semua Dikomentari.
Lalu Datang Pukulan Berikutnya, Tidak Berselang Lama Dari Acara Pernikahan, Syam Menganggur. Ia Belum Mendapat Pekerjaan Tetap, Tapi Ekonomi Rumah Tangganya Dibantu Orang Tua Dan Kakaknya. Sehari-Hari Syam Membantu Di Warung Kakaknya, Ia Mengantar Barang-Barang Serta Melayani Setiap Pembeli Yang Datang.
Tapi Bagi Keluarga Istrinya, Itu Tidak Penting, Karena Yang Mereka Lihat Hanya Satu, “Seorang Laki-Laki Tanpa Pekerjaan, Membuat Keluarga Mereka Malu Di Hadapan Keluarga Lainnya.”
Setiap Hari Syam Di Hadapkan Pada Ejekan, Cibiran, Sindiran Halus Hingga Sindiran Kasar Dan Setiap Tamu Dari Keluarga Istri Datang, Setiap Kali Ada Pembicaraan Tentang Uang, Tentang Kerja, Hingga Tentang Harta… Nama Syam Selalu Jadi Bahan Perbandingan.
Syam Hanya Diam, Dia Menarik Nafas Dengan Berat, Walaupun Kebutuhan Rumah Tangganya Tidak Berkurang Tapi, “Di Dunia Yang Memuja Uang, Orang Yang Belum Berhasil Sering Dianggap Tidak Berguna.”
Dan Semua Keluargan Istrinya Tahu, Bahwa Tanggung Jawabnya Sebagai Suami Tetap Ia Jalankan, Ia Tidak Kabur Apalagi Meninggalkan Rumah, Namun Ia Merasa Menjalani Hidup Sendirian.
Hanya Keluarganya Yang Selalu Menguatkan, Baik Ayah, Ibu Maupun Kakaknya… Ia Selalu Di Minta Bersabar Dan Terus Mencari Informasi Lowongan Pekerjaan Sambil Membantu-Bantu Di Warung.
Ketika Istrinya Melahirkan Anak Pertamanya, Istrinya Mulai Berubah Dan Tidak Lagi Seperti Dulu, Tidak Ada Lagi Bahasa Cinta Apalagi Pelukan Hangat, Karena Syam Tahu, Omongan-Omongan Dari Saudara Istrinya Lambat Laun Akan Menjadi Racun Dalam Diri Istri Dan Mertuanya. Rumah Yang Dulu Terasa Hangat, Kini Terasa Seperti Ruang Sidang Tanpa Hakim, Karena “Luka Paling Dalam Bukan Berasal Dari Musuh, Tapi Dari Rumah Yang Tidak Lagi Memberi Pelukan.”
Setiap Malam, Syam Duduk Di Ruang Tamu Sendirian Kadang Di Temeni Mertua Laki-Lakinya Yang Banyak Diam Namun Memahami Kondisi Syam Dan Hanya Mertua Laki-Lakinya Yang Tidak Pernah Berubah Dan Selalu Baik Terhadapnya.
Setiap Ia Bangun Tidur Selalu Mendengar Suara Orang Bercakap Di Dapur,Kadang Namanya Disebut Lalu Disindir. Ia Ingin Sekali Membela Diri, Tapi Setiap Kata Yang Keluar Dari Mulutnya Seolah Hanya Memperburuk Keadaan.
Ia Mulai Merasa Tidak Dihargai, Tidak Dipercaya, Dan Tidak Dianggap. Padahal Dulu, Ia Adalah Aktivis Seorang Pekerja Di Maskapai Dan Anak Yang Dibanggakan Orang Tua.
Tapi Sekarang, Ia Hanya Disebut Sebagai Suami Yang Belum Berhasil. Ia Pernah Membaca Buku Fyodor Dostoevsky Mengatakan, “Manusia Tidak Hancur Karena Kegagalan, Tapi Karena Kehilangan Harga Diri.”
Hari Demi Hari Terus Berganti, Jarak Antara Syam Dan Desty Semakin Terasa Mereka Masih Satu Atap, Masih Satu Kasur Dan Masih Satu Meja Makan, Tapi Hati Mereka Seperti Tinggal Di Kota Yang Berbeda, Bagi Syam Itu Merupakan Hal Yang Menyakitkan, Karena “Yang Paling Menyakitkan Dalam Pernikahan Bukan Pertengkaran, Tapi Ketika Dua Orang Berhenti Saling Memahami.”
Syam Tidak Tahu Harus Marah, Harus Pergi Atau Harus Bertahan. Ia Hanya Tahu Satu Hal, Ia Tidak Ingin Rumah Tangganya Hancur Dan Ia Tidak Ingin Anaknya Tumbuh Tanpa Ayah.
Dan Setiap Hari, Sendiran-Sindiran Dari Istri Dan Mertua Perempuannya Terus Menerus Tanpa Henti, Bahkan Makin Menyakitkan, Itu Membuat Hatinya Terluka Amat Dalam Dan Membuat Dirinya Semakin Merasa Semakin Kecil Dan Tak Berarti.
SURGA YANG DILUPAKAN
Setelah Retakan Pertama Itu Muncul, Rumah Tangga Syam Dan Desty Tidak Lagi Sama, Jika Dulu Hanya Sindiran Kecil, Kini Berubah Menjadi Kata-Kata Tajam Dan Jika Kemarin Hanya Bisikan, Kini Menjadi Bentakan Di Depan Keluarga.
Desty Yang Dulu Lembut Dan Pemalu, Perlahan Berubah, Nada Suaranya Meninggi, Bahasanya Kasar Dan Tatapannya Tidak Lagi Hangat.
Di Dalam Kamar, Ia Sering Mengungkit Satu Hal Yang Sama, “Suami Macam Apa Kamu Ini, Bikin Malu Keluarga Aja?”
Di Depan Keluarga, Ia Tidak Segan Mempermalukan Syam, Seolah Harga Diri Suami Itu Hanyalah Benda Murah Yang Bisa Diinjak Siapa Saja. Mertua Perempuan Pun Tidak Kalah Keras, Setiap Ucapan Terasa Seperti Pisau Yang Diasah Di Atas Luka. Tidak Ada Lagi Bradab Dan Tidak Ada Lagi Batas Antara Orang Tua Dan Menantu, Yang Ada Hanya Suaranya Tentang Suami Anaknya Yang Dianggap Gagal.
Mahatma Gandhi, Pernah Mengatakan Dalam Biografinya, “Kata-Kata Yang Kasar Bisa Lebih Melukai Daripada Pukulan.”
—
Di Tengah Badai Itu, Hanya Satu Tempat Yang Masih Hangat Bagi Syam Yaitu Rumah Orang Tuanya, Disana Ibunya Terus Berdoa, Ayahnya Memberi Nasihat Dan Kakak Perempuannya Menjadi Penyangga Ekonomi Rumah Tangganya, Mualai Dari Kebutuhan Dapur, Biaya Anak, Hingga Keperluan Rumah, Semua Dibantu Oleh Kakaknya Tanpa Banyak Bicara.
Bagi Keluarga Syam, Membantu Bukan Soal Kewajiban, Itu Soal Cinta, “Keluarga Bukan Tempat Kita Dilahirkan Saja, Tapi Tempat Kita Selalu Diterima Kembali.”
Tapi Di Sisi Lain, Keluarga Istri Justru Menjadikan Itu Bahan Ejekan, “Suami Tidak Berguna, Cuma Numpang Makan, Suami Benalu, Tidak Punya Pikiran Maju Dan Banyak Lagi Lainnya.”
Setiap Kata Itu Seperti Duri Yang Menancap Perlahan Di Dada Syam, Bukan Hanya Melukai Dirinya, Tapi Juga Melukai Orang Tuanya Yang Diam-Diam Mendengar Semua Itu.
Padahal, Tanpa Diketahui Banyak Orang, Justru Keluarga Syam Yang Menutup Semua Kekurangan Itu, “Orang Sering Menilai Dari Apa Yang Tampak, Bukan Dari Pengorbanan Yang Tak Terlihat.”
Hingga Suatu Malam, Syam Pulang Setelah Seharian Melamar Pekerjaan, Wajahnya Lelah Dan Langkahnya Berat. Ia Berharap Setidaknya Rumah Menjadi Tempat Istirahat, Tapi Yang Ia Dapatkan Justru Sebaliknya.
Mertuanya Mulai Mencibir, “Kerja Nggak Dapat-Dapat.
Maunya Cuma Makan Di Sini.”
Desty Ikut Menyambung, “Sumi Bikin Malu Keluarga, Keluarga Yang Lain Maju, Banyak Harta Dan Terhormat, Ini Malah Makin Gak Jelas,” Dengan Nada Suaranya Tinggi.
Kata-Katanya Kasar, Tanpa Adab, Tanpa Hormat Tapi Syam Hanya Diam. Bukan Karena Ia Tidak Punya Jawaban, Tapi Karena Di Dalam Rumah Itu Ada Putri Kecilnya. Ia Tidak Ingin Anaknya Melihat Ayah Dan Ibunya Bertengkar, Tapi Malam Itu, Batas Kesabaran Manusia Diuji.
Desty Berteriak, “Kalau Kamu Nggak Bisa Jadi Suami Yang Berguna, Keluar Saja Dari Rumah Ini!”
Pakaian Syam Dilempar Ke Teras, Satu Demi Satu Mulai Dari Baju, Celana Dan Tas. Semua Jatuh Ke Lantai Teras Seperti Harga Dirinya Yang Ikut Dijatuhkan.
Malam Itu, Tidak Ada Bentakan Dari Syam Dan Tidak Ada Perlawanan. Hanya Air Mata Yang Jatuh Pelan.
“Laki-Laki Juga Menangis, Hanya Saja Mereka Belajar Melakukannya Dalam Diam.”
Ia Menunduk, Mengambil Pakaiannya, Lalu Pergi Tanpa Kata, Tanpa Berteriak Apalagi Marah. Karena Hatinya Sudah Terlalu Lelah Dan Kembali Ke Rumah Yang Tidak Pernah Mengusir
Syam Berjalan Menuju Rumah Orang Tuanya, Langkahnya Pelan. Matanya Merah Dan Ketika Pintu Dibuka, Ibunya Langsung Tahu, “Ada Sesuatu Yang Hancur, Tanpa Banyak Tanya, Ibunya Memeluknya. Ayahnya Menepuk Bahunya.”
Di Ruang Tamu Rumah, Syam Menceritakan Semuanya. Setiap Kata Membuat Hati Orang Tuanya Seperti Diremas, Mereka Sakit Sekaligus Merasa Terhina Tapi Mereka Memilih Diam. Bukan Karena Lemah, Tapi Karena Tidak Ingin Memperbesar Api. “Orang Tua Yang Baik Tidak Selalu Membalas, Mereka Sering Memilih Menahan Luka Demi Anaknya.”
Malam Itu, Mereka Hanya Menenangkan Syam Dan Ayahnya Berkata Pelan “Laki-Laki Diuji Bukan Saat Dia Kuat, Tapi Saat Dia Jatuh.”
Lalu Ibunya Menambahkan, “Yang Penting Kamu Tetap Jadi Ayah Yang Baik.”
Dan Kakak Perempuannya Duduk Di Sampingnya, Lalu Berkata, “Tenang Saja. Kita Cari Jalan Keluar. Kamu Tidak Sendirian.”
Syam Mulai Tenang, Ia Menyadari Bahwa, “Ketika Dunia Menutup Pintu, Keluarga Adalah Satu-Satunya Rumah Yang Tidak Pernah Mengunci.”
Dan Malam Itu, Syam Sadar Satu Hal, “Rumah Tangga Bukan Hanya Soal Cinta, Tapi Soal Saling Menjaga Harga Diri.”
Ia Teringat Satu Nasihat Yang Pernah Ia Dengar, “Surga Istri Ada Pada Ridha Suami, Dan Surga Suami Ada Pada Tanggung Jawabnya Kepada Keluarga. Tapi Dalam Rumah Tangganya, Semua Itu Seperti Telah Dilupakan, Yang Ada Hanya Penilaian, Perbandingan Dan Tekanan Dari Keluarga Luar.”
Rumah Yang Seharusnya Menjadi Tempat Berteduh, Justru Berubah Menjadi Tempat Menghakimi. “Seperti Atap Yang Retak, Air Hujan Masuk Sedikit Demi Sedikit, Hingga Akhirnya Merusak Seluruh Rumah Dan Pernikahan Hancur Bukan Karena Badai Besar, Tapi Karena Retakan Kecil Yang Dibiarkan Terlalu Lama.”
TITIK TERENDAH SEORANG SUAMI
Setelah Malam Pengusiran Itu, Hidup Syam Seperti Kehilangan Arah. Ia Tidak Lagi Pulang Ke Rumah Yang Dulu Ia Sebut “Rumah Sendiri”.
Ia Kembali Menjadi Anak Di Rumah Orang Tuanya, Bukan Karena Ingin, Tetapi Karena Tidak Punya Pilihan. Setiap Pagi, Ia Bangun Lebih Awal Dari Biasanya. Bukan Karena Pekerjaan, Melainkan Karena Rasa Malu Yang Tak Bisa Ia Jelaskan.
Ia Melihat Ayahnya Menyapu Halaman Dan Melihat Ibunya Menanak Nasi Serta Melihat Kakaknya Bersiap Berangkat Kerja.
Semua Tampak Normal, Hanya Dirinya Yang Terasa Seperti Beban Inilah “Titik Terendah Seorang Laki-Laki, Saat Ia Merasa Tidak Berguna Bagi Orang-Orang Yang Ia Cintai.”
Padahal Keluarganya Tidak Pernah Memperlakukannya Seperti Beban, Ibunya Selalu Menyiapkan Sarapan Dan Ayahnya Selalu Menyapanya Dengan Senyum Serta Kakaknya Tetap Menaruh Uang Di Meja Untuk Kebutuhan Dapur Istrinya.
Tidak Ada Satu Pun Kata Yang Menyudutkannya, Tapi Justru Itu Yang Membuat Dada Syam Semakin Sesak.
“Kadang Kebaikan Orang Lain Justru Membuat Kita Sadar
Betapa Kecilnya Diri Kita.”
______
Setiap Hari, Syam Berkeliling Kota Dari Satu Perusahaan Ke Perusahaan Lain, Dari Satu Gerbang Pabrik Ke Gerbang Berikutnya. Ia Membawa Map Cokelat Berisi Berkas Lamaran. Map Yang Semakin Kusut Setiap Harinya. Kadang Ia Ditolak Halus, Kadang Bahkan Tidak Diberi Kesempatan Masuk Dengan Kata “Maaf, Lowongan Sudah Penuh.” Atau “Kami Cari Yang Berpengalaman” Dan Ada Juga Yang Mengatakan, “Nanti Kami Hubungi.” Tapi Handphonenya Tidak Pernah Berbunyi.
Siang Hari, Ia Duduk Di Halte Atau Warung Kecil, Memesan Teh Hangat Paling Murah, Lalu Membuka Ponselnya.
Bukan Untuk Hiburan, Tapi Untuk Melihat Foto Anaknya.
Putri Kecilnya. Senyumnya Membuat Hati Syam Terasa Hangat Sekaligus Perih, “Seorang Ayah Bisa Hidup Tanpa Harga Diri, Tapi Tidak Bisa Hidup Tanpa Melihat Anaknya Bahagia.”
Ia Tetap Mengirimkan Nafkah Tanpa Pernah Putus Walaupun Tidak Lagi Tinggal Di Rumah Istrinya, Syam Tidak Pernah Berhenti Memberi.
Setiap Kali Kakaknya Memberi Uang, Sebagian Ia Sisihkan Untuk Biaya Melamar Kerja, Sebagian Ia Transfer Ke Rekening Istrinya.
Tidak Banyak, Kadang Hanya Cukup Untuk Susu Anak Atau Kadang Hanya Cukup Untuk Belanja Dua Atau Tiga Hari, Tapi Itu Tetap Ia Lakukan.
Tanpa Pesan Panjang Apalagi Menuntut Balasan. Hanya Satu Kalimat Sederhana, “Untuk Anak.”
“Laki-Laki Sejati Tidak Diukur Dari Tempat Ia Tidur, Tapi Dari Tanggung Jawab Yang Tetap Ia Pikul.”
Bagi Syam Setiap Malam Terasa Begitu Panjang Dan Sunyi. Ia Sering Duduk Di Teras Rumah Orang Tuanya, Menatap Jalan Yang Sepi Sambil Bertanya Dalam Hati, “Apakah Pernikahannya Masih Bisa Diselamatkan?, Apakah Anaknya Akan Tumbuh Jauh Darinya?, Apakah Ia Akan Selalu Dianggap Gagal?”
Tapi Setiap Kali Pikirannya Mulai Gelap, Ia Teringat Wajah Ibunya Dan Suara Ayahnya Yang Berkata, “Jangan Menyerah, Rezeki Tidak Pernah Salah Alamat. Ketika Hidup Menutup Semua Pintu, Jangan Berhenti Mengetuk, Karena Pintu Terakhir Sering Terbuka Saat Kita Hampir Putus Asa.”
PEKERJAAN YANG MENGEMBALIKAN HARGA DIRI
Suatu Pagi, Handphone Syam Berdering Ada Nomor Baru Yang Tidak Dikenal. Ia Ragu Mengangkatnya, Karena Biasanya Itu Hanya Tawaran Kartu Kredit Atau Pinjaman, Tapi Pagi Itu Berbeda, “Selamat Pagi, Apakah Ini Bapak Syam Dzukri?, Kami Dari Perusahaan Logistik Dekat Bandara, Lamaran Anda Diterima Dan Bisa Mulai Kerja Minggu Depan?”
Dunia Terasa Berhenti Sejenak….Syam Terdiam, Matanya Berkaca-Kaca, Ia Hanya Bisa Menjawab Pelan,
“Iya, Pak… Bisa.”
Setelah Telepon Ditutup, Ia Menunduk Dan Menangis, Bukan Karena Sedih, Tapi Karena Lega. Akhirnya, Ia Punya Alasan Untuk Berdiri Tegak, “Kerja Bukan Sekadar Mencari Uang, Tapi Cara Seorang Laki-Laki Menjaga Harga Dirinya.”
Ia Langsung Memberi Kabar Pada Orang Tuanya, Ibunya Menangis Haru, Ayahnya Tersenyum Bangga Dan Kakak Perempuannya Menepuk Bahunya, “Lihat Kan? Rezeki Nggak Kemana.”
Walaupun Sudah Bekerja, Syam Belum Kembali Ke Rumah Istrinya. Hubungan Mereka Masih Dingin Dan Masih Penuh Luka, Tapi Satu Hal Tidak Berubah Yaitu Tanggung Jawabnya.
Setiap Bulan, Ia Mengirim Uang, Lebih Banyak Dari Sebelumnya. Untuk Kebutuhan Anaknya, Untuk Rumah Tangga Yang Dulu Ia Bangun. Ia Melakukan Itu Tanpa Banyak Bicara Apalagi Menuntut Permintaan Maaf.
Karena Baginya, Menjadi Ayah Tidak Tergantung Pada Keadaan, “Seorang Ayah Tetaplah Ayah, Bahkan Ketika Ia Tidak Lagi Dianggap Suami.”
Walaupun Di Hati Kecilnya Masi Mimiliki Harapan Agar Keluarga Kecilnya Kembali Utuh.
Di Sela-Sela Kesibukan Kerja, Syam Sering Memikirkan Anaknya. Ia Berharap Suatu Hari Nanti, Putri Kecilnya Tahu Satu Hal, “Ayahnya Tidak Pernah Lari Dan Ayahnya Tidak Pernah Berhenti Memberi Serta Ayahnya Tidak Pernah Berhenti Mencintainya. Karena Ia Tahu Anak Tidak Butuh Ayah Yang Sempurna, Mereka Hanya Butuh Ayah Yang Tetap Ada.”
KEMBALI KE RUMAH YANG PERNAH MENOLAK
Waktu Berjalan Perlahan, Namun Luka Di Hati Syam Belum Sepenuhnya Kering. Ia Kini Bekerja Di Perusahaan Logistik Dekat Bandara, Setiap Hari Ia Bangun Pagi, Berangkat Kerja, Pulang Sore, Lalu Duduk Di Teras Rumah Orang Tuanya. Rutinitas Itu Sederhana, Tapi Penuh Arti. Ia Kembali Merasa Menjadi Laki-Laki Yang Berguna. Setiap Akhir Bulan, Sebagian Gajinya Ia Kirimkan Ke Rekening Istrinya, Tanpa Pesan Panjang Apalagi Kata-Kata Manis. Hanya Satu Kalimat Yang Selalu Sama, “Untuk Anak.”
Suatu Sore, Telepon Syam Berdering, Nomor Yang Muncul Adalah Nomor Istrinya Padahal Sudah Lama Mereka Tidak Berbicara Langsung. Dengan Hati Berdebar, Ia Mengangkat Telepon Itu. Suara Di Seberang Terdengar Pelan Dan Bergetar, “Mas… Bapak Sakit Keras Dan Masuk Rumah Sakit.”
Syam Terdiam Beberapa Detik, Tidak Ada Rasa Dendam Yang Muncul Apalagi Kemarahan, Yang Ada Hanya Satu Pikiran, “Itu Ayah Istrinya, Kakek Dari Anaknya Dan Sosok Mertua Yang Selalu Baik Sama Syam”
Malam Itu Juga, Syam Datang Ke Rumah Sakit. Ia Berdiri Di Depan Ruang Perawatan Dan Melihat Mertua Laki-Lakinya Terbaring Lemah. Tubuh Yang Dulu Tegap, Kini Tampak Rapuh.
Desty Terlihat Lelah, Matanya Sembab Dan Wajahnya Pucat.
Untuk Pertama Kalinya Setelah Sekian Lama, Mereka Berdiri Berdekatan Tanpa Kata-Kata Kasar.
Hanya Kesunyian Dan Kekhawatiran Yang Sama, “Sakit Sering Menjadi Bahasa Yang Membuat Manusia Kembali Saling Mengerti.”
Malam Syam Tidak Pulang, Ia Membantu Mengurus Dan Menjaga Di Malam Hari, Membantu Membelikan Makanan Tanpa Banyak Bicara.
Ia Hanya Bekerja Dalam Diam Dan Beberapa Keluarga Mertua Yang Dulu Sering Menghina, Kini Melihat Syam Dengan Tatapan Berbeda.
Mereka Tidak Menyangka, Laki-Laki Yang Pernah Mereka Sebut “Benalu” Justru Menjadi Orang Yang Paling Sering Berada Di Rumah Sakit.
“Karakter Manusia Terlihat Bukan Saat Ia Dihormati, Tapi Saat Ia Diperlakukan Tidak Adil.”
Beberapa Hari Kemudian, Malam Yang Ditakuti Itu Akhirnya Datang. Mertua Laki-Laki Syam Menghembuskan Napas Terakhirnya. Tangispun Pecah Di Ruang Rumah Sakit, Desty Memeluk Ibunya Dan Keluarga Besarnya Berkumpul.
Syam Berdiri Sedikit Jauh, Menunduk, Membacakan Doa. Ia Tidak Ingin Terlihat, Tapi Ia Tetap Ada.
Sejak Hari Pemakaman, Syam Hampir Setiap Hari Datang Ke Rumah Mertuanya. Ia Membantu, Mulai Dari Mengurus Tamu, Menata Kursi, Membelikan Kebutuhan Dapur Hingga Menjaga Anak-Anak Kecil Keluarga.
Dari Hari Pertama, Hari Ketujuh, Hari Kedua Puluh, Hingga Malam Keempat Puluh. Ia Selalu Ada, Tanpa Diminta Apalagi Pamer Dan Menyinggung Masa Lalu.
Ibunya Desty Atau Mertua Perempuan Yang Dulu Paling Keras, Kini Mulai Melihat Syam Dengan Mata Yang Berbeda.
Ia Melihat Laki-Laki Itu Bekerja Dalam Diam, Tidak Pernah Mengungkit Hinaan Apalagi Membalas Sakit Hati.
“Kebaikan Yang Konsisten, Lebih Keras Suaranya Daripada Seribu Kata Pembelaan.”
Malam Keempat Puluh Selesai, Tamu Mulai Pulang Dan Rumah Kembali Sepi.
Di Ruang Tamu, Hanya Tersisa Beberapa Orang, Mertua Perempuannya Memanggil Syam, Suaranya Tidak Lagi Keras Seperti Dulu. Tidak Ada Nada Tinggi Apalagi Sindiran. Ia Berbicara Pelan, “Syam… Kalau Kamu Masih Mau, Pulanglah Kembali Ke Rumah Ini.”
Syam Terdiam. Ia Tidak Langsung Menjawab.
Mertua Itu Melanjutkan, “Anakmu Butuh Ayahnya Dan Rumah Ini… Juga Butuh Kamu.”
Desty Menunduk, Matanya Berkaca-Kaca Dan Untuk Pertama Kalinya Tidak Ada Amarah Di Wajahnya…Hanya Penyesalan.
Syam Tahu Itu, Karena “Tidak Semua Permintaan Maaf Diucapkan Dengan Kata-Kata, Kadang Cukup Dengan Air Mata Dan Keheningan.”
Malam Itu, Syam Masuk Ke Kamar Yang Dulu Pernah Ia Tinggalkan, Kamar Yang Sama Dan Tempat Tidur Dan Lemari Yang Sama.
Tapi Suasananya Berbeda, Desty Berdiri Di Dekat Pintu. Anaknya Berlari Kecil Menghampirinya,
“Ayaaahhhh…” Suara Kecil Itu Membuat Dada Syam Sesak. Ia Berlutut, Memeluk Anaknya Dengan Erat. Air Mata Jatuh Tanpa Bisa Ditahan.
Desty Mendekat Perlahan. Tanpa Banyak Kata, Ia Ikut Memeluk Mereka. Untuk Pertama Kalinya Setelah Sekian Lama, Keluarga Kecil Itu Kembali Dalam Satu Pelukan.
“Kadang Rumah Tidak Dibangun Dari Tembok, Tapi Dari Pelukan Yang Akhirnya Kembali.”
Rumah Yang Belajar Memperbaiki Diri, Tidak Ada Janji Besar Malam Itu Apalagi Kata-Kata Dramatis. Hanya Keheningan Yang Penuh Makna.
Syam Tahu, Luka Tidak Hilang Dalam Satu Malam, Tapi Setidaknya, Pintu Itu Sudah Terbuka Dan Ia Memilih Masuk, Bukan Sebagai Laki-Laki Yang Dulu Diusir, Tapi Sebagai Ayah Dan Suami Yang Tetap Bertahan.
“Orang Kuat Bukan Yang Membalas Luka, Tapi Yang Tetap Pulang Ketika Rumahnya Memanggil.”
EPILOG: RUMAH YANG BELAJAR BERTEDUH
Setelah Malam Keempat Puluh Itu, Hidup Syam Perlahan Berubah. Ia Kembali Ke Rumah Yang Dulu Pernah Mengusirnya, Bukan Sebagai Tamu, Bukan Sebagai Orang Asing, Tetapi Sebagai Suami Dan Ayah Yang Memilih Untuk Bertahan.
Awalnya, Suasana Masih Canggung, Percakapan Terasa Kaku. Langkah-Langkah Di Dalam Rumah Terdengar Seperti Orang Yang Berjalan Di Atas Pecahan Kaca, Tapi Waktu Memiliki Caranya Sendiri Untuk Menyembuhkan.
Desty Mulai Berubah. Ia Tidak Lagi Sekeras Dulu Dan Ia Mulai Menahan Kata-Kata Yang Dulu Mudah Keluar Dari Mulutnya Serta Mulai Belajar Menghargai Syam, Walaupun Tidak Selalu Berhasil.
Beberapa Bulan Kemudian, Kabar Bahagia Datang, Desty Kembali Hamil Anak Kedua, Kabar Itu Seperti Cahaya Kecil Di Dalam Rumah Yang Pernah Gelap. Syam Tidak Banyak Bicara, Tapi Dalam Setiap Sujudnya, Ia Selalu Berdoa, “Ya Tuhan, Jadikan Anak Ini Pengikat Hati Kami.”
Waktu Berjalan Begitu Cepat Dan Akhirnya Lahirlah Anak Kedua Mereka, Seorang Bayi Laki-Laki Yang Tangisnya Memenuhi Ruang Bersalin Dan Di Saat Itu, Syam Merasa Hidupnya Kembali Utuh.
Ia Kini Memiliki Seorang Putri Dan Seorang Putra. Keluarga Kecilnya Pun Terasa Lengkap.
“Anak Adalah Cahaya Yang Menyalakan Kembali Rumah Yang Hampir Padam.”
Setelah Kelahiran Anak Kedua, Desty Mulai Bekerja. Ia Diterima Di Sebuah Klinik Kesehatan, Sesuai Dengan Bidang Yang Ia Pelajari. Ia Mulai Membantu Ekonomi Keluarga Dan Mulai Mengenal Lelahnya Dunia Kerja Serta Merasakan Bagaimana Sulitnya Mencari Uang.
Sedikit Demi Sedikit, Ia Memahami Apa Yang Dulu Pernah Dialami Syam, Tapi Rumah Tangga Mereka Tidak Serta-Merta Berubah Menjadi Sempurna. Suasana Panas Masih Sering Terjadi Mulai Dari Perbedaan Pendapat, Nada Suara Yang Meninggi Serta Kata-Kata Yang Terkadang Masih Melukai.
Atap Rumah Itu Memang Sudah Diperbaiki, Tapi Bekas Retaknya Masih Terlihat. Kali Ini, Syam Tidak Membalas Dengan Emosi. Ia Memilih Diam, Tenang Dan Mengalah. Bukan Karena Ia Lemah Apalagi Tidak Punya Harga Diri.
Tapi Karena Ia Punya Dua Alasan Untuk Bertahan, Semua Demi Putri Dan Putranya.
“Laki-Laki Yang Sudah Menjadi Ayah, Tidak Lagi Hidup Untuk Dirinya Sendiri.”
Kesabaran Yang Menjadi Pondasi, Setiap Kali Suasana Memanas Dan Syam Melihat Wajah Anak-Anaknya.
Ia Masih Teringat Malam Saat Pakaiannya Dilempar Ke Teras, Tangisan Ibunya Serta Kesepian Di Rumah Orang Tuanya Dan Ia Tidak Ingin Anak-Anaknya Mengalami Hal Yang Sama.
Maka Ia Memilih Satu Jalan, Kesabaran Karena “Kesabaran Dalam Rumah Tangga Bukan Tanda Kekalahan, Tapi Bukti Kedewasaan.”
Ia Bekerja Setiap Hari, Memberi Nafkah, Mengantar Anak Sekolah Dan Menemani Mereka Bermain.
Bagi Syam, Kebahagiaan Bukan Lagi Soal Dihormati Atau Dipuji, Melihat Anak-Anaknya Tertawa, Itu Sudah Lebih Dari Cukup.
Rumah Yang Tidak Sempurna, Tapi Tetap Berdiri, Rumah Tangga Mereka Tidak Seperti Cerita Dongeng. Tidak Selalu Penuh Senyum Dan Tenang, Tapi Rumah Itu Masih Berdiri, Masih Ada Tawa Anak-Anak,Masih Ada Suara Piring Di Dapur Dan Masih Ada Lampu Yang Menyala Setiap Malam.
Dan Bagi Syam, Itu Sudah Menjadi Surga Kecilnya, Surga Yang Dulu Sempat Dilupakan, Surga Yang Hampir Runtuh Karena Retakan Dan Surga Yang Kini Dijaga Dengan Kesabaran.
“Rumah Tangga Yang Kuat, Bukan Yang Tidak Pernah Retak, Tapi Yang Mau Terus Diperbaiki.”
=========TAMAT======
ARDHI MORSSE, SELASA 10 FEBRUARI 2026







