PEMDES JATIMULYA Gelar Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas RT Dan RW Tahun Anggaran 2025

SIDIKPOST| Kabupaten Tangerang – Pemerintah Desa Jatimulya Menggelar Acara Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Ketua RT (Rukun Tetangga) Dan Ketua RW (Rukun Warga) Tahun Anggaran 2025. Acara Tersebut Dihadiri Langsung Oleh H. Asmawi S. IP. MM. MH Camat Kosambi Didampingi Oleh Poniman SH Kepala Desa Jatimulya (Ketua APDESI Kecamatan Kosambi). Acara Tersebut Dilaksanakan Di Kantor Desa Jatimulya Kecamatan Kosambi Kabupaten Tangerang.(28/11/25)

Pelaksanaan Acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas RT Dan RW di kantor Desa Jatimulya Diawali Dengan Pembacaan Doa Kemudian Menyanyikan Lagu Indonesia Raya Kemudian Lagu Mars Kabupaten Tangerang Kemudian Dilanjutkan Dengan Sambutan Oleh Poniman S.H Kepala Desa Jatimulya (Ketua APDESI Kecamatan Kosambi) Kemudian Dilanjutkan Dengan Sambutan Oleh Naji Ketua BPD Desa Jatimulya Kemudian Dilanjutkan Dengan Sambutan Oleh H. Asmawi S. IP. MM. MH Camat Kosambi kemudian Sambutan Oleh H. Suryanto Staf Binwas Kecamatan Kosambi. Acara Diakhiri Dengan Ramah Tamah Dan Foto Bersama.

Poniman S.H Kepala Desa Jatimulya (Ketua APDESI Kecamatan Kosambi) Menyampaikan ,” Bahwa Pelaksanaan Kegiatan Acara Bimbingan teknis (bimtek) peningkatan kapasitas RT/RW di Kantor Desa Jatimulya telah dilaksanakan dengan fokus pada peningkatan kualitas pelayanan, manajerial, dan sinergi dengan pemerintah. Kegiatan ini bertujuan agar RT/RW dapat lebih responsif dan proaktif serta meningkatkan kemampuan mereka dalam melayani warga, khususnya diwilayah Desa Jatimulya “.

Kemudian memperkuat sinergi dalam membangun kerjasama yang lebih kuat antara ketua RT, ketua RW dan pemerintah desa untuk menjalankan program-program. Kemudian membantu pengurus RT/RW dalam mengelola kegiatan dan program di tingkat lingkungan.

Meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah dengan membantu RT/RW untuk berkomunikasi lebih baik dengan warga dan stakeholder lainnya, serta meningkatkan kemampuan untuk mengatasi tantangan. Kemudian meningkatkan partisipasi masyarakat, mendorong peningkatan partisipasi warga dalam kegiatan dan program-program di tingkat RT/RW Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Ucap Poniman S.H Kepala Desa Jatimulya (Ketua APDESI Kecamatan Kosambi) “.

Acara Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Rukun Tetangga (RT) Dan Rukun Warga (RW) Tahun Anggaran 2025 Di Kantor Desa Jatimulya Dihadiri Langsung Oleh H. Asmawi S. IP. MM. MH Camat Kosambi Beserta H. Suryanto Staf Binwas Kecamatan Kosambi Bersama Poniman S.H Kepala Desa Jatimulya (Ketua APDESI Kecamatan Kosambi) Bersama Drs. Saripudin Sekdes Jatimulya Beserta Naji Ketua BPD Desa Jatimulya Bersama M. Karim Kaur Perencanaan Dan Agil Kaur Pemerintahan Desa Jatimulya Bersama Aipda Marhadi Bhabinkamtibmas Desa Jatimulya (Polsek Teluknaga) Dan Serka Herman Babinsa (Koramil 01/ Teluknaga) Beserta Ketua RT Dan Ketua RW Se Desa Jatimulya.

 

Kendy

Pengedar Tramadol Dibekuk, Polisi Amankan Ribuan Pil

SIDIKPOST| Tangerang — Unit Reskrim Polsek Jatiuwung berhasil mengungkap peredaran obat keras daftar G di wilayah Jatiuwung, Kota Tangerang. Dua orang diamankan dalam operasi yang dilakukan pada Rabu malam (26/11/2025) di dua lokasi berbeda.

Kapolsek Jatiuwung Kompol Rabiin, S.H. menjelaskan, kasus ini terbongkar setelah tim opsnal mendapatkan informasi terkait peredaran obat-obatan keras yang dilakukan secara diam-diam di lingkungan masyarakat.

Pelaku pertama yang diamankan adalah pria berinisi HS di depan sebuah minimarket di Jalan Pajajaran, Kampung Dumpit, Gandasari Jatiuwung. Dari Heru, polisi mendapati lima butir obat keras jenis tramadol.

Hasil pemeriksaan awal mengarah kepada pelaku kedua berinisial DS, yang diduga sebagai pengedar. Polisi kemudian melakukan pengembangan hingga ke sebuah kontrakan di Kampung Sabi, Kelurahan Bencongan, Kecamatan Kelapa Dua.

Dari lokasi kedua tersebut, petugas menemukan barang bukti besar berupa:
– 1 unit ponsel;
– 240 butir Tramadol;
– 828 butir Eksimer;
Total 1.065 butir obat keras daftar G.

“Dari hasil penggeledahan, kami menemukan ribuan butir obat keras daftar G yang diduga akan diedarkan ke masyarakat secara ilegal,” ujar Kompol Rabiin.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si. memberikan apresiasi atas langkah cepat anggota Polsek Jatiuwung dalam menindak pelaku yang meresahkan warga.

“Peredaran obat keras tanpa izin sangat berbahaya, terutama bagi remaja. Kami akan tindak tegas semua bentuk kejahatan yang mengancam keselamatan generasi muda,” tegas Kapolres.

Kapolres juga mengingatkan masyarakat agar segera melapor jika mengetahui adanya praktik penjualan obat keras ilegal di lingkungannya bisa melalui Call Center 110.

“Kami tidak ingin ada korban penyalahgunaan obat-obatan ini, terlebih sampai memicu aksi kriminal lainnya,” tambahnya.

Saat ini, pelaku pengedar DS telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara HS akan diarahkan ke program rehabilitasi karena statusnya sebagai pengguna.

Penulis :Anton Teef

Editor : Redaksi

Cerpen : TIGA NAFAS SILIWANGI (Pedang Cahaya di Lembah Korupsi).

KAMPUNG NGALUYU

Kabut turun lebih cepat malam itu, tidak ada suara jangkrik, hanya desir angin dari hutan Larangan yang terdengar seperti bisikan para karuhun yang resah. Kampung Nagaluyu bukan lagi kampung damai yang dulu dibanggakan orang-orang tua.
Di bawah kepemimpinan Kepala Kampung Wangsadra, tanah mulai dijual secara diam-diam kepada para makelar kota, irigasi dialihkan untuk sawah milik pejabat kecamatan, dan pemuda kampung dijadikan tenaga kasar tanpa upah.
Semua dimulai ketika tambang batu giok ditemukan di hulu sungai dan seperti kata karuhun:
“Lamun harta digali, maka iblis bakal dibébaskeun.” (Ketika harta digali, iblis akan ikut terbebas.)

I. Tumbuhnya “Rama” di Tengah Kerusakan

Purwa, pemuda yang selama ini menjaga ladang kecil peninggalan ayahnya, melihat bagaimana retakan moral itu terjadi perlahan.
Namun ia memilih diam, sampai suatu malam ia melihat seorang petani tua “Ki Darmaga” ditarik paksa oleh anak buah Kepala Kampung.
“Bayar pungutan! Sawahmu mengalir dari sungai yang akan jadi milik pemerintah!”
Ki Darmaga hanya menangis. Ia sudah menjual kambing terakhirnya.
Purwa berdiri di depan mereka, “Aya aturan naon? Anjeun teu boga hak!” teriaknya.

Namun pukulan mendarat ke wajahnya. Ia jatuh, Darahpun mengalir. Tapi saat wajahnya menempel tanah, ia mendengar…
bisikan lirih dari bumi Parahyangan, Suara yang lebih tua dari leluhur mana pun.
“Jangan mundur, anak muda. “Rama” lahir dari luka yang ingin disembuhkan.”

Purwa bangkit. Mata para pemukul itu sempat goyah. Ia berkata, dengan darah mengalir dari hidung:
“Rama téh jalma anu nyanghareupan bencana bisi jalma séjén cilaka.”
(Rama adalah orang yang menghadang bencana agar orang lain selamat.)

Ia memeluk Ki Darmaga, melindunginya dari tindakan kecil itu, rakyat mulai melihat secercah harapan. Namun harapan adalah ancaman bagi penguasa korup.

II. Kebijaksanaan yang Terkubur di Lembah Gelap

Setelah kejadian itu, Purwa dicari oleh aparat kampung. Maka ia melarikan diri ke lembah Larangan, menuju gubuk tua tempat tinggal Eyang Mandrajati, resi terakhir yang masih tersisa.
Orang-orang bilang resi itu sudah tidak sepenuhnya hidup. Ia berdiri di ambang dunia manusia dan dunia roh.
Ketika Purwa tiba, Eyang Mandrajati sedang duduk di batu besar, dikelilingi kabut tipis, seperti sedang berbicara dengan mereka yang sudah meninggal, “Eyang… kampung kami hancur. Korupsi mengalir lebih deras dari sungai. Aku ingin melawan… tapi aku takut tersesat.”

Eyang menatapnya. Sorot matanya jernih seperti mata air yang belum disentuh manusia.
“Purwa,” katanya pelan, “Kakuasaan tanpa Resi bakal ngaruksak, tapi kebijaksanaan tanpa kakuatan ngan jadi dongeng kosong.”
(Kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan menghancurkan, tetapi kebijaksanaan tanpa kekuatan hanya menjadi dongeng kosong.)

Malam itu, Eyang mengajarkan Purwa tentang “Tiga Nafas Siliwangi” (ajaran kuno yang pernah diberikan Prabu Siliwangi kepada para pangawinnya),

Nafas Wening: Jernih dalam membaca musuh
“Nu loba sora teu salawasna leres, nu sepi tara hartina salah.”

Nafas Kawani: Berani pada tempatnya
“Kawani lain ngalawan sadayana, tapi nangtung di tempat nu bener.”

Nafas Wibawa: Menundukkan tanpa mengancam
“Rasa hormat henteu dipénta, tapi ditandur.”

Dalam hening lembah itu, Purwa merasa hatinya dibersihkan. Ia belajar bahwa seorang Resi bukan sekadar bijak, ia menjadi cermin bagi pemimpin. Namun resi itu memberi peringatan keras:
“Jalanmu bakal gelap. Sababaraha jalma bakal ninggalkeun anjeun. Sababaraha bakal ngadoleskeun Anjeun. Tapi ingat: ksatria Siliwangi moal éléh ku kamelang, ngan bisa éléh ku hawa nafsuna sorangan.”

Kabut di sekitar mereka bergetar. Seolah para karuhun menyetujui.

III. Ketegasan yang Harus Dipilih

Sepulang dari lembah Larangan, Purwa menemukan kampungnya berubah makin parah. Buldozer sudah bersiap meratakan ladang untuk proyek tambang. Orang-orang desa dipaksa tanda tangan surat pelepasan tanah. Polisi desa ikut mengamankan operasional makelar.
Kepala Kampung Wangsadra berdiri di tengah kerumunan, wajahnya sinis.

“Purwa,” katanya, “kau kembali? Bagus. Sekarang tunduklah, atau kampung ini akan kami anggap melawan pemerintah.”

Purwa melangkah maju, “Abah Wangsadra, tanah ini bukan warisan pemerintah. Ini warisan karuhun kami.”

Ia menatap semua warga lalu berkata lantang, “Ratu téh lain soal tahta, tapi soal kasatiaan ngajaga rahayatna.”
(Ratu bukan soal takhta, tetapi soal kesetiaan menjaga rakyatnya.)

Orang-orang mulai semangat. Namun Kepala Kampung mengangkat tangan, memberi kode. Para preman datang membawa parang. Suasana menjadi gelap. Angin berhenti. Hutan Larangan seakan menahan napas.

Purwa berdiri di depan warga, seperti batu karang menghadang badai, “Lamun hirup kudu ragrag, ragragna kudu bermakna.”
(Jika hidup harus gugur, maka gugurlah dengan makna.)

Para preman menyerbu.

Tapi malam itu, terjadi sesuatu yang kelak disebut orang-orang sebagai “Wanci Karuhun Ngagungkeun Tanah”—(Waktu Leluhur Menjaga Tanah.)

Angin berputar, kabut turun menyeruak, dan suara gamelan samar terdengar dari hutan. Preman-preman itu terjatuh satu per satu, bukan karena pukulan, tapi karena ketakutan, seolah ada sosok-sosok tinggi yang berjalan di belakang Purwa, tak terlihat namun terasa.

Wangsadra lari terbirit-birit.
Tambang batal.
Buldozer ditarik mundur.
Warga bersujud syukur.

Purwa berdiri tegak, tapi wajahnya pucat. Ia tahu apa yang datang malam itu bukan kekuatan dirinya sendiri.
Ia berbisik, “Hatur nuhun, para karuhun… tapi ini baru awal.”

IV. Titah Terakhir: Cahaya yang Menjadi Pedang

Beberapa hari kemudian, warga menobatkan Purwa sebagai pemimpin adat baru. Bukan raja, bukan kepala kampung, tetapi “Ratu Lembur” Pemangku Keadilan Kampung.
Di depan balai adat, Purwa berkata, “Siliwangi ngajarkeun: ‘Sing jadi ratu pikeun rasa, jadi rama pikeun nu lemah, jadi resi pikeun diri sorangan.’”
(Siliwangi mengajarkan: Jadilah ratu untuk keadilan, rama untuk yang lemah, dan resi untuk dirimu sendiri.)

Ia memimpin pembongkaran pos pungli, membuka kembali irigasi untuk rakyat kecil, dan memperbaiki hubungan antarwarga.
Namun korupsi tidak hilang seketika. Politisi dari kabupaten mulai memperhatikannya. Konflik baru terasa seperti menunggu di balik bukit.

Purwa menyadari, perjuangannya baru dimulai dan setiap kali ia berdiri di bukit Nagaluyu, ia mendengar lagi bisikan itu, “Ksatria Siliwangi hirup lain pikeun kamulyaan diri, tapi pikeun cahaya anu moal pernah eureun dijarkeun.”
(Ksatria Siliwangi hidup bukan untuk kemuliaan diri, tetapi untuk cahaya yang tidak pernah berhenti diajarkan.)

Dan begitulah Nagaluyu menemukan pemimpinnya, bukan dari darah bangsawan, bukan dari suku pertama, tetapi dari seseorang yang berani menjadi Rama, belajar menjadi Resi, dan terpaksa menjadi Ratu.

KONFLIK DENGAN PEMIMPIN KABUPATEN

Kabut Parahyangan sore itu tampak lebih pekat dari biasanya. Orang-orang tua kampung mengatakan, “Lamun kabut siga kieu, tandana aya anu datang teu jeung niat hadé.”
Mereka benar.
Sebuah rombongan mobil hitam menggilas jalan tanah menuju Kampung Nagaluyu. Di dalamnya, duduk seorang lelaki berjas tebal, dengan cincin emas besar di jari: Bupati Darmawangsa, Ia politisi kabupaten yang selama ini dikenal lihai dalam permainan kekuasaan.
Ia turun, menatap kampung dengan senyum kaku. Tatapan kaku matanya… tajam seperti pisau.

Tekanan dari Kabupaten

Di balai adat, ia duduk berhadapan dengan Purwa, para tetua, dan warga.
“Saudara Purwa,” katanya merdu, “kabupaten ingin membangun proyek GeoPark di tanah ligan kampung ini. Wisata, Investasi dan Kemajuan.”
Purwa merasakan hawa dingin. Ia tahu: proyek itu hanyalah pintu masuk untuk mengambil batu, kayu, dan tanah adat.
Purwa menarik napas, “Tanah karuhun mah lain dagangan… éta amanah.”
(Tanah leluhur bukanlah barang jualan… itu amanah.)

Bupati tersenyum, seolah sudah menduganya, “Bagaimana kalau kabupaten memberi kompensasi?”

Amplop tebal diletakkan di meja, suasana pertemuan menjadi ramai, Wargapun mulai gelisah.

Purwa berdiri, “Ratu anu sajati moal nyokot nu teu pantes sanajan disodor-sodorkeun ku emas.”
(Pemimpin sejati tak mengambil yang tak pantas, meski emas disodorkan padanya.)

Suasana ruang di balai pertemuan memanas dan menegang.
Bupati merapikan jasnya. “Saya akan kembali lagi, Pikir baik-baik, Dunia ini bukan dunia dongeng dan Semua orang… punya harga.”
Ia pergi meninggalkan balai adat dengan tatapan gelap yang menjanjikan badai.

Politik Kotor Mulai Menjalar

Hari-hari berikutnya suasana kampung mulai berubah, fitnah-fitnah mulai tersebar di kabupaten,
“Purwa radikal.”
“Purwa anti pembangunan.”
“Purwa punya kepentingan pribadi.”

Surat dari kabupatenpun datang, Purwa dipanggil untuk diperiksa karena “melawan program pemerintah”.
Beberapa warga yang lemah iman mulai goyah, mereka ada yang diam-diam menerima uang dari utusan bupati.
Purwa melihat perubahan dan kondisi warga yang mulai menerima uang dari penyusup atas printah bupati dengan mata yang mulai letih.

Pada suatu malam, ia duduk sendirian di bawah pohon Kihiyang, pohon keramat peninggalan karuhun.Angin lirih berbisik di telinganya. Ayunan daun terdengar seperti suara dari masa lalu.

Tiba-tiba, muncul bayang samar. Itu Sang Pamuja Jagat, salah satu karuhun kampung, wajahnya tertutup kabut, suaranya menyerupai desir sungai.

“Anaking Purwa…”
“Jalan “Rama, Resi, Ratu” yang kau tempuh tidak berhenti di sini.”

Purwa pun menunduk, air matanya menetes.
“Karuhun… abdi parantos ngantosan kakuatan. Dunia politik ieu kacida kotorna.”

Sang Karuhun menjawab, “Kakuatan anu paling bahaya téh lain musuh di luar, tapi ragu dina jero haté.”
(Kekuatan paling berbahaya bukan musuh di luar, tetapi keraguan di dalam hati.)

Lalu secara perlahan bayang di hadapan purwa itu hilang dan malam terasa lebih gelap.

Saat Pengkhianatan Terjadi

Esok harinya, kabar buruk datang, Salah satu pemuda kampung, ‘Gilar’ yang dahulu pernah Purwa tuntun dalam lingkar Resi, tertangkap tangan warga sedang bersama rombongan kabupaten memasang patok proyek.

Purwa sangat kecewa dengan peristiwa itu, tapi ia mendekati Gilar dengan tenang.
“Gilar, kunaon?”

Pemuda itu menunduk lemah tidak berani menatap wajah purwa,
“Abdi… gaduh kahayang hirup leuwih hadé. Bupati masihan abdi jabatan… jeung duit.”

Purwa memejamkan mata, Ia belajar menerima luka ini.
“Nu ngajadikeun ratu gedé téh lain jumlah anu nurut, tapi sabaraha anu bisa dirangkul sanajan nganyeri.”
(Yang membuat pemimpin besar bukan berapa banyak yang tunduk, tetapi berapa banyak yang bisa dirangkul meski menyakitkan.)

Kejadian pemasangan patok-patok itu melupakan permasalahan awal.

Selanjutnya, Di balai desa, surat resmi tiba, menyatakan bahwa Kabupaten akan memulai proyek paksa dan Kampung tidak punya hak menolak, Surat Resmi kabupaten Dibubuhi stempel merah darah.

Hari itu, Purwa memanggil seluruh warga, Ia berdiri di bawah matahari yang berwarna tembaga, seolah langit pun menahan napas,
“Bupati Darmawangsa mengira urang bisa dibeli,” katanya.
“Padahal urang gaduh anu teu bisa dibeli: harga diri karuhun.”

Kemudian, menatap warga satu per satu,
“Ratu anu sajati lain nu ngancam, tapi nu ngajaga.”
(Pemimpin sejati bukan yang mengancam, tetapi yang melindungi.)

Orang-orang mulai berdiri dari tempat duduknya, Mata mereka berubah menjadi kobaran kecil.

Purwa melanjutkan, “Upami urang teu ngajaga tanah ieu ayeuna… urang bakal leungit diri urang sorangan.”
(Jika kita tidak menjaga tanah ini sekarang… kita akan kehilangan diri kita sendiri.)

Dan pada hari itu, seluruh kampung menyalakan obor di batas tanah adat. Seperti lautan cahaya yang menolak dilahap kegelapan.

Benturan Dengan Kekuasaan

Rombongan bupati membawa kendaraan kembali datang, kali ini bersama aparat.
Sang Bupati turun bersama rombongan , wajahnya terlihat gurat kemerahan.
“Kalian menghalangi pembangunan! Ini tindakan melawan negara!” Teriaknya.

Purwa pun melangkah maju, ditemani para tetua kampung.
Ia menatap bupati tanpa gentar sedikit pun, “Negara anu leres bakal ngajagi rahayat, lain ngancurkeunana.”
“Kakuasaan tanpa nurani mah ibarat harimau kelaparan: bisa dahar saha wae, kaasup nu miara.”
(Kekuasaan tanpa nurani adalah harimau kelaparan: bisa memakan siapa saja—bahkan yang memeliharanya.)

Para aparat yang masuk dalam rombongan bupati terlihat bimbang, tidak ada yang berani memulai kekerasan ketika ratusan warga berdiri diam, tanpa senjata, namun dengan tatapan yang tak bisa dibeli.
Bupati diam dan terpojok, akhirnya mundur dengan geram. Ia tahu bahwa kampung ini tidak mudah tunduk. Tapi ia tidak akan berhenti.
Bayang-bayang politik dan kekuasaan rakus selalu punya cara lebih gelap.

Malam itu, Purwa kembali ke pohon Kihiyang. Ia menyalakan dupa, memohon petunjuk.
Angin bergerak aneh. Suara-suara halus terdengar dari dalam batang pohon. Seolah karuhun sedang berunding, memberi jalan atau memberi peringatan.

Purwa berbisik, “Abdi moal mundur… sanajan jalan ieu bakal nyieun getih ngocor di taneuh karuhun.”

Di kejauhan, suara anjing menggonggong, menandakan ada bahaya yang bergerak di perjalanan. Konflik antara pemimpin kampung dan politisi kabupaten kini berubah menjadi perang jiwa, perang kepentingan, dan perang nurani.
Yang gelap belum selesai. Yang mistik belum sepenuhnya bangkit.

SABOTASE, KORUPSI, DAN KEBANGKITAN ROH SILIWANGI

Kabupaten itu tampak biasa di siang hari: rapat DPRD, dengar pendapat, baliho-baliho politik yang basah oleh hujan. Tapi di balik itu semua, aliran uang haram berputar seperti sungai hitam yang tak pernah kering dan Purwa seorang pemuda dari kampung kecil tidak menyadari bahwa kini ia berdiri tepat di tengah arus itu.

Di Nagaluyu, dua minggu setelah Purwa menolak proyek Ardalaksana, hal-hal aneh mulai terjadi.
Awalnya, irigasi sawah tersumbat, warga menyalahkan alam, sampai ditemukan karung-karung plastik di dalam pintu air, karung itu sengaja dimasukkan malam-malam.
Kemudian kandang sapi milik seorang petani tiba-tiba terbakar, padahal malam itu hujan deras. Lalu sumur-sumur mengeluarkan bau logam, membuat air tak layak minum.
Abah Wiradipa menggeleng lirih, “Ini mah sabotase, Purwa… ini mah tangan jahat.”
Purwa mengepalkan tangan, “Lamun dahareun diserang, lembur jadi leuleus. Ieu usaha pikeun mecah urang.”
(Jika makanan disabotase, kampung menjadi lemah. Ini strategi untuk memecah kita.)

Warga mulai resah, Beberapa warga bahkan berkata, “Mungkin kita pasrah saja. Tanah itu biar diambil. Yang penting sarana hidup tidak diganggu.”
Purwa tahu… ini yang diinginkan musuh; ketakutan, bukan perang.
Malam itu ia naik ke bukit pasarean karuhun, Ia duduk diam di bawah pohon besar, mengalunkan doa lama yang diajarkan Eyang Mandrajati.
Dan angin tiba-tiba berubah.
Daun-daun bergetar.
Tanah seperti berdenyut.
Seolah ada yang bangun dari tidur panjang.

Sementara itu di kabupaten, rapat internal berlangsung di sebuah ruangan tertutup pendapa.
Ada Raden Ardalaksana, dua anggota DPRD serta Ada kepala dinas dan ada seorang pengusaha tambang asing berwajah dingin.
Di meja mereka, bukan hanya peta Nagaluyu, tapi juga koper hitam yang berisi uang mengalir dari proyek-proyek siluman.
“Apa pun yang terjadi,” kata Ardalaksana sambil memukulkan jari ke meja, “Nagaluyu harus kosong dalam tiga minggu. Kita rapikan dokumennya sebagai ‘relokasi bencana alam’.”
Salah satu anggota DPRD bertanya ragu, “Kalau ada wartawan?”
Ardalaksana tersenyum licin, “Kita punya humas, Kita punya polisi dan kita punya uang.”

Ia menambahkan, “Kalau kampung itu keras kepala… hancurkan, Banjir bandang bisa direkayasa dan Kebakaran bisa dipicu. Dunia ini bukan dunia orang bersih.”

Secara bersama Mereka tertawa lirih, Tawa orang-orang yang merasa kekuasaan ada di tangan mereka.
Di sudut ruangan, asap dupa beraroma aneh mengepul, Pengusaha asing itu membakar sesuatu dan berbisik dalam bahasa yang tidak dikenali dan ketika asap menyentuh peta Nagaluyu, warnanya menghitam.

Teror Malam: Bayangan Hitam di Balik Pintu

Malam itu, Purwa meronda bersama para pemuda kampung. Angin dingin turun tiba-tiba, membawa bau amis, dan Dari kejauhan terlihat sosok-sosok berpakaian hitam merayap di antara pohon.
Terlalu banyak untuk disebut maling, terlalu terlatih untuk disebut preman biasa. Tanpa suara, mereka menyelipkan kain bensin di beberapa rumah. Satu percikan saja… kampung terbakar.

Purwa berlari dan berteriak, “Warga! Ka luar! Aya anu rék ngaduruk lembur!”

Api pertama menyala.
Warga berhamburan.
Suara jeritan bersahutan.

Tapi tiba-tiba… angin berhenti, Betul-betul berhenti. Api yang berkobar membeku seperti lilin yang dilindungi kaca. Pemuda hitam yang menyalakan api mendadak menjerit, terpelanting seperti dipukul sesuatu yang tak terlihat.

Warga membisu, Purwa merasakan tengkuknya merinding, Dari balik kabut yang keluar dari hutan Cadas Sangiang, muncul sesuatu…
Bukan manusia.
Bukan pula hewan.
Siluet besar.
Berpunggung seperti harimau.
Bermata seperti bara yang dingin.

Langkahnya berat tapi hening, dan ketika ia menatap para penyerang itu, para preman kabupaten itu langsung lari pontang-panting seperti anak kecil melihat kematian.

Warga gemetar.
Purwa menunduk perlahan.
Ia tahu sosok apa itu.
Ia tahu nama yang sejak kecil hanya disebut dengan hormat, bukan dengan suara keras.
“Roh Siliwangi…” Gumam Abah Wiradipa sambil bergetar.
“Kekuatan karuhun nu ngajaga tanah ieu.” Kekuatan leluhur yang menjaga tanah ini.
Dan sosok itu… Menatap Purwa. Ia tidak marah, tidak juga ramah.. Hanya mengakui.
Seolah berkata, “Anaking… ayeuna giliran anjeun nangtung.” (Nak… sekarang giliranmu berdiri.)
Sosok itu lalu menghilang ke balik kabut dan pepohonan, dan Malam Kembali damai, wargapun kembali ke rumah.

Pagi itu kampung Nagaluyu berkumpul, mereka melihat bekas sabotase, bekas api, bekas ancaman.
Tapi mereka juga melihat, tidak satu pun rumah yang hancur dadatidak satu pun warga yang terluka, Seolah ada tameng besar yang melindungi kampung dan warga kini memandang Purwa bukan sebagai pemuda biasa, tapi sebagai pemimpin yang mendapat restu alam.

Abah Wiradipa berkata lantang, “Upama politisi boga duit, urang boga karuhun.”
(Jika politisi memiliki uang, kita memiliki leluhur.)
Warga semuanya yang bersorak. Purwa menatap bukit berkabut itu dan berbisik, “Siliwangi, tuntun abdi… Perang ieu tacan réngsé.”
Ia tahu kebangkitan roh leluhur bukan akhir… Ini baru awal dari amukan besar, karena Ardalaksana akan marah. Kabupaten akan mengerahkan kekuatan penuh dan korupsi yang berbau darah itu tidak akan berhenti hanya karena satu kampung kecil melawan.

Operasi Hitam Kabupatenpun, dan Akhir dari Tanah yang Dijaga Langit

Malam sebelum semuanya pecah, kabupaten seperti bersiap untuk perang, tidak dengan meriam, tidak dengan tank. Mereka siap dengan cara yang lebih halus dan lebih kejam.
Operasi ini mereka sebut, “Operasi Padaringan” operasi untuk mengeringkan kampung, memeras habis semangat hidupnya, hingga warga menyerah tanpa mereka perlu menembakkan satu peluru pun.

Bagi mereka, Nagaluyu hanyalah tanah kecil tanpa suara, tapi mereka lupa satu hal:Tanah yang dijaga leluhur bukan tanah kosong.

Esok paginya, kabupaten menggelar konferensi pers besar, Wartawan-wartawan dari kota diundang. Mereka duduk sambil membuka laptop, kamera terarah.
Raden Ardalaksana masuk dengan wajah tenang dan senyum palsu yang sudah terlatih.
Ia berkata, “Kami mendapati indikasi bahwa kampung Nagaluyu kini menjadi tempat persembunyian kelompok radikal yang menolak pembangunan.”
Di layar besar, muncullah foto Purwa yang diambil diam-diam dengan cahaya redup sehingga tampak mencurigakan.
Ardalaksana melanjutkan, “Purwa ini pemuda yang terindikasi menerima dana asing untuk menghambat investasi nasional.”
Tentu saja itu bohong, Tapi media menulisnya cepat dan Berita menyebar lebih cepat dari doa.
Di Nagaluyu, warga mulai ketakutan, Ada yang bertanya lirih, “Apa Purwa benar begitu?”
Yang lain menjawab, “Mustahil… tapi pemerintah mana pernah salah?”

Dan di tengah kegaduhan itu, Purwa hanya berkata pelan, “Ratu anu bener bakal difitnah heula, tempatna di adu heula, najan anjeunna suci.”
(Pemimpin yang benar akan difitnah dulu, dilukai dulu, meski ia tak bersalah.)
Ia menatap kampungnya, bukan dengan marah—tapi dengan keteguhan.
Sore harinya, datanglah rombongan konvoi polisi memasuki kampung, Sirene meraung dadamobil hitam berbaris.

Komandan polisi turun dan membacakan surat, “Sesuaikan dengan aturan kabupaten, wilayah ini akan disegel karena diduga mengancam keamanan investasi.”

Warga pun beramai-ramai menolak dan berteriak, “Ini tanah kami! Pasarean karuhun kami!”
Tapi polisi tidak peduli, Mereka dibayar untuk mematikan suara rakyat.
Purwa berdiri di depan barisan polisi, “Jangan sentuh pasarean, di sana tinggal roh karuhun.”

Komandan tertawa sinis, “Roh? Kau pikir roh bisa menghalangi penetapan pemerintah?”

Lalu ia memberi aba-aba, “Bongkar pagar! Masuk semua!”
Polisi mulai menebang pohon,
Menggali tanah,
Mengangkat batu-batu leluhur,
Dan membawa alat berat memasuki batas suci pasarean.

Tiba-tiba Tanah itu bergetar,
Angin berhenti,
Kabut turun cepat, tidak wajar.
Eyang Mandrajati muncul sambil membawa tongkat tua.
“Tahan! Tahan! Kami sudah memperingatkan!”

Tapi tak ada yang mendengar, Kecuali… yang ada di balik kabut.
Ketika alat berat menyentuh tanah pasarean, terjadilah sesuatu yang membuat langit terbelah.
Suara menggelegar datang dari bukit, Bukan suara manusia, Bukan pula suara hewan, Seperti raungan harimau bercampur dengan suara badai.

Tiba-tiba pepohonan di sekitar pasarean bergerak serempak, Akar-akar tanah keluar seperti tali yang membelit dan Angin dingin menyapu kampung, membuat seluruh polisi mundur ketakutan.
Dan dari balik kabut itu…Sosok besar muncul, Bukan Cuma bayangan seperti sebelumnya.
Kini jelas,
Harimau besar berselimut cahaya emas kebiruan, matanya bagaikan bara redup, tubuhnya setengah manusia, setengah raksasa. Itu bukan jin apalagi hantu.

Itu Roh Siliwangi dalam bentuk perlindungan penuh. Polisi berhamburan, Alat berat terangkat sendiri dan terlempar ke sungai dan Pohon-pohon berdiri kembali seperti mengusir penyusup.
Raden Ardalaksana yang datang kemudian, melihat itu dengan wajah pucat.
Ia berteriak, “Apa-apaan ini!? Ini gaib kampungan! Saya panggil tentara! Saya panggil semuanya!”
Siliwangi menatapnya, Satu tatapan itu membuat lututnya lemas.
Purwa maju ke depan, Ia memegang tongkat yang diberikan Eyang Mandrajati, “Siliwangi… cukup. Biarkan aku yang menyelesaikan ini.”
Sosok itu berhenti, perlahan Menunduk dan berangsur menghilang seperti kabut kembali ke langit.
Kini tinggal Purwa…dan manusia-manusia tamak yang kini ketakutan.
Kejadian itu tidak dapat disembunyikan, semua warga merekam dan para wartawan lari panik. Video-video naik ke media. Dunia menonton, Kabupaten geger dan pemerintah Pusat turun tangan melakukan Investigasi besar. Kasus korupsi mencuat: dokumen palsu, proyek ilegal, aliran uang gelap, transaksi tambang ilegal.
Raden Ardalaksana ditangkap serta Beberapa pejabat ikut terseret dan Pendapa Kabupaten menjadi simbol runtuhnya kekuasaan gelap.

Desa Nagaluyu akhirnya menjadi kawasan adat yang dilindungi. Pasarean karuhun tak boleh disentuh tanpa adat, tanah digaris merah dan tak boleh diperjualbelikan. Warga kembali hidup dengan damai.

Purwa tidak menjadi kepala kampung. Ia menolak ketika akan di jadikan pemimpin desa,
Ia hanya berkata, “Abdi mah cukup jadi panyala lampu. Rakyat nu boga cahaya.”
(Aku cukup menjadi penyala lampu. Rakyatlah pemilik cahaya.)
Namun semua orang tahu…
Pemuda itulah pemimpin sejati.

EPILOG: CAHAYA YANG TIDAK PERNAH PADAM

Suatu pagi, Purwa naik kembali ke bukit pasarean. Ia membawa bunga, meletakkannya pelan.
“Karuhun… hatur nuhun. Hatur nuhun parantos ngajaga lembur.”
Angin bertiup lembut, Seperti tangan tua menepuk bangajagal
Dari kejauhan, samar terdengar suara, “Lamun bumi dijaga ku anu ikhlas, langit bakal nurunkeun wibawa.”
(Jika bumi dijaga oleh yang ikhlas, langit pun akan menurunkan wibawa.)
Dan di langit Parahyangan, ada kilatan cahaya emas yang seperti membentuk wajah harimau.
Siliwangi tidak pergi, dan Tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu…
Hingga suatu hari, manusia kembali lupa siapa leluhurnya.

ARDHI MORSSE, TANGERANG 28 NOVEMBER 2025

Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti Dukung Mahasiswa Raih Peluang Karier di Jepang

SIDIKPOST| Jakarta, 26 November 2025 — Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti kembali menghadirkan program pengembangan wawasan global melalui sebuah sharing session yang berfokus pada peluang magang dan karier di Jepang. Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara tamu, Prof. Ikuo Mori dan Yosuke Mori, yang membagikan pengalaman mereka mengenai dinamika dunia kerja dan kebutuhan industri di Jepang.

Acara ini turut dihadiri oleh Ketua BPH Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., yang memberikan dukungan penuh terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kesempatan seperti ini sangat penting untuk membangun kesiapan mahasiswa menghadapi persaingan global.

“Anak-anak muda kita punya potensi besar, hanya perlu dibukakan akses dan wawasan yang tepat. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin mereka bisa melihat dunia lebih luas, termasuk peluang karier di Jepang yang semakin terbuka,” ujar Julian seusai acara.

Dalam sesi yang berlangsung di lingkungan Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti tersebut, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai tren tenaga kerja di Jepang, peluang bagi mahasiswa Indonesia, serta kompetensi yang perlu dipersiapkan untuk dapat bersaing secara profesional. Para narasumber juga mengulas karakteristik budaya kerja Jepang, mulai dari pola komunikasi, manajemen waktu, hingga etos kerja yang menjadi ciri khas negara tersebut.

Selain menyoroti kesempatan magang dan lowongan kerja, kegiatan ini turut menekankan pentingnya soft skills seperti kemampuan adaptasi, disiplin, serta profesionalisme yang menjadi nilai tambah ketika memasuki ranah kerja internasional. Sesi tanya jawab berlangsung aktif, memperlihatkan antusiasme mahasiswa untuk menggali lebih dalam proses yang harus ditempuh jika ingin berkarier di Jepang.

Julian menambahkan bahwa yayasan akan terus mendorong kegiatan serupa sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan.
“Kami ingin mahasiswa Budi Luhur tidak hanya siap bekerja, tapi juga siap bersaing dan beradaptasi di manapun mereka berada,” ungkapnya.

Penyelenggaraan sharing session ini menjadi salah satu langkah nyata Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti dalam memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi persaingan global. Melalui kegiatan seperti ini, yayasan berharap dapat terus memperluas akses informasi sekaligus membuka peluang jejaring internasional bagi para generasi muda.

 

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

DPAD Kota Tangerang Terima Sertifikat SNI dan ISO 20000-1 di Bulan Mutu Nasional 2025, Satu-satunya Perpustakaan di Indonesia yang Meraih Standar Ini

SIDIKPOST| Jakarta — Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang, Drs. Engkos Zarkasyi M.Si., menghadiri pembukaan Bulan Mutu Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) di Auditorium Kemendikbudristek, Jakarta, Senin pagi. Acara tersebut menjadi momentum penting bagi DPAD Kota Tangerang karena menerima Sertifikat SNI dan ISO 20000-1, menjadikannya satu-satunya perpustakaan di Indonesia yang berhasil memenuhi standar internasional manajemen layanan TI tersebut.

Penyerahan sertifikat dilakukan secara simbolis oleh BSN sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan DPAD Kota Tangerang dalam menerapkan standar mutu pengelolaan layanan teknologi informasi dan pelayanan publik di sektor perpustakaan dan kearsipan.

Kepala DPAD Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi, menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan meraih ISO 20000-1 merupakan bukti bahwa perpustakaan daerah dapat bertransformasi menjadi lembaga modern yang mengutamakan profesionalitas dan kualitas pelayanan.

“Ini bukan hanya penghargaan, tetapi komitmen. DPAD Kota Tangerang menjadi satu-satunya perpustakaan di Indonesia yang memperoleh ISO 20000-1, dan ini menunjukkan bahwa kami serius membangun layanan perpustakaan digital yang terstandarisasi internasional,” ujar Engkos. (26/11)

Ia menambahkan bahwa implementasi ISO 20000-1 membawa dampak besar terhadap tata kelola internal, terutama dalam pengelolaan sistem informasi, keamanan data, hingga penanganan gangguan layanan. Standar ini memastikan semua proses berjalan berdasarkan prosedur baku, terdokumentasi, dan memiliki mekanisme evaluasi berkelanjutan.

Fungsi dan Manfaat ISO 20000-1 bagi Perpustakaan Daerah

ISO 20000-1 adalah standar internasional untuk IT Service Management (manajemen layanan teknologi informasi) yang biasanya digunakan oleh lembaga perbankan, layanan publik digital, hingga perusahaan besar. Penerapannya di perpustakaan memberi beberapa manfaat besar:

1. Menjamin kualitas layanan digital, seperti katalog online, peminjaman elektronik, dan sistem informasi kearsipan.

2. Mengatur manajemen risiko TI, termasuk keamanan data, stabilitas jaringan, dan perlindungan file arsip.

3. Meningkatkan keandalan layanan, sehingga gangguan sistem dapat ditangani cepat dan terukur.

4. Memastikan proses layanan terdokumentasi, sehingga transparansi dan akuntabilitas meningkat.

5. Mendukung transformasi digital perpustakaan, sesuai kebutuhan masyarakat modern.

 

Engkos menegaskan bahwa pemenuhan standar ISO bukan hanya untuk prestise, tetapi sebagai wujud peningkatan mutu layanan perpustakaan menuju standar global.

“Dengan ISO 20000-1, kami memastikan bahwa semua layanan digital Perpusda—mulai dari sistem informasi hingga layanan publik—memiliki standar operasional, pengawasan mutu, dan keandalan sesuai standar internasional. Ini menjamin kenyamanan dan kemudahan masyarakat dalam mengakses layanan kami,” kata Engkos.

Ia menegaskan bahwa pencapaian ini juga menjadi komitmen DPAD untuk terus berinovasi dan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan, komunitas literasi, dan institusi lain yang membutuhkan layanan perpustakaan berbasis teknologi.

“Kami ingin menjadi contoh bahwa perpustakaan daerah dapat maju dan bertransformasi. Penghargaan BSN ini adalah bukti bahwa Kota Tangerang siap menjadi pelopor perpustakaan digital berstandar internasional,” tutup Engkos.

Dengan pencapaian ini, DPAD Kota Tangerang diharapkan menjadi model nasional bagi perpustakaan daerah lainnya untuk menerapkan sistem mutu yang lebih profesional, modern, dan berbasis teknologi. (ADV)

Cerita Fiksi : segel yang di beli: tangan-tangan gelap menagih upeti

 

DEMO DEPAN GUDANG

Pagi belum terlalu terang ketika suara kerumunan pecah di depan gudang produksi milik Harlan.

Teriakan menggaung, spanduk dibentangkan dan kamera wartawan lokal sudah terarah ke pintu rolling door yang kini dipalang kerumunan Masa yang sedang berdemo.

Di antara kerumunan itu, berdiri sekelompok Ormas lengkap dengan atribut.

Mereka berteriak-teriak soal “dugaan pelanggaran izin, kesejahteraan buruh” dan “keresahan warga”.

Di sekeliling mereka, para anggota LSM kecil sibuk menulis laporan yang sejak awal sepertinya sudah disiapkan.

Bagi Harlan, semua itu hanyalah drama dengan naskah yang sudah diatur.

Di tengah kerumunan, terlihat dua wartawan lokal memegang kamera. Namun mata mereka lebih sering melirik ponsel, seolah menunggu pesan instruksi dari seseorang. Mereka memburu, bukan untuk berita tetapi untuk tekanan.

Harlan berdiri beberapa meter dari kerumunan, diam, hanya ditemani kelelahan panjang. Ia sudah berkali-kali menghadapi tekanan seperti ini. Tetapi hari itu berbeda. Ada yang lebih gelap dari biasanya.

“Ini bukan murni demo,” gumamnya lirih.

Dan ia benar. Ada tangan lain di balik segalanya.

KETUA KOMISI YANG MENGINGINKAN UPETI

Belakangan, Wilayah kecamatan berbatasan dengan ibu kota itu tengah panas oleh isu lemahnya pengawasan gudang dan industri. Ketua Komisi DPRD Kota seorang politisi ambisius bernama Ganda Surawin melihat kesempatan untuk mencuri panggung sekaligus berharap upeti.

Ia butuh kasus besar, dan gudang Harlan dianggap sasaran empuk. Menurut bisik-bisik di lapangan, Ganda-lah yang mendorong dinas penegakan perda agar cepat melakukan penyegelan. Bahkan ia disebut menekan pimpinan forum wartawan lokal untuk membuat berita “kritis” setiap hari agar kisah ini membesar di media dan lingkungan masyarakat.

“Segel dulu! Biar dia pusing. Nanti kalau dia minta tolong, kita bicara,” ujar Ganda suatu malam, menurut kesaksian seorang stafnya.
Dan benar saja… begitu gudang disegel, suara massa berdatangan seperti serangga mengelilingi cahaya. Semua menuntut, semua mendesak, semua berteriak, semuanya “atas nama rakyat”.

Rakyat mana? Tidak ada yang tahu.

PERANG URAT SARAF : ORAMAS, LSM, DAN FORUM WARTAWAN LOKAL

Setiap pagi, halaman gudang berubah seperti panggung sandiwara. Spanduk berganti, wajah orator berbeda, tetapi kalimatnya tetap sama.

“Gudang ini melanggar aturan dan tidak berizin ! Harus ditindak keras!”

Kadang ada ancaman halus, Dari dinas penegakan perda terdapat beberapa oknum yang mengatakan, “Kalau mau difasilitasi penyelesaiannya, kami bisa bantu… asal ada perhatian.”

Ketua Forum Wartawan lokal pun ikut memainkan peran. Mereka mendekati Harlan dengan senyum simpul dan suara rendah: “Kalau mau berita meredup, kami bisa atur ritme liputan. Tapi ya… Anda tahu sendiri, Pak bos.”

Harlan hanya menatap mereka dengan tenang, “Berapa banyak lagi yang akan datang setelah kalian?”

Wartawan itu terdiam. Ia tahu, Harlan bukan pengusaha baru. Ia sudah pernah menghadapi model seperti mereka.

Namun tekanan tidak berhenti, Lusa, berita baru muncul:

“DPRD datang dan mendesak penyegelan Gudang Bermasalah dan pihak LSM sekaligus ketua forum wartawan lokal Menyebut Ada Permainan Izin”.

Narasi permasalahan gudang terus dibangun. Panggung dibesarkan dan di balik semua itu, Ganda Surawin, ketua forum wartawan serta inatansi-intansi terkait tersenyum puas.

KONSULTAN DAN HARAPAN YANG DIPATAHKAN

Harlan tidak tinggal diam. Ia memanggil seorang konsultan perizinan kepercayaannya:

Yusuf, pria yang sudah dua puluh tahun menjadi jembatan legalitas puluhan perusahaan.

Yusuf bergerak cepat. Dalam beberpa hari, semua dokumen beres. Legalitas lengkap sudah di upload di sistem. Pelanggaran yang dituduhkan sudah diselesaikan.

Namun ketika Harlan meminta agar segel dibuka, jawaban dari aparat penegak perda hanya satu, “Belum ada perintah dari pimpinan daerah.”

Padahal dokumen komplet, “Siapa yang menahan?” tanya Yusuf, kesal.

Jawaban mereka selalu sama, “Menunggu arahan dari atasan.”

Dan “atasan” itu, semua orang tahu, adalah tangan-tangan gelap yang yang terus menginginkan Upeti.

Namun Ganda Dan Pihak-Pihak terkait tidak akan memberi jalan sebelum ia mendapat sesuatu dan itu sesuatu belum datang.

ASPRI DAN KETUA PEMUDA YANG MEMBAWA BAYANGAN

Harlan tahu, untuk menghadapi tekanan seperti ini, ia harus menggunakan jalur lain. Jalur sunyi, Jalur belakang.

Jalur yang sering digunakan para pelaku usaha ketika birokrasi tidak berjalan normal.

Ia menghubungi orang kepercayaannya, RASYID.

“Cari seseorang yang punya akses ke Wakil Kepala Daerah. Jangan langsung pejabatnya. Cari Aspri-nya.”

Rasyid mengangguk. Ia tahu siapa yang dimaksud,

Aspri bernama MALIK FIRMANSYAH, seorang yang terkenal efektif, luwes, dan punya pengaruh karena menjadi orang terdekat Wakil Kepala Daerah.

Pertemuan diatur di kediaman Rasyid. Namun ketika Malik datang, ia tidak sendirian.
Di belakangnya, berdiri seorang pria dengan senyum menyeringai sinis, “Reno Estianto,” Ketua Organisasi Kepemudaan yang terkenal licik, oportunis, dan selalu mengikuti bau uang seperti anjing pemburu.

Rasyid menjelaskan perjalanan dan Kronologi masalah yang di gudang sekaligus perusahaan milik harlan secara jelas dan detail.

Reno menyapa ringan, “Wah, kasus seperti ini? Tenang, kami bisa bereskan. Tinggal mainkan saja ritmenya.”

Cara bicaranya seperti calo yang sudah hafal medan. Ia bahkan lebih vokal daripada Malik.

Di tengah obrolan, Rasyid tersenyum dalam upaya mencairkan suasana sekaligus bercanda, setengah serius:

“Kalau kalian berhasil menyelesaikan masalah ini, kita berkumpul lagi dan pasti ada imbalan pantas.”

Reno langsung menoleh. Matanya menyala Sambil tersenyum licik dan Malik tersenyum tipis, tidak membantah, tidak menegur.

Harlan di hadapan Rasyid melihat gestur aspri dan ketua pemuda itu merasa ada sesuatu yang tidak beres.

PERMINTAAN YANG DATANG SEBELUM KERJA DI MULAI

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Malik menghubungi Rasyid langsung,
Nada suaranya tidak lagi tenang. Ada kegugupan, ada tekanan yang disembunyikan.

“Pak Rasyid… soal imbalan itu, kira-kira berapa angkanya?”

Rasyid diam sekaligus tertegun. Belum ada tindakan, Belum ada negosiasi resmi dan Belum ada perubahan apa pun, Tetapi permintaan imbalan sudah muncul.

Ia bisa mendengar suara Reno di kejauhan, seolah memberi aba-aba;

“Tananyakan Nominal yang jelas ! Tanyakan sekarang! Jangan tunggu!”

Rasyid menutup matanya sebentar, sebagai kepercayaan Pengusaha tidak mudah tersinggung, Tetapi ia tahu kapan seseorang menunjukkan wataknya.

“Malik,” kata Rasyid perlahan, “pekerjaan belum dimulai.

Anda sudah bicara angka. Apa itu prosedur kalian?,

Itu obrolan malam merupakan itikad baik kami jika sudah selesai dan segel sudah di lepas, jika mau tahu nilainya, kami samakan ketika kami berbicara di depan para penegak hukum peraturan daerah, angkanya sebesar 100 juta.

Malik terdiam. Tidak mampu menjawab. Reno di belakangnya terlihat senyum penuh kemenangan.

PENUTUP : INTRIK YANG MELEBAR DAN KEPUTUSAN SEORANG PENGUSAHA

Situasi itu membuka mata Harlan. Ketua Komisi DPRD memainkan tekanan untuk kepentingannya. Ormas dan LSM memperjualbelikan pengaruh. Ketua forum Wartawan lokal memanfaatkan isu untuk menambah pemasukan.

Aspri datang membawa bayangan lain yang lebih gelap.

Ketua organisasi pemuda itu seperti hiu kecil yang mengitari bau darah.

Semua merasa punya hak untuk mengambil bagian dari masalah yang menimpa Harlan.

Semuanya ingin bagian dari ketakutannya. Semuanya ingin bagian dari kelelahan dan kebingungannya.

Tetapi Harlan bukan tipe orang yang menyerah pada tekanan.
Ia tahu satu hal: Ketika semua orang meminta, saat itulah ia berhenti memberi.

Malam itu, Harlan duduk di beranda rumahnya. Ia menatap ke kejauhan, ke arah gudangnya yang masih tertutup garis kuning itu. Namun kini ia tidak lagi melihat segel sebagai masalah administratif.

Segel itu adalah cermin kekuasaan,
Cermin kerakusan,
Cermin bagaimana politik kecil di sebuah kota dapat berubah menjadi medan berburu.

Baginya dunia usaha bukan tempat untuk orang rapuh.

Ia sudah melihat banyak model manusia: yang berani, yang rakus, yang setia, dan yang menjual apa saja termasuk “loyalitas.”

Maka ketika Aspri menanyakan imbalan kepada Rasyid, pikirannya merumuskan kesimpulan cepat:

1. Orang ini tidak bekerja untuk membantu Tapi ia bekerja untuk mengail. Sebelum bekerja sudah menagih, maka setelahnya pasti akan lebih parah.

2. Mereka berdua bukan solusi, melainkan gerombolan baru yang ingin memeras.

3. Kalimat candaan orang kepercayaannya telah dimanfaatkan sebagai tiket pemerasan.

4. Integritas Aspri retak, dihancurkan oleh temannya sendiri.

Harlan mendesah lirih. Ia sudah memutuskan:

Masalah ini bukan lagi soal segel gudang.
Ini tentang siapa yang pantas diajak berjalan dan siapa yang harus disingkirkan dari lingkar kepercayaan.
Ia tahu, satu babak baru intrik politik dan kriminal sudah membuka diri.

Permainan belum selesai. Tetapi Harlan sudah tahu siapa yang harus didekati, siapa yang harus dijauhi, dan siapa yang akan jatuh oleh permainan mereka sendiri.

Karena dalam dunia yang dipenuhi bayangan, orang yang tidak ikut menjadi bayangan justru akan melihat segalanya lebih jelas.

Penulis ARDHI MORSSE, KAMIS 27 NOVEMBER 2025

Kombes Nicolas Ary: Informasi Tersangka Ayah Tiri Alvaro Tewas di Tahanan Tidak Benar

SIDIKPOST| JAKARTA – Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly, S.I.K., M.H., M.Si., menegaskan bahwa ayah tiri Alvaro, tersangka dalam sebuah perkara yang tengah ditangani penyidik, tidak meninggal di dalam ruang tahanan Polres. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di publik dan media sosial.

Menurut Kapolres, tersangka meninggal dunia setelah melakukan aksi bunuh diri di ruang konseling pada Selasa malam, bukan di sel tahanan seperti yang banyak diberitakan.

Kapolres menjelaskan bahwa tersangka baru saja menyelesaikan pemeriksaan sebagai tersangka dan belum masuk ke dalam ruang tahanan.

Pemeriksaan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) selesai dilakukan pada malam hari, sehingga prosedur internal mengharuskan adanya pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu sebelum tersangka dapat dititipkan di ruang tahanan.

“Karena waktunya sudah larut malam, tersangka tidak langsung dibawa ke ruang tahanan. Sesuai SOP, harus ada pemeriksaan kesehatan dulu oleh Sidokkes Polres,” ujar Kombes Nicolas dalam keterangan resminya, Rabu (26/11/2025).

Sambil menunggu pemeriksaan kesehatan dilakukan, penyidik piket kemudian meminta tersangka beristirahat di sofa ruang konseling, lokasi yang berada di dalam area pelayanan penyidikan namun bukan bagian dari blok tahanan.

“Petugas menyuruh tersangka untuk istirahat dulu di sofa ruang konseling. Bukan ruang tahanan,” tegas Kapolres.

Penempatan ini, menurutnya, merupakan praktik umum untuk menjaga kenyamanan dan keamanan tersangka sebelum prosedur penitipan dilakukan secara resmi.

Situasi berubah ketika tersangka kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Berdasarkan keterangan resmi kepolisian, seorang saksi dari pihak keluarga yang saat itu masih berada di lingkungan Polres menjadi orang pertama yang melihat tersangka dalam keadaan tergantung.

“Ada saksi dari pihak keluarga yang melihat langsung pertama kali bahwa tersangka melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri di ruang konseling,” jelas Kapolres.

Saksi tersebut segera memberi tahu petugas yang kemudian melakukan langkah-langkah pertolongan, namun tersangka dinyatakan meninggal dunia.

Kapolres menambahkan bahwa jajarannya membuka diri terhadap proses klarifikasi dan verifikasi terkait peristiwa tersebut. Selain olah tempat kejadian, pemeriksaan saksi, dan prosedur forensik, kepolisian juga memastikan seluruh rangkaian kejadian didokumentasikan secara lengkap.

“Kami pastikan proses penanganan dilakukan secara profesional dan transparan. Semua prosedur diperiksa kembali dan akan kami sampaikan secara terbuka,” ujar Kombes Nicolas.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik mengingat tersangka terkait dalam kasus yang banyak mendapatkan sorotan masyarakat.

Penulis : Jafaruddin

Editor : Redaksi

Kepala Kantor Imigrasi Bengkulu Tinjau Gerai Keimigrasian di MPP Rejang Lebong

SIDIKPOST| Rejang Lebong — Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Bengkulu melakukan peninjauan pelayanan keimigrasian pada Gerai Imigrasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) Rejang Lebong melalui agenda “Tapak Paderi”, Selasa (25/11/2025) pagi. Kunjungan ini bertujuan memastikan layanan keimigrasian berjalan optimal dan mudah diakses masyarakat.

Kedatangan Kepala Kantor Imigrasi, Raden Imam Jati Prabowo, A.Md.Im., S.H., M.Si., disambut oleh Plt. Asisten II Setdakab Rejang Lebong, Iwan Sumantri Badar, S.E., M.Si., di Ruang Kerja Kepala Dinas DPMPTSP Rejang Lebong. Peninjauan dilakukan bersama jajaran struktural dan fungsional Imigrasi.

Turut mendampingi rombongan Imigrasi:Bona Roy Simanungkalit, Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian. Anisa, S.E., Fungsional Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Muda. Hj. Masdalena, S.E., M.M., Fungsional Penata Perizinan Ahli Madya. Ermayuni, S.E., Fungsional Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Muda

Plt. Asisten II Setdakab Rejang Lebong dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan “Tapak Paderi” dan sinergi antara pemerintah daerah dan Imigrasi. Ia menegaskan bahwa keberadaan gerai keimigrasian di MPP merupakan bagian dari komitmen menghadirkan pelayanan publik yang cepat, mudah, dan terintegrasi.

“Sinergi ini sangat penting untuk memastikan masyarakat Rejang Lebong mendapatkan pelayanan keimigrasian yang prima tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Pemerintah daerah akan terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik,” ujarnya.

Ia menambahkan, layanan keimigrasian di MPP juga menjangkau warga Kabupaten Kepahiang dan Lebong, sehingga memiliki peran strategis bagi wilayah sekitar.

Peninjauan ini menjadi langkah memperkuat koordinasi antara Pemkab Rejang Lebong dan Kantor Imigrasi Bengkulu dalam mengoptimalkan gerai keimigrasian di MPP. Pemerintah daerah berharap kerja sama ini terus meningkat demi menyediakan layanan publik yang semakin mudah, terjangkau, dan berkualitas.

 

Penulis : Zul

Editor : Redaksi

Peringatan HGN 2025 di Kepahiang Meriah, Gubernur Helmi Hasan Beri Hadiah Rp1,1 Miliar untuk Guru

SIDIKPOST| Bengkulu -Puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 yang dirangkaikan dengan HUT ke-80 PGRI berlangsung meriah di halaman Kantor Dinas Dikbud Kabupaten Kepahiang, Senin (24/11/2025). Momen istimewa bagi para pendidik se-Provinsi Bengkulu ini turut dihadiri langsung oleh Gubernur Bengkulu, H. Helmi Hasan, SE bersama sejumlah kepala daerah.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Helmi memberikan kado spesial berupa bantuan dana Rp1,1 miliar untuk guru-guru yang berada di bawah naungan PGRI di seluruh kabupaten/kota. Bantuan ini nantinya disalurkan melalui pengurus PGRI tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

“HGN tahun ini kita berikan kado spesial untuk PGRI kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu,” ujar Gubernur Helmi yang sekaligus mengapresiasi penyelenggaraan HGN 2025 di Kabupaten Kepahiang. Menurutnya, gelaran tahun ini dapat menjadi contoh bagi kabupaten/kota lain. “Luar biasa, kegiatannya sukses. Untuk daerah lain, Insya Allah akan mendapat giliran,” tambahnya.

Suasana perayaan semakin semarak dengan atraksi dol dari para guru se-Kabupaten Kepahiang serta penyerahan penghargaan kepada guru berprestasi yang dilakukan secara simbolis oleh Gubernur dan para kepala daerah.

Pada momen yang sama, Ketua TP PKK se-Provinsi Bengkulu juga dikukuhkan sebagai Ibunda Guru Provinsi dan Ibunda Guru Kabupaten/Kota, sebagai bentuk penguatan kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam mendukung pendidikan yang lebih berkualitas.

Mengusung tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, peringatan HGN tahun ini menjadi momentum memperkuat ekosistem pendidikan melalui kolaborasi, inovasi, dan peningkatan profesionalisme tenaga pendidik. “Tidak ada seorang pun pejabat yang bisa menjadi gubernur, bupati, atau wali kota tanpa peran guru,” tegas Gubernur Helmi.

Acara turut dihadiri Bupati Rejang Lebong H. Muhammad Fikri Thobari, SE, MAP, Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, Bupati Lebong Azhari, Bupati Mukomuko Choirul Huda, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi, para Bunda Guru kabupaten/kota, unsur Forkopimda, dan ribuan guru se-Provinsi Bengkulu.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengukuhan Bunda Guru se-Provinsi Bengkulu serta penganugerahan penghargaan bagi para guru berprestasi, menjadi penanda komitmen bersama dalam membangun pendidikan yang lebih maju di Bumi Rafflesia.

 

Penulis : Zul

Editor : Redaksi

Bengkulu Borong Enam Penghargaan Nasional PK 2025, Rejang Lebong Tercepat se-Indonesia

SIDIKPOST| Bengkulu— Provinsi Bengkulu mencetak prestasi membanggakan pada Diseminasi Nasional Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 yang digelar BKKBN di Auditorium Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025). Pada ajang tersebut, Bengkulu berhasil meraih enam penghargaan nasional untuk kategori Pencatatan Pemutakhiran PK Tercepat, menjadikannya salah satu provinsi dengan kinerja pendataan terbaik.

Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dan disaksikan langsung oleh Menteri Dukbangga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji.

Adapun penerima penghargaan dari Bengkulu yaitu Pemerintah Provinsi Bengkulu (Terbaik I), Pemerintah Kota Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Seluma, Kabupaten Lebong, serta Kabupaten Bengkulu Selatan. Kehadiran Kepala Perwakilan BKKBN Bengkulu, Zamhari, turut memperkuat apresiasi terhadap capaian tersebut.

Salah satu sorotan utama adalah Kabupaten Rejang Lebong, yang dinobatkan sebagai Kabupaten/Kota dengan Penyelesaian Tercepat Pemutakhiran PK 2025. Penghargaan diserahkan kepada Bupati Rejang Lebong, HM Fikri Thobari, SE, MAP, di hadapan seluruh kepala daerah yang hadir. Bupati Fikri menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran pemerintahan dan petugas lapangan.

Menteri Dukbangga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, menekankan pentingnya data akurat sebagai dasar pembangunan. “Pendataan keluarga adalah fondasi. Tanpa data ini, pembangunan dan pengendalian kependudukan tidak dapat berjalan,” ujarnya.

Dengan enam penghargaan yang diraih sekaligus, Bengkulu semakin memperkuat posisinya sebagai daerah progresif yang konsisten dalam pengelolaan data keluarga berbasis bukti. Kegiatan diseminasi ini juga menjadi momentum penyelarasan kebijakan pendataan keluarga nasional tahun 2025.

 

Penulis : Zulfi Maidi

Editor : Redaksi

Pelantikan Pengurus Pimpinan Pusat HIMMAH 2025–2029: Abdul Razak Nasution Tekankan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

SIDIKPOST| JAKARTA – 26/11/2025- Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH) resmi melantik jajaran pengurus periode 2025–2029, hasil Muktamar XI yang digelar pada 8–10 Agustus 2025. Pelantikan tersebut menjadi momentum penting bagi HIMMAH untuk menegaskan peran organisasi mahasiswa Islam ini dalam menjawab perubahan zaman, sekaligus meneguhkan komitmen dalam membina kader-kader muda yang siap menghadapi tantangan Indonesia menuju era Indonesia Emas 2045.

Ketua Umum PP HIMMAH, Abdul Razak Nasution, dalam keterangannya kepada awak media menjelaskan bahwa pelantikan kepengurusan kali ini dirangkaikan dengan sejumlah agenda strategis, antara lain bakti sosial, tasyakuran memperingati HUT ke-66 HIMMAH, serta pembacaan pernyataan sikap mahasiswa dan intelektual HIMMAH mengenai arah perjuangan organisasi ke depan.

“Hari ini bukan hanya pelantikan pengurus, tetapi momentum konsolidasi nasional. HIMMAH sebagai organisasi intelektual mahasiswa ingin memastikan bahwa kadernya benar-benar siap menjawab kebutuhan zaman dan tantangan besar menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Abdul Razak.

 

Transformasi HIMMAH dan Penguatan Kapasitas Kader

Abdul Razak menegaskan bahwa HIMMAH menempatkan sektor pendidikan sebagai fokus utama pembinaan kader. Penguatan disiplin ilmu melalui pendidikan tinggi, baik S1 maupun S2, menurutnya merupakan fondasi penting dalam membentuk kader yang berkualitas dan kompeten.

Kader HIMMAH harus mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Dengan kesiapan intelektual sejak sekarang, kita memiliki waktu sekitar 20 tahun untuk mempersiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” kata Abdul Razak.

Ia menambahkan, kepengurusan baru juga akan segera menyusun struktur organisasi nasional secara lebih lengkap dan berjenjang untuk memastikan seluruh program dapat berjalan efektif di pusat maupun daerah.

 

Dukungan terhadap Pemerintah Prabowo–Gibran

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Razak juga menegaskan posisi HIMMAH sebagai organisasi mahasiswa yang tetap menjalankan fungsi kontrol sosial, namun pada saat yang sama memberikan dukungan terhadap program pemerintah, khususnya kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurutnya, HIMMAH mendukung visi Kabinet Merah Putih selama program-program pemerintah berpihak pada kepentingan rakyat dan masa depan generasi muda.

Kami mendukung pemerintah dalam upaya membangun bangsa. Namun sebagai mahasiswa, fungsi kontrol tetap harus dijalankan. HIMMAH akan kritis, konstruktif, dan tetap menjaga marwah organisasi,” tegasnya.

Komitmen Mengawal Perubahan

Pelantikan pengurus PP HIMMAH 2025–2029 menandai dimulainya fase baru organisasi, di mana transformasi, penguatan intelektual, serta kolaborasi nasional menjadi prioritas kerja. HIMMAH menegaskan siap menjadi bagian dari generasi muda yang berkontribusi dalam berbagai sektor, terutama pendidikan, sosial kemasyarakatan, serta pembangunan karakter bangsa.

Dengan semangat “Transformasi HIMMAH Menuju Indonesia Emas 2045”, Abdul Razak menutup sambutan dengan ajakan kepada seluruh kader: “Saatnya mahasiswa HIMMAH hadir sebagai agen perubahan. Kita punya visi, energi, dan komitmen yang kuat untuk membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik.”

 

Penulis : Jafaruddin

Editor ; Redaksi

Perpusda Kota Tangerang Mulai Terapkan ISO 20000-1 untuk Tingkatkan Layanan Digital dan Manajemen TI

SIDIKPOST| Kota Tangerang — Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Perpusda) Kota Tangerang resmi mengimplementasikan ISO 20000-1, standar internasional di bidang manajemen layanan teknologi informasi (IT Service Management), sebagai langkah peningkatan kualitas layanan publik dan transformasi digital sektor literasi.

Implementasi standar ini menjadi tonggak penting bagi Perpusda Kota Tangerang dalam memastikan seluruh layanan berbasis teknologi—mulai dari sistem katalog digital, layanan peminjaman online, pengelolaan arsip elektronik, hingga tata kelola jaringan informasi—berjalan sesuai prosedur, terukur, dan aman.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Tangerang, Drs. Engkos Zarkasyi M.Si., menyatakan bahwa penerapan ISO 20000-1 merupakan komitmen nyata Perpusda untuk menghadirkan pelayanan yang lebih modern dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Penerapan ISO 20000-1 adalah langkah strategis untuk menjaga mutu layanan berbasis teknologi informasi di Perpusda. Dengan standar ini, setiap proses pelayanan akan memiliki prosedur yang jelas, terkontrol, dan bisa dievaluasi berkala,” ujar Engkos.

Menurutnya, kebutuhan layanan perpustakaan kini tidak hanya berkutat pada ruang baca fisik, tetapi juga menyentuh layanan digital yang efisien dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya ISO 20000-1, seluruh sistem informasi Perpusda akan berada dalam kerangka manajemen yang baku dan memenuhi standar internasional.

Ia menjelaskan bahwa penerapan standar ini juga sangat relevan dengan tuntutan era transformasi digital yang semakin cepat.

“Perpustakaan modern harus hadir sebagai pusat informasi berbasis teknologi. Implementasi ISO 20000-1 memastikan bahwa pemeliharaan sistem, keamanan data, penanganan gangguan layanan, dan pengelolaan risiko dilakukan secara profesional,” tegas Engkos.

Selain memperkuat sistem digital, ISO 20000-1 juga akan memperbaiki pola kerja internal, karena setiap layanan TI harus memiliki dokumentasi, indikator kinerja, proses penanganan masalah, serta evaluasi berkelanjutan. Hal ini menjamin bahwa keluhan masyarakat dapat ditangani lebih cepat dan tepat.

Engkos menambahkan bahwa implementasi ini juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai lembaga, perguruan tinggi, dan komunitas literasi yang membutuhkan layanan digital perpustakaan yang kredibel dan terstandarisasi.

“Dengan adanya standar ini, kami siap bersinergi lebih luas. Layanan perpustakaan dan kearsipan Kota Tangerang harus menjadi contoh bagi daerah lain,” ujarnya.

Perpusda Kota Tangerang menargetkan bahwa seluruh proses penyesuaian ISO 20000-1 akan diterapkan penuh dalam waktu dekat, sehingga mampu memperkuat posisi perpustakaan daerah sebagai pusat literasi digital berstandar internasional. (ADV)