H. Kholid Ismail S.Ag.,M.M Wakil Ketua I DPRD Kab.Tangerang Gelar Reses Masa Persidangan KE-2 Tahun Sidang 2025-2026

SIDIKPOST| Kabupaten Tangerang – H. Kholid Ismail S.,Ag.,M.M Wakil ketua I DPRD Kabupaten Tangerang Menggelar Kegiatan Acara Reses Masa Persidangan KE-2 Tahun Sidang 2025-2026 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang. Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kecamatan Kosambi, Pakuhaji, Sepatan, Sepatan Timur Dan Teluknaga.

Pelaksanaan Kegiatan Acara Reses Masa Persidangan KE-2 Tahun Sidang 2025-2026. Acara Tersebut Dilaksanakan Di Gedung Serba Guna Cekhi Jln. Raya Babusalam RT 03/RW 02 Desa Teluknaga Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang.(14/02/26)

Pelaksanaan Kegiatan Acara Reses H. Kholid Ismail S.Ag.,M.M Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Tangerang Masa Persidangan KE-2 Tahun Sidang 2025-2026 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang. Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kecamatan Kosambi, Pakuhaji, Sepatan, Sepatan Timur Dan Teluknaga. Acara Reses Masa Persidangan KE-2 Tahun Sidang 2025-2026. Acara Diawali Dengan Pembacaan Doa Kemudian Dilanjutkan Dengan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya Kemudian Dilanjutkan Dengan Sambutan Ubaidillah S.H Team Advokasi Teman Ngopi H. Kholid Kemudian Dilanjutkan Dengan Sambutan Oleh H. Kholid Ismail S. Ag.,M.M Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Tangerang Kemudian Dilanjutkan Dengan Sambutan Oleh Prayogo S. IP Ketua Team Manager Teman Ngopi H. Kholid Kemudian Dilanjutkan Dengan Acara Diskusi Tanya Jawab Dan Usulan Usulan. Melalui Musyawarah Bersama Dengan Harapan Agar Semua Usulan Dan Aspirasi Dapat Terealisasi Dengan Baik. (Turut Hadir Team Relawan Bencana Teman Ngopi H. Kholid Beserta Prayogo Ketua Team Manager Teman Ngopi H. Kholid Bersama Ubaidilah S. H Team Advokasi Teman Ngopi H. Kholid).

H. Kholid Ismail S. Ag.,M.M Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Tangerang Menyampaikan,” Bahwa kegiatan acara reses ini untuk melihat secara dekat melalui aspirasi dan usulan masyarakat
melalui musyawarah bersama serta diskusi Tanya Jawab Melalui Ide Dan Gagasan Mengenai Permasalahan Tentang penanganan sampah dan banjir serta insfratruktur dan juga pemberdayaan masyarakat. dengan harapan agar semua usulan apa yang kita inginkan dapat terwujud dan aspirasi masyarakat dapat terealisasi dengan Baik”.

H. Kholid Ismail S.Ag.,M.M Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kemudian, Memaparkan dengan penuh bijak dan edukasi serta dedikasi yang tinggi bagaimana azas manfaat tersebut di jaga dan di rawat dengan baik Tujuannya Agar masyarakat memahami, mentaati, Kemudian menjaga pembangunan fisik prasarana umum yang sudah ada untuk dijaga dan dirawat dengan baik karena itu lebih utama, demi keberlanjutan dalam memenuhi kepentingan masyarakat. Sehingga bermanfaat agar terwujudnya kemandirian daerah dan pemberdayaan Masyarakat”.

Berharap usulan-usulan serta aspirasi masyarakat dapat terealisasi. melalui musyawarah bersama dengan harapan agar semua usulan apa yang kita inginkan dapat terwujud dan aspirasi masyarakat dapat terealisasi dengan baik, H. Kholid Ismail S. Ag.,M.M Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Tangerang”.

 

Kendy

PEMDES BABAKAN ASEM MENGGELAR ACARA TARHIB RAMADHAN PAWAI 1000 OBOR 2026 M-1447 H

SIDIKPOST| Kabupaten Tangerang – Pemerintah Desa Babakan Asem Menggelar Kegiatan Acara Pawai 1000 Obor Desa Babakan Asem 2026 M – 1447 H. Acara Pawai 1000 Obor Desa Babakan Asem Dihadiri Langsung Oleh Madjoli Ma’mur S.E.,M.IP Kepala Desa Babakan Asem Didampingi Oleh Ny. Sahrini Ramadhan S. Kep. Ners Ketua TP-PKK Desa Babakan Asem Bersama Rohim Setiawan Sekdes Babakan Asem Beserta Aparatur Dan Lembaga Desa Babakan Asem Bersama Aipda Denny Bhabinkamtibmas Desa Babakan Asem (Polsek Teluknaga) Bersama Serda Teguh S Babinsa Desa Babakan Asem (Koramil 01/ Teluknaga) Dan Acara Pawai 1000 Obor Dimeriahkan Dengan Berbagai Macam Hadiah Door Prize Sepeda Listrik Dan Juga Dimeriahkan Oleh M. Ibnu Muchtar S.M Beserta Dede Kukut MC Bersama Performance TingBating.

Acara Dilaksanakan Dilapangan H. Wawi Kp. Kedung Jaya Desa Babakan Asem Kecamatan Teluknaga Kabupaten Tangerang.(15/02/26)

Luar biasa Antusias Masyarakat Desa Babakan Asem Dalam Mengikuti Acara TARHIB RAMADHAN Pawai 1000 Obor Dalam Rangka Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H/2026. Dengan diikuti oleh para peserta anak-anak hingga remaja untuk berkeliling kampung (lingkungan sekitar) Di wilayah Desa Babakan Asem. Kemeriahan sangat terasa karena adanya ornamen yang menghiasi pakaian, hingga membawa spanduk atau poster pawai Ramadhan dengan berbagai warna menarik diantaranya penampilan barongsai, sound hore dan alat musik tradisional angklung.

Madjoli Ma’mur S.E.,M.IP Kepala Desa Babakan Asem Menyampaikan ,” Pemerintah Desa Babakan Asem Menggelar Acara TARHIB RAMADHAN PAWAI 1000 OBOR Dalam Rangka Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah Tahun 2026. “Marhaban Ya Ramadan, Bulan yang Penuh Keberkahan Dan Rahmat”. Selamat Datang Bulan Suci Ramadan, Menyambut Bulan Penuh Hikmah Dan Cinta”. Waktu untuk Bersama, Berbagi, Dan Berkah”. Bersihkan Hati, Sambut Ramadan Tahun 2026 Ini dengan Penuh Sukacita. Selamat Datang Ramadan, Bulan Penuh Berkah.

Madjoli Ma’mur S.E.,M.IP Kepala Desa Babakan Asem Berharap ,”Semoga Kedepannya Acara TARHIB RAMADHAN PAWAI 1000 Obor Pemerintah Desa Babakan Asem Berjalan Lancar, Semakin Sukses Dan Lebih Baik Lagi Kedepannya.

Acara TARHIB RAMADHAN PAWAI 1000 Obor Pemerintah Desa Babakan Asem Dalam Rangka Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H/ Tahun 2026. Dihadiri Langsung Oleh Madjoli Ma’mur S.E.,M.IP Kepala Desa Babakan Asem Didampingi Oleh Sahrini Ramadhan S. Kep. Ners Ketua TP-PKK Desa Babakan Asem Bersama Rohim Setiawan Sekdes Babakan Asem Beserta MUI Desa Babakan Asem Dan BPD Desa Babakan Asem Bersama Karang Taruna Desa Babakan Asem Beserta Aipda Denny Bhabinkamtibmas Desa Babakan Asem (Polsek Teluknaga) Beserta Serda Teguh Babinsa Desa Babakan Asem (Koramil 01/Teluknaga) Bersama Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda Beserta Mandor Dan Ketua RT/RW Beserta Masyarakat Desa Babakan Asem.

Kendy

Warga Kampung Ci Jingir Sambut Ramadan dengan Pawai Obor Meriah

SIDIKPOST | Kabupaten Tangerang – Dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, warga Kampung Ci Jingir, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, menggelar pawai obor pada Sabtu malam (14/2/2026). Kegiatan yang dimulai selepas Salat Isya tersebut berlangsung meriah dan penuh khidmat.

Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, turut ambil bagian dalam pawai yang menyusuri jalan-jalan lingkungan kampung. Dengan membawa obor dan diiringi lantunan selawat serta takbir, suasana malam itu terasa hangat dan penuh kebersamaan.

Ketua panitia kegiatan, Ozi, mengatakan bahwa pawai obor ini merupakan tradisi tahunan warga sebagai bentuk rasa syukur dan kegembiraan dalam menyambut bulan penuh berkah.

“Kegiatan ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kami ingin menanamkan semangat kebersamaan dan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda sejak dini,” ujar Ozi. (14/2)

Salah satu warga, Erna (31), mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan tersebut. Menurutnya, pawai obor menjadi kegiatan positif yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat.

“Saya sangat senang ada kegiatan seperti ini. Suasananya ramai dan membuat kami makin semangat menyambut Ramadan. Anak-anak juga terlihat antusias dan bahagia mengikuti pawai obor,” kata Erna.

Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dilaksanakan setiap tahun karena selain mempererat kebersamaan, juga menjadi momen memperkuat rasa persaudaraan antarwarga.

Selama kegiatan berlangsung, panitia bersama pemuda setempat turut menjaga ketertiban dan keamanan agar pawai berjalan lancar. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai harapan agar Ramadan tahun ini membawa keberkahan dan kedamaian bagi seluruh warga Kampung Ci Jingir.

Penulis : anton Teef

Edtor : redaksi

atm pegawai asn, isinya doa (negara percaya kami sabar, tapi lupa kami lapar)

SEBUAH PENGANTAR

Ada banyak cerita tentang negara yang besar, tentang pembangunan yang megah, tentang angka-angka pertumbuhan yang naik dari tahun ke tahun. Tetapi, jarang sekali kita mendengar kisah dari mereka yang berada di dasar tangga birokrasi, orang-orang yang setiap hari menjaga roda administrasi tetap berputar, tetapi hidupnya sendiri berjalan terseok-seok.

Kisah ini lahir dari sudut yang sering luput dari sorotan, Di sebuah pos ronda, kopi hitam yang pahit, gorengan dingin dan tiga lelaki yang terlalu lelah untuk bermimpi besar. Mereka bukan tokoh penting, bukan pejabat, bukan pula orang yang namanya akan tercatat dalam laporan tahunan instansi. Mereka hanyalah pegawai rendahan, yang gajinya habis sebelum bulan berganti, yang kesabarannya diminta tanpa pernah benar-benar dihargai.

Di luar sana, pegawai ASN sering dipandang sebagai simbol kemapanan. Seragam dianggap jaminan masa depan, status dianggap tanda keberhasilan. Akan tetapi di balik meja-meja kerja yang kusam, ada cerita tentang kontrakan yang naik, utang yang menumpuk, harga diri yang pelan-pelan tergerus dan keluarga yang menunggu dengan harapan yang terlalu besar untuk gaji yang terlalu kecil.

Kisah ini tidak mencoba menjadi revolusi. Ia tidak menawarkan solusi, tidak pula membawa tokoh yang heroik, yang ada hanyalah tawa getir, percakapan satir, dan kejujuran yang kadang terasa terlalu pahit untuk diucapkan di ruang kantor. Semua mengalir seperti obrolan malam yang jujur, kasar dan tanpa sensor.

Melalui Romi, Anjas, dan Mukti, kita diajak melihat wajah lain dari birokrasi, wajah yang jarang masuk pidato, tidak pernah muncul di spanduk keberhasilan, dan sering dianggap biasa saja. Padahal, justru di pundak merekalah banyak pekerjaan negara diselesaikan.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan atau ketidakadilan. Ini adalah kisah tentang bertahan. Tentang orang-orang yang setiap hari memilih tetap bangun, tetap berangkat kerja, dan tetap tersenyum, meski dompetnya kosong dan masa depannya kabur. Karena di negeri seperti ini, Bertahan hidup saja sudah menjadi bentuk keberanian yang paling sunyi.

 

YANG GAK NAIK CUMA GAJI DAN HARGA DIRI

Malam di wilayah penyangga ibu kota selalu punya dua aroma khas, Aroma asap knalpot dan harapan yang dibakar pelan-pelan. Di sebuah pos ronda yang catnya lebih sering mengelupas daripada diperbaiki, tiga lelaki duduk lesehan mengelilingi cangkir kopi hitam dan sebungkus gorengan yang isinya lebih banyak angin daripada tepung.

Mereka tiga sahabat Romi, Anjas, dan Mukti, yang juga menjadi pegawai rendahan di salah satu instansi pemerintah daerah. Jabatan mereka tidak cukup tinggi untuk dihormati dan gaji mereka tidak cukup rendah untuk mendapat bantuan sosial. Sebuah posisi ideal untuk menderita dengan elegan.

“Pegawai ASN itu hidupnya mapan,” kata orang-orang di luar sana, Romi tertawa getir, “Mapan itu singkatan dari makan pas-pasan dan nangis diam-diam.”

Romi masih Perjaka dengan Beban Keluarga Negara, karena beban hidupnya sudah seperti duda tiga anak. Gajinya tisak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ada orang tua yang rutin bertanya,“Gaji kamu naik nggak bulan ini?”

Seolah kenaikan gaji datang rutin, seperti menstruasi negara. Belum lagi adiknya yang sedang skripsi di universitas swasta, “Bayarannya kayak cicilan rumah,” keluh Romi sambil menuang kopi, tapi yang dibangun Cuma judul.”

Ia pernah menghitung dengan serius, setelah gaji masuk, yang tersisa hanyalah notifikasi SMS bank dan rasa bersalah karena hidup belum mampu membahagiakan siapa pun.

“Menjadi tulang punggung keluarga dengan gaji kecil itu,” katanya pelan,

“seperti jadi superhero tanpa kekuatan yang ada Cuma capek.”

Berbeda dengan Anjas, mendengar kisah romi Ia hanya menghela napas panjang, napas orang yang sudah menyerah, tapi belum mati,

Lalu dia berkata, “Kontrakan naik, listrik naik, susu anak naik, pampers naik, Yang nggak naik Cuma gaji sama harga diri.”

Anaknya masih balita, Pampers lebih sering berganti daripada kebijakan instansi.

Istrinya? Lebih sering meminta bantuan ke orang tuanya yang bekerja di BUMN daripada berdiskusi dengan suaminya sendiri.

“Katanya biar nggak ngerepotin aku,” ujar Anjas.

“Tapi tiap aku pulang, rasanya kayak tamu yang lupa bayar parkir.” Lanjut anjas.

Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan, “Ketika suami tidak lagi jadi sandaran, ia Cuma jadi formalitas bernama kepala keluarga.”

Kopi diminumnya sampai habis, meski pahitnya masih kalah oleh kenyataan.

Berbeda dengan Mukti, Ia menjalani hidup seperti lagu Rhoma Irama, Gali Lubang, Tutup Lubang, Digerebek Kenyataan.

Mukti tertawa keras, tawa orang yang sudah kebal luka. “Hidupku ini kayak tambang ilegal,” katanya.

“Gali lubang, tutup lubang, terus digerebek kenyataan.” Lanjut mukti.

Utang kartu kredit, pinjaman online dan koperasi pegawai menjadi menu bulanan. Tapi yang paling mematikan bukan bunga pinjaman, melainkan kalimat-kalimat istrinya. Kalau di rumah istrinya selalu berkata keras,

“Kerja kamu itu apa sih? Capek iya, duit kagak.”

“Laki-laki lain bisa, kenapa kamu nggak?”

Setiap kalimat tajam, sinis, dan kejam, tanpa jeda empati.

“Kadang bukan kemiskinan yang membunuh laki-laki,” ucap Mukti lirih, “tapi kata-kata orang yang seharusnya memeluk.”

Ia lebih sering diam. Karena Diam merupakan cara paling aman agar tidak salah.

Mereka bertiga sepakat pada satu hal, para atasan hidup di dunia paralel, Proyek ATK menjadi ladang emas, Pengadaan internet seperti langganan hotel bintang lima dan Mobil dinas ganti model lebih cepat dari kalender. Sementara logistik konsumsi pegawai? Entah di mana rimbanya.

“Di atas rebutan proyek,” kata Romi,

“di bawah rebutan gorengan. Negara ini bukan kekurangan anggaran,” sambung Mukti, “tapi kelebihan perut yang tak pernah kenyang.”

Mereka lembur demi laporan, sementara pimpinan sibuk rapat membahas perjalanan dinas yang jaraknya bisa ditempuh Google Maps tanpa bensin.

 

KOPI, TAWA DAN CARA BERTAHAN

Di pos ronda itu, mereka menertawakan nasib sendiri, Sebab jika tidak ditertawakan, mungkin air mata sudah lebih dulu tumpah.

Anjas bercanda, “Kalau kita mati, gaji kita mungkin naik. Jadi santunan.”

Mukti menimpali, “Atau minimal nama kita dipakai buat nama ruangan.”

Romi tersenyum pahit, menatap langit yang tak pernah peduli pada slip gaji, “Kami bukan malas. Kami Cuma kelelahan hidup di sistem yang menyuruh sabar, tapi tak pernah adil.”

Malam makin larut. Kopi habis. Gorengan tinggal remah, akan tetapi mereka masih duduk, karena pulang berarti kembali ke realitas masing-masing.

Di pos ronda itu, tiga pegawai rendahan tak merencanakan revolusi. Mereka hanya ingin besok pagi masih cukup kuat untuk berangkat kerja dan di negeri ini, Itu saja sudah termasuk perjuangan besar.

Jam di ponsel Mukti menunjukkan pukul 02.13. Angka-angka itu menyala terang, seperti mengejek: waktu terus jalan, hidup tidak. Angin malam lewat, membawa bau got, sisa gorengan dan kelelahan kolektif kelas bawah.

Anjas memecah sunyi. “Lucu ya,” katanya,

“kita ini digaji negara, tapi hidup rasanya kayak numpang di hidup orang lain.”

Romi terkatanya, “Negara itu baik. Kita aja yang salah lahir.”

Mukti menyalakan rokok terakhir. Puntungnya tinggal separuh, seperti harapan mereka, “Negara selalu bilang sabar,” ucapnya, “tapi nggak pernah ngajarin cara kenyang.”

Lalu Anjas membuka aplikasi bank. Layarnya putih, “ATM gue kalau disentuh itu bukan ngeluarin uang,” katanya, “tapi doa.”

Romi menimpali cepat, “Doanya juga bukan doa minta kaya. Cuma minta cukup sampai tanggal tua nggak bunuh diri.”

Mukti tertawa, pahit, “Negara percaya kita ikhlas. Masalahnya, warung nggak nerima ikhlas.”

Mereka bertiga tertawa. Tawa yang tidak sampai ke dada.

“Kalau telat bayar kontrakan, yang datang bukan malaikat,” lanjut Anjas, “tapi pemilik rumah bawa wajah kiamat.”

 

LOYAL DAN DISIPLIN, ASN RENDAHAN MAKIN MISKIN

 

Romi bersandar ke tiang pos ronda, “Di kantor kita disuruh jujur, disiplin, loyal.”

Mukti menyela, “Padahal jujur nggak bisa dibawa ke pasar.”

Anjas mengangguk, “Disiplin juga nggak bisa dimasak.”

“Loyal lebih parah,” kata Mukti, “itu cuma bikin kita lama miskin.”

Mereka terdiam sesaat lalu Romi menambahkan, “Yang paling rajin disuruh sabar yang paling rakus disuruh studi banding.”

Anjas mendengus, “Atasan kita kalau rapat itu kayak ibadah.”

“Ibadah wisata,” koreksi Mukti.

“Doanya di hotel, khusyuknya di buffet.”

Romi tertawa kecil, “Mereka bilang itu demi peningkatan kinerja.”

Mukti mengangguk, “Kinerja perut mereka.”

Anjas menimpali, “Kita lembur biar laporan rapi, mereka jalan-jalan biar foto LinkedIn.”

Anjas menatap lantai pos ronda, “Gue kadang mikir, anak gue nanti jadi apa.”

Romi menjawab cepat, “Jadi rakyat.”

Mukti menambahkan, “Kalau pintar, jadi korban harapan. Kalau bodoh, jadi statistik.”

Anjas tersenyum pahit, “Sekolah mahal, hidup murah.”

Romi mengangguk, “Negara ngajarin mimpi besar, tapi ngasih tangga pendek.”

 

Mukti menghisap rokok dalam-dalam. “Lu tau kenapa orang jujur jarang naik?”

Romi dan Anjas menoleh.

“Karena kejujuran itu berat,” lanjut Mukti, “nggak muat di kantong celana pejabat.”

Romi tertawa pendek, “Yang muat cuma amplop.”

Anjas menambahkan, “Dan kita disuruh tepuk tangan.”

Pos Ronda sebagai Ruang Aman Terakhir

Angin kembali berhembus. Lampu jalan berkedip, seperti ragu mau menyala atau mati.

Romi berkata pelan, “Pos ronda ini satu-satunya tempat kita boleh ngomong jujur.”

Mukti mengangguk, “Di kantor, jujur bisa bikin pindah tugas.”

Anjas tersenyum pahit, “Di rumah, jujur bikin ribut.”

Mereka kembali tertawa—tawa pendek, cepat, lalu hilang.

 

EPILOG : BERTAHAN TANPA JANJI

Jam menunjukkan hampir pukul tiga, Romi berdiri, “Besok kita kerja lagi.”

Anjas mengangguk, “Pura-pura kuat.”

Mukti mematikan rokoknya di lantai semen, “Pura-pura cukup.”

Mereka tidak membicarakan perubahan, Tidak membahas perlawanan dan Tidak merencanakan apa pun selain bertahan.

Di pos ronda itu, tiga pegawai ASN kelas bawah memahami satu hal dengan jujur, “Negara mungkin tidak adil tapi besok tetap harus masuk kerja dan bagi orang seperti mereka, hidup bukan soal berharap, melainkan soal tidak tumbang hari ini.”

Malam akhirnya benar-benar habis. Lampu jalan padam satu per satu, digantikan cahaya matahari yang datang tanpa banyak janji. Kota kembali bergerak. Orang-orang berangkat kerja, kendaraan merayap dan negara berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang pernah retak di dalamnya.

Romi, Anjas, dan Mukti pun kembali ke rutinitasnya. Seragam disetrika sekadarnya, sepatu dipakai ulang, dan wajah dipaksa tampak tegar. Di lapangan dan depan meja kerja, mereka akan kembali menjadi aparatur yang disiplin, ramah, dan patuh pada sistem yang seringkali tidak pernah benar-benar memihak mereka.

Tidak ada perubahan besar, Tidak ada revolusi apalagi keajaiban yang turun dari langit. Yang ada hanyalah hari baru, slip gaji yang tetap sama, kebutuhan yang terus naik dan kewajiban yang tak pernah berkurang.

Namun mereka tetap berangkat, Tetap bekerja dan Tetap bertahan. Sebab bagi orang-orang seperti mereka, hidup bukan tentang menunggu keadilan datang. Hidup merupakan tentang bagaimana caranya tidak tumbang hari ini, agar masih bisa berdiri esok pagi.

Negara mungkin tidak mengenal nama mereka, atasan mungkin tidak pernah mengingat wajah mereka. Tapi di balik setiap berkas yang rapi, laporan yang selesai, dan pelayanan yang berjalan, ada keringat, kegelisahan dan doa-doa kecil yang diam-diam mereka titipkan.

ATM mereka mungkin kosong, Tapi kesabaran mereka tidak pernah habis. Dan selama mereka masih sanggup bangun setiap pagi, memakai seragam yang sama, dan berjalan menuju kantor yang sama, Di situlah letak keberanian yang sesungguhnya. Bukan keberanian untuk melawan, Tetapi keberanian untuk tetap hidup di tengah sistem yang tidak selalu adil.

 

=====TAMAT====

 

ARDHI MORSSE, JUMAT 13 JANUARI 2026

Separuh Nafas, Di Ujung Sabar

SEBUAH PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati manusia, yang menyaksikan air mata yang tidak pernah jatuh di depan orang banyak, yang mendengar doa-doa lirih di sepertiga malam saat dunia terlelap.

Kisah ini lahir bukan sekadar dari imajinasi, tetapi dari denyut realitas yang hidup di tengah kota-kota kita. Di antara lampu jalan yang terang dan gedung-gedung yang menjulang, ada jiwa-jiwa yang berjuang dalam senyap. Ada perempuan-perempuan yang memikul beban lebih berat dari tubuhnya sendiri. Ada ibu-ibu yang separuh nafasnya habis untuk bertahan, dan separuh lainnya untuk berharap.

“SEPARUH NAFAS, DI UJUNG SABAR” merupakan potret tentang keteguhan, tentang luka yang dipeluk dalam diam, tentang cinta yang diuji oleh keadaan, dan tentang keberanian memilih jalan yang paling menyakitkan demi masa depan yang lebih manusiawi.

Shabira Saha bukan sekadar tokoh dalam cerita. Ia adalah simbol dari ribuan perempuan yang berdiri di garis tipis antara tanggung jawab dan kelelahan, antara kesetiaan dan kehancuran diri. Didi Barna merupakan gambaran kompleks tentang manusia yang terjebak dalam ego dan ketidakberdayaan. Sementara Nur Singalodra menghadirkan harapan bahwa hukum dan kemanusiaan masih bisa berjalan beriringan. Kisah ini tidak menawarkan jawaban hitam-putih. Ia hanya menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini kita hindari:

Apakah sabar harus selalu tanpa batas?

Apakah bertahan selalu lebih mulia daripada melepaskan?

Dan sampai kapan seorang ibu harus mengorbankan dirinya demi semua orang?

Sebagaimana kata Kahlil Gibran, “Penderitaan adalah retakan di mana cahaya masuk ke dalam hidup kita.”

Semoga kisah ini menjadi cermin bagi hati, membuka empati, dan menghadirkan keberanian untuk melihat kenyataan dengan lebih jujur dan lebih manusiawi. Akhirnya, karya ini saya persembahkan untuk mereka yang sedang berjuang dalam diam. Untuk para ibu yang tidak pernah berhenti berdiri meski dunia terus menekan. Untuk setiap jiwa yang berada di ujung sabar, namun masih menyisakan separuh nafas untuk bertahan.

Semoga kisah ini menyentuh, menguatkan, dan memberi makna.

 

NASI UDUK SHABIRA

Hujan pagi itu menjadikan Kota yang tidak pernah tidur dalam keadaan Dingin, walaupun banyak penderitaan yang menyapa ketika suasana kota madya tidak memberikan jeda kepada penghujung karena tidak pernah benar-benar peduli

Lampu-lampu jalan masih menyala seperti mata yang setengah terbuka. Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson, asap, dan suara pedagang kaki lima bercampur menjadi satu irama keras kehidupan.

Diantara guyuran hujan dan di trotoar serta depan pusat perbelanjaan pasar modern kota madya, berdirilah sebuah gerobak sederhana.

Di kaca gerobaknya terdapat sebuah nama yang tertulis di sebuah kertas fotokopi:

“NASI UDUK SHABIRA”

Shabira Saha berdiri di balik gerobak itu. Tangannya cepat membungkus nasi, mengiris telur, menaruh tempe orek, sambal, dan sepotong ayam kecil.

Wajahnya terlihat lebih dewasa daripada usianya baru tiga puluhan. Garis kelelahan terlihat jelas di bawah matanya. Bibirnya sering tersenyum, tapi matanya seperti selalu menyimpan hujan.

Seorang pembeli berkata, “Teh, sambalnya ditambah ya.”

Shabira mengangguk, “Iya, Bang. Biar semangat kerjanya.”

Hehehehe….Pembeli itu tertawa kecil.

“Kalau sambalnya begini, bukan Cuma semangat kerja, bisa semangat hidup juga.”

Shabira ikut tersenyum, Tapi dalam hatinya, ia hanya berkata, “Semangat hidup itu mahal, Kadang lebih mahal dari sepiring nasi.”

Shabira teringat awal pernikahannya dahulu, Pernikahan yang dimulai dengan harapan sederhana

Dulu, Shabira merupakan gadis biasa, Lulus sekolah menengah, wajahnya cerah, mimpinya sederhana.

Ia hanya ingin, Punya rumah kecil, Suami yang bekerja, Anak-anak yang sekolah, Hidup yang cukup, Tidak kaya, tidak mewah dan Cukup tenang. Ia menikah dengan Didi Barna saat usianya baru sembilan belas tahun.

Didi waktu itu, Pekerja bangunan Tubuhnya kuat, Suaranya tenang, tapi terlihat bertanggung jawab

Pada malam pertama setelah akad, Didi berkata, “Bira, aku memang bukan orang kaya. Tapi aku janji, kamu nggak akan kelaparan selama hidup sama aku.”

Shabira tersenyum bahagia, Ia menjawab pelan, “Aku nggak butuh kaya, Bang. Aku Cuma butuh hidup tenang.”

Malam itu, mereka tidur dengan mimpi yang sama.

_____

Waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari, bulan pun berlalu serta Tahun demi tahun terus berganti, Satu anak lahir, Lalu dua, Tiga, Empat, Lima dan Enam.

Rumah kontrakan mereka penuh suara tangis, tawa, dan rebutan mainan. Hidup memang tidak mewah, tapi mereka masih bisa makan tiga kali sehari dan Didi bekerja keras di proyek-proyek bangunan.

Sampai suatu sore, semuanya berubah, setelah pulang kerja, dia sedang di dapur tiba-tiba Didi terjatuh lalu pingsan. Lalu di bawa ke rumah sakit, tidak di ketahui apa penyakit, Tubuhnya tidak lagi bisa digerakkan dari pinggang ke bawah.

Dokter berkata pelan, “Maaf, Bu. Kemungkinan besar suami Ibu akan lumpuh.”

Dunia Shabira seperti runtuh tanpa suara.

_____________

Sejak pristiwa itu, pengobatan terhadap terus di lakukan, baik medis maupun non medis, namun belum ada perkembangan sama sekali, selama Tiga tahun kehidupan Shabira berubah drastis dan menggerus jiwanya, tiga tahun bukan waktu sebentar karena sejak kecelakaan itu, Didi, Tidak bisa bekerj, Tidak bisa berjalan, Tidak bisa memberi nafkah, Bahkan untuk mandi pun harus dibantu, Semua beban jatuh ke pundak Shabira.

Ia Berjualan nasi uduk dari subuh, Pulang siang untuk mengurus anak, Sore mencari bahan dagangan Lalu merawat suami, Ia berjuang sendirian tanpa ada keluarga baik dari keluarga suaminya maupun keluarganya sendiri.

Setiap hari dia berjuang sendiri karena Kontrakan harus dibayar, Listrik harus hidup, Anak-anak harus makan, belum lagi Sekolah?, Dua anaknya sudah berhenti, Satu bekerja lepas ikut temennya, Satu lagi membantu ibunya di gerobak.

Suatu malam, saat menyiapkan nasi untuk besok, Shabira duduk di lantai dapur. Tangannya gemetar, Anak sulungnya bertanya, “Ibu kenapa?”

Shabira menjawab pelan, “Ibu Cuma capek, Nak.”

Anak itu berkata, “Kalau Ibu capek, siapa yang gantiin Ibu?”

Shabira terdiam, tanpa terasa Air matanya jatuh ke lantai.

Setelah selesai di dapu,  lalu ke kamar untuk melihat suaminya, malam itu Didi berkata dari atas ranjang, “Bira, aku mau ayam goreng. Sudah lama nggak makan.”

Shabira yang baru pulang dari jualan dan masak untuk bahan-bahan jualan besok lalu menjawab lelah, “Uangnya nggak ada, Bang. Buat beras saja pas-pasan.”

Didi menggerutu, “Kamu sekarang pelit sama suami sendiri.”

Shabira menatap suaminya, Matanya merah lalu menjawab, “Bukan pelit, Bang. Memang nggak ada.”

Didi membentak, “Dulu waktu aku kerja, kamu tinggal enak di rumah!”

Shabira tidak menjawab, Ia hanya menunduk.

Dalam hatinya, ia berteriak, “Aku tidak ingin enak.

Aku hanya ingin hidup normal.”

lalu Shabira duduk di samping ranjang Didi, “Bang… kita bicara ya.”

Didi menoleh, “Apa lagi?”

Shabira menarik napas panjang. “Aku sudah capek, Bang. Sudah tiga tahun begini. Aku kerja, rawat kamu, rawat anak-anak… Aku nggak kuat.”

Didi menatapnya tajam, “Maksud kamu apa?”

Shabira berbisik, hampir tak terdengar, “Aku mau pisah, Bang.”

Didi langsung marah, “Pisah? Lalu siapa yang rawat aku? Kamu tega ninggalin aku mati?”

Shabira menangis, “Aku juga hampir mati, Bang. Tapi bukan badanku… hatiku.”

Didi membentak, “Pokoknya aku nggak mau cerai! Kamu tetap istri aku!”

Shabira hanya menutup wajahnya, Ia teringat nasihat salah satu pelanggannya, “Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah luka, Tapi kewajiban yang tak lagi sanggup dipikul.”

 

KEHIDUPAN SHABIRA SAMPAI KE KANTOR HUKUM SINGALODRA

 

Di sebuah kantor hukum di pinggir kota, seorang pengacara muda bernama Nur Singalodra sedang membaca berkas.

Seorang sahabatnya, penulis lepas seperti biasa datang ke kantornya walaupun hanya menikmati secangkir kopi. Sambil mengaduk kopi di tangannya,

“Nur, aku mau cerita. Ada Temen tinggalnya di kampung sebelah… kasihan sekali hidupnya.”

“Kenapa?” tanya Nur.

“Perempuan, enam anak, suaminya lumpuh. Dia jualan nasi uduk tiap hari. Katanya mau cerai, tapi nggak punya uang buat pengacara.”

Nur terdiam, lalu kembali bertanya, “Namanya siapa?”

“Shabira Saha.”

Nur menutup berkasnya. Lau Ia berkata pelan,  “Keadilan itu bukan milik orang yang punya uang saja.”

Ia bangkit dari kursinya. “Besok, kita kesana, aku mau ketemu dia.”

_________

 

Pagi itu, Nur datang ke gerobak nasi uduk, “teh, nasi uduknya satu.”

Shabira membungkus nasi, “Duduk saja, Pak. Sebentar.”

Nur memperhatikan wajahnya. Ia melihat kelelahan yang dalam. Setelah pembeli lain pergi, Nur berkata pelan, “Teh, saya dengar teteh lagi ada masalah. Saya pengacara.”

Shabira kaget, “Pengacara? Saya nggak punya uang, Bang.”

Nur tersenyum, “Saya tidak bicara soal uang. Kalau teteh punya surat keterangan tidak mampu, saya siap bantu gratis.”

Shabira menatapnya lama, Matanya berkaca-kaca sambil berkata, “Kenapa abang mau bantu saya?”

Nur menjawab tenang, “Karena hukum seharusnya berdiri untuk orang yang paling lemah, Bukan hanya yang paling kuat.”

Setelah pertemuan pagi itu, Malamnya, Shabira tidak bisa tidur, Ia melihat suaminya yang terbaring dan melihat anak-anaknya yang tidur berdesakan.

Ia berbisik dalam hati, “Apakah aku istri yang durhaka?

Atau hanya manusia yang sudah terlalu lelah?”

Ia teringat kutipan Rumi yang pernah ia baca di kalender bekas, “Luka adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu.”

Shabira memejamkan mata, “Kalau ini luka, Ya Tuhan… kapan cahayanya datang?”

 

KEPUTUSAN DI UJUNG SABAR

 

Keesokan harinya, ia menemui Nur di kantornya, “Bang… saya sudah pikirkan. Saya mau ajukan cerai.”

Nur mengangguk, “Saya akan bantu, teh. Tapi satu hal, keputusan ini harus teteh ambil tanpa paksaan siapa pun.”

Shabira berkata pelan, “Aku bukan mau lari dari tanggung jawab. Aku hanya ingin anak-anakku punya masa depan.”

Nur menjawab, “Terkadang, keberanian terbesar seorang ibu Adalah memilih jalan yang paling menyakitkan Demi kehidupan anak-anaknya.”

Setelah pulang dari kantor hukum Nur Singalodra, Hari itu, Shabira mengurus surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Tangannya gemetar saat memegang kertas itu. Kertas tipis, tapi rasanya seperti membawa seluruh masa depannya.

Lalu Ia berjalan pulang dan kembali mendorong gerobak nasi uduknya untuk berjualan.

Di sudut jalan, gerobak nasi uduknya tetap berdiri, Asap nasi mengepul. Anak-anaknya membantu membungkus, Shabira memandang langit kota yang abu-abu.

Ia berbisik, “Aku bukan tidak ingin hidup bahagia. Tapi cukup Aku hanya ingin hidup yang manusiawi.”

———

Seperti yang pernah di katakan seorang Nelson mandela, “Keberanian bukan berarti tidak takut, Tapi tetap berjalan meski hati gemetar.”

“Pernikahan yang sehat adalah tempat dua jiwa saling menguatkan, Bukan satu jiwa memikul semua beban. Kadang cinta tidak berakhir dengan kebersamaan, Tapi dengan keberanian melepaskan.

 

EPILOG : SEPARUH NAFAS, DI UJUNG SABAR

Langit kota madya sore itu berwarna jingga pucat. Tidak terlalu indah, tidak pula sepenuhnya muram, seperti hidup Shabira Saha yang tidak lagi hitam atau putih, melainkan penuh abu-abu yang harus diterima dengan lapang dada.

Sidang itu akhirnya tiba, Di ruang Pengadilan Agama yang sederhana, Shabira duduk dengan tangan saling menggenggam. Nur Singalodra berdiri di sampingnya, tenang, rapi, dan penuh keyakinan. Didi Barna didorong dengan kursi roda oleh seorang petugas.

Mata mereka sempat bertemu, tidak ada lagi amarah sebesar dulu. Tidak ada lagi bentakan, yang tersisa hanyalah kelelahan dari dua jiwa yang sama-sama terluka.

Hakim bertanya lembut, “Apakah keputusan ini sudah dipikirkan dengan matang?”

Shabira mengangguk. Suaranya gemetar, tetapi jelas, “Sudah, Yang Mulia.”

Didi terdiam lama. Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir, suaranya tak lagi meninggi, “Aku cuma… takut sendirian.”

Shabira menatapnya. Air matanya jatuh pelan, “Aku juga takut, Bang. Tapi aku lebih takut kalau anak-anak kita kehilangan masa depan.”

Ruangan itu hening, didalam keheningan itulah, semua ego runtuh. Semua kesalahpahaman menguap, yang tersisa hanya kenyataan: hidup tak selalu berjalan seperti yang direncanakan.

Putusan akhirnya pun dibacakan dan Perceraian dikabulkan.

Shabira menutup wajahnya. Ia menangis, bukan karena benci, bukan karena menang, tetapi karena sebuah babak hidup telah benar-benar selesai.

Beberapa bulan kemudian, gerobak nasi uduk itu masih berdiri di sudut yang sama.

Namun kini berbeda, Anak sulungnya kembali sekolah paket dan Dua anaknya yang lain mulai membantu dengan lebih teratur.

Ada bantuan sosial yang berhasil diurus Dan Nur, diam-diam, tetap memantau dari jauh tanpa pernah menuntut balasan apa pun.

Didi akhirnya tinggal di rumah singgah milik yayasan sosial yang dihubungkan oleh Nur. Tidak mewah, tapi layak. Di sana ada perawat. Ada orang-orang senasib. Ada ruang untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Suatu sore, Shabira menerima pesan singkat dari nomor lama, “Bira, maafkan aku. Jaga anak-anak baik-baik.”

Shabira membaca pesan itu lama.nIa tak membalas dengan panjang. Hanya satu kalimat, “Kita sama-sama belajar ikhlas, Bang.”

Ia menyimpan ponselnya, lalu Menatap anak-anaknya yang tertawa di dekat gerobak.

Angin sore menyentuh wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menarik napas panjang tanpa terasa sesak. Separuh nafasnya yang dulu habis untuk bertahan, kini mulai kembali utuh, “Keberanian terbesar dalam hidup bukanlah bertahan dalam penderitaan, tetapi memilih keluar darinya tanpa kehilangan kemanusiaan. Sabar bukan berarti membiarkan diri hancur, melainkan tahu kapan harus berhenti agar tidak binasa.”

Sebagaimana Mahatma Gandhi pernah berkata, “Kekuatan tidak datang dari kemampuan fisik, tetapi dari kehendak yang tak tergoyahkan.”

Shabira bukan perempuan sempurna. Ia hanya seorang ibu yang memilih hidup.

Ia bukan meninggalkan tanggung jawab, tapi menyelamatkan masa depan dan kota madya itu tetap ramai seperti biasa. Lampu-lampu tetap menyala dan Orang-orang tetap berlalu-lalang. Namun di satu sudut trotoar, ada seorang perempuan yang akhirnya menemukan kembali separuh nafasnya di ujung sabar yang nyaris patah.

 

==========TAMAT ========

 

ARDHI MORSSE, JUMAT 13 FEBRUARI 2026

Kapolres Metro Tangerang Kota Raih Satyalancana Wira Karya dari Presiden

SIDIKPOST| Jakarta – Komitmen dan kerja nyata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional berbuah penghargaan bergengsi bagi Kapolres Metro Tangerang Kota. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menganugerahkan tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya kepada Dr. Raden Muhammad Jauhari, Kapolres Metro Tangerang Kota Polda Metro Jaya, dalam sebuah seremoni kenegaraan di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian peresmian dan groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (SPMBG) serta peresmian 18 gudang ketahanan pangan Polri. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta optimalisasi rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri guna mendukung agenda besar ketahanan pangan nasional.

Penganugerahan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2026 tentang Penganugerahan Bintang Jasa serta Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2026 tentang Penganugerahan Satyalancana Wira Karya yang ditandatangani di Jakarta pada 13 Februari 2026.

Dalam amanatnya, Presiden menegaskan bahwa tanda kehormatan negara diberikan sebagai bentuk apresiasi atas jasa besar, dedikasi, dan kontribusi nyata para penerima dalam memperkuat implementasi MBG Polri serta menjaga keberlanjutan distribusi pangan bergizi kepada masyarakat.

Nama Dr. Raden Muhammad Jauhari tercatat sebagai salah satu penerima Satyalancana Wira Karya bersama sejumlah pejabat tinggi Polri dan tokoh masyarakat lainnya. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas peran aktif jajaran Polres Metro Tangerang Kota dalam memastikan program pemenuhan gizi berjalan efektif, transparan, dan tepat sasaran.

Secara terpisah, Kapolres Metro Tangerang Kota menyampaikan bahwa penghargaan tersebut bukan semata untuk pribadi, melainkan untuk seluruh personel yang telah bekerja keras di lapangan.

“Penghargaan ini adalah hasil kerja kolektif. Kami akan terus berkomitmen mendukung kebijakan nasional, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan pelayanan publik yang profesional dan akuntabel,” ujarnya.

Penganugerahan ini juga mencerminkan sinergi kuat lintas sektor antara Polri, pemerintah, serta elemen masyarakat dalam mendorong kesejahteraan rakyat melalui program pemenuhan gizi yang berkelanjutan.

Dengan penghargaan tersebut, diharapkan semangat kolaborasi dan dedikasi terus terjaga demi memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di berbagai daerah.

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

Pengajian Rutin Masjid Ar-Rahmah UNDHI Tekankan Persiapan Spiritual Sambut Ramadhan

SIDIKPOST| Kab Tangerang – Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti Masjid Ar-Rahmah UNDHI dalam kegiatan pengajian rutin Jumat (13/2/2026).

Kegiatan yang dimoderatori Ustadz Gilang tersebut menghadirkan Ustadz Dedi sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Persiapan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan.”

Dalam tausiyahnya, Ustadz Dedi menegaskan bahwa hakikat puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Puasa, menurutnya, merupakan proses pembinaan diri yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa.

“Ramadhan bukan hanya soal menahan fisik, tetapi membersihkan hati. Karena pusat kendali manusia itu ada pada hati,” ujarnya di hadapan jamaah.

Merujuk pada pandangan ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali, ia menjelaskan bahwa nafsu memiliki tingkatan dan bersemayam dalam inti hati (qalbu). Apabila hati dalam keadaan baik, maka perilaku manusia pun akan baik.

Sebaliknya, jika hati rusak, maka rusak pula amal dan sikap seseorang.
Ustadz Dedi menekankan bahwa nafsu bukan untuk dimusnahkan, melainkan untuk dididik dan dikendalikan. Nafsu dapat menjadi kekuatan positif apabila diarahkan kepada kebaikan, namun dapat mencelakakan jika dibiarkan tanpa pengendalian.

Dalam rangka menyambut Ramadhan, ia mengajak jamaah untuk mulai melakukan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) melalui introspeksi diri, memperbanyak istighfar, serta membersihkan hati dari sifat tercela seperti iri, dengki, dan kesombongan.

Selain itu, selama bulan Ramadhan umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, meningkatkan intensitas membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, serta menjaga lisan dan perilaku.

Menurutnya, Ramadhan adalah madrasah spiritual yang mendidik manusia menjadi lebih disiplin, sabar, dan semakin dekat dengan Allah SWT.

Kegiatan pengajian rutin di Masjid Ar-Rahmah UNDHI ini diharapkan menjadi wadah pembinaan ruhiyah bagi civitas akademika dan jamaah.

Dengan demikian, Ramadhan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik.

(Humas )

 

Terlantar Jadi Pemulung, Mantan Sopir Camat Klaim Gaji Tak Dibayar: Kadis DP3APPKB Blitar Diminta Bertanggung Jawab

SIDIKPOST| KABUPATEN BLITAR, – IM (55 tahun), yang pernah menjalankan tugas sebagai supir resmi bagi jabatan Camat di Kecamatan Selopuro dan kemudian dilanjutkan di Kecamatan Kademangan, kini menghadapi kenyataan hidup yang jauh dari ekspektasi.

Pria yang telah berkontribusi dalam mendukung aktivitas pemerintahan kecamatan tersebut terpaksa mencari nafkah sebagai pemulung, setelah menduga hak gaji dan fasilitas pekerjaannya tidak pernah dipenuhi oleh pihak yang berwenang di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Blitar.

Isu ini tidak hanya menyentuh sisi kemanusiaan, melainkan juga mengacu pada kerangka regulasi yang berlaku di tingkat lokal dan nasional.

Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 8 Tahun 2019 tentang Perlindungan Pekerja secara eksplisit mengatur bahwa setiap tenaga kerja – termasuk yang bekerja dalam lingkup pemerintahan sebagai tenaga non-PNS – berhak mendapatkan upah tepat waktu, tunjangan yang disepakati, serta perlindungan sesuai dengan risiko tugas.

Sementara itu, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 19 ayat (1) menetapkan bahwa upah merupakan hak pekerja yang harus dibayarkan penuh dan tidak boleh dikurangi tanpa alasan sah.

Dalam konteks penggunaan jasa supir pada struktur pemerintah dan non Pemerintahan Kabupaten/ Kota Provinsi Jawa Timur, praktik kerja biasanya diatur melalui perjanjian kerja yang jelas antara pihak dinas dan pekerja.

Hal ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas, terutama terkait alokasi anggaran yang berasal dari APBD Kabupaten Blitar.

Ketidak pemenuhan hak pekerja seperti yang dialami IM(55 Tahun) mengindikasikan adanya celah dalam pengelolaan administrasi maupun pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan tenaga kerja di lingkungan pemerintah daerah.

Kondisi yang dialami mantan supir ini menjadi cerminan penting tentang bagaimana penerapan regulasi perlindungan pekerja harus benar-benar terealisasi di lapangan.

Tidak hanya sebagai masalah individual yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari IM dan keluarganya, kasus ini juga menyoroti urgensi evaluasi sistem pengawasan terhadap penggunaan anggaran pemerintahan serta pemenuhan kewajiban hukum bagi setiap pihak yang terlibat dalam hubungan kerja.

Langkah klarifikasi dan penanganan yang sesuai dengan ketentuan hukum menjadi hal yang krusial untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah

Selain itu, hal ini juga diharapkan dapat mencegah terjadinya kasus serupa di masa mendatang, sehingga setiap pekerja yang berkontribusi pada pembangunan daerah mendapatkan hak yang seharusnya diterima

Tim Media Sudah melayangkan konfirmasi melalui sambungan WhatsApp tidak mendapatkan respon positif  sehingga berita ini diterbitkan

 

Penulis : RDK

Editor : Redaksi

Polres Kukar Terima Kunjungan Naskah Kurikulum Sespimmen Polri Dikreg 66 TA 2026

SIDIKPOST| Kukar – Polres Kutai Kartanegara (Kukar) menerima kunjungan kegiatan Naskah Kurikulum (Naskap) Sespimmen Polri Dikreg 66 Tahun Anggaran 2026 yang dipimpin oleh Kompol M. Aldy Harjasatya. Kegiatan tersebut disambut langsung oleh Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra di Mapolres Kukar.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian program pendidikan Sespimmen Polri dalam rangka pendalaman materi kurikulum serta penguatan kompetensi kepemimpinan manajerial di lingkungan Polri. Kegiatan Naskap menjadi salah satu metode pembelajaran strategis bagi peserta didik untuk mengkaji berbagai aspek operasional dan manajerial kepolisian di kewilayahan.

Dalam sambutannya, Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Polres Kukar sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan.

“Kami menyambut baik kegiatan Naskap Sespimmen Polri Dikreg 66 TA 2026 di Polres Kukar. Semoga kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif, baik bagi peserta didik maupun bagi Polres Kukar melalui pertukaran gagasan dan pengalaman di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Kompol M. Aldy Harjasatya menjelaskan bahwa kegiatan Naskap bertujuan untuk mengintegrasikan teori yang diperoleh dalam pendidikan dengan kondisi riil pelaksanaan tugas di kewilayahan.

“Kegiatan ini menjadi sarana bagi peserta didik untuk melakukan analisis, identifikasi permasalahan, serta merumuskan solusi strategis yang dapat mendukung pelaksanaan tugas kepolisian yang lebih efektif dan profesional,” jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, dilakukan pemaparan materi, diskusi interaktif, serta pengumpulan data dan informasi yang relevan dengan tema kajian. Kegiatan berjalan dengan tertib dan penuh semangat kolaboratif antara peserta didik Sespimmen Polri dan jajaran Polres Kukar.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara lembaga pendidikan Polri dengan satuan kewilayahan dalam mendukung transformasi Polri menuju institusi yang presisi dan adaptif terhadap dinamika tugas ke depan. (*)

Polisi Evakuasi 52 Penumpang Kapal Tenggelam di Sungai Mahakam

SIDIKPOST| Kukar – Sebuah kapal taksi penumpang KM Taksi “Dahliya F3” rute Samarinda–Long Bagun tenggelam di perairan Sungai Mahakam, tepatnya di alur Ulak Besar, Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis (12/2/2026) sekitar pukul 16.00 Wita.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Seluruh penumpang, nahkoda, dan anak buah kapal (ABK) berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat berkat kesigapan aparat kepolisian bersama unsur terkait dan masyarakat setempat.

Kapolsek Muara Kaman IPTU Gede Wijaya, menjelaskan bahwa kapal yang dinakhodai Hendra (40), warga Desa Muara Benangaq, Kecamatan Melak, Kutai Barat, berangkat dari Pelabuhan Samarinda pukul 07.00 Wita menuju Long Bagun dengan membawa muatan sembako berupa beras sekitar 15 ton, enam unit sepeda motor, serta penumpang.

“Berdasarkan data di lapangan, jumlah keseluruhan orang di atas kapal sebanyak 52 orang, terdiri dari 42 penumpang dan 10 kru kapal. Seluruhnya berhasil diselamatkan,” ujar IPTU Gede Wijaya.

Ia menerangkan, dari hasil keterangan sementara, kapal diduga mengalami kelebihan muatan dan ketidakseimbangan beban. Saat melintasi arus deras di Ulak Besar, terjadi pergeseran titik berat (center of gravity) yang menyebabkan kapal berputar, kemudian oleng ke kanan hingga akhirnya karam.

Begitu menerima laporan, personel Polsek Muara Kaman langsung mendatangi lokasi kejadian, melakukan pertolongan dan membantu proses evakuasi penumpang ke Pelabuhan Muara Kaman. Polisi juga berkoordinasi dengan Ditpolairud Polda Kaltim untuk pengamanan alur pelayaran di sekitar lokasi kejadian.

“Kami fokus pada penyelamatan seluruh penumpang dan memastikan tidak ada korban yang tertinggal. Alhamdulillah seluruhnya selamat,” ungkapnya.

Sebanyak empat penumpang sempat dibawa ke UPTD Puskesmas Muara Kaman untuk mendapatkan penanganan medis, dengan rincian tiga orang mengalami syok dan satu orang dalam kondisi kedinginan. Sementara penumpang lainnya untuk sementara berada di kediaman Camat Muara Kaman guna mendapatkan pendampingan.

Polisi juga telah mengamankan nahkoda dan sejumlah ABK untuk dimintai keterangan lebih lanjut dalam rangka penyelidikan penyebab pasti kecelakaan air tersebut. Kerugian materiel akibat kejadian ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 miliar, meliputi kapal, mesin, muatan sembako, serta enam unit sepeda motor.

IPTU Gede Wijaya mengimbau para pemilik dan operator kapal penumpang agar selalu memperhatikan kapasitas muatan dan keselamatan pelayaran.

“Keselamatan penumpang adalah yang utama. Kami mengimbau agar setiap kapal mematuhi aturan manifes dan kapasitas angkut guna mencegah kejadian serupa terulang,” tegasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran, sekaligus menunjukkan respons cepat aparat kepolisian dalam melindungi dan menyelamatkan masyarakat. (*)

Satresnarkoba Polres Kukar Ungkap Kasus Sabu 7,80 Gram di Sebulu

SIDIKPOST| Kukar – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kutai Kartanegara kembali mengungkap tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di wilayah hukumnya.

Seorang pria berinisial K (36) diamankan petugas di kediamannya di Jalan Selayar RT 006, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sebulu, Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 22.00 Wita.

Kasatresnarkoba Polres Kukar AKP Yohanes Bonar Adiguna, menjelaskan bahwa pengungkapan berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan sering terjadi transaksi narkotika jenis sabu di wilayah Desa Mekar Jaya.

“Menindaklanjuti informasi tersebut, tim melakukan serangkaian penyelidikan dan pemantauan sejak 6 Februari 2026. Pada 11 Februari 2026 sekitar pukul 21.30 Wita, tim melihat seorang pria dengan ciri-ciri sesuai informasi masuk ke rumah yang telah dipantau, kemudian langsung dilakukan penggerebekan,” ujar AKP Yohanes.

Dari hasil penggeledahan badan dan rumah tersangka, petugas menemukan delapan bungkus plastik bening berisi serbuk kristal yang diduga narkotika jenis sabu dengan berat kotor 7,80 gram. Selain itu, turut diamankan satu bendel plastik klip, satu plastik bening, satu timbangan digital, satu korek api gas, satu tas kecil warna merah, serta satu unit telepon genggam.

“Tersangka berikut barang bukti langsung kami amankan ke Mapolres Kutai Kartanegara untuk proses penyidikan lebih lanjut,” jelasnya.

Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi-saksi guna mengembangkan kemungkinan adanya jaringan atau keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana telah disesuaikan dalam ketentuan perundang-undangan terbaru, dengan ancaman pidana penjara maksimal seumur hidup atau pidana penjara paling singkat enam tahun.

Polres Kutai Kartanegara menegaskan komitmennya untuk terus memberantas peredaran narkotika di wilayah hukum Kukar serta mengajak masyarakat untuk berperan aktif memberikan informasi demi menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba. (*)

Polsek Loa Kulu Amankan Terduga Pelaku dan Sita Barang Bukti Digital

SIDIKPOST| Kukar – Polsek Loa Kulu, Polres Kutai Kartanegara, menangani perkara dugaan Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) terhadap anak yang terjadi di wilayah Kecamatan Loa Kulu. Seorang remaja laki-laki berinisial MI (17) diamankan untuk proses hukum lebih lanjut.

Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menindak tegas setiap bentuk kekerasan seksual, terlebih yang melibatkan korban anak.

“Perkara ini kami tangani secara profesional dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Perlindungan terhadap anak menjadi prioritas utama,” tegas AKP Hari.

Kasus ini dilaporkan pada 11 Februari 2026. Peristiwa dugaan tindak pidana terjadi pada rentang waktu Agustus hingga November 2025 di wilayah Loa Kulu dan sekitarnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, terduga pelaku diduga melakukan tindakan eksploitasi seksual terhadap korban yang juga masih berstatus anak. Selain itu, pelaku diduga merekam dan menyebarluaskan konten bermuatan asusila melalui media sosial tanpa persetujuan korban, serta melakukan dugaan pemerasan.

Dalam penanganan perkara ini, penyidik telah mengamankan terduga pelaku beserta sejumlah barang bukti berupa perangkat komunikasi dan media penyimpanan digital yang diduga berkaitan dengan tindak pidana tersebut. Polisi juga telah memeriksa saksi-saksi, melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan pendampingan, serta melengkapi administrasi penyidikan dan visum et repertum (VER).

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan melanggar Pasal 6 huruf C dan Pasal 14 ayat (1) huruf A Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, serta pasal-pasal lain yang relevan dalam KUHP sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan terbaru.

Kapolsek menambahkan bahwa dalam penanganan kasus yang melibatkan anak, baik sebagai korban maupun pelaku, proses hukum tetap mengacu pada sistem peradilan pidana anak dengan tetap menjunjung tinggi prinsip perlindungan anak.

“Kami mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, termasuk dalam penggunaan media sosial dan perangkat digital, guna mencegah terjadinya kejahatan serupa,” pungkasnya.

Saat ini, penyidik Polsek Loa Kulu masih mendalami kasus tersebut untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa terungkap secara utuh sesuai fakta hukum yang ada. (*)