SEBUAH PENGANTAR
Ada banyak cerita tentang negara yang besar, tentang pembangunan yang megah, tentang angka-angka pertumbuhan yang naik dari tahun ke tahun. Tetapi, jarang sekali kita mendengar kisah dari mereka yang berada di dasar tangga birokrasi, orang-orang yang setiap hari menjaga roda administrasi tetap berputar, tetapi hidupnya sendiri berjalan terseok-seok.
Kisah ini lahir dari sudut yang sering luput dari sorotan, Di sebuah pos ronda, kopi hitam yang pahit, gorengan dingin dan tiga lelaki yang terlalu lelah untuk bermimpi besar. Mereka bukan tokoh penting, bukan pejabat, bukan pula orang yang namanya akan tercatat dalam laporan tahunan instansi. Mereka hanyalah pegawai rendahan, yang gajinya habis sebelum bulan berganti, yang kesabarannya diminta tanpa pernah benar-benar dihargai.
Di luar sana, pegawai ASN sering dipandang sebagai simbol kemapanan. Seragam dianggap jaminan masa depan, status dianggap tanda keberhasilan. Akan tetapi di balik meja-meja kerja yang kusam, ada cerita tentang kontrakan yang naik, utang yang menumpuk, harga diri yang pelan-pelan tergerus dan keluarga yang menunggu dengan harapan yang terlalu besar untuk gaji yang terlalu kecil.
Kisah ini tidak mencoba menjadi revolusi. Ia tidak menawarkan solusi, tidak pula membawa tokoh yang heroik, yang ada hanyalah tawa getir, percakapan satir, dan kejujuran yang kadang terasa terlalu pahit untuk diucapkan di ruang kantor. Semua mengalir seperti obrolan malam yang jujur, kasar dan tanpa sensor.
Melalui Romi, Anjas, dan Mukti, kita diajak melihat wajah lain dari birokrasi, wajah yang jarang masuk pidato, tidak pernah muncul di spanduk keberhasilan, dan sering dianggap biasa saja. Padahal, justru di pundak merekalah banyak pekerjaan negara diselesaikan.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan atau ketidakadilan. Ini adalah kisah tentang bertahan. Tentang orang-orang yang setiap hari memilih tetap bangun, tetap berangkat kerja, dan tetap tersenyum, meski dompetnya kosong dan masa depannya kabur. Karena di negeri seperti ini, Bertahan hidup saja sudah menjadi bentuk keberanian yang paling sunyi.
YANG GAK NAIK CUMA GAJI DAN HARGA DIRI
Malam di wilayah penyangga ibu kota selalu punya dua aroma khas, Aroma asap knalpot dan harapan yang dibakar pelan-pelan. Di sebuah pos ronda yang catnya lebih sering mengelupas daripada diperbaiki, tiga lelaki duduk lesehan mengelilingi cangkir kopi hitam dan sebungkus gorengan yang isinya lebih banyak angin daripada tepung.
Mereka tiga sahabat Romi, Anjas, dan Mukti, yang juga menjadi pegawai rendahan di salah satu instansi pemerintah daerah. Jabatan mereka tidak cukup tinggi untuk dihormati dan gaji mereka tidak cukup rendah untuk mendapat bantuan sosial. Sebuah posisi ideal untuk menderita dengan elegan.
“Pegawai ASN itu hidupnya mapan,” kata orang-orang di luar sana, Romi tertawa getir, “Mapan itu singkatan dari makan pas-pasan dan nangis diam-diam.”
Romi masih Perjaka dengan Beban Keluarga Negara, karena beban hidupnya sudah seperti duda tiga anak. Gajinya tisak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ada orang tua yang rutin bertanya,“Gaji kamu naik nggak bulan ini?”
Seolah kenaikan gaji datang rutin, seperti menstruasi negara. Belum lagi adiknya yang sedang skripsi di universitas swasta, “Bayarannya kayak cicilan rumah,” keluh Romi sambil menuang kopi, tapi yang dibangun Cuma judul.”
Ia pernah menghitung dengan serius, setelah gaji masuk, yang tersisa hanyalah notifikasi SMS bank dan rasa bersalah karena hidup belum mampu membahagiakan siapa pun.
“Menjadi tulang punggung keluarga dengan gaji kecil itu,” katanya pelan,
“seperti jadi superhero tanpa kekuatan yang ada Cuma capek.”
Berbeda dengan Anjas, mendengar kisah romi Ia hanya menghela napas panjang, napas orang yang sudah menyerah, tapi belum mati,
Lalu dia berkata, “Kontrakan naik, listrik naik, susu anak naik, pampers naik, Yang nggak naik Cuma gaji sama harga diri.”
Anaknya masih balita, Pampers lebih sering berganti daripada kebijakan instansi.
Istrinya? Lebih sering meminta bantuan ke orang tuanya yang bekerja di BUMN daripada berdiskusi dengan suaminya sendiri.
“Katanya biar nggak ngerepotin aku,” ujar Anjas.
“Tapi tiap aku pulang, rasanya kayak tamu yang lupa bayar parkir.” Lanjut anjas.
Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan, “Ketika suami tidak lagi jadi sandaran, ia Cuma jadi formalitas bernama kepala keluarga.”
Kopi diminumnya sampai habis, meski pahitnya masih kalah oleh kenyataan.
Berbeda dengan Mukti, Ia menjalani hidup seperti lagu Rhoma Irama, Gali Lubang, Tutup Lubang, Digerebek Kenyataan.
Mukti tertawa keras, tawa orang yang sudah kebal luka. “Hidupku ini kayak tambang ilegal,” katanya.
“Gali lubang, tutup lubang, terus digerebek kenyataan.” Lanjut mukti.
Utang kartu kredit, pinjaman online dan koperasi pegawai menjadi menu bulanan. Tapi yang paling mematikan bukan bunga pinjaman, melainkan kalimat-kalimat istrinya. Kalau di rumah istrinya selalu berkata keras,
“Kerja kamu itu apa sih? Capek iya, duit kagak.”
“Laki-laki lain bisa, kenapa kamu nggak?”
Setiap kalimat tajam, sinis, dan kejam, tanpa jeda empati.
“Kadang bukan kemiskinan yang membunuh laki-laki,” ucap Mukti lirih, “tapi kata-kata orang yang seharusnya memeluk.”
Ia lebih sering diam. Karena Diam merupakan cara paling aman agar tidak salah.
Mereka bertiga sepakat pada satu hal, para atasan hidup di dunia paralel, Proyek ATK menjadi ladang emas, Pengadaan internet seperti langganan hotel bintang lima dan Mobil dinas ganti model lebih cepat dari kalender. Sementara logistik konsumsi pegawai? Entah di mana rimbanya.
“Di atas rebutan proyek,” kata Romi,
“di bawah rebutan gorengan. Negara ini bukan kekurangan anggaran,” sambung Mukti, “tapi kelebihan perut yang tak pernah kenyang.”
Mereka lembur demi laporan, sementara pimpinan sibuk rapat membahas perjalanan dinas yang jaraknya bisa ditempuh Google Maps tanpa bensin.
KOPI, TAWA DAN CARA BERTAHAN
Di pos ronda itu, mereka menertawakan nasib sendiri, Sebab jika tidak ditertawakan, mungkin air mata sudah lebih dulu tumpah.
Anjas bercanda, “Kalau kita mati, gaji kita mungkin naik. Jadi santunan.”
Mukti menimpali, “Atau minimal nama kita dipakai buat nama ruangan.”
Romi tersenyum pahit, menatap langit yang tak pernah peduli pada slip gaji, “Kami bukan malas. Kami Cuma kelelahan hidup di sistem yang menyuruh sabar, tapi tak pernah adil.”
Malam makin larut. Kopi habis. Gorengan tinggal remah, akan tetapi mereka masih duduk, karena pulang berarti kembali ke realitas masing-masing.
Di pos ronda itu, tiga pegawai rendahan tak merencanakan revolusi. Mereka hanya ingin besok pagi masih cukup kuat untuk berangkat kerja dan di negeri ini, Itu saja sudah termasuk perjuangan besar.
Jam di ponsel Mukti menunjukkan pukul 02.13. Angka-angka itu menyala terang, seperti mengejek: waktu terus jalan, hidup tidak. Angin malam lewat, membawa bau got, sisa gorengan dan kelelahan kolektif kelas bawah.
Anjas memecah sunyi. “Lucu ya,” katanya,
“kita ini digaji negara, tapi hidup rasanya kayak numpang di hidup orang lain.”
Romi terkatanya, “Negara itu baik. Kita aja yang salah lahir.”
Mukti menyalakan rokok terakhir. Puntungnya tinggal separuh, seperti harapan mereka, “Negara selalu bilang sabar,” ucapnya, “tapi nggak pernah ngajarin cara kenyang.”
Lalu Anjas membuka aplikasi bank. Layarnya putih, “ATM gue kalau disentuh itu bukan ngeluarin uang,” katanya, “tapi doa.”
Romi menimpali cepat, “Doanya juga bukan doa minta kaya. Cuma minta cukup sampai tanggal tua nggak bunuh diri.”
Mukti tertawa, pahit, “Negara percaya kita ikhlas. Masalahnya, warung nggak nerima ikhlas.”
Mereka bertiga tertawa. Tawa yang tidak sampai ke dada.
“Kalau telat bayar kontrakan, yang datang bukan malaikat,” lanjut Anjas, “tapi pemilik rumah bawa wajah kiamat.”
LOYAL DAN DISIPLIN, ASN RENDAHAN MAKIN MISKIN
Romi bersandar ke tiang pos ronda, “Di kantor kita disuruh jujur, disiplin, loyal.”
Mukti menyela, “Padahal jujur nggak bisa dibawa ke pasar.”
Anjas mengangguk, “Disiplin juga nggak bisa dimasak.”
“Loyal lebih parah,” kata Mukti, “itu cuma bikin kita lama miskin.”
Mereka terdiam sesaat lalu Romi menambahkan, “Yang paling rajin disuruh sabar yang paling rakus disuruh studi banding.”
Anjas mendengus, “Atasan kita kalau rapat itu kayak ibadah.”
“Ibadah wisata,” koreksi Mukti.
“Doanya di hotel, khusyuknya di buffet.”
Romi tertawa kecil, “Mereka bilang itu demi peningkatan kinerja.”
Mukti mengangguk, “Kinerja perut mereka.”
Anjas menimpali, “Kita lembur biar laporan rapi, mereka jalan-jalan biar foto LinkedIn.”
Anjas menatap lantai pos ronda, “Gue kadang mikir, anak gue nanti jadi apa.”
Romi menjawab cepat, “Jadi rakyat.”
Mukti menambahkan, “Kalau pintar, jadi korban harapan. Kalau bodoh, jadi statistik.”
Anjas tersenyum pahit, “Sekolah mahal, hidup murah.”
Romi mengangguk, “Negara ngajarin mimpi besar, tapi ngasih tangga pendek.”
Mukti menghisap rokok dalam-dalam. “Lu tau kenapa orang jujur jarang naik?”
Romi dan Anjas menoleh.
“Karena kejujuran itu berat,” lanjut Mukti, “nggak muat di kantong celana pejabat.”
Romi tertawa pendek, “Yang muat cuma amplop.”
Anjas menambahkan, “Dan kita disuruh tepuk tangan.”
Pos Ronda sebagai Ruang Aman Terakhir
Angin kembali berhembus. Lampu jalan berkedip, seperti ragu mau menyala atau mati.
Romi berkata pelan, “Pos ronda ini satu-satunya tempat kita boleh ngomong jujur.”
Mukti mengangguk, “Di kantor, jujur bisa bikin pindah tugas.”
Anjas tersenyum pahit, “Di rumah, jujur bikin ribut.”
Mereka kembali tertawa—tawa pendek, cepat, lalu hilang.
EPILOG : BERTAHAN TANPA JANJI
Jam menunjukkan hampir pukul tiga, Romi berdiri, “Besok kita kerja lagi.”
Anjas mengangguk, “Pura-pura kuat.”
Mukti mematikan rokoknya di lantai semen, “Pura-pura cukup.”
Mereka tidak membicarakan perubahan, Tidak membahas perlawanan dan Tidak merencanakan apa pun selain bertahan.
Di pos ronda itu, tiga pegawai ASN kelas bawah memahami satu hal dengan jujur, “Negara mungkin tidak adil tapi besok tetap harus masuk kerja dan bagi orang seperti mereka, hidup bukan soal berharap, melainkan soal tidak tumbang hari ini.”
Malam akhirnya benar-benar habis. Lampu jalan padam satu per satu, digantikan cahaya matahari yang datang tanpa banyak janji. Kota kembali bergerak. Orang-orang berangkat kerja, kendaraan merayap dan negara berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang pernah retak di dalamnya.
Romi, Anjas, dan Mukti pun kembali ke rutinitasnya. Seragam disetrika sekadarnya, sepatu dipakai ulang, dan wajah dipaksa tampak tegar. Di lapangan dan depan meja kerja, mereka akan kembali menjadi aparatur yang disiplin, ramah, dan patuh pada sistem yang seringkali tidak pernah benar-benar memihak mereka.
Tidak ada perubahan besar, Tidak ada revolusi apalagi keajaiban yang turun dari langit. Yang ada hanyalah hari baru, slip gaji yang tetap sama, kebutuhan yang terus naik dan kewajiban yang tak pernah berkurang.
Namun mereka tetap berangkat, Tetap bekerja dan Tetap bertahan. Sebab bagi orang-orang seperti mereka, hidup bukan tentang menunggu keadilan datang. Hidup merupakan tentang bagaimana caranya tidak tumbang hari ini, agar masih bisa berdiri esok pagi.
Negara mungkin tidak mengenal nama mereka, atasan mungkin tidak pernah mengingat wajah mereka. Tapi di balik setiap berkas yang rapi, laporan yang selesai, dan pelayanan yang berjalan, ada keringat, kegelisahan dan doa-doa kecil yang diam-diam mereka titipkan.
ATM mereka mungkin kosong, Tapi kesabaran mereka tidak pernah habis. Dan selama mereka masih sanggup bangun setiap pagi, memakai seragam yang sama, dan berjalan menuju kantor yang sama, Di situlah letak keberanian yang sesungguhnya. Bukan keberanian untuk melawan, Tetapi keberanian untuk tetap hidup di tengah sistem yang tidak selalu adil.
=====TAMAT====
ARDHI MORSSE, JUMAT 13 JANUARI 2026







