Wakapolres Tekankan Disiplin dan Integritas

SIDIKPOST| Kukar – Polres Kutai Kartanegara menggelar apel pagi di halaman Mako Polres Kutai Kartanegara, Senin (23/2/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Wakapolres Kutai Kartanegara, Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra dan diikuti para pejabat utama, perwira, bintara, serta ASN.

Dalam amanatnya, Wakapolres menegaskan komitmen kuat jajaran Polres Kutai Kartanegara untuk mewujudkan “Zero Pelanggaran” sebagaimana arahan Kapolda. Ia menekankan bahwa kedisiplinan dan integritas personel menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.

“Seluruh personel tidak boleh melakukan pelanggaran sekecil apa pun. Mari kita jaga marwah institusi dan kepercayaan masyarakat dengan bekerja secara profesional, humanis, dan penuh tanggung jawab,” tegasnya di hadapan peserta apel.

Penegasan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan internal yang akan diterapkan secara konsisten selama satu bulan ke depan, dengan pengawasan berjenjang oleh para perwira senior di masing-masing bagian, satuan, dan seksi.

Selain penekanan Zero Pelanggaran, Wakapolres juga mengingatkan kesiapan personel menghadapi Audit Kinerja Tahap I dari Itwasda Polda Kaltim, serta pelaksanaan Operasi Pekat Mahakam 2026 yang berlangsung sejak 18 Februari hingga 10 Maret 2026 dengan sasaran tindak pencurian, parkir liar, dan premanisme.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan apel turut menyampaikan apresiasi atas capaian kinerja operasional, termasuk layanan 110 dan fungsi Samapta yang meraih peringkat membanggakan di tingkat Polda. Ia berharap prestasi tersebut dapat terus ditingkatkan seiring dengan penguatan disiplin dan etika personel.

Apel berlangsung dengan tertib dan khidmat. Melalui apel pagi ini, Polres Kutai Kartanegara kembali menegaskan bahwa profesionalisme dan disiplin bukan sekadar slogan, melainkan komitmen nyata untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta menjaga institusi tetap bersih dari pelanggaran. (*)

Polsek Muara Kaman Intensifkan Pemantauan

SIDIKPOST| Kukar – Untuk memastikan kondisi wilayah tetap aman dan mengantisipasi potensi bencana alam, Polsek Muara Kaman melaksanakan pemantauan situasi di sejumlah titik rawan di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Minggu (22/02/2026).

Kegiatan monitoring dilakukan sejak pukul 06.00 WITA hingga 18.00 WITA dengan menyasar lokasi yang berpotensi terdampak banjir, tanah longsor, maupun pohon tumbang. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, tidak ditemukan adanya kejadian bencana alam di wilayah tersebut.

Adapun hasil monitoring mencatat tidak adanya titik banjir, longsor, maupun pohon tumbang. Selain itu, tidak terdapat kejadian lain yang berpotensi mengganggu keamanan dan keselamatan masyarakat.

Secara umum, situasi di wilayah Kecamatan Muara Kaman terpantau aman, terkendali, dan kondusif. Aktivitas masyarakat berlangsung normal tanpa hambatan akibat faktor cuaca maupun kondisi lingkungan.

Kalolsek Muara Kaman IPTU Herwin menyatakan, pihaknya akan terus melaksanakan pemantauan secara berkala sebagai langkah antisipatif terhadap potensi bencana alam, khususnya pada musim dengan curah hujan yang fluktuatif.

Upaya ini dilakukan guna memastikan keselamatan warga serta menjaga stabilitas kamtibmas di wilayah hukum setempat. Perkembangan situasi akan terus dimonitor dan dilaporkan apabila terjadi perubahan kondisi di lapangan. (*)

Polsek Anggana Gelar Patroli Dialogis

SIDIKPOST| Kukar – Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Polsek Anggana kembali melaksanakan patroli dialogis di sejumlah wilayah pada Minggu (22/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah preventif kepolisian untuk mempererat komunikasi sekaligus mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

Patroli kali ini dipimpin oleh AIPTU Yosua P bersama AIPTU Aziz Rahmawanto, AIPDA Dwi Cahyadi, BRIPKA Dedi Dores, dan BRIPTU Zidan Nur Alif. Sejumlah desa menjadi sasaran kegiatan, di antaranya Desa Sungai Meriam, Desa Anggana, Desa Kutai Lama, dan Desa Sidomulyo.

Dalam pelaksanaannya, personel tidak hanya melakukan pemantauan situasi, tetapi juga berdialog langsung dengan masyarakat. Warga diajak untuk bersama-sama menjaga lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tindak kriminal seperti pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian kendaraan bermotor (curanmor), hingga peredaran narkotika.

“Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada dan peduli terhadap situasi di sekitar. Jika ada hal mencurigakan, segera laporkan kepada pihak kepolisian,” ujar AIPTU Yosua P saat berdialog dengan warga.

Selain menyampaikan pesan kamtibmas, petugas juga menggali informasi serta mendengarkan aspirasi masyarakat sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan pelayanan kepolisian. Pendekatan dialogis ini diharapkan mampu mencegah bertemunya niat dan kesempatan terjadinya tindak kejahatan, khususnya di lokasi-lokasi yang dinilai rawan.

Kapolsek Anggana, Iptu I Komang Mahendra Putra, mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa patroli dan pengawasan akan terus ditingkatkan guna memastikan wilayah Anggana tetap aman dan kondusif.

Melalui patroli dialogis yang rutin dilaksanakan, Polsek Anggana berharap terjalin sinergi yang semakin kuat antara kepolisian dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan terbebas dari gangguan kamtibmas. (*)

Polsek Muara Kaman Berbagi Takjil

SIDIKPOST| Kukar – Suasana sore di depan Mako Polsek Muara Kaman, Desa Muara Kaman Ulu, Minggu (22/02/2026) pukul 17.00 WITA, tampak berbeda. Di tengah aktivitas warga yang bersiap menyambut waktu berbuka puasa, jajaran Polsek Muara Kaman turun langsung ke jalan untuk berbagi takjil kepada masyarakat.

Sebanyak 40 kotak takjil dibagikan kepada para pengguna jalan dan warga sekitar yang melintas. Dengan senyum dan sapaan hangat, personel kepolisian menyapa satu per satu masyarakat, menciptakan momen kebersamaan yang sederhana namun penuh makna di Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial Polri kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tak sekadar berbagi makanan untuk berbuka puasa, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antara aparat kepolisian dan warga.

Kapolsek Muara Kaman IPTU Herwin, menyampaikan bahwa momentum Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, empati, dan solidaritas sosial. Kehadiran Polri di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya dirasakan dalam tugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga dalam kegiatan sosial yang menyentuh langsung kehidupan warga.

“Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Melalui kegiatan berbagi takjil ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri selalu hadir, tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai sahabat dan bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Senyum dan ucapan terima kasih dari masyarakat menjadi penutup yang menghangatkan sore itu, sekaligus mempertegas bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama dalam menjaga harmoni di lingkungan. (*)

Wakapolres Kukar Hadiri dan Pantau Pengamanan Pembukaan Bazar Ramadhan 1447 H

SIDIKPOST| Kukar – Wakapolres Kutai Kartanegara, Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra, menghadiri kegiatan Pembukaan Bazar Ramadhan 1447 Hijriah yang berlangsung di Pasar Tangga Arung Square, Jalan Maduningrat, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kamis (19/2/2026) sore.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Aulia Rahman Basri dan dihadiri unsur Forkopimda serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kehadiran Wakapolres mewakili Kapolres Kutai Kartanegara sebagai bentuk dukungan Polres Kukar terhadap kegiatan masyarakat selama bulan suci Ramadhan, khususnya dalam menjamin situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

Dalam kesempatan tersebut, Wakapolres turut mendampingi Bupati Kukar saat melakukan peninjauan ke sejumlah tenant bazar usai acara pembukaan resmi. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib serta memberikan rasa aman kepada pedagang dan pengunjung.

Polres Kutai Kartanegara melalui jajaran Polsek Tenggarong bersama instansi terkait juga melaksanakan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas di sekitar kawasan Tangga Arung Square guna mengantisipasi kemacetan maupun potensi gangguan keamanan.

Secara umum, rangkaian kegiatan pembukaan Bazar Ramadhan 1447 H yang diikuti lebih dari 200 tenant tersebut berlangsung aman, tertib, dan lancar hingga selesai pada pukul 18.00 WITA.

Kehadiran Wakapolres Kukar dalam kegiatan ini menegaskan komitmen Polri untuk selalu hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam mendukung kegiatan keagamaan dan pemberdayaan UMKM selama bulan Ramadhan. (*)

BONUS THR, Disperkimtan Kota Tangerang Hadirkan Program Sedot Tinja Gratis untuk Warga Gang Sempit

SIDIKPOST| kota Tangerang -Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) menghadirkan program spesial bertajuk “Bonus THR” atau Bolang Layanan Khusus Sedot Tinja Rumah MBR.

Program ini memberikan kesempatan bagi warga untuk mendapatkan layanan sedot tinja gratis, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di kawasan gang sempit dan belum pernah melakukan sedot tinja.

Kepala Disperkimtan Kota Tangerang, Decky Priambodo Koesrindartono, menjelaskan menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk kepedulian Pemkot Tangerang dalam meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan permukiman warga.

“Program Bonus THR ini kami khususkan bagi rumah tinggal milik warga Kota Tangerang, terutama yang berada di gang sempit dengan akses terbatas. Ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam meningkatkan layanan sanitasi sekaligus menyambut HUT ke-33 Kota Tangerang,” ujar Decky , menjelaskan.( 23/2)

Adapun beberapa persyaratan yang harus dipenuhi masyarakat antara lain:
1. Khusus rumah tinggal milik warga yang berada di wilayah Kota Tangerang.
2. Tinggal dalam satu gang dengan lebar jalan maksimal 2 meter dan tidak berlaku untuk rumah kontrakan.
3. Panjang selang layanan terbatas, kendaraan operasional harus dapat parkir di depan gang, dan jarak rumah maksimal 30 meter dari titik parkir.
4. Pendaftaran hanya melalui telepon WhatsApp ke nomor 0856-9354-4445, dengan ketentuan satu orang dapat mendaftarkan maksimal empat rumah berbeda dalam satu gang.
5 Pendaftaran dibuka mulai Senin, 23 Februari 2026 pukul 10.00 WIB hingga kuota terpenuhi.

Warga yang beruntung akan diumumkan secara resmi melalui Instagram @disperkimtantngkota pada Rabu, 25 Februari 2026, dengan periode pelaksanaan sedot tinja gratis pada 26–28 Februari 2026.

Decky Priambodo Koesrindartono, menjelaskan menambahkan, pada dasarnya Pemerintah Kota Tangerang melalui Disperkimtan memang memiliki layanan sedot kakus resmi yang dapat diakses masyarakat sepanjang tahun.

“Sebagaimana yang sudah diatur dalam Perda, terdapat retribusi tarif resmi untuk pelayanan sedot kakus. Pelayanan ini melayani mulai dari rumah tinggal hingga industri besar,” jelasnya.

Ia menerangkan, pelanggan jasa sedot kakus terbagi dalam tiga kelompok dengan besaran retribusi yang berbeda di tiap kelompoknya. Perhitungan retribusi juga disesuaikan berdasarkan jumlah ritase pada masing-masing kelompok.

“Pelanggan untuk jasa sedot kakus ini terbagi dalam tiga kelompok dan biaya retribusi yang berbeda di tiap kelompoknya. Perhitungan retribusi juga disesuaikan per ritase kelompok tersebut,” ungkapnya.
Selain layanan sedot kakus, Disperkimtan juga menyediakan layanan perbaikan saluran WC mampet untuk rumah tinggal.

“Untuk perbaikan WC mampet itu retribusinya sebesar Rp150 ribu per ritase. Kepada masyarakat Kota Tangerang, silakan hubungi kami apabila ingin melakukan sedot kakus maupun perbaikan WC mampet untuk rumah tinggal,” tutup Decky.

Melalui program Bonus THR ini, Disperkimtan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi lingkungan semakin meningkat, sekaligus memberikan kemudahan akses layanan bagi warga di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. (AdV)

Kisah Rohani Petugas Lapangan Bagian Ke Tiga : “Sujud Yang Diuji Ketidakadilan”

Prolog

Bulan Ramadhan selalu datang membawa janji, ketenangan, pengampunan dan cahaya bagi jiwa yang letih. Akan tetapi tidak semua orang menyambut bulan suci dengan meja penuh hidangan dan hati yang penuh kebahagiaan. Ada mereka yang tetap berjaga di wilayah dan sudut-sudut kota, mereka mengamankan malam, menertibkan kegaduhan dan menjaga ketentraman masyarakat, sementara didapur mereka sendiri nyaris di penuhi kepedihan dan air mata.

“Sujud Yang Diuji Ketidakadilan” bukan sekadar cerita tentang aparat yang lelah atau pegawai ASN rendahan yang mengeluh. Ini merupakan potret tentang manusia-manusia biasa yang memikul tanggung jawab besar di pundaknya, Tapi sering kali dilupakan dalam kebijakan yang dingin dan tidak berpihak kepada mereka. Mereka berbicara tentang kondisi ironis atas ketidakadilan bukan sebuah bentuk Pemberontakan dan juga bukan pencari sensasi, Mereka hanyalah hamba yang ingin bekerja dengan bermartabat dan beribadah dengan tenang.

Di malam-malam bulan Ramadhan, ketika seharusnya hati dipenuhi zikir, mereka justru dihimpit pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin terjawab:

Mengapa pengabdian tidak sebanding dengan kesejahteraan?

Mengapa status dianggap cukup untuk meniadakan hak padahal kondisi kehidupan sungguh memprihatinkan?

Mengapa keluhan pegawai kecil selalu terdengar seperti angin lalu dan di acuhkan?

Kisah cerita ini tidak bermaksud menghasut. Ia hanya ingin mengetuk. Mengetuk hati, nurani dan Mengetuk ruang-ruang kebijakan yang mungkin terlalu lama tertutup oleh kepentingan.

Dan pada akhirnya, kisah ini berbicara tentang satu hal yang sederhana namun mendasar, yaitu Hak dan keadilan.

Sujud dalam cerita ini bukan sekadar ritual. Ia merupakan simbol harapan terakhir ketika suara tidak lagi didengar. Ia menjadi bahasa sunyi yang melampaui rapat-rapat formal dan janji-janji politik. Dalam sujud, manusia yang mengakui keterbatasannya dan pada saat yang sama menantang ketidakadilan dengan doa yang Tidak pernah sia-sia.

Semoga kisah ini menjadi cermin, Bagi yang lelah, agar tetap kuat. Bagi yang berkuasa, agar tetap peka dan Bagi yang membaca, agar tidak lupa bahwa di balik seragam dan tugas, ada keluarga yang menunggu, ada anak yang berhayang dan ada hati yang terus berjuang untuk tetap percaya.

Karena ketika sujud diuji oleh ketidakadilan, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan, melainkan juga kemanusiaan.

 

Ramadhan yang Menyimpan Gugatan

Waktu berjalan begitu cepat, Tanpa terasa sudah memasuki Malam keempat di bulan suci Ramadhan yang belum ada perubahan sedikitpun dan masih berwajah muram. Langit terlihat menggantung mendung, seperti hati yang menahan tangis.

Setelah melaksanakan Shalat tarawih, Satria Perkasa duduk di pos ronda depan rumahnya, Dengan Sarung masih melilit dipinggangnya, kaos biru yang mulai pudar warnanya oleh realitas. Di tangan kanannya secangkir kopi yang mulai panas yang baru di sedu dan Di tangan kirinya sebatang rokok murah yang asapnya tipis, seperti sebuah harapan yang nyaris habis.

Satria lalu membuka Ponselnya dan mencoba menghubungi yoga melalui Video call. Tidak berselang lama, komunikasi pun tersambung dan terlihat Wajah Yoga muncul di layar dengan Mata cekung serta Di belakangnya terlihat anak-anaknya yang baru saja tidur.

“Baru selesai makan ga?” tanya Satria.

Yoga tersenyum hambar dan menjawab, “Baru, Bang. Nasi, garam sama cabai cabe ijo 5 biji, Alhamdulillah masih bisa makan walaupun cukup memprihatinkan.”

Tidak berselang lama, sambungan baru hari ikut ngobrol melalui sambungan Video Call  handphone.

Terlihat Komandan regu Irsan Abien dan Ahmad Aris, mereka sedang patroli malam. Lampu rotator mobil patroli berpendar biru, memantul di wajah mereka yang letih. Mereka semua terhubung dalam satu layar kecil, tapi dipersatukan oleh satu kenyataan besar yaitu  penderitaan yang sama atas ketidakadilan struktural.

Abien membuka percakapan, “Kalian tahu, aku ini ketua RT di wilayah tempat tinggalku. Setiap bulan membantu mengurus warga untuk medaftar bansos. Tapi giliran keluargaku sendiri mau daftar… aku kok rasanya malu.”

Satriapun terdiam, lalu menjawab, “Malu kenapa Danru, atau karena?” tanya pelan.

“Malu karena aku aparat sekaligus pegawai ASN, Malu karena warga di lingkunganku menganggapku sudah ‘cukup’. Padahal dapur di rumah bisa ngebul kalau ada pinjaman. Ini fakta Ironis kan?,” jawabnya sambil tersenyum getir.

“Kerjaan kita mulai dari patroli pagi, siang, sore dan malam, juga penertiban mulai dari pasar hingga seluruh wilayah dan pinggir-pinggir jalan, mengamankan sekaligus menertibkan anak-anak jalanan, pengemis, hingga ODGJ. Semua kita kerjakan agar kota madya ini selalu dalam keadaan tertib, aman dan tentram. Tapi apa hasil yang kita dapatkan?, Sangat Jauh dari kata cukup apalagi sejahtera.” Yoga menyela, suaranya bergetar.

“Bulan Ramadhan harusnya perbanyak ibadah dan hidup dalam ketenangan. Tapi bagi kita Petugas Lapangan, jika malam hanya hitung utang yang terus bertambah, bukan menghitung tasbih sambil berzikir.” Lanjutnya sambil tersenyum pahit.

Lalu suasana begitu Hening…

Arispun menarik napas panjang sambil berkata, “Sejak diangkat menjadi ASN, bantuan sosial yang dulu saya dapat dari relawan bencana langsung dicabut, Kata mereka saya sudah ‘mampu’.”

Ia tertawa kecil sambi berkata, “Mampu membeli rokok “AVATAR” rokok tanpa cukai bermerek jagoan semua elemen, hehehe… tapi ya bersyukur aja, daripada tidak ada sama sekali.”

Satria pun memejamkan mata lalu berkata, “Negara ini seringkali menilai kesejahteraan itu dari status, bukan dari fakta yang membuat dapur keluarga pegawai seperti kita selalu kosong ,” katanya pelan.

Abien pun menimpali, “Kebijakan untuk pegawai seperti kita itu dibuat di ruangan mewah dan ber-AC. Tapi Dampaknya menghantam rumah-rumah pegawai lapangan yang atapnya bocor.”

 

Meniti Puasa diantara jalan tidakadilan

 

Hujan pun mulai turun. Rintiknya berjatuhan secara  pelan dan Suhu Dingin mulai merayap.

Satria kembali berkata pelan namun dalam, “Puasa tahun itu menahan lapar. Tapi lebih berat lagi menahan rasa diperlakukan tidak adil oleh pemimpin kota madya.”

Yoga mengangguk sambi bicara lirih, “Kalau rakyat kecil menuntut hak, mereka disebut pembangkang. Tapi, Kalau pejabat menuntut fasilitas, disebut wajar dan biasa.”

Aris terlihat terus menatap kamera, “Kita ini aparat paling bawah. Kita yang pertama disalahkan kalau ada masalah. Tapi paling terakhir diingat kalau ada kesejahteraan.”

Abien menghela napas panjang, “Kadang aku berpikir… apakah doa-doa di sujud kita benar-benar sampai ke langit? Atau tertahan oleh kebijakan yang terus menindas dan penuh ke zaliman?”

Satria pun lalu berdiri. Ia memandang langit yang semakin gelap.

“Ketidakadilan,” katanya pelan, “bukan hanya soal kurangnya uang. Tapi ketika pengabdian  sudah tidak dihargai.”

Lalu, Ia melanjutkan dengan suara lebih tegas, “Negara boleh miskin anggaran, tapi tidak boleh miskin hati.”

Hujan mulai turun rintik-rintik dan mulai membasahi kota iindustri.

Yoga pun berkata lirih, “Bang, apa salah kita hingga para pemimpin begitu zalim dan tidak adil ya?”

Satria pun tersenyum samar, “Tidak ada yoga. Yang salah adalah sistem yang memuja citra, tapi lupa pada kesejahteraan pegawainya.

Aris menunduk dan berkata pelan, “Kadang kebijakan bukan soal keadilan, tapi soal kepentingan kelompok dan warna. Kita hanya bagian terkecil angka dalam laporan.”

Abien pun ikut menimpali, “Iya Betu, karena Warna bisa membutakan nurani dan Jabatan bisa menulikan telinga.”

 

Satria menatap tajam ke layar handphone,  lalu berkata,“Pemimpin yang lupa pada pegawai kecilnya, mereka sedang menggali lubang bagi moral kotanya sendiri.”

Yoga pun mengangguk pelan sambil berkata, “Kalau mereka para pejabat tinggi tidak  mendengar, siapa yang akan mengadili?”

Satria menjawab tenang, “Yakinlah bahwa Allah tidak pernah tidur.”

Terdengar suara Azan Isya dari mushola di ujung jalan. Suaranya  terdengar jelas walaupun gemercik hujan semakin deras.

Satria kembali berkata, “Kita mungkin tidak memiliki kuasa di meja kebijakan untuk keputusan yang adil, Tapi kita punya sujud yang akan melagitkan doa-doa kita.”

Kembali hening, Mereka semua terdiam…

Di mushola, sudah datang beberapa personil lain terlihat bersujud dan Di layar video call, cahaya mushola tampak hangat.

Satria berkata lirih, “Sujud bukan tanda bahwa kita menyerah. Sujud menjadi bentuk perlawanan paling sunyi terhadap ketidakadilan.”

Abien mengusap wajahnya Sambil berkata, “Kalau doa orang terzalimi tidak ada penghalang, mungkin malam ini langit sedang penuh laporan.”

Aris tersenyum tipis, “Benar Danru, Laporan ke langit yang tidak bisa dimanipulasi.”

Yoga sambil menatap anaknya yang tertidur, “Saya cuma ingin anak saya tidak mewarisi penderitaan atas  ketidakadilan ini.”

Satria pun akhirnya menutup percakapan dengan kalimat pelan namun tajam, “Jika pemimpin dingin seperti hujan malam ini, maka biarlah doa kita menjadi petir yang menyadarkan.”

Satria kembali duduk dan Kopinya sudah mulai habis serta Rokoknya tinggal abu.

Ia menengadah, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, Ramadhan menjadi cermin. cermin yang memantulkan wajah-wajah yang lelah, tapi tidak pernah menyerah, Karena mereka tahu, “Ketidakadilan mungkin menguji hidup, tapi sujud menguji iman.”

Malam pun semakin dalam, Namun di antara dinginnya kebijakan dan kerasnya realitas, masih ada satu hal yang hangat, yaitu Harapan dan sujud yang tak pernah berhenti menggugat langit.

 

Epilog : Sujud yang Tidak Pernah Tunduk pada Kezaliman

 

Malam ke empat Ramadhan akan berlalu dan menuju malam ke lima. Hujan pun akan berhenti. Kopi sudah habis di gelas dan Rokok berubah menjadi abu, Akan tetapi satu hal yang tidak boleh ikut padam yaitu, kesadaran dan Perlawanan terhadap kezaliman dan ketidakadilan.

Kisah ini bukan sekadar tentang Satria, Abien, Aris atau Yoga. Ia menjadi wajah bagi sebuah sistem yang kerap lupa bahwa di balik angka-angka anggaran ada denyut jantung manusia dan Di balik laporan kinerja ada mata anak-anak yang menunggu ayahnya pulang dengan harapan, bukan dengan kegelisahan apalagi penderitaan.

Ketidakadilan yang di rasakan para pegawai lapangan seringkali hadir bukan dalam bentuk kekerasan yang kasar, melainkan dalam bentuk kebijakan yang dingin. Ia tersenyap dalam keputusan yang tampak administratif, namun melukai secara eksistensial. Ia tidak berteriak, tetapi perlahan menggerogoti martabat para pegawai lapangan.

Dalam buku dan kajian filsafat keadilan, manusia tidak hanya butuh hidup, Tapi juga butuh dihargai, dan ketika pengabdian dibalas dengan pengabaian, yang hancur bukan hanya ekonomi, tetapi makna.

Bulan Ramadhan mengajarkan lapar agar kita mengerti arti sebuah penderitaan. Bagaimana jika yang lapar justru mereka yang menjaga keamanan dan garda terdepan menciptakan lingkungan yang tertib dan nyaman?

Bagaimana jika petugas lapangan itu berpuasa bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari hak-haknya sendiri yang membuat mereka hidup penuh keprihatinan?

Di sinilah sujud paling esensial menemukan maknanya yang paling radikal. Sujud bukan simbol kelemahan, tapi deklarasi bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dari kursi jabatan. Dan Dengan Bersujud ada harapan bahwa pernyataan menjadi suara nurani yang tidak bisa dibungkam oleh struktur serta mejadi perlawanan spiritual terhadap ketidakadilan sosial.

“Ketika hukum tunduk pada kepentingan, Maka doa menjadi pengadilan terakhir.”

Para tokoh dalam kisah ini tidak turun ke jalan dengan berdemo melampiaskan amarahnya. Mereka turun ke sajadah dengan air mata dan dalam air mata itu tersimpan kekuatan yang tidak kasat mata.

Sebab sejarah selalu membuktikan, Kezaliman mungkin tampak kokoh, Tetapi ia rapuh di hadapan kesabaran yang sadar.

Kritik bukanlah bentuk kebencian. Ia merupakan cinta yang kecewa, iman yang menolak diam dan keberanian untuk berkata bahwa kesejahteraan bukan hadiah, melainkan hak.

“Negeri tidak runtuh karena kemiskinan, Tetapi karena ketidakadilan yang dibiarkan.”

Jika memiliki pemimpin yang pelupa, waktu akan mengingatkan. Jika pejabat yang menutup telinga, langit tidak pernah tuli dan Jika laporan bisa direkayasa, doa tidak bisa dimanipulasi.

Pada akhirnya, setiap manusia akan berdiri di hadapan keadilan yang mutlak, Bukan sebagai pejabat, aparat maupun rakyat kecil. Tetapi sebagai jiwa yang ditanya: Apa yang telah kau lakukan terhadap sesamamu?

Satria dan kawan-kawan mungkin hanya penjaga Ruang dan waktu di sudut-sudut kota. Namun dalam sujud mereka, ada gugatan yang lebih kuat dari pidato mana pun.

Hari-hari Bulan Ramadhan akan terus berjalan dan pertanyaan tentang keadilan akan tetap tinggal. Maka biarlah kisah ini berakhir bukan dengan keputusasaan, Melainkan dengan keyakinan, “Ketidakadilan boleh menguji hidup, Tetapi sujud akan selalu menjaga iman.”

Dan selama masih ada manusia yang berani bersujud dengan hati yang jujur, Harapan belum pernah benar-benar mati.

 

=========BERSAMBUNG======

 

BACA JUGA :

 

KISAH KE- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah  Ketidakadilan) https://sidikpost.com/?p=129094

 

KISAH KE – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) https://sidikpost.com/?p=129116//

 

ARDHI MORSSE, SABTU 21 FEBRUARI 2026

Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah)

Prolog

Kisah cerita ini lahir dari perjumpaan antara iman manusia dan kenyataan kehidupan. Antara azan Maghrib di hari pertama bulan ramadhan dan slip gaji yang memprihatinkan. Antara jeritan hati dan doa yang lirih serta angka yang jauh dari cenmukupi. Di Wilayah kota madya yang menyebut dirinya kota industri karena memiliki pertumbuhan ekonomi yang besar serta Nilai maksimal daribUpah Minimum Kota yang ditetapkan secara resmi, ada ironi yang sunyi, Mereka aparatur negara yang bertugas di lapangan, tapi hidup jauh di bawah standar yang ditetapkan pemerintah daerahnya sendiri.

“Teologi Lapar” bukan sekadar cerita tentang pegawai ASN lapangan golongan rendah yang kekurangan materi. Ia merupakan refleksi tentang bagaimana spiritualitas diuji di tengah ketimpangan dan ketidakadilan struktural. Bagaimana iman dipertanyakan ketika kebijakan tidak berpihak. Bagaimana sabar dibenturkan dengan ketidakkeadilan Dan bagaimana aparat yang diminta menjaga ketertiban, ketentraman justru bergulat dengan kegelisahan batin tentang martabat dan pemenuhan nafkah.

Bulan Suci Ramadhan selalu dipahami sebagai bulan menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi dalam kisah ini, lapar bukan hanya ritual ibadah, Ia menjadi simbol dari realitas kehidupan  sosial mulai dari ketika gaji berada di bawah standar hidup minimum dan ketika tuntutan profesionalisme tinggi tetapi kesejahteraan tertinggal, serta ketika keadilan lebih sering menjadi slogan daripada kebijakan yang nyata.

Melalui tokoh-tokoh seperti Bhumi, Cak IIP, Kang Ibay, Satria Perkasa, dan rekan-rekannya, kisah cerita ini berusaha menelusuri satu pertanyaan mendasar: apakah kesalehan bisa berdiri tegak di tengah ketidakadilan dalam struktural pemerintah daerah? Ataukah justru kesalehan itu sendiri menuntut keberanian untuk bersuara keras?

Sejarah pemikiran Islam mengajarkan bahwa agama tidak pernah netral terhadap kezaliman apalagi yang di lakukan oleh seorang pemimpin. Para ulama besar dari Imam Al-Ghazali hingga Ibnu Khaldun berpendapat bahwa, “keadilan merupakan fondasi kekuasaan. Ketika keadilan retak, legitimasi pun perlahan terkikis. Maka spiritualitas tidak boleh direduksi menjadi kesabaran pasif, melainkan harus menjadi kesadaran moral yang aktif.”

Kisah cerita ini tidak ditulis untuk menumbuhkan kebencian terhadap individu atau institusi tertentu. Ia ditulis sebagai pandangan agar kita berani melihat wajah kita sendiri dalam sistem yang kita jalankan. Ia menjadi undangan untuk berpikir ulang tentang prioritas anggaran, tentang keberanian kepemimpinan dan tentang makna amanah dalam menjalankan roda pemerintahan serta kekuasaan.

Karena pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya pada gedung-gedung yang menjulang atau angka investasi yang meningkat, tetapi pada sejauh mana ia menjaga martabat mmelalui pemenuhan kebutuhan hidup serta mensejahterakan manusia yang bekerja untuknya. Dalam konteks inilah, “Teologi Lapar” menjadi penting untuk mengingatkan bahwa iman tanpa keadilan hanya menjadi retorika, dan kebijakan tanpa empati hanya kekosongan.

Semoga kisah cerita ini menjadi ruang perenungan dan evaluasi Bagi aparat yang sedang berjuang menjaga integritasnya dan Bagi pemimpin yang memegang kendali kebijakan, serta bagi kita semua yang percaya bahwa spiritualitas sejati tidak pernah berdiri di luar realitas sosial, melainkan tumbuh dan diuji di dalamnya.

Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan lapar. Tetapi ketidakadilan mengajarkan kita untuk tidak membiarkan lapar itu menjadi takdir yang dipaksakan.

 

Dilema Hari Pertama Bulan Ramadhan

Langit hari pertama Ramadhan di Kota Industri Terlihat mendung. Matahari tidak menampakkan sinarnya yang terang hanya menyisakan lelah di wajah para pegawai aparat lapangan yang sejak pagi melaksanakan patroli ke wilayah-wilayah dan mengatur ketertiban pasar, pedagang serta arus kendaraan menjelang waktu berbuka.

Bhumi lalu melepas topinya, walaupun tidak terlalu panas namun padatnya kegiatan membuat Keringat membasahi kerah seragam PDL coklatnya.

“Bulan Ramadhan selalu mengajarkan sabar tapi tahun ini mengajarkan cara bertahan,” katanya pelan, “tapi sabar dan terus bertahan tidak pernah berarti membiarkan kezaliman semakin merajalela.”

Di sampingnya Cak IIP sedang berdiri dan memeriksa pesan di ponsel, Istrinya mengirim video anaknya yang sedang berbibarat,  “Ayah, nanti kalau buka puasa beliin ayam goreng ya?”

Cak IIP melihat video sambil tersenyum getir, “Kemarin mereka berbicara cuma minta es buah, Hari ini minta ayam ayam goreng, kalau Tahun lalu masih bisa tapi untuk Sekarang…” Ia terdiam, sambil menahan nafas.

Kang Ibay, yang bertubuh gemuk dengan topi hitam dan jaket putih berjalan mendekati dan menepuk bahunya sambil berkata, “Saat ini, Server rumah tangga kita semua sedang overload, Cak, karena Input kebutuhan terus naik tapi, bandwidth gaji tetap bahkan berkurang banyak.”

Sedangkan Defan dan Erdan masih sendiri dan masih perjaka, tapi tidak banyak bicara. karena mereka pun tidak lepas dari pesan keluarga.

“Ibu bilang, kalau bisa tambahin sedikit untuk beli kue, sirup dan kurma,” ujar Erdan lirih.

“Adik saya bilang, Ramadhan tahun ini jangan cuma janji,” tambah Defan.

Tidak terlalu jauh dari mereka, Komandan Satria Perkasa sedang duduk sendirian. Wajahnya tegas, tapi sorot matanya retak oleh kegelisahan sekaligus kebimbangan.

Ia membaca pesan handphone, karena baru saja menerima pesan dari istrinya, “Bang, anak-anak berharap buka puasa pertama lengkap seperti tahun lalu, tidak perlu mewah dan Cukup sederhana saja.”

Satria masih terus menatap layar handphonenya, lalu berucap lirih, “Bagaimana mungkin aku memimpin pasukan, jika di rumah aku tidak mampu memberikan nafkah yang cukup?”

Bhumi lalu berjalan dan mendekat sambil berkata, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…” (QS. Hud: 113), ucapnya pelan.

Lalu Satria menatapnya, “Kau mau bilang aku termasuk pemimpin zalim?”

Bhumi pun menggeleng, “Tidak, Komandan. Tapi sistem pemerintah kita yang membiarkan aparatnya hidup di bawah standar hidup minimum, itu yang namanya kezaliman struktural.”

Angin sore berembus membawa aroma masakan dari warung sebelah.

Lalu Satria memejamkan mata, “Aku diapit dua dunia bhumi, Dari atas, ada perintah dan target kegiatan dan Dari bawah, ada keluarga dan anak buah, Kalau aku bicara keras terhadap kezaliman ini, aku dianggap tidak loyal. Kalau diam, aku mengkhianati hati.”

Cak IIP menyela lirih, “Dalam dunia politik, Komandan, saat ini banyak orang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan nurani.”

Azan Maghrib pun menggema. Mereka berbuka Puasa hari pertama dengan air putih dan gorengan yang di beli ketika patroli dan dibagi rata.

Bhumi kembali berkata pelan, “Imam Al-Ghazali pernah menulis, kekuasaan tanpa keadilan adalah kehancuran yang tertunda.”

Kang Ibay Pun tersenyum pahit, “Berarti kita sedang hidup di masa pending itu.”

Mamat menatap langit yang menggelap, “Puasa mengajarkan kita lapar agar paham derita orang miskin, Tapi bagaimana kalau yang lapar justru aparatnya sendiri?”

Defan Pun menghela napas sambil berkata, “Kita disuruh menjaga ketertiban, Akan tetapi ketertiban apa yang lahir dari ketimpangan dan ketidakadilan?”

Erdan menambahkan, “Pimpinan kita saat ini seperti buta, tuli, dan bisu. Data ada, Anggaran ada, Tapi keberanian Tidak ada.”

 

Kata Satir di Bawah Baleho

Di seberang jalan, baleho besar dan memajang wajah pimpinan kota dengan tulisan, “KOTA INDUSTRI, RAKYAT SEJAHTERA.”

Lalu Kang Ibay menunjuknya sambil berkata, “Sejahtera itu kata kerja atau kata hias atau hanya slogan tanpa makna?”

Cak IIP pun menjawab, “Kadang ia hanya slogan yang dicetak besar agar menutupi angka kecil yang menyengsarakan dan membuat penderitaan.”

Satria pun berdiri, “Jangan terlalu keras bicara, karena Kita aparat negara.”

Bhumi menatap komandannya lurus, “Justru karena kita aparat, komandan,  kita wajib menjaga dan mewujudkan keadilan. Nabi Muhammad bersabda, ‘Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.’”

Suasan menjadi Hening….

Lampu merah menyala dan Kendaraan-kendaraan berhenti, Seperti kota yang sejenak terdiam. Malam kedua Ramadhan semakin dekat.

Kemudian Satria berbicara lirih, “Aku ingin anak-anak berbuka dengan wajah bahagia, Tapi aku juga ingin pasukanku tidak merasa ditinggalkan apalagi dalam keadaan yang penuh kebimbangan.”

Bhumi kembali menjawab, “Ikhlas itu bukan berarti membiarkan diri kita ditindas, tapi Ikhlas adalah tetap Bergerak dan berjuang tanpa membenci.”

Erdan pun menambahkan, “Kita kritik kebijakan yang tidak Adil bukan karena benci pemerintah. Tapi Kita kritik karena cinta terhadap kota ini.”

Defan tersenyum tipis, “Puasa memang mengajarkan kita menahan amarah, Tapi bukan menahan suara melihat ketidakadilan di depan mata.”

 

Solusi di antara Tadarus dan Patroli

Mereka terus berdiskusi sebelum kegiatan patroli  kembali di mulai dan Di antara tadarus dan patroli malam, mereka mulai merumuskan langkah untuk memberikan peringatan kepada para pemilik kebijakan:

  • Mendesak Pemimpin Kota madya Melaksanakan transparansi anggaran secara kolektif.
  • Mengusulkan kepada pemilik kebijakan Melaksanakan penyesuaian TPP bertahap agar minimal setara UMK.
  • Membuka ruang dialog publik yang terbuka dan jujur.
  • Mengingatkan Pemimpin kota madya bahwa kekuasaan melupakan amanah, bukan fasilitas.

Satria mengangguk perlahan, “Mungkin aku tidak bisa melawan dengan teriakan dan demonstrasi,” katanya, “tapi aku bisa memulai dengan keberanian kecil memberikan peringatan yang jelas.”

Bhumi dan yang lainnya pun tersenyum. Mereka menyadari Ramadhan merupakan bulan revolusi batin mulai dari lapar lahir empati hingga dari empati lahir keberanian.

Mereka kembali bertugas dan patroli, suasana Kota tetap sibuk dan Baleho tetap berdiri. Namun di dalam hati mereka, ada api kecil yang terus menyala.

Malam bulan Puasa tahun ini terasa lebih dalam, Karena mereka tidak hanya menahan lapar, menahan kecewa, menahan amarah dan Menahan rasa tidak adil, Di antara doa-doa yang lirih, terucap satu harapan, “Ya Allah, jadikan kami aparat yang sabar, tapi jangan jadikan kami alat bagi ketidakadilan yang di ciptakan para pemimpin kami.”

Di Kota Industri yang benderang oleh lampu-lampu jalan serta Lampu-lampu pabrik, mereka terus berjalan dalam kegelapan yang sunyi, mencari cahaya keadilan dan kesejahteraan, karena di bulan Ramadhan seharusnya para pemangku kekuasaan menyucikan pula kebijakan.

 

Epilog : Teologi Lapar

Suasana Kota Industri di malam awal Ramadhan terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan tetap menyala dan Baleho dengan slogan besar tetap berdiri. Sedangkan Target kegiatan rutin tetap terus berjalan Tetapi di dalam dada para aparat petugas lapangan, ada ruang yang terus berdialog dengan Tuhan.

Bhumi pernah berkata pelan di antara suara kendaraan dan takbir sholat  tarawih, “Lapar itu bukan sekadar kosongnya perut, Lapar merupakan bahasa tubuh ketika keadilan tidak pernah sampai.”

Dan dari sanalah istilah itu menemukan maknanya, Teologi Lapar bukan ajaran tentang mengkultuskan penderitaan, bukan pula pembenaran untuk pasrah pada ketimpangan.

Teologi Lapar adalah kesadaran bahwa, Ketika manusia dipaksa hidup di bawah standar yang ia tegakkan sendiri, Ketika aparat diminta menjaga ketertiban sementara kesejahteraannya diabaikan dan Ketika ibadah dijalankan dalam tekanan ekonomi dan batin, Maka iman tidak boleh diam, karena Teologi Lapar adalah spiritualitas yang lahir dari realitas sosial. Ia berdiri di antara sajadah dan kebijakan anggaran, bergetar di antara doa dan data, lalu mengajarkan bahwa sabar bukan berarti membiarkan kezaliman dan juga mengajarkan bahwa ikhlas bukan berarti menyerah pada ketidakadilan.

Karena Dalam Islam, lapar saat puasa merupakan latihan empati. Akan Tetapi ketika lapar menjadi kondisi struktural akibat kebijakan yang tidak berpihak, maka ia berubah menjadi pertanyaan teologis, Di mana keadilan itu ditempatkan dalam tata kelola kekuasaan?, Apakah amanah hanya retorika, atau tanggung jawab moral yang nyata?

Al-Ghazali mengingatkan bahwa, “kekuasaan tanpa keadilan merupakan awal kehancuran yang tertunda,” dan Ibnu Khaldun menulis bahwa “kezaliman adalah tanda awal runtuhnya peradaban. Maka Teologi Lapar berdiri sebagai peringatan, ketika aparat negara sendiri hidup dalam ketimpangan, sistem sedang menggerogoti fondasinya.”

Kisah ini tidak berakhir pada kemarahan, Satria Perkasa tetap memimpin pasukannya dan Cak IIP tetap menjalin komunikasi dengan dewan. Kang Ibay tetap merapikan laporan bulanan. Erdan, Defan, Mamat, dan Bhumi terus berpatroli, tetap menjaga ketertiban kota.

Mereka memilih jalan yang lebih sulit, tetap profesional tanpa kehilangan nurani dan Teologi Lapar, pada akhirnya, adalah Keyakinan bahwa keadilan merupakan bagian dari ibadah melalui gerakan dalam memperjuangkan kesejahteraan bukan pemberontakan, tapi tanggung jawab moral.

Iman yang sejati tidak hanya diuji oleh lapar perut, tetapi oleh keberanian menghadapi ketidakadilan, di Kota Industri itu, puasa tetap berjalan dan Doa tetap terangkat.

Kritik tetap disuarakan dengan santun dan mungkin suatu hari nanti, ketika kebijakan berubah dan keadilan menemukan bentuknya dalam angka yang layak, Teologi Lapar tidak lagi menjadi jeritan sunyi, melainkan menjadi saksi bahwa kesabaran dan keberanian pernah berjalan beriringan. Karena pada akhirnya, Lapar boleh datang setiap Ramadhan, Tetapi ketidakadilan tidak boleh dijadikan takdir yang menciptakan penderitaan panjang.

 

======BERSAMBUNG======

 

ARDHI MORSSE, KAMIS 19 FEBRUARI 2026

 

 

 

Kanwil DJP Jakbar dan UNTAR Gelar Ngabuburit Spectaxcular 2026

SIDIKPOST| Jakarta Barat, 20 Februari 2026 – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Barat (Kanwil DJP Jakbar) bekerja sama dengan Tax Center Universitas Tarumanagara (UNTAR) menyelenggarakan program “Ngabuburit Spectaxcular 2026” pada Jumat (20/2) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Universitas Tarumanagara.

Kegiatan ini bertujuan membantu wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban pelaporan SPT Tahunan melalui edukasi sekaligus pendampingan langsung.

Program ini melibatkan Kepala Seksi Pelayanan dari sebelas Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Barat, Tim Penyuluh Pajak Kanwil DJP Jakbar, serta Relawan Pajak Untuk Negeri (Renjani) Tahun 2026.

Seluruh petugas hadir memberikan asistensi langsung kepada peserta agar dapat menyampaikan SPT Tahunan dengan benar, lengkap, dan tepat waktu.

Kegiatan dikemas dalam format “isi bareng” SPT Tahunan dan diikuti oleh civitas academica Universitas Tarumanagara.

Melalui kegiatan ini, peserta memanfaatkan kesempatan untuk melaporkan SPT lebih awal guna menghindari potensi lonjakan pelaporan di periode akhir batas waktu.

Ketua Tax Center sekaligus Kepala Program Studi Akuntansi Universitas Tarumanagara, Dr. Hendro Lukman, S.E., M.M., menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang terjalin. “Kami berterima kasih kepada Kanwil DJP Jakarta Barat.

Meskipun di bulan Februari dan Maret kantor pajak sangat sibuk melayani wajib pajak, kami tetap diberi kesempatan untuk mendapatkan penyuluhan ini. Mudah-mudahan nanti semua berhasil melaporkan SPT,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Kanwil DJP Jakarta Barat, Herry Setyawan, menegaskan pentingnya sinergi berkelanjutan dengan dunia akademik.

Ia menyampaikan bahwa kerja sama dengan Tax Center Universitas Tarumanagara telah berjalan intens dan dimotori langsung oleh Dr. Hendro sebagai Ketua Tax Center.

Berbagai kegiatan kolaboratif telah dilaksanakan, baik dalam bentuk edukasi perpajakan maupun pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Herry, sinergi ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran pajak di lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan mahasiswa sebagai calon wajib pajak yang taat.

Herry juga mengungkapkan bahwa target penerimaan Kanwil DJP Jakarta Barat tahun ini meningkat hampir 30 persen menjadi Rp101 triliun.

Dukungan civitas academica diharapkan tidak hanya sebagai wajib pajak, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memperkuat peran mahasiswa dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap DJP.

“Kegiatan ini kami kemas dalam program ‘Ngabuburit Spectaxcular’. Ini adalah program bagaimana kita melakukan amplifikasi bersama dalam pelaporan SPT Tahunan selama periode Maret sampai April. Tagline kami, #KamiDampingiSampaiBerhasil. Hari ini kami ingin mendampingi bapak ibu sekalian sampai berhasil melaporkan SPT Tahunannya,” jelasnya.

Sebagai informasi, SPT Tahunan Tahun Pajak 2025 wajib disampaikan paling lambat 31 Maret 2026 untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan 30 April 2026 bagi Wajib Pajak Badan. Batas waktu tersebut menjadi momentum bagi seluruh wajib pajak untuk segera memenuhi kewajiban perpajakannya secara tepat waktu dan sesuai ketentuan.

Melalui program Ngabuburit Spectaxcular 2026, Kanwil DJP Jakarta Barat menegaskan komitmennya untuk terus memperluas inklusi perpajakan, meningkatkan kepatuhan sukarela, serta memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam membangun generasi sadar pajak. (*)

UNDHI Luncurkan 1.000 Beasiswa Subsidi untuk Warga Kabupaten Tangerang, Perkuat Akses Pendidikan Tinggi

SIDIKPOST| Kabupaten Tangerang, Banten – Komitmen memperluas akses pendidikan tinggi kembali ditegaskan oleh Universitas Dharma Indonesia (UNDHI) melalui peluncuran program 1.000 Beasiswa Subsidi bagi masyarakat Kabupaten Tangerang. Program ini disampaikan oleh Rektor UNDHI, Assoc. Prof. Dr. Agus Prihartono PS, S.H., M.H., sebagai bagian dari kiprah strategis kampus dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di tingkat daerah maupun nasional. Inisiatif ini menegaskan posisi UNDHI sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang kuat.

Program beasiswa subsidi tersebut dirancang untuk membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya dari keluarga prasejahtera dan kalangan pekerja sektor informal, agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Dalam perspektif pembangunan, pendidikan tinggi memiliki peran sentral dalam meningkatkan mobilitas sosial dan memperkuat daya saing tenaga kerja. Karena itu, langkah UNDHI dipandang sebagai kontribusi nyata dalam menjawab tantangan kesenjangan akses pendidikan yang masih terjadi di berbagai daerah.

Sebagai perguruan tinggi yang beralamat di Jl. Raya Serang No. 18, Sukanagara, Cikupa, Tangerang, Banten, UNDHI berada di lokasi strategis yang mudah dijangkau masyarakat Kabupaten Tangerang dan sekitarnya. Posisi geografis ini mendukung pemerataan kesempatan belajar tanpa harus keluar daerah. Keberadaan kampus di jalur utama penghubung wilayah industri juga menjadikannya relevan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi generasi muda di kawasan yang berkembang pesat secara ekonomi.

Menurut Rektor UNDHI, Agus Prihartono PS, pendidikan tidak boleh menjadi privilese bagi kalangan tertentu saja. Ia menegaskan bahwa 1.000 Beasiswa Subsidi ini merupakan bentuk keberpihakan kepada masyarakat yang memiliki potensi akademik namun terkendala faktor biaya. Program ini diharapkan dapat memperkuat partisipasi pendidikan tinggi sekaligus menumbuhkan budaya belajar yang berkelanjutan di tengah masyarakat Kabupaten Tangerang.

Secara akademik, kebijakan subsidi pendidikan merupakan instrumen penting dalam menciptakan keadilan sosial dan pemerataan kesempatan. UNDHI menerapkan mekanisme seleksi yang objektif dan transparan, sehingga program ini tidak hanya bersifat populis, tetapi juga akuntabel. Pendekatan tersebut menunjukkan keseriusan kampus dalam menjaga mutu pendidikan sekaligus memastikan keberlanjutan studi bagi para penerima beasiswa.

Di tengah dinamika pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Tangerang, kebutuhan akan tenaga kerja terdidik dan profesional semakin meningkat. Kehadiran 1.000 beasiswa ini diproyeksikan akan memperkuat ketersediaan sumber daya manusia lokal yang kompeten dan siap bersaing. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan memberikan efek berantai terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga, pengurangan pengangguran terdidik, serta penguatan ekonomi berbasis pengetahuan.

Seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap UNDHI, program beasiswa subsidi ini semakin mengukuhkan reputasi kampus sebagai institusi yang adaptif dan progresif. UNDHI tidak hanya membangun infrastruktur akademik, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berorientasi masa depan. Hal ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat.

Peluncuran 1.000 Beasiswa Subsidi ini menjadi simbol komitmen jangka panjang UNDHI dalam membangun generasi unggul Kabupaten Tangerang. Dengan visi menghadirkan pendidikan tinggi yang terjangkau, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan zaman, UNDHI menegaskan bahwa investasi terbaik bagi bangsa adalah investasi pada manusia. Melalui langkah konkret ini, kampus tersebut menghadirkan harapan baru bagi ribuan calon mahasiswa untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui jalur pendidikan.

Satreskrim Polres Kutai Kartanegara Ungkap Kasus Curas di Loa Kulu, Pelaku Ditangkap di Samarinda

SIDIKPOST| Kukar – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kutai Kartanegara berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) yang terjadi di wilayah Kecamatan Loa Kulu. Seorang pria berinisial AM (25) berhasil diamankan dua hari setelah kejadian.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, sekitar pukul 10.00 Wita di Jalan Alternatif, Kelurahan Loa Kulu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Korban, seorang mahasiswi berusia 19 tahun, menjadi sasaran penjambretan saat dalam perjalanan pulang dari arah Samarinda menuju Tenggarong. Saat melintas di lokasi kejadian, korban diikuti oleh pelaku yang menggunakan sepeda motor Honda Scoopy warna coklat hitam.

Di tengah perjalanan, pelaku menyalip kendaraan korban dan langsung merampas tas yang dibawa korban. Tas tersebut berisi satu unit telepon genggam, uang tunai, serta identitas diri. Korban sempat berupaya mengejar, namun pelaku berhasil melarikan diri. Atas kejadian tersebut, korban melapor ke Polres Kutai Kartanegara.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Alligator Satreskrim Polres Kukar segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan penyelidikan, termasuk mengumpulkan keterangan saksi serta menganalisis rekaman CCTV di sekitar lokasi.

Dari hasil penyelidikan, petugas mengidentifikasi keberadaan pelaku di wilayah Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Tim kemudian berkoordinasi dengan Tim Chettah Samarinda untuk melakukan pencarian.

Pada Jumat, 13 Februari 2026 sekitar pukul 18.05 Wita, pelaku berhasil diamankan saat berada di Jalan Batu Besaung, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Saat dilakukan interogasi awal, pelaku mengakui perbuatannya melakukan penjambretan di Jalan Alternatif Loa Kulu.

Dari tangan pelaku, petugas mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain satu unit sepeda motor Honda Scoopy warna coklat hitam, satu unit handphone Samsung Galaxy A16, satu buah jaket warna biru navy, satu celana pendek warna coklat, satu tas warna putih, serta satu lembar STNK sepeda motor.

Saat ini pelaku telah diamankan di Mapolres Kutai Kartanegara untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Penyidik juga mendalami kemungkinan keterlibatan pelaku dalam tindak pidana serupa di wilayah hukum Polres Kutai Kartanegara.

Satreskrim Polres Kutai Kartanegara mengimbau masyarakat untuk tetap waspada saat berkendara dan segera melapor kepada pihak kepolisian apabila mengalami atau mengetahui adanya tindak kejahatan. (*)

Respons Cepat Polsek Kenohan Tangani Laka Lantas di Tuana Tuha

SIDIKPOST| Kukar – Aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Kenohan bergerak cepat menangani peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jalan Poros Genting Tanah–Tabang, RT 02, Kelurahan Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (16/2/2026) sekitar pukul 17.30 Wita.

Kapolsek Kenohan melaporkan bahwa pihaknya segera merespons laporan masyarakat dengan mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengamanan dan olah TKP. Petugas juga mengatur arus lalu lintas guna mencegah kemacetan serta mengantisipasi potensi kecelakaan lanjutan di lokasi kejadian.

Dalam penanganan awal, personel melakukan pendataan identitas para pihak yang terlibat, mencatat keterangan saksi-saksi, serta mengamankan barang bukti kendaraan ke kantor polisi untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Korban luka langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis di RSUD AM Parikesit Tenggarong Seberang. Polisi juga memastikan kondisi korban dan melakukan koordinasi lanjutan dengan pihak rumah sakit.

Selain itu, penyidik akan melakukan proses administrasi penanganan perkara, termasuk pembuatan laporan polisi, sketsa TKP, berita acara pemeriksaan, serta input data ke sistem IRSMS Korlantas Polri.

Kapolsek Kenohan menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara profesional dan prosedural sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Kami mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar lebih berhati-hati, terutama saat melintas di persimpangan dan kawasan pemukiman. Utamakan keselamatan serta jaga konsentrasi dalam berkendara,” tegasnya.

Polsek Kenohan memastikan proses hukum dan penyelidikan akan terus berlanjut guna memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang terlibat. (*)