Polsek Batuceper Amankan 49.500 Butir Tramadol Ilegal, Diduga Jaringan Peredaran Obat Keras

SIDIKPOST| Tangerang – Jajaran Unit Reskrim Polsek Batuceper Polres Metro Tangerang Kota berhasil mengungkap dugaan tindak pidana peredaran sediaan farmasi ilegal berupa obat keras jenis Tramadol dalam jumlah besar. Pengungkapan ini merupakan bagian dari upaya kepolisian menekan peredaran obat-obatan terlarang yang membahayakan kesehatan masyarakat. Minggu (8/2/2026).

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si. menegaskan bahwa Polri berkomitmen memberantas peredaran obat keras ilegal yang kerap menjadi pemicu gangguan kamtibmas.

“Peredaran obat keras tanpa izin sangat berbahaya, terutama bagi generasi muda. Polres Metro Tangerang Kota akan bertindak tegas terhadap siapa pun yang terlibat dalam praktik ilegal ini,” tegas Kombes Pol. Jauhari.

Kasus tersebut terungkap pada Sabtu, 7 Februari 2026, di kawasan Perumahan Poris Paradise Eksklusif, Kelurahan Poris Gaga, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. Berawal dari laporan warga yang melihat barang bawaan jatuh dari sepeda motor, saat pengendara dipanggil panggil justru pengendara sepeda motor kabur, kemudian salah satu masyarakat menghubungi Polsek Batuceper, petugas segera melakukan pengecekan ke lokasi.

Kapolsek Batuceper Kompol Gunawan menjelaskan bahwa setelah menerima laporan dari masyarakat, pihaknya langsung menerjunkan tim untuk mengamankan barang bukti.

“Dari hasil pemeriksaan awal, kami menemukan satu plastik besar berisi obat keras jenis Tramadol dengan jumlah keseluruhan mencapai 49.500 butir. Barang tersebut diduga kuat akan diedarkan tanpa izin resmi,” ungkap Kompol Gunawan.

Barang bukti tersebut saat ini telah diamankan di Polsek Batuceper guna kepentingan penyidikan. Sementara itu, pelaku yang diduga sebagai pemilik obat-obatan tersebut masih dalam proses penyelidikan dan pengembangan oleh Unit Reskrim.

Kapolres Metro Tangerang Kota turut mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam membantu tugas kepolisian.
“Keberhasilan ini tidak lepas dari kepedulian warga yang segera melapor. Kami mengajak masyarakat untuk terus bersinergi dengan kepolisian demi menjaga lingkungan tetap aman dan sehat,” tambahnya.

Atas perbuatannya, pelaku nantinya akan dijerat dengan Pasal 435 dan/atau Pasal 436 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dengan ancaman pidana sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Polres Metro Tangerang Kota memastikan akan terus melakukan pengembangan kasus untuk mengungkap jaringan peredaran obat keras ilegal yang lebih luas. (anton tef)

Humanis di Jalan Raya, Satlantas Tangerang Kota Gencarkan Sosialisasi Keselamatan

SIDIKPOST | Tangerang – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu lintas, Satuan Lalu Lintas Polres Metro Tangerang Kota melalui Satgas I Preemtif kembali menggelar kegiatan sosialisasi dan himbauan keselamatan berlalu lintas dalam Operasi Kepolisian Kewilayahan Keselamatan Jaya 2026. Sabtu (7/2/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu pagi, 7 Februari 2025 hingga selesai, bertempat di Jalan Veteran, Kota Tangerang. Dalam giat ini, petugas turun langsung ke jalan untuk menyapa para pengemudi dan pengendara kendaraan bermotor.

Selain membentangkan spanduk Operasi Keselamatan Jaya 2026, personel Satlantas juga membagikan flyer keselamatan serta memberikan imbauan secara langsung kepada masyarakat agar selalu mematuhi aturan lalu lintas, menggunakan helm standar, dan mengutamakan keselamatan saat berkendara.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., mengatakan bahwa pendekatan persuasif dan edukatif menjadi langkah utama dalam Operasi Keselamatan Jaya 2026.

“Melalui sosialisasi langsung di jalan seperti ini, kami ingin mengingatkan masyarakat bahwa keselamatan berlalu lintas adalah tanggung jawab bersama. Kepatuhan terhadap aturan bukan semata karena ada polisi, tapi demi melindungi diri sendiri dan orang lain,” ujar Kombes Jauhari.

Ia menambahkan bahwa kegiatan preemtif ini diharapkan dapat menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Tangerang.

“Operasi Keselamatan Jaya 2026 lebih mengedepankan pencegahan. Dengan edukasi yang terus-menerus, kami berharap budaya tertib berlalu lintas bisa tumbuh di tengah masyarakat,” tambahnya.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan lancar. Melalui Ops Keselamatan Jaya 2026, Polres Metro Tangerang Kota berharap kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas semakin meningkat sehingga dapat menciptakan kondisi lalu lintas yang aman dan berkeselamatan. ( *)

Polsek Cipondoh Ungkap Kasus Penganiayaan Berat, Pelaku Diamankan Tak Lama Usai Kejadian

SIDIKPOST | Kota Tangerang – Unit Reskrim Polsek Cipondoh Polres Metro Tangerang Kota berhasil mengungkap kasus tindak pidana penganiayaan berat yang terjadi di wilayah Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Pelaku berhasil diamankan tak lama setelah kejadian. Sabtu (7/2/2026).

Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 6 Februari 2026, sekitar pukul 12.30 WIB, di Jalan KH Agus Salim Gang Sawo 3.Korban diketahui berinisial AS, yang saat itu tengah mengantarkan anaknya ke sekolah.

Tanpa diduga, korban diserang oleh pelaku berinisial EJ (35) menggunakan senjata tajam jenis pisau. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka tusuk di bagian perut dan punggung, serta luka sabetan di pipi dan kepala. Dari hasil pemeriksaan medis, korban tercatat mengalami sembilan luka tusuk dan langsung mendapat perawatan intensif di rumah sakit.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., membenarkan pengungkapan kasus tersebut dan mengapresiasi gerak cepat jajaran Polsek Cipondoh.

“Begitu menerima laporan melalui layanan 110, anggota langsung bergerak ke lokasi. Pelaku berhasil diamankan bersama barang bukti, sehingga situasi dapat segera dikendalikan dan tidak menimbulkan gangguan kamtibmas yang lebih luas,” ujar Kombes Jauhari.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, aksi penganiayaan ini diduga dipicu oleh persoalan pribadi. Pelaku mengaku sakit hati karena merasa korban kerap mengejek dan merendahkan keluarganya, hingga akhirnya nekat melakukan penyerangan secara brutal.

“Apapun alasannya, tindakan kekerasan tidak dibenarkan. Setiap persoalan seharusnya diselesaikan dengan cara yang bijak dan sesuai hukum,” tegas Kapolres.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu bilah pisau, pakaian korban yang berlumuran darah, satu unit motor listrik, jas hujan, serta hasil visum et repertum.

Saat ini, pelaku telah diamankan di Polsek Cipondoh untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Ia dijerat dengan pasal penganiayaan berat sebagaimana diatur dalam Pasal 469 KUHP, dan terancam hukuman pidana sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Polres Metro Tangerang Kota mengimbau masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan segera melaporkan setiap potensi gangguan kamtibmas kepada pihak kepolisian agar dapat ditangani secara cepat dan profesional. ( *)

Hangatnya Warung Berkah Polres Kukar, Warga Datang dengan Senyum Pulang Bahagia

SIDIKPOST| Kukar – Wujud kepedulian Polri terhadap kesejahteraan masyarakat terus ditunjukkan oleh Polres Kutai Kartanegara. Melalui Program Warung Berkah, Polres Kukar menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian beras kepada masyarakat, Jumat (6/2/2026) pagi.

Berlangsung di Kedai Ojol Kamtibmas, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, kegiatan itu dipimpin oleh Kasat Binmas Polres Kukar AKP Sukardi, bersama personel Satbinmas dan Dokkes Polres Kutai Kartanegara.

Sebanyak 230 peserta hadir dan merasakan manfaat kegiatan ini, terdiri dari pengemudi ojek online, petugas kebersihan, pemulung, serta masyarakat umum di sekitar lokasi kegiatan.

Dalam kegiatan tersebut, Polres Kutai Kartanegara memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat, meliputi pemeriksaan tekanan darah, konsultasi medis, serta pengecekan kesehatan dasar. Selain itu, bantuan sosial berupa beras juga disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap kondisi sosial ekonomi warga.

Tak hanya itu, Polres Kukar juga menyiapkan Warung Berkah yang menyediakan makanan dan minuman gratis bagi para pengemudi ojek online, penyapu jalanan, pemulung, serta masyarakat yang hadir. Suasana penuh keakraban dan kebersamaan pun terlihat selama kegiatan berlangsung.

Sebagai bagian dari upaya preventif, personel Polres Kukar turut memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, keamanan, dan ketertiban lingkungan, guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.

Kasat Binmas Polres Kukar AKP Sukardi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat, tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga melalui pelayanan sosial dan kemanusiaan.

“Melalui Program Warung Berkah ini, kami ingin berbagi dan mempererat silaturahmi dengan masyarakat, sekaligus membantu meringankan beban warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Seluruh rangkaian kegiatan Program Warung Berkah, Pemeriksaan Kesehatan dan Pembagian Beras Gratis Polres Kutai Kartanegara berjalan aman, tertib, dan lancar hingga selesai. (*)

Dua Pelaku Curanmor Ditangkap Usai Kejar-kejaran Dini Hari, Polisi Sita Kunci T dan Pistol Mainan

sidikpost | Tangerang – Jajaran Unit Reskrim Polsek Jatiuwung Polres Metro Tangerang Kota berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan (curanmor) yang meresahkan masyarakat. Dua pelaku berhasil diamankan usai melakukan aksi pencurian sepeda motor pada dini hari. Jumat (6/2/2026

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si. menyampaikan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil patroli intensif yang terus ditingkatkan selama pelaksanaan Operasi Pekat Jaya.

“Operasi Pekat Jaya 2026 kami fokuskan untuk memberantas penyakit masyarakat, termasuk pencurian kendaraan bermotor yang kerap terjadi pada jam-jam rawan. Patroli malam terus kami intensifkan demi memberikan rasa aman kepada warga,” ujar Kombes Pol. Jauhari.

Peristiwa pencurian terjadi pada Kamis, 5 Februari 2026 sekitar pukul 02.00 WIB, di depan PT Pardic Jaya Chemicals, Jalan Gatot Subroto Km 1, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang. Saat itu, petugas yang tengah melaksanakan patroli mendengar teriakan warga yang meminta pertolongan karena sepeda motornya dicuri.

Mendapati laporan tersebut, petugas langsung melakukan pengejaran hingga ke wilayah Pasir Randu, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Kedua pelaku akhirnya berhasil diamankan berkat sinergi dengan personel Polsek Curug yang tengah melaksanakan patroli di wilayah tersebut.

Kapolsek Jatiuwung Kompol Rabiin, S.H. menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan awal, kedua pelaku mengakui telah melakukan aksi pencurian sepeda motor sebanyak 16 kali di sejumlah lokasi berbeda.

“Dari tangan pelaku kami mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain kunci letter T, kunci L, pistol mainan, dua unit sepeda motor, serta beberapa kunci kontak dan telepon genggam. Modus yang digunakan adalah merusak kunci kontak kendaraan,” jelas Kompol Rabiin.

Kedua tersangka masing-masing berinisial PG (20) dan WAH (21), dengan peran sebagai eksekutor dan joki. Saat ini, keduanya telah diamankan di Polsek Jatiuwung untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut dan dijerat dengan Pasal 477 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.

Kapolres Metro Tangerang Kota turut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila melihat atau mengalami tindak kriminal.

“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan dan tidak ragu melapor kepada kepolisian jika menemukan aktivitas mencurigakan melalui call center 110,” tegasnya.

Polres Metro Tangerang Kota memastikan akan terus melakukan pengembangan kasus guna mengungkap kemungkinan keterlibatan pelaku lain serta jaringan curanmor yang lebih luas.

( anton Teef)

Gerakan Indonesia Asri, Polresta Tangerang Gelar Korve di Wisata Pulo Cangkir

SIDIKPOST | Polresta Tangerang menggelar korve atau bersih-bersih sampah di kawasan wisata Pulo Cangkir, Kecamatan Kronjo, Jumat (6/2/2026). Kegiatan itu sebagai tindak lanjut perintah Presiden terkait penanggulangan sampah, khususnya di kawasan wisata.

“Gerakan Indonesia Asri ini melibatkan personel Polresta Tangerang dan jajaran polsek, unsur TNI, OPD Pemkab Tangerang, serta elemen masyarakat,” kata Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah.

Indra Waspada melanjutkan, Pulo Cangkir merupakan salah satu destinasi wisata laut dan religi di Kabupaten Tangerang. Sebagai destinasi wisata yang menggabungkan alam dan spiritual, sehingga pengunjung yang datang dari berbagai kalangan dan daerah. Kegiatan pembersihan, tambah dia, fokus pada sampah plastik dan limbah yang berpotensi mencemari ekosistem laut.

Indra Waspada menegaskan, korve tidak dimaknai sekadar kegiatan seremonial atau rutinitas kebersihan. Melainkan bentuk kehadiran nyata negara dalam menjaga ruang publik dan kawasan wisata agar tetap sehat, aman, dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan Bapak Presiden tentang penanganan sampah, khususnya di kawasan wisata,” ujarnya.

Dia menambahkan, kawasan wisata pantai memiliki kerentanan tinggi terhadap pencemaran. Jika tidak dijaga bersama, ucap Indra Waspada, dampaknya bukan hanya pada keindahan, tetapi juga pada kesehatan masyarakat, ekonomi lokal, dan kelestarian laut.

Korve Pulo Cangkir turut dihadiri Danlanud Rumpin, Dansat Radar 401 Tanjung Kait, Danden Rudal 003, serta jajaran OPD Pemkab Tangerang terkait. Kegiatan kolaboratif ini menegaskan persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan komitmen kolektif.

“Semoga tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan, khususnya kawasan wisata sebagai Gerakan Indonesia Asri sehingga aman, sehat, resik, indah,” pungkasnya.

(ANTON TEEF)

Tanam Ratusan Batang Ganja di Rumah, Pria di Rejang Lebong Diamankan Polisi

SIDIKPOST | Rejang Lebong — Upaya pemberantasan narkotika di Kabupaten Rejang Lebong kembali membuahkan hasil. Satuan Reserse Narkoba Polres Rejang Lebong mengamankan seorang pria berusia 48 tahun yang diduga menanam ratusan batang ganja di rumahnya.

Pelaku berinisial MHKJ alias Miki, warga Kelurahan Talang Rimbo Lama, Kecamatan Curup Tengah, ditangkap pada Sabtu (31/1/2026) di rumahnya yang beralamat di Kelurahan Tunas Harapan, Kecamatan Curup Utara.

Kasat Resnarkoba Polres Rejang Lebong, IPTU Andhika Rizkiawan Ramadhan, S.Tr.K., M.Si., mengatakan pengungkapan berawal dari informasi yang diterima Sat Resnarkoba dari Sat Intelkam terkait dugaan peredaran narkotika golongan I jenis tanaman ganja. Petugas kemudian melakukan penyelidikan dan mendatangi lokasi yang dicurigai. Sekitar pukul 12.00 WIB, pelaku berhasil diamankan beserta sejumlah barang bukti.

Dari penggeledahan, polisi menemukan 139 batang ganja kecil berusia sekitar satu bulan dan 10 batang ganja besar berusia sekitar empat bulan. Selain itu, petugas menyita ganja kering dan biji ganja yang disimpan dalam beberapa wadah. Total barang bukti mencapai 397,58 gram tanaman ganja serta 34,87 gram biji ganja, yang diduga kuat termasuk narkotika golongan I.

Pelaku kini diamankan di Mapolres Rejang Lebong untuk proses penyidikan lebih lanjut. Ia dijerat dengan Pasal 610 Ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun.

Menjelang bulan puasa dan Lebaran, Wakapolres Rejang Lebong, Kompol Risdianta, mengimbau masyarakat agar aktif menjaga lingkungan dan fasilitas umum serta segera melapor jika menemukan tindak kejahatan. Warga juga diingatkan memarkir kendaraan di tempat aman dengan kunci tambahan, mengingat potensi meningkatnya kasus pencurian.

Laporan darurat dapat dilakukan melalui nomor 110, bebas pulsa, yang berlaku di seluruh wilayah hukum Polres. Masyarakat diminta tetap waspada, terutama setelah ditemukannya ladang ganja, dan segera melaporkan hal-hal mencurigakan di lingkungan sekitar.

(Zul)

Revitalisasi Sekolah hingga Beasiswa, Dikbud Rejang Lebong Perkuat Akses Pendidikan

SIDIKPOST | Rejang Lebong — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Rejang Lebong terus menjalankan berbagai program untuk memperkuat akses dan kualitas pendidikan, mulai dari revitalisasi sekolah hingga pemberian beasiswa bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Jumat,(6/02/2026)

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Rejang Lebong, Zakaria Effendi, M.Pd., mengatakan bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan jangka panjang.

Pada tahun 2025, Dikbud Rejang Lebong melaksanakan program revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan dengan dukungan anggaran dari pemerintah pusat. Kegiatan tersebut mencakup rehabilitasi gedung sekolah di berbagai jenjang pendidikan guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak.

Selain perbaikan fisik sekolah, pemerintah daerah juga menjalankan Program Orang Tua Asuh. Program ini melibatkan pejabat eselon II hingga IV serta kepala sekolah untuk membantu anak yatim dan siswa dari keluarga kurang mampu agar dapat terus mengenyam pendidikan dan menekan angka putus sekolah.

Sementara itu, pada tahun anggaran 2026, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong mengalokasikan dana sebesar Rp1 miliar untuk program beasiswa penuh bagi 15 siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Beasiswa tersebut ditujukan bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke SMA Kebangsaan Lampung Selatan.

Setiap kecamatan direncanakan mengirimkan satu orang siswa. Proses seleksi dilakukan oleh tim yang melibatkan berbagai unsur terkait dengan mempertimbangkan prestasi akademik serta kondisi ekonomi keluarga.

Program revitalisasi sekolah dan pemberian beasiswa ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di daerah.

(Zul)

Banner Kertas (Harga Sebuah Usaha)

PEMBUKA

“Orang tua terbaik bukan yang memberi segalanya, tapi yang mengajarkan cara mendapatkannya dan Setiap keringat kecil anak, merupakan doa untuk masa depannya.”

Di kota madya daerah penyangga ibu kota, hidup keluarga kecil Abimayu, Bunda Rahmi, dan putra mereka yang berusia delapan tahun, Defandra. Sang ayah seorang penulis lepas sedangkan bundanya pegawai ASN golongan rendah yang hidup pas-pasan, namun mereka memiliki satu keyakinan besar, bahwa anak mereka harus tumbuh mandiri, bukan manja oleh keadaan.

Di rumah kecil itu, setiap keinginan selalu disertai tanggung jawab. Jika ingin ayam goreng, Defandra harus mengambil nasi dan mencuci piringnya sendiri. Jika ingin mainan atau tas baru, ia harus menabung dari sisa uang jajan. Sejak kecil, ia diajarkan bahwa tidak ada keinginan yang datang tanpa usaha.

Suatu sore, dari saset minuman cokelat sederhana, Defandra menemukan ide kecil, Ia membuat es mambo. Dengan tangan mungilnya, ia menyeduh, mengemas, lalu menuliskan banner dari kertas bekas: “Jual Es Mambo Defandra”, Teman-temannya membeli dengan harga dua ribu rupiah. Uang receh itu mungkin tidak berarti bagi orang lain, namun bagi seorang ayah, itu merupakan momen yang mengguncang hati.

Abimayu merasa sedih, haru, sekaligus bangga. Sedih karena anaknya harus belajar tentang uang sejak dini, haru karena ia berani mencoba, dan bangga karena ide itu lahir dari pikirannya sendiri. Di balik banner kertas itu, ia melihat sesuatu yang lebih besar yaitu lahirnya jiwa mandiri, keberanian dan benih mimpi seorang anak yang ingin menjadi pengusaha sekaligus abdi negara.

“Banner Kertas (Harga Sebuah Usaha)” merupakan kisah tentang keluarga sederhana yang percaya bahwa karakter lebih berharga daripada kekayaan dan pendidikan sejati lahir dari rumah, serta masa depan besar sering kali dimulai dari langkah kecil, dari banner kertas, dan dari usaha yang jujur.

 

SEBUAH PENGANTAR

Cerita ini lahir bukan dari ruang-ruang mewah, bukan dari keluarga yang bergelimang fasilitas dan bukan pula dari mimpi yang dibangun di atas kemapanan. Cerita ini tumbuh dari sebuah rumah kecil, dari sepasang orang tua sederhana, dan dari seorang anak yang belajar memahami arti usaha sejak usia yang masih sangat belia.

Di tengah kehidupan kota madya yang biasa-biasa saja, ada keluarga kecil yang berjuang dengan cara yang juga sederhana: mengajarkan anaknya untuk bertanggung jawab atas keinginannya sendiri. Tidak semua keinginan dipenuhi begitu saja, tidak semua permintaan dijawab dengan uang, tetapi selalu ada pelajaran yang disisipkan di balik setiap kebutuhan dimulai dari Makan harus mengambil sendiri, setelah makan Piring harus dicuci sendiri dan jika Ingin Mainan harus menabung, serta jika memiliki mimpi, harus diperjuangkan sendiri.

Cerita ini tidak menawarkan keajaiban. Tidak ada tokoh besar dan kaya raya, tidak ada perubahan nasib yang datang tiba-tiba. Yang ada hanyalah sebuah banner kertas, tulisan tangan seorang anak, dan beberapa plastik es mambo yang dijual seharga dua ribu rupiah.

Dari Hal-hal kecil tersebut, di situlah letak maknanya. Karena sering kali, masa depan besar tidak dimulai dari panggung megah, melainkan dari halaman rumah yang sempit. Tidak dari modal besar, melainkan dari keberanian kecil untuk mencoba. Tidak dari spanduk mahal, melainkan dari banner kertas yang digambar dengan tangan sendiri.

Kisah ini merusak cermin bagi banyak keluarga sederhana, bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari sekolah elit, tetapi dari dapur, dari teras rumah, dan dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, Seperti yang di katakan Ki Hajar Dewantara, “Setiap rumah adalah sekolah, dan setiap orang tua adalah guru.”

Melalui kisah ini, semoga kita semua kembali mengingat bahwa tugas terbesar orang tua bukanlah memanjakan anak, melainkan menyiapkan mereka untuk hidup. Bukan memberi segalanya, tetapi mengajarkan cara mendapatkan segalanya dengan usaha yang jujur.

Karena pada akhirnya, yang akan diingat anak bukanlah berapa banyak yang pernah ia terima, tetapi berapa banyak yang pernah ia perjuangkan.

Selamat membaca, dan semoga kisah sederhana ini mampu menyalakan kembali keyakinan kita bahwa mimpi besar bisa lahir dari banner kertas yang sangat sederhana.

 

RUMAH YANG MENGAJARKAN HIDUP

 

Di kota madya yang selalu ramai tanpa mengenal waktu siang maupun malam dan tidak pernah benar-benar sunyi, berdirilah sebuah rumah kecil di sebuah gang yang hanya bisa dilewati satu kendaraan. Cat temboknya sudah mulai pudar, pagar besinya berderit jika dibuka dan di terasnya selalu ada beberapa sepasang sandal milik seorang penghuni di dalamnya yang pulang kerja hampir menjelang petang.

Kepala keluarga itu bernama ABIMAYU, dan Istrinya, Bunda RAHMI, merupakan perempuan sederhana yang berhijab rapi sebelum berangkat kerja serta di antara mereka, tumbuh seorang anak laki-laki berusia delapan tahun bernama DEFANDRA.

Mereka bukan keluarga kaya, Sang suami hanya penulis lepas di sebuah media online dan majalah mingguan di kota madya, sedangkan istrinya sebagai pegawai ASN golongan rendah di kantor pemerintah kota. Gaji mereka cukup untuk hidup sederhana, membayar kontrakan kecil, listrik, sekolah anak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Suami Istri itu sepakat pada satu hal, bahwa anak mereka tidak boleh tumbuh manja, di Rumah yang Mengajarkan Tanggung Jawab seperti Pada Suatu pagi, Defandra berdiri di dapur sambil menguap, “Bunda… lapar,” katanya.

Rahmi yang sedang menggoreng telur menoleh sambil tersenyum, “Kalau mau ayam goreng nanti, boleh. Tapi syaratnya apa?”

Defandra menghela napas, lalu menjawab dengan suara kecil, “Ambil nasi sendiri… makan sendiri… terus cuci piring sendiri…”

Abimayu yang sedang mengikat tali sepatu menimpali, “Laki-laki itu bukan yang paling kuat. Tapi yang paling bertanggung jawab.”

Defandra mengangguk, lalu Ia mengambil nasi, menaruh ayam di piring dan makan dengan pelan. Setelah selesai, ia berdiri, membawa piringnya ke dapur, lalu mencucinya dengan air yang sedikit terlalu banyak sabun.

Rahmi menatap itu dengan mata yang sedikit berkaca.

“Mas,” katanya pelan pada Abimayu,“kita ini gaji kecil, tapi semoga anak kita besar jiwanya.”

Abimayu tersenyum tipis, “Orang miskin tidak punya warisan harta. Tapi kita masih bisa mewariskan karakter.”

Lalu ia mengutip kalimat yang pernah ia baca dari Ki Hajar Dewantara, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

____________

Suatu hari, Defandra melihat tas sekolah baru milik temannya, “Yah, aku juga mau tas baru,” katanya.

Abimayu duduk di kursi plastik, membuka dompetnya yang tipis. Ia tidak langsung menjawab, karena Ia tahu, membeli tas baru berarti harus mengurangi uang belanja minggu itu. Tapi ia juga tahu, anaknya harus belajar sesuatu yang lebih penting dari sekadar memiliki barang.

“Boleh,” kata Abimayu akhirnya, “Tapi kamu harus menabung dari sisa uang jajan.”

Defandra cemberut, “Lama, Yah…”

Abimayu tersenyum, “Semua yang berharga itu memang lama.”

Istrinya memperhatikan percakapan suami dan anaknya dari depan pintu kamar, lalu sang suami mendekat dan berkata pelan, “Jangan ajari anak menjadi penikmat, ajari dia menjadi pencipta.”

Rahmi menimpali dengan mengutip B.J. Habibie, “Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya dan Tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.”

Sejak hari itu, Defandra mulai menyisihkan uang jajannya. Kadang hanya seribu, kadang lima ratus. Ia masukkan ke dalam kaleng bekas biskuit yang mereka jadikan celengan.

 

BANNER KERTAS DAN ES MAMBO

 

Suatu sore, Defandra pulang dari warung dengan membawa beberapa saset minuman cokelat.

“Yah, aku beli ini,” katanya.

“Untuk diminum?” tanya Abimayu.

Defandra menggeleng.

“Bukan. Mau bikin es mambo.”

Ia menyeduh minuman itu dengan air panas. Lalu, dengan tangan kecilnya, ia menuangkan ke plastik panjang, mengikat ujungnya, dan memasukkannya ke dalam kulkas.

Abimayu memperhatikan dari kursi duduknya, Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatap.

Keesokan harinya, ketika pulang les, Dia membuka tas mengambil buku dan Pensil, Dia bilag mau membuat Banner untuk jualan Es.

Ayah menatap Ibundanya yang diam dan bengong, lalu bundanya penasaran dan bertanya, “Jual Es Apa nak?,”

“Es mambo bun, yang kemarin sore aku buat, dan sudah jadi di Kualkas,” balas Defan.

Lalu bundanya berbicara pelan ke arah suaminya, “Ayah lihat anakmu itu, nanti temen-temennya beli dan rasanya gak enak, terus di kira bundanya yang buat.”

Lalu sang ayah tersenyum atas ke khawatiran Istrinya, dan dengan penuh kasih berkata, “Bunda, kita harus bangga dan bersyukur, anak kita sudah mulai mengerti tentang arti sebuah usaha, kita cukup lihat saja seta kita dukung agar jiwa mandirinya semakin berkembang.”

“Tapi kan yah, Bunda khawatir jika nanti ada orang tua yang nyobain dan nggak enak rasanya,” suara lirih bunda Rahmi.

Lalu sang ayah tersenyum, karena memahami ke khawatiran Istrinya, “Bunda Tenang saja ya, nanti kalau ada yang bertanya atau ada yang mengadu karena gak enak, biar ayah yang ngadepinnya.”

Lalu ayah dan Bunda memperhatikan anaknya yang sedang menuliskan kertas dengan pensil yang katanya itu “Banner Usaha” dengan tulisan, “Jual Es Mambo Defandra, Rasanya Enak.” Lalu di tempel di pagar depan rumah, dan tidak berselang lama, Teman-temannya datang dan membeli dengan harga dua ribu rupiah. Uang receh itu mungkin tidak berarti bagi orang lain, namun bagi seorang ayah, itu merupakan momen yang mengguncang hati.

Beberapa temen-temannya datang melihat kertas yang baru di temlel,

“Berapa harganya?” tanya seorang anak.

“Dua ribu,” jawab Defandra.

Satu per satu, es mambo itu habis, uang receh berpindah dari tangan teman-temannya ke tangannya. Sore itu, ia berlari ke dalam rumah.

“Yah! Lihat! Aku dapat uang!”

Tangannya penuh uang kertas lusuh dua ribuan, Abimayu memandang uang itu, Lalu memandang wajah anaknya.

Ada rasa aneh yang muncul di dadanya, Antara sedih, haru, dan bangga. Sedih, karena anaknya harus belajar tentang uang sejak kecil. Haru, karena anaknya mau berusaha dan Bangga, karena ide itu datang dari kepalanya sendiri.

Ia memeluk erat Defandra,

“Kenapa, Yah?” tanya anak itu.

Abimayu mengusap rambutnya.

“Tidak apa-apa. Ayah cuma bangga.”

Rahmi yang berdiri di dapur juga tersenyum sambil menyeka sudut matanya.

Abimayu mengingat dari pemikiran Bob Sadino dan berkata pelan, “Kesuksesan bukan tentang seberapa besar uang yang kamu dapat, tapi seberapa besar keberanianmu untuk mencoba.”

Ia menatap Defandra dan berkata, “Uang ini kecil. Tapi ide kamu besar.”

__________

Malam itu, mereka duduk bertiga di teras rumah, lampu kuning menggantung di atas kepala mereka dan Suara motor sesekali lewat di gang.

Defandra menghitung uangnya, “Yah, kalau besok aku jual lagi, bisa dapat lebih banyak ya?”

Abimayu mengangguk, “Kalau kamu konsisten, bisa.”

Lalu ayah mengutip kata-kata pengusaha muda sekaligus motivator Merry Riana, ia berkata, “Orang yang berhasil bukan yang tidak pernah jatuh, tapi yang tidak pernah berhenti bangkit.”

Defandra menatap ayahnya, “Ayah dulu jualan juga?”

Abimayu tertawa kecil, “Dulu Ayah jual tenaga, Sampai sekarang.”

Rahmi menepuk bahunya, “Kita ini pegawai kecil, Nak. Tapi kita tetap bisa punya mimpi besar.”

Lalu ia mengutip kata-kata yang pernah ia dengar dalam seminar, “Pendidikan terbaik bukan yang membuat anak pintar menjawab soal, tapi pintar menghadapi hidup.”

_______________

Beberapa hari kemudian, Defandra berkata pada ayahnya, Ayah…nanti kalau sudah besar, Aku mau jadi pengusaha, sekaligus  jadi abdi negara.”

Abimayu tersenyum, “Itu bagus nak… Negara butuh orang yang jujur dan Pasar butuh orang yang kreatif.”

Kemudian ayahnya mengingat perkataan Sekaligus pemikiran Sandiaga Uno, ia berkata, “Kalau kamu ingin hidup mapan, jadilah pegawai, Tapi kalau kamu ingin mengubah hidup banyak orang, jadilah pengusaha.”

Defandra mengangguk, meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.

Malam itu, setelah Defandra tidur, Abimayu duduk sendirian di ruang tamu. Ia melihat banner kecil buatan anaknya yang masih tergantung di pagar.

Tulisan itu miring, Hurufnya tidak rapi dam Kertasnya pun hanya bekas buku tulis.

Tapi baginya, itu lebih berharga dari sertifikat apa pun.

Ia berbisik pelan, “Sekolah mengajarkan anak membaca buku. Tapi hidup mengajarkan anak membaca kesempatan.”

Lalu ia teringat sebuah kutipan dari Ki Hajar Dewantara, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Abimayu tersenyum, “Dan mungkin… kodrat anakku adalah berjuang sejak kecil.”

 

AKHIR…

Di depan rumah sederhana yang dindingnya mulai pudar dimakan waktu, Abimayu dan Bunda Rahmi memeluk Defandra dengan mata yang basah oleh haru. Bukan karena uang dua ribu yang masuk ke kaleng tabungan, tapi karena mereka melihat sesuatu yang jauh lebih mahal, “lahirnya harga diri dari usaha kecil seorang anak.”

Banner kertas itu mungkin hanya tulisan tangan yang miring dan tinta yang mulai luntur, tapi di sanalah tumbuh sebuah pelajaran besar, bahwa masa depan tidak dibangun dari kemudahan, melainkan dari keberanian untuk berusaha.

Defandra tersenyum polos, tidak tahu bahwa hari itu ia bukan hanya menjual es mambo, tetapi juga sedang membangun fondasi mimpi, karakter, dan kemandiriannya sendiri.

Dan di hati kedua orang tuanya, tumbuh keyakinan sederhana, “Anak yang belajar menghargai usaha sejak kecil, tak akan mudah menyerah saat dewasa nanti.”

 

=========TAMAT=======

 

ARDHI MORSSE, JUMAT 6 FEBRUARI 2026

Ops Keselamatan Jaya 2026, Polisi Turun ke Lampu Merah Edukasi Pengendara di Kota Tangerang

SIDIKPOST| Kota Tangerang – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan berlalu lintas, Satuan Lalu Lintas Polres Metro Tangerang Kota melalui Satgas I Preemtif kembali menggencarkan kegiatan sosialisasi dan edukasi di jalan raya. Kali ini, sasaran kegiatan dilakukan langsung di sejumlah lampu merah di wilayah Kota Tangerang. Kamis (5/2/2026).

Dalam pelaksanaannya, personel satlantas memberikan imbauan secara langsung kepada para pengendara yang berhenti di lampu merah, sekaligus mengingatkan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas demi keselamatan bersama.

Selain menyampaikan imbauan secara humanis, personel Satgas I Preemtif juga membentangkan spanduk Operasi Keselamatan Jaya 2026 serta membagikan flyer keselamatan berlalu lintas kepada para pengendara bermotor yang melintas.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kepolisian untuk menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.

“Lampu merah menjadi salah satu titik strategis untuk menyampaikan pesan keselamatan. Kami ingin mengingatkan pengendara secara langsung, dengan cara yang humanis, agar lebih tertib dan peduli terhadap keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya,” ujar Kombes Jauhari.

Ia menambahkan, Operasi Keselamatan Jaya 2026 tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga edukasi kepada masyarakat.

“Keselamatan berlalu lintas bukan semata soal penegakan hukum, tapi juga soal kesadaran. Melalui sosialisasi langsung di jalan raya seperti ini, kami berharap pesan keselamatan bisa lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat,” tambahnya.

Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan lancar. Melalui Ops Keselamatan Jaya 2026, Polres Metro Tangerang Kota berharap kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas terus meningkat sehingga angka kecelakaan dapat ditekan.

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

Kabel Internet Semrawut Di Meruya Selatan, Warga Minta di Potong

SIDIKPOST | JAKARTA – Kondisi kabel komunikasi yang menjuntai rendah dan semrawut di pintu masuk Masjid Jami At-Taqwa, Jalan H. Kasam, Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat, menuai sorotan serius dari jamaah dan warga sekitar.

Puluhan kabel hitam tampak menggantung tanpa pengaturan yang jelas, bahkan sejajar dengan tinggi kepala orang dewasa, sehingga berpotensi mengancam keselamatan jamaah yang hendak beribadah, Kamis (5/2/2026).

Pantauan di lokasi menunjukkan kabel-kabel tersebut saling bersilangan dan melintang tepat di akses utama masuk masjid. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menciptakan risiko nyata, mulai dari tersangkut di leher hingga potensi korsleting dan kebakaran.

Kekhawatiran jamaah semakin meningkat menjelang bulan suci Ramadhan, ketika aktivitas ibadah dipastikan melonjak drastis. Masjid yang biasanya dipadati anak-anak, lansia, dan jamaah umum kini justru menghadirkan ancaman keselamatan di area paling vitalnya.

“Saya terpaksa mengangkat kabel setiap kali masuk masjid. Anak-anak sering berlarian di sini. Kalau sampai ada kabel yang putus atau terbakar, akibatnya bisa fatal,” ujar Asenih (48), salah seorang jamaah Masjid At-Taqwa.

Ironisnya, kondisi berbahaya ini disebut telah berlangsung cukup lama tanpa penanganan berarti. Padahal, lokasi masjid berada di kawasan padat aktivitas masyarakat, sehingga dampak yang ditimbulkan bisa meluas jika terjadi insiden.
Keberadaan kabel yang menjuntai tepat di pintu masuk rumah ibadah mencerminkan lemahnya pengawasan dan minimnya tanggung jawab pihak terkait, baik penyedia jaringan maupun instansi berwenang. Rumah ibadah seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman, bukan area yang mengancam keselamatan jamaah.

Warga berharap ada tindakan cepat dan tegas dari pemerintah daerah serta pemilik jaringan kabel untuk menertibkan dan menata ulang instalasi tersebut sebelum jatuh korban. Keselamatan publik, terlebih di tempat ibadah, tidak semestinya menunggu tragedi untuk mendapat perhatian.

Penulis : RDK

Editor : Redaksi

Cerita Fiksi : Jalan Sunyi ” Di Antara Menjaga Nilai Dan Kehilangan Arah “

PEMBUKA

“Organisasi tidak kehilangan arah karena kekurangan peta,

Tetapi karena terlalu banyak yang menjual kompasnya.”

Jalan Sunyi merupakan sebuah Cerita Fiksi dari kisah reflektif ideologis tentang kegelisahan seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di tengah usia organisasi yang telah mencapai 79 tahun Pada Tanggal 5 Februari 2026.

Melalui Sosok Haidar Dirga, pembaca diajak menyusuri pergulatan batin seorang kader HMI yang mencintai organisasinya, namun dilanda keprihatinan mendalam melihat kemunduran nilai, tumpulnya intelektualitas, serta menjauhnya HMI dari semangat awal pendiriannya.

HMI digambarkan sebagai organisasi besar yang kaya sejarah dan melahirkan banyak pemimpin bangsa, namun kini menghadapi krisis internal: kaderisasi yang kehilangan ruh, politik praktis yang menjerat kader muda, patronase senior yang mematikan kemandirian berpikir, serta budaya hedonisme yang menggerus etika perjuangan. Perjuangan direduksi menjadi transaksi, idealisme ditukar dengan akses, dan nilai-nilai Insan Cita terancam tinggal jargon.

Di tengah realitas tersebut, Haidar Dirga memilih jalan sunyi, jalan yang menolak kompromi, menolak tunduk pada materi dan menegaskan kembali keberanian moral sebagai inti perjuangan. Kisah ini bukan sekadar kritik, tetapi seruan sadar untuk kembali menempatkan Islam, keilmuan dan keindonesiaan sebagai fondasi praksis kader HMI.

Dengan bahasa sastra yang tajam dan refleksi filosofis–politik yang mendalam, Jalan Sunyi menjadi catatan perlawanan terhadap kemunduran, sekaligus manifesto keberanian bagi kader yang masih setia menjaga nilai di tengah godaan kenyamanan. Sebuah kisah tentang pilihan menjaga nurani atau kehilangan arah, serta kesunyian yang justru melahirkan makna dan tentang organisasi yang hanya akan hidup jika berani jujur pada dirinya sendiri.

 

KATA PENGANTAR

Tulisan ini lahir bukan dari kemarahan semata, melainkan dari kesedihan yang jujur. Kesedihan seorang kader yang mencintai organisasinya, tetapi gelisah melihat arah yang kian kabur. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini di usianya yang ke 79 tahun berdiri di persimpangan sejarah, antara tetap setia pada nilai-nilai perjuangan atau larut dalam kenyamanan yang meninabobokan.

HMI bukan organisasi yang miskin gagasan. Sejarahnya penuh dengan pergulatan intelektual, pengorbanan, dan keberanian moral. Dari rahim HMI lahir tokoh-tokoh besar bangsa dengan segala perbedaan pandangan dan jalan hidup mereka, namun disatukan oleh satu kesamaan: proses panjang pembentukan karakter dan keberanian berpikir sebelum berkuasa.

Namun sejarah tidak pernah memberi jaminan keabadian, seperti yang di sampaikan Gustav Mahler bahwa, “Tradisi bukanlah memelihara abu, melainkan menjaga api.”

Kegelisahan dalam tulisan ini bukanlah upaya meruntuhkan HMI, melainkan usaha menyelamatkannya dari pengkhianatan yang halus: pengkhianatan terhadap nilai, yang sering kali dibungkus dengan dalih realitas, pragmatisme, dan kebutuhan zaman.

Hari ini, tantangan terbesar HMI bukan datang dari luar, melainkan dari dalam, ketika nilai ditukar dengan akses, perjuangan direduksi menjadi transaksi dan kader lebih sibuk mengamankan masa depan pribadi ketimbang memperjuangkan masa depan umat dan bangsa. Kenyataan pahit tersebut Senanda dengan ugkapan Hannah Arendt, “Yang paling berbahaya bukanlah kebohongan, Melainkan ketika kebenaran tidak lagi dianggap penting.”

Jalan sunyi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah jalan yang selalu dipilih oleh minoritas yaitu mereka yang menolak tunduk, menolak diam dan menolak menjual nurani. Jalan yang tidak menjanjikan kenyamanan, tetapi menjaga martabat. Jalan yang tidak selalu ramai, tetapi selalu jujur. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan Frantz Fanon yang menyampaikan bahwa, “Setiap generasi memiliki misinya sendiri, Menunaikannya atau mengkhianatinya.”

Tulisan ini juga menjadi pengingat bahwa HMI tidak pernah didirikan untuk melahirkan kader yang sekadar pandai bertahan hidup, melainkan kader yang sanggup mempertaruhkan hidupnya demi nilai. Bahwa Islam, keilmuan dan keindonesiaan bukan ornamen organisasi, melainkan fondasi etik dan praksis perjuangan, sebagaimana mana ungkapan Paulo Freire bahwa, “Ilmu yang tidak membebaskan hanyalah alat penindasan yang halus.”

Jika tulisan ini terasa keras, itu karena realitas memang tidak lembut. Jika terasa menggugat, itu karena organisasi besar hanya bisa bertahan dengan kritik dari dalam, bukan pujian yang memabukkan. Karena menurut Bertrand Russell, “Keberanian moral lebih langka daripada kecerdasan.”

Akhirnya, tulisan ini tidak menawarkan jawaban instan. Ia hanya mengajak pembaca, terutama kader HMI untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya dengan jujur:

“Apakah kita masih menjaga nilai, Atau justru sedang tersesat sambil merasa benar?”

Jika masih ada kader yang memilih jalan sunyi, Menolak tunduk pada hedonisme, Menolak menjual idealisme, Dan berani hidup sederhana demi martabat perjuangan, Maka HMI belum kehilangan arah, Karena sejarah tidak diselamatkan oleh mereka yang paling ramai, Melainkan oleh mereka yang paling setia pada nilai.

 

PERJUANGAN NILAI DAN KEMUNDURAN

 

Malam itu hujan jatuh pelan di halaman sekretariat. Spanduk Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam baru tergantung, warnanya cerah tapi gambarnya pudar, seperti semangat yang terlalu lama dibiarkan tanpa dipertanyakan. Di bawah lampu temaram, Haidar Dirga duduk sendiri, memandangi dinding penuh foto-foto hitam putih para senior yang dahulu pernah menggetarkan mimbar-mimbar sejarah.

Ia menarik napas panjang….HMI bukan organisasi kecil. Ia lahir dari kegelisahan zaman, dari seorang Lafran Pane yang percaya bahwa iman tanpa ilmu akan lumpuh dan ilmu tanpa iman akan buta, namun malam ini, Haidar merasa seperti sedang berdiri di hadapan rumah tua yang megah, penuh kenangan, tapi retak di banyak sisi. Seorang sejarawan sekaligus Filsuf Jerman, Hannah Arendt pernah menyampaikan tentang nilai sejarah, seharusnya, “Sejarah bukan untuk disembah, tapi untuk dipertanggungjawabkan.”Ia bergabung dengan HMI bukan karena atribut organisasi, kartu anggota, apalagi jabatan. Ia datang karena gagasan dan semangat Intelektual, Karena NDP yang dahulu ia baca dengan mata menyala, tentang Insan Cita, tanggung jawab intelektual, serta keberpihakan pada umat dan bangsa, Namun semakin lama ia berproses, semakin ia merasakan sesuatu yang hilang.

Ruang-ruang diskusi sunyi, Forum-forum kaderisasi terasa rutin tanpa ruh dan mimbar perjuangan mulai dipenuhi kalkulasi angka materi, bukan gagasan berkualitas tinggi.

Ia melihat kader-kader muda yang cerdas, tetapi tergesa-gesa, mereka melompat ke politik praktis sebelum matang secara ideologis. Merasa bangga menjadi pion kepentingan senior, sebelum menjadi subjek pemikiran sendiri. Seorang Filosof skaligus sejarawan Perancis Michel Foucault telah gamblang memberikan sebuah nasihat sekaligus peringatan bahwa, “Kekuasaan tanpa kesadaran hanya melahirkan tirani kecil.

Haidar tidak pernah membenci para senior di organisasi atau Himpunan tercintanya. Ia justru sedih, karena dari rahim organisasi inilah dahulu lahir tokoh-tokoh besar seperti Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, Artidjo Alkostar, Anies R Baswedan, hingga Kang Dedi Mulyadi. Mereka semua berbeda jalan, berbeda sikap politik, tetapi satu hal menyatukan mereka: kedewasaan berpikir sebelum berkuasa. Kini, di usia ke-79 tahun, HMI seperti lupa pada proses panjang itu. Seorang Filusuf sekaligus deputi kerjaan Italia, Antonio Gramsci telah lama memperingatkan melalui tulisannya bahwa, “Bangsa dan organisasi hancur bukan karena musuh yang kuat, tetapi karena kader yang kehilangan makna.”

Saat ini Ia menyadari, kemunduran ini bukan soal zaman semata, karena Digitalisasi hanyalah alat dan Yang hilang dalam diri kader adalah kesungguhan serta kualitas intelektual dan keberanian bersikap. Insan Akademis direduksi menjadi pemburu IPK dan sertifikat. Insan Pengabdi berubah menjadi relawan musiman yang gemar dipotret dan Insan Cita yang seharusnya menjadi ruh malah menjadi jargon tanpa darah.

Ia teringat satu kalimat Nietzsche yang selalu mengganggunya, “Barang siapa tahu mengapa ia hidup, ia akan sanggup menghadapi hampir semua bagaimana.” Masalah HMI hari ini bukan kurang pintar, tetapi kehilangan ‘mengapa’.

Malam semakin larut. Hujan  pun telah berhenti. Haidar berdiri, menatap bendera hijau hitam yang berkibar lelah. Ia tidak ingin meninggalkan HMI. Ia hanya ingin membangunkan serta menyadarkannya, meski dengan suara kecil serta jalan sunyi. Karena seorang Filsuf sekaligus mantan Anggota Parlemen Britania Raya, John Stuart Mill pernah mengatakan, “Perubahan besar selalu dimulai dari minoritas yang berpikir jernih.” Baginya, kritik bukan pengkhianatan, karena Diam justru bentuk pengkhianatan paling halus.

Haidar percaya, HMI masih bisa bangkit jika berani kembali ke akar diantar:

Pertama, Menjadikan kaderisasi sebagai ruang dialektika, bukan formalitas.

Kedua, Mengembalikan politik sebagai alat pengabdian, bukan tujuan instan.

Ketiga, Mendidik kader untuk mandiri secara berpikir, bukan loyal secara membuta dan Ali Syariati pernah menyampaikan bahwa, “Ilmu tanpa keberanian hanya melahirkan intelektual penakut.”

Kamis, 5 Februari 2026, Kini Di usia 79 tahun, HMI tidak membutuhkan pujian. Ia membutuhkan kejujuran. Ia tidak butuh nostalgia, tapi keberanian memperbaiki diri dan Haidar Dirga, dengan segala kesedihannya, memilih tetap tinggal.

Karena ia yakin, Organisasi besar tidak mati karena dikritik, tetapi karena berhenti melahirkan kader yang berani berpikir berkualitas intelektual, bernafaskan Islam dan bertanggung jawab. Di bawah langit yang mulai cerah, ia berbisik pelan, “HMI harus kembali menjadi tempat lahirnya pemimpin yang berpikir, bukan sekadar pengelola peluang.”

 

WARISAN KUALITAS PERJUANGAN DI ANTARA PERUBAHAN ZAMAN

 

Haidar Dirga semakin sering merasa asing di rumahnya sendiri, di banyak komisariat, cabang, bahkan hingga Badko dan Pengurus Besar, ia melihat pola yang sama berulang, seperti rapat-rapat yang ramai, jargon-jargon yang lantang, tetapi arah perjuangan yang kabur. Forum ideologis berubah menjadi arena kalkulasi. Diskusi kader tidak lagi menyoal umat dan bangsa, melainkan siapa dekat dengan siapa dan siapa dapat apa.

Ia menyaksikan kader-kader muda yang aktif, cerdas, dan vokal, namun terjebak pada satu keyakinan berbahaya, Bahwa perjuangan tanpa hasil materi adalah kegagalan, Filsuf Slovenia Slavoj Žižek  telah lama menyampaikan, “Ketika nilai ditakar dengan amplop, maka idealisme hanya akan menjadi hiasan pidato.”

Haidar tidak memusuhi politik. Ia memahami betul bahwa politik merupakan medan perjuangan, Tetapi yang ia saksikan bukan politik sebagai pengabdian, melainkan politik sebagai transaksi.

Senior-senior tertentu hadir bukan sebagai pendidik, melainkan patron, Mereka menyuapi kader dengan harapan instan, menukar loyalitas dengan fasilitas Dan kader-kader muda, yang belum selesai dengan dirinya sendiri, menerima itu sebagai “kenyataan hidup”. Padahal Soedjatmoko seorang Intelektual sekaligus diplomat Indonesia, telah memperingat bahwa, “Orang muda yang terlalu cepat puas akan kekuasaan, biasanya belum selesai dengan pengetahuan.”

Kemunduran nilai kader HMI saat jni lebih menyedihkan, mulai dari mundurnya nilai Akademis yang tercermin dari kehilangan kualitas intelektual kader, kemudian pudarnya Nafas Keislaman yang terlihat dari hilangnya kajian serta kedalamannya dan yang tertinggal hanya simbol bersama slogannya, Terakhir Lunturnya Nilai Keindonesiaan, tergambar dari Sikap kader yang kehilangan keberpihakan dan hanya tertinggal retorika kebangsaan tanpa praksis sosial.

Suatu Hari atas arahan ketua cabang di grup WhatsApp, kader-kader HMI harus turun ke jalan. Ketua cabang menyampaikan bahwa dia telah mendapatkan Ide tersebut hasil kajian bersama Senior-senior.

Hati dan pikiran Haidar bertanya-tanya, “Kok ketua Cabang memberikan arahan aksi dari hasil Kajian bersama Senior-senior yang saat ini sudah nyaman dengan posisi dan Jabatannya, kenapa nggak kajian bersama para kader-kader dan anggota yang aktif?”, pertanyaan itu iya simpan, karena jika di ungkapan di anggap pemberontak sekaligus pengkhianat organisasi.

Dengan penuh pertanyaan, Haidar pun tetap mengikuti Demonstrasi turun ke jalan bersama kader HMI lainnya meneriakkan perlawanan akan ketidakadilan, Penindasan struktural dan melawan kesewenang-wenangan. Mereka membakar ban, merobohkan pagar kantor pemerintahan daerah serta membagi-bagikan surat pernyataan sikap hingga akhirnya aksi bentrok dan dibubarkan aparat keamanan.

Setelah aksi, mereka pun kembali ke sekretariat dan mengobati rekan-rekannya yang terluka, tapi ketua cabang menyampaikan bahwa aksi berhasil dengan sukses dan sudah viral beritanya di media sosial. Haidar makin bertanya-tanya, “apa tolak ukur kesuksesan aksi jika tuntutan tidak di tindak lanjuti dan hanya bentrokan dengan aparat hingga rekan-rekan seperjuangannya banyak yang terluka?,”

Dan pada akhirnya, Pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam hati Haidar perlahan mulai terjawab, pada malam hari setalah Demonstrasi berakhir ricuh hingga bentrokan. Ia melihat ketua cabang bersama sebagian kader-kader Seperjuangannya duduk di bar dengan Banyak Botol dan bergelas-gelas minuman beralkohol beradu, di ramaikan tawa mengeras serta Amplop-amplop berpindah tangan.

Ia pun langsung pulang dengan dada sesak Dan dalam perjalanan pulang ia mengingat sebuah kutipan buku yang pernah ia baca, Psikiater Prancis Frantz Fanon mengatakan, “Revolusi yang berhenti di panggung hiburan adalah pengkhianatan terhadap penderitaan rakyat.”

Demo menjadi ritual, Perlawanan menjadi agenda Dan penderitaan rakyat hanya menjadi latar belakang foto. Di tengah budaya hedonisme yang merayap, kader HMI perlahan kehilangan daya juang sosial. Mereka sibuk membangun citra, tetapi gagap membangun basis. Aktif di media sosial, tetapi absen di tengah masyarakat dan Pandai berbicara tentang umat, tetapi asing dengan realitas umat itu sendiri.

Haidar sadar, ini bukan salah individu semata, Ini sebuah krisis sistemik. Avram Noam Chomsky, seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts dalam salah satu ulasan karyanya menyampaikan, “Sistem yang rusak akan memaksa orang baik berbuat salah.”Ia tahu, jika kondisi ini dibiarkan, HMI bukan hanya kehilangan kualitas kader, tetapi kehilangan legitimasi sejarahnya sendiri. Organisasi yang dulu melahirkan pemimpin bangsa, berisiko menjadi pabrik kader pragmatis yang lihai membaca peluang, tapi gagap membaca penderitaan.

Malam itu, Haidar berdiri di depan forum kecil kader-kader muda. Ia tidak membawa ancaman, apalagi janji. Ia hanya membawa kejujuran dan berkata pelan, tapi menghujam, “HMI tidak pernah menjanjikan kalian kekayaan, HMI hanya menjanjikan jalan sunyi bernama tanggung jawab.”

Ia mengingatkan kembali semangat awal berdirinya HMI, bahwa organisasi ini lahir bukan untuk memanjakan kader, tetapi menempa mereka. Bukan untuk memberi kenyamanan, tetapi ketangguhan moral dan intelektual. Ali Syariati Sosiolog dan revolusioner Iran mengatakan, “Perjuangan sejati selalu menuntut pengorbanan sebelum ia memberi apa pun.”Bagi Haidar, pembenahan HMI harus dimulai dari hal paling mendasar: mengembalikan perkaderan sebagai ruang pembentukan manusia, bukan sekadar mesin produksi aktivis instan.

HMI harus berani dan memulai dengan, Membersihkan kaderisasi dari patronase politik, Menghidupkan kembali diskusi ideologis yang jujur dan keras. Menegakkan etika perjuangan yang menolak hedonisme dan transaksi.

“Organisasi akan besar bukan karena dekat dengan kekuasaan, Tetapi karena berani menjaga jarak darinya.” Haidar tahu, jalan ini tidak populer. Ia tahu, ia mungkin disingkirkan, dicibir, atau dilabeli “tidak realistis”. Namun ia percaya satu hal:

HMI hanya akan kembali besar Jika kadernya berani miskin secara materi, Tetapi kaya secara makna dan keberpihakan Dan di usia 79 tahun ini, HMI dihadapkan pada pilihan sejarah:

Terus hanyut sebagai organisasi besar yang kehilangan ruh Atau kembali menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin berkarakter.

Haidar Dirga memilih percaya Bahwa masih ada kader yang berani menolak amplop, Berani memilih jalan sunyi dan berani setia pada nilai.

Karena bagi mereka, Perjuangan bukan soal apa yang didapat hari ini, Tetapi apa yang diselamatkan untuk masa depan bangsa.

 

BERSYUKUR DAN IKHLAS.

BAHAGIA HMI,

SELAMAT DIES NATALIS KE-79 TAHUN.

YAKIN USAHASAMPAI…!!!

 

======= TAMAT======

 

 

MANIFESTO JALAN SUNYI

(Antara Menjaga Nilai dan Kehilangan Arah)

 

Manifesto ini lahir dari satu kesadaran pahit:

HMI sedang berada di ambang kehilangan dirinya sendiri. Kemunduran bukan lagi kemungkinan, ia telah menjadi gejala nyata. Bukan karena HMI kekurangan kader, Melainkan karena terlalu banyak kader yang kehilangan keberanian moral.

Kami menyatakan dengan tegas: Ini bukan sekadar krisis organisasi, ini krisis nilai.

 

  1. PENOLAKAN TOTAL TERHADAP KEPALSUAN PERJUANGAN

 

  • Kami menolak perjuangan yang diukur dengan amplop.
  • Kami menolak kaderisasi yang hanya melahirkan loyalitas buta.
  • Kami menolak politik yang memiskinkan nurani dan memanjakan oportunisme.

 

Perjuangan yang tunduk pada materi, Bukanlah perjuangan ia adalah transaksi.

 

Jika berjuang harus menunggu bayaran, Maka lebih jujur menyebutnya pekerjaan, bukan pengabdian.

 

  1. PERLAWANAN TERHADAP HEDONISME DAN PATRONASE

 

Kami menyatakan perang terhadap budaya hedonisme yang merusak disiplin intelektual, spiritual, dan sosial kader.

 

Kami menolak:

 

Pesta setelah demonstrasi dengan Pesta mabuk, bare dan bagi amplop setelah mimbar perlawanan, Serta hubungan patron–klien yang mematikan kemandirian berpikir.

 

Tidak ada revolusi yang lahir Dari perut kenyang dan nurani mabuk. Senior yang menjinakkan kader demi kepentingan politik Bukan pendidik, Ia penjaga status quo.

 

  • KEBANGKITAN INSAN CITA SEBAGAI SUBJEK, BUKAN ALAT

 

Kami menuntut dikembalikannya makna Insan Cita, Insan Akademis yang berpikir kritis, bukan sekadar lulus cepat, Insan Pengabdi yang hidup di tengah rakyat, bukan di ruang elite.

Insan Cendekia yang berani melawan arus, bukan berenang demi aman.

 

Kader HMI bukan alat kekuasaan, Melainkan subjek sejarah. Jika HMI hanya melahirkan kader yang patuh, Maka HMI sedang menyiapkan generasi penurut, Bukan pemimpin.

 

  1. JALAN SUNYI SEBAGAI PILIHAN IDEOLOGIS

 

Kami sadar, jalan ini tidak ramai.

 

Tidak menjanjikan jabatan,

Tidak menjanjikan fasilitas,

Tidak menjanjikan keamanan,

Namun kami memilihnya, Lebih baik sendirian menjaga Nilai Dasar Perjuangan, Daripada ramai-ramai kehilangan arah.

Kami lebin baik memilih miskin secara materi Daripada kaya dengan kehinaan sejarah.

Kami lebih baik memilih dikucilkan Daripada diterima dengan syarat mengkhianati prinsip.

 

  1. SERUAN TERBUKA KEPADA KADER HMI

 

Wahai kader HMI Sehimpun Secita di seluruh Nusantara dari komisariat, cabang, badko, hingga pusat:

 

Berhentilah meminta izin untuk berpikir,

Berhentilah menunggu restu untuk bersikap,

Berhentilah menjadikan senior sebagai tuhan kecil.

 

HMI tidak butuh kader yang pandai menyesuaikan diri, HMI butuh kader yang berani menolak:

Menolak tunduk,

Menolak diam,

Menolak menjual Nilai Dasar Perjuangan HMI.

 

  1. PENUTUP: SEJARAH ATAU KENYAMANAN

 

Di usia yang ke-79 ini, HMI hanya punya dua pilihan, Menjadi organisasi besar yang mati perlahan Atau organisasi sadar yang hidup dalam perlawanan.

Manifesto ini bukan akhir, Melainkan garis pemisah. Siapa pun yang masih percaya bahwa:

 

Nilai Dasar Perjuangan lebih penting dari akses,

Integritas lebih mahal dari jabatan,

Dan keberanian lebih mulia dari kenyamanan, Maka jalan sunyi ini adalah rumahmu.

Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang aman Tetapi oleh mereka yang berani mengambil risiko demi kebenaran.

 

Kami tidak menjanjikan kemenangan cepat.

Kami hanya menjanjikan satu hal:

Jika HMI kembali pada AD-ART dan NILAI DASAR PERJUANGAN,  Maka ia akan kembali bermakna dan jika itu harus dimulai dari segelintir kader yang keras kepala menjaga nurani, Maka biarlah sejarah mencatat: Di saat banyak memilih tunduk, Masih ada yang memilih melawan.

 

ARDHI MORSSE, KAMIS 5 FEBRUARI 2026