Cerpen Sosial: “Tanggal Merah Tak Pernah Sampai”

Bagian 2: Perjuangan Satria dan Pembelaan Kepala Seksi

SIDIKPOST | “Tanggal merah belum pernah sampai. Tapi suara kami sudah mulai terdengar dan kadang, itu cukup untuk terus bertahan.”

Jumat itu hari kedua seharusnya hari libur nasional dan Cuti bersama. Di kantor-kantor pemerintahan, para pegawai ASN Menikmati liburan keluarga, baik itu di rumah maupun di tempat-tempat Wisata.

Advertisements

Tapi bagi SATRIA PERKASA dan rekan-rekan Timnya, sebagai ASN lapangan bagian ketertiban umum, libur hanyalah ilusi yang tidak pernah singgah ke tangannya.

Sejak pagi, ia dan rekan-rekan lapangan sudah berjibaku di Pasar Irigasi, sebuah wilayah kecamatan yang setiap hari hingga akhir pekan menjadi lautan pedagang kaki lima, kepadatan lalulintas, motor yang menyerobot trotoar hingga kemacetan tak berujung.

Pasar itu berdiri di pinggir kali irigasi, bersebelahan dengan proyek pelebaran jalan dan pengerukan drainase yang tengah berlangsung. Alat berat lalu-lalang, menggali dan memuntahkan tanah. Di sisi lain, pedagang tetap ngotot menggelar dagangan di bahu jalan.

“Kalau saya pindah dan minggir, dagangan saya tidak laku, Pak.”

“Kalau saya tertibkan dan di gusur, siapa yang ganti rugi rugi dagangan saya?”

Suara-suara pedagang itu bukan hanya keluhan, Mereka membawa beban hidup yang berat. Tapi di sisi lain, jalanan macet total, Mobil-mobil tak bergerak, klakson membentur udara seperti dentang kemarahan. Pengguna jalan meluapkan emosi:

“Mana petugasnya ini?, Jalan kayak begini dibiarkan saja!”

Padahal Satria dan Personil lapangan sudah berdiri sejak subuh, berteriak menertibkan, mengatur arus lalu lintas semampu mereka, tanpa bantuan dari DISHUB KOTA atau POLANTAS yang seharusnya menjadi TUGAS MEREKA namun TIDAK pernah terlihat di lokasi.

Di tengah tugas yang tak kunjung reda, menjelang siang dan sangatan matahari semakin tajam,

Satria dan beberapa personil lapangan duduk sebentar di pos kecil yang di bangun di atas jembatan irigasi. Seragam mereka masih basah oleh keringat, Napas tersengal. Mereka mengecek Handphone grup dinas, khawatir ada printah pimpinan yang belum terbaca, laporan belum terkirim atau ada pesan penting dari keluarga

Di tengah rehat itulah, seseorang diam-diam memotret mereka. Gambar itu disebar di media sosial dengan kata-kata Fitnah yang menyakitkan jauh dari kebenaran, namun pengguna jalan seolah-olah bertindak benar,

“Petugas cuma duduk-duduk, main HP, minum kopi, sedangkan Jalanan macet, mereka santai!”

“Di gaji dari uang rakyat, tapi tidak berguna, kerja semuanya tanpa melihat kondisi lingkungan.”

Fitnah yang keji, Tidak ada yang melihat mereka berpanas-panasan sejak pagi. Tidak ada yang tahu bahwa mereka bahkan tidak dapat jatah makan siang dari Intansinya. Yang dilihat hanya satu detik mereka duduk, lalu dijadikan bukti kemalasan.

Namun satria tetap berdiri. Meski hatinya remuk. Ia tahu, inilah konsekuensi menjadi petugas yang bekerja di tempat yang tidak dilihat kamera sebelum ribut terjadi.

Gambar Foto Personil lapangan yang sedang duduk itu tersebar cepat seperti api menyambar ilalang kering. Caption-nya tajam:

“Petugas hanya duduk santai saat jalanan macet parah. Beginikah kerja Pemerintah di lapangan?!”

Komentar membanjir, penuh caci maki. Tak ada yang peduli kalau mereka itu sudah berdiri sejak subuh. Tak ada yang tahu betapa mereka sudah bersitegang dengan pedagang, dimaki saat menertibkan, bahkan harus berdiri tepat di bawah terik matahari sambil mengatur lalu lintas.

Padahal yang lebih berwenang langsung menangani lalu lintas dan pengaturan parkir sembarangan di pinggir jalan merupakan TUGAS DISHUB KOTA dan POLANTAS, sedangkan mereka tidak pernah terlihat sekalipun batang hidungnya.

Jalanan macet parah karena irigasi dipersempit alat berat dan pedagang tetap memaksakan lapak di bahu jalan. Tapi yang difoto dan disalahkan, tetap Petugas lapangan berseragam khaki tua kehijau-hijauan itu.

===========

Bapak ANDI ABDULRROHMAN, Kepala Seksi Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat, Melihat Foto Personilnya yang Viral di media sosial langsung bereaksi. Ia segera mengumpulkan dokumen lapangan: daftar kehadiran, laporan pengamanan pagi, dokumentasi pembersihan pasar, serta notulensi interaksi dengan pedagang. Semua dibawanya ke meja Kepala Bidang dan Kepala Dinas Satuan.

Di hadapan Forum tertutup Rapat para pimpinan, ia bicara lantang:

“Saya keberatan jika Personil lapangan disalahkan sepihak! Mereka bekerja sejak sebelum matahari terbit. Apa para penuduh itu tahu, berapa lapis peluh yang jatuh di kaus dalam seragam mereka?”

“Kalau hari itu Dishub dan Polantas tak ada, bukan tanggung jawab mereka. Tapi demi kelancaran wilayah, personil lapangan kita tetap pasang badan. Mereka ditugaskan menertibkan, bukan mengatur arus kendaraan atau parkir.”

“Dan jangan kalian nilai kerja mereka dari satu foto saat istirahat! Apakah kalian pikir, mereka robot yang tak butuh jeda?”

Seluruh yang hadir di Rapat tertutup dari berberapa kepala seksi, kepala bidang juga dihadiri kepala dinas Satuan terdiam. Kepala Dinas Satuan hanya mengangguk pelan. Beberapa kepala bidang menunduk. Tak ada yang bisa membantah integritas Pak Andi serta keberanian Petugas ASN lapangan yang ia lindungi.

===============

Baca Juga   Wakapolres Kukar Hadiri Peresmian Patung Ir. Soekarno dan Ruang Terbuka Hijau Sangasanga

Keesokan harinya, Satria dipanggil ke ruang Pak Andi. Bukan untuk dihakimi, tapi untuk didengar,

“Jangan patah, Satria, Ini bukan pertama kalinya kita diserang karena kita bekerja.”

“Tapi Pak… kok rasanya kami selalu salah…”

“Karena kita yang kelihatan, yang diam di ruangan tidak akan pernah viral.”

Pak Andi memahami kondisi psikologi Personil lapangan, lalu menepuk bahunya,

“Tapi percayalah, Di antara seribu yang mencaci, akan ada satu dua orang yang melihat perjuangan kalian di lapangan dan itu cukup.”

===============

Setelah berita viral tentang petugas yang duduk santai, kembali muncul fitnah baru yang lebih licik, lebih berbahaya. Beberapa oknum ormas lokal dan ketua wilayah pasar irigasi mulai menyebarkan kabar:

“Petugas ketertiban lapangan melakukan pungli dari pedagang, Mereka minta setoran harian dengan dalih jaga keamanan.”

Berita itu dikirim lewat pesan WhatsApp, lalu dibumbui di grup-grup warga, bahkan dikirimkan ke Kepala Dinas Satuan. Tiba-tiba, Satria dan Personil lapangan lainnya dianggap pemeras berseragam.

Namun melihat fitnah keji tersebut, satria tidak tinggal diam,

Satria datang ke kantor dengan map tebal. Ia membawa Dokumentasi pengamanan harian dengan waktu dan lokasi yang berisi;

Rekaman percakapan dari pedagang yang mengeluh soal pungli justru dari oknum ormas dan ketua wilayah, bukan dari Petugas lapangan,

Video pendek berisi pernyataan pedagang ketika salah satu anggota ormas meminta Iuaran harian kepada pedagang-pedagang yang berada di pinggir jalan irigasi dengan dalih “Untuk keamanan lapak.”

Ia serahkan semua data itu kepada Pak Andi, kepala seksi-nya,

“Saya tahu ini bisa berisiko, Pak. Tapi kalau saya diam, nama kami dan Intansi habis.”

Pak Andi langsung bertindak. Ia hadir dalam rapat evaluasi internal dinas dan meminta agenda khusus,

“Saya ingin menyampaikan keberatan atas fitnah kepada anggota lapangan saya.”

Ia keluarkan satu per satu bukti yang dibawa Satria,

“Yang dituduh memeras, Yang difitnah pungli, justru menyelamatkan marwah institusi ini.”

“Fitnah ini bukan hanya menghancurkan nama baik pribadi tapi juga nama baik kita sebagai ASN. Jika pimpinan diam, besok seluruh lapangan akan lumpuh karena rasa takut.”

Sunyi. Tidak ada yang membalas. Bukti terlalu kuat. Data terlalu rapi dan keberanian Satria bersama Personil lapangan terlalu nyata untuk diabaikan.

Beberapa waktu kemudian, ormas yang terlibat mulai diselidiki. Ketua wilayah yang menyebar fitnah diminta klarifikasi resmi. Rapat evaluasi berikutnya ditutup dengan kalimat dari Kepala Dinas Satuan:

“Kami berutang integritas kepada ASN lapangan seperti Satria dan Personil lapangan lainnya. Jangan sampai kita membiarkan mereka jadi tumbal politik lokal.”

Siang itu, di pos penjagaan Pasar Irigasi, Satria duduk menghadap jalan yang mulai lengang. Ia tak mencari pujian. Tapi hari itu ia tahu—kejujuran mungkin sering kalah di awal, tapi tidak pernah sepenuhnya kalah.

Di ponselnya masuk pesan dari Pak Andi Kepala Seksinya:

“Tetaplah jujur , berani menyampaikan kebenaran dan Jaga Integritas sebagai petugas lapangan Satria. Dunia mungkin tidak selalu adil. Tapi sejarah akan mencatat siapa yang pernah berdiri.”

Baca Juga   Strong Point Satlantas Kukar: Dari Sekolah Sampai Simpang Ramai, Polisi Siaga!

=====================

Setelah fitnah dari luar mulai mereda, badai justru datang dari dalam lingkup internal sendiri. Di balik tembok kantor berpendingin, bisik-bisik mulai terdengar.

“Itu Satria dan Personil lapangan kebanyakan ribut, Baru kerja dikit, sudah teriak minta keadilan.”

“Libur Tanggal merah dan Cuti bersama saja ngeluh. Kalau gak tahan, ya pindah aja.”

“Kita juga kerja, kok mereka merasa paling menderita?”

Suasana kantor hari itu memanas diam-diam.

Beberapa staf bahkan secara terang-terangan memandang sinis saat Personil lapangan menyapa mengantar dokumentasi. Tidak ada ucapan terima kasih, apalagi dukungan.

Padahal dokumentasi lapangan yang dikumpulkan Satria dan timnya setiap hari merupakan bahan utama laporan kinerja dinas, yang digunakan untuk:

-Menyusun laporan bulanan seluruh Personil dalam bidang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.

-Menjadi lampiran wajib tunjangan kinerja pegawai.

-Digunakan sebagai bukti fisik realisasi kegiatan dinas.

Tanpa Personil lapangan, tidak akan ada laporan foto, tidak ada rekap kegiatan, tidak ada justifikasi tunjangan.

Pak Andi sebagai kepala seksi, menyadari tensi semakin tinggi, memanggil rapat internal. Ia berdiri di depan staf kantor dan Personil lapangan.

Suaranya dalam dan tajam, tanpa meninggikan nada:

“Saya mendengar, ada yang tidak senang karena personil lapangan menuntut keadilan soal libur. Ada yang bilang mereka terlalu banyak bicara. Bahkan ada yang mulai memusuhi.”

Ia diam sejenak, lalu menatap satu per satu para staf yang termasuk dalam bidang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat,

“Saya justru heran. Bukannya kalian berterima kasih kepada mereka Personil lapangan?”

“Setiap kali kalian menikmati libur panjang, siapa yang kalian andalkan untuk mengambil dokumentasi kegiatan? Siapa yang foto lapangan untuk laporan bulanan? Siapa yang membuat kalian tetap punya dasar laporan kinerja sehari-hari hingga dapat tunjangan tambahan di akhir bulan?”

“Kalian enak tidur di rumah atau jalan-jalan wisata keluarga disaat tanggal merah. Mereka personil di lapangan, kejar-kejaran dengan pedagang, di hujat dan di maki-maki dari pengguna jalan. Tapi saat ini, malah kalian yang menggonggong. Saya bilang terus terang: Mereka bukan musuh kalian, Mereka penopang kerja kalian.”

“Yang harusnya kalian itu berterimakasih kepada mereka, bukan dendam dan caci maki bahkan bikin Opini yang menyudutkan. Jangan jadi seperti Ular yang selamtkan dari bahaya, setelah selematkan kalian malah mengigit dengan bisa.”

Ruangan rapat hening. Tak ada yang membalas. Karena tak ada yang bisa menyangkal kebenaran itu.

Usai rapat, suasana perlahan berubah. Tidak semua langsung luluh, tapi ada yang mulai sadar. Mulai menyapa Personil lapangan dengan hormat atau sekadar tidak lagi sinis saat Personil lapangan masuk membawa laporan.

Dan bagi Satria serta Personil lapangan lainnya, yang terpenting bukanlah ucapan maaf, tapi pengakuan bahwa apa yang mereka kerjakan meski kotor, panas, caci maki, fitnah hingga penuh resiko yang terus mengancam merupakan bagian penting dari roda pelayanan negara.

“Kami bukan mencari pujian. Kami hanya ingin diperlakukan adil. Karena kami juga manusia. Kami juga ASN. Kami juga bagian dari dinas ini.”

Beberapa hari setelah rapat tegas dari Kepala Seksi, suasana sedikit mereda. *Tapi di balik meja kantor yang dingin, masih ada yang menganggap petugas lapangan seperti Satria merupakan pegawai kelas dua. Mereka lupa: tugas lapangan tidak hanya butuh tenaga, tapi bertaruh nyawa.

Pada minggu berikutnya, Satria dan Personil lapangan kembali bertugas di pasar dekat irigasi. Hari itu lebih parah. Jalan makin sempit karena alat berat parkir sembarangan, pedagang tumpah ke badan jalan dan satu mobil hampir terguling karena menghindari pejalan kaki.

Dishub pernah tidak datang. Polantas entah ke mana dan seperti biasa, Satria dan rekan-rekannya yang harus menanggung amarah pengendara, makian pedagang dan tatapan curiga warga. Tapi mereka tetap berdiri. Tetap bekerja.

Saat malam menjelang, mengecek laporan lapangan yang dikirim ke grup dinas, salah satu staf membalas:

“Terima kasih untuk dokumentasinya. Ini bisa kami pakai untuk laporan harian di aplikasi untuk bulan ini.”

Itu sederhana. Tapi buat Satria dan Personil lapangan merupakan embun di tengah gurun. Akhirnya, ada juga yang sadar.

Pada rapat koordinasi bulanan dinas yang dihadiri kepala bidang, perwakilan staf dan tim lapangan, Pak ANDI ABDULRROHMAN meminta waktu bicara lima menit. Tapi yang ia sampaikan membekas seumur hidup,

“Saya ingin menyampaikan satu hal: kita sering membedakan pegawai berdasar posisi, bukan kontribusi.”

“Personil lapangan, seperti Satria dan Timnya, sering difitnah, di caci maki, di tekan, di ancam bahkan sering dilupakan. Tapi tanpa mereka, kita semua tak akan punya bahan laporan harian dan bulanan. Tanpa mereka, kita tak bisa tunjukkan hasil kerja ke publik. Tanpa mereka, sistem tak akan hidup.”

“Sudah saatnya kita berhenti memandang remeh mereka yang bekerja dengan kaki dan wajah berdebu, Karena mereka yang kalian pandang rendah itulah, yang membuat institusi ini tetap berjalan.”

Seluruh isi ruangan diam. Beberapa kepala bidang mulai mengangguk dan yang lainnya, menunduk.

Baca Juga   Cegah Penyalahgunaan, Propam Periksa Senjata Api Personel Pengamanan Bank

==============

Penutup: Tanggal Merah Masih Belum Sampai

Hari itu, Satria pulang agak larut. Ia masih belum tahu apakah keadilan bisa benar-benar datang. Tapi setidaknya, ia tahu: kebenaran sudah mulai bicara.

Di meja kayunya, ia menulis di buku catatan kecilnya:

“Tanggal merah belum pernah sampai. Tapi suara kami sudah mulai terdengar Dan kadang, itu cukup untuk terus bertahan.”

SERTA PUISI :

“Secangkir Hitam, Seteguk Perlawanan”

Di pinggir jalan berdebu dan gaduh, Kami duduk tanpa sorotan lampu gedung, Segelas kopi hitam mengepul di tangan, Lebih jujur dari laporan untuk mendapatkan tunjangan —lebih hangat dari jabatan.

Kopi ini pahit, tapi tidak memaksa manis. Seperti hidup kami: tak selalu indah tapi tetap tulus dinikmati. Setiap tegukan adalah kisah: Tentang dicaci karena kerja, Tentang dituduh saat berjuang, Tentang difitnah oleh yang tak paham medan perang.

Kami tidak bicara banyak, Karena perjuangan yang tulus tidak butuh sorakan. Kami tidak memakai dasi, Tapi kami ikat kehormatan di hati.

Kepala Seksi, beliau bukan hanya atasan, Ia saudara di tengah badai penindasan. Ia tidak sekadar menyuruh, Ia berdiri di sisi, menanggung caci yang tak seharusnya.

Secangkir kopi hitam ini jadi saksi, Bahwa kami bukan ASN tanpa nama, Kami adalah jiwa yang bertugas bukan untuk dipuja, Tapi untuk menjaga: Ketertiban yang nyata, ketenteraman dan keamanan yang sering dilupa.

Jangan ajari kami tentang arti pengabdian, Sebab pahitnya kopi ini telah kami reguk lebih dulu—Dan tetap kami nikmati. Bukan karena nikmatnya, Tapi karena dalam pahit itulah kejujuran tinggal.

TAMAT

Menikmati Secangkir Kopi hitam di Pagi hari, Salam Hormat Para Pembaca yang Sedang Berjuang untuk Negeri. ARDHI MORSSE, Sabtu, 31 Mei 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *