Pengajian Rutin DI RTH kalijodo sebagai ajang jalin silaturrahmi dan belajar Ilmu Agama.

SIDIKPOST| Jakarta barat, Pengajian rutin diadakan guna sebagai sarana untuk meningkatkan iman dan begitu juga gelaran pengajian yang di adakan di RTH kali jodoh, Kamis ( 7/1/2019).

Pengajian rutin yang di gelar sebulan dua kali DI RTH Kalijodo ini dapat meningkatkan kesimbangan dalam kehidupan,RTH kalijodo sebagai tempat menimba ilmu agama.

Kegiatan pengajaian di bulan pertama febuari 2019 di ikuti sekitar 200 orang, ibu -ibu pelangi kalijodo.

Kali ini ustad yang mengisi pengajian rutin ini adalah H. khalid Karim.
Dalam ceramah nya ustad H.Khalid karim menyikapi tentang pentingnya iman dan menjaga silaturrahmi.

Senada dengan ustad khalid karim, daenk jamal selaku inisiator pengajian rutin di RTH kalijodo tersebut , mengatakan bahwa pengajian ini sebagai penyeimbang Di RTH kalijodo ini, Selain sebagai sarana hiburan dan kuliner RTH kalijodo juga sebagai tempat bersilaturrahmi dengan pagelaran pengajian rutin di setiap malam jum,at.

Lanjut daenk Jamal, Keseimbangan dalam kehidupan itu perlu, Di RTH kali jodo kita bisa menjalin tali silaturrahmi dan tempat mendapatkan ilmu agama.

“Kami juga mengajak warga di sekiling kali jodoh maupun warga di jakarta mari datang di setiap kamis malam jum,at di minggu pertama dan ketiga agar mau datang ke kalijodo” kata daenk jamal.

Masih di katakanya, Di RTH kali jodo bisa di jadikan tempat menempa ilmu ,karena selain pengajian di malam jum,at tersebut ada para penceramah yang selalu mengisi di setiap kegiatan tersebut.

” Belajar ilmu agama di mana saja, Bukan hanya di sekolah formal, Tetapi di Majlis -majlis dan salah satu DI RTH kali jodo bisa di jadikan tempat belajar ilmu agama juga” pangkas daenk Jamal. ( Red).

RTH Kalijodo Gelar Pengajian yang Ke Dua di Bulan Januari 2019

SIDIKPOST.COM| JAKARTA , di Minggu ketiga, pengajian jama’ah pelangi Kalijodo, digelar ,rutinitas kembali diadakan Oleh ketua Garda Bintang Timur, Daeng Jamal, Kamis 31/01,

Pengajian yang kembali diadakan di aula Kalijodo itu dimulai habis Maghrib, di seputar aula

Menurut. Daeng Jamal ini, pengajian rutinitas setiap bulan, akan menjadi rutinitas tambahan di RTH,
Yang akan dihadiri oeh seluruh masyarakat wilayah sekitar Kalijodo.

Siraman Rohani perdana ke dua dibuka dengan shalat Maghrib berjamaah serta shalat isya kemudian akan diadakan pengajian bersama, seperti tahlil , doa bersama yang dimana pengajian ini di pimpin oleh ustadz dan ustadzah , wilayah setempat,dalam memimpin doa

selain doa bersama, Siraman Rohani akan disampaikan oleh ustadz dan ustadzah untuk membuat jama’ah yang hadir dapat pelajaran pelajaran penting dalam menitih hidup

Di dalam pengajian terdapat manfaat yang begitu besar positifnya, didalam pengajian-pengajian manfaat yang dapat diambinya menambah dari salah satu orang yang biasa berbuat negatif dengan memanfaatkannya menjadi positif. Hal seperti ini pada masyarakat muslim pada umumnya dapat memanfatkan pengajian untuk mengubah diri atau memperbaiki diri dari perbuatan yang keji dan mungkar. Ucapnya.

Baca juga : RTH Kalijodo Gelar pengajian Rutin Malam Jum,at Sebulan Dua Kali

Dalam pengajian ke dua di Minggu ke tiga ini ustadzah. Erni mengangkat ceramah dengan tema istri Soleha

Sebaris kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat  yaitu wanita shalihah. Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seseorang yang mendambakan keluarga sakinah mawadah wa rahmah yang diridhai oleh Allah  ‘Azza wa jalla 

Ia menceritakan pengalamannya:

“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati: Aku telah menikah dengan seorang wanita Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat wanita-wanita bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata (dalam hati): “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”

Kemudian datanglah wanita-wanita bani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendaklah si suami shalat dua rakaat dan si istri juga shalat dua rakaat.”

Akupun bangkit mengerjakan shalat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut shalat di belakangku. Seusai shalat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.

Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”

Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni musibah telah menimpa dirinya)

Lalu ia memuji Allah kemudian memanjatkan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak pernah melangkah kecuali kepada perkara yang diridhai Allah. Dan engkau adalah lelaki asing, aku tidak mengenali perilakumu (yakni aku belum mengenal tabiatmu).

Beritahulah kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”

Aku berkata kepadanya, “Aku suka begini dan begini (Syuraih menyebutkan satu persatu perkataan, perbuatan, makanan dan segala sesuatu yang disukainya) dan aku benci begini dan begini (Syuraih menyebutkan semua perkara yang ia benci).”

Ia berkata lagi, “Beritahukan kepadaku siapa saja anggota keluargaku yang engkau suka bila ia mengunjungimu?”

Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”

Maka akupun melewati malam yang paling indah, dan aku tidur tiga malam bersamanya. Kemudian aku keluar menuju majelis qadha’, dan aku tidak melewati satu hari melainkan hari itu lebih baik daripada hari sebelumnya.

Tibalah waktu kunjungan mertua.

Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).

Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.

Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”

Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”

“Marhaban”, sahutku.

Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”

“Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.

“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.

Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.” ( Red).