Polsek Muara Muntai Ungkap Kasus Narkotika, Tiga Pria Diamankan di Desa Perian

SIDIKPOST| Kukar – Jajaran Unit Reskrim Polsek Muara Muntai berhasil mengungkap tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran narkotika jenis sabu di wilayah Desa Perian, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Pengungkapan kasus tersebut dilakukan pada Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 04.00 Wita di barak Divisi 1 Cendana PT JMS, Desa Perian. Operasi ini merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat yang menyebutkan adanya aktivitas transaksi dan penyalahgunaan narkotika di wilayah tersebut.

Kapolsek Muara Muntai, IPTU Jaelani, menjelaskan bahwa setelah melakukan penyelidikan, petugas langsung melakukan penggerebekan di lokasi yang dicurigai.

“Pada saat penggerebekan, petugas mendapati tiga orang pria yang sedang menggunakan narkotika jenis sabu. Selanjutnya dilakukan pengamanan dan penggeledahan di lokasi,” tegas IPTU Jaelani.

Tiga tersangka yang diamankan masing-masing berinisial J (24), S (25), dan A (23). Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan barang bukti berupa satu bungkus plastik bening berisi kristal putih diduga sabu dengan berat bruto 1,75 gram, satu pipet kaca berisi sabu dengan berat bruto 3,70 gram, serta sejumlah alat isap.

Selain itu, polisi juga mengamankan uang tunai sebesar Rp500.000 yang diduga hasil penjualan, satu unit telepon genggam, serta satu unit sepeda motor yang digunakan para tersangka.

Seluruh tersangka beserta barang bukti telah diamankan ke Mapolsek Muara Muntai untuk proses hukum lebih lanjut. Penyidik juga telah membuat laporan polisi, memeriksa saksi-saksi, serta melakukan penyitaan barang bukti.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (1) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman pidana penjara yang berat.

Kapolsek menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberi ruang bagi peredaran narkotika di wilayah hukumnya.

“Kami berkomitmen memberantas peredaran narkoba hingga ke akar-akarnya. Peran serta masyarakat sangat kami harapkan untuk melaporkan setiap aktivitas mencurigakan,” tegasnya.

Polsek Muara Muntai memastikan penindakan terhadap tindak pidana narkotika akan terus dilakukan secara konsisten demi menjaga generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba. (*)

Sat Samapta Polres Kutai Kartanegara Intensifkan Patroli Humanis di Pasar Ramadhan

SIDIKPOST| Kukar – Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama bulan suci Ramadhan, Satuan Samapta Polres Kutai Kartanegara melaksanakan patroli dan pengamanan di sejumlah titik keramaian, Kamis (19/2/2026) sore.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 17.30 Wita tersebut difokuskan di kawasan Pasar Ramadhan Tangga Arung Square, yang menjadi pusat aktivitas masyarakat menjelang waktu berbuka puasa.

Sejumlah personel Sat Samapta diterjunkan untuk melakukan patroli dialogis sekaligus memberikan imbauan kamtibmas kepada para pedagang dan pengunjung. Petugas menyampaikan pesan agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap potensi tindak kejahatan, khususnya pencurian kendaraan maupun barang berharga di area parkir.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk memastikan kendaraan dalam keadaan terkunci saat ditinggalkan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap orang-orang yang mencurigakan. Apabila terjadi gangguan keamanan, warga diminta segera melapor melalui Call Center 110 atau ke kantor polisi terdekat.

Tak hanya berpatroli, personel Sat Samapta juga melakukan koordinasi dengan tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat setempat guna memantau perkembangan situasi keamanan di lingkungan sekitar.

Kasat Samapta Polres Kutai Kartanegara AKP Nursan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya dalam momentum Ramadhan yang identik dengan meningkatnya aktivitas warga di ruang publik.

“Kami ingin memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dan aktivitas Ramadhan dengan rasa aman dan nyaman. Kehadiran anggota di lapangan juga untuk memberikan rasa tenang serta mencegah potensi gangguan kamtibmas,” ujarnya.

Patroli serupa akan terus dilaksanakan secara rutin di berbagai titik keramaian di wilayah hukum Polres Kutai Kartanegara guna menjaga stabilitas keamanan selama bulan suci Ramadhan. (*)

Kisah Rohani Tiga Petugas Lapangan “Doa Dari Posko” (Tarawih Di Tengah Ketidakadilan)

Prolog : Doa dari Posko, Tarawih di Tengah Ketidakadilan

 

Bulan Ramadhan selalu datang dengan wajah yang lembut dan penuh kemeriahan, hadir membawa janji keberkahan, mengajarkan kesabaran, menumbuhkan empati dan menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga umat muslim. Di bulan ini, orang-orang berharap meja makan terisi, hati menjadi tenang dan doa-doa melangit tanpa beban.

Akan tetapi, tidak semua Awal Ramadhan datang dengan kehangatan dan kebahagiaan yang sama.

Di sudut-sudut kota madya yang juga di sebut kota industri, ada posko kecil yang nyaris tidak terlihat. Di dalamnya, para pegawai lapangan menjalani tugas negara dengan gaji yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup. Wajah-wajah mereka yang sering luput dari perhatian, meski setiap hari menjaga ketertiban, ketentraman serta pelayanan masyarakat.

“Doa dari Posko” merupakan sebuah Cerita yang lahir dari kenyataan itu. Kisah ini tidak sekadar bercerita tentang tiga orang ASN lapangan seperti Bhumi, Defan, dan Mamat yang berbincang di sela lelahnya tugas. Ia menjadi refleksi sosial tentang ketimpangan, tentang kebijakan yang terasa jauh dari keadilan dan juga tentang bagaimana Ramadhan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjadi bulan penuh kegelisahan dan keprihatinan bagi sebagian orang.

Di dalam ruang posko sederhana, dengan kopi hitam dan rokok murahan, mereka berbicara tentang hidup, tentang utang, tentang martabat, tentang geopolitik dan geoekonomi yang terasa begitu jauh dari keseharian, tetapi justru menentukan nasib mereka. Percakapan mereka bukan sekadar keluhan, tetapi juga doa. Doa yang jujur dan lahir dari hati yang lelah namun tetap beriman.

Kisah ini ingin mengingatkan bahwa keadilan sosial bukan hanya konsep dalam buku undang-undang atau pidato-pidato pejabat. Ia merupakan kenyataan yang harus dirasakan oleh mereka yang berada di lapisan paling bawah dari struktur pemerintahan.

Sebab Pemerintahan yang kuat bukan hanya kaya secara ekonomi, tetapi juga mampu memastikan rakyat kecilnya hidup dengan layak dan bermartabat.

Melalui kisah cerita ini, penulis tidak bermaksud menyudutkan siapa pun. Kisah ini hanyalah cermin dan sebuah ajakan untuk melihat lebih dalam, untuk mendengar suara-suara yang selama ini tenggelam dalam hiruk-pikuk pembangunan.

Semoga kisah cerita “Doa dari Posko” dapat menjadi pengingat bahwa di balik seragam dinas lapangan yang sederhana, ada keluarga yang menunggu. Di balik tugas yang berat, ada hati yang berharap dan di balik ketidakadilan, selalu ada doa yang tidak pernah berhenti naik ke langit. Karena mungkin, di ruangan kecil posko itulah, doa-doa paling jujur sedang dipanjatkan.

 

Tiga Sahabat Di Malam Pertama Ramadhan

Malam pertama Ramadhan telah tiba secara perlahan di sebuah kota industri, salah satu wilayah penyangga Ibu Kota. Lampu-lampu jalan memerangi kendaraan yang melintas dan memadati lalulintas, bekas terik siang yang panjang. Suara kendaraan tidak pernah berkurang, hingga menyatu dengan bunyi beduk dan suara adzan tarawih dari masjid kecil di dekat lapangan.

Di ruangan posko sederhana, berdinding kusam dan penuh retakan, tiga pegawai ASN lapangan duduk melingkar di bangku yang mulai lapuk. Seragam lapangan mereka masih berdebu dan Sepatu penuh tanah. Wajah mereka terlihat lelah, tapi matanya masih menyala oleh kegelisahan.

Bhumi, Defan dan Mamat, mereka bertiga merupakan ASN lapangan golongan rendah yang sehari-hari menjaga ketertiban dan ketentraman kota madya. Di atas meja kayu hanya ada dua gelas kopi hitam, satu bungkus roti bakar dan rokok murahan tanpa label cukai yang mereka beli secara patungan.

Bhumi membuka bungkus rokok murahan itu. Ia mengambilnya dengan hati-hati.

“Biar nggak patah,” katanya pelan, “Tiga orang, satu satu bungkus, Kaya negara kita, ya… rakyatnya sangat banyak, tapi yang kenyang Cumasegelintir orang.”

Defan mengambil satu batang sambil tersenyum pahit, “Di Negara ini, Kita bukan kekurangan uang, Bhumi. Hanya kekurangan keadilan.”

Mamat yang sejak tadi diam, menatap rokok murah di tangannya, “Gaji hanya segini… Ramadhan pula… Anak dan istri tadi bertanya, ‘Ayah, besok sahurnya pakai ayam gorengan, kan?’”

Ia tertawa Kecut terhadap sebuah kenyataan, tapi matanya berkaca-kaca dengan tangan gemetar, “Gue jawab aja, ‘Insya Allah ya nak, doain ayah ada rezeki,’ Padahal gue sendiri nggak tahu.”

Ruang Pos itu kembali Sunyi…Hanya suara kipas angin kecil yang berdecit dan tidak beraturan.

Bhumi menyandarkan punggungnya ke kursinya, “Tau nggak kalian,” katanya pelan, “Imam Ali pernah bilang, ‘Jika kemiskinan itu manusia, niscaya aku akan membunuhnya.’”

Defan pun mengangguk pelan lalu berkata, “Itu kalimat yang keras. Tapi jujur, Karena kemiskinan bukan hanya sekadar masalag ekonomi, tapi Ia merampas martabat.”

Sambil menghisap rokok, Mamat memandang tangan kasarnya lalu berkata lirih, “Martabat… kata yang mahal buat orang Seperti kita ini.”

Bhumi menatap langit-langit seng ruangan, “Negara atau pemerintah seharusnya menjadi pelindung, Tapi kadang… negara atau pemerintah terasa seperti atasan yang Cuma ingin laporan, tapi nggak tahu isi perut apalagi kesejahteraan pegawai rendahannya.”

Defan, yang dikenal paling banyak membaca, Ia kembali menyalakan rokoknya, “Kalian tahu nggak, kota madya kita ini merupakan wilayah penyangga ibu kota. Sudah mulai Investor baik lokal maupun luar negeri banyak masuk dan awasan industri berkembang pesat dampaknya Pajak masuk semakin besar dan peluang Retribusi lainya juga sama.”

Mamat pun kembali mengangguk, lalu berkata, “Pabrik ada di mana-mana dan Truk-truk besar setiap hari lewat depan rumah dan memenuhi jalan raya.”

Lalu Defan melanjutkan, “Itu namanya geoekonomi mat, Wilayah yang punya nilai ekonomi strategis akan jadi pusat kepentingan mulai dari Investor, pengusaha, pejabat, semua berkumpul di situ.”

Lalu Bhumi menyela, “Terus kita ini fungsinya apa ya di antara mereka?”

Defan terlihat diam sambil tersenyum getir dan berkata pelan, “Kita ini… hanya penjaga mesin. Tapi tidak termasuk dalam bagian dari hasilnya.”

Ia mengutip buku KAPITAL perlahan, “Seperti kata Karl Marx, ‘Pekerja menciptakan kekayaan, tapi tetap miskin karena sistem yang tidak adil bahkan lebih menindas kelas bawah.’”

Mamat menghela napas panjang, “Apakah kita juga termasuk menjadi korban sistem?”

Bhumi menatap Mamat dan menggeleng, “Bukan korban tapi Kita ini saksi, Saksi bahwa keadilan itu belum turun ke jalan masih berada di ruangan yang nyaman.”

 

Ramadhan Tidak Seperti Doa

Kumandang Adzan Isya terdengar dari kejauhan, Suaranya samar, tertutup bising kendaraan yang memadati jalan.

Mamat menatap ke masjid deket lapangan, “Dahulu waktu kecil, Menyambut Malam Ramadhan pertama itu paling indah. Rumah sederhana, tapi ibu selalu masak menu istimewa mulai dari ayam goreng, tempe, sayur dan sambal goreng serta nggak pernah merasa miskin.”

Defan pun tersenyum sambil berkata, “Karena waktu itu, kita miskin bersama-sama dan Sekarang, kesenjangan terlalu jauh. Bagi Orang kaya menjalani puasa dengan meramaikan hotel dan restoran, sedangkan kita menjalani puasa di jalan dan di posko.”

Bhumi pun berkata pelan, “Ramadhan itu bukan Cuma soal ibadah, Tetapi juga soal keadilan sosial. Nabi Muhammad pernah bersabda, ‘Tidak beriman seseorang yang tidur kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar.’”

Mamat mengangguk sambil berkata pelan, “Kalau begitu, kota madya ini pemimpinya sedang diuji.”

Defan mengaduk kopi yang masih panas, “Setiap apel, kita disuruh disiplin, sabar, ikhlas dan kerja keras. tetapi semua itu bukan solusi struktural apalagi memenuhi kebutuhan.”

Bhumi pun mengangguk, “Sabar dan ikhlas itu sikap pribadi, Tapi keadilan itu tanggung jawab Para pemimpin atau yang duduk di pusat pemerintahan.”

Mamat menatap kedua sahabatnya, “Menurut kalian, ikhlas bisa bayar kontrakan apa nggak?”

Ruangan kembali Sunyi dan hening…tidak ada yang menjawab.

Akhirnya Bhumi menjawab pelan, “Umar bin Khattab pernah berkata, ‘Jika seekor keledai mati kelaparan di tepi sungai Efrat, aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku.’”

Lalu Defan melanjutkan, “Itu baru pemimpin yang takut pada penderitaan rakyatnya.”

Mamat kembali tersenyum pahit, “Kalau pemimpin kita takut, mungkin nasib kita nggak begini.”

Angin malam berhembus lewat celah posko, lalu Mamat berkata pelan, “Gue sekarang punya tiga pinjaman, Satu koperasi, satu bank, satu pinjol. Semua Pinjaman untuk memenuhi kebutuhan hidup.”

Defan pun kembali mengangguk, “Utang itu bukan Cuma soal uang, Tapi menggerogoti harga diri.”

Bhumi menatap temannya dengan sendu, “Makanya banyak pegawai akhirnya nekat, mulai dari Pungli, korupsi kecil, manipulasi. Bukan karena mereka jahat, Tapi karena sistem membuat kita putus asa.”

Defan mengutip salah satu buku filsuf Prancis, Jean-Jacques Rousseau, “Manusia lahir bebas, tetapi di mana-mana ia terbelenggu.”

Mamat tertawa kecil, “Kalau kita, lahir miskin, kerja keras, tetap miskin maka Belenggu dan tekananya dobel.”

Tiba-tiba listrik di posko mati dan Lampu padam, Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela kecil.

Sambil menghisap rokok, Bhumi berkata, “Ramadhan tahun ini bukan tentang kenyang, Tapi tentang cahaya.”

Defan lalu menatap ke luar, “Cahaya itu bisa datang dari kesadaran dan kita tidak sendirian.”

Mamat mengangguk, “Kita bertiga di sini, minimal masih bisa ketawa bareng walaupun pikiran kita penuh tekanan.”

Bhumi kembali tersenyum, “Dan selama kita masih punya iman, kita belum kalah.‘Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.’ (QS. Al-Insyirah: 6)”

 

Prolog

Malam pertama Ramadhan terus bergulir, seperti waktu yang tidak pernah menunggu siapa pun. Lampu-lampu kota tetap menyala, kendaraan masih memadati jalan berlalu-lalang dan gedung-gedung tinggi berdiri angkuh seakan tidak pernah peduli pada kisah kecil yang terjadi di sudut-sudutnya.

Di ruangan kecil posko sederhana itu, Bhumi, Defan, dan Mamat hanyalah tiga nama dari sekian banyak wajah yang menjalani hidup dalam keterbatasan. Mereka bukanlah tokoh politik besar, bukan pejabat eselon, bukan pengusaha dan bukan orang-orang yang suaranya sering terdengar di ruang rapat. Mereka hanyalah aparatur kecil yang menjaga kota agar tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Namun dari posko itulah, lahir percakapan yang jujur, Tentang gaji yang tidak pernah mencukupi kebutuhan, tentang utang yang menumpuk, tentang anak-anak yang menunggu sahur, tentang sabar dan ikhlas yang sering kali terasa lebih berat daripada beban kerja itu sendiri.

Di atas semua itu, mereka masih menyisakan satu hal: doa. Doa yang sederhana, tanpa kata-kata rumit yang tidak meminta kekayaan berlimpah, hanya memohon hidup yang layak dan sedikit keadilan.

Ramadhan tahun ini mengajarkan bahwa lapar bukan hanya milik orang miskin, tetapi juga pelajaran bagi yang berkuasa. Bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan menahan keserakahan, menahan ketidakpedulian dan juga menahan diri dari kebijakan yang menyakiti orang kecil.

Kisah ini tidak berakhir dengan perubahan besar karena  Tidak ada keputusan politik yang langsung memutarbalikan keadaan. Karena tidak ada pemimpin yang tiba-tiba datang membawa solusi.

Posko kecil itu tetap sederhana, gaji mereka tetap kecil, dan kehidupan tetap berjalan apa adanya. Namun ada satu hal yang tidak berubah: harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, doa-doa dari posko kecil itu akan sampai ke hati para pemimpin. Harapan bahwa keadilan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir dalam keputusan dan kebijakan. Serta Harapan bahwa anak-anak mereka tidak perlu mewarisi kesulitan yang sama.

Hingga pada akhirnya, sejarah tidak hanya ditulis oleh orang-orang besar, tetapi juga oleh doa-doa kecil yang dipanjatkan dalam kesunyian, di malam pertama Ramadhan, Mereka bertiga berdiri lalu Menggelar sajadah tipis yang sudah lusuh. Mereka melaksanakan Shalat tarawih di ruangan kecil, tanpa imam masjid, tanpa pengeras suara, tanpa karpet empuk. Hanya tiga lelaki, tiga hatindan tiga doa yang hampir sama, “Agar Ramadhan berikutnya, anak-anak mereka tidak perlu bertanya, ‘Pak, besok sahurnya pakai apa?’”

Setelah salam terakhir, Bhumi pun berdoa pelan, “Ya Allah, jika kami tidak bisa kaya, setidaknya jangan biarkan kami kehilangan harga diri. Dan jika pemimpin kami lupa, ingatkan mereka dengan cara-Mu, serta jangan biarkan anak-anak kami mewarisi kemiskinan yang sama.”

Di dinding posko, Bhumi menulis dengan spidol merah,

“Negara yang kuat bukan yang paling tinggi gedungnya, Tapi yang paling sedikit tangisan rakyat kecilnya.”

“Keadilan sosial bukan hadiah dari pemimpin, Tapi hak yang harus diperjuangkan rakyat.”

“Kami bukan minta kaya, Kami hanya ingin hidup layak.”

Malam pertama bulan Ramadhan Posko sederhana tetap sunyi, Namun di dalamnya, masih ada iman, persahabatan dan harapan. kadang, harapan merupakan satu-satunya kemewahan yang dimiliki orang-orang kecil.

 

=====BERSAMBUNG=====

 

ARDHI MORSS, RABU 18 FEBRUARI 2026

Toyota Alphard Jadi Kendaraan Sabu, Polres Metro Tangerang Kota Gagalkan 25 Kg Narkoba

SIDIKPOST| TANGERANG, – Polres Metro Tangerang Kota, Polda Metro Jaya membongkar peredaran narkotika jenis sabu seberat 25 kilogram yang diduga kuat merupakan bagian dari jaringan internasional.

Penangkapan tersangka berikut barang bukti sabu 25 kilogram dilakukan Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) pada Sabtu 14 Februari 2026 kemarin, hasil pengembangan dari sejumlah kasus sebelumnya. Ribuan orang terselamatkan atas pengungkapan kasus narkotika ini.

Kapolres Metro Tangerang Kota Dr. Raden Muhammad Jauhari mengatakan, pengungkapan ini merupakan hasil kerja sama Satresnarkoba dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta koordinasi lintas wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Jawa Timur.

“Barang bukti sabu dengan berat bruto 25 kilogram dibawa menggunakan satu unit mobil mewah jenis Toyota Alphard warna putih,” ujar Jauhari saat konferensi pers, Rabu (18/2/2026) siang.

Menurutnya, narkotika tersebut diangkut dari Medan dengan tujuan wilayah Kota Tangerang dan Ibu kota Jakarta. Namun, pergerakan kendaraan terus berubah mengikuti arahan pengendali jaringan.

Dari hasil pemantauan, mobil tersebut sempat terdeteksi berada di Pelabuhan Patimban, Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dari dalam kendaraan itu, petugas menemukan dua koper berisi sabu yang disamarkan seperti barang bawaan perjalanan (mudik).

“Satu koper warna abu-abu berisi 13 bungkus plastik dan satu koper warna merah muda berisi 12 bungkus plastik. Total 25 bungkus, masing-masing seberat satu kilogram,” jelasnya.

Lebih lanjut, ungkap Kapolres, petugas kemudian melakukan pembuntutan hingga kendaraan berhenti di sebuah SPBU di Surabaya. Dengan bantuan PJR Jawa Timur, polisi menangkap dua tersangka yang diduga berperan sebagai kurir.

“Kedua tersangka berinisial SP (30) dan IW (42). Keduanya residivis dan ditangkap saat berada di dalam kendaraan berikut barang bukti sabu itu,” kata Jauhari.

Saat ini, polisi masih mengembangkan kasus untuk mengungkap jalur masuk, pemasok, serta pengendali jaringan. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Polda, Bareskrim Polri, dan BNN, kasus ini dipastikan berkaitan dengan jaringan narkotika internasional.

“Kedua tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang KUHP, dengan ancaman pidana mati, penjara seumur hidup, atau pidana penjara minimal enam tahun dan maksimal 20 tahun,” pungkas Kapolres.

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

Musrenbang Kecamatan Neglasari Jadi Wadah Penajaman Usulan Pembangunan 2026

SIDIKPOST | KOTA TANGERANG – Pemerintah Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang terus memperkuat komitmen dalam menyerap aspirasi masyarakat melalui pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk merumuskan prioritas pembangunan yang tepat sasaran dalam penyusunan program kerja Tahun Anggaran 2026 seperti di ketahui  pengusulan program ini untuk tahun berikutnya tahun 2027

Melalui Musrenbang Kelurahan, berbagai usulan pembangunan dari masyarakat dihimpun dan dibahas secara bersama, mulai dari sektor infrastruktur, pelayanan publik, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Camat Neglasari, Iwan Mulyawan, S.Sos., MM, menegaskan bahwa Musrenbang merupakan forum penting yang mencerminkan keterlibatan langsung masyarakat dalam menentukan arah pembangunan daerah.

“Musrenbang ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Kita ingin setiap usulan yang disampaikan benar-benar berdasarkan kebutuhan warga, sehingga perencanaan pembangunan tahun 2027 dapat tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata,” ujar Iwan Mulyawan. ( 11/2)

Ia menambahkan, kolaborasi dan sinergi seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan agar hasil Musrenbang dapat menjadi dasar pembangunan yang berkelanjutan serta mampu mendorong kemajuan wilayah Kecamatan Neglasari.

“Partisipasi masyarakat adalah kunci. Dengan sinergi yang baik, pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan selaras dengan kebutuhan lingkungan. Harapannya, Neglasari semakin maju, mandiri, dan sejahtera,” lanjutnya.

Dalam pelaksanaan Musrenbang tersebut, seluruh usulan yang disampaikan warga dirumuskan dan disepakati bersama untuk kemudian menjadi dasar perencanaan pembangunan di tingkat kecamatan hingga kota.

Kegiatan Musrenbang Kelurahan ini juga dilanjutkan di beberapa wilayah, salah satunya di Kelurahan Kedaung Wetan, dengan agenda serupa yaitu penajaman serta penyelarasan usulan pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Pemerintah Kecamatan Neglasari berharap, seluruh rangkaian Musrenbang Kelurahan ini mampu menghasilkan program prioritas yang efektif, sekaligus memperkuat arah pembangunan Kota Tangerang yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan adanya Musrenbang Kelurahan ini, Pemerintah Kecamatan Neglasari optimistis bahwa pembangunan di tahun 2026 dapat berjalan lebih terarah, terukur, serta memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat. ( ADV)

Jerat Cinta (Pernikahan Di Meja Transaksi)

Prolog

Ikar sepasang umat manusia melalui Pernikahan sering dipuja sebagai puncak kebahagiaan, dianggap sebagai rumah yang hangat, tempat dua jiwa berlabuh setelah lelah berlayar di dunia masing-masing. Akan tetapi tidak semua rumah dibangun dari cinta. Sebagian berdiri di atas Ancaman, tekana, rasa takut, ketergantungan dan kekuasaan yang tidak seimbang.

“JERAT CINTA (Pernikahan di Meja Transaksi)” bukan sekadar kisah cerita tentang seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan. Ini menjadi potret pahit tentang ikatan cinta berubah menjadi alat kontrol dan pernikahan bergeser dari ruang sakral menjadi ruang transaksi yang merendahkan martabat manusia.

Di balik foto-foto bahagia di media sosial, selalu ada air mata yang disembunyikan. Di balik senyum seorang istri ada luka yang tidak pernah terlihat. Banyak perempuan, bahkan laki-laki, hidup dalam lingkaran kekerasan tanpa suara, karena takut, malu atau tidak tahu harus pergi ke mana.

Kisah dalam cerita ini mencoba membuka tirai itu melalui tokoh Sinta, pembaca diajak melihat bagaimana kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu dimulai dengan pukulan, tetapi dengan ancaman, manipulasi, dan kontrol psikologis.

Sebagaimana diutarakan oleh psikolog Lenore E. Walker, “kekerasan sering hadir dalam siklus yang membuat korban sulit keluar, karena harapan akan perubahan selalu muncul setelah setiap luka.”

Cerita ini tidak hanya ingin bercerita, tetapi juga mengajak pembaca merenung:

Apakah sebuah jalinan cinta selalu suci?

Apakah ikatan sakral pernikahan selalu aman?

Dan sampai di mana batas kesetiaan pernikahan, jika harga diri harus dikorbankan?

Di dalam kisah ini kajian hukum, psikologi serta realitas sosial saling berkelindan. Sebab kekerasan dalam rumah tangga bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus disuarakan bersama. Sebagaimana kata Erich Fromm, “Cinta yang sejati bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang menghargai dan memanusiakan.”

Semoga kisah dalam cerita ini bukan hanya dibaca sebagai cerita, tetapi juga sebagai cermin agar kita lebih peka, lebih berani dan lebih manusiawi dalam memandang relasi yang kita sebut sebagai cinta dan pernikahan yang sakral.

Akhir kata, semoga setiap rumah tangga benar-benar menjadi rumah, bukan penjara dan Semoga setiap pernikahan lahir dari cinta, bukan dari transaksi.

 

Janji yang Terlalu Cepat

Pagi itu Hujan turun begitu deras di halaman sebuah rumah sederhana. Sinta Prasista atau yang di panggil Sinta sedang duduk di teras sambil memandangi bunga-bunga di pot yang mulai layu. Di jari tangannya terpasang cincin pernikahan berkilau tipis diterpa cahaya.

“Mas, Apakah kamu yakin kita akan hidup bahagia?” tanya Sinta secara perlahan.

Fredy Roger, biasa di panggil Fredy, lalu menatapnya sambil tersenyum, lalu merangkul bahunya, “Pernikahan itu bukan soal hidup bahagia atau tidak, Sinta. Yang penting kita menjalaninya secara bersama saling melengkapi.”

Sinta pun tersenyum, meski hatinya tidak sepenuhnya tenang. Karena setelah menikah mereka tinggal di kediaman orang tua Fredy di kota madya. Minggu- minggu pertama dan bulan pertama kehidupan sepasang pengantin baru sangat bahagia, harmonis dan romantis, kemana-mana mereka jalan berdua, bercanda dan tersenyum dengan hati yang penuh warna. Kehidupan sepasang pengantin baru itu membuat siapapun melihatnya akan iri.

Malam itu di dalam kamar, kamipun ngobrol mesra seperti biasa, lalu Mas Fredy menatap mesra kepadaku Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. Terimakasih.. Mas.., mmmmhh..! kusambut ciuman mesranya dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang kesekian kalinya. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.

Kehidupan harmonis dan penuh kebahagiaan itu begitu cepat berlalu dan tidak berlangsung lama, setelah dua bulan ijab kabul, wajah dan sikap Fredy mulai berubah. Ia sering pulang larut, dengan alasan berlatih, ketemu pemain, ketemu manajer, atau ngajar sekolah tambaha. Namun, yang membuat aneh Sinta, suaminya ketika pulang mulai berbau rokok, bau alkohol dan kadang bau parfum perempuan lain.

Suatu malam, di dalam kamar, Fredy berkata dengan nada datar, “Sin, kamu harus bantu keuangan rumah tangga ya.”

“Aku bisa kerja di butik atau toko lagi, Mas.” Jawabnya pelan.

Fredy dengan wajah acuh menggeleng, “Bukan kerja seperti itu.”

Sinta kaget lalu menatapnya, “Apa maksudnya dan kerja apa mas?”

Fredy pun menatap istrinya dengan tajam, “Kamu kerja di tempat pijat. Yang lengkap dengan plus-plus.”

Sinta pun terdiam, “maksudmu… aku kerja di tempat pijat plus-plus, apa kamu sudah gila mas?”

Fredy tidak menjawab, hanya seutas senyum sinis dam likcil dari bibirnya menjelaskan segalanya.

Dalam sebuah buku karya Erich Fromm mengatakan, “Cinta yang dipaksakan dalam ketakutan bukanlah cinta, melainkan bentuk kontrol yang disamarkan.”

“Aku tidak mau, aku ini istrimu, kau rela menjualku di tempat pijat plus-plus mas!” suara Sinta bergetar.

Tiba-tiba…PLAK….! sebuah Tamparan keras mendarat di pipinya.

Tubuh sinta pun terhuyung ke dinding. Pipinya terasa panas dan hatinya begitu sakit.

“Jangan membantah dan kau harus ikuti printahku!” bentak Fredy. “Ingat Sinta, Kamu itu istri aku. Kamu harus nurut dan patuj terhadap suami!”

Air mata Sinta pun jatuh tanpa bisa di tahan, “Aku bukan barang murah, yang bisa kamu jual kepada siapa pun Mas…”

Lalu Fredy semakin tersulut emosinya atas bantahan sinta, dia mengambil galon yang isi airnya masih penuh, lalu menyiramkannya ke tubuh Sinta yang terduduk di lantai.

Badan sinta pun basah kuyup dan gemetar atas perlakuan Fredy yang kasar.

Sebelum keluar kamar, Fredy berkata, “Kalau kamu tidak mau mengikuti printahku, hidupmu akan ku buat menderita.” Lalu jongkok dan mendekat, sambil berbisik dingin, “Aku tidak akan menafkahimu apalagi kasih kamu uang dan Aku akan selingkuh dengan banyak wanita di luar, serta akan menghancurkan hubunganmu dengan keluargamu, ingat itu.”

Air mata sinta semakin deras dan tubuhnya gemetar. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pernikahannya bukan lagi rumah yang di impikan melainkan penjara sekaligus neraka yang menyiksa.

Lenore E. Walker seorang Psikolog dan ahli teori siklus kekerasan mengatakan, “Kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu dimulai dengan pukulan. Ia sering dimulai dengan ancaman, manipulasi dan kontrol.”

 

Dunia Yang Tampak Bahagia

Foto-foto Sinta di media sosial terlihat begitu bahagia dan sempurna, Mulai dari Foto makan di restoran steak, jogging pagi di stadion, liburan di puncak dan di pantai dan Postingan penuh Komentar dari para pengikut aku medianya, “Couple goals! Dengan emot senyum”, “Bahagia terus ya!”, hingga “Suaminya begitu  romantis banget!”

Padahal di kehidupan nyata, baik siang maupun malam, kondisi Sinta sangat memprihatinkan dan sering menangis di kamar mandi.

Suatu malam, sinta berkata pelan terhadap suaminya yang tidak pernah lagi berkata lembut apalagi romantis, “Mas… kenapa kamu bisa berubah seperti ini?”

Fredy sedang duduk sambil menonton film porno di ponselnya lalu menjawab dengan acuh, “Aku bosan dengan kamu sin. Aku ingin sensasi yang lebih”

Sintapun menarik nafas dengan pelan, “Sensasi?, Sensasi apa mas?”

Fredy sambil tetap memegang handphonenya lalu menoleh dan matanya penuh gairah aneh, “Aku ingin melihat kamu berhubungan badan dengan pria lain.”

Sinta pun menatap nanar sambil membeku di hadapan suaminya, lalu berkata pelan, “Mas…kamu sakit ya, itu dosa mas.”

Lalu Fredy tertawa kecil, “Tahu apa kamu dengan Dosa, Dosa itu kalau kamu ketahuan keluarga tapi ini kemauan suami sendiri.”

Seorang Psikolog sosial, Philip Zimbardo pernah berkata, “Orang yang kecanduan pornografi tidak lagi melihat manusia sebagai subjek, melainkan sebagai objek pemuas.”

Kehidupan cinta Sinta semakin menjerat, Hari terus berganti, bulan-bulan pun belalu dengan penuh bara dan tekanan, baik tekanan fisik maupun fisikis.

Tibalah suatu Malam,  tepatnya malam Jumat di Akhir tahun bulan Desember, sekitar pukul delapan ketika itu Sinta sendang mandi di kamar mandi, Fredy meminjam ponsel Sinta, lalu memotret Sinta, ketika sinta dalam keadaan tanpa sehelai benang pun menutup dirinya.

Klik… Klik… klik.. Kemudian Fredy membuka aplikasi hijau.

Sinta Begitu kaget sekaligus takut, “Apa yang kamu lakukan mas?”

Fredy tersenyum sinis sambil berkata, “Mencari tamu dan menawarkan tubuhmu, lumayan tiga ratus ribu sekalian kita bisa ‘Threesome’.”

Tubuh sintapun gemetar, Sinta ketakutan tapi tidak bisa berbuat apapun atas perilaku menyimpang Suaminya.

Beberapa menit kemudian, notifikasi di handphone yang berada di tangan Fredy berdatangan. Lalu transaksi pun terjadi.

“Siap… baik…iya bang.”

“Di mana lokasinya, di shrelock ya?”

“Berapa tarifnya sekali main bang?”

Wajah Sinta semakin pucat, penuh ketakutan dia pun berkata sambil gemetar, “Kamu tega ya mas, kamu benar-benar menjualku?”

Fredy menatapnya dengan wajah yang kera dan tanpa rasa bersalah, “Kamu itu istri ku sinta, jadi Itu hak aku mau menjual atau mau aku apakan dirimu.”

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pernah memberikan keterangan, “Perdagangan manusia sering terjadi dalam relasi terdekat, bukan oleh orang asing.”

 

Di Meja Transaksi, Tiga Tubuh Satu Ranjang

Malam itu, Seorang pria asing datang dengan motor matic dan membawa beberapa botol minuman beralkohol.

Kemudian Fredy bersalaman dan menepuk bahu pria itu sambil berkata,“Inilah istri saya, Sinta namanya.”

Sinta berdiri sambil gemetar, “Mas, tolong… jangan…Jangan lakukan mas”

Lalu Fredy berbisik di telinganya, “Kalau kamu nolak, malam ini juga kamu aku siksa dan aku ikat di pinggir jalan.”

Air mata Sinta pun jatuh dengan derasnya, lalu dia masuk ke dalam kamar dengan hati yang sangat hancur. Malam itu merupakan malam dimana Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain.

Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus memaksa aku dengan bentakan-bentakan agar aku mau mewujudkan angan-angannya.

Ia Terus menekan aku untuk mematuhi printahnya, karena Ia Ingin membandingkan dengan film BF yang selalu di tontonnya. Setelah transaksi dan mereka duduk di teras rumah sambil ngobrol dan menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol yang di bawa laki-laki asing itu.

Kemudian mereka memasuki kamar kami, Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus terongnya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan yang aku lakukan dengan terpaksa dan sakit hati. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita yang lemah dan takut ancaman suami, akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat.

Jilatan-jilatan laki-laki itu pada bagian tubuhku yang sensitif, membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan sakit sekaligus arus birahi yang mulai menjalari diriku hingga area goa surgawi milikiku.

Inilah hal yang sangat menghantam jiwaku, Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini diwujudkan dengan penuh tekanan, ancaman dan air mata. Setelah persetubuhan dengan laki-laki lain berlangsung agak lama, laki-laki itu mengeluarkan terongnya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang surgawiku.

Walaupun terongnya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya, Laki-laki itu menghentikan persetubuhan denganku, karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku.

Kini gantian dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat. Suamiku dengan segera menggantikan laki-laki itu dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat.

Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan terongnya itu ke dalam lubang sugawiku. Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan terongnya ke dalam lubang surgawiku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat.

Malam itu, harga dirinya runtuh tanpa membekas sedikitpun. Tubuhnya diperlakukan seperti barang sewaan.

Ia tidak lagi merasa hidup, Bessel van der Kolk pernah berkata, “Trauma terjadi ketika seseorang tidak memiliki kekuatan untuk melawan atau melarikan diri.”

________

Membangun Diri di Antara Retakan

Setelah Pristiwa malam itu, Akhirnya Sinta memutuskan untuk meninggalkan rumah metuanya dan Pergi tanpa sepengetahuan suaminya dengan mencari kontrakan rumah yang murah yang jauh agar tidak di ketahui suami, sahabat dan keluarga suaminya.

Setelah ngobrol mencurahkan isi hati serta permasalahan yang di hadapinya kepada salah satu sahabat yang bisa di percaya, akhirnya sinta mengambil keputusan besar.

Beberapa minggu kemudian, dengan di dampingi sahabatnya, Sinta meminta bantuan di sebuah kantor hukum. Di depannya, seorang pria muda berkacamata dan berjas sederhana.

Lalu sinta menceritakan semuanya yang dia jalani selama menikah dan dia alami selama tinggal bersama suaminya yang berprofesi sebagai Wasit sekaligus guru olah raga. Sinta bercerita dengan menahan dada yang sesak sekaligus geram atas semua yang di lakukan suaminya.

Lalu pengacara muda itu menjawab, “Tomas Wardana, SH., MH. Saya akan mendampingi Ibu,” katanya tenang.

Sinta menggenggam tasnya, lalu dengan suara gemetar dia berbicara, “Pak… apakah saya bisa bebas dari semua ini?”

Tomas menatapnya dengan tenang dan serius, “Ibu bukan pelaku kejahatan, tapi Ibu merupakan korban kebiadaban dan hukum negeri ini wajib melindungi korban.”

Kemudian Tomas membuka berkas, “Suami ibu telah melakukan beberapa kejahatan terhadap ibu, dia kan di jerat Bukan hanya dengan satu pasal hukuman Tapi berlapis.”

Tomas kembali mulai menjelaskan tentang Hukum secara Singkat,

“Pertama, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, tindakan, Memukul, Menampar, Mengancam dan Menelantarkan itu Termasuk tindak pidana.”

“Kedua, Perdagangan Orang, Menurut UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Menjual atau mengeksploitasi seseorang untuk tujuan seksual termasuk perdagangan manusia, meskipun pelaku adalah suami sendiri.”

Maka dari itu, Ancaman Pidana Pelaku dapat dikenakan, Pidana penjara, Denda besar dan Hukuman tambahan

Setelah menjelaskan kepada sinta, Tomas menutup berkasnya, lalu berkata, “Pristiwa yang ibu alami dan dilakukan suami Ibu adalah bentuk eksploitasi seksual dan Itu kejahatan serius.”

Sinta pun menangis, dan berkata dengan suara yang serak, “Tolong aku pak, Aku hanya ingin hidup tenang dan ingin di manusiakan dengan kebahagiaan…”

Tomas mengutip buku Rollo May dan berkata pelan, “Kadang, keadilan dimulai dari keberanian untuk bersuara. Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah memilih melawan meski takut.”

Di dampingi Tomas dan sahabatnya, Sinta pergi ke Polres Metro kota madya, kemudian mereka duduk di kursi laporan dengan tangan gemetar.

Di hadapannya seorang Polisi bertanya, “Apakah ibu Sinta yakin ingin melaporkan suami Anda sendiri?”

Sinta menoleh ke Tomas dan Tomas mengangguk pelan.

Sinta menarik napas panjang dan menjawab, “Iya pak. Saya sangat yakin.”

Walaupun matanya terus mengalir, tapi kali ini bukan karena takut, tapi mencoba Membangun Diri di Antara Retakan dan ia memilih melawan ketakutan dalam dirinya sendiri.

Berita hari itu menyebar begitu cepat;

“Wasit nasional sekaligus guru olahraga telah jual istrinya.”

“Guru olahraga sekolah terlibat eksploitasi seksual.”

“Kisah pilu wanita muda di balik pernikahan dengan seorang wasit liga nasional.”

Media sosial ramai dan heboh. Orang-orang yang dulu memuji kebahagiaan Sinta kini terdiam karena mereka tidak pernah benar-benar mengetahui kehidupan Sinta yang sebelumnya.

Media sosial sinta banya di kunjungi warga net dan memberikan dukungan agar terus melawan dan harus memenjarakan suaminya. Foto-foto di akun media sosialnya yang tampak bahagia itu kini terasa seperti topeng.

Akhirnya banyak orang meyakini Tidak semua pernikahan menjadi rumah, Sebagian hanyalah kontrak penderitaan yang disahkan oleh rasa takut. Cinta tidak pernah meminta tubuh sebagai bukti kesetiaan, Karena Ketika cinta berubah menjadi transaksi, maka pernikahan berubah menjadi pasar.

 

Epilog

Sidang di pengadilan agama terakhir berlangsung singkat, namun terasa panjang di dada Sinta. Palu hakim hanya diketuk satu kali, tetapi gema bunyinya seperti menutup seluruh luka yang ia bawa selama hampir tiga tahun.

“Perkara Cerai antara Sdr. Ferdy Roger dan Sdri. Sinta Prasista  dikabulkan,” ucap hakim dengan suara tegas.

Sinta pun langsung menunduk, Air matanya jatuh perlahan, bukan karena sedih, melainkan seperti seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya.

Di luar ruang sidang, Tomas berdiri menunggunya, “Sudah selesai, Bu Sinta. Secara hukum, Ibu sudah bebas.”

Sinta pun tersenyum tipis, “Alhamdulillah akhirnya bisa Bebas dari penderitaan panjang… ya?”

Selanjutnya, Ia menatap langit siang yang cerah dan Untuk pertama kalinya, cahaya matahari tidak terasa menyilaukan, tetapi hangat.

“Terima kasih, Pak Tomas. Kalau bukan karena bantuan dan dukungan Bapak, mungkin saya masih di sana… di rumah yang penuh neraka itu.” Lanjut Sinta dengan tenang.

Tomas pun menggeleng, lalu berkata, “Bukan karena saya, Tapi Karena Ibu berani melangkah untuk keluar dan melawan.”

Sinta kembali terdiam. Ia mengingat semua malam penuh tangis, ancaman, tamparan dan penghinaan yang pernah ia alami. Ia mengingat betapa ia dulu takut pada kata “cerai”, seolah itu menjadi aib yang lebih besar dari penderitaan. Kini ia sadar, kadang berpisah menjadi atu-satunya cara untuk menyelamatkan diri.

Beberapa bulan kemudian, hidup Sinta berubah perlahan. Ia kembali ke rumah orang tuanya dan mulai bekerja di sebuah pusat Perbelanjaan sebagai penjaga toko pakaian.

Suatu sore, ia duduk di bangku taman kota, memandangi anak-anak berlarian.

Seorang teman yang menjadi tempat curhat serta mendampinginya menyelesaikan permasalahannya, kini datang menghampiri, “Sinta… kamu terlihat berbeda sekarang, Lebih dewasa dan Lebih tenang.”

Sinta pun tersenyum. “Mungkin Aku tidak bahagia setiap hari. Tapi setidaknya aku tidak takut lagi setiap malam.”

_______

Di sisi lain, kasus pidana yang menjerat Fredy terus berjalan. Banyak Media masih menyorotnya sekaligus banyak orang terkejut dan banyak pula yang pura-pura tidak tahu. Namun bagi Sinta, itu bukan lagi pusat hidupnya.

Suatu malam, Sinta menulis di buku catatannya yang isinya:

“Aku dahulu pernah menjadi istri yang dijual oleh suaminya sendiri. Tapi hari ini, aku menjadi perempuan yang berani melawan dan membeli kembali harga dirinya.”

Ia menutup buku itu, mematikan lampu dan berbaring dengan tenang, Tidak ada teriakan, ancaman, pintu yang dibanting, yang ada Hanya sunyi yang damai penuh ketenangan dan hidupnya benar-benar dimulai.

“Cinta sejati tidak pernah menukar tubuh dengan ketakutan. Pernikahan yang sehat menjadi tempat manusia tumbuh, bukan tempat martabat dikubur. Kadang, akhir sebuah pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang sebenarnya.”

 

=======TAMAT======

 

ARDHI MORSSE, SENIN 16 FEBRUARI 2026

 

Vihara Nirmala KS Tubun Kota Tangerang Gelar Perayaan Imlek, Koh Bembeng Ajak Umat Perkuat Persaudaraan

SIDIKPOST| kota Tangerang – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek, Vihara Nirmala KS Tubun, Kota Tangerang, menggelar rangkaian kegiatan peribadatan dan perayaan bersama umat.

Suasana vihara tampak ramai dipenuhi jemaat yang datang untuk berdoa, menyalakan dupa, serta memanjatkan harapan dan doa terbaik di tahun yang baru.

Pembina Vihara Nirmala, Koh Bembeng, menyampaikan bahwa perayaan Imlek bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momen penting untuk memperkuat nilai kebersamaan dan keharmonisan di tengah masyarakat Kota Tangerang yang beragam.

“Imlek ini bukan sekadar pergantian tahun, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak rasa syukur, serta menjaga persaudaraan dan toleransi antarumat beragama,” ujar Koh Bembeng.

Ia menambahkan, semangat Tahun Baru Imlek hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial, berbagi kepada sesama, serta menjaga kerukunan di lingkungan sekitar.

Perayaan Imlek di Vihara Nirmala KS Tubun Kota Tangerang berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Selain kegiatan sembahyang, perayaan juga diisi dengan silaturahmi antarjemaat dan doa bersama untuk kedamaian serta kesejahteraan masyarakat.

Melalui perayaan ini, Vihara Nirmala berharap semangat Imlek dapat membawa keberkahan, kedamaian, dan mempererat persatuan di Kota Tangerang. (*)

Warga Keluhkan Pembangunan Lapangan Padel di Kebon Jeruk, Aktivitas Malam Hari Dinilai Mengganggu

SIDIKPOST| Jakarta – Warga di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mengeluhkan aktivitas pembangunan lapangan padel yang masih berlangsung hingga malam hari dan menimbulkan kebisingan.

Aktivitas tersebut dinilai mengganggu ketenangan lingkungan sekitar, terutama pada jam istirahat warga.

Salah satu warga sekitar yang seringan ke at di lokasi , AN (36), menyampaikan bahwa suara bising dari pekerjaan proyek sangat meresahkan. Ia juga menilai pembangunan tersebut seolah tetap berjalan meskipun sebelumnya disebut dugaan sudah pernah disegel.

“kami liat Malam-malam masih pada berisik kerja, dugaan kami PBG juga nggak ada. Padahal dugaan kami sudah disegel, tapi tetap dilanjut kerja aja,” ujar Andi.

Keluhan warga tersebut kemudian dilaporkan melalui layanan pengaduan resmi dengan kategori Tata Ruang dan Bangunan, berlokasi di Jalan Surya Permata III No. 33, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas dari Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan Jakarta Barat melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

Dalam keterangannya, petugas menyebut pihaknya telah menyampaikan tindakan berupa SPP (Surat Perintah Bongkar) dengan Nomor: 1257/e/SPP/JB/KB/II/2026/AT.13.01 tertanggal 13 Februari 2026.

Meski laporan dinyatakan telah selesai, warga berharap langkah tegas benar-benar dijalankan agar pembangunan tanpa izin tidak terus berlangsung dan tidak merugikan masyarakat sekitar.

Warga meminta Suku Dinas terkait segera melaksanakan Surat Perintah Bongkar (SPP) agar pembangunan tersebut dihentikan dan ditertibkan sesuai aturan yang berlaku.

Sampai saat ini belum ada keterangan resmi dari sukudinas terkait terkait terkait pembongkaran ,redaksi akan mengupdate jika sudah ada komfrimasi

Pelaku Pencurian HP Pimpinan Media Belum Ditangkap, Wartawan Pertanyakan Kinerja Polsek Cengkareng

SIDIKPOST `| Cengkareng, Jakarta Barat – Kasus pencurian telepon genggam milik Pimpinan Media Faktaexpose.com yang terjadi di Alfamart Jalan Seroja RT 013 RW 02, Cengkareng Barat, Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, hingga kini belum juga menemui titik terang. Pasalnya, meski identitas pelaku disebut sudah diketahui dan wajahnya terekam jelas kamera CCTV, pihak kepolisian belum melakukan penangkapan.

Lambannya penanganan perkara ini menuai sorotan. Sejumlah wartawan mempertanyakan kinerja Polsek Cengkareng dalam menindaklanjuti laporan korban yang telah resmi masuk sejak hari kejadian.

Korban, Witra, menyampaikan rasa kecewanya karena hingga berita ini ditayangkan, belum ada tindakan nyata terhadap pelaku.

“Pelaku sudah diketahui identitasnya,” kata Witra saat ditemui di kediamannya, Minggu (18/1/2026).

Menurut Witra, informasi yang beredar di lingkungan warga menyebutkan polisi telah mendatangi Ketua RW, bahkan pelaku yang terekam CCTV disebut sudah dikenal namanya. Korban juga menduga pelaku merupakan warga RW 06 Cengkareng Barat.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian besar dan trauma. Telepon genggam yang dicuri bukan hanya bernilai materi, namun juga menyimpan data-data penting pekerjaan yang kini hilang seluruhnya.

Witra telah melaporkan kasus itu ke Polsek Cengkareng dan telah menjalani pemeriksaan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh tim penyidik 1. Pemeriksaan dilakukan oleh anggota penyidik bernama Ari. Namun, sampai saat ini belum ada perkembangan lanjutan yang diterima korban.

Sementara itu, kuasa hukum korban, Wedri Waldi, SH., MH., menilai kasus ini janggal karena sudah ada identitas pelaku namun belum ada tindakan penangkapan.
“Nama pelaku sudah diketahui, wajahnya juga jelas dari CCTV. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Ini yang jadi pertanyaan besar,” tegas Wedri Waldi.

Wedri juga mengungkapkan bahwa pihaknya sempat mempertanyakan perkembangan kasus tersebut melalui WhatsApp kepada pihak Reskrim. Namun jawaban yang diterima dinilai tidak memberikan kepastian.

“Sedang dicek dan saya baru,” jawab Reskrim Polsek Cengkareng AKP Gultom melalui pesan singkat.

Pernyataan tersebut justru menimbulkan tanda tanya di kalangan wartawan dan publik. Sejumlah awak media mempertanyakan keseriusan Polsek Cengkareng dalam menangani laporan masyarakat, terlebih korban merupakan pimpinan media.

“Kalau identitas pelaku sudah diketahui, apa alasan belum ditangkap? Apakah ada unsur pembiaran atau ketidakseriusan?” ujar salah satu wartawan yang turut mengikuti perkembangan kasus ini.

Kuasa hukum korban pun menyampaikan kritik tajam dan meminta kepolisian bekerja profesional tanpa memandang latar belakang korban.

“Jangan sampai muncul anggapan bahwa kalau korban tidak punya uang, kasus tidak jalan. Ini bahaya bagi kepercayaan masyarakat,” ucap Wedri.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik. Warga berharap Polsek Cengkareng segera menunjukkan langkah tegas dan transparan agar keadilan dapat ditegakkan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi lanjutan dari Polsek Cengkareng terkait progres penyelidikan maupun rencana penangkapan terhadap terduga pelaku, redaksi akan mengupdate jika sudah keterangan selanjutnya 

Brimob Kaltim Berikan Pengamanan di Vihara Buddha Manggala Balikpapan

SIDIKPOST | Balikpapan – Suasana khidmat menyelimuti perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Balikpapan, khususnya di Vihara Buddha Manggala, Senin (16/02/2026).

Ratusan jemaat tampak memadati vihara untuk memanjatkan doa dan mengikuti rangkaian ibadah pergantian tahun dalam nuansa penuh kekhusyukan dan kebersamaan.

Guna memastikan perayaan berjalan aman dan tertib, tim patroli Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Kaltim dikerahkan melakukan pengamanan di lokasi.

Tim yang dipimpin Bripka Dedy Supriadi bersama tiga personel lainnya melaksanakan pemantauan intensif di seluruh area vihara, mulai dari pintu masuk, ruang ibadah, hingga area parkir kendaraan jemaat.

Dalam kegiatan tersebut, personel Gegana melakukan sterilisasi area serta patroli dialogis dengan pengelola vihara dan para jemaat. Langkah ini dilakukan sebagai upaya deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang tengah menjalankan ibadah.

Kehadiran aparat kepolisian di lapangan juga memastikan arus lalu lintas di sekitar lokasi tetap lancar dan kondusif sepanjang pelaksanaan perayaan Imlek.

Kabagops Satbrimob Polda Kaltim, AKP Nugroho Widihyanto, menegaskan bahwa pengerahan unit Gegana dalam pengamanan hari besar keagamaan merupakan bagian dari prosedur peningkatan pengamanan wilayah.

“Kehadiran kami di Vihara Buddha Manggala adalah untuk menjamin bahwa kemeriahan perayaan Imlek tidak terganggu oleh ancaman apa pun. Kami mengedepankan langkah preventif agar masyarakat dapat merayakan momen penting ini dengan penuh kedamaian dan rasa aman yang maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Kaltim, Kombes Pol. Andy Rifai, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pengamanan tersebut merupakan wujud nyata implementasi filosofi Bakti Brimob untuk Masyarakat dalam merawat kebinekaan di Kalimantan Timur.

“Selamat Tahun Baru Imlek bagi warga yang merayakan. Mari kita jadikan momentum ini untuk mempererat kerukunan antarumat beragama di Kalimantan Timur. Kami akan selalu hadir melindungi setiap warga negara dalam menjalankan ibadahnya. Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan,” pungkasnya.

Dengan pengamanan yang maksimal dan sinergi seluruh pihak, rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Balikpapan berlangsung aman, tertib, dan penuh suasana persaudaraan. (*)

Humas Polda Kaltim

Brimob Polda Kaltim Revitalisasi Jembatan Sungai Lungau

SIDIKPOST | Kutai Barat – Kepedulian terhadap kelancaran mobilitas masyarakat kembali ditunjukkan jajaran Satuan Brimob Polda Kalimantan Timur melalui aksi gotong royong di wilayah pedalaman.

Kompi 2 Batalyon B Pelopor Kutai Barat diterjunkan untuk melaksanakan revitalisasi Jembatan Sungai Lungau yang berada di Desa Engkuni Pasek, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Senin (16/02/2026).

Jembatan tersebut merupakan jalur vital yang menopang aktivitas ekonomi dan transportasi masyarakat sekitar. Kondisi struktur yang mulai mengalami kerusakan menjadikan perbaikan infrastruktur ini sebagai prioritas guna mencegah hambatan distribusi logistik serta menjamin keselamatan pengguna jalan.

Sejak pagi hari, personel Brimob yang dikenal dengan baret birunya bahu-membahu bersama warga melakukan perbaikan pada sejumlah bagian jembatan. Fokus revitalisasi meliputi penguatan fondasi, pembersihan aliran sungai di bawah jembatan, hingga pembenahan bantalan jalan agar aman dilalui kendaraan bermotor.

Kehadiran personel Brimob di tengah pemukiman warga tidak hanya memberikan bantuan tenaga, tetapi juga membangun semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Desa Engkuni Pasek. Sinergi tersebut mencerminkan kemanunggalan Polri dan rakyat dalam menjaga serta merawat fasilitas umum demi kepentingan bersama di wilayah Kutai Barat.

Dansat Brimob Polda Kaltim Kombes Pol. Andy Rifai, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa keterlibatan personelnya dalam pembangunan infrastruktur desa merupakan bagian dari implementasi filosofi Bakti Brimob untuk Masyarakat.

“Jembatan Sungai Lungau adalah urat nadi transportasi bagi warga Barong Tongkok. Dengan revitalisasi ini, kami ingin memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas tetap terjamin. Pengabdian kami tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam membangun kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kombes Andy juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga infrastruktur yang telah diperbaiki. Menurutnya, kolaborasi dan kepedulian bersama menjadi kunci utama dalam mendorong kemajuan daerah.

“Mari kita rawat apa yang sudah kita bangun bersama. Jembatan ini adalah simbol gotong royong kita. Jangan pernah lelah untuk berbuat baik bagi lingkungan, karena sekecil apa pun aksi kita akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa. Teruslah berkarya dan jalin persaudaraan. Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan,” pungkasnya.

Melalui kegiatan revitalisasi ini, diharapkan akses transportasi masyarakat di Kecamatan Barong Tongkok semakin lancar, roda perekonomian desa tetap bergerak, serta hubungan harmonis antara Polri dan masyarakat di Kabupaten Kutai Barat semakin kokoh. (*)

Humas Polda Kaltim

Patroli Humanis Sat Samapta Amankan Perayaan Imlek 2026 di Ladaya

SIDIKPOST| Kukar – Dalam rangka memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat saat perayaan Tahun Baru Imlek 2026, personel Satuan Samapta Polres Kutai Kartanegara melaksanakan patroli di kawasan objek wisata Ladaya, Senin (16/2/2026).

Patroli ini difokuskan pada pengawasan aktivitas pengunjung yang memanfaatkan momen libur Imlek untuk berwisata bersama keluarga. Kehadiran personel di lapangan bertujuan mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas serta memastikan situasi tetap kondusif.

Selain melakukan pemantauan, personel Sat Samapta juga menyampaikan imbauan kamtibmas secara humanis kepada para pengunjung dan pengelola wisata. Masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga barang bawaan pribadi, mengawasi anak-anak saat bermain, serta bersama-sama menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan wisata.

Kegiatan patroli berlangsung dalam suasana aman, tertib, dan lancar. Hingga kegiatan berakhir, situasi di kawasan wisata Ladaya terpantau kondusif tanpa adanya gangguan menonjol.

Melalui patroli rutin dan pendekatan persuasif, Polres Kutai Kartanegara menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya pada momentum hari besar keagamaan, guna menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga. (*)