Jerat Cinta (Pernikahan Di Meja Transaksi)

Prolog

Ikar sepasang umat manusia melalui Pernikahan sering dipuja sebagai puncak kebahagiaan, dianggap sebagai rumah yang hangat, tempat dua jiwa berlabuh setelah lelah berlayar di dunia masing-masing. Akan tetapi tidak semua rumah dibangun dari cinta. Sebagian berdiri di atas Ancaman, tekana, rasa takut, ketergantungan dan kekuasaan yang tidak seimbang.

Advertisements

“JERAT CINTA (Pernikahan di Meja Transaksi)” bukan sekadar kisah cerita tentang seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan. Ini menjadi potret pahit tentang ikatan cinta berubah menjadi alat kontrol dan pernikahan bergeser dari ruang sakral menjadi ruang transaksi yang merendahkan martabat manusia.

Di balik foto-foto bahagia di media sosial, selalu ada air mata yang disembunyikan. Di balik senyum seorang istri ada luka yang tidak pernah terlihat. Banyak perempuan, bahkan laki-laki, hidup dalam lingkaran kekerasan tanpa suara, karena takut, malu atau tidak tahu harus pergi ke mana.

Kisah dalam cerita ini mencoba membuka tirai itu melalui tokoh Sinta, pembaca diajak melihat bagaimana kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu dimulai dengan pukulan, tetapi dengan ancaman, manipulasi, dan kontrol psikologis.

Sebagaimana diutarakan oleh psikolog Lenore E. Walker, “kekerasan sering hadir dalam siklus yang membuat korban sulit keluar, karena harapan akan perubahan selalu muncul setelah setiap luka.”

Cerita ini tidak hanya ingin bercerita, tetapi juga mengajak pembaca merenung:

Apakah sebuah jalinan cinta selalu suci?

Apakah ikatan sakral pernikahan selalu aman?

Dan sampai di mana batas kesetiaan pernikahan, jika harga diri harus dikorbankan?

Di dalam kisah ini kajian hukum, psikologi serta realitas sosial saling berkelindan. Sebab kekerasan dalam rumah tangga bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus disuarakan bersama. Sebagaimana kata Erich Fromm, “Cinta yang sejati bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang menghargai dan memanusiakan.”

Semoga kisah dalam cerita ini bukan hanya dibaca sebagai cerita, tetapi juga sebagai cermin agar kita lebih peka, lebih berani dan lebih manusiawi dalam memandang relasi yang kita sebut sebagai cinta dan pernikahan yang sakral.

Akhir kata, semoga setiap rumah tangga benar-benar menjadi rumah, bukan penjara dan Semoga setiap pernikahan lahir dari cinta, bukan dari transaksi.

 

Janji yang Terlalu Cepat

Pagi itu Hujan turun begitu deras di halaman sebuah rumah sederhana. Sinta Prasista atau yang di panggil Sinta sedang duduk di teras sambil memandangi bunga-bunga di pot yang mulai layu. Di jari tangannya terpasang cincin pernikahan berkilau tipis diterpa cahaya.

“Mas, Apakah kamu yakin kita akan hidup bahagia?” tanya Sinta secara perlahan.

Fredy Roger, biasa di panggil Fredy, lalu menatapnya sambil tersenyum, lalu merangkul bahunya, “Pernikahan itu bukan soal hidup bahagia atau tidak, Sinta. Yang penting kita menjalaninya secara bersama saling melengkapi.”

Sinta pun tersenyum, meski hatinya tidak sepenuhnya tenang. Karena setelah menikah mereka tinggal di kediaman orang tua Fredy di kota madya. Minggu- minggu pertama dan bulan pertama kehidupan sepasang pengantin baru sangat bahagia, harmonis dan romantis, kemana-mana mereka jalan berdua, bercanda dan tersenyum dengan hati yang penuh warna. Kehidupan sepasang pengantin baru itu membuat siapapun melihatnya akan iri.

Malam itu di dalam kamar, kamipun ngobrol mesra seperti biasa, lalu Mas Fredy menatap mesra kepadaku Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. Terimakasih.. Mas.., mmmmhh..! kusambut ciuman mesranya dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang kesekian kalinya. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.

Kehidupan harmonis dan penuh kebahagiaan itu begitu cepat berlalu dan tidak berlangsung lama, setelah dua bulan ijab kabul, wajah dan sikap Fredy mulai berubah. Ia sering pulang larut, dengan alasan berlatih, ketemu pemain, ketemu manajer, atau ngajar sekolah tambaha. Namun, yang membuat aneh Sinta, suaminya ketika pulang mulai berbau rokok, bau alkohol dan kadang bau parfum perempuan lain.

Suatu malam, di dalam kamar, Fredy berkata dengan nada datar, “Sin, kamu harus bantu keuangan rumah tangga ya.”

“Aku bisa kerja di butik atau toko lagi, Mas.” Jawabnya pelan.

Fredy dengan wajah acuh menggeleng, “Bukan kerja seperti itu.”

Sinta kaget lalu menatapnya, “Apa maksudnya dan kerja apa mas?”

Fredy pun menatap istrinya dengan tajam, “Kamu kerja di tempat pijat. Yang lengkap dengan plus-plus.”

Sinta pun terdiam, “maksudmu… aku kerja di tempat pijat plus-plus, apa kamu sudah gila mas?”

Fredy tidak menjawab, hanya seutas senyum sinis dam likcil dari bibirnya menjelaskan segalanya.

Dalam sebuah buku karya Erich Fromm mengatakan, “Cinta yang dipaksakan dalam ketakutan bukanlah cinta, melainkan bentuk kontrol yang disamarkan.”

“Aku tidak mau, aku ini istrimu, kau rela menjualku di tempat pijat plus-plus mas!” suara Sinta bergetar.

Baca Juga   DI TERAS WAKTU: SURYA TERAKHIR MAJAPAHIT

Tiba-tiba…PLAK….! sebuah Tamparan keras mendarat di pipinya.

Tubuh sinta pun terhuyung ke dinding. Pipinya terasa panas dan hatinya begitu sakit.

“Jangan membantah dan kau harus ikuti printahku!” bentak Fredy. “Ingat Sinta, Kamu itu istri aku. Kamu harus nurut dan patuj terhadap suami!”

Air mata Sinta pun jatuh tanpa bisa di tahan, “Aku bukan barang murah, yang bisa kamu jual kepada siapa pun Mas…”

Lalu Fredy semakin tersulut emosinya atas bantahan sinta, dia mengambil galon yang isi airnya masih penuh, lalu menyiramkannya ke tubuh Sinta yang terduduk di lantai.

Badan sinta pun basah kuyup dan gemetar atas perlakuan Fredy yang kasar.

Sebelum keluar kamar, Fredy berkata, “Kalau kamu tidak mau mengikuti printahku, hidupmu akan ku buat menderita.” Lalu jongkok dan mendekat, sambil berbisik dingin, “Aku tidak akan menafkahimu apalagi kasih kamu uang dan Aku akan selingkuh dengan banyak wanita di luar, serta akan menghancurkan hubunganmu dengan keluargamu, ingat itu.”

Air mata sinta semakin deras dan tubuhnya gemetar. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pernikahannya bukan lagi rumah yang di impikan melainkan penjara sekaligus neraka yang menyiksa.

Lenore E. Walker seorang Psikolog dan ahli teori siklus kekerasan mengatakan, “Kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu dimulai dengan pukulan. Ia sering dimulai dengan ancaman, manipulasi dan kontrol.”

 

Dunia Yang Tampak Bahagia

Foto-foto Sinta di media sosial terlihat begitu bahagia dan sempurna, Mulai dari Foto makan di restoran steak, jogging pagi di stadion, liburan di puncak dan di pantai dan Postingan penuh Komentar dari para pengikut aku medianya, “Couple goals! Dengan emot senyum”, “Bahagia terus ya!”, hingga “Suaminya begitu  romantis banget!”

Padahal di kehidupan nyata, baik siang maupun malam, kondisi Sinta sangat memprihatinkan dan sering menangis di kamar mandi.

Suatu malam, sinta berkata pelan terhadap suaminya yang tidak pernah lagi berkata lembut apalagi romantis, “Mas… kenapa kamu bisa berubah seperti ini?”

Fredy sedang duduk sambil menonton film porno di ponselnya lalu menjawab dengan acuh, “Aku bosan dengan kamu sin. Aku ingin sensasi yang lebih”

Sintapun menarik nafas dengan pelan, “Sensasi?, Sensasi apa mas?”

Fredy sambil tetap memegang handphonenya lalu menoleh dan matanya penuh gairah aneh, “Aku ingin melihat kamu berhubungan badan dengan pria lain.”

Sinta pun menatap nanar sambil membeku di hadapan suaminya, lalu berkata pelan, “Mas…kamu sakit ya, itu dosa mas.”

Lalu Fredy tertawa kecil, “Tahu apa kamu dengan Dosa, Dosa itu kalau kamu ketahuan keluarga tapi ini kemauan suami sendiri.”

Seorang Psikolog sosial, Philip Zimbardo pernah berkata, “Orang yang kecanduan pornografi tidak lagi melihat manusia sebagai subjek, melainkan sebagai objek pemuas.”

Kehidupan cinta Sinta semakin menjerat, Hari terus berganti, bulan-bulan pun belalu dengan penuh bara dan tekanan, baik tekanan fisik maupun fisikis.

Tibalah suatu Malam,  tepatnya malam Jumat di Akhir tahun bulan Desember, sekitar pukul delapan ketika itu Sinta sendang mandi di kamar mandi, Fredy meminjam ponsel Sinta, lalu memotret Sinta, ketika sinta dalam keadaan tanpa sehelai benang pun menutup dirinya.

Klik… Klik… klik.. Kemudian Fredy membuka aplikasi hijau.

Sinta Begitu kaget sekaligus takut, “Apa yang kamu lakukan mas?”

Fredy tersenyum sinis sambil berkata, “Mencari tamu dan menawarkan tubuhmu, lumayan tiga ratus ribu sekalian kita bisa ‘Threesome’.”

Tubuh sintapun gemetar, Sinta ketakutan tapi tidak bisa berbuat apapun atas perilaku menyimpang Suaminya.

Beberapa menit kemudian, notifikasi di handphone yang berada di tangan Fredy berdatangan. Lalu transaksi pun terjadi.

“Siap… baik…iya bang.”

“Di mana lokasinya, di shrelock ya?”

“Berapa tarifnya sekali main bang?”

Wajah Sinta semakin pucat, penuh ketakutan dia pun berkata sambil gemetar, “Kamu tega ya mas, kamu benar-benar menjualku?”

Fredy menatapnya dengan wajah yang kera dan tanpa rasa bersalah, “Kamu itu istri ku sinta, jadi Itu hak aku mau menjual atau mau aku apakan dirimu.”

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pernah memberikan keterangan, “Perdagangan manusia sering terjadi dalam relasi terdekat, bukan oleh orang asing.”

 

Di Meja Transaksi, Tiga Tubuh Satu Ranjang

Malam itu, Seorang pria asing datang dengan motor matic dan membawa beberapa botol minuman beralkohol.

Kemudian Fredy bersalaman dan menepuk bahu pria itu sambil berkata,“Inilah istri saya, Sinta namanya.”

Sinta berdiri sambil gemetar, “Mas, tolong… jangan…Jangan lakukan mas”

Lalu Fredy berbisik di telinganya, “Kalau kamu nolak, malam ini juga kamu aku siksa dan aku ikat di pinggir jalan.”

Air mata Sinta pun jatuh dengan derasnya, lalu dia masuk ke dalam kamar dengan hati yang sangat hancur. Malam itu merupakan malam dimana Angan-angan yang paling merangsang bagi suamiku membayangkan aku bersetubuh dengan laki-laki lain.

Baca Juga   Damai Yang di rusak Hasutan

Rupanya angan-angan seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar angan-angan saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan dan suamiku terus memaksa aku dengan bentakan-bentakan agar aku mau mewujudkan angan-angannya.

Ia Terus menekan aku untuk mematuhi printahnya, karena Ia Ingin membandingkan dengan film BF yang selalu di tontonnya. Setelah transaksi dan mereka duduk di teras rumah sambil ngobrol dan menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol yang di bawa laki-laki asing itu.

Kemudian mereka memasuki kamar kami, Kulirik suamiku sedang membuka retsluiting celananya dan mulai mengelus-elus terongnya sendiri. Dia kelihatan benar-benar sangat menikmati adegan yang aku lakukan dengan terpaksa dan sakit hati. Tanpa berkedip dia menyaksikan tubuh istrinya digauli dan digerayangi oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita yang lemah dan takut ancaman suami, akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat.

Jilatan-jilatan laki-laki itu pada bagian tubuhku yang sensitif, membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan sakit sekaligus arus birahi yang mulai menjalari diriku hingga area goa surgawi milikiku.

Inilah hal yang sangat menghantam jiwaku, Suamiku menghendaki aku bersetubuh dengan laki-laki lain dan malam ini diwujudkan dengan penuh tekanan, ancaman dan air mata. Setelah persetubuhan dengan laki-laki lain berlangsung agak lama, laki-laki itu mengeluarkan terongnya yang ternyata masih berdiri dengan tegar walaupun sudah orgasme di lubang surgawiku.

Walaupun terongnya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya, Laki-laki itu menghentikan persetubuhan denganku, karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk menyetubuhiku.

Kini gantian dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri yang ternyata entah sejak kapan dia sudah bertelanjang bulat. Suamiku dengan segera menggantikan laki-laki itu dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat.

Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian menyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan terongnya itu ke dalam lubang sugawiku. Mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia menghunjamkan terongnya ke dalam lubang surgawiku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat.

Malam itu, harga dirinya runtuh tanpa membekas sedikitpun. Tubuhnya diperlakukan seperti barang sewaan.

Ia tidak lagi merasa hidup, Bessel van der Kolk pernah berkata, “Trauma terjadi ketika seseorang tidak memiliki kekuatan untuk melawan atau melarikan diri.”

________

Membangun Diri di Antara Retakan

Setelah Pristiwa malam itu, Akhirnya Sinta memutuskan untuk meninggalkan rumah metuanya dan Pergi tanpa sepengetahuan suaminya dengan mencari kontrakan rumah yang murah yang jauh agar tidak di ketahui suami, sahabat dan keluarga suaminya.

Setelah ngobrol mencurahkan isi hati serta permasalahan yang di hadapinya kepada salah satu sahabat yang bisa di percaya, akhirnya sinta mengambil keputusan besar.

Beberapa minggu kemudian, dengan di dampingi sahabatnya, Sinta meminta bantuan di sebuah kantor hukum. Di depannya, seorang pria muda berkacamata dan berjas sederhana.

Lalu sinta menceritakan semuanya yang dia jalani selama menikah dan dia alami selama tinggal bersama suaminya yang berprofesi sebagai Wasit sekaligus guru olah raga. Sinta bercerita dengan menahan dada yang sesak sekaligus geram atas semua yang di lakukan suaminya.

Lalu pengacara muda itu menjawab, “Tomas Wardana, SH., MH. Saya akan mendampingi Ibu,” katanya tenang.

Sinta menggenggam tasnya, lalu dengan suara gemetar dia berbicara, “Pak… apakah saya bisa bebas dari semua ini?”

Tomas menatapnya dengan tenang dan serius, “Ibu bukan pelaku kejahatan, tapi Ibu merupakan korban kebiadaban dan hukum negeri ini wajib melindungi korban.”

Kemudian Tomas membuka berkas, “Suami ibu telah melakukan beberapa kejahatan terhadap ibu, dia kan di jerat Bukan hanya dengan satu pasal hukuman Tapi berlapis.”

Tomas kembali mulai menjelaskan tentang Hukum secara Singkat,

“Pertama, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, tindakan, Memukul, Menampar, Mengancam dan Menelantarkan itu Termasuk tindak pidana.”

“Kedua, Perdagangan Orang, Menurut UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Menjual atau mengeksploitasi seseorang untuk tujuan seksual termasuk perdagangan manusia, meskipun pelaku adalah suami sendiri.”

Maka dari itu, Ancaman Pidana Pelaku dapat dikenakan, Pidana penjara, Denda besar dan Hukuman tambahan

Setelah menjelaskan kepada sinta, Tomas menutup berkasnya, lalu berkata, “Pristiwa yang ibu alami dan dilakukan suami Ibu adalah bentuk eksploitasi seksual dan Itu kejahatan serius.”

Sinta pun menangis, dan berkata dengan suara yang serak, “Tolong aku pak, Aku hanya ingin hidup tenang dan ingin di manusiakan dengan kebahagiaan…”

Tomas mengutip buku Rollo May dan berkata pelan, “Kadang, keadilan dimulai dari keberanian untuk bersuara. Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah memilih melawan meski takut.”

Baca Juga   Cerita Fiksi : Jalan Sunyi " Di Antara Menjaga Nilai Dan Kehilangan Arah "

Di dampingi Tomas dan sahabatnya, Sinta pergi ke Polres Metro kota madya, kemudian mereka duduk di kursi laporan dengan tangan gemetar.

Di hadapannya seorang Polisi bertanya, “Apakah ibu Sinta yakin ingin melaporkan suami Anda sendiri?”

Sinta menoleh ke Tomas dan Tomas mengangguk pelan.

Sinta menarik napas panjang dan menjawab, “Iya pak. Saya sangat yakin.”

Walaupun matanya terus mengalir, tapi kali ini bukan karena takut, tapi mencoba Membangun Diri di Antara Retakan dan ia memilih melawan ketakutan dalam dirinya sendiri.

Berita hari itu menyebar begitu cepat;

“Wasit nasional sekaligus guru olahraga telah jual istrinya.”

“Guru olahraga sekolah terlibat eksploitasi seksual.”

“Kisah pilu wanita muda di balik pernikahan dengan seorang wasit liga nasional.”

Media sosial ramai dan heboh. Orang-orang yang dulu memuji kebahagiaan Sinta kini terdiam karena mereka tidak pernah benar-benar mengetahui kehidupan Sinta yang sebelumnya.

Media sosial sinta banya di kunjungi warga net dan memberikan dukungan agar terus melawan dan harus memenjarakan suaminya. Foto-foto di akun media sosialnya yang tampak bahagia itu kini terasa seperti topeng.

Akhirnya banyak orang meyakini Tidak semua pernikahan menjadi rumah, Sebagian hanyalah kontrak penderitaan yang disahkan oleh rasa takut. Cinta tidak pernah meminta tubuh sebagai bukti kesetiaan, Karena Ketika cinta berubah menjadi transaksi, maka pernikahan berubah menjadi pasar.

 

Epilog

Sidang di pengadilan agama terakhir berlangsung singkat, namun terasa panjang di dada Sinta. Palu hakim hanya diketuk satu kali, tetapi gema bunyinya seperti menutup seluruh luka yang ia bawa selama hampir tiga tahun.

“Perkara Cerai antara Sdr. Ferdy Roger dan Sdri. Sinta Prasista  dikabulkan,” ucap hakim dengan suara tegas.

Sinta pun langsung menunduk, Air matanya jatuh perlahan, bukan karena sedih, melainkan seperti seseorang yang baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya.

Di luar ruang sidang, Tomas berdiri menunggunya, “Sudah selesai, Bu Sinta. Secara hukum, Ibu sudah bebas.”

Sinta pun tersenyum tipis, “Alhamdulillah akhirnya bisa Bebas dari penderitaan panjang… ya?”

Selanjutnya, Ia menatap langit siang yang cerah dan Untuk pertama kalinya, cahaya matahari tidak terasa menyilaukan, tetapi hangat.

“Terima kasih, Pak Tomas. Kalau bukan karena bantuan dan dukungan Bapak, mungkin saya masih di sana… di rumah yang penuh neraka itu.” Lanjut Sinta dengan tenang.

Tomas pun menggeleng, lalu berkata, “Bukan karena saya, Tapi Karena Ibu berani melangkah untuk keluar dan melawan.”

Sinta kembali terdiam. Ia mengingat semua malam penuh tangis, ancaman, tamparan dan penghinaan yang pernah ia alami. Ia mengingat betapa ia dulu takut pada kata “cerai”, seolah itu menjadi aib yang lebih besar dari penderitaan. Kini ia sadar, kadang berpisah menjadi atu-satunya cara untuk menyelamatkan diri.

Beberapa bulan kemudian, hidup Sinta berubah perlahan. Ia kembali ke rumah orang tuanya dan mulai bekerja di sebuah pusat Perbelanjaan sebagai penjaga toko pakaian.

Suatu sore, ia duduk di bangku taman kota, memandangi anak-anak berlarian.

Seorang teman yang menjadi tempat curhat serta mendampinginya menyelesaikan permasalahannya, kini datang menghampiri, “Sinta… kamu terlihat berbeda sekarang, Lebih dewasa dan Lebih tenang.”

Sinta pun tersenyum. “Mungkin Aku tidak bahagia setiap hari. Tapi setidaknya aku tidak takut lagi setiap malam.”

_______

Di sisi lain, kasus pidana yang menjerat Fredy terus berjalan. Banyak Media masih menyorotnya sekaligus banyak orang terkejut dan banyak pula yang pura-pura tidak tahu. Namun bagi Sinta, itu bukan lagi pusat hidupnya.

Suatu malam, Sinta menulis di buku catatannya yang isinya:

“Aku dahulu pernah menjadi istri yang dijual oleh suaminya sendiri. Tapi hari ini, aku menjadi perempuan yang berani melawan dan membeli kembali harga dirinya.”

Ia menutup buku itu, mematikan lampu dan berbaring dengan tenang, Tidak ada teriakan, ancaman, pintu yang dibanting, yang ada Hanya sunyi yang damai penuh ketenangan dan hidupnya benar-benar dimulai.

“Cinta sejati tidak pernah menukar tubuh dengan ketakutan. Pernikahan yang sehat menjadi tempat manusia tumbuh, bukan tempat martabat dikubur. Kadang, akhir sebuah pernikahan merupakan awal dari kehidupan yang sebenarnya.”

 

=======TAMAT======

 

ARDHI MORSSE, SENIN 16 FEBRUARI 2026

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *