Kapolres Kutai Kartanegara Hadiri Reggae Night Arjuna Trail, Perkuat Sinergi dan Kamtibmas

SIDIKPOST| Kukar – Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar menghadiri kegiatan Reggae Night yang diselenggarakan oleh Arjuna Trail Kutai Kartanegara di Taman Musik Tenggarong, Jumat (23/1/2025) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Jalan S. Parman, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong tersebut dihadiri oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Adji Muhammad Ariffin, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, komunitas pecinta musik reggae dari Tenggarong dan Samarinda, serta masyarakat umum dengan jumlah pengunjung sekitar 150 orang.

Kehadiran Kapolres Kutai Kartanegara dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan Polri terhadap kegiatan positif masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi antara aparat keamanan, komunitas, dan warga dalam menjaga situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.

Dalam kesempatan itu, Kapolres Kutai Kartanegara tampak berbaur dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, sembari memastikan jalannya kegiatan berlangsung tertib dan aman. Polres Kutai Kartanegara juga menerjunkan personel pengamanan secara terbuka dan tertutup guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan selama acara berlangsung.

Rangkaian kegiatan Reggae Night diawali dengan pembukaan, dilanjutkan penampilan sejumlah band lokal seperti Takeru Band, Letheria Roots Band, Rasta Idaman Band, serta Enji Band, yang disambut antusias oleh para penonton. Selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi dan kebersamaan antar komunitas.

Kapolres Kutai Kartanegara menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang berlangsung tertib dan damai, serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga keamanan dan ketertiban bersama.

Kegiatan Reggae Night Arjuna Trail Kutai Kartanegara berakhir sekitar pukul 23.45 WITA dengan situasi aman, tertib, dan kondusif, mencerminkan sinergi yang baik antara Polri, panitia, dan masyarakat. (*)

 

Polsek Sanga Sanga Sigap Tangani Kebakaran Rumah Warga, Api Berhasil Dipadamkan Tanpa Korban Jiwa

SIDIKPOST| Kukar – Kepolisian Sektor Sanga Sanga bergerak cepat menangani peristiwa kebakaran satu unit rumah warga yang terjadi di Jalan Pangeran Hidayat RT 16, Kelurahan Sangasanga Dalam, Kecamatan Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat (23/1/2026) pagi.

Peristiwa kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 06.05 WITA dan menimpa rumah milik Hidayaturrahim (48). Mendapatkan laporan dari warga, personel Polsek Sanga Sanga segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan penanganan awal, pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), serta membantu proses pemadaman api bersama unsur terkait.

Kapolsek Sanga Sanga AKP Muhamad Zulhijah, menyampaikan bahwa kehadiran personel kepolisian di lokasi bertujuan untuk memastikan keselamatan warga, mengamankan area sekitar TKP, serta mendukung upaya pemadaman agar api tidak meluas ke bangunan lain.

“Begitu menerima informasi, personel kami langsung ke lokasi untuk membantu evakuasi, pemadaman, serta mengamankan TKP. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” ujar Kapolsek.

Upaya pemadaman dilakukan secara bersama-sama oleh Polsek Sanga Sanga, Koramil Sanga Sanga, Dinas Pemadam Kebakaran Sanga Sanga, Damkar Pertamina, para relawan, serta masyarakat sekitar. Api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 06.45 WITA.

Akibat kejadian tersebut, satu unit rumah warga mengalami kerusakan berat dengan kerugian material diperkirakan mencapai Rp500 juta. Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian.

Selain melakukan pengamanan, Polsek Sanga Sanga juga telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi serta pendataan di lokasi kejadian sebagai bagian dari proses penyelidikan lebih lanjut.

Kepolisian mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya pada instalasi listrik dan peralatan rumah tangga, guna mencegah kejadian serupa di kemudian hari. (*)

Kapolres Metro Tangerang Kota Tinjau Lokasi Pengungsian Banjir dan Dapur Umum, Salurkan Bantuan kepada Warga

SIDIKPOST | kota Tangerang – Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., melakukan pemantauan langsung ke sejumlah lokasi pengungsian dan posko dapur umum bagi warga terdampak banjir di wilayah Kota Tangerang, Jum’at (23/1/2026).

Pemantauan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian Polri serta untuk memastikan kondisi warga terdampak banjir tertangani dengan baik. Dimulai dari Posko Siaga Banjir Perumahan Periuk Damai RW 08, Kel/Kec. Periuk, Kota Tangerang, dilanjutkan ke beberapa titik pengungsian lainnya.

Kapolres didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Polres Metro Tangerang Kota Ny. Kamala Jauhari, Wakapolres Metro Tangerang Kota AKBP Eko Bagus Riyadi, S.H., S.I.K., M.Si., Kabag Ops, para Pejabat Utama Polres Metro Tangerang Kota, Kapolsek jajaran, serta beserta pengurus Bhayangkari.

Di lokasi pengungsian Masjid Al-Jihat Perumahan Periuk Damai RW 08, Kapolres dan rombongan menyapa para pengungsi serta menyerahkan bantuan berupa paket sembako. Kegiatan serupa juga dilaksanakan di Mushola Al-Amin, Kampung Candulan RT 03/07, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, dengan memberikan bantuan kepada warga yang terdampak banjir.

Selain itu, Kapolres Metro Tangerang Kota bersama Ketua Bhayangkari turut mengunjungi warga terdampak banjir di Perumahan Pinang Griya Permai RW 06, Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang. Pada kesempatan tersebut, Kapolres memberikan dukungan moril, motivasi, serta trauma healing kepada anak-anak korban banjir, sekaligus menyalurkan bantuan berupa paket sembako, susu dan popok bayi, serta selimut.

Kapolres Metro Tangerang Kota menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat yang tertimpa musibah merupakan bentuk tanggung jawab dan kepedulian institusi Polri.

“Kami ingin memastikan seluruh warga terdampak banjir mendapatkan perhatian dan bantuan yang dibutuhkan. Kehadiran kami di sini adalah untuk memberikan rasa aman, nyaman, serta memastikan penanganan bencana berjalan dengan baik,” ujar Kombes Pol. Raden Muhammad Jauhari.

Ia juga menambahkan bahwa Polres Metro Tangerang Kota akan terus bersinergi dengan seluruh pihak terkait dalam penanganan bencana banjir.

“Kami akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait agar kebutuhan para pengungsi dapat terpenuhi dan situasi tetap aman serta kondusif,” tambahnya

 

penulis : anton teef

editor : Redaksi

Cinta Tak Pernah Di Dengar” (kisah tentang lelah yang diabaikan)

“Bukan karena cinta habis, tetapi karena tak ada lagi yang mau mendengar lelah satu sama lain.”

=======

Cinta Tak Pernah Di Dengar adalah potret getir sebuah rumah tangga yang runtuh bukan semata karena pengkhianatan, melainkan oleh kelelahan yang terus diabaikan dan cinta yang tak pernah benar-benar didengar.

Kamelia Putri biasa di panggil Lia, Ia menikah dengan Danu Budiman, seorang lelaki pekerja keras dengan karier gemilang. Demi Kamelia yang merupakan anak tunggal, Danu rela tinggal di rumah orang tua istrinya, menyerahkan seluruh penghasilannya, dan menekan egonya sebagai kepala keluarga.

“Lelah paling berbahaya adalah lelah yang tak pernah dianggap ada. Ia bekerja keras untuk keluarganya, namun tak pernah didengar saat ia meminta istirahat.”

Namun seiring waktu, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi ruang pertengkaran tanpa jeda. Campur tangan orang tua, tuntutan emosional, dan komunikasi yang timpang membuat cinta mereka perlahan terkikis.

Ketika Danu berpindah kerja ke dunia televisi nasional, jarak fisik berubah menjadi jarak batin. Di tengah lelah dan kesepian, hadir Tania, Ia perempuan yang memberi perhatian tanpa tuntutan dan mendengar tanpa menghakimi. Dari rasa nyaman, Danu terjerumus pada cinta lain yang berujung pada pernikahan siri, disembunyikan dari keluarga pertamanya.

“Ketika cinta pertama tak lagi mendengar, cinta kedua datang sebagai pelarian. Pengkhianatan bukan selalu soal berani mencinta, tapi tentang gagal bertahan.”

Sementara itu, Kamelia yang tengah mengandung anak ketiga terperangkap dalam sunyi, curiga, dan amarah yang tak menemukan jawaban. Hingga suatu hari, kebenaran terbuka dengan cara

paling menyakitkan. Pengkhianatan terungkap, keluarga pecah, dan perceraian tak terelakkan.

Cerita ini menelanjangi kenyataan pahit bahwa nafkah tak selalu menyelamatkan pernikahan, kesetiaan bisa rapuh ketika empati hilang, dan cinta, jika tak pernah didengar, maka perlahan akan mencari telinga lain. Sebuah kisah tentang rumah, luka, dan kegagalan manusia memahami orang yang paling dekat dengannya.

“Kadang, kita kehilangan bukan karena orang itu pergi, tapi karena kita tak pernah menggenggamnya dengan benar. Cinta tak pernah meminta sempurna, ia hanya ingin didengar.”

 

DI ANTARA PULANG DAN PERGI

Kamelia Putri, biasa dipanggil Lia. Ia sosok perempuan yang tumbuh sebagai anak tunggal, dibesarkan dalam rumah yang rapi, penuh aturan dan kasih sayang yang sering diwujudkan dalam bentuk perhatian berlebihan.

Sejak kecil, Lia terbiasa menjadi pusat semesta orang tuanya. Apa pun yang ia inginkan, sebisa mungkin dipenuhi. Bukan karena ia manja, melainkan karena ia tidak pernah belajar berbagi ruang batin dengan orang lain.

Ketika ia menikah dengan Danu Budiman, seorang lelaki pekerja keras yang bekerja sebagai manajer di perusahaan minuman ringan ternama, Lia merasa hidupnya lengkap. Danu sosok tenang, rasional, pekerja keras, dan jarang banyak bicara. Ia bukan lelaki romantis dengan kejutan-kejutan kecil, tapi ia setia dan bertanggung jawab.

Karena Lia merupakan anak tunggal, keputusan besar diambil, setelah menikah mereka tinggal di rumah orang tua Lia.

Keputusan itu tampak sederhana di awal. Bahkan terasa logis. Rumah besar, orang tua Lia karena ayahnya seorang pengusaha dan Danu berpikir ini bagian dari baktinya sebagai menantu. Ia menekan egonya sebagai lelaki yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga di rumahnya sendiri.

Tahun pertama berjalan baik dan penuh kebahagian, kemudian di Tahun kedua mulai muncul gesekan kecil dia antara mereka layaknya rumah tangga dan di Tahun ketiga, pertengkaran mulai menjadi menu rutin walaupun mereka sudah memiliki buah hati. Hingga tanpa terasa, tujuh tahun pernikahan berlalu dan mereka telah dikaruniai dua anak laki-laki.

Danu setiap hari bekerja keras. Gajinya tidak kecil, sekitar tiga puluh juta rupiah per bulan dan seluruhnya ia serahkan kepada Lia. Ia tidak pernah menghitung berapa yang dipakai, berapa yang disisakan. Ia percaya, karena baginya, rumah tangga harus di bangun dengan kepercayaan. Namun ternyata kepercayaan itu perlahan berubah menjadi senjata.

Setiap kali pertengkaran terjadi, selalu bermuara pada kalimat yang sama. “Kamu itu kepala keluarga, tapi hidup di rumah orang tua aku.” “Kamu kerja, tapi di rumah nggak kelihatan perannya.” “Uang segitu harusnya cukup, tapi kenapa selalu kurang?”

Sebagai manusia biasa, Danu mulai merasa lelah. Bukan lelah bekerja, melainkan lelah merasa tidak pernah cukup.

Ia pulang ke rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat, malah berubah menjadi ruang interogasi. Tubuhnya ingin rebah, pikirannya ingin diam, tapi rumah selalu gaduh oleh tuntutan yang tidak pernah selesai.

Hingga suatu hari, Danu memutuskan pindah kerja. Ia diterima di sebuah stasiun televisi swasta, posisinya strategis, lingkungannya dinamis, dan menuntut mobilitas tinggi. Ia sering keluar kota, liputan ke daerah, rapat hingga larut malam. Pulang ke rumah semakin jarang dan anehnya, Danu merasa lebih hidup.

Di kantor barunya, ia bertemu banyak orang. Salah satunya seorang perempuan bernama Tania.

Tania tidak cantik berlebihan. Tapi ia tahu cara mendengar dan kapan harus bicara dan kapan cukup diam. Ketika Danu mengeluh tentang lelah, Tania tidak menghakimi apalagi membandingkan. Ia hanya berkata, “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kadang, lelah itu bukan karena pekerjaan, tapi karena tak pernah dimengerti.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Danu, itu seperti air di tengah padang kering.

Perhatian kecil Tania dan pesan singkat menanyakan kabar, kopi hangat di sela kerja, senyum tanpa tuntutan, perlahan mengisi ruang kosong yang selama ini tak pernah ia sadari begitu luas.

Di rumah, Lia menunggu dengan harapan yang berbeda.Setiap Danu pulang, Lia berharap ia datang membawa rindu, membawa perhatian, membawa cerita, memanjakannya seperti dulu. Tapi yang datang hanyalah lelaki lelah yang ingin tidur.

Harapan yang tidak bertemu kenyataan menjelma amarah. Amarah menjelma pertengkaran. Pertengkaran membuat Danu semakin enggan pulang.

Ketika gaji bulanan mulai berkurang, Danu berdalih, “Di tempat baru, belum maksimal. Apalagi sebagai karyawan baru.”

Lia mulai curiga, tapi lebih memilih marah daripada bertanya dengan tenang.

Yang Lia tak tahu atau mungkin tak ingin tahu. Danu mulai menjalin hubungan dengan Tania. Awalnya sebatas teman biasa, sahabat curhat sesama rekan kerja hingga menjadi tempat pulang yang lain.

Mereka sering pergi bersama, dengan alasan kerja luar kota. Danu menemukan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, di rumah besar yang sunyi, Kamelia tengah mengandung anak ketiga. Perutnya membesar, emosinya mudah naik turun dan kesepiannya kian menebal.

Danu semakin jarang pulang. Anak-anak mulai bertanya, “Papa ke mana, Ma?” Lia tak punya jawaban selain diam.

Ia mulai merasa ditinggalkan, dikhianati, tapi juga tak pernah benar-benar bercermin: apakah selama ini ia mendengar lelah suaminya, atau hanya menuntut tanpa memberi ruang?

Di satu sisi kota, seorang lelaki memilih tinggal di luar rumah demi ketenangan. Sedangkan, disisi lain, seorang perempuan memeluk perutnya yang membesar, menahan tangis, merasa berjuang sendirian.

Tak ada yang sepenuhnya benar dan Tak ada yang sepenuhnya salah, Yang ada hanya dua manusia yang sama-sama lelah, namun lupa saling menggenggam ketika lelah itu datang.

Dan di antara pulang dan pergi itu, sebuah keluarga berdiri di tepi jurang, menunggu apakah masih ada keberanian untuk saling memahami, atau justru memilih jatuh dalam diam.

 

DI ANTARA MARAH DAN SUNYI

 

Setiap kali Danu pulang ke rumah, Kamelia justru semakin berubah. Bukan menjadi lembut karena rindu, melainkan semakin keras oleh akumulasi kecewa yang tidak pernah selesai. Nada bicaranya meninggi, kata-katanya tajam dan kesalahan kecil selalu dibesarkan seolah menjadi dosa besar.

“Pulang-pulang Cuma tidur!”, “Anak-anak jarang kamu perhatikan!”, “Kerja ke luar kota apa ke mana sebenarnya?!”

Pertengkaran itu jarang hanya berdua. Orang tua Kamelia yang sejak awal merasa rumah itu merupakan wilayah mereka, sering ikut masuk ke dalam konflik. Kalimat-kalimat seperti:

“Dulu kalau tidak sanggup, jangan menikah!”, “Laki-laki itu harus tahu diri tinggal di rumah mertua!”, “Uang saja tidak cukup, tanggung jawab itu sikap!”

Kata-kata yang tajam dan menyakitkan, Menjadi bumbu yang membuat api semakin besar. Danu semakin kehilangan ruang. Ia bukan hanya suami yang dimarahi, tetapi lelaki dewasa yang harga dirinya pelan-pelan dikikis di hadapan anak-anak dan mertuanya sendiri. Ia mulai merasa seperti tamu yang tidak diinginkan di rumah yang seharusnya ia sebut rumah.

Hingga akhirnya, Danu mengambil keputusan diam-diam. Ia lebih sering menginap di hotel atau penginapan kecil dekat kantornya. Bukan untuk bersenang-senang. Bukan pula untuk berfoya-foya. Ia hanya ingin tidur tanpa pertengkaran, bangun tanpa bentakan, dan menikmati sunyi yang tidak menghakimi.

Di tempat itu, Danu bisa menjadi dirinya sendiri, Seorang lelaki lelah yang hanya ingin istirahat. Karier Danu justru menanjak, dari satu stasiun televisi ke stasiun lain, hingga akhirnya ia diterima di perusahaan televisi nasional besar, dengan jabatan yang membuat penghasilannya jauh di atas karyawan biasa. Secara ekonomi, ia semakin mapan. Namun secara batin, rumahnya semakin jauh.

Kamelia tetap menerima dua puluh juta rupiah per bulan. Itu merupakan Jumlah yang bagi banyak keluarga sudah lebih dari cukup, Tapi bagi Kamelia, angka tidak pernah mengalahkan rasa. Ia merasa ditinggalkan, dikhianati secara emosional, meski belum memiliki bukti apa pun.

Di sisi lain kehidupan Danu, Tania hadir tanpa tuntutan. Tania tidak menanyakan kenapa Danu jarang pulang dan Tidak menghitung berapa uang yang ia beri, serta Tidak mengungkit masa lalu.

Ia hanya hadir dengan semua bentuk perhatian, motivasi, dan cinta yang membuat Danu merasa dihargai sebagai manusia, bukan hanya sebagai penyedia nafkah.

Pelan-pelan, hubungan itu melewati batas yang seharusnya tidak dilewati, Hingga akhirnya, dalam sebuah keputusan yang lahir dari rasa nyaman, pelarian, dan cinta yang terasa utuh, Danu menikahi Tania secara siri.

Pernikahan itu berlangsung di Puncak, Jawa Barat. Pernikahan dengan acara Sederhana. Tanpa kemewahan, Tanpa tamu ramai. Hanya beberapa saksi, udara dingin pegunungan, dan janji yang diucapkan dengan keyakinan penuh. Bagi Danu, itu bukan sekadar pernikahan. Itu menjadi rasa pulang.

Hari berganti, waktu terus berlalu, kebahagiaan yang disembunyikan selalu punya cara untuk menemukan jalannya sendiri.

Suatu hari, Danu pulang ke rumah Kamelia. Tubuhnya lelah setelah perjalanan panjang. Ia tertidur tanpa sempat mengunci ponselnya. Kamelia, yang sejak lama dihantui kecurigaan, tanpa sengaja atau mungkin dengan dorongan hati yang tidak tertahankan membuka handphone suaminya.

Chat itu pun terbuka, Nama seorang perempuan dengan ada percakapan yang terlalu hangat, serta Panggilan yang terlalu intim.

Dunia Kamelia seketika runtuh, Tangannya gemetar saat membuka media sosial. Ia menelusuri akun yang sama. Dan di sanalah ia melihatnya, Sebuah dokumentasi pernikahan. Foto sederhana, tapi penuh kebahagiaan. Wajah Danu yang tersenyum dengan cara yang sudah lama tidak ia lihat di rumah.

Tangis Kamelia pecah, Amarahpun menyusul Dan orang tua Kamelia pun ikut terbakar oleh rasa malu dan dikhianati.

“Kamu mempermalukan keluarga kami!”, “Kamu menghancurkan anak kami!”, “Kamu laki-laki tidak bertanggung jawab!”

Danu tidak membela diri. Kata-kata terasa sia-sia di hadapan luka yang telanjur menganga.

Akhirnya, Kamelia meminta berpisah dan menggugat cerai.

Proses hukum berjalan panjang dan melelahkan. Hakim menunda putusan hingga Kamelia melahirkan anak ketiganya. Di ruang persalinan, Kamelia menahan sakit sendirian, bukan hanya sakit tubuh, tapi sakit karena impian tentang keluarga utuh telah hancur.

Setelah kelahiran itu, perceraian dikabulkan, Tak ada sorak kemenangan dan Tak ada kelegaan sempurna.

Yang tersisa hanyalah: Seorang perempuan dengan tiga anak. Seorang lelaki dengan dua rumah tangga dan beban moral yang tidak ringan.

Dan anak-anak yang kelak tumbuh membawa pertanyaan tentang cinta, kesetiaan, dan luka orang dewasa, Karena pada akhirnya, perselingkuhan tidak pernah lahir dari satu orang saja dan perceraian bukan hanya tentang siapa yang salah, tetapi tentang siapa yang paling dulu berhenti mendengar.

 

PENUTUP : AKHIR SEBUAH KISAH

Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling lama memendam rasa tak didengar.

“Cinta tidak mati karena benci, ia mati perlahan karena lelah yang tak pernah ditanya.”

Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, berubah menjadi ruang penghakiman, hingga seseorang mencari telinga lain untuk sekadar didengar.

“Ketika pulang selalu berujung pertengkaran, pergi terasa seperti bentuk bertahan hidup.”

Tak ada pemenang dalam pengkhianatan dan tidak ada juara dalam perceraian yang ada hanya luka yang diwariskan serta anak-anak yang tumbuh dari reruntuhan janji.

“Kesetiaan rapuh bukan karena cinta kurang, tetapi karena perhatian tak pernah cukup.”

Dan cinta kedua bukanlah solusi, ia hanya pelarian dari cinta pertama yang terlalu lama diabaikan.

“Cinta yang tak pernah didengar akan mencari tempat lain untuk dimengerti.”

Karena sejatinya, lelah paling berbahaya Merupakan lelah yang tak pernah dianggap ada.

“Dalam perpisahan, tak ada yang benar-benar menang yang ada hanya kehilangan yang dibagi rata.”

 

========TAMAT======

 

ARDHI MORSSE, KAMIS 22 JANUARI 2026

 

Polsek Loa Kulu Tebar Kepedulian Lewat Bantuan Sosial bagi Warga

SIDIKPOST| Kukar – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, Polsek Loa Kulu Polres Kutai Kartanegara melaksanakan kegiatan penyerahan bantuan sosial kepada warga di Kecamatan Loa Kulu, Kamis (22/1/2026).

Kegiatan bakti sosial tersebut dipimpin langsung oleh Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto, didampingi Kanit IK Polsek Loa Kulu Aiptu Filman Ardiansyah serta Bhabinkamtibmas Desa Jembayan Tengah Aipda Erwin. Bantuan diserahkan kepada warga RT 01, RT 02, dan RT 04 Desa Jembayan Tengah yang dinilai membutuhkan perhatian.

Adapun penerima bantuan sosial masing-masing adalah warga RT 01 Dusun Lempatan Baru, warga RT 02 Dusun Lempatan Baru, serta warga RT 04 Dusun Al Hidayah Desa Jembayan Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, Polsek Loa Kulu menyalurkan paket sembako berupa beras, telur, tepung, minyak goreng, gula, kopi, teh, susu, kecap, serta mie instan. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Kapolsek Loa Kulu AKP Hari Supranoto menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian dari komitmen Polri untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga dalam aksi kemanusiaan dan kepedulian sosial.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat, serta menumbuhkan rasa saling peduli demi terciptanya lingkungan yang aman, harmonis, dan kondusif,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan bakti sosial ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan dan kerja sama antara masyarakat dengan kepolisian, sekaligus menjadi contoh dan inspirasi bagi pihak lain untuk turut peduli terhadap sesama. (*)

Polsek Tenggarong Lakukan Pengamanan dan Penyelidikan

SIDIKPOST| Kukar – Kepolisian Sektor Tenggarong bergerak cepat menangani musibah kebakaran yang menghanguskan tiga pintu kos kayu milik warga di Jalan Ruwan Gang 7 RT 02, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kamis (22/1/2026) pagi.

Kapolsek Tenggarong AKP Achmad Hanifi menjelaskan bahwa peristiwa kebakaran terjadi sekitar pukul 07.00 WITA. Begitu menerima laporan dari masyarakat, personel Polsek Tenggarong langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pengamanan dan membantu proses penanganan kebakaran.

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, api pertama kali diketahui oleh seorang penyewa kos saat kembali ke tempat tinggalnya. Saat itu, api sudah terlihat membakar salah satu pintu kos dan dengan cepat merambat ke bangunan lain yang berbahan kayu. Warga setempat kemudian berupaya meminta bantuan serta melaporkan kejadian tersebut kepada pemilik kos dan pihak berwenang.

Petugas kepolisian bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kutai Kartanegara dan relawan segera melakukan upaya pemadaman. Sebanyak dua unit mobil pemadam kebakaran, tiga unit mobil relawan, personel Polsek Tenggarong, serta masyarakat sekitar terlibat langsung dalam proses pemadaman api. Sekitar pukul 08.00 WITA, api berhasil dipadamkan sepenuhnya.

“Anggota kami langsung mengamankan lokasi kejadian, melakukan pendataan, serta mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut,” ujar AKP Achmad Hanifi.

Akibat kebakaran tersebut, tiga pintu kos kayu habis terbakar dengan kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp150 juta. Dalam peristiwa ini tidak terdapat korban jiwa.

Polsek Tenggarong mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya pada bangunan berbahan mudah terbakar, serta segera melaporkan kepada pihak kepolisian atau pemadam kebakaran apabila terjadi keadaan darurat. (*)

Press Conference, Polres Kukar Ungkap Dua Kasus Besar Narkotika

SIDIKPOST| Kukar – Polres Kutai Kartanegara kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberantasan peredaran gelap narkotika. Dalam press release yang digelar di Ruang Catur Prasetya Polres Kutai Kartanegara, Kamis (22/1), Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar mengungkap keberhasilan Satresnarkoba dalam mengungkap dua kasus besar narkotika dengan total barang bukti lebih dari 1,4 kilogram sabu.

Press release tersebut dipimpin langsung oleh Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar, didampingi Wakapolres Kukar Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra, Kasat Resnarkoba AKP Yohanes Bonar Adiguna, serta dihadiri Kasi Humas IPTU Maryono dan sekitar 30 awak media.

Kapolres menjelaskan, pengungkapan pertama terjadi pada Minggu, 11 Januari 2026, sekitar pukul 15.30 WITA di Jalan Separi Besar RT 011, Desa Suka Maju, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Berdasarkan informasi masyarakat, tim opsnal Satresnarkoba melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan seorang laki-laki berinisial F (36).

Dari tangan tersangka, petugas menyita 2 bungkus narkotika jenis sabu seberat 101,31 gram, beserta sejumlah barang bukti lain berupa alat hisap, plastik klip, handphone, dompet, pakaian, serta 1 unit sepeda motor Yamaha NMAX. Berdasarkan pengakuan tersangka, sabu tersebut akan diserahkan kepada seseorang berinisial A atas perintah T, yang keduanya kini telah ditetapkan sebagai DPO.

Pengungkapan kedua dilakukan pada Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 18.30 WITA di Jalan Perjiwa, Desa Perjiwa, Kecamatan Tenggarong Seberang. Petugas mengamankan tersangka F (35) dengan barang bukti 7 bungkus sabu seberat 263,62 gram, uang tunai Rp5 juta, handphone, dan sepeda motor.

Pengembangan kasus berlanjut hingga pukul 20.30 WITA di wilayah Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, di mana petugas kembali mengamankan tersangka G (35) di tempat tinggalnya. Dari lokasi tersebut, Satresnarkoba menyita 16 bungkus sabu seberat 1.081,38 gram, timbangan digital, alat press plastik, alat hisap, handphone, uang tunai, serta 1 unit mobil Daihatsu Xenia. Seorang pelaku lain berinisial L juga telah ditetapkan sebagai DPO.

Kapolres Kukar menegaskan, para tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto ketentuan pidana terbaru, dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 20 tahun dan/atau denda minimum Rp2 miliar.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif masyarakat dalam memberikan informasi. Kami mengimbau seluruh warga untuk terus bersinergi dan segera melaporkan apabila mengetahui adanya penyalahgunaan maupun peredaran gelap narkotika,” tegas AKBP Khairul Basyar.

Saat ini, seluruh tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Mapolres Kutai Kartanegara untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. (*)

Polres Kutai Kartanegara Peringati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H

SIDIKPOST| Kukar – Polres Kutai Kartanegara menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2026 Masehi sebagai momentum refleksi spiritual untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan seluruh personel Polri dalam pelaksanaan tugas pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung Kamis (22/1) di Ruang Catur Prasetya Polres Kutai Kartanegara dan dihadiri langsung oleh Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Khairul Basyar, Wakapolres Kutai Kartanegara Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra, para Pejabat Utama (PJU) Polres, Bhayangkari Cabang Kutai Kartanegara, serta seluruh personel Polres Kutai Kartanegara.

Peringatan Isra’ Mi’raj kali ini mengusung tema “Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW Memperteguh Keimanan dan Ketakwaan Personel Polri untuk Masyarakat dalam Aksi Kemanusiaan dan Kepedulian Sosial.” Tema tersebut menjadi pengingat penting bagi seluruh anggota Polri agar nilai-nilai spiritual senantiasa menjadi landasan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Acara berlangsung khidmat dengan diisi tausiyah oleh Guru Mahyudin Noor, yang menyampaikan makna mendalam peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam menerima perintah salat, sekaligus sebagai simbol kedisiplinan, keikhlasan, dan tanggung jawab moral umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam ceramahnya, Guru Mahyudin Noor mengajak seluruh personel Polri untuk menjadikan nilai-nilai Isra’ Mi’raj sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak, khususnya dalam memberikan pelayanan yang humanis, adil, dan penuh empati kepada masyarakat.

Kapolres Kutai Kartanegara dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj tidak hanya menjadi kegiatan seremonial keagamaan, namun juga sebagai sarana pembinaan rohani dan mental personel. Diharapkan, dengan penguatan keimanan dan ketakwaan, anggota Polri mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H di Polres Kutai Kartanegara berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kekhusyukan, sekaligus mempererat kebersamaan antara pimpinan, personel, dan keluarga besar Polri.(*)

Anggota Polres Metro Tangerang Kota Turun Lapangan Bantu Warga Terdampak Banjir

SIDIKPOST| TANGERANG KOTA – Polres Metro Tangerang Kota terus melakukan kesiapsiagaan dan penanganan dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi akibat curah hujan tinggi. Hingga Kamis, 22 Januari 2026 pukul 23.00 WIB, tercatat sebanyak 32 titik banjir dan genangan air tersebar di wilayah hukum Polres Metro Tangerang Kota.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, bencana hidrometeorologi tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun berdampak pada aktivitas masyarakat dan pemukiman warga. Sebanyak 160 orang dari 16 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke beberapa lokasi pengungsian yang telah disiapkan oleh petugas.

Genangan air terpantau di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Benda, Ciledug, Cipondoh, Pinang, Jatiuwung, Sepatan, Pakuhaji, hingga Teluknaga. Ketinggian air bervariasi mulai dari 5 sentimeter hingga mencapai 120 sentimeter, dengan kondisi terparah terjadi di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, yang mengakibatkan akses Jembatan Bendungan Polor tidak dapat dilalui kendaraan roda dua.

Selain banjir, tercatat pula satu kejadian pohon tumbang di wilayah Pakuhaji, tepatnya di Kampung Kebon Cabe, Desa Gaga. Pohon jenis waru dengan tinggi sekitar 25 meter dan diameter batang 2 meter tumbang akibat cuaca ekstrem dan menimpa dua unit rumah warga. Meski menimbulkan kerusakan materiil, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Polres Metro Tangerang Kota telah mendirikan empat Posko Siaga Bencana, yakni di Polres Metro Tangerang Kota, Kantor Damkar Kecamatan Benda, Kantor Satpol PP Kecamatan Teluknaga, serta di Kampung Alar Indah, Desa Kohod, Pakuhaji.

Upaya penanganan yang dilakukan meliputi evakuasi warga terdampak, pengaturan dan pengalihan arus lalu lintas di titik-titik rawan, pembersihan pohon tumbang, koordinasi lintas sektor dengan Pemda, BPBD, PLN, serta stakeholder terkait, patroli dan pengamanan rumah kosong, serta pemeriksaan medis dasar oleh puskesmas setempat.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan secara intensif dan akan menyampaikan perkembangan situasi secara berkala setiap satu jam guna memastikan keamanan dan keselamatan masyarakat.

“Seluruh jajaran tetap siaga dan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat hingga situasi benar-benar dinyatakan aman dan kondusif,” tegasnya.

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

DPRD Kota Tangerang Direncanakan Sidak Bangunan Liar dan Tak Berijin , Warga Harap Ada Tindakan Tegas

SIDIKPOST| KOTA TANGERANG – Rencana inspeksi mendadak (sidak) oleh anggota dan fraksi DPRD Kota Tangerang terhadap bangunan liar yang diduga tidak berizin di wilayah berlokasi di Jalan MH Thamrin RT 002 RW 001, Kelurahan Panunggangan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang mendapat respons positif dari warga sekitar.

Menurut informasi yang diterima awak media, sejumlah anggota DPRD Kota Tangerang dijadwalkan akan turun langsung ke lapangan untuk meninjau bangunan yang disinyalir berdiri tanpa mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)

Sidak tersebut dilakukan sebagai bentuk pengawasan terhadap pelanggaran perizinan yang dinilai masih marak terjadi.

Anton, salah satu warga sekitar lokasi bangunan, mengapresiasi rencana kunjungan anggota DPRD Kota Tangerang tersebut.

Ia berharap kehadiran wakil rakyat dapat mendorong adanya tindakan nyata dan tegas dari pemerintah daerah.

“Kami sangat mengapresiasi kalau DPRD benar-benar turun langsung. Ini menunjukkan ada kepedulian terhadap keluhan warga,” ujar Anton. ( 22/1)

Namun demikian, Anton menilai seharusnya bangunan liar dan tak berizin tersebut sejak awal sudah dilakukan penyegelan serta penghentian seluruh aktivitas pembangunan.

Menurutnya, pembiaran terhadap aktivitas pembangunan tanpa izin justru akan melemahkan wibawa aturan.

“Harusnya bangunan seperti ini sudah disegel dan pekerja dihentikan. Kalau tidak tegas, para pelanggar tidak akan takut dan akan terus mengulang,” tegasnya.

Anton juga menekankan bahwa penegakan aturan perizinan tidak hanya soal ketertiban, tetapi juga berdampak langsung pada pendapatan daerah. Ia menilai kepatuhan terhadap perizinan akan berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tangerang.

“Kalau pemilik taat aturan dan mengurus izin, tentu ada pemasukan untuk daerah. Itu kan bisa dipakai untuk pembangunan Kota Tangerang juga,” tambahnya.

Warga berharap sidak DPRD Kota Tangerang nantinya tidak hanya bersifat seremonial, melainkan diikuti dengan rekomendasi dan tindakan tegas terhadap bangunan-bangunan yang melanggar aturan perizinan.

Masyarakat pun meminta Pemerintah Kota Tangerang konsisten dalam menegakkan regulasi agar tercipta keadilan, ketertiban, serta iklim pembangunan yang sehat dan transparan.

Penulis : AT

Editor : Redaksi

Beton Jalur Bus AKAP dan TransJakarta di Terminal Kalideres Ables

SIDIKPOST | JAKARTA – Kondisi beton jalur bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan TransJakarta di area Terminal Kalideres, Jakarta Barat, dilaporkan mengalami kerusakan serius. Sejumlah titik beton terlihat retak hingga ambrol, sehingga mengganggu akses kendaraan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, terdapat empat titik kerusakan. Dua titik di antaranya sudah dilakukan penambalan, namun masih terlihat ambles. Sementara dua titik lainnya mengalami keretakan hingga ambrol.

Salah seorang pengemudi kendaraan roda empat, Ariyanto, mengaku prihatin dengan kondisi jalan akses masuk Terminal Kalideres yang banyak mengalami kerusakan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan fasilitas terminal besar seperti Kalideres.

“Saya prihatin melihat akses masuk kendaraan bus AKAP, TransJakarta, mobil, dan motor di terminal ini banyak yang pecah, berlubang, bahkan ambrol. Masa sekelas Terminal Kalideres fasilitas jalannya rusak seperti ini,” ujar Ariyanto saat ditemui di lokasi, Rabu (21/1/2026).

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Nur Prasetyo, menjelaskan bahwa pihaknya telah melaporkan kerusakan tersebut kepada Unit Pengelola Terminal (UPT) Provinsi DKI Jakarta agar segera dilakukan perbaikan.

“Kami sudah menginventarisir kerusakan dari ujung belakang sampai ujung depan terminal. Salah satu kerusakan berada di depan Pos Polisi dengan kedalaman mencapai satu ruas jari,” kata Nur Prasetyo melalui pesan singkat WhatsApp, Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, pendataan tersebut juga menjadi bagian dari rencana revitalisasi menyeluruh sarana dan prasarana di kawasan Terminal Kalideres. Revitalisasi meliputi perbaikan kios, rambu-rambu, bangku ruang tunggu, serta fasilitas meja dan kursi yang akan ditempatkan di Pos Kesehatan.

“Seluruh kerusakan sarana dan prasarana sudah kami data dan akan dilaporkan ke pihak UPT. Harapannya, perbaikan ini dapat menunjang kenyamanan pengguna terminal sekaligus menghidupkan kembali aktivitas UMKM di kawasan terminal,” pungkasnya.

 

Penulis : Nissin

Editor : Redaksi

Warga Pertanyakan Tindak Lanjut Satpol PP, Bangunan Tak Berizin di Pinang Belum Disegel

SIDIKPOST | KOTA TANGERANG – Pasca kunjungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Pinang ke lokasi bangunan Jalan MH Thamrin RT 002 RW 001, Kelurahan Panunggangan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang yang diduga tidak memiliki izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), warga kembali mempertanyakan tindak lanjut penertiban yang dilakukan pemerintah.

Pasalnya, hingga saat ini bangunan yang berlokasi di wilayah Kecamatan Pinang tersebut belum dilakukan penyegelan,

sementara aktivitas pembangunan masih terus berlangsung. Pantauan warga di lokasi menunjukkan para pekerja masih melakukan pengerjaan meski bangunan tersebut belum mengantongi izin resmi.

Anton, salah satu warga sekitar, mengaku heran dengan kondisi tersebut. Menurutnya, kedatangan Satpol PP seharusnya diikuti dengan tindakan tegas berupa penyegelan bangunan dan penghentian sementara aktivitas pembangunan.

“Kami mempertanyakan hasil kunjungan Satpol PP kemarin. Sampai sekarang tidak ada penyegelan, tukang masih bekerja seperti biasa. Padahal bangunan itu belum berizin,” ujar Anton.

Anton menegaskan, sesuai aturan yang berlaku, bangunan yang belum memiliki izin seharusnya disegel terlebih dahulu dan seluruh aktivitas pembangunan dihentikan sampai pemilik bangunan melengkapi perizinan.

“Seharusnya bangunan disegel dulu dan pekerja disuruh berhenti. Jangan sampai aturan hanya jadi formalitas, tapi di lapangan tidak ditegakkan,” tegasnya.

Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Warga menilai jika aktivitas pembangunan tetap dibiarkan berjalan, hal itu dapat menimbulkan preseden buruk dan memicu anggapan bahwa pelanggaran perizinan dapat ditoleransi.

Warga berharap Pemerintah Kota Tangerang, khususnya Satpol PP, segera mengambil langkah konkret dan tegas agar penegakan aturan perizinan benar-benar dirasakan masyarakat.

“Kami tidak menolak pembangunan, tapi semua harus sesuai aturan. Kalau dibiarkan, ini tidak adil bagi warga atau pengusaha lain yang taat izin,” pungkas Anton.

Penulis : Anton

Editor : Redaksi