CSR, Koperasi Desa, dan Janji yang Terlalu Mudah Diucapkan

Oleh: A. Rosyid Warisman | Aktivis Prodem Banten

SIDIKPOST | TANGERANG – Penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Agung Sedayu Group (ASG) kepada ratusan Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Tangerang patut diapresiasi sebagai langkah konkret dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Dengan total nilai mencapai puluhan miliar rupiah dimana setiap masing-masing koperasi menerima Rp100 juta, adapun program ini secara normatif mencerminkan komitmen sektor swasta dalam mendukung pembangunan desa.

Namun yang perlu digarisbawahi, apresiasi tidak boleh menutup ruang kritik. Pertanyaan mendasar tetap relevan: apakah koperasi-koperasi tersebut benar-benar siap dan aktif, atau sekadar memenuhi aspek administratif program?

Koperasi desa selama ini diposisikan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi lokal. Ia diharapkan menjadi wadah kolektif masyarakat dalam mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, dan membangun kemandirian ekonomi.

Sayangnya, realitas di lapangan kerap menunjukkan kesenjangan antara idealisme dan praktik. Pembentukan koperasi yang dilakukan secara cepat dan masif berisiko melahirkan kelembagaan yang belum matang. Tidak sedikit koperasi yang belum memiliki unit usaha jelas, minim partisipasi anggota, serta lemah dalam tata kelola organisasi.

Dalam kondisi seperti ini, koperasi berpotensi menjadi sekadar formalitas administratif dan jauh dari perannya sebagai motor penggerak ekonomi desa.

Kemudian penyaluran dana dalam jumlah signifikan tanpa diiringi kesiapan kelembagaan jelas membuka potensi masalah baru. Dana Rp100 juta per koperasi dapat kehilangan efektivitas jika tidak dikelola secara produktif, transparan, dan akuntabel.

Lebih dari sekadar persoalan teknis, ini menyangkut arah dan keberhasilan program secara keseluruhan. Tanpa pengelolaan yang baik, bantuan yang dimaksudkan untuk pemberdayaan justru berisiko menjadi pemborosan sumber daya.

Adapun salah satu persoalan mendasar koperasi desa adalah keterbatasan kapasitas pengelola. Literasi keuangan, kemampuan manajerial, serta pemahaman tata kelola masih menjadi tantangan di banyak wilayah.

Oleh karenanya, penyaluran dana semestinya tidak berdiri sendiri. Ia perlu diiringi dengan program pendampingan berkelanjutan, pelatihan manajemen koperasi, serta penguatan sistem akuntabilitas. Tanpa itu, bantuan finansial cenderung tidak menghasilkan dampak jangka panjang.

Keterlibatan aparat penegak hukum dalam pengawasan merupakan langkah positif. Namun, efektivitas pengawasan sangat ditentukan oleh keterbukaan informasi.

Dengan begitu, anggota koperasi dan masyarakat luas harus memiliki akses terhadap laporan penggunaan dana, mekanisme evaluasi, serta prosedur penanganan penyimpangan. Transparansi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi untuk membangun kepercayaan publik.

Besarnya jumlah koperasi penerima dan nilai bantuan memang impresif. Namun keberhasilan program tidak dapat diukur dari angka semata.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah koperasi mampu menjalankan usaha secara berkelanjutan? Apakah pendapatan anggota meningkat? Dan apakah manfaat ekonomi dirasakan secara luas oleh masyarakat?

Tanpa indikator-indikator tersebut, program ini berisiko berhenti sebagai pencapaian administratif, bukan transformasi ekonomi.

Disisi lain kehadiran pejabat daerah dalam kegiatan penyaluran menunjukkan dukungan pemerintah terhadap penguatan koperasi desa. Namun dukungan tersebut harus melampaui simbolisme. Ia perlu diwujudkan dalam komitmen menjaga substansi program agar tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut pada dampak nyata.

Program CSR untuk Koperasi Desa Merah Putih menyimpan potensi besar dalam mendorong ekonomi lokal. Namun potensi tersebut hanya akan terwujud jika dibangun di atas kesiapan kelembagaan, pendampingan yang memadai, serta pengawasan yang transparan.

Masyarakat tidak membutuhkan program yang sekadar besar dalam angka, tetapi nyata dalam manfaat. Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak dana yang disalurkan, melainkan oleh seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa.

Kapolrestro Tangkot Cek Langsung Pengamanan Wafat Yesus Kristus, Pastikan Ibadah Aman dan Kondusif

SIDIKPOST| Tangerang – Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari turun langsung melakukan pengecekan pengamanan Perayaan Wafat Yesus Kristus di wilayah hukumnya, Jumat (3/4/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan aman, tertib, dan kondusif.

Pengecekan dilakukan di Gereja Katolik Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda yang berlokasi di Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang. Dalam kegiatan tersebut, Kapolres didampingi oleh Wakapolres serta sejumlah pejabat utama Polres Metro Tangerang Kota.

Sebanyak 72 personel gabungan diterjunkan dalam pengamanan, terdiri dari unsur TNI, Polri, Tramtib, tenaga kesehatan, hingga unsur pengamanan masyarakat.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari mengatakan, kehadiran aparat di lokasi ibadah merupakan bentuk komitmen Polri dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Kami memastikan seluruh rangkaian ibadah Perayaan Wafat Yesus Kristus berjalan aman dan kondusif. Personel telah ditempatkan sesuai ploting dan kami tekankan agar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab serta mengedepankan pendekatan humanis,” ujar Jauhari di lokasi.

Dalam pengecekan tersebut, Kapolres juga melakukan koordinasi langsung dengan pengurus gereja serta petugas pengamanan terkait sistem pengamanan yang diterapkan selama kegiatan ibadah berlangsung.

Selain itu, dilakukan pula pengecekan menyeluruh terhadap kesiapan personel di lapangan, baik pengamanan terbuka maupun tertutup, guna mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas.

“Pengamanan dilakukan secara maksimal dengan tetap mengacu pada SOP yang berlaku. Kami juga meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap potensi gangguan demi menjaga situasi tetap kondusif,” tambahnya.

Selama pelaksanaan ibadah, situasi terpantau aman, tertib, dan tidak ditemukan adanya gangguan menonjol. Kehadiran aparat keamanan juga mendapat respon positif dari para jemaat yang merasa lebih nyaman dalam menjalankan ibadah.

Polres Metro Tangerang Kota memastikan akan terus memberikan pelayanan terbaik dalam setiap kegiatan masyarakat, khususnya dalam momentum keagamaan, guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayah hukum Tangerang Kota.

 

Penulis : Anton Teef

Editor : Redaksi

 

JEJAK DI KAMPUNG BUKIT BARISAN (Dari Tungku Menuju Dunia)”

Prolog
Tidak semua perjalanan kehidupan ini dimulai dengan langkah yang ringan.
Ada yang mulai berangkat dari lelah, dari sesak yang tidak sempat diceritakan, dari hidup yang berjalan terlalu cepat hingga manusia lupa untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri untuk apa semua ini?
Ibu kota mengajarkanku banyak hal. Mulai dari tentang kerasnya bertahan hidup, tentang harga diri yang sering diuji oleh keadaan, tentang mimpi yang kadang harus ditunda demi kenyataan. Di tengah gedung-gedung tinggi dan jalanan yang tidak pernah sepi, aku belajar menjadi kuat… tapi perlahan juga belajar menjadi lelah dan rapuh.
Dan di saat itulah, pulang kampung menjadi satu-satunya jawaban yang terasa masuk akal.
Pulang kampung bukan sekadar kembali ke tempat lahir, tapi kembali ke sesuatu yang lebih dalam: akar kehidupan, kenangan yang terus melekat dan bagian dari diri yang sempat tertinggal.
Perjalanan panjang itu tidak mudah. Sangat panjang, melelahkan, penuh hambatan. Tapi setiap kilometer yang terlewati membawa satu hal yang tidak bisa dibeli di kota Yaitu, harapan untuk kembali utuh.
Aku tidak tahu, bahwa di kampung kecil di kaki Bukit Barisan itu, aku bukan hanya akan menemukan ketenangan Tapi, Aku akan menemukan cerita.
Cerita Tentang seorang sahabat yang tidak pernah berhenti berjuang, tentang keluarga yang bertahan dalam diam, tentang mimpi yang dimasak perlahan di atas tungku sederhana,
dan tentang kehidupan… yang ternyata tidak membutuhkan banyak hal untuk menjadi berarti.
Ini bukan kisah tentang orang-orang besar. Ini adalah kisah tentang mereka yang tetap berdiri, meski dunia tak pernah benar-benar melihat.
Dan dari sanalah semuanya bermula… dari sebuah perjalanan pulang yang penuh makna.

 

Aroma Yang Tidak Pernah Ada Di Ibu Kota

“Kampung kecil ini mungkin sunyi, tapi di sinilah mimpi-mimpi besar belajar berdiri tanpa tepuk tangan.”

Menjelang hari raya idul fitri kami sekeluarga melakukan Perjalanan pulang kampung, Perjalanan pulang kampung itu tidak pernah sekadar berpindah tempat, ia merupakan perpindahan rasa, dari penat menuju hangat, dari hiruk pikuk ibu kota menuju pelukan sunyi yang menenangkan jiwa.
Kami berangkat dari kota yang tidak pernah sepi dari berbagai aktivitas. Jalanan padat Kendaraan, klakson bersahutan, wajah-wajah lelah bercampur harap. Di dalam mobil, anak laki-lakiku mulai gelisah, istri sesekali menatap ke luar jendela, dan aku… tetap diam, memikirkan banyak hal, mulai dari makna sebuau perjalanan panjang ini, tentang rumah di kampung yang sudah lama tidak disinggahi, tentang orang tua yang menunggu tanpa banyak kata.
Perjalanan pulang kampung dengan Menyeberang ke Sumatera bukan perkara singkat. Antrean panjang di pelabuhan, panas, debu dan waktu yang seolah berjalan lambat. Tapi di situlah anehnya, lelah di seluruh badan ini terasa berbeda. Ada tujuan yang membuat semua terasa layak dijalani.
Ketika kapal Ferry mulai bergerak, angin laut menyapa wajah. Anak laki-lakiku tertawa melihat ombak, istri tersenyum tipis, dan hatiku mulai terasa ringan. Seolah setiap mil perjalanan yang terlewati perlahan mengikis beban yang selama ini dipikul diam-diam.
Dan ketika akhirnya roda kendaraan kami kembali menyentuh tanah Sumatera, semuanya cepat berubah.
Udara yang terasa lebih dingin, lebih bersih. Jalanan mulai lengang. Di kiri kanan, hamparan hijau terbuka luas, sawah yang membentang, kebun yang rapi, bukit yang berdiri anggun, dan gunung yang diam tapi memberi rasa teduh. Sesekali terlihat danau yang tenang, memantulkan langit seperti cermin raksasa.
Anak laki-lakiku mulai terdiam, mungkin takjub. Istri membuka jendela lebih lebar, membiarkan angin desa masuk, membawa aroma tanah dan dedaunan, aroma yang tidak pernah ada di ibu kota.
Di momen itu, aku sadar…
Pulang kampung bukan hanya tentang bertemu keluarga. Tapi tentang kembali menemukan diri yang sempat hilang di tengah kerasnya perjalana hidup.
Setiap tikungan jalan seperti membawa kenangan tersendiri. Setiap pohon seperti menyimpan cerita masa kecil dan setiap hembusan angin seperti bisikan yang berkata, “Kamu tidak pernah benar-benar pergi.”
Ketika akhirnya sampai di rumah, tidak ada kemewahan. Hanya air mata kerinduan, pelukan hangat dan senyuman tulus dari orang tua dan saudara. Tapi justru di situlah letak kekayaan yang sesungguhnya.
Idul Fitri pun terasa berbeda. Lebih sederhana, tapi jauh lebih bermakna bagi kehidupan.
Karena pada akhirnya, perjalanan panjang kehidupan ini bukan soal seberapa jauh jaraknya…Melainkan seberapa dalam rasa yang dibawanya pulang.

Kopi Nikmat dari Keringat Perjuangan

“Kampung kecil ini mungkin sunyi, tapi di sinilah mimpi-mimpi besar belajar berdiri tanpa tepuk tangan.”

Di kampung halamanku, kebahagiaan itu terasa sederhana, tapi justru di situlah letak keindahannya.
Anak laki-lakiku saat ini baru berumur delapan tahun seakan telah menemukan dunianya sendiri. Setiap pagi ia bangun dengan mata berbinar, tidak sabar diajak berkeliling, Dari rumah Uwak, ke Mang Cik, ke Ninik, ke Mamak, semua disambangi dengan langkah kecil yang penuh semangat. Ia mungkin belum sepenuhnya mengerti siapa mereka dalam silsilah keluarga, tapi ia merasakan satu hal yang pasti, Ia diterima dan disayangi.
Di setiap rumah-rumah yang kami datangi, selalu ada tawa, cerita lama yang diulang dan hidangan sederhana yang terasa istimewa. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya berlari-lari di halaman, bermain dengan sepupu dan temen-teman yang baru dikenalnya, seolah mereka sudah lama bersama.
Di sela kunjungan itu, aku menyempatkan diri bertemu sahabat lama lebih tepatnya sahabat kecil, aku memanggilanya, “Anto Koras.”
“Persahabatan tidak diukur dari seberapa sering bertemu, tapi dari seberapa dalam saling percaya dalam diam.”
Sejak pertama aku memarantau, namanya selalu punya tempat tersendiri dalam ingatanku. Kami tumbuh bersama, orang tua kami berteman dengan akrab, kami menyusuri masa kecil yang penuh keterbatasan di antara ladang dan perkebunan kopi, tapi juga penuh mimpi. Anto bukan anak biasa sejak dulu. Saat kami masih sibuk bermain, dia sudah sibuk berpikir bagaimana menghasilkan uang.
Saat itu, Sekitar tahun 90-an hingga awal 2000-an, ketika kami masih duduk di bangku sekolah dasar, Anto sudah memulai langkah kecilnya. Ia berdagang keripik, menjajakan buah-buahan hasil kebun dan semangat usaha setiap membawa dagangannya ke sekolah. Sementara kami yang lain masih bergantung pada uang jajan dari orang tua, Sedangkan Anto sudah belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Perjalanan waktu seperti tidak mengkhianati orang yang tekun. Hari ini, Anto Koras dikenal sebagai pengusaha yang mengembangkan usaha kopi, gula aren dan berbagai produk makanan dari UMKM. Tapi yang membuatku kagum bukan hanya usahanya yang berkembang, melainkan semangatnya yang tidak pernah padam sejak kecil.
“Tidak semua perjuangan harus terlihat hebat, Karena yang paling kuat justru sering lahir dari hal-hal yang sunyi.”
Ketika aku berkunjung kerumahnya dan Saat kami duduk bersama, menyeruput kopi hasil racikannya sendiri, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.
Obrolan kami sederhana dimulai tentang keluarga, tentang masa lalu masa dimana pulang sekolah main ke sungai, ke kebun dan tentang harapan ke depan. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang terasa kuat: perjalanan hidup yang berbeda, namun tetap terhubung oleh ikatan akar yang sama.
Anak laki-lakiku pun ikut duduk di dekat kami, memperhatikan dengan polos. Mungkin suatu hari nanti, ia akan mengerti bahwa di hadapannya bukan sekadar teman ayahnya, melainkan contoh nyata bahwa mimpi bisa tumbuh dari hal-hal kecil, selama dijaga dengan kerja keras, doa dan keyakinan.
Di kampung ini, aku bukan hanya pulang kampung untuk bertemu keluarga dan beristirahat. Tapi Aku pulang untuk mengingat kembali, bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa tinggi dan bertunas kita melangkah, tapi seberapa kuat dan dalam kita berakar.
Di antara keluarga, sahabat, dan kenangan…aku menemukan kembali alasan untuk terus berjalan ke depan.
“Di bukit yang dingin, kami belajar bahwa mimpi tidak butuh panggung besar, cukup hati yang tidak pernah padam. Sebagian orang menunggu keajaiban, sebagian lainnya menyalakan api dan menciptakannya sendiri.”

Harapan Besar di Kampung Kecil

“Dari gula aren yang sederhana, lahir pelajaran bahwa manis tidak pernah datang tanpa panas dan kesabaran.”
Malam itu kampung terasa lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Angin berhembus turun pelan dari bukit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang tenang. Aku berjalan sendiri menuju rumah Anto, mengikuti cahaya redup dan kepulam asap dari dapurnya yang masih menyala.
Dari kejauhan sudah terdengar suara kayu terbakar dan denting pengaduk gula yang beradu dengan kuali besar.
Ketika aku sampai, Anto sedang berdiri di depan tungku sambil mengaduk-aduk gula aren yang semakin mengental. Wajahnya berkeringat, diterangi api yang menyala, sementara di hadapannya air aren yang tadi sore ia sadap dari pohon-pohon semakin mengental. Tangannya terus bergerak, mengaduk perlahan, sabar, seolah ia tahu bahwa setiap detik menentukan rasa dan kualitas.
“Ia tidak menempuh pendidikan di Universitas terbaik tentang ilmu bisnis, tapi hidup mengajarinya cara bertahan dan berkembang. Di saat orang lain tidur, ia memilih terjaga, karena ia tahu, masa depan tidak dibangun dari kenyamanan.”
“Belum tiduk lur?” tanyaku dengan bahasa kampung.
Ia hanya tersenyum.
“Kalau adonan yang ini dibiarkan, biso rusak galo. Ini wajib dijago… Cak mimpi kito dulu,” jawabnya singkat.
Di sudut dapur, beberapa cetakan sudah tersusun rapi. Sebagian gula aren mulai mengeras, berwarna cokelat pekat, mengeluarkan aroma manis yang khas. Di sisi lain, ia mencampur sebagian cairan itu dengan perasan jahe, aromanya langsung berubah, hangat, tajam, seperti minuman yang bisa mengusir dingin dan lelah sekaligus.
Semua itu ia kerjakan sendiri, Anak-anaknya sudah terlelap. Istrinya pun sudah tidur lebih dulu, apalagi kini sedang mengandung anak ketiga. Tapi Anto tetap berdiri di sana, seakan malam bukan alasan untuk berhenti.
Lalu Aku duduk di dekatnya, memperhatikan tanpa banyak bicara. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan saat melihatnya sedang mengolah gula aren, bukan sekadar kerja keras, tapi ketulusan dalam menjalani sesuatu yang ia yakini hasilnya.
“Aku Cumo pengen ini jadi besak,” katanya tiba-tiba, matanya tetap fokus pada kuali.
“Bukan Cumo buat aku… tapi biar Wong lain tahu, dari kampung kecik ini jugo bono lahir barang yang bagus dan berkualitas tinggi. Siapo tahu… sampai ke luar negeri.”
Aku menatapnya sambil tersenyum kecil. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti mimpi yang terlalu tinggi. Tapi melihat cara Anto berdiri di depan tungku, tetes keringatnya, kesabarannya dan ketekunannya, mimpi itu justru terasa sangat masuk akal.
Karena ia tidak hanya berharap tapi Ia bekerja keras… setiap hari, bahkan di saat orang lain sudah terlelap.
Api di tungku terus menyala. Adukannya tidak pernah berhenti.
Dan malam itu, aku menyadari bahwa Beberapa orang tidak menunggu kesempatan datang. Akan tetapi Mereka menciptakannya, perlahan… dari panas, dari lelah dan dari keyakinan yang tidak pernah padam.
“Di bukit yang dingin, kami belajar bahwa mimpi tidak butuh panggung besar, cukup hati yang tidak pernah padam.”
Anto tidak pernah benar-benar berjalan sendirian, meski sering terlihat sendiri di depan tungku pada malam hari.
Di balik punggungnya yang terus bekerja, ada sebuah keluarga kecil yang ia jaga dengan sepenuh jiwa. Dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki yang masih butuh banyak hal dari dunia ini, dan satu lagi yang sedang menunggu waktu untuk lahir. Istrinya yang kini mengandung, lebih banyak beristirahat, sementara Anto mengambil alih hampir seluruh beban dan tanggung jawab tanpa banyak keluhan.
Di rumah itu juga ada ibunya. Seorang perempuan yang telah lebih dulu merasakan kerasnya hidup, terlebih sejak suaminya—ayah Anto—telah lama tiada. Kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang, tapi justru menjadi akar kekuatan bagi mereka. Anto bukan hanya menjadi kepala keluarga bagi istri dan anak-anaknya, tapi juga menjadi sandaran bagi ibunya.
Tidak jauh dari rumah itu, adik bungsunya tinggal.
Seorang laki-laki yang tumbuh dari tanah yang sama keras, sederhana, tapi penuh daya juang. Kini ia bekerja sebagai pegawai PLN, sebuah pekerjaan yang bagi banyak orang dianggap stabil dan mapan. Tapi rupanya, darah usaha itu tidak hilang. Di sela kesibukannya, ia juga beternak ikan lele, seolah tidak ingin hanya bergantung pada satu sumber kehidupan.
Aku teringat masa kecil mereka. Dua bersaudara itu bukan anak-anak yang menunggu diberi. Mereka merupakan anak-anak yang sejak dini belajar mencari. Adik bungsu Anto, bahkan pernah berkeliling kampung menjajakan mpek-mpek. Bukan untuk gaya, bukan untuk sekadar coba-coba, tapi untuk uang jajan sekolah, untuk membantu tambahan biaya jika ada kebutuhan mendadak yang tak bisa ditunggu.
“Anak-anak itu tidak mewarisi harta, tapi mereka mewarisi keteguhan yang lebih mahal dari segalanya.”
Di usia di mana anak-anak lain mungkin masih sibuk bermain tanpa beban, mereka sudah akrab dengan rasa lelah, dengan rasa tanggung jawab yang tumbuh lebih cepat dari usia mereka.
Dan kini, hasil dari semua itu mulai terlihat. Bukan dalam bentuk kemewahan, Tapi dalam bentuk keteguhan.
Anto dengan usahanya, adiknya dengan dua kaki yang berdiri di dunia kerja dan usaha, serta keluarga yang tetap saling menguatkan, semua seperti potongan cerita yang saling melengkapi.
Aku memandang mereka dan diam-diam belajar. Bahwa hidup tidak selalu harus dimulai dari kemudahan untuk bisa berhasil.
Kadang justru dari keterbatasanlah lahir orang-orang yang paling tangguh dan di kampung kecil itu, di antara tungku api, kolam lele, dan kenangan masa kecil yang sederhana…Aku melihat satu hal yang pasti, “Perjuangan yang jujur tidak pernah benar-benar sia-sia dan Dingin di bukit tidak pernah mematikan mimpi, Justru di sanalah api kecil belajar menjadi cahaya.”

Epilog
Tak terasa walaupun waktu selalu berjalan pelan di kampung, tapi pasti.
Beberapa hari berlalu sejak berkunjung di rumah Anto. Hari-hari diisi dengan kecerian tawa keluarga, suara takbir yang masih terngiang dan langkah-langkah kecil anakku yang seolah belum ingin pulang. Tapi seperti semua pertemuan, selalu ada perpisahan yang menunggu di ujungnya.
Hari itu, sebelum kembali ke ibu kota, aku berdiri sejenak di halaman rumah. Udara masih dingin, kabut tipis menggantung di antara bukit-bukit Bukit Barisan. Dari kejauhan terdengar suara ayam dan gemericik air yang mengalir tenang, suara-suara yang tak pernah ada di kota, tapi selalu dirindukan.
Aku mengigat ketika malam datang ke dapur rumah Anto. Tak ada yang berubah dari luar. Tetap sederhana. Tapi aku tahu, di sana ada mimpi yang terus dimasak, seperti gula aren yang ia aduk setiap malam secara perlahan, sabar dan penuh keyakinan.
Anak laki-lakiku Tiba-tiba datang dan menggenggam tanganku.
“Abah… nanti kita pulang kampung ke sini lagi, ya?”
Aku pun tersenyum.
“Iya nak… lain waktu kita akan kembali.”
Ketika Di perjalanan pulang, jalanan yang sama terasa berbeda. Bukan lagi sekadar rute panjang menuju kota, tapi seperti membawa sesuatu yang baru di dalam dada, yitu sebuah pengingat bahwa hidup tidak harus selalu berisik untuk berarti dan perjuangan tidak selalu harus terlihat besar untuk bernilai.
Dan dari kampung kecil di bukit barisan, dari tungku sederhana, dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam… bisa lahir harapan yang tak kalah besar dari siapa pun.
Mungkin suatu hari nanti, nama “Kopi Koras” dan “Gula Semut” itu benar-benar akan melintasi batas negeri, dikenal oleh banyak orang di tempat yang jauh dan jika hari itu datang, aku tahu satu hal pasti, Kesuksesan itu tidak lahir dalam sekejap.
Ia lahir dari malam-malam panjang yang sunyi, dari keringat yang jatuh tanpa tepuk tangan dan dari keyakinan yang tetap hidup meski dunia tak selalu melihat.
Di antara bukit-bukit hijau ada jejak-jejak kecil telah ditinggalkan dan suatu hari nanti… dunia akan mengikuti jejak yang indah di jalan terjal itu Tapi penuh makna yang dalam.

========TAMAT========

ARDHI MORSSE, JUMAT 3 APRIL 2026

Dari Narkoba hingga Debt Collector, Warga Curhat ke Polisi di Ngopi Kamtibmas

SIDIKPOST| Tangerang — Kepolisian terus memperkuat pendekatan humanis kepada masyarakat melalui program Ngopi Kamtibmas. Kali ini, kegiatan digelar di Balai Warga RW 03, Kelurahan Pondok Bahar, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, Kamis (2/4/2026) sore.

Dalam kegiatan tersebut, Wakapolres Metro Tangerang Kota AKBP Eko Bagus Riyadi hadir langsung menyapa warga, berdialog, sekaligus menyerap berbagai aspirasi dan keluhan masyarakat terkait situasi keamanan dan ketertiban.

Dalam sambutannya, Eko menegaskan bahwa Ngopi Kamtibmas merupakan program dari Polda Metro Jaya untuk mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi sarana kami untuk lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus menyampaikan tugas-tugas kepolisian serta menyerap aspirasi warga secara langsung,” ujar Eko di hadapan warga.

Ia juga menyampaikan bahwa situasi kamtibmas di Kota Tangerang relatif kondusif berkat peran aktif masyarakat. Namun demikian, sejumlah potensi gangguan keamanan tetap perlu diantisipasi bersama.

Salah satu perhatian utama, kata Eko, adalah maraknya kejahatan yang melibatkan anak di bawah umur, yang kerap dipicu oleh pengaruh media sosial dan minimnya pengawasan orang tua.

“Saat ini dinamika kejahatan sudah mulai melibatkan anak-anak. Ini menjadi perhatian kita bersama, terutama peran keluarga dalam pengawasan,” katanya.

Selain itu, dalam sesi dialog, warga juga menyampaikan kekhawatiran terkait penyalahgunaan narkoba serta maraknya praktik pinjaman online (pinjol) dan aksi debt collector yang dinilai meresahkan.

Menanggapi hal tersebut, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk aktif berkoordinasi dengan aparat setempat.

“Terkait pinjol dan debt collector, kami sarankan dibuat SOP di tingkat RT/RW. Setiap pihak yang datang harus seizin pengurus lingkungan,” jelasnya.

Untuk pencegahan narkoba, masyarakat juga dipersilakan mengajukan permohonan penyuluhan kepada pihak kepolisian, baik melalui Polsek maupun satuan narkoba.

Dalam kesempatan itu, Eko juga mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan darurat Call Center 110 sebagai sarana pelaporan cepat jika terjadi gangguan kamtibmas.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut diakhiri dengan pembagian paket sembako kepada warga serta sesi foto bersama.

Program Ngopi Kamtibmas sendiri menjadi bagian dari implementasi program “Jaga Jakarta Plus” yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan, warga, aturan, dan amanah secara bersama-sama.

Dengan pendekatan dialogis ini, diharapkan sinergi antara kepolisian dan masyarakat semakin kuat dalam menjaga keamanan wilayah tetap kondusif. (*)

Gerebek Rumah Biru di Desa Perdana, Polsek Kembang Janggut Amankan 37 Paket Sabu

SIDIKPOST| Kukar – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polsek Kembang Janggut berhasil mengungkap kasus peredaran gelap narkotika di wilayah hukum Polres Kutai Kartanegara. Seorang pria berinisial SH (54) diringkus petugas di kediamannya di Dusun Ketenuq, Desa Perdana, Kecamatan Kembang Janggut, pada Kamis (02/04/2026) sore.

Dalam penggerebekan tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti narkotika jenis sabu dalam jumlah cukup besar, yakni 36 bungkus plastik bening kecil dan satu bungkus plastik bening sedang dengan total berat kotor mencapai 8,05 gram.

Kapolsek Kembang Janggut, AKP Dedi Supriyanto, menjelaskan bahwa keberhasilan pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat yang resah akan seringnya terjadi transaksi narkoba di wilayah Dusun Ketenuq.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Kanit Reskrim Polsek Kembang Janggut memimpin langsung serangkaian penyelidikan intensif. “Setelah melakukan pemantauan terhadap sebuah rumah kayu berwarna biru muda yang dicurigai, tim bergerak melakukan penggerebekan pada Kamis pukul 15.00 WITA,” ujar AKP Dedi.

Saat digeledah, petugas menemukan tersangka SH sedang berada di dalam kamar. Dari tangannya, polisi menyita sebuah tas handbag merk Quicksilver warna hitam yang di dalamnya berisi puluhan poket sabu siap edar.

Selain paket sabu, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti pendukung lainnya, di antaranya Uang tunai sebesar Rp550.000 yang diduga hasil penjualan, Satu unit timbangan digital warna hitam, Dua buah sendok takar plastik dan satu pak plastik klip kosong, Satu unit ponsel merk Oppo warna biru yang digunakan untuk berkomunikasi dalam transaksi.

Saat ini, tersangka SH beserta seluruh barang bukti telah diamankan di Mako Polsek Kembang Janggut guna proses pemeriksaan lebih lanjut. Atas perbuatannya, tersangka terancam dijerat dengan Pasal 114 Ayat (1) atau Pasal 112 Ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, sebagaimana disesuaikan dalam UU RI No. 1 Tahun 2026.

“Kami tidak akan memberikan ruang bagi peredaran narkoba di wilayah Kembang Janggut. Kami juga mengapresiasi warga yang berani melapor, karena peran masyarakat sangat penting dalam memutus mata rantai peredaran barang haram ini,” tegas AKP Dedi Supriyanto.

Polsek Kembang Janggut kini tengah melakukan pengembangan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan atau asal-usul barang haram yang didapatkan oleh tersangka. (*)

Pastikan Keamanan Senpi Inventaris, Si Propam Polres Kukar Lakukan Pengecekan Fisik dan Amunisi di Gudang Senjata

SIDIKPOST| Kukar – Guna mengantisipasi penyalahgunaan senjata api (senpi) dan memastikan kesiapsiagaan sarana prasarana dinas, Seksi Profesi dan Pengamanan (Si Propam) Polres Kutai Kartanegara menggelar inspeksi mendadak (sidak) pengecekan fisik senpi dan amunisi di Gudang Senjata Mapolres Kukar, Kamis (02/04/2026).

Kegiatan Penegakan Ketertiban dan Kedisiplinan (Gaktibplin) ini dipimpin langsung oleh Kasi Propam Polres Kukar, AKP Slamet Rijadi bersama lima personel provos lainnya.

Kasi Propam AKP Slamet Rijadi menjelaskan bahwa pemeriksaan ini mencakup pengecekan fisik secara mendetail terhadap ratusan senjata inventaris, baik jenis laras pendek (genggam) maupun laras panjang (bahu).

“Berdasarkan data inventaris, kami telah melakukan pengecekan fisik terhadap seluruh senjata api yang nerada di gudang dari berbagai jenis. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh senjata yang tersimpan di gudang dalam keadaan baik, terawat, dan lengkap,” ujar AKP Slamet Rijadi.

Selain senjata api, tim Si Propam juga menghitung secara teliti jumlah amunisi yang tersimpan. Tercatat amunisi berbagai jenis, meliputi amunisi tajam, karet, hingga amunisi hampa, dalam kondisi lengkap sesuai dengan buku mutasi logistik.

Terkait senpi yang sedang dipinjam pakaikan kepada personel untuk kepentingan penugasan, seperti pengamanan bank dan obyek vital lainnya, Kasi Propam menegaskan akan dilakukan pengecekan susulan secara terjadwal.

“Untuk beberapa pucuk senpi yang saat ini dipegang anggota dalam penugasan maupun yang berada di Polsek jajaran, akan segera dijadwalkan pengecekan susulan guna memastikan Surat Izin Memegang Senjata Api (SIMSA) masih berlaku dan kondisi senjata tetap laik pakai,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Telegram Rahasia Kapolri dan perintah Kabid Propam Polda Kaltim terkait langkah antisipasi pelanggaran anggota Polri dalam penggunaan senjata api.

Melalui pengecekan rutin ini, Polres Kutai Kartanegara berkomitmen untuk menerapkan pengawasan internal yang ketat guna mewujudkan personel yang disiplin, bertanggung jawab, dan profesional dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. (*)

Tingkatkan Profesionalisme Anggota, Polres Kukar Sosialisasikan Aturan Baru Penilaian Kinerja Personel

SIDIKPOST| Kukar – Bagian Sumber Daya Manusia (Bag SDM) Polres Kutai Kartanegara menggelar kegiatan sosialisasi Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 1 Tahun 2025 terkait sistem penilaian kinerja terbaru bagi seluruh anggota Polri. Kegiatan ini berlangsung khidmat di Ruang Catur Prasetya Mapolres Kukar, Selasa (31/03/2026).

Sosialisasi ini dipimpin langsung oleh Wakapolres Kutai Kartanegara, KOMPOL Izdiharuddin Faris Raharja Putra, didampingi Kabag SDM KOMPOL Suwarno.

Fokus utama kegiatan ini adalah membedah mekanisme penilaian kinerja anggota Polri melalui Sistem Manajemen Kinerja (SMK) yang telah diperbarui dalam Perpol No 1 Tahun 2025. Aturan ini dirancang untuk menciptakan sistem penilaian yang lebih transparan, akuntabel, dan berbasis data objektif.

“Penilaian kinerja bukan sekadar rutinitas administrasi, melainkan tolok ukur profesionalisme setiap personel dalam menjalankan tugas. Dengan sistem baru ini, diharapkan setiap anggota memiliki motivasi lebih untuk meningkatkan prestasi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujar KOMPOL Izdiharuddin saat memberikan sambutan.

Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Kukar, di antaranya Kasikum AKP Hadi Winarno, Kasipropam AKP Slamet Rijadi, serta Kasi Humas Iptu Maryono. Turut hadir pula para Kasium dari Polsek jajaran serta Kaurmin dari setiap Bagian, Satuan, dan Seksi di lingkungan Polres Kukar.

Dalam sesi teknis, Operator SIPK (Sistem Informasi Penilaian Kinerja) Brigpol M. Yogi Dwiyantono memaparkan tata cara penginputan dan verifikasi kinerja yang kini terintegrasi secara digital. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pemantauan progres kinerja personel secara real-time.

Kabag SDM Polres Kukar, KOMPOL Suwarno, menekankan bahwa pemahaman terhadap Perpol terbaru ini sangat krusial bagi para Kaurmin dan Kasium sebagai ujung tombak administrasi di satuan kerja masing-masing.

“Kami ingin memastikan seluruh personel memahami indikator penilaian terbaru ini agar selaras dengan semangat Polri yang Berprestasi, Inovasi, dan Presisi,” tegas Kabag SDM.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat integritas internal Polres Kutai Kartanegara dalam rangka memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. (*)

Kasat Binmas Polres Kukar Buka Latsar Satpam Gada Pratama: Tekankan Profesionalisme dan Larang Arogansi

SIDIKPOST| Kukar – Dalam rangka menciptakan satuan pengamanan yang tangguh dan profesional, Satuan Binmas Polres Kutai Kartanegara (Kukar) secara resmi membuka Pelatihan Dasar (Latsar) Satpam Gada Pratama Angkatan ke-XVIII Tahun 2026. Upacara pembukaan berlangsung di Pusdiklat PT Garda Kedung Jaya, Simpang Raya, Kecamatan Loa Janan, Senin (30/03/2026).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kasat Binmas Polres Kukar, AKP Sukardi, didampingi Direktur PT Garda Kedung Jaya, Ruskan, serta dihadiri jajaran Kanit Sat Binmas dan 38 peserta pelatihan.

Dalam amanatnya, AKP Sukardi menegaskan bahwa Satpam merupakan mitra utama Polri yang memiliki peran krusial sebagai pengembang fungsi kepolisian terbatas di lingkungan kerja. Sebagai ujung tombak perusahaan, Satpam dituntut memiliki kemampuan preventif yang mumpuni dalam penegakan hukum.

“Saudara adalah garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di instansi masing-masing. Oleh karena itu, tingkatkan profesionalisme agar profesi Satpam semakin terhormat dan dipercaya masyarakat,” ujar Kasat Binmas di hadapan puluhan siswa Gada Pratama.

Salah satu poin tegas yang disampaikan AKP Sukardi adalah mengenai netralitas dan integritas Satpam. Ia mengingatkan agar personel pengamanan tidak mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan tidak terpuji, seperti mogok kerja atau demonstrasi, yang justru bertentangan dengan fungsi pengamanan.

“Jangan sampai Satpam menjadi kepala serikat kerja atau terlibat aksi unjuk rasa di tempatnya bertugas. Hal ini sangat bertentangan dengan tugas, fungsi, dan peranan saudara sebagai satuan pengamanan. Jauhkan sifat arogansi dan selalu kedepankan koordinasi,” tegasnya.

Selain pembekalan mental, Kasat Binmas juga mensosialisasikan Peraturan Kepolisian (Perpol) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pengamanan Swakarsa. Ia berharap melalui diksar ini, para peserta mampu mengimplementasikan kode etik Satpam dan menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.

“Terapkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan ini sebagai bekal di lapangan. Bantu pemerintah mensosialisasikan kebijakan-kebijakan positif kepada karyawan dan warga di tempat saudara bermukim,” tambahnya.

Upacara pembukaan berakhir pada pukul 10.00 WITA dalam situasi yang aman, tertib, dan lancar. Dengan dimulainya pelatihan ini, diharapkan lahir personel Satpam yang tidak hanya cakap secara fisik, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam menjaga stabilitas Kamtibmas di wilayah Kutai Kartanegara. (*)

Laka Lantas di Jalan Poros Sebulu-Muara Kaman, Dua Pengendara Motor Alami Luka Berat

SIDIKPOST| Kukar – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua unit sepeda motor terjadi di Jalan Poros Sebulu-Muara Kaman, tepatnya di Desa Bunga Jadi, RT 015, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, pada Minggu (29/03/2026) malam sekira pukul 19.30 WITA. Akibat insiden tersebut, dua pengendara motor harus dilarikan ke fasilitas medis karena mengalami luka berat.

Kapolsek Muara Kaman, Iptu Herwin, mengonfirmasi bahwa kecelakaan melibatkan sepeda motor Honda Beat warna hitam tanpa plat nomor dengan sepeda motor Honda Vario warna orange bernopol KT 5449 CAP.

Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), kecelakaan bermula saat sepeda motor Honda Beat melaju dari arah Sebulu menuju Muara Kaman dengan kecepatan sedang.

“Setibanya di lokasi kejadian, pengendara Honda Beat tersebut berbelok ke arah kanan jalan tanpa menggunakan lampu isyarat (sein). Pada saat yang bersamaan, muncul sepeda motor Honda Vario dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Karena jarak yang sudah terlalu dekat, tabrakan tidak dapat terhindarkan,” jelas Iptu Herwin.

Kondisi jalan di TKP merupakan jalan cor (beton) yang lurus dengan marka jalan tidak terputus. Meski lampu penerangan jalan cukup terang, kelalaian dalam memberikan isyarat saat berbelok diduga kuat menjadi penyebab utama kecelakaan.

Kondisi Korban dan Kerugian
Akibat benturan keras tersebut, kedua pengendara mengalami luka berat (LB). Pengendara honda beat dilaporkan mengalami patah tangan kanan, luka pada pelipis, lecet wajah, serta benjol pada kepala dan kini sedang mendapatkan perawatan intensif di RS Parikesit Tenggarong. Sementara itu, pengedara Honda Vario juga mengalami patah tangan kanan dan dirawat di Klinik As Sifa, Desa Panca Jaya.

Selain korban luka, kerugian material akibat kerusakan kedua kendaraan ditaksir mencapai Rp5.000.000 (lima juta rupiah).

Personel Polsek Muara Kaman yang tiba di lokasi segera melakukan langkah-langkah kepolisian, di antaranya mengevakuasi korban, melakukan olah TKP, mendata saksi-saksi, serta mengamankan barang bukti kendaraan ke Mapolsek.

“Kami telah mengamankan barang bukti dan saat ini sedang melengkapi laporan polisi serta sketsa TKP. Kasus ini merujuk pada pelanggaran Pasal 310 UU RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ),” tambah Kapolsek.

Atas kejadian ini, Iptu Herwin mengimbau kepada seluruh masyarakat pengguna jalan agar selalu berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas, terutama pentingnya penggunaan lampu isyarat saat akan berbelok serta menjaga batas kecepatan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (*)