Birokrasi Rasa Pasar Gelap, Ketika Aturan Punya Tarif

PENGANTAR : HUKUM BUKAN PENUNTUN

 

Advertisements

Kisah ini mengangkat potret gelap birokrasi pemerintah daerah melalui pengalaman Rayhan Putra, seorang pengusaha muda yang terjebak dalam labirin perizinan di daerah penyangga ibu kota. Saat gudang industrinya disegel karena izin yang belum rampung, meski masih dalam proses resmi. Tapi Rayhan dihadapkan pada kenyataan pahit: hukum tidak berdiri sebagai penuntun keadilan, melainkan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Alih-alih mendapat pendampingan untuk melengkapi izin, Rayhan justru digiring ke ruang-ruang sunyi kekuasaan, tempat aturan berubah menjadi tarif dan kewenangan menjelma alat pemerasan. Buruh dirumahkan, mesin-mesin membisu, sementara wartawan dan kelompok pemuda menjadi penjaga tekanan yang tak pernah benar-benar netral. Dalam kondisi terjepit, Rayhan bertemu Prayitno, Ia merupakan knum penegak perda yang menawarkan “solusi” dengan senyum licik: segel bisa dibuka, asal semua pihak “dikondisikan”.

Dengan dialog brutal, satir dan tanpa kompromi, kisah ini membedah praktik korupsi yang bekerja rapi di balik meja ber-AC, kopi hangat, dan bahasa formal. Uang ratusan juta menjadi tiket untuk menyalakan kembali industri, namun sekaligus mematikan keyakinan Rayhan pada sistem yang seharusnya melindungi.

Birokrasi Rasa Pasar Gelap, Ketika Aturan Punya Tarif bukan sekadar cerita tentang pengusaha dan izin, melainkan kritik tajam terhadap negara yang membiarkan keadilan tunduk pada setoran. Sebuah kisah tentang bagaimana hukum kehilangan nurani, dan bagaimana orang-orang baik dipaksa bertahan hidup di negeri yang menjual aturan atas nama ketertiban.

 

SEGEL LEBIH TAJAM DARI HATI NURANI

 

Rayhan Putra selalu percaya bahwa kerja keras adalah doa yang paling jujur. Di usia yang belum genap tiga puluh tahun, ia telah di percaya menjalankan sebuah industri kecil-menengah milik orang tuanya yang berada di pinggiran daerah penyangga ibu kota. Gudang-Gudang-gudangnya berdiri kokoh, mesin-mesin berdengung setiap pagi, dan ratusan buruh menggantungkan hidup pada suara itu.Namun Rayhan lupa satu hal:

Di negeri ini, kerja keras sering kalah oleh stempel, dan kejujuran sering tersandung meja birokrasi.

Izin usahanya belum sepenuhnya rampung. Beberapa dokumen masih berproses, mulai dari IMB tambahan, rekomendasi lingkungan dan satu surat teknis yang tak kunjung selesai meski bolak-balik ke kantor dinas tapi industri tetap berjalan. Mesin tidak bisa menunggu, buruh tidak bisa makan janji dan pasar tidak mengenal kata “nanti”.

“Negara mengajarkan kami berlari mengejar mimpi, lalu mematahkan kaki kami karena belum mengurus izin untuk berlari.”

Suatu hari, Tibalah Masalah yang tidak pernah di pikirkan, seperti hujan yang jatuh berbarengan.

Sekelompok wartawan lokal dan lembaga swadaya pemuda datang membawa spanduk, kamera dan teriakan moral. Mereka melakukan demonstrasi di depan pintu Gudang Rayhan.

Gudang-gudang milik Rayhan di tuding melanggar aturan. Mereka berorasi membangun narasi yang seolah-olah terdengar suci: demi ketertiban, demi aturan, demi masyarakat.

Tak butuh waktu lama, kejadian tersebut masuk Laporan masuk ke satuan penegak peraturan daerah.

Baca Juga   "Echidna Paruh Panjang Attenborough Ditemukan Setelah 62 Tahun Hilang

Keesokan harinya petugas penegak perda datang beserta rombongan dan langsung melakukan penyegelan tanpa bertanya atau memberikan bimbingan terkait proses penyelesaian Ijin. Akhirnya Segel berupa rantai dan gembok serta Stiker merah terpasang di pintu gudang Rayhan.

“Di negeri ini, segel lebih cepat turun daripada solusi.”

Sejak hari itu, waktu berjalan lambat. Buruh dirumahkan satu per satu. Mesin-mesin Akhirnya di berhentikan dan Gudang-gudang berdebu, sunyi seperti kuburan harapan.

Rayhan mondar-mandir dari satu kantor ke kantor lain, menemui konsultan, menemui orang-orang yang katanya “punya jalur”, “dekat dengan pimpinan” atau “bisa bantu cepat” agar proses perizinan lebih cepat dan gudang bisa di buka serta buruh-buruh kembali bekerja.

Setalah semua usaha melengkapi prijijan di lakukan, Ternyata semua jalur buntu. Setiap meja birokrasi seperti labirin dan Setiap senyum petugas terasa seperti tembok kaca, terlihat ramah, tapi tak bisa ditembus.

“Birokrasi tidak membunuh secara langsung, ia membiarkanmu mati perlahan.”

Dan yang Lebih parah lagi, gudang itu terus diawasi oleh Kelompok Wartawan dan kelompok pemuda silih berganti datang, seolah menjaga bangkai agar tidak bangkit kembali.

Rayhan tahu, ini bukan sekadar soal izin, Ini soal siapa yang bisa “mengondisikan”.

 

 ATURAN DALAM AMPLOP TEBAL

 

Dalam keputusasaan yang nyaris putus asa, nama itu muncul: Prayitno. Ia merupakan Kepala seksi penegak peraturan daerah, Orang yang katanya punya kewenangan, punya akses, dan yang terpenting punya “jalan keluar”.

Pertemuan dengan Prayitno berlangsung sore hari. Di Ruangan ber-AC, foto pimpinan daerah tergantung rapi di dinding, menatap kosong seperti saksi bisu kebusukan.

Selanjutnya, Prayitno menyeruput kopi, lalu berkata santai, “Mas Rayhan ini terlalu lurus, idup jangan pakai penggaris.”

Rayhan menahan emosi, “Saya cuma mau izin saya keluar. Industri berjalan dan buruh bekerja lagi, Itu saja.”

Prayitno tersenyum miring, “Izin itu bukan soal lengkap atau tidak, Tapi soal siapa yang merasa diuntungkan.” lalu berkata dengan nada datar namun menusuk, “Secara aturan, memang belum bisa. Tapi ya… kita kan hidup di lapangan.”

Rayhan mencondongkan badan, “Gudang saya disegel. Padahal izin sedang proses. Kenapa bukan dibimbing, malah dimatikan?”

Prayitno menatapnya tajam, “Karena kalau dibimbing, kami tidak dapat apa-apa.”

Hening….Kalimat itu jatuh tanpa rasa bersalah.

“Kejujuran paling menakutkan adalah ketika korupsi mengaku jujur.”

Rayhan mengepalkan tangan, “Jika Proses perizinan terus di persuli, bagaimana industri saya mau jalan dan Buruh saya makan apa, Pak?”

Prayitno mengangkat bahu, “Itu bukan urusan pemerintah apalagi negara.”

“Lalu pemerintah dan negara ngurus apa?” jawab Rayhan.

“Mengatur arus uang,” jawabn, Prayitno dingin.

Rayhan tertawa getir, “Berarti saya salah. Saya kira negara dan pemerintah mengatur keadilan.”

Prayitno berdiri, menepuk pundaknya, “Mas Rayhan… keadilan itu slogan Yang nyata itu amplop.”

Batin Rayhan berbicara dengan kesal, inilah sebuah fakta bahwa,

“Ketika hukum kehilangan nurani, ia berubah menjadi alat pemerasan yang sah.”

Baca Juga   MAHLIGAI YANG RETAK OLEH PENGKHIANATAN

“Jadi negara ini perusahaan, Pak?” Rayhan menyeringai pahit. “Dan bapak marketing-nya?”

Prayitno tertawa., “Kalau mau hidup lama, jangan sok idealis.”

Lalu Prayitno bersandar, menatap Rayhan lama. Ia tersenyum. Senyum yang bukan ramah, melainkan perhitungan. Kalimat itu menggantung di udara, penuh makna.

“Idealisme mati bukan karena salah, tapi karena terlalu mahal untuk dipelihara. Dan Ketika hukum tak lagi berdiri di atas aturan, ia duduk di atas uang.”

Rayhan akhirnya bertanya dengan suara rendah, “Berapa?”

Prayitno tersenyum lebar, “Nah, dari tadi kita debat dan beradu argumen muter-muter, akhirnya sampai juga ke inti.” Lalu dengan senyum penuh kemenangan, Prayitno kembali berbicara, “Gudang bisa dibuka Tapi harus ada biaya pembukaan seperti Pimpinan harus dikondisikan, belum lagi kelompok  Wartawan dan pemuda, semua harus tenang. Kalau tidak, masalah akan terus ada.”

Rayhan terdiam, Ia tahu arti kata dikondisikan dan tahu harga dari ketenangan semu itu.

Akhirnya, Amplop Tebal berisi Ratusan juta rupiah berpindah tangan bukan sebagai pajak, bukan sebagai retribusi negara, tapi sebagai upeti atas nama aturan.

Rayhan akhirnya paham satu hal: “Korupsi tidak selalu berisik. Kadang ia berbentuk senyum sopan dan kopi hangat di ruangan ber-AC. Negara ini tidak membunuh pengusaha, hanya melumpuhkan sampai mereka mau membayar.”

 

HUKUM TANPA MALU, SUNYI SETELAH SETORAN

 

Setelah menyerah uang, esok harinya Segel pun dibuka dan Gudang kembali beroprasi. Kelompok Wartawan mendadak senyap, Pemuda mendadak bijak dan Para Pimpinan birokrasi mendadak tidak tahu apa-apa.

Rayhan berdiri di gudang yang kembali beroprasi, tapi hatinya kosong. Ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Ternyata yang ilegal bukan industriku, tapi sistemnya.”

Ia menatap para buruh yang kembali bekerja. Tersenyum.Namun senyum itu pahit,

“Di negeri para bedebah, orang baik diperas atas nama aturan, dan perampok dilindungi oleh jabatan.”

Dan sejak hari itu, Rayhan tak lagi bertanya apakah negeri ini rusak. Ia hanya bertanya, “Berapa lama kebusukan bisa disembunyikan sebelum bangkai negara ini benar-benar tercium?”

Namun sesuatu dalam diri Rayhan mati hari itu, “Korupsi bukan hanya mencuri uang negara, tapi mencuri keyakinan orang baik bahwa kejujuran masih punya tempat.”

Ia menyaksikan sendiri wajah buruk birokrasi daerah, bukan sekadar lamban, tapi rakus. Bukan sekadar bodoh, tapi sengaja membodohkan.

Di Negeri ini, pikir Rayhan, dipenuhi penjaga aturan yang berubah menjadi pedagang kekuasaan. Mereka seperti anjing dan srigala, terus lapar meski sudah diberi makan, terus menggonggong meski perut kenyang.

“Ada manusia yang tidak pernah puas, karena yang mereka makan bukan nasi, tapi kekuasaan.”

Ironisnya, industri Rayhan yang sempat mati suri itu sejatinya mampu mengurangi pengangguran. Mampu menggerakkan ekonomi kecil. Tapi semua itu kalah penting dibandingkan kepentingan pribadi, jatah pimpinan dan perut kelompok pemeras berjubah moral.

Rayhan belajar satu hal pahit: “Di negeri para bedebah, hukum bukan untuk ditegakkan, tapi untuk ditawar.”

Baca Juga   Ruslan: Santri dengan Bakat Seni Lukis yang Menginspirasi

Ia tetap menjalankan usahanya, Tetap membayar buruh dan Tetap berdiri.

Namun di dalam dadanya, tersimpan luka yang tak bisa disegel ulang. luka karena tahu, bahwa negeri ini sering kali tidak runtuh karena kekurangan orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang rakus yang diberi wewenang. Dan di atas semua itu, Rayhan sadar,

“Selama kekuasaan bisa dibeli, keadilan akan selalu dijual pada harga yang paling mahal.”

 

PENUTUP : KEBENARAN HARUS MEMBAYAR

Rayhan Putra akhirnya tetap berdiri dan Gudang industri kembali beroperasi, Mesin-mesin telah hidup dan Buruh kembali bekerja. Dari luar, semuanya tampak normal, seolah negara telah menjalankan fungsinya, Tapi kenyataannya Rayhan tahu, yang bekerja hari itu bukan keadilan, melainkan transaksi.

Segel memang telah dilepas dari pintu gudang, tetapi segel lain menempel di hati nuraninya, segel yang tak bisa dibuka dengan uang, jabatan, atau relasi.

“Negara ini tidak kekurangan aturan, ia hanya kekurangan rasa malu.”

Rayhan tidak pernah lagi memandang kantor pemerintahan sebagai rumah keadilan. Baginya, ia Tidak ubahnya pasar gelap yang menjual ketenangan dengan harga mahal, tempat hukum dipajang seperti etalase, namun hanya bisa dibeli oleh mereka yang mampu membayar di bawah meja. Ia belajar bahwa di negeri ini, menjadi patuh tidak selalu berarti aman, dan menjadi benar sering kali berarti sendirian.

“Ketika hukum bersekutu dengan perut, kebenaran harus belajar bertahan hidup.”

Rayhan memilih diam, bukan karena setuju, melainkan karena lelah. Ia paham, melawan sendirian hanya akan menambah daftar korban tanpa mengubah sistem. Namun diamnya bukan lupa. Diamnya merupakan ingatan panjang tentang bagaimana kekuasaan bekerja tanpa wajah.

Dan suatu hari, ketika kebusukan itu terlalu pekat untuk ditutupi, kisah seperti milik Rayhan akan muncul ke permukaan, Kisah itu hadir sebagai catatan, sebagai peringatan, sebagai bukti bahwa kejahatan terbesar negeri ini sering kali dilakukan bukan oleh penjahat jalanan, melainkan oleh mereka yang duduk rapi di balik meja hukum.

“Selama aturan punya tarif, keadilan hanya akan menjadi hak istimewa, bukan hak warga negara.”

Kisah ini tidak menawarkan harapan yang manis. Ia hanya menyisakan satu pertanyaan pahit:

Siapa yang sebenarnya dilayani oleh negara, jika kebenaran harus selalu membayar untuk hidup?

Dan di situlah cerita ini berhenti, bukan karena selesai, melainkan karena kenyataan masih terus berjalan.

 

ARDHI MORSSE,  MINGGU 18 JANUARI 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *