Kertabumi Kenendra Al-Farisi
Di tengah gemerlap ibu kota yang tak pernah benar-benar tidur, Kertabumi Kenendra Al-Farisi yang biasa di panggil “Kenandra” atau “Ken”. Ia menjalani hidup sebagai lelaki biasa, pegawai rendah di intansi pemerintah yang bergaji jauh dari kata layak apalagi mencukupi serta mensejahterakan, suami yang bertanggung jawab dan ayah dari seorang anak kecil yang masa depannya terasa semakin rapuh.
Ia sadar satu hal, “Menunggu sistem menyelamatkan dirinya adalah kesalahan fatal.”
Ketika dunia dipenuhi kabar tentang perang, krisis energi, runtuhnya tatanan global dan pergeseran kekuatan geopolitik, Kenandra menyadari satu kenyataan pahit: sistem besar mungkin akan segera runtuh, tetapi keluarganya tidak boleh ikut tenggelam.
“Ketakutan terbesar seorang ayah bukan pada kematian, Tapi pada kemungkinan meninggalkan keluarganya tanpa perlindungan.”
Cerita di kisah ini mengikuti perjalanan batin Kenandra membaca tanda-tanda perubahan zaman, mulai dari perang Rusia – Ukraina, perebutan energi global, melemahnya lembaga internasional, hingga munculnya poros kekuatan baru dunia. Namun kisah ini tidak berpusat pada ruang rapat para penguasa, melainkan di meja makan kecil sebuah rumah kontrakan, tempat geopolitik menjelma menjadi harga beras, cicilan bulanan, dan kecemasan seorang ayah.
Melalui catatan-catatan sunyi, Kenandra menyusun peta pertahanan hidup: menata ulang makna stabilitas, menjinakkan hutang, membangun ketahanan keluarga, dan melawan kepanikan dengan kesadaran. Ia tidak bercita-cita menjadi pahlawan, tidak pula ingin mengubah dunia. Ia hanya ingin memastikan bahwa di tengah sejarah yang bergerak kasar, keluarganya tetap memiliki pijakan.
“Jika dunia runtuh, aku tidak boleh ikut runtuh. Jika sistem goyah, aku harus menjadi sistem kecil bagi keluargaku.”
Manusia Kecil di Peta Dunia adalah sebuah Cerita geopolitik humanis tentang bagaimana perubahan global menyentuh kehidupan paling intim manusia.
Sebuah kisah reflektif dan kritis yang mengajak pembaca memahami bahwa perang terbesar zaman modern bukan hanya terjadi antarnegara, melainkan di dalam kepala, hati dan keputusan sehari-hari manusia biasa.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di zaman yang rapuh, bertahan bukan soal kekuatan, melainkan kesadaran dan bahwa seorang ayah, sekecil apa pun posisinya di peta dunia, tetap memiliki peran besar dalam menjaga masa depan.
Kecemasan Ekonomi Dan Membangun Ketahanan
Pagi yang sejuk telah menyapa tanpa pengumuman. Tidak ada sirene perang, tidak ada ledakan. Hanya bunyi notifikasi ponsel Kenandra yang bergetar pelan di atas meja, itu pesan dari bank, pengingat cicilan bulanan.
Ia memandangi layar itu lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena nominalnya baru, tapi karena perasaannya selalu sama, seperti berdiri di tepi jurang yang tak terlihat.
“Di zaman rapuh, kecemasan tidak lagi datang sebagai kejutan, melainkan sebagai rutinitas.”
Kenandra berangkat kerja dengan sepeda motor matic berwarna putih. Di jalan, banyak terdapat baliho iklan berbicara tentang kemajuan, penurunan angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan masa depan cerah. Tapi ada sebuah fakta tragis di bawah baliho itu, orang-orang tetap menghitung receh, menawar harga, dan menunda mimpi.
Ia tahu, dunia sedang mengalami apa yang para ahli sebut krisis global. Tapi bagi Kenandra, krisis selalu punya nama yang lebih personal: uang sekolah, listrik, gas, dan kebutuhan hidup sehari-hari hingga bertemu bulan selanjutnya.
Ketika sampai di kantor, obrolan rekan-rekannya juga tidak jauh dari dua hal: kabar dunia dan harga kebutuhan yang terus mentidakl
“Minyak dan beras naik lagi.”
“Listrik dan biaya hidup yang tak terduga makin tinggi”
“Dolar menguat.”
“Subsidi makin ketat.”
Semua terdengar seperti berita internasional, tapi efeknya selalu mendarat di kehidupan paling sederhana, inilah yang sering di dengar ketika masa kuliah dulu dalam kajian Geopolitik. Geopolitik merupakan seni para elite yang dampaknya adalah beban rakyat.”
Siang itu, Kenandra makan dengan menu yang sama seperti kemarin. Bukan karena ia menyukainya, tapi karena kestabilan kini lebih penting daripada variasi dan Ia mulai memahami satu hal: bertahan hidup di zaman rapuh bukan soal mencari lebih banyak, tapi mengatur lebih bijak.
Ia pulang sore hari dengan pikiran penuh hitungan. Anaknya menyambutnya dengan cerita kecil tentang sekolah. Istrinya menyodorkan secangkir Kopi panas, sederhana tapi menenangkan.
Kenandra tersenyum. Meskipun di televisi dan media sosial terus mengabarkan kondisi dunia internasional yang tak stabil, baginya bersama keluarga merupakan momen yang paling berharga.
“Stabilitas sejati bukan tentang angka di rekening, melainkan rasa aman di dalam rumah.”
Malamnya, Kenandra membuka buku catatan harianya. Ia mulai mencoret pengeluaran, memangkas keinginan, dan menata ulang prioritas. Tidak ada ruang bagi gengsi. Tidak ada tempat bagi pemborosan. Ia menulis satu kalimat besar di halaman pertama:
“Aku tidak mengendalikan dunia, tapi aku bisa mengendalikan reaksiku terhadapnya.”
Ia tahu, banyak orang tumbang bukan karena kekurangan, melainkan karena panik. Maka ia memilih kesadaran sebagai senjata, bukan untuk melawan dunia, tapi untuk menjaga keluarganya tetap berdiri.
Kenandra menatap wajah anaknya yang tertidur pulas. Dalam tidur itu, tidak ada inflasi, tidak ada perang, tidak ada kurs dolar.
“Tugas seorang ayah bukan menciptakan dunia sempurna, tapi memastikan anaknya punya tempat aman untuk tumbuh.”
Di luar sana, sistem besar boleh goyah. Pasar global boleh bergejolak. Tapi di rumah kecil ini, Kenandra membangun pertahanan paling sederhana sekaligus paling sulit: disiplin, kesabaran, dan kejujuran pada diri sendiri.
“Bertahan di zaman rapuh bukan tentang menjadi kuat, melainkan menjadi tenang saat segalanya goyah.”
Ia menutup buku catatannya dengan satu kesimpulan pahit namun jujur, “Ekonomi bukan sekadar angka, melainkan kondisi mental.”
Kenandra mulai memahami bahwa dunia tidak runtuh dengan suara keras. Ia runtuh dengan kebiasaan buruk yang dianggap wajar, dengan kelelahan yang dipelihara, dan dengan kepanikan yang diwariskan diam-diam.
Tiba-tiba listrik padam, tapi tidak lama, hanya beberapa menit. Hal tersebut cukup untuk membuat Kenandra sadar betapa rapuhnya ketergantungan manusia pada sistem yang tak pernah ia kendalikan.
“Ketika sistem berhenti sebentar saja, manusia langsung sadar bahwa ia terlalu percaya.”
Ia menyalakan lilin, bukan karena gelap, melainkan karena ingin anaknya melihat satu hal sederhana: dunia tidak berakhir hanya karena lampu mati. Anaknya tertawa kecil, mengira itu permainan. Kenandra membiarkannya begitu.
“Anak-anak tidak membutuhkan kepastian dunia; mereka membutuhkan ketenangan orang tuanya.”
Di meja makan, Kenandra dan istrinya mulai membuat kesepakatan kecil. Bukan strategi bertahan hidup ala militer, bukan pula rencana besar. Hanya keputusan sederhana: hidup sedikit lebih lambat, lebih sadar dan lebih jujur pada kemampuan sendiri.
Kenandra menyadari bahwa ketahanan keluarga bukan soal menimbun, melainkan menyederhanakan. Dunia mengajarkan manusia untuk selalu menambah, sementara kenyataan menuntut kemampuan untuk melepaskan.
“Kemerdekaan sejati dimulai ketika seseorang berani berkata cukup.”
Sore hari, Kenandra duduk bersama anaknya, membaca buku tanpa listrik, tanpa gawai. Mereka tertawa pada cerita yang sederhana. Tidak ada sinyal, tidak ada notifikasi dan Kenandra sadar, inilah bentuk ketahanan paling purba: kehadiran.
“Keluarga tidak runtuh karena kekurangan uang, tetapi karena kekurangan waktu dan perhatian.”
Di luar sana, negara-negara terus berlomba membangun kekuatan. Di dalam rumah kecil itu, Kenandra membangun benteng yang tak terlihat: kebiasaan, kedisiplinan, dan keteladanan.
“Jika dunia ini akan runtuh, aku ingin anakku tumbuh dengan nilai, bukan trauma.”
Ia tahu, ia bukan pahlawan sejarah. Namanya tidak akan tercatat di buku dunia. Tapi mungkin, suatu hari nanti, anaknya akan tumbuh menjadi manusia yang tidak mudah panik, tidak mudah tunduk, dan tidak mudah kehilangan arah.
“Ayah yang bertahan adalah ayah yang mengajarkan cara hidup, bukan sekadar cara mencari uang.”
Kenandra menatap langit malam dari jendela sempit. Tidak ada jawaban dari bintang. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak mencarinya.
Ia sudah tahu ke mana harus berpijak dan di tengah zaman yang rapuh, ketahanan keluarga itulah bentuk perlawanan paling sunyi Dan paling bermakna.
MEMBACA DAN MENCATAT PERKEMBANGAN DUNIA
Udara Ibu kota itu terasa semakin berat, Kenandra duduk di hadapan layar ponsel yang redup, menggulir berita demi berita. Dunia seolah sedang membuka wajah aslinya, tanpa topeng diplomasi. Ia menulis di buku cokelatnya satu kalimat pembuka:
“Perubahan zaman selalu diawali oleh kebisingan para penguasa dan kegelisahan rakyat kecil.”
PERANG RUSIA – UKRAINA: AWAL RETAKAN BESAR
Bagi Kenandra, perang Rusia–Ukraina bukan sekadar konflik wilayah, Itu adalah tanda pertama runtuhnya tatanan lama. Ia mencatat, Negara besar kembali berbicara dengan senjata dan Sanksi ekonomi menjadi senjata baru sedangkan Energi dan pangan dijadikan alat tekanan.
“Ketika perang tidak lagi hanya membunuh tentara, tapi juga harga pangan dan masa depan rakyat, maka dunia sedang masuk babak baru.”
Ken melihat jelas: perang ini mengajari dunia bahwa aturan global bisa dilanggar jika kepentingan cukup besar.
AMERIKA, ENERGI DAN KEKUASAAN
Kenandra membaca berbagai laporan dan spekulasi internasional. Tentang Venezuela, tentang minyak, tentang tekanan politik yang semakin kasar.
Ada kabar-kabar liar, tuduhan antara penculikan atau sebuah drama evakuasi presiden, operasi senyap dan intervensi yang tak pernah sepenuhnya diakui. Ia tidak menelan mentah-mentah lalu menulisnya dengan hati-hati:
“Dalam sejarah, energi selalu lebih berharga daripada nyawa, Negara yang menguasai energi, menguasai napas dunia.”
Baginya, benar atau tidaknya satu peristiwa bukan inti, Yang penting adalah polanya:
“Negara kuat semakin terang-terangan, Kedaulatan menjadi konsep fleksibel dan Moral internasional tunduk pada kepentingan”
GREENLAND PANGKALAN MILITERISASI MASA DEPAN
Berita tentang Greenland membuat Kenandra terdiam lama, Pulau es yang dulu sunyi kini dibicarakan sebagai aset strategis: pangkalan militer, jalur kutub, dan pengaruh geopolitik masa depan.
Ia menulis, “Ketika wilayah beku mulai diperebutkan, berarti dunia sedang bersiap pada konflik jangka panjang, bukan perang singkat.”
Bagi Ken, ini tanda jelas: negara besar tidak lagi bersiap untuk damai, tapi untuk bertahan dan mendominasi.
PBB YANG MELEMAH, ALIANSI YANG RETAK
Kenandra memperhatikan sikap Amerika terhadap organisasi internasional. Jarak yang semakin dingin dengan PBB, keputusan sepihak, dan melemahnya konsensus global. Ia menuliskan kalimat tajam:
“Jika lembaga penjaga perdamaian dilemahkan, maka yang tersisa hanyalah hukum siapa paling kuat.”
Ia sadar, dunia sedang bergerak dari aturan bersama menuju kekuatan masing-masing.
BRICS: PERSATUAN BARU DI LUAR BARAT
Di sisi lain, Ken melihat sesuatu yang tumbuh pelan tapi nyata:
Negara-Negara yang bergabung dengan “BRICS” seperti Rusia, Tiongkok, Brasil, India, Afrika Selatan dan negara-negara yang mulai mendekat, termasuk Indonesia dalam lingkar pengaruh ekonomi dan politik global yang lebih luas.
Ken menulis:
“Ketika negara-negara mulai mencari alternatif di luar satu poros kekuasaan, itu tanda dunia tidak lagi percaya pada satu penjaga.”
Bagi Kenandra, BRICS bukan malaikat, melainkan indikasi pergeseran dunia menuju multipolar.
Multipolar berarti ketidakpastian lebih besar, tapi peluang baru bagi negara berkembang.
KESIMPULAN KENANDRA: DUNIA TIDAK MENUJU KIAMAT, TAPI MENUJU BENTURAN DAN KEKERASAN STRUKTURAL
Di halaman berikutnya, Ken menulis kesimpulan panjang:
“Perang dunia ketiga mungkin tidak dimulai dengan bom besar, tapi dengan krisis ekonomi, kelangkaan pangan, perang energi, dan kebingungan manusia menghadapi perubahan.”
Ia menggarisbawahi satu kalimat terakhir:
“Yang akan hancur pertama bukan negara, tapi keluarga yang hidup tanpa kesiapan.”
KEPUTUSAN TERAKHIR KENANDRA
Ken menutup analisisnya dengan tenang, Ia tidak berniat melawan negara besar, apalagi menjadi pahlawan geopolitik. Ia hanya ingin keluarganya tidak menjadi korban sejarah.
“Jika dunia berubah menjadi keras, aku akan menjadi lebih sadar, bukan lebih beringas.”
Ia menutup buku catatan harian cokelat itu. Di luar, dunia terus bergerak menuju babak yang tak pasti. Namun Kenandra telah memilih perannya, Bukan penonton dan tidak mau jadi korban, Melainkan penjaga kecil di tengah badai besar.
“Sejarah tidak pernah bertanya apakah manusia siap. Ia hanya bergerak dan yang bertahan adalah mereka yang membaca tanda-tandanya.”
PETA KEHIDUPAN DI ZAMAN YANG RETAK
Di tengah malam yang sunyi, Istri dan anaknya telah tertidur. Jam dinding berdetak pelan seperti mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu manusia yang ragu. Kenandra kembali membuka buku catatan hariannya warna cokelat, itu bukan buku impian, melainkan buku pertahanan hidup.
Ia kembali menulis di halaman baru dengan tinta hitam, lurus dan tanpa hiasan,
“Aku tidak menyiapkan hidup untuk menjadi kaya. Aku menyiapkannya agar tidak runtuh.”
- PEMETAAN RISIKO GLOBAL (KESADARAN AWAL)
Ken menulis daftar yang tidak menyenangkan, tapi jujur:
- Krisis ekonomi global
- Inflasi pangan dan energi
- Perang regional yang bisa meluas
- Disrupsi logistik dan pekerjaan
- Ketergantungan berlebihan pada sistem
Lalu ia menarik garis tebal.
“Masalah terbesar bukan krisis dunia, Tapi manusia yang hidup tanpa persiapan.”
- POSISI DIRI & KELUARGA
Ia tidak berbohong pada dirinya sendiri.
Kondisi saat ini:
- Tinggal di ibu kota (biaya tinggi)
- Gaji stabil tapi kecil
- Hutang masih ada
- Tabungan belum ada
- Anak masih kecil (rentan)
Kesimpulan Kenandra ditulis dengan tegas:
“Aku tidak aman, tapi aku masih punya waktu.”
- STRATEGI BERTAHAN: LAPIS DEMI LAPIS
Ken memahami satu prinsip, Ketahanan bukan satu benteng, tapi banyak lapisan.
LAPIS 1: MENTAL & INFORMASI
Catatan Ken:
- Stop konsumsi berita berlebihan
- Pilih sumber informasi terbatas
- Fokus pada tindakan, bukan spekulasi
“Panik adalah senjata paling murah untuk menghancurkan manusia.”
LAPIS 2: KEUANGAN MINIMALIS
Ia membuat tabel sederhana:
Tujuan:
Bertahan 6 bulan tanpa guncangan besar
Langkah:
Pangkas gaya hidup
Pisahkan uang hidup & cicilan
Simpan bukan untuk kaya, tapi untuk bernapas
Ken menulis:
“Uang bukan untuk pamer, Tapi untuk memberi waktu saat dunia mendesak.”
LAPIS 3: HUTANG TERKENDALI
Ia membagi hutang menjadi tiga:
- Mendesak
- Bisa ditunda
- Tidak produktif
Keputusan:
Tidak menambah hutang baru
Negosiasi jika perlu, Bayar dengan strategi, bukan rasa bersalah
“Hutang tidak membunuh, Kepanikan yang membuat hutang tak terkendali yang membunuh.”
LAPIS 4: LOGISTIK HIDUP
Ken mencatat daftar sederhana:
- Beras, minyak, gula
- Obat dasar
- Air bersih
- Alat kerja utama
Bukan untuk menimbun, tapi menunda ketergantungan.
“Ketahanan dimulai dari dapur, bukan dari pidato.”
LAPIS 5: PENGHASILAN TAMBAHAN
Ken menulis besar-besar:
“SATU SKILL – SATU JALUR – KONSISTEN”
Pilihan Ken:
Menulis & berbagi pengetahuan
Target:
Tambahan kecil tapi rutin
Tidak melanggar nilai
Bisa dikerjakan malam hari
“Lebih baik penghasilan kecil yang setia
Daripada harapan besar yang palsu.”
LAPIS 6: PRODUKSI MINI
Di halaman berikutnya:
- Tanam sayur polybag
- Masak sendiri
- Kurangi ketergantungan luar
Ia tersenyum kecil saat menulis:
“Orang kota lupa bahwa makanan tidak lahir dari etalase.”
LAPIS 7: KESEHATAN TUBUH
Catatan singkat tapi tegas:
- Tidur cukup
- Kurangi rokok
- Jalan kaki rutin
“Tubuh yang sakit membuat krisis terasa dua kali lebih kejam.”
LAPIS 8: KOMUNITAS KECIL
Ken menulis nama-nama:
- Tetangga
- Saudara
- Teman sefrekuensi
Prinsip:
Saling bantu, bukan saling pamer
“Dalam krisis, satu tangan lebih berharga daripada seribu janji.”
- RENCANA WAKTU (TIME MAP)
Ken membagi halaman menjadi tiga:
0–12 bulan:
Stabil, jinakkan hutang, satu penghasilan tambahan
12–36 bulan:
Dua sumber hidup, logistik aman, skill matang
36–60 bulan:
Hidup sederhana tapi tidak panik
- SUMPAH PRIBADI KENANDRA
Di halaman terakhir malam itu, ia menulis dengan huruf besar:
“Aku tidak akan meninggalkan keluargaku tanpa persiapan dan tidak akan mengorbankan nilai demi ketakutan serta akan bertahan, dengan cara yang jujur.”
Ia menutup buku Catatan hariannya itu secara perlahan. Meskipun Di luar, dunia masih gaduh. Namun di dalam rumah kecil itu, sebuah benteng tak terlihat telah berdiri.
“Perang terbesar manusia modern bukan melawan bangsa lain, Tapi melawan kelalaian dirinya sendiri.”
PENUTUP
Pada akhirnya, dunia tidak pernah benar-benar berhenti bergejolak. Peta kekuasaan terus digambar ulang oleh tangan-tangan yang jarang menyentuh kehidupan rakyat kecil. Perang bisa berganti rupa, krisis bisa bergeser nama, dan sejarah akan terus bergerak tanpa menunggu kesiapan siapa pun.
Kertabumi Kenendra Al-Farisi memahami itu. Ia tidak lagi mencari kepastian dari dunia, sebab ia tahu dunia tidak pernah menjanjikannya. Yang ia jaga kini hanyalah satu hal yang masih bisa dikendalikan: dirinya sendiri, keluarganya dan cara ia memaknai hidup di tengah ketidakpastian.
Ia belajar bahwa menjadi manusia kecil di peta dunia bukanlah kutukan. Justru di sanalah manusia diuji, apakah ia memilih larut dalam kepanikan, atau berdiri tenang sebagai penjaga bagi orang-orang yang dicintainya. Kenandra memilih yang kedua. Bukan karena ia paling berani, tetapi karena ia paling sadar.
“Tidak semua orang ditakdirkan mengubah dunia. Sebagian dari kita ditakdirkan menjaga agar dunia tidak sepenuhnya merenggut yang kita cintai.”
Di rumah kontrakan kecilnya, Kenandra tidak membangun benteng dari baja atau senjata. Ia membangunnya dari disiplin, kejujuran, kesederhanaan dan harapan yang tidak naif. Ia tahu, sejarah bisa saja mencatat para jenderal dan presiden, tetapi kehidupan akan selalu bergantung pada keputusan-keputusan kecil yang dibuat manusia biasa setiap hari.
Dan jika suatu saat dunia benar-benar jatuh ke dalam kekacauan yang lebih besar, Kenandra percaya satu hal:
Keluarganya tidak akan menghadapinya sebagai korban, melainkan sebagai manusia yang telah bersiap.
“Di zaman yang rapuh, bertahan adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.”
Kisah ini tidak menawarkan ramalan, tidak pula menjanjikan keselamatan mutlak. Ia hanya mengajak pembaca untuk kembali berpikir, bersikap, dan memilih dengan sadar, Karena di tengah dunia yang kian keras, kesadaran merupakan bentuk perlawanan paling manusiawi dan mungkin, itulah satu-satunya cara agar manusia kecil tetap memiliki arti di peta dunia yang terus berubah.
ARDHI MORSSE, MINGGU 11 JANUARI 2026







