PULANG KE USIA YANG TAK BISA DIULANG

Mimpi adalah satu-satunya tempat masa lalu berani datang tanpa diundang

 

SINOPSIS- Pulang ke Usia yang Tak Bisa Diulang adalah kisah tentang rindu yang menemukan jalannya sendiri, “melalui mimpi.” Seorang lelaki dewasa, yang telah menjadi suami dan ayah, mendadak “pulang” ke masa SMP-nya: ke halaman sekolah yang penuh kenangan, ke tawa sahabat-sahabat lama dan ke cinta pertamanya yang tak pernah benar-benar pergi.
Dalam perjumpaan yang terasa nyata namun rapuh oleh waktu, ia kembali merasakan sederhana-nya bahagia: surat-surat kecil, senyum yang disimpan diam-diam, gitar yang memanggil harap, serta mimpi-mimpi remaja yang dulu terasa pasti. Di tengah perubahan zaman dan kenyataan bahwa semua orang telah berjalan pada takdirnya masing-masing, ia berhadapan dengan satu kebenaran: ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk dimiliki, hanya untuk diingat.
Saat mimpi itu berakhir dan pagi dewasa menyambutnya, ia menyadari bahwa masa lalu tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dikenang. Ia sebagai luka yang manis, sebagai bahagia yang singkat dan sebagai rumah yang hanya bisa didatangi sekali-sekali, lewat mimpi.
Kisah ini adalah perayaan sunyi tentang cinta pertama, persahabatan, dan usia yang tak bisa diulang—namun selalu hidup dalam ingatan.

Advertisements

PULANG KE MASA SMP

Siang Itu, Aku Seorang mahasiswa yang tengah menikmati liburan panjang. Kakiku melangkah ringan, seolah tak menapak tanah dan menuju sekolah menengah pertama, tempat kami dulu belajar tentang angka, kata, dan rasa yang belum punya nama. Gerbang sekolah berdiri setia: sedikit kusam, sedikit renta, namun tetap menyimpan wibawa yang sama. Di sana, waktu tak berjalan lurus; ia berputar, menunggu siapa pun yang cukup rindu untuk kembali.

Tanpa janjian, tanpa pesan, kami berkumpul. Seperti dipanggil oleh kenangan yang sama.

David, yang selalu kami panggil Rahul. Ia datang dengan gaya santainya. Mang Ganta, saudara sekaligus sahabat yang begitu dekat, menyapa dengan tawa yang tak berubah. Putri Anggraini melangkah anggun; sorot matanya menyimpan kecerdasan yang dulu sering membuat guru tersenyum bangga. Fery Alias Parto sepupuku paling humoris, hadir dengan guyonan yang selalu datang di waktu yang tepat Dan Rian Candra Negara, ia datang sambil bersenandung lagu Rhoma Irama, lirih namun penuh semangat dengan gaya setengah tegap seperti tentara; cita-citanya sejak dulu tak pernah goyah.

Aku memasuki lorong sekolah, Lalu aku melihatnya walaupun tanpa sadar aku selalu merindukan kehadirannya,

“Ada manusia yang cukup hadir untuk membuat waktu lupa berjalan.”

Namanya, Febrina Yuda Pramita, Anak dari seorang guru bahasa indonesia dan guru fisika.

Baca Juga   DI TERAS WAKTU: SURYA TERAKHIR MAJAPAHIT

Ia berdiri di dekat koridor kelas. Rambut ikalnya tergerai, berkilau diterpa cahaya pagi. Senyumnya—senyum yang sama—membuat dunia seolah berhenti bernapas sejenak. Dalam hatiku, ia selalu seperti Rose DeWitt Bukater dalam Film Titanic: cantik dengan keceriaan yang anggun, kuat dengan kelembutan yang tak banyak bicara. Dadaku bergetar, seperti pertama kali aku menyadari bahwa cinta bisa hadir tanpa izin.

Sekolah kami terlihat sedang ramai. Penerimaan siswa baru berlangsung. Anak-anak berbaris rapi; wajah mereka menyimpan harapan dan kegelisahan yang dulu pernah kami miliki. Namun ada yang terasa asing. Pergaulan tampak lebih liar, lebih keras. Bisik-bisik gelap menyelinap di sela tawa—hal-hal yang tak pernah kami jumpai dulu kini berdiri terang-terangan. Kami saling pandang, diam namun mengerti: dunia berubah, dan sekolah ini ikut menua bersamanya.

Selanjutnya, kami berjalan ke tempat favorit kami semasa di sekolah pertama ; Perpustakaan.

“Beberapa kenangan tidak ingin dirayakan di tempat ramai; ia memilih sunyi agar tetap utuh.”

Rak-rak kayu itu masih penuh sastra klasik, novel-novel tua bersampul menguning, puisi-puisi yang pernah kami baca diam-diam, berharap bisa mengerti hidup sebelum hidup benar-benar datang menghantam. Aku duduk di bawah pohon besar di halaman samping, membawa satu buku yang dulu tak sempat kubaca sampai habis. Angin berdesir pelan; daun-daun berbisik, seolah membaca bersama kami.

Febrina mengikuti langkahku membawa satu buku, duduk di sampingku. Tak banyak kata, Hanya senyum yang terus ia simpan, seakan waktu tak pernah berpisah. Rambut ikalnya menari pelan, dan aku berpikir—betapa dulu aku jatuh cinta bukan karena keberanian, melainkan karena kebahagiaan yang terlalu jujur untuk disembunyikan.

Di kejauhan, Rahul sedang merayu Putri Anggraini. Kata-katanya sederhana, sedikit kikuk, namun penuh niat. Putri tersenyum, senyum yang menimbang, yang tahu kapan harus percaya dan kapan harus menunda. Kami tertawa pelan melihatnya; cinta memang selalu lucu saat masih muda, selalu berani meski tak tahu apa-apa.

Tidak berselang lama, Rian Candra Negara melintas, bersenandung Rhoma Irama lagi. Bahunya tegap, langkahnya tegas. “Suatu hari aku akan mengenakan seragam tentara,” katanya dengan keyakinan yang tak pernah berubah. Kami mengangguk, seolah percaya bahwa mimpi adalah sesuatu yang pasti tercapai asal diucapkan cukup keras.

Rombongan Putri selalu hadir dengan caranya sendiri, seolah halaman sekolah adalah panggung kecil yang menunggu mereka. Putri berjalan di depan, diapit Selamah dan Fienda—tiga sahabat dengan tawa berbeda nada, namun menyatu. Mereka sering duduk berdekatan, berbagi rahasia yang hanya dimengerti oleh anggukan dan senyum setengah tertutup.
Febrina berbeda rombongannya. Ia bersama Novi, Indah, dan Vina. Mereka lebih tenang, lebih lirih, seperti halaman buku yang tak pernah terburu-buru dibaca. ‘Febri’ begitu aku memanggilnya dalam hati, sering duduk sedikit menjauh, membawa buku, atau sekadar menatap halaman dengan senyum kecil yang selalu membuatku lupa pada kebisingan sekitar.

Baca Juga   MAHLIGAI YANG RETAK OLEH PENGKHIANATAN

Rahul tampil paling rapi hari-hari itu. Rambutnya disisir sungguh-sungguh; kemejanya tampak paling niat di antara kami. Ia jago bermain gitar. Senarnya berbunyi lembut di sela istirahat, memanggil Putri dengan lagu-lagu sederhana yang penuh harap. Setiap petikan adalah doa; setiap senyum Putri adalah harapan baru. Rahul tak pernah lelah menghibur, meski hatinya sering berdiri di tepi ketidakpastian.
Parto lain cerita. Ia telah memiliki Ririn. Cintanya tak ribut, tak perlu gitar atau surat. Mereka berjalan berdampingan, berbagi bekal dan waktu pulang. Dari mereka aku belajar: ada cinta yang cukup diam, cukup saling tahu—tanpa perlu dunia menyaksikan.
Mang Ganta masih berburu cinta yang belum jelas arahnya. Kadang ia bercanda, kadang tampak sungguh-sungguh—seperti seseorang yang tahu ia sedang mencari sesuatu, namun belum tahu apa namanya. Kami menertawakannya, diam-diam berharap ia juga menemukan tempat pulangnya sendiri.

Dan aku—aku jatuh dalam rasa cinta monyet sejak pertemuan pertama dengan Febrina Yuda Pramita.
“Cinta pertama tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya belajar diam.” Jatuh tanpa aba-aba. Cinta itu tumbuh pelan melalui cara-cara paling sederhana: bertukar surat.
Kertas kecil dilipat rapi, ditulis tangan dengan hati-hati. Kata-kata kami tak panjang, tapi penuh.
Kami saling menunggu saat istirahat di belakang kelas—tempat bayangan pohon meneduhkan kegugupan. Kami saling menunggu sepulang sekolah di gerbang—tempat waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Kadang Febri hanya tersenyum dan menyerahkan surat. Kadang ia membaca balasanku di bawah pohon; rambut ikalnya jatuh lembut, dan aku berpikir: beginikah rasanya bahagia tanpa gaduh? Novi, Indah, dan Vina sering menggoda, tetapi Febri hanya menunduk dan tersenyum—senyum yang menyimpan dunia.
Hari-hari itu berlalu seperti lagu yang tak ingin cepat selesai. Senar gitar Rahul mengiringi langkah Putri. Tawa Selamah dan Fienda menyela siang. Ririn menunggu Parto dengan sabar. Mang Ganta mengejar sesuatu yang belum bernama. Dan aku—aku menunggu Febrina—dengan kesabaran yang entah kupelajari dari mana selain dari cinta itu sendiri.
Kami lalu menuju kantin—kantin favorit sekolah. Orang tua Mang Ganta masih berjualan di sana, dibantu saudara-saudaranya. Wajah mereka ramah, tangan mereka cekatan; suara mereka mengandung kehangatan yang tak bisa dibeli. Kami duduk lama, mengobrol tentang hal-hal kecil yang terasa besar: hukuman guru, cinta rahasia, dan masa depan yang dulu kami kira sederhana.

Baca Juga   Cerita Fiksi "demi cinta dan masa si buah hati, ridhoi aku menjadi kupu-kupu malam"

Namun waktu, selalu waktu—mulai mengingatkanku pada kenyataan. “Waktu tidak pernah kejam; kitalah yang sering lupa bahwa ia tak bisa ditawar.”

Aku berkata pelan bahwa aku tak bisa lama. Besok aku harus pulang ke Jakarta. Liburan telah usai. Kata-kata itu seperti bel pulang sekolah yang dibunyikan terlalu cepat.

Perpisahan datang tanpa ampun, Aku mencari Febrina. Kami berdiri berhadapan; dunia di sekitar kami memudar. Tanpa kata, aku memeluknya erat, seerat kenangan yang tak ingin dilepas. Dalam pelukan itu, perasaan pertama kali berpacaran dengannya kembali hadir: degup jantung yang jujur, bahagia yang sederhana, cinta yang tak sempat dewasa. Air mata tak jatuh, tetapi dadaku basah oleh sesuatu yang lebih berat dari tangis.

Lalu aku terbangun. “Bangun dari mimpi masa lalu adalah cara paling sunyi untuk menyadari bahwa kita telah dewasa.”

Hari sudah pagi di tanah perantauan menyapaku dengan sunyi yang dewasa. Aku telah menjadi ayah, menjadi suami. Teman-temanku menjalani takdir mereka masing-masing. Febrina pun kini hidup di garis waktunya sendiri. jauh, tak terjamah, dan sepenuhnya nyata.
Mimpi itu menyisakan luka yang manis: kesedihan yang hangat, kebahagiaan yang tak bisa diulang.
Dan aku mengerti satu hal, “Tidak semua yang kita cintai harus kita miliki; sebagian hanya perlu kita ingat.”

Beberapa cinta tidak ditakdirkan untuk dimiliki selamanya. Ia hanya dititipkan, agar suatu hari, saat rindu terlalu penuh, kita tahu ke mana harus pulang, meski hanya lewat mimpi.
Aku bermimpi dengan cara yang paling kejam: aku diberi pulang, lalu direnggut kembali tepat ketika aku baru saja duduk dan merasa aman.

(ARDHI MORSSE, SELASA 16 DESEMBER 2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *