Di Kota Madya Yang Selalu Ramai, Kehidupan Berjalan Seperti Mesin Yang Terus Berputar. Pagi Dimulai Dengan Suara-Suara Klakson Kendala Dan Langkah Kaki Yang Tergesa-Gesa.
Siang Dengan Cahaya Matahari Yang Terasa Panas Menyengat, Polusi Udara, Debu Dan Beban Tuntutan Kerja. Malam Yang Seharusnya Menjadi Tempat Pulang Dan Beristirahat, Tapi Bagi Sebagian Orang, Malam Justru Menjadi Ruang Paling Sunyi Untuk Memikirkan Cara Bertahan Hidup Serta Menghadapi Masa Depan.
Kota Industri Itu Tidak Pernah Bertanya, Apakah Manusia Di Dalamnya Bahagia.Ia Hanya Menuntut, Bekerja, Bertahan, Dan Terus Berjalan. Di Antara Ribuan Manusia Yang Bergerak Setiap Hari, Ada Mereka Yang Selalu Berpatroli Dan Sering Berdiri Di Pinggir Jalan. Mereka Bukan Sebagai Penonton. Tapi Sebagai Penjaga Lingkungan Kota, Mereka Mengenakan Seragam Pdl Lapangan Berwarna Coklat Yang Perlahan Memudar Oleh Matahari, Serta Sepatu Yang Lelah Oleh Jarak. Mereka Merupakan Petugas Lapangan Yang Tidak Mengenal Waktu Libur Karena Tugasnya Menjaga Ketertiban Dam Ketentraman Kota.
Suatu Hari, Bhumi Pernah Berkata, “Lucu Juga Ya… Kita Menjaga Kota Agar Tetap Tertib, Tentram Dan Amam…”
Sambil Menghisap Rokoknya Pelan…
“Tapi Kenapa Hidup Kita Sendiri Sering Terasa Tidak Tertib, Jauh Dari Tentram Apalagi Aman Untuk Mencukupi Kebutuhan”
Semua Rekan-Renannya Tidak Ada Yang Menertawakan Kalimat Itu, Karena Semua Orang Di Sana…Merasakan Kondisi Yang Sama.
Kehidupan Bagi Mereka, Bukan Lagi Tentang Memperjuangkan Cita-Cita Dan Mimpi Besar. Kehidupan Yang Mereka Jalani Hanya Tentang Cukup Makan Hari Ini, Cukup Uang Untuk Sekolah Anak, Cukup Kuat Untuk Tidak Menyerah Besok Dan Kadang… “Cukup” Saja Masih Terasa Terlalu Jauh.
Seorang Filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, Pernah Berkata, “He Who Has A Why To Live Can Bear Almost Any How.”
(Siapa Yang Memiliki Alasan Untuk Hidup, Akan Mampu Menghadapi Hampir Segala Cara Hidup.)
Namun Bagaimana Jika… Alasan Itu Sudah Mulai Pudar Dan Semakin Rapuh?
Bagaimana Jika Seorang Ayah Mulai Meragukan Dirinya Sendiri?
Bagaimana Jika Seorang Suami Merasa Tidak Lagi Mampu Melindungi Keluarganya?
____
Di Kota Madya Yang Menyebut Dirinya Kota Industri… Ada Seorang Lelaki Bernama Yoga, Ia Bukan Tokoh Besar Dan Namanya Tidak Pernah Muncul Di Berita. Akan Tetapi Hidupnya Seperti Cermin Dari Ribuan Manusia Yang Diam-Diam Berjuang Dalam Sunyi.
Ia Bekerja, Bertahan Dan Berdoa. Tapi Dunia Seolah Terus Mendorongnya Ke Sudut Yang Lebih Gelap Mulai Utang, Tekanan, Rasa Malu Dan Ketakutan Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi.
Psikolog Carl Rogers Pernah Menulis, “What Is Most Personal Is Most Universal.”
(Apa Yang Paling Pribadi, Sering Kali Adalah Yang Paling Universal.)
Penderitaan Kehidupan Yoga Mungkin Terlihat Kecil Di Mata Dunia. Tapi Bagi Mereka Yang Pernah Merasakannya…Itu Adalah Luka Yang Sama, Luka Yang Tidak Selalu Terlihat, Tapi Diam-Diam Menggerogoti Jiwa.
Ada Satu Titik Dalam Hidup Manusia, Di Mana Ia Tidak Lagi Mencari Jawaban Di Dunia. Ia Mulai Menengadah Menantap Langit, Bukan Karena Ia Suci. Tapi Karena Ia Sudah Tidak Punya Tempat Lain Untuk Kembali. Seperti Nabi Yunus Dalam Kegelapan Dan Doa Yang Lahir Dari Keputusasaan,
“Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz-Zalimin.”
(Tiada Tuhan Selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh Aku Termasuk Orang-Orang Yang Zalim).
Doa Itu Bukan Sekadar Kalimat Sederhana. Itu Merupakan Jeritan, Pengakuan Sekaligus Harapan Terakhir Dari Seorang Manusia Yang Hampir Tenggelam.
Seorang Penulis Rusia, Fyodor Dostoevsky, Pernah Berkata:
“The Darker The Night, The Brighter The Stars.”
(Semakin Gelap Malam, Semakin Terang Bintang.)
Tapi, Tidak Semua Orang Cukup Kuat Untuk Menunggu Bintang Itu Muncul. Sebagian Manusia… Harus Belajar Mencintai Kegelapan Terlebih
Cerita Dalam Kisah Ini Bukan Tentang Pahlawan, Kemenangan Besar, Kehidupan Yang Berubah Dalam Sekejap.
Tapi Kisah Ini Bercerita Tentang Manusia Biasa Yang Mencoba Tetap Percaya Meski Hidup Tidak Pernah Benar-Benar Berpihak Padanya. Tentang Seorang Ayah Yang Terus Berdiri Meski Hatinya Runtuh, Serta Tentang Doa-Doa Yang Dipanjatkan Dalam Diam, Di Antara Air Mata Yang Tidak Pernah Dilihat Siapa Pun.
Dan Jika Suatu Hari Nanti…Kamu Membaca Kisah Ini Dalam Keadaan Hidup Yang Terasa Berat, Ingatlah Satu Hal, Bahwa Bahkan Dalam Kegelapan Paling Dalam, Manusia Masih Bisa Menemukan Tuhan. Bukan Karena Ia Kuat, Tapi Karena Ia Tidak Punya Pilihan Selain Berharap.
Inilah Kisah Tentang Yoga, Bhumi Dan Kawan-Kawannya. Tentang Kota Yang Keras, Serta Tentang Doa Yang Lahir Dari Kegelapan. Sebuah Kisah Yang Mungkin…Lebih Dekat Dari Yang Kita Kira.
Kota Yang Selalu Ramai
Di Kota Industri Pagi Hari, Asap Kendaraan Yang Memadati Jalan Serta Asap Pabrik Menggantung Seperti Kabut Yang Malas Turun. Klakson Kendaraan Serta Sirene Truk Kontainer Bersahutan Dengan Klakson Kendaraan Yang Membawa Para Buruh. Jalanan Dipenuhi Wajah-Wajah Berpeluh Yang Berangkat Kerja Dengan Satu Harapan Sederhana, Pulang Membawa Rezeki Yang Cukup Untuk Makan Dan Bertahan Hidup Di Wilayah Kota Madya.
Di Tengah Hiruk-Pikuk Kepadatan Jalan Itu, Terlihat Sekelompok Lelaki Berseragam Dinas Lapangan Sedang Berpatroli Sambil Membantu Mengatur Lalulintas Yang Padat Serta Menertibkan Pelanggaran Peraturan Daerah Seperti Para Pedagang Yang Berjualan Di Bahu Jalan Serta Pengamen Dan Pengemis Yang Berkeliaran Di Sekitar Lampu Merah Serta Persimpangan Jalan.
Mereka Merupakan Petugas Penertiban Peraturan Daerah Kota Madya Sekaligus Asn Lapangan. Mereka Yang Setiap Hari Berdiri Di Bawah Terik Matahari Yang Panas Serta Derasnya Hujan Demi Menjaga Ketertiban Kota, Bahkan Penghuni Kota Pun Sering Lupa Bahwa Mereka Selalu Ada.
Bhumi Terlihat Sering Berdiri Di Depan Pos Pantau Sederhana Yang Menjadi Tempat Berkumpul Dan Beristirahat Setelah Melaksanakan Patroli Dan Penertiban Di Wilayah-Wilayah Rawan Pelanggaran Peraturan Daerah.
Di Tangannya Terdapat Pulpen Dan Kertas Sedang Mencatat Laporan Hasil Kegiatan Patroli Dan Penertiban. Defan Sibuk Dengan Membalas Pesan Dan Hanya Fokus Pada Telepon Genggamnya. Satria Perkasa Sedang Membaca Laporan Warga Yang Ada Di Aplikasi Terkait Pelanggaran Pedagang Kaki Lima. Juga Terlihat Kang Ibay, Cak Iip, Erdan, Bang Luky Dan Aris Yang Sedang Duduk Istirahat Sambil Ngobrol Santai.
Nama-Nama Mereka Tidak Pernah Muncul Di Berita Apalagi Menjadi Headline Terkait Kegiatan Yang Dilakukan Secara Rutin Tanpa Mengenal Libur. Padahal Merekalah Yang Menjaga Kota Tetap Tenang, Tertib Dan Aman.
Bhumi Menghembuskan Nafasnya Secara Perlahan Sambil Berkata, “Lucu Juga Ya…” Katanya Pelan.
Satria Pun Menoleh, “Apanya Yang Lucu?”
Bhumi Menatapnya Sambil Tersenyum Pahit, “Kita Ini Penjaga Kota Madya Tanpa Libur… Tapi Rumah Kita Sendiri Saja Sering Tidak Bisa Kita Jaga Dari Penderitaan Dan Kekurangan Yang Jauh Dari Kata Sejahtera.”
Suasana Kembali Sunyi, Tidak Ada Yang Tertawa. Karena Itu Bukan Lelucon, Tapi Kenyataan Yang Terus Di Hadapi. Gaji Mereka Datang Setiap Awal Bulan Dan Selalu Habis Di Hari Ity Juga Untuk Membayar Kontrakan, Listrik, Membeli Susu Anak, Membayar Utang Warung Serta Biaya Sekolah Sedangkan Sisanya?, Hanya Doa.
Kemudian Cak Iip Berkata Sambil Menatap Para Rekannya, “Kalau Kata Abraham Maslow, Manusia Punya Kebutuhan Dasar… Makan, Keamanan, Tempat Tinggal.”
Ia Menatap Langit Yang Mulai Redup Karena Cuaca Terlihat Akan Hujan.
“Kita Petugas Lapangan Yang Lucu… Kita Bekerja Menjaga Ketertiban Dan Keamanan Orang Lain… Tapi Keamanan Hidup Kita Sendiri Tidak Pernah Dijamin Oleh Pemerintah.” Bang Luky Berkata Sambil Tertawa Kecil.
“Tingkat Paling Bawah Piramida Maslow Saja Kita Belum Sampai.” Lanjutnya Dengan Perlahan.
Suasana Kembali Sunyi Dan Semua Terdiam. Hanya Suara Kendaran Yang Terdengar Ramai Di Jalanan Dan Di Antara Mereka Semua Yang Ada Di Pos Pantau, Yang Paling Jarang Bicara Adalah Yoga.
Tubuhnya Semakin Hari Semakin Kurus. Matanya Sering Terlihat Merah. Yoga Tidak Tinggal Di Kontrakan Seperti Bhumi. Ia Tinggal Di Rumah Mertuanya, Rumah Besar Tiga Lantai Di Kawasan Perumahan. Mertua Laki-Lakinya Sudah Meninggal, Saat Ini Tinggal Mertua Perempuan Yang Mulai Renta, Istri Dua Anaknya. Yoga Saat Ini Terlilit Hutang. Hutang Utang Dari Beberapa Pinjaman Online Yang Awalnya Kecil Hanya Untuk Bayar Sekolah, Beli Sembako, Bayar Listrik Juga Untuk Kebutuhan Sehari-Hari.
Tanpa Di Rasa Semakin Hari Semakin Banyak, Dan Itu Dari Beberapa Aplikasi Dengan Bunga Pinjaman Seperti Penyakit Yang Tumbuh Secara Diam-Diam, Semakin Hari Membesar Dan Mencekik.
Sekarang, Hampir Setiap Minggu Ada Orang Datang Ke Rumah. Orang-Orang Yang Datang Atas Perintah Perusahaan Pinjaman Online Yang Sering Di Sebut Debt Collector.
Mereka Datang Dengan Mengetuk Pintu Keras Sambil Berteriak-Teriak Mempermalukan Dan Para Tetangga Mulai Berbisik.
Kakak Dan Adik Istrinya Mulai Memandang Sinis Terhadap Yoga. Yoga Mulai Merasa Seperti Orang Yang Hidup Dalam Ruang Sempit Tanpa Udara. Suatu Pagi Istrinya Berkata Pelan, “Yah… Uang Spp Sekolah Anak Bulan Depan Bagaimana?”
Yoga Diam Dan Tidak Menjawab. Ia Hanya Menunduk, Karena Belum Memiliki Jawaban Untuk Pertanyaan Sang Istri.
Sudah Beberapa Minggu Ini Yoga Tidak Benar-Benar Bisa Tidur. Setiap Malam Ia Hanya Berbaring Menatap Langit-Langit Rumah, Kepalanya Penuh Angka Mulai Dari Pinjaman A, B Dan C. Dengan Bunga, Denda Dan Ancaman. Ia Menutup Wajah Dengan Kedua Tangan Dan Air Matanya Jatuh Secara Diam-Diam, Lalu Ia Bangun Dan Mengambil Air Wudhu Untuk Melaksanakan Sholat.
Dalam Sujudnya Ia Membaca Doa Yang Sama Dan Berulang-Ulang,
“Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz-Zalimin.”
Itu Merupakan Doa Nabi Yunus, Doa Dari Kegelapan Dan Doa Yang Hadir Dari Dalam Perut Ikan. Yoga Merasa Dirinya Juga Berada Di Dalam Perut Ikan, Pikirannya Gelap, Sempit Dan Tertutup Seperti Tanpa Jalan Keluar.
Obrolan Ringan Dan Kedatangan Debt Collector
Siang Hari Di Pos Pantau, Bhumi Berkata Dengan Santai, Seorang Psikolog Carl Jung Pernah Bilang…” Lalu Ia Membaca Dari Buku Catatanya, “Orang Tidak Menjadi Tercerahkan Dengan Membayangkan Cahaya, Tetapi Dengan Menyadari Kegelapan Di Dalam Dirinya.”
Satria Pun Mengangguk.
“Kita Ini Sedang Hidup Di Dalam Kegelapan Ya…” Kang Ibay Menyahut Pelan.
“Yang Bahaya Bukan Kemiskinan…” Ia Menatap Jalanan Kosong. “Tapi, Yang Bahaya Itu Putus Harapan.”
Ramadhan Hampir Di Penghujung, Puasa Hari Ke-26, Di Rumah Yoga Suasana Semakin Berat Dan Anak Bungsunya Bertanya Polos, “Ayah… Nanti Lebaran Kita Beli Baju Baru Kan?”
Yoga Pun Menelan Ludah Dan Menjawab, “Insyaallah…”
Padahal Ia Tahu, Saat Ini Belum Ada Uang Sama Sekali, Bahkan Zakat Fitrah Untuk Keluarganya Pun Belum Ada.
Istrinya Sedang Duduk Di Depan Dapur Dengan Diam. Lalu Berkata Lirih, “Ayah… Aku Tidak Apa-Apa Kalau Tidak Beli Baju Baru…”
Ia Menahan Air Mata, “Tapi Anak-Anak Kita…”
Kalimatnya Berhenti, Yoga Merasa Dadanya Sesak Seperti Diremas.
Hari Itu Tiba-Tiba Pintu Rumah Yoga Diketuk Keras.
Tok…Tok….Tok…..Tok…Tok…Tok…
“Buka Pak…!!!”
Suara Keras Debt Collector Dari Perusahaan Pinjaman Online Datang Lagi.
Beberapa Tetangga Mulai Keluar Rumah, Yoga Pun Berdiri Kaku, Mertuanya Hanya Menatap Lantai Dan Istrinya Memeluk Anak-Anak.
Kata-Kata Para Debt Collector Terdengar Kasar, “Kalau Tidak Bisa Bayar, Jangan Pinjam!”
Kata-Kata Itu Sangat Menampar Harga Diri Yoga.
Setelah Mereka Pergi…Yoga Duduk Di Teras Dan Menunduk Lama Sekali. Ia Merasa Kecil Bahkan Sangat Kecil.
Malam Pun Tiba, Yoga Berjalan Sendirian Di Jalan Perumahan, Langit Begitu Gelap Dan Hembusan Angin Terasa Dingin.
Ia Berbicara Pada Dirinya Sendiri, “Ya Allah…Apakah Aku Telah Menjadi Suami Dan Ayah Yang Gagal?”
Air Matanya Sudah Tidak Bisa Di Tahan, Perlahan Jatuh Membasahi Pipinya.
“Aku Hanya Ingin Anak Dan Istriku Cukup Makan… Sekolah… Hidup Layak…”
Ia Kembali Menatap Langit, “Kenapa Rasanya Dunia Begitu Sempit?”
Ia Teringat Kutipan Psikolog Viktor Frankl, “Manusia Bisa Bertahan Dalam Penderitaan Apa Pun Selama Ia Masih Memiliki Makna Untuk Hidup.”
Yoga Berbisik, “Makna Hidupku…Hanya Keluarga.Kalau Aku Gagal Menjaga Mereka… Lalu Apa Arti Hidupku?”
Ia Pun Terus Menangis Sendirian Di Bawah Lampu Jalan Yang Redup.
Setelah Nafasnya Sedikit Lega, Ia Kembali Ke Rumah…Tapi Alam Itu Yoga Tidak Bisa Tidur, Kemudian Pergi Ke Mushola Kecil Samping Ruang Tamu Keluarga Dengan Lampu Redup Dan Sajadah Yang Terbentang…Yoga Pun Mengambil Wudhu Lalu Berdiri Dan Melaksanakan Sholat. Di Sujud Akhirnya Ia Sujud Sangat Lama Dan Dalam Sujudnya Ia Menangis, Ia Berucap Lirih…
“Ya Allah, Ya Tuhanku…”
“Aku Sudan Tidak Punya Siapa-Siapa Lagi Selain Engkau.”
“Kedua Orang Tuaku Sudah Meninggal.”
“Sedangkan Aku Sangat Malu Kepada Mertuaku.”
“Aku Malu Pada Istriku.”
“Juga Kepada Anak-Anakku.”
Air Matanya Begitu Deras Membasahi Sajadah.
“Ya Allah ….”
Jika Engkau Ingin Menguji Aku… Aku Terima Dengan Ikhlas.”
“Tapi Jangan Ambil Harapan Dari Hatiku…”
Lalu Ia Membaca Lagi Doa Nabi Yunus…
“Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz-Zalimin.”
Doa Yang Dia Baca Secara Berulang-Ulang..
Seperti Orang Yang Sedang Tenggelam Dan Hanya Menggenggam Satu-Satunya Pelampung.
Kota, Tuhan, Dan Manusia Yang Terluka
Di Kota Madya Yang Di Sebut Sebagai Kota Industri Itu…Ada Ribuan Lampu Serta Ribuan Pabrik Dan Ribuan Orang Bekerja, Namun Ada Juga Manusia-Manusia Yang Hidup Dalam Kegelapan….
Manusia-Manusia Itu Seperti Bhumi, Satria, Kang Ibay, Cak Iip, Erdan, Bang Luky, Ariss Dan Terutama…Yoga.
Mereka Menjaga Kota Tanpa Kenal Hari Libur, Namun Tidak Ada Yang Menjaga Kehidupan Mereka. Tapi Di Dalam Dada Mereka Masih Ada Satu Hal Yang Belum Mati….
Doa…
Karena Kadang…Ketika Manusia Sudah Berada Di Titik Paling Gelap…Ia Baru Benar-Benar Belajar Berserah. Seperti Nabi Yunus Di Dalam Perut Ikan Dan Seperti Kata Rumi, “Luka Adalah Tempat Di Mana Cahaya Tuhan Masuk Ke Dalam Dirimu.”
Hari Itu Kendaraan Terus Ramai Berlalu-Lalang Dan Para Asn Lapangan Tetap Berdiri Di Jalanan Dengan Seragam Pdl Dan Gaji Yang Jauh Di Bawah Umk, Serta Hati Yang Terus Berdoa, Berharap Dan Bertahan.
Karena Seperti Yang Pernah Ditulis Oleh Jalaluddin Rumi, “Di Tempat Paling Gelap Dalam Hidupmu, Tuhan Sedang Menanam Cahaya Yang Belum Kamu Lihat.”
Dan Mungkin…Suatu Saat Nanti Hadir Sebuah Cahaya Dari Doa-Doa Yang Pernah Dipanjatkan Dari Dalam Kegelapan Paling Sunyi.
Sunyi Di Malam Takbiran
Malam Hari Di Kota Madya Begitu Terang Dengan Lampu-Lampu Jalan Berwarna-Warni Menyala Seperti Bintang Yang Turun Ke Bumi. Gema Takbiran Berkumandang Dari Masjid Ke Masjid Di Antara Kepadatan Lalulintas.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Anak-Anak Berlarian Dan Bermain Meramaikan Suasana Malam, Motor-Motor Konvoi Lewat Sambil Membunyikan Klakson Panjang. Semua Penghuni Semesta Menyambut Hari Kemenangan.
Semua Orang Merayakan Kebahagian Menyambut Hari Raya Idul Fitri, Kecuali Sebuah Rumah Yang Berada Di Tengah Perumahan. Rumah Itu Merupakan Rumah Mertua Yoga.
Di Rumah Itu… Suasana Malam Terasa Sangat Berbeda…. Suasana Sepi Dan Sunyi. Anak Bungsu Yoga Duduk Di Lantai Ruang Tamu. Ia Melihat Keluar Jendela. Para Anak Tetangganya Sedang Mencoba Baju Baru Dan Matanya Berbinar.
Lalu Ia Menoleh Pada Ayahnya, “Ayah…”
Yoga Yang Sedang Duduk Di Kursi Depan Teras Menoleh, “Iya, Nak?”
Anak Itu Mendekati Yoga Sambil Tersenyum Polos, “Besok Kami Pakai Baju Baru Juga Kan Yah?”
Pertanyaan Sederhana Dari Kepolosan Seorang Anak Kecil. Namun Bagi Yoga…
Kalimat Itu Seperti Batu Bedar Yang Jatuh Dan Menimpa Dadanya. Ia Tidak Menjawab Dan Hanya Tersenyum Kecil, Senyum Yang Dipaksakan, Sambil Menjawab, “Iya Nak… Insyaallah, Besok Kalian Pakai Baju Baru.”
Anaknya Tersenyum Dan Memohon Ijin Bermain Keluar Bersama Teman-Temannya. Yoga Menyadari Satu Hal. Ia Baru Saja Mengucapkan Janji Yang Mungkin Tidak Bisa Ia Tepati.
Ketika Malam Semakin Larut, Suara Takbir Semakin Keras Dan Di Luar Orang-Orang Tertawa Bahagia, Tapi Berbeda Di Dalam Rumah Itu…Yoga Hanya Duduk Sendirian Di Teras. Ia Memandang Jalan Dengan Tatapan Kosong Serta Dada Yang Semakin Terasa Berat Bahkan Sangat Berat.
Ia Mengingat Semua Hal Yang Sedang Menimpa Dan Harus Di Hadapinya Sendirian, Mulai Dari Utang Pinjaman Online, Debt Collector Yang Terus Meneror, Serta Gaji Yang Sangat Jauh Dari Mencukupi Kebutuhan Hidup. Bulan Sebelumnya Ia Dan Rekan-Rekan Sesama Profesi Mengadakan Audiensi Ke Dprd Kota Madya, Tapi Jawaban Sesuai Dengan Prediksi Hanya Kata, “Bersabar Dan Tunggu Saja.”
Ia Tersenyum Pahit, “Sepertinya… Hidup Orang Miskin Memang Hanya Diberi Dua Pilihan…Bertahan… Atau Tenggelam.”
Air Matanya Pun Tanpa Terasa Terus Mengalir Membasahi Pipinya.
Lalu Yoga Mengusap Matanya Dan Berdiri Masuk Ke Dalam Menuju Samping Mushola Kecil Keluarga Untuk Mengambil Wudhu.
Setelah Itu Masuk Ke Ruang Musholah Kecil Dan Membentangkan Sajadah, Ia Mengerjakan Sholat Dengan Khusyuk.
Rakaat Demi Rakaat Ia Laksanakan Dengan Ketenangan, Hingga Akhirnya Ia Sujud Akhir. Sujud Yang Sangat Lama Dan Dalam Sujud Itu…Hatinya Menjerit Dan Suaranya Sejak Dan Gemetar
“Ya Allah…Aku Sangat Lelah…”
“Bukan Lelah Karena Bekerja…”
“Tapi Aku Sangat Lelah Karena Merasa Tidak Mampu Menjadi Ayah Yang Baik.”
Air Matanya Terus Membasahi Sajadah….
“Ya Allah… Aku Tidak Meminta Hidup Mewah…”
“Aku Hanya Ingin Anak-Anakku Tidak Merasa Kurang…”
Ia Menangis Semakin Keras Dengan Suaranya Tertahan.
“Kalau Engkau Ingin Mengujiku… Aku Terima…”
“Tapi Tolong… Jangan Uji Anak-Anakku Melalui Kegagalanku.”
Lalu Ia Membaca Doa Nabi Yunus, Doa Yang Sudah Berbulan-Bulan Ia Baca Secara Berulang.
“Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz-Zalimin.”
Ia Baca Berkali-Kali Hingga Puluhan Kali, Seperti Orang Yang Tenggelam Memanggil Satu-Satunya Penyelamat.
Idul Fitri Yang Menggetarkan Jiwa
Malampun Berlalu, Subuh Hadir Secara Perlahan Dengan Suasana Sederhana. Takbir Di Masjid Masih Terdengar Dari Kejauhan. Hari Raya Idul Fitri Akhirnya Tiba.
Yoga Pun Keluar Rumah. Ia Memakai Baju Lama Yang Warnanya Sudah Agak Pudar. Tapi Anak-Anaknya Sudah Memakai Pakaian Baru Yang Di Belikan Oleh Ibu Mertuanya.
Anak-Anaknya Tersenyum Bahagia Dan Kehadiran Ayahnya Sudah Cukup Menjadi Menyempurnakan Kebahagiaan Keluarga Kecil Mereka.
Istrinya Dengan Perlahan Menatap Yoga. Matanya Sayu Dan Tersenyum Lembut. Ia Berkata Pelan, “Ayah… Mungkin Kita Tidak Memiliki Apa-Apa. Tapi Kita Masih Memiliki Satu Sama Lain.”
Kalimat Halus Dan Sederhana Dari Istrinya Itu, Membuat Dada Yoga Bergetar Dan Hatinya Gerimis. Ia Bersama Anak-Anak, Istri Dan Mertuanya Berjalan Jalan Menuju Masjid, Mereka Berjalan Menuju Masjid Untuk Melaksanakan Sholat Ied.
Mereka Melangkah Secara Perlahan, Bertemu Tetangga Dan Orang-Orang Di Jalan Saling Bersalaman. Bau Ketupat, Rendang Dan Opor Ayam Tercium Dari Rumah-Rumah. Tapi Yoga Merasa Seperti Orang Asing Di Tengah Kebahagiaan Itu.
Ketika Mereka Sampai Di Halaman Masjid, Tiba-Tiba Seseorang Memanggilnya.
“Yoga..!”
Ia Pun Menoleh…
Bhumi Berdiri Di Sana Dan Di Sampingnya Ada Satria, Kang Ibay, Cak Iip, Erdan, Bang Luky, Serta Aris. Rekan-Rekan Satu Profesi, Satu Intansi Dan Sama-Sama Petugas Lapangan.
Mereka Semua Tersenyum…Bhumi Pun Berjalan Mendekat.
Tanpa Bicara Apa Pun…Lalu Ia Memeluk Yoga Dengan Erat Bahkan Sangat Erat. Yoga Terkejut Dan Pelukan Itu Membuat Air Matanya Jatuh Lagi.
Bhumi Berbisik Lirih…“Kalau Hidupmu Terasa Gelap…Jangan Lupa Bahwa Kita Tidak Berjalan Sendirian.”
Mereka Pun Memasuki Masjid Dan Melaksanakan Sholat Ied Hingga Selesai Khutbah.
Setelah Pelaku Sholat Ied Selesai, Yoga Duduk Di Tangga Masjid. Ia Melihat Anak-Anaknya Sedang Bermain Serta Melihat Langit Pagi Yang Biru.
Lalu Ia Teringat Sebuah Kalimat Dari Viktor Frankl, “Ketika Seseorang Menemukan Makna Dalam Penderitaan, Maka Penderitaan Itu Tidak Lagi Menghancurkannya.”
Yoga Menutup Matanya Dan Menarik Napas Panjang. Ia Menyadari Kondisi Kehidupannya, Hidupnya Mungkin Belum Berubah, Utangnya Masih Ada Dan Kesulitannya Masih Nyata. Tapi Di Dalam Hatinya…Ada Sesuatu Yang Tetap Hidup….Itulah “Harapan.”
Epilog : Cahaya Dari Kegelapan
Beberapa Waktu Kemudian…Kota Industri Itu Masih Sama Seperti Sebelumnya. Asap Pabrik Dan Asap Kendaraan Masih Mengepul Setiap Hari. Kendaraan- Kendaraan Besar Masih Melintas Seperti Aliran Sungai Besi Yang Tidak Pernah Berhenti. Sirene Pabrik Masih Membangunkan Kota Sebelum Matahari Benar-Benar Naik. Akan Tetapi Bagi Sebagian Orang, Kota Itu Tidak Pernah Lagi Terasa Sama.
Di Salah Satu Lampu Merah Yang Masih Sering Dijaga Oleh Para Asn Lapangan Berseragam Pdl, Ada Sebuah Pos Kecil Sederhana, Bangunannya Tidak Mewah. Tapi Bersih. Di Dinding Pos Itu Tergantung Sebuah Bingkai Kayu Tua Yang Di Dalamnya Ada Sepotong Tulisan, Tulisan Bukan Suatu Peraturan Dan Bukan Pula Foto Pejabat.
Itu Hanya Sebuah Kalimat Yang Pernah Diucapkan Oleh Seorang Lelaki Bernama Yoga. Kalimat Yang Pernah Ia Katakan Kepada Bhumi Pada Suatu Malam.
“Kadang Tuhan Tidak Langsung Mengubah Hidup Kita…Tapi Dia Menguatkan Hati Kita Agar Tidak Hancur Oleh Hidup.”
Orang-Orang Mampir Ke Pos Dan Membaca Kalimat Itu Sering Tidak Tahu Siapa Yang Menulisnya. Namun Bagi Bhumi, Satria Perkasa, Kang Ibay, Cak Iip, Erdan, Bang Luky, Dan Aris…Kalimat Itu Bukan Sekadar Tulisan. Itu Meruapakan Kenangan Tentang Seorang Teman Yang Pernah Berjalan Bersama Mereka Di Jalanan Kota. Seorang Lelaki Yang Hidupnya Penuh Luka, Tapi Tidak Pernah Berhenti Berdoa.
Bhumi Yang Sering Duduk Sendirian Di Pos Pantau Itu. Ia Menatap Jalan Yang Dari Dulu Mereka Lalui Bersama. Kadang Ia Teringat Malam-Malam Panjang Ketika Mereka Berbagi Kopi Hitam Dan Keluh Kesah Hidup. Kadang Ia Teringat Tawa Kecil Yoga, Tawa Yang Selalu Terdengar Pelan…Seolah Ia Tidak Ingin Membebani Dunia Dengan Kesedihannya. Bhumi Pernah Berkata Suatu Malam Kepada Satria, “Orang Seperti Yoga Itu Jarang Mungkin Salah Satu Yang Sangat Sulit Di Temui.”
Satria Bertanya Pelan, “Kenapa Bhum?”
Bhumi Menjawab Sambil Menatap Lalu Lintas Kendaraan, “Karena Dia Tidak Pernah Melawan Hidup Dengan Kemarahan…Dia Melawannya Dengan Doa.”
Di Sebuah Perumahan Yang Sering Tampak Sunyi, Anak-Anak Yoga Semakin Bertumbuh Dan Penuh Canda Tawa. Mereka Mungkin Tidak Memiliki Masa Kecil Yang Mewah Dan Tidak Pernah Liburan Mahal. Tapi Mereka Memiliki Sesuatu Yang Lebih Dalam Dari Itu. Mereka Memiliki Kenangan Tentang Seorang Ayah Yang Tidak Pernah Berhenti Berjuang.
Seorang Ayah Yang Mungkin Kalah Dalam Banyak Hal Di Dunia…Tetapi Tidak Pernah Kalah Dalam Iman Dan Setiap Kali Mereka Mendengar Suara Azan…Mereka Selalu Mengingat Satu Doa Yang Sering Diucapkan Oleh Ayahnya Yaitu Doa Nabi Yunus Yang Sedang Berada Dalam Kegelapan.
“Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka Inni Kuntu Minadz-Zalimin.”
Doa Itu Kini Tidak Lagi Hanya Milik Yoga. Tapi Telah Menjadi Milik Semua Orang Yang Pernah Merasa Hidupnya Terlalu Berat. Karena Sesungguhnya…Hidup Tidak Selalu Memberi Kemenangan Yang Terlihat Oleh Dunia. Kadang Kemenangan Terbesar Manusia Hanya Terlihat Oleh Tuhan Dan Di Kota Industri Yang Keras Itu…Di Antara Debu Jalanan, Di Antara Seragam Pdl Yang Lusuh Dan Di Antara Kehidupan Yang Sering Terasa Tidak Adil, Hidup Seorang Lelaki Sederhana
Yang Membuktikan Bahwa, “Doa Yang Dipanjatkan Dari Kegelapan…Tidak Pernah Benar-Benar Hilang Di Langit. Ia Hanya Menunggu Waktu Untuk Berubah Menjadi Cahaya.”
=======Tamat======
Baca Juga :
Kisah Ke- 1 : Doa Dari Posko (Tarawih Di Tengah Ketidakadilan) Https://Sidikpost.Com/?P=129094
Kisah Ke – 2 : Teologi Lapar (Spiritualitas Di Bawah Standar Upah) Https://Sidikpost.Com/?P=129116//
Kisah Ke – 3 : Sujud Yang Diuji Ketidakadilan : Https://Sidikpost.Com/?P=129119
Kisah Ke – 4 : Puasa Di Antara Neraca Retak (Doa Di Tengah Timbangan Yang Patah) Https://Sidikpost.Com/?P=129149
Kisah Ke – 5 : Mengadu Pada Langit (Sujud Yang Menggugat Kebijakan) Https://Sidikpost.Com/?P=129224
Kisah Ke – 6 : La Tahzan, Wahai Jiwa (Tuhan, Aku Hampir Runtuh) Https://Sidikpost.Com/?P=129357
Ardhi Morsse, Selasa 17 Maret 2026







