PEMBUKA
“Organisasi tidak kehilangan arah karena kekurangan peta,
Tetapi karena terlalu banyak yang menjual kompasnya.”
Jalan Sunyi merupakan sebuah Cerita Fiksi dari kisah reflektif ideologis tentang kegelisahan seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di tengah usia organisasi yang telah mencapai 79 tahun Pada Tanggal 5 Februari 2026.
Melalui Sosok Haidar Dirga, pembaca diajak menyusuri pergulatan batin seorang kader HMI yang mencintai organisasinya, namun dilanda keprihatinan mendalam melihat kemunduran nilai, tumpulnya intelektualitas, serta menjauhnya HMI dari semangat awal pendiriannya.
HMI digambarkan sebagai organisasi besar yang kaya sejarah dan melahirkan banyak pemimpin bangsa, namun kini menghadapi krisis internal: kaderisasi yang kehilangan ruh, politik praktis yang menjerat kader muda, patronase senior yang mematikan kemandirian berpikir, serta budaya hedonisme yang menggerus etika perjuangan. Perjuangan direduksi menjadi transaksi, idealisme ditukar dengan akses, dan nilai-nilai Insan Cita terancam tinggal jargon.
Di tengah realitas tersebut, Haidar Dirga memilih jalan sunyi, jalan yang menolak kompromi, menolak tunduk pada materi dan menegaskan kembali keberanian moral sebagai inti perjuangan. Kisah ini bukan sekadar kritik, tetapi seruan sadar untuk kembali menempatkan Islam, keilmuan dan keindonesiaan sebagai fondasi praksis kader HMI.
Dengan bahasa sastra yang tajam dan refleksi filosofis–politik yang mendalam, Jalan Sunyi menjadi catatan perlawanan terhadap kemunduran, sekaligus manifesto keberanian bagi kader yang masih setia menjaga nilai di tengah godaan kenyamanan. Sebuah kisah tentang pilihan menjaga nurani atau kehilangan arah, serta kesunyian yang justru melahirkan makna dan tentang organisasi yang hanya akan hidup jika berani jujur pada dirinya sendiri.
KATA PENGANTAR
Tulisan ini lahir bukan dari kemarahan semata, melainkan dari kesedihan yang jujur. Kesedihan seorang kader yang mencintai organisasinya, tetapi gelisah melihat arah yang kian kabur. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kini di usianya yang ke 79 tahun berdiri di persimpangan sejarah, antara tetap setia pada nilai-nilai perjuangan atau larut dalam kenyamanan yang meninabobokan.
HMI bukan organisasi yang miskin gagasan. Sejarahnya penuh dengan pergulatan intelektual, pengorbanan, dan keberanian moral. Dari rahim HMI lahir tokoh-tokoh besar bangsa dengan segala perbedaan pandangan dan jalan hidup mereka, namun disatukan oleh satu kesamaan: proses panjang pembentukan karakter dan keberanian berpikir sebelum berkuasa.
Namun sejarah tidak pernah memberi jaminan keabadian, seperti yang di sampaikan Gustav Mahler bahwa, “Tradisi bukanlah memelihara abu, melainkan menjaga api.”
Kegelisahan dalam tulisan ini bukanlah upaya meruntuhkan HMI, melainkan usaha menyelamatkannya dari pengkhianatan yang halus: pengkhianatan terhadap nilai, yang sering kali dibungkus dengan dalih realitas, pragmatisme, dan kebutuhan zaman.
Hari ini, tantangan terbesar HMI bukan datang dari luar, melainkan dari dalam, ketika nilai ditukar dengan akses, perjuangan direduksi menjadi transaksi dan kader lebih sibuk mengamankan masa depan pribadi ketimbang memperjuangkan masa depan umat dan bangsa. Kenyataan pahit tersebut Senanda dengan ugkapan Hannah Arendt, “Yang paling berbahaya bukanlah kebohongan, Melainkan ketika kebenaran tidak lagi dianggap penting.”
Jalan sunyi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah jalan yang selalu dipilih oleh minoritas yaitu mereka yang menolak tunduk, menolak diam dan menolak menjual nurani. Jalan yang tidak menjanjikan kenyamanan, tetapi menjaga martabat. Jalan yang tidak selalu ramai, tetapi selalu jujur. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan Frantz Fanon yang menyampaikan bahwa, “Setiap generasi memiliki misinya sendiri, Menunaikannya atau mengkhianatinya.”
Tulisan ini juga menjadi pengingat bahwa HMI tidak pernah didirikan untuk melahirkan kader yang sekadar pandai bertahan hidup, melainkan kader yang sanggup mempertaruhkan hidupnya demi nilai. Bahwa Islam, keilmuan dan keindonesiaan bukan ornamen organisasi, melainkan fondasi etik dan praksis perjuangan, sebagaimana mana ungkapan Paulo Freire bahwa, “Ilmu yang tidak membebaskan hanyalah alat penindasan yang halus.”
Jika tulisan ini terasa keras, itu karena realitas memang tidak lembut. Jika terasa menggugat, itu karena organisasi besar hanya bisa bertahan dengan kritik dari dalam, bukan pujian yang memabukkan. Karena menurut Bertrand Russell, “Keberanian moral lebih langka daripada kecerdasan.”
Akhirnya, tulisan ini tidak menawarkan jawaban instan. Ia hanya mengajak pembaca, terutama kader HMI untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya dengan jujur:
“Apakah kita masih menjaga nilai, Atau justru sedang tersesat sambil merasa benar?”
Jika masih ada kader yang memilih jalan sunyi, Menolak tunduk pada hedonisme, Menolak menjual idealisme, Dan berani hidup sederhana demi martabat perjuangan, Maka HMI belum kehilangan arah, Karena sejarah tidak diselamatkan oleh mereka yang paling ramai, Melainkan oleh mereka yang paling setia pada nilai.
PERJUANGAN NILAI DAN KEMUNDURAN
Malam itu hujan jatuh pelan di halaman sekretariat. Spanduk Dies Natalis ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam baru tergantung, warnanya cerah tapi gambarnya pudar, seperti semangat yang terlalu lama dibiarkan tanpa dipertanyakan. Di bawah lampu temaram, Haidar Dirga duduk sendiri, memandangi dinding penuh foto-foto hitam putih para senior yang dahulu pernah menggetarkan mimbar-mimbar sejarah.
Ia menarik napas panjang….HMI bukan organisasi kecil. Ia lahir dari kegelisahan zaman, dari seorang Lafran Pane yang percaya bahwa iman tanpa ilmu akan lumpuh dan ilmu tanpa iman akan buta, namun malam ini, Haidar merasa seperti sedang berdiri di hadapan rumah tua yang megah, penuh kenangan, tapi retak di banyak sisi. Seorang sejarawan sekaligus Filsuf Jerman, Hannah Arendt pernah menyampaikan tentang nilai sejarah, seharusnya, “Sejarah bukan untuk disembah, tapi untuk dipertanggungjawabkan.”Ia bergabung dengan HMI bukan karena atribut organisasi, kartu anggota, apalagi jabatan. Ia datang karena gagasan dan semangat Intelektual, Karena NDP yang dahulu ia baca dengan mata menyala, tentang Insan Cita, tanggung jawab intelektual, serta keberpihakan pada umat dan bangsa, Namun semakin lama ia berproses, semakin ia merasakan sesuatu yang hilang.
Ruang-ruang diskusi sunyi, Forum-forum kaderisasi terasa rutin tanpa ruh dan mimbar perjuangan mulai dipenuhi kalkulasi angka materi, bukan gagasan berkualitas tinggi.
Ia melihat kader-kader muda yang cerdas, tetapi tergesa-gesa, mereka melompat ke politik praktis sebelum matang secara ideologis. Merasa bangga menjadi pion kepentingan senior, sebelum menjadi subjek pemikiran sendiri. Seorang Filosof skaligus sejarawan Perancis Michel Foucault telah gamblang memberikan sebuah nasihat sekaligus peringatan bahwa, “Kekuasaan tanpa kesadaran hanya melahirkan tirani kecil.
Haidar tidak pernah membenci para senior di organisasi atau Himpunan tercintanya. Ia justru sedih, karena dari rahim organisasi inilah dahulu lahir tokoh-tokoh besar seperti Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, Artidjo Alkostar, Anies R Baswedan, hingga Kang Dedi Mulyadi. Mereka semua berbeda jalan, berbeda sikap politik, tetapi satu hal menyatukan mereka: kedewasaan berpikir sebelum berkuasa. Kini, di usia ke-79 tahun, HMI seperti lupa pada proses panjang itu. Seorang Filusuf sekaligus deputi kerjaan Italia, Antonio Gramsci telah lama memperingatkan melalui tulisannya bahwa, “Bangsa dan organisasi hancur bukan karena musuh yang kuat, tetapi karena kader yang kehilangan makna.”
Saat ini Ia menyadari, kemunduran ini bukan soal zaman semata, karena Digitalisasi hanyalah alat dan Yang hilang dalam diri kader adalah kesungguhan serta kualitas intelektual dan keberanian bersikap. Insan Akademis direduksi menjadi pemburu IPK dan sertifikat. Insan Pengabdi berubah menjadi relawan musiman yang gemar dipotret dan Insan Cita yang seharusnya menjadi ruh malah menjadi jargon tanpa darah.
Ia teringat satu kalimat Nietzsche yang selalu mengganggunya, “Barang siapa tahu mengapa ia hidup, ia akan sanggup menghadapi hampir semua bagaimana.” Masalah HMI hari ini bukan kurang pintar, tetapi kehilangan ‘mengapa’.
Malam semakin larut. Hujan pun telah berhenti. Haidar berdiri, menatap bendera hijau hitam yang berkibar lelah. Ia tidak ingin meninggalkan HMI. Ia hanya ingin membangunkan serta menyadarkannya, meski dengan suara kecil serta jalan sunyi. Karena seorang Filsuf sekaligus mantan Anggota Parlemen Britania Raya, John Stuart Mill pernah mengatakan, “Perubahan besar selalu dimulai dari minoritas yang berpikir jernih.” Baginya, kritik bukan pengkhianatan, karena Diam justru bentuk pengkhianatan paling halus.
Haidar percaya, HMI masih bisa bangkit jika berani kembali ke akar diantar:
Pertama, Menjadikan kaderisasi sebagai ruang dialektika, bukan formalitas.
Kedua, Mengembalikan politik sebagai alat pengabdian, bukan tujuan instan.
Ketiga, Mendidik kader untuk mandiri secara berpikir, bukan loyal secara membuta dan Ali Syariati pernah menyampaikan bahwa, “Ilmu tanpa keberanian hanya melahirkan intelektual penakut.”
Kamis, 5 Februari 2026, Kini Di usia 79 tahun, HMI tidak membutuhkan pujian. Ia membutuhkan kejujuran. Ia tidak butuh nostalgia, tapi keberanian memperbaiki diri dan Haidar Dirga, dengan segala kesedihannya, memilih tetap tinggal.
Karena ia yakin, Organisasi besar tidak mati karena dikritik, tetapi karena berhenti melahirkan kader yang berani berpikir berkualitas intelektual, bernafaskan Islam dan bertanggung jawab. Di bawah langit yang mulai cerah, ia berbisik pelan, “HMI harus kembali menjadi tempat lahirnya pemimpin yang berpikir, bukan sekadar pengelola peluang.”
WARISAN KUALITAS PERJUANGAN DI ANTARA PERUBAHAN ZAMAN
Haidar Dirga semakin sering merasa asing di rumahnya sendiri, di banyak komisariat, cabang, bahkan hingga Badko dan Pengurus Besar, ia melihat pola yang sama berulang, seperti rapat-rapat yang ramai, jargon-jargon yang lantang, tetapi arah perjuangan yang kabur. Forum ideologis berubah menjadi arena kalkulasi. Diskusi kader tidak lagi menyoal umat dan bangsa, melainkan siapa dekat dengan siapa dan siapa dapat apa.
Ia menyaksikan kader-kader muda yang aktif, cerdas, dan vokal, namun terjebak pada satu keyakinan berbahaya, Bahwa perjuangan tanpa hasil materi adalah kegagalan, Filsuf Slovenia Slavoj Žižek telah lama menyampaikan, “Ketika nilai ditakar dengan amplop, maka idealisme hanya akan menjadi hiasan pidato.”
Haidar tidak memusuhi politik. Ia memahami betul bahwa politik merupakan medan perjuangan, Tetapi yang ia saksikan bukan politik sebagai pengabdian, melainkan politik sebagai transaksi.
Senior-senior tertentu hadir bukan sebagai pendidik, melainkan patron, Mereka menyuapi kader dengan harapan instan, menukar loyalitas dengan fasilitas Dan kader-kader muda, yang belum selesai dengan dirinya sendiri, menerima itu sebagai “kenyataan hidup”. Padahal Soedjatmoko seorang Intelektual sekaligus diplomat Indonesia, telah memperingat bahwa, “Orang muda yang terlalu cepat puas akan kekuasaan, biasanya belum selesai dengan pengetahuan.”
Kemunduran nilai kader HMI saat jni lebih menyedihkan, mulai dari mundurnya nilai Akademis yang tercermin dari kehilangan kualitas intelektual kader, kemudian pudarnya Nafas Keislaman yang terlihat dari hilangnya kajian serta kedalamannya dan yang tertinggal hanya simbol bersama slogannya, Terakhir Lunturnya Nilai Keindonesiaan, tergambar dari Sikap kader yang kehilangan keberpihakan dan hanya tertinggal retorika kebangsaan tanpa praksis sosial.
Suatu Hari atas arahan ketua cabang di grup WhatsApp, kader-kader HMI harus turun ke jalan. Ketua cabang menyampaikan bahwa dia telah mendapatkan Ide tersebut hasil kajian bersama Senior-senior.
Hati dan pikiran Haidar bertanya-tanya, “Kok ketua Cabang memberikan arahan aksi dari hasil Kajian bersama Senior-senior yang saat ini sudah nyaman dengan posisi dan Jabatannya, kenapa nggak kajian bersama para kader-kader dan anggota yang aktif?”, pertanyaan itu iya simpan, karena jika di ungkapan di anggap pemberontak sekaligus pengkhianat organisasi.
Dengan penuh pertanyaan, Haidar pun tetap mengikuti Demonstrasi turun ke jalan bersama kader HMI lainnya meneriakkan perlawanan akan ketidakadilan, Penindasan struktural dan melawan kesewenang-wenangan. Mereka membakar ban, merobohkan pagar kantor pemerintahan daerah serta membagi-bagikan surat pernyataan sikap hingga akhirnya aksi bentrok dan dibubarkan aparat keamanan.
Setelah aksi, mereka pun kembali ke sekretariat dan mengobati rekan-rekannya yang terluka, tapi ketua cabang menyampaikan bahwa aksi berhasil dengan sukses dan sudah viral beritanya di media sosial. Haidar makin bertanya-tanya, “apa tolak ukur kesuksesan aksi jika tuntutan tidak di tindak lanjuti dan hanya bentrokan dengan aparat hingga rekan-rekan seperjuangannya banyak yang terluka?,”
Dan pada akhirnya, Pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam hati Haidar perlahan mulai terjawab, pada malam hari setalah Demonstrasi berakhir ricuh hingga bentrokan. Ia melihat ketua cabang bersama sebagian kader-kader Seperjuangannya duduk di bar dengan Banyak Botol dan bergelas-gelas minuman beralkohol beradu, di ramaikan tawa mengeras serta Amplop-amplop berpindah tangan.
Ia pun langsung pulang dengan dada sesak Dan dalam perjalanan pulang ia mengingat sebuah kutipan buku yang pernah ia baca, Psikiater Prancis Frantz Fanon mengatakan, “Revolusi yang berhenti di panggung hiburan adalah pengkhianatan terhadap penderitaan rakyat.”
Demo menjadi ritual, Perlawanan menjadi agenda Dan penderitaan rakyat hanya menjadi latar belakang foto. Di tengah budaya hedonisme yang merayap, kader HMI perlahan kehilangan daya juang sosial. Mereka sibuk membangun citra, tetapi gagap membangun basis. Aktif di media sosial, tetapi absen di tengah masyarakat dan Pandai berbicara tentang umat, tetapi asing dengan realitas umat itu sendiri.
Haidar sadar, ini bukan salah individu semata, Ini sebuah krisis sistemik. Avram Noam Chomsky, seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts dalam salah satu ulasan karyanya menyampaikan, “Sistem yang rusak akan memaksa orang baik berbuat salah.”Ia tahu, jika kondisi ini dibiarkan, HMI bukan hanya kehilangan kualitas kader, tetapi kehilangan legitimasi sejarahnya sendiri. Organisasi yang dulu melahirkan pemimpin bangsa, berisiko menjadi pabrik kader pragmatis yang lihai membaca peluang, tapi gagap membaca penderitaan.
Malam itu, Haidar berdiri di depan forum kecil kader-kader muda. Ia tidak membawa ancaman, apalagi janji. Ia hanya membawa kejujuran dan berkata pelan, tapi menghujam, “HMI tidak pernah menjanjikan kalian kekayaan, HMI hanya menjanjikan jalan sunyi bernama tanggung jawab.”
Ia mengingatkan kembali semangat awal berdirinya HMI, bahwa organisasi ini lahir bukan untuk memanjakan kader, tetapi menempa mereka. Bukan untuk memberi kenyamanan, tetapi ketangguhan moral dan intelektual. Ali Syariati Sosiolog dan revolusioner Iran mengatakan, “Perjuangan sejati selalu menuntut pengorbanan sebelum ia memberi apa pun.”Bagi Haidar, pembenahan HMI harus dimulai dari hal paling mendasar: mengembalikan perkaderan sebagai ruang pembentukan manusia, bukan sekadar mesin produksi aktivis instan.
HMI harus berani dan memulai dengan, Membersihkan kaderisasi dari patronase politik, Menghidupkan kembali diskusi ideologis yang jujur dan keras. Menegakkan etika perjuangan yang menolak hedonisme dan transaksi.
“Organisasi akan besar bukan karena dekat dengan kekuasaan, Tetapi karena berani menjaga jarak darinya.” Haidar tahu, jalan ini tidak populer. Ia tahu, ia mungkin disingkirkan, dicibir, atau dilabeli “tidak realistis”. Namun ia percaya satu hal:
HMI hanya akan kembali besar Jika kadernya berani miskin secara materi, Tetapi kaya secara makna dan keberpihakan Dan di usia 79 tahun ini, HMI dihadapkan pada pilihan sejarah:
Terus hanyut sebagai organisasi besar yang kehilangan ruh Atau kembali menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin berkarakter.
Haidar Dirga memilih percaya Bahwa masih ada kader yang berani menolak amplop, Berani memilih jalan sunyi dan berani setia pada nilai.
Karena bagi mereka, Perjuangan bukan soal apa yang didapat hari ini, Tetapi apa yang diselamatkan untuk masa depan bangsa.
BERSYUKUR DAN IKHLAS.
BAHAGIA HMI,
SELAMAT DIES NATALIS KE-79 TAHUN.
YAKIN USAHASAMPAI…!!!
======= TAMAT======
MANIFESTO JALAN SUNYI
(Antara Menjaga Nilai dan Kehilangan Arah)
Manifesto ini lahir dari satu kesadaran pahit:
HMI sedang berada di ambang kehilangan dirinya sendiri. Kemunduran bukan lagi kemungkinan, ia telah menjadi gejala nyata. Bukan karena HMI kekurangan kader, Melainkan karena terlalu banyak kader yang kehilangan keberanian moral.
Kami menyatakan dengan tegas: Ini bukan sekadar krisis organisasi, ini krisis nilai.
- PENOLAKAN TOTAL TERHADAP KEPALSUAN PERJUANGAN
- Kami menolak perjuangan yang diukur dengan amplop.
- Kami menolak kaderisasi yang hanya melahirkan loyalitas buta.
- Kami menolak politik yang memiskinkan nurani dan memanjakan oportunisme.
Perjuangan yang tunduk pada materi, Bukanlah perjuangan ia adalah transaksi.
Jika berjuang harus menunggu bayaran, Maka lebih jujur menyebutnya pekerjaan, bukan pengabdian.
- PERLAWANAN TERHADAP HEDONISME DAN PATRONASE
Kami menyatakan perang terhadap budaya hedonisme yang merusak disiplin intelektual, spiritual, dan sosial kader.
Kami menolak:
Pesta setelah demonstrasi dengan Pesta mabuk, bare dan bagi amplop setelah mimbar perlawanan, Serta hubungan patron–klien yang mematikan kemandirian berpikir.
Tidak ada revolusi yang lahir Dari perut kenyang dan nurani mabuk. Senior yang menjinakkan kader demi kepentingan politik Bukan pendidik, Ia penjaga status quo.
- KEBANGKITAN INSAN CITA SEBAGAI SUBJEK, BUKAN ALAT
Kami menuntut dikembalikannya makna Insan Cita, Insan Akademis yang berpikir kritis, bukan sekadar lulus cepat, Insan Pengabdi yang hidup di tengah rakyat, bukan di ruang elite.
Insan Cendekia yang berani melawan arus, bukan berenang demi aman.
Kader HMI bukan alat kekuasaan, Melainkan subjek sejarah. Jika HMI hanya melahirkan kader yang patuh, Maka HMI sedang menyiapkan generasi penurut, Bukan pemimpin.
- JALAN SUNYI SEBAGAI PILIHAN IDEOLOGIS
Kami sadar, jalan ini tidak ramai.
Tidak menjanjikan jabatan,
Tidak menjanjikan fasilitas,
Tidak menjanjikan keamanan,
Namun kami memilihnya, Lebih baik sendirian menjaga Nilai Dasar Perjuangan, Daripada ramai-ramai kehilangan arah.
Kami lebin baik memilih miskin secara materi Daripada kaya dengan kehinaan sejarah.
Kami lebih baik memilih dikucilkan Daripada diterima dengan syarat mengkhianati prinsip.
- SERUAN TERBUKA KEPADA KADER HMI
Wahai kader HMI Sehimpun Secita di seluruh Nusantara dari komisariat, cabang, badko, hingga pusat:
Berhentilah meminta izin untuk berpikir,
Berhentilah menunggu restu untuk bersikap,
Berhentilah menjadikan senior sebagai tuhan kecil.
HMI tidak butuh kader yang pandai menyesuaikan diri, HMI butuh kader yang berani menolak:
Menolak tunduk,
Menolak diam,
Menolak menjual Nilai Dasar Perjuangan HMI.
- PENUTUP: SEJARAH ATAU KENYAMANAN
Di usia yang ke-79 ini, HMI hanya punya dua pilihan, Menjadi organisasi besar yang mati perlahan Atau organisasi sadar yang hidup dalam perlawanan.
Manifesto ini bukan akhir, Melainkan garis pemisah. Siapa pun yang masih percaya bahwa:
Nilai Dasar Perjuangan lebih penting dari akses,
Integritas lebih mahal dari jabatan,
Dan keberanian lebih mulia dari kenyamanan, Maka jalan sunyi ini adalah rumahmu.
Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang aman Tetapi oleh mereka yang berani mengambil risiko demi kebenaran.
Kami tidak menjanjikan kemenangan cepat.
Kami hanya menjanjikan satu hal:
Jika HMI kembali pada AD-ART dan NILAI DASAR PERJUANGAN, Maka ia akan kembali bermakna dan jika itu harus dimulai dari segelintir kader yang keras kepala menjaga nurani, Maka biarlah sejarah mencatat: Di saat banyak memilih tunduk, Masih ada yang memilih melawan.
ARDHI MORSSE, KAMIS 5 FEBRUARI 2026









