Cerita Fiksi ; Harga Sebuah Berita (Catatan Seorang Jurnalis Tanpa Tuan)

SEBUAH PENGANTAR

Ada banyak cara untuk mengukur harga sebuah berita. Sebagian orang mengukurnya dengan angka oplah, jumlah klik atau kontrak iklan. Sebagian lagi mengukurnya dengan kedekatan pada kekuasaan, hanya bagi sebagian kecil jurnalis, harga sebuah berita justru diukur dari apa yang harus mereka korbankan untuk menulisnya.

Advertisements

Kisah ini lahir dari kegelisahan dan dari pertanyaan sederhana: apakah pers masih berdiri di pihak kebenaran, atau sudah terlalu nyaman di pangkuan kekuasaan dan pasar?

Di negeri yang penuh seremoni, pers sering dirayakan dengan pidato, penghargaan, dan baliho ucapan selamat. Tapi di balik semua itu, masih ada jurnalis yang bekerja dalam sunyi. Ia dikejar ancaman, dirayu amplop, dan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak pernah mudah.

Jodhi Kusuma merupakan sosok anggota pers yang mengambarkan dari kegelisahan itu. Ia bukan tokoh sempurna, bukan pula pahlawan tanpa cela. Ia hanyalah seorang jurnalis yang pernah berdiri di jalanan sebagai aktivis, lalu memilih melanjutkan perjuangan melalui tulisan. Ia hidup di antara dua dunia: idealisme masa muda dan kenyataan keras ruang redaksi.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang korupsi atau skandal pemerintahan. Ia merupakan cerita tentang pertarungan batin dan seorang manusia yang harus memilih antara kenyamanan hidup atau kejujuran hati, serta Tentang bagaimana sebuah berita bisa memiliki harga dan bagaimana nurani sering menjadi satu-satunya mata uang yang tersisa.

Dalam setiap halaman, pembaca akan menemukan bahwa ancaman tidak selalu datang dengan kekerasan, dan godaan tidak selalu datang dengan wajah yang menyeramkan. Terkadang, ia datang dalam bentuk senyum ramah, tawaran kerja sama, atau janji masa depan yang lebih tenang.

Kisah ini menjadi refleksi bahwa perjuangan pers tidak pernah benar-benar usai. Sensor mungkin telah berubah bentuk, tetapi godaan tetap sama: kekuasaan, uang, dan keamanan.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa pers yang merdeka tidak lahir dari ruang redaksi yang nyaman, melainkan dari jurnalis yang berani menolak menjadi pelayan siapa pun, selain kebenaran.

Sebab pada akhirnya, harga sebuah berita bukan ditentukan oleh berapa besar uang yang ditawarkan, tetapi oleh seberapa besar keberanian untuk tetap menuliskannya.

 

SKANDAL BESAR

“Pers yang hidup dari amplop, akan mati bersama kebenaran dan Jurnalis sejati tidak mencari aman, ia mencari fakta.

Kota itu tampak tenang dari kejauhan dan gedung-gedung pemerintahan berdiri rapi, taman kota hijau, baliho ucapan selamat Hari Pers Nasional bertebaran di persimpangan jalan, serta Senyum pejabat terpampang besar, seolah ingin meyakinkan rakyat bahwa semuanya baik-baik saja.

Berbeda bagi Jodhi Kusuma, ketenangan itu terasa seperti cat tembok yang menutupi retakan. Ia bukan jurnalis yang lahir dari ruang redaksi yang dingin. Ia lahir dari jalanan, dari teriakan demonstrasi, dari selebaran yang dibagikan di bawah hujan, dari rapat-rapat mahasiswa yang penuh kopi murahan dan mimpi perubahan.

Dahulu, ia dikenal sebagai aktivis demonstran dari organisasi eksternal mahasiswa yang keras kepala. Ia pernah dipukul aparat, ditahan semalam dan dikeluarkan dari organisasi karena dianggap terlalu radikal, tapi satu hal yang tak pernah berubah, keyakinannya bahwa kebenaran harus diperjuangkan, bukan dinegosiasikan.

Ketika lulus, banyak teman-temannya memilih menjadi Anggota partai, konsultan politik, atau staf alhli wakil rakyat. Jodhi memilih jalan yang lebih sepi, menjadi jurnalis.

“Kalau dulu aku teriak di jalan, sekarang aku berteriak lewat tulisan,” katanya suatu malam kepada editor seniornya.

Editor itu hanya tersenyum, “Semoga kau tak kehabisan suara.”

Mereka sedang memulai mengkaji Skandal yang bisa Mengguncang, karen skandal itu bermula dari satu pesan singkat.

Baca Juga   DI TERAS WAKTU: SURYA TERAKHIR MAJAPAHIT

“Bang, coba cek proyek drainase di Kecamatan Timur. Anggarannya 80 miliar, tapi selokannya dangkal dan retak semua.”

Jodhi mengangkat alis. Ia sudah lama mencium bau busuk dari proyek-proyek di kota madya itu, Tapi tak pernah ada bukti yang cukup kuat.

 

TULISAN, ANCAMAN DAN RAYUAN

 

“Ketika berita dijual, rakyat yang membayar harganya, namun Tinta yang jujur lebih tajam dari pedang kekuasaan dan Pers bukan penjaga stabilitas, melainkan penjaga kejujuran. Jika jurnalis takut, maka koruptor akan merasa aman.”

 

Keesokan harinya Ia mulai turun ke lapangan, mencoba menggali informasi dengan Mengobrol dengan tukang bangunan, warga dan pegawai kontraktor. Ia memotret retakan, mencatat angka dan membandingkan dokumen anggaran.

Semakin ia menyelam, semakin keruh airnya. Semakin ia mendapatkan banyak informasi semakin terlihat jelas sebuah sekandal besar sedang berjalan dan terus di tutupi, mulai dari Anggaran fiktif, Tender yang dimenangkan perusahaan milik kerabat pejabat hingga Proyek yang nilainya dinaikkan dua kali lipat. Semua berujung pada satu nama: Wali Kota yang baru saja mendapat penghargaan sebagai pemimpin berintegritas. Jodhi tahu, ini bukan sekadar berita. Ini merupakan bom waktu serta Ancaman yang akan datang secara diam-diam.

Suatu malam, saat ia pulang ke kosnya, ia melihat dua pria duduk di depan pintu.

“Mas Jodhi?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya.” Balasnya tenang.

Lalu mereka medekat dan bekata dengan penuh penekanan, “Kami Cuma mau pesan, Jangan terlalu jauh mencampuri dan mainnya di kota madya ini, Semua orang saling kenal.”

Lalu Mereka tersenyum, tapi senyum itu dingin. Selanjutnya, mereka pergi meninggalkan jodhi yang masih berdiri di depan pintu kontrakan,.

Malam itu, Jodhi tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang retak, seperti proyek drainase yang ia liput.

Di kepalanya terngiang kutipan dari George Orwell,

“Journalism is printing what someone else does not want printed. Everything else is public relations.” (Jurnalisme adalah mencetak sesuatu yang orang lain tak ingin itu dicetak. Selain itu hanyalah hubungan masyarakat.)

Ia menarik napas panjang, “Kalau semua orang takut, siapa yang menulis?” gumamnya.

Hari-hari terus berlalu, Jodhi terus menghimpun informasi dari berbagai sumber agar apa yang Ia tulis lebih akurat dan bisa di pertanggungjawabkan.

Beberapa hari kemudian, ia dipanggil ke sebuah restoran mewah. Di restoran tersebut telah duduk menunggu Seorang pria berjas rapi menyambutnya, “Mas Jodhi, kami dengar Anda sedang menelusuri proyek drainase.”

Jodhi hanya diam. Ia menatap laki-laki itu dengan tersenyum dan mencoba ramah, jodhipun dudu dengan tenang dan santai.

Pria itu membuka tas, lalu menyodorkan sebuah amplop tebal, “Anggap saja ini dukungan. Kami ingin media tetap bersahabat dengan pemerintah.”

Jodhi menatap amplop tebal itu tanpa menyentuhnya.

“Berapa?” tanyanya Jodhi dengan suara datar.

Pria itu menatap jodhi dengan tersenyum, “Cukup untuk beli rumah kecil. Atau mobil baru. Atau… masa depan yang lebih tenang.”

Jodhi pun tetap acuh lalu tertawa kecil…

“Bapak yang terhormat, saya dulu aktivis mahasiswa dan dari dulu Saya sudah kenyang ditawari masa depan.”

Ia berdiri, meninggalkan amplop itu di atas meja, ketika sampai di pintu restoran, ia teringat kutipan Joseph Pulitzer, “Our republic and its press will rise or fall together.” (Republik ini dan persnya akan bangkit atau jatuh bersama.)

Lalu pulang dan meninggalkan restoran itu dengan berjalan santai menuju kantor media tempat ia bekerja dan ingin mulai menyusun informasi tambahan dari hasil liputannya di lapangan.

Baca Juga   Cerpen fiksi sosial : idealisme yang ditukar, gerakan yang diperdagangkan

Ketika sampai kantor media dan Ia baru duduk di ruang redaksi, tiba-tiba editornya memanggil, “Jodhi, berita ini terlalu besar. Kita harus hati-hati. Iklan dari pemerintah daerah menyumbang hampir separuh pendapatan kita.”

Jodhi terdiam, tenang lalu menatap editornya dengan tatapan tajam dan berkata, “Jadi… kita diam saja melihat sekandal yang besar ini”

Agak sedikit gugup editornya menjawah, “Bukan diam jod. Tapi mungkin kita lunakkan beritanya dan Jangan sebut namanya langsung.”

Jodhi diam, dadanya terasa sesak. Ia menghela napas berat dan merasa seperti ditampar.

Lau diam dan meninggalkan ruangan editornya dengan perasaan kecewa. Ia kembali duduk di meja kerjanya dam menatap layar komputer. Tulisannya berkedip. Seolah menunggu keputusan.

Di kepalanya terngiang kata-kata Ida B. Wells, jurnalis pejuang anti-rasisme, “The way to right wrongs is to turn the light of truth upon them.” (Cara meluruskan kesalahan adalah dengan menyorotinya dengan cahaya kebenaran.)

Ia tahu, cahaya itu tidak bisa diredupkan hanya karena takut.

Hari-hari terus berlalu dengan cepat yang membuat jodhi semakin larut dalam ketegangan baik di luar maupun di dalam kantor redaksinya.

 

HARI PERS NASIONAL DAN SKANDAL DRAINASE KOTA MADYA

 

“Tinta jurnalis bukan sekadar huruf, melainkan saksi sejarah dan penjaga nurani bangsa. Pers bukan musuh kekuasaan, tetapi cermin yang jujur bagi mereka yang memegangnya. Ketika fakta dipelintir, pers yang berani adalah benteng terakhir kebenaran.”

 

Hari itu, Tepat Pada Tanggal 9 Februari. Kota madya dipenuhi ucapan selamat Hari Pers Nasional. Berbagai Acara seremonial digelar di balai kota dan Wali kota berpidato tentang pentingnya pers yang “konstruktif dan mendukung pembangunan.”

Di ruang redaksi yang sempit, Jodhi menekan tombol kirim. Berita investigasinya terbit,

“80 Miliar yang Menguap: Skandal Drainase Kota Madya.”

Nama-nama pejabat daerah disebut, Dokumen dilampirkan dan Fakta ditampilkan tanpa hiasan.

Telepon redaksi berdering tanpa henti, Ada yang memuji, juga tidak sedikit yang mengancam.

Sang Editor mendekatinya, “Kau tahu ini bisa membuat kita kehilangan iklan?”

Jodhi menatapnya tenang lalu mengangguk.

“Dan mungkin kau kehilangan pekerjaan?” lanjut sang editor.

Jodhi tersenyum tipis, lalu berkata, “Dulu saya kehilangan masa muda di jalanan dan Mungkin ini Cuma bab berikutnya.”

Setalah perdebatannya dengan sang Editor, Ia pun keluar ruangan kerjanya, hari sudah semakin larut.

Malam itu, Jodhi duduk sendirian di warung kopi dan suasana Kota terasa lebih sunyi dari biasanya.

Seorang tukang becak yang membaca koran datang menghampirinya, “Mas, ini berita bagus. Akhirnya ada yang berani nulis.”

Jodhi hanya tersenyum. Di dalam hati, ia tahu perjuangan belum selesai dan Mungkin besok ia akan dipanggil polisi atau Mungkin medianya akan ditekan, serta hidupnya akan lebih sulit. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tenang.

Ia teringat kutipan Ryszard Kapuściński, jurnalis legendaris, “To be a good journalist, you have to be a good person.” (Untuk menjadi jurnalis yang baik, kau harus menjadi manusia yang baik.)

Pers bukan sekadar profesi. Ia adalah pilihan moral dan Setiap berita adalah keputusan: berdiri di pihak kebenaran atau di pihak kenyamanan.

Di negeri mana pun, pers selalu berada di antara dua godaan: kekuasaan dan pasar. Keduanya menawarkan hal yang sama yaitu, uang dan keamanan. Tapi harga yang diminta juga sama: kebenaran.

Baca Juga   Kearifan Lokal Rumah Adat Betawi Di Utan Jati Kalideres

Hari Pers Nasional bukan hanya hari untuk memberi ucapan selamat. Ia merupakan hari untuk bertanya,

Apakah pers masih berani menggigit Atau sudah terlalu sibuk menjilat?

Demokrasi bukan mati karena kritik, tapi karena pers yang berhenti bertanya. Jika pena jurnalis dipatahkan, maka kebenaran akan berjalan pincang. Kebebasan pers bukan hadiah dari penguasa, melainkan hak yang diperjuangkan rakyat. Pers yang kritis bukan ancaman negara, melainkan tanda negara masih sehat dan Setiap berita yang jujur adalah langkah kecil menuju masyarakat yang adil.

Jurnalisme bukan sekadar profesi, tetapi panggilan untuk menjaga akal sehat publik. Di tengah bising propaganda, pers yang jujur adalah suara yang paling dibutuhkan rakyat.

Di ujung malam, Jodhi menutup korannya, di halaman depan, namanya tercetak kecil di bawah judul besar.

Ia tersenyum…Bukan karena bangga, tapi karena ia tahu, setidaknya hari itu, tintanya belum bisa dibeli.

 

PENUTUP: TINTA YANG MASIH MENYALA

 

Kebenaran tidak pernah lahir dari ruang redaksi yang tunduk pada pesanan, tetapi dari keberanian menulis apa yang tidak ingin dibaca penguasa dan Pers bukan alat stabilitas, tetapi alat kesadaran; tanpa kesadaran, stabilitas hanya ilusi yang menindas. Jurnalisme sejati tidak mengabdi pada jabatan, melainkan pada kenyataan. Kritik bukan ancaman bagi negara, melainkan napas bagi bangsa yang ingin hidup jujur.

 

Beberapa minggu setelah berita skandal besar itu terbit, kota madya itu tidak lagi setenang sebelumnya. Ruang sidang dipenuhi wartawan, demonstrasi kecil bermunculan di depan balai kota, dan nama-nama pejabat yang dulu kebal kini mulai dipanggil oleh Lembaga hukum.

Tidak semua berjalan mudah, media tempat Jodhi bekerja kehilangan beberapa kontrak iklan. Ia sendiri dipanggil polisi untuk dimintai keterangan. Telepon misterius masih sesekali datang, meski tidak lagi sekeras sebelumnya.

Namun ada sesuatu yang berubah, di warung kopi, orang-orang mulai membicarakan anggaran dan proyek, bukan hanya gosip artis atau harga beras. Di kampus-kampus, mahasiswa mengutip beritanya dalam diskusi. Di pasar, tukang sayur berkata, “Ternyata uang kita benar-benar hilang, ya.”

Jodhi sadar, mungkin tulisannya tidak akan langsung mengubah dunia, Tapi setidaknya, ia telah membuka jendela kecil di dinding yang selama ini tertutup rapat.

Suatu hari, ia kembali duduk di meja kayu kosnya. Dengan sebungkus rokok dan Secangkir kopi panas di depannya, layar laptop menunggu. Sang Editor mengirim pesan singkat, “Ada kasus baru. Proyek rumah sakit. Mau ambil?”

Jodhi tersenyum tipis, Jari-jarinya kembali menyentuh keyboard. Ia tahu, jalan ini tak pernah benar-benar aman apalagi benar-benar nyaman. Tapi justru di situlah arti perjuangan.

Ia teringat kalimat yang pernah ia tulis di buku catatan kecilnya, “Jika kebenaran harus berteriak sendirian, biarlah aku yang meminjamkan suaraku.”

Suasana kota di malam hari masih berisik oleh lampu dan lalu lintas dan Di dalam kamar sempit itu, hanya ada satu hal yang tetap menyala, Tinta yang menolak dibeli dan Pena yang tak punya tuan serta seorang jurnalis yang memilih tetap berdiri, meski sendirian.

 

=====TAMAT ====

 

ARDHI MORSSE, SENIN 9 FEBRUARI 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *