PENGANTAR
Burhanudin adalah lelaki paruh baya dengan karier mapan dan nama baik yang terawat puluhan tahun.
Tiga tahun menjelang pensiun, ia seharusnya berdiri di garis akhir dengan tenang, menunggu masa tua yang layak setelah hidup penuh disiplin dan pengabdian. Namun satu keputusan sederhana: memercayai orang, perlahan menggerus seluruh fondasi hidupnya.
Tabungan terakhir hasil penjualan mobil pribadinya, simbol kesiapan menghadapi hari tua lenyap satu per satu. Ia ditipu oleh orang-orang terdekat: sahabat yang menggadaikan kendaraan lalu menghilang bersama kebohongan, rekan kerja yang menjaminkan surat tanah fiktif dan memutus semua jejak, tetangga yang membawa kabur uang dengan dalih usaha.
Semua datang dengan wajah akrab, semua pergi dengan keheningan yang mematikan. Untuk menutup lubang pengkhianatan itu, Burhanudin mengorbankan segalanya. Gaji dan tunjangannya habis tersedot cicilan bank. Ia bekerja tanpa hasil, bertahan tanpa pegangan Dan tragedi sesungguhnya justru lahir di rumah tempat yang seharusnya menjadi Pulang sekaligus perlindungan terakhir.
Istrinya saat ini merupakan istri yang kedua setelah istrinya yang pertama meninggal karena sakit, ketika istrinya meninggal anak-anaknya masih kecil sehingga ia menikah kembali dan mendapatkan satu anak dari istri ke dua, Dari awal pernikahan hidupnya selalu bahagia serta mencukupi dan membahagiakan istrinya dan selama bertahun-tahun hidup dalam kecukupan hasil kerja Burhanudin, saat ini ketika Burhanudin menghadapi permasalahan sang istri berubah menjadi algojo paling kejam. Di hadapan rekan dan lingkungan, ia melucuti martabat suaminya dengan kata-kata hina, merendahkan, dan memalukan. Burhanudin tidak hanya kehilangan uang, tetapi juga harga diri, kehormatan, dan posisi sebagai lelaki di rumahnya sendiri.
Dalam senyap, Burhanudin menanggung semuanya seorang diri. Ia tidak kabur apalagi mengeluh. Ia hanya perlahan runtuh, menyaksikan bagaimana kepercayaan menghancurkan masa depan dan bagaimana rumah bisa menjadi tempat paling menyakitkan untuk bertahan hidup.
“Erosi Martabat” merupakan kisah tragis tentang seorang lelaki yang ditipu oleh teman, dilucuti oleh keadaan, dan dihancurkan oleh kata-kata di rumahnya sendiri. Sebuah potret pahit tentang kepercayaan yang disalahgunakan, cinta yang kehilangan adab, dan martabat yang terkikis sebelum usia pensiun tiba.
KEHANCURAN YANG DATANG
Burhanudin adalah lelaki paruh baya yang hidupnya nyaris selalu rapi. Rapi dalam berpakaian, rapi dalam bekerja, rapi pula dalam menjaga nama baik.
Di kantor tempat ia bekerja, ia dikenal sebagai pegawai senior yang tenang, tidak banyak bicara, namun selalu bisa diandalkan. Tiga tahun lagi ia pensiun, usia yang seharusnya menjadi masa memetik buah dari puluhan tahun pengabdian.
Ia berasal dari keluarga terhormat. Ayahnya yang berpengaruh di wilayahnya dan keluarga besarnya sudah melaksanakan “Haji”, ibunya perempuan sederhana yang mengajarkan satu hal: harga diri lelaki tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, melainkan seberapa jauh ia bertanggung jawab dan Burhanudin hidup dengan prinsip itu.
Mobil pribadinya ia jual diam-diam, Bukan karena ia miskin, tapi karena ia ingin menyiapkan hari tua. Tabungan hasil penjualan itu adalah benteng terakhir: simpanan yang seharusnya menjadi alas kaki saat masa pensiun tiba. Namun ia lupa satu hal: Kadang kehancuran datang bukan dari musuh, melainkan dari orang-orang yang kita percaya,
“Orang jahat biasanya datang dengan ancaman. Penipu datang dengan wajah ramah dan janji kenyamanan.”
JAMINAN PULSU BERNAMA KEPERCAYAAN
Deja dan Marni merupakan suami istrinya, Burhanudin berkenalan dengan mereka melalui Seorang teman yang berkerja sebagai tenaga keamanan di kantornya.
Mereka datang dan berkenalan dengan Burhanudin di kantor dan di anggap cepat akrab, suami Istri pandai berbicara, sopan, penuh senyum dan selalu menyebut Burhanudin sebagai “abang” dengan nada hormat.
Pertemuan itu merupakan misi suami istri untuk memperdaya Burhanudin, Mereka meminjam uang sebesar 60 juta, dengan jaminan sebuah kendaraan yang masih mulus dan bagus, suami istri itu menjamin bahwa kendaraan iti aman, dan pinjaman itupun hanya sementara untuk menutup kebutuhan keluarga serta membuat sertifikat tanah warisan yang akan di jual.
Beberapa bulan pertama, semua tampak normal, Suatu hari mobil di pinjam dengan uang sewa oleh doja dan marni selama 3 hari, lalu di pulangkan, Sehingga membuat mereka semakin akrab dan menguatkan kepercayaan.
Lalu suatu hari, mereka datang lagi untuk meminjam kendaraan untik “pulang kampung” Dengan alasan mengurus penjualan tanah warisan. Alasannya sederhana, terlalu sederhana untuk dicurigai oleh hati yang terlalu baik.
Setalah melewati hari yang di janjikan, ternyata kendaraan itu tidak pulang, di tunggu hari demi hari, tetap saja kendaraan belum pulang, dengan alasan masih di kampung dan tanah belum ke jual.
Hari demi hari, akhirnya Fakta itu terbuka, dan ternyata kendaraan itu telah disembunyikan di rumah saudara yang jauh dan Uang 60 juta pun tak kembali.
Setiap di tanya, Alasan demi alasan mengalir seperti hujan namun tidak masuk akal, banyak berkilah tapi tak pernah benar-benar membasahi dan memuaskan.
“Kejujuran tidak pernah butuh banyak alasan. Yang butuh cerita panjang biasanya kebohongan.”
Burhanudin mulai kehilangan tidur, namun ia masih berpikir positif dan percaya: mungkin mereka kesulitan.
REKAN KERJA YANG MENGGADAIKAN MASA DEPAN
Suldin merupakan rekan Burhanudin kerja beda bagian. Ia Bukan orang asing, apalagi dalam lingkungan tempat kerja yang sama bahkan Mereka sering minum kopi bersama di kantin.
Ia menemui Burhanudin ketika jam makan siang dan mengutarakan tujuannya untuk meminjam dengan nominal 50 juta, Dengan alasan untuk kebutuhan karier dan itu hanya sebulan dengan Jaminan surat tanah milik saudaranya. Setelah dia mendapatkan pinjaman dari bank akan segera di kembalikan.
Sebulan berlalu, Dua bulan hingga Delapan bulan Tak ada kabar. Di Telepon pun tak diangkat, Pesan hanya dibaca, lalu sunyi dan Di kantor, Suldin selalu menghindar.
Suatu hari Burhanudin pernah berpapasan dengannya, mata Suldin menunduk, lalu Burhanudin tersenyum pahit lalu mengatakan, “Ada orang yang tidak sanggup mengembalikan uang, Tapi lebih tidak sanggup lagi mengembalikan tatapan. Silahkan menghindar terus, sebentar lagi, jalur hukum yang akan saya tempuh.”
TETANGGA, USAHA FIKTIF DAN ORANG-ORANG YANG MENGHILANG
Tidak hanya melalui Burhanudin, tapi juga melalui Istrinya, Satu demi satu tetangga datang yang tujuannya sama, “Meminjam Uang,” dengan Alasan klasik mulai dari modal usaha, kebutuhan mendesak, peluang emas.
Hari terus berganti, Kebenaran pun mulai terbuka, Uang pinjaman yang untuk modal usaha, Usahapun tak jalan dan Orangnya kabur. Di hubungi sudah tidak aktif dan nomornya sudah ganti. Alamat tempat tinggalnya sudah kosong.
Burhandunin akhirnya menyadari, kondisi saat ini Tabungannya itu habis, Bukan karena foya-foya, judi atau main perempuan, Tapi karena kepercayaan yang dibagikan tanpa perhitungan.
Masalah tak berhenti di situ, gaji dan tunjangan Burhanudin nyaris tak bersisa, semua untuk menutupi cicilan bank, utang yang ia ambil untuk menambal lubang dari pinjaman orang lain.
Ia bekerja, tapi tidak menikmati hasil kerja, datang ke kantor, tapi jiwanya tertinggal di rumah.
“Yang paling melelahkan bukan bekerja tanpa upah, Melainkan bertanggung jawab atas kesalahan orang lain.”
Permasalahan demi permasalahan terus bertambah dan Pukulan terberat bukan uang yang di pinjamkan atau gaji yang tidak mencukupi, Melainkan istri. Perempuan yang bertahun-tahun ia cukupi bahkan semenjak menikah dengannya, baik sang istri maupun keluarganya di angkat secara ekonomi maupun kehormatannya.
Perempuan yang setiap keinginannya dan fasilitasnya ia penuhi, bahkan Ia berkali-kali harus menunda keinginan sendiri. Kini, di depan teman-teman pegawai, di tempat umum, di mana pun ada telinga, istrinya selalu menghujat,
“Kamu itu laki-laki tidak berguna, bodoh dan gak punya otak, dari kebutuhan rumah, makan dan membayar sekolah anak tidak mampu, dan karena kamu saya menderita harus berjualan kesana kemari.”
Istrinya terus berbicara kasar tanpa memperdulikan tempat, “Coba kalau saya tidak jualan, kamu gembel gak akan bisa makan, dan kalau terus begini, saya lebih baik kamu tinggalkan saya.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti palu menghantam kepala Burhanudin. Ia diam. Bukan karena setuju, tapi karena lelah.
“Seorang lelaki bisa bertahan tanpa uang, Tapi sulit bertahan tanpa dihormati di rumahnya sendiri.”
Ia tidak ernah membela diri apalagi membuka cerita tentang uang yang habis karena orang lain.
Ia memilih menanggung semuanya sendiri, karena baginya, aib lelaki bukan untuk diumbar. Namun di hadapan hinaan, ia merasa telanjang. Tidak bermartabat, Tak berarti.
“Ada istri yang menjadi rumah saat dunia runtuh dan ada yang menjadi reruntuhan itu sendiri.”
Setiap pagi Burhanudin bercermin Rambutnya makin memutih, Matanya terlihat cekung. Ia menghitung hari menuju pensiun bukan dengan harapan, tapi ketakutan.
Apa yang tersisa dari dirinya nanti?
Tabungan habis, Harga diri koyak dan Rumah tak lagi ramah dan hangat. Di balik semua itu, ada satu hal yang belum mati: kesadarannya.
AKHIR KISAH
Burhanudin tidak pernah benar-benar bangkit sebagai pemenang. Ia hanya belajar berdiri tanpa tepuk tangan, berjalan tanpa pengakuan, dan menua tanpa kehormatan yang dulu dijanjikan dunia kepadanya.
Hari-hari menjelang pensiun datang seperti senja yang muram. Bukan karena gelapnya usia, melainkan karena cahaya yang perlahan dipadamkan oleh pengkhianatan. Teman-teman yang dulu memanggilnya “orang baik” menghilang seperti debu disapu angin. Janji-janji yang ditandatangani di atas materai tidak lebih kuat dari asap rokok di ruang tunggu nasib dan rumah tempat yang seharusnya menjadi pelabuhan terakhir, justru menjelma medan penghukuman paling kejam.
Ia tidak miskin karena kehilangan uang. Ia runtuh karena kehilangan martabat.
Setiap hinaan sang istri merupakan paku terakhir di peti harga dirinya. Setiap ejekan di depan orang lain menjadi pengingat bahwa lelaki yang hampir pensiun ini tidak lagi dianggap suami, tidak lagi dianggap kepala keluarga, bahkan tidak lagi dianggap manusia yang layak dihormati. Semua pengabdian puluhan tahun lenyap hanya karena satu fase rapuh bernama “tak berpenghasilan”.
Di tengah reruntuhan itu, Burhanudin akhirnya memahami satu hal pahit yang tak pernah diajarkan di ruang kantor atau meja rapat:
“Tidak semua yang kau bantu akan mengingat jasamu. Tapi semua yang kau biarkan merendahkanmu, akan mengingat kelemahanmu.”
Ia berhenti menjelaskan dirinya pada dunia dan Berhenti berharap pada manusia serta berhenti meminta pengertian dari orang yang tidak lagi punya adab.
Burhanudin menua dengan luka yang tak terlihat, tetapi justru itulah warisan paling jujur dari hidupnya: sebuah kesaksian bahwa kejatuhan paling menyakitkan bukanlah bangkrut secara finansial, melainkan ketika seorang laki-laki kehilangan kehormatan di mata orang-orang terdekatnya.
“Uang bisa dicari kembali, Tapi martabat yang hancur di rumah sendiri, Sering kali tak pernah pulih.”
Dan di sanalah kisah ini berakhir Bukan dengan kemenangan, Melainkan dengan peringatan, Bahwa di dunia yang memuja hasil dan melupakan proses, Seorang lelaki bisa menghabiskan hidupnya bekerja jujur, Namun tetap mati pelan-pelan Oleh pengkhianatan teman Dan mulut orang yang seharusnya menjaga kehormatannya.
ARDHI MORSSE, JUMAT 16 JANUARI 2026







