Administrasi Penderitaan, Stabilitas Yang Menindas

Kisah fiksi ini bercerita tentang sosok Satria, seorang ASN golongan rendah bagian lapangan di ibu kota, yang hidupnya terjepit di antara laporan yang tak boleh terlambat dan hak yang selalu tertunda. Ia bekerja demi ketertiban dan stabilitas masyarakat, namun hidupnya sendiri tak pernah benar-benar tertib dan stabil.

Gaji kecil, tunjangan yang sering terlambat, tekanan birokrasi, serta kebutuhan keluarga yang terus meningkat menjadikan hidup Satria dan istrinya sebagai potret nyata kelas pekerja negara yang dipaksa patuh tanpa kesejahteraan. Di satu sisi, negara menuntut loyalitas dan disiplin absolut. Di sisi lain, negara gagal menghadirkan keadilan ekonomi bagi mereka yang paling setia bekerja.

Advertisements

Lewat kisah yang sunyi namun menghantam, Kisah ini membongkar bagaimana birokrasi tak lagi menjadi alat pelayanan publik, melainkan berubah menjadi mesin administrasi penderitaan terlihat rapi di atas kertas, kejam dalam kenyataan. Stabilitas dijadikan mantra suci, sementara ketidakadilan dilembagakan dan dinormalisasi.

Ini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan pegawai, melainkan tentang kekuasaan yang menjadikan penderitaan sebagai prosedur, dan tentang manusia-manusia kecil yang dipaksa bertahan di dalam sistem yang tak pernah benar-benar memihak mereka.

 

PENGANTAR PENULIS

 

Kisah ini tidak lahir dari kemarahan yang meledak-ledak, Melainkan dari kesunyian yang terlalu lama ditahan.

Di negeri ini, penderitaan sering kali tidak datang dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan dalam bentuk yang lebih rapi dan sah: regulasi, prosedur, laporan, dan ancaman administratif. Penderitaan dilegalkan, dicatat, lalu dilupakan.

Sebagaimana dikatakan G.W.F. Hegel, “Negara sering mengklaim dirinya sebagai perwujudan rasionalitas, Namun lupa bahwa rasionalitas tanpa kemanusiaan adalah kehampaan.”

Dalam praktiknya, negara kerap hadir sebagai kekuatan abstrak yang menuntut pengabdian, namun enggan bertanggung jawab atas kehidupan konkret manusia di bawahnya. Pegawai rendahan diminta setia, patuh, dan disiplin, tetapi kesejahteraannya diperlakukan sebagai variabel yang bisa ditunda.

Tan Malaka pernah mengingatkan dengan tegas, “Negara yang berdiri tanpa keberanian rakyat untuk berpikir Akan selalu berubah menjadi alat penindasan.”

Ketakutan kehilangan pekerjaan telah lama menjadi senjata paling ampuh untuk membungkam suara. Maka, kepatuhan diproduksi bukan dari kesadaran, melainkan dari ancaman. Di sinilah birokrasi kehilangan wajah manusianya.

Karl Marx menyebut kondisi ini sebagai alienasi, “Ketika manusia bekerja keras dalam sistem, Namun hasil kerjanya justru menjauhkannya dari kehidupan yang layak.”

Pegawai negara yang seharusnya menjadi tulang punggung pelayanan publik justru terasing dari kesejahteraan yang dijanjikan oleh negara itu sendiri. Mereka bekerja untuk stabilitas, tetapi hidup dalam ketidakpastian, Pramoedya Ananta Toer mengingatkan,  “Ketidakadilan bukan sekadar soal hukum, Melainkan soal siapa yang suaranya dianggap penting.”

Kisah dari cerita ini berdiri di sisi suara-suara yang jarang dianggap penting, mulai Pegawai lapangan, keluarga mereka, hingga kehidupan sehari-hari yang tidak pernah masuk dalam laporan kinerja. Sementara Soe Hok Gie pernah menulis dengan getir, “Yang paling berbahaya dari kekuasaan Adalah ketika ia merasa dirinya selalu benar.”

Stabilitas yang dipuja tanpa keadilan, Ketertiban yang ditegakkan tanpa kesejahteraan, Adalah bentuk penindasan yang paling halus karena sering kali diterima sebagai keniscayaan.

Kisah dari cerita ini tidak menawarkan revolusi instan, Tidak pula menjanjikan solusi teknokratis. Ia hanya ingin melakukan satu hal yang semakin jarang, Mengajak pembaca berpikir dan berani mengakui bahwa ada yang salah. Karena seperti yang diajarkan sejarah, Penindasan tidak selalu runtuh oleh teriakan,Tetapi sering kali dimulai dari kesadaran yang tidak mau lagi diam.

 

SESAK YANG TAK PERNAH DICATAT DALAM LAPORAN

 

Seorang ASN golongan rendah, petugas lapangan di salah satu dinas pemerintah kota madya itu bernama “SATRIA PERKASA” yang biasa di Panggil “SATRIA”. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar bangun, mengenakan seragam yang warnanya mulai pudar, sepatu yang solnya menipis, dan tas kerja berisi buku catatan lapangan yang lebih berat dari dompetnya.

Baca Juga   MAHLIGAI YANG RETAK OLEH PENGKHIANATAN

Beberapa bulan terakhir, dadanya sering terasa sesak, Bukan karena penyakit dan Bukan pula karena rokok atau kolesterol. Sesak itu datang dari sesuatu yang tak bisa dilihat dokter: angka gaji di slip bulanan yang selalu kalah oleh angka kebutuhan hidup.

Ia hafal betul nominal gajinya, bahkan di luar kepala. Angka yang jika ditulis terlihat rapi, tapi jika dihadapkan pada realitas, terasa menghina. Jauh di bawah UMR kota madya yang setiap tahun diumumkan penuh seremoni, seolah kesejahteraan itu benar-benar turun ke bawah, padahal hanya berhenti di baliho.

Di lapangan, Satria bekerja tanpa banyak bicara. Ia Bersama rekan-rekan Timnya Menertibkan, mengawasi, menegur para warga yang melanggar peraturan daerah, mulai dari para pedagang yang membuat kemacetan, mengganggu ketertiban hingga para anak jalanan, pengamen dan pengemis dari wilayah lain yang memenuhi lampu Merah kota madya.

Mereka Sering dimaki warga, kadang direkam dengan ponsel, tak jarang disalahkan. Tapi semua ia telan. Karena baginya, pekerjaan merupakan satu-satunya sandaran yang tersisa, meski sandaran itu rapuh.

Sore hari, ketika ia pulang ke rumah kecil yang berdiri di gang sempit. Istrinya sudah menunggu, bukan dengan keluhan, tapi dengan senyum yang terlalu dipaksakan, Senyum yang hanya dimiliki orang-orang yang sudah lama belajar menahan kecewa.

Istrinya menerima gaji Satria dengan tangan gemetar halus, Bukan karena kaget. Tapi karena sudah bisa menebak: uang itu akan habis sebelum bulan berakhir.

Padahal setiap bulan, Di meja makan, sudah terdapat daftar pengeluaran yang tergeletak seperti vonis, “Mulai dari Beras, minyak, gas, telur, Bekal sekolah anak, Uang les dan ngaji, Transportasi, Pulsa dan kuota, kebutuhan zaman yang tidak bisa ditawar,” Belum lagi biaya seperti, “Listrik yang tiap bulan seperti naik diam-diam, Les privat olahraga anak, demi masa depan yang entah benar-benar ada atau hanya penghiburan, Hutang di warung yang namanya sudah dicatat rapi oleh pemiliknya, Iuran koperasi, Uang kas anggot, hingga biaya-biaya tak terduga yang selalu datang tanpa izin,” Istrinya paham.

Ia tahu suaminya bukan pemalas. Ia tahu Satria sudah bekerja sampai batas tenaga dan harga diri, Maka tidak ada amarah yang ada hanya diam panjang, dan mata yang berkaca-kaca setiap kali malam tiba. Satria tahu istrinya menahan banyak hal dan justru karena itulah dadanya makin sesak.

Di tempat kerja, penderitaan tidak menemukan telinga. Pimpinan duduk di ruangan ber-AC, sibuk rapat, sibuk kunjungan, sibuk pencitraan. Mereka berbicara tentang ketertiban, ketentraman, dan kenyamanan masyarakat, kata-kata besar yang selalu jatuh ke pundak pegawai lapangan.

Tak ada yang berbicara tentang, Kesejahteraan, Upah layak atau Kehidupan pegawai golongan rendah Yang ada hanya target, laporan, teguran, dan ancaman sanksi.

Satria dan rekan-rekannya tidak berani mengeluh, Mengeluh dianggap tidak loyal dan Bersuara dianggap melawan, Diam dianggap patuh, meski pelan-pelan mati, Lebih menyakitkan lagi, mereka tahu siapa yang benar-benar menikmati anggaran.

Para pemimpin kota madya sibuk dengan proyek-proyek yang selalu berputar di nama keluarga, kerabat, dan kelompok yang merasa berjasa, Anggaran diperas untuk mengembalikan modal politik dan Jabatan dijadikan investasi, bukan amanah.

Sementara Satria? Ia bahkan harus menghitung ulang sebelum membeli rokok atau kopi di lapangan.

Tekanan datang dari dua arah, Di luar rumah: beban kerja yang tak sebanding dengan upah, sedangkan Di dalam rumah: kebutuhan hidup yang terus naik, tanpa kompromi. Akhirnya, pilihan satu-satunya hanyalah gali lubang tutup lubang, Pinjam ke sini, cicil ke sana. Lubang lama belum tertutup, lubang baru sudah menganga. Hutang menumpuk, tidur makin pendek dan sesak di dada makin sering datang tanpa aba-aba.

Suatu malam, Satria duduk di teras rumah, Anaknya sudah tidur dan Istrinya terlelap dengan wajah lelah. Ia menatap langit yang gelap, berpikir: Betapa anehnya hidup ini, Bekerja demi ketertiban masyarakat tapi hidupnya sendiri tak pernah tertib. Menjaga ketentraman orang lain, tapi rumahnya sendiri penuh kegelisahan.

Baca Juga   Hari Jadi Kota Tenggarong ke-240, Kapolres Kukar Hadiri Ziarah ke Makam Raja dan Sultan

Satria bukan ingin kaya, Ia hanya ingin cukup. Cukup untuk hidup tanpa hutang, Cukup untuk tersenyum tanpa pura-pura dan Cukup untuk pulang tanpa rasa sesak di dada.

Namun di negeri yang pandai berpidato tapi miskin empati, harapan sederhana sering kali menjadi permintaan yang dianggap berlebihan dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Satria hanya bisa menarik napas panjang, menahan sesak dan bersiap bangun esok hari untuk kembali bekerja demi sistem yang tak pernah benar-benar bekerja untuknya.

Hari-hari Satria berjalan di antara angka dan ancaman. Gaji pokoknya kecil, Tunjangan kinerja pun tidak pernah benar-benar bisa diandalkan.

Di atas kertas, tunjangan itu ada, di rekening, sering kali ia datang terlambat atau tertunda tanpa penjelasan. Ironisnya, laporan bulanan tidak pernah boleh telat, Salah satu terlambat setor laporan, teguran datang lebih cepat daripada hak yang tertunda.

Satria sering bergumam dalam hati, “Negara menuntut disiplin, tapi lupa bahwa disiplin juga harus adil.” Ia teringat satu kalimat dari Max Weber, sosiolog besar tentang birokrasi, “Birokrasi adalah mesin rasional yang menuntut kepatuhan mutlak, namun sering lupa pada kemanusiaan orang-orang di dalamnya.” Dan Satria adalah salah satu roda kecil dari mesin itu, Jika rusak, bisa diganti. Jika lelah, dianggap tidak profesional.

Menjelang bulan puasa, dada Satria makin sempit, Harga bahan pokok naik tanpa permisi. Kebutuhan sahur dan berbuka bertambah, Anak-anak mulai bertanya soal baju lebaran—pertanyaan polos yang terasa seperti tamparan sunyi.

Istrinya tidak menuntut. Justru itulah yang paling menyakitkan, “Kemiskinan paling kejam bukan ketika seseorang berteriak, Tapi ketika ia diam karena terlalu paham keadaan.”

Lebaran, yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, berubah menjadi kalender kecemasan.

THR tidak jelas, Tunjangan belum turun, Hutang warung makin panjang, Satria teringat pemikiran Karl Marx, “Kaum pekerja tidak kehilangan apa pun selain rantai yang membelenggunya.” Namun di sini, rantai itu bahkan tak kasat mata. Namanya loyalitas, disiplin, dan pengabdian.

Para pimpinan dan kepala pemerintahan tampil rapi di media. Pidato mereka penuh kata melayani dan mensejahterakan, Tapi di balik pintu rapat, suara pegawai rendah tidak pernah benar-benar dianggap ada.

Ketika ada yang berani mengeluh, jawabannya selalu sama, “Kalau tidak terima, silakan mengundurkan diri. Yang mau masuk masih banyak.” Kalimat itu sederhana, tapi menghancurkan.

Satria sadar, di mata mereka, Pegawai bukan manusia, Melainkan angka, formasi, barisan cadangan. Ia teringat Hannah Arendt, filsuf politik, “Kejahatan terbesar sering kali dilakukan bukan oleh orang jahat, Tetapi oleh orang-orang yang patuh tanpa berpikir.” Dan di ibu kota ini, kepatuhan menjadi mata uang paling berharga. Inilah wajah kehidupan di pusat kekuasaan, Di mana manusia menjadi serigala bagi manusia lain, seperti kata Thomas Hobbes, “Homo homini lupus,  Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya Yang berkuasa menekan, Yang memiliki jabatan menindas dan Yang di bawah dipaksa bertahan atau tersingkir perlahan.”

Satria tetap berangkat kerja setiap pagi, Tetap menegakkan aturan, Tetap menjaga ketertiban. Padahal hidupnya sendiri tak pernah benar-benar tertib, “Negara meminta pengabdian tanpa jaminan Dan menyebutnya sebagai pengorbanan.”

Di malam hari, Satria kembali duduk di teras rumah, Bukan untuk merencanakan perlawanan, hanya untuk menenangkan dadanya yang kembali sesak. Ia sadar, “Yang paling berbahaya bukan kemiskinan, Melainkan ketika ketidakadilan dianggap biasa dan di negeri ini, Yang luar biasa bukan penderitaan, Melainkan betapa lamanya penderitaan itu dibiarkan.”

 

SUNYI YANG BELAJAR BERPIKIR

 

Sesak di dada Satria kini tidak lagi datang tiba-tiba. Ia datang teratur, seperti gaji yang kecil tapi pasti, Seperti beban hidup yang tak pernah libur.

Baca Juga   Manusia Kecil Di Peta Dunia

Secara psikologis, Satria berada pada fase yang oleh para ahli disebut learned helplessness, yaitu “Ketika seseorang terus-menerus berada dalam tekanan, Hingga akhirnya berhenti berharap, bukan karena bodoh, Tapi karena terlalu sering dikecewakan.”

Ia tak lagi marah dan justru itu yang berbahaya, “Kemiskinan yang paling mematikan bukan yang membuat orang berteriak, Tapi yang membuat orang berhenti bertanya.”

Di depan anak-anak, Satria tetap menjadi ayah yang tenang, di depan istrinya, ia tetap suami yang bertanggung jawab. Namun di dalam dirinya, ada harga diri yang perlahan runtuh, bukan karena ia gagal bekerja, Melainkan karena kerja kerasnya tak pernah dihargai sebagai martabat manusia.

Istrinya merasakan itu, Sebagai perempuan, ia memikul beban ganda, “Mengatur dapur yang makin sempit dan menjaga jiwa suaminya agar tak patah. Ia jarang menangis, Bukan karena kuat, Tapi karena ia tahu, jika ia runtuh, Tak ada lagi tempat Satria bersandar.”

Dalam diamnya, sang istri mulai memahami satu hal pahit, “Bahwa negara sering kali hadir sebagai penagih kewajiban, Bukan sebagai penjamin kehidupan. Ia teringat kalimat Pramoedya Ananta Toer,  “Orang boleh pandai setinggi langit, Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.”

Mereka memang tidak menulis buku, Tidak berorasi, Tidak turun ke jalan. Namun penderitaan mereka tetap nyata, Hanya saja tak pernah dicatat.

Satria mulai membaca, Bukan karena ingin memberontak, Tapi karena pikirannya mulai mencari alasan, Apakah aku yang salah, atau sistem yang busuk?

Di salah satu buku lusuh, ia menemukan pemikiran Tan Malaka, “Selama rakyat tidak berani berpikir sendiri, Selama itu pula mereka akan diperintah oleh mereka yang berani.”

Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari teguran atasan mana pun. Ia sadar, ketakutannya selama ini bukan hanya pada kehilangan pekerjaan, Tetapi pada kehilangan identitas. Negara telah mengajarinya patuh, Tapi lupa mengajarinya berpikir.

Sementara itu, para pemimpin tetap berbicara tentang stabilitas, Tentang pengabdian, Tentang pengorbanan. Padahal, seperti kata Soe Hok Gie, “Yang paling berbahaya dari penindasan Adalah ketika ia dibungkus dengan kata ‘demi kepentingan bersama’.

Satria paham sekarang, Ia bukan malas, apalagi tidak bersyukur. Ia hanya hidup di sistem yang menganggap kesejahteraan pegawai rendah Sebagai biaya yang bisa ditunda, Sementara proyek dan kepentingan elite adalah prioritas mutlak.

Di ibu kota ini, kekuasaan tidak kejam karena marah, Tetapi karena tidak pernah merasa bersalah.

Malam terakhir dalam kisah ini, Satria dan istrinya duduk berdampingan di ruang tamu. Mereka Tak banyak bicara. Namun untuk pertama kalinya, mereka berbicara jujur. Bukan tentang hutang, Bukan tentang gaji, Tapi tentang rasa lelah yang selama ini disimpan sendirian.

Dan di situlah, sesak di dada Satria sedikit berkurang, Bukan karena hidup membaik, Melainkan karena ia tahu, Ia tidak sendirian Dan penderitaannya bukan kegagalan pribadi, Melainkan masalah struktural, “Negara yang besar bukan yang paling banyak menuntut rakyatnya, Tapi yang paling sungguh menjamin hidup mereka.”

Kisah Satria tidak berakhir dengan revolusi, Tidak juga dengan keajaiban. Ia berakhir dengan kesadaran, Bahwa diam terlalu lama hanya akan melanggengkan ketidakadilan dan mungkin, suatu hari nanti, Kesadaran kecil seperti ini Akan berkumpul, Menjadi suara dan menuntut negara Untuk kembali mengingat Siapa sebenarnya Yang selama ini memikul beban paling berat.

 

=======TAMAT======

 

ARDHI MORSSE, SENIN 2 FEBRUARI 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *