Cerpen : BATAS BY Ardhi Morsse

PENGANTAR

“Cinta yang mematikan harga diri bukanlah pengorbanan, Melainkan penundaan kehancuran.”

Advertisements

Dalam sunyi sebuah rumah yang tampak utuh, Raden Haryo Kusumo menjalani pernikahan sebagai ruang pengabdian tanpa suara. Ia bekerja, mengalah dan menghilang perlahan demi nama keluarga dan masa depan anak, hingga pengorbanan berubah menjadi kehilangan diri, Di hadapannya, Raden Ayu Ranta Purbasari, perempuan yang tumbuh dari rahim luka broken home, memikul masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai. Keintiman baginya bukan sekadar cinta, melainkan alat bertahan dari rasa ditinggalkan.

Ketika keamanan pernikahan justru melahirkan jarak, relasi suami-istri itu bergerak dari kehangatan menuju kekuasaan yang tidak disadari, “satu memberi tanpa batas, yang lain menuntut tanpa jeda.” Pengkhianatan jaji pernikahan hadir bukan sebagai dosa tunggal, melainkan gejala sosial, pelarian dari relasi yang timpang dan emosi terbungkam.

BATAS menyingkap pernikahan sebagai arena politik paling sunyi. Ia tempat tubuh, uang, peran gender, dan luka masa masa lalu saling bernegosiasi tanpa bahasa. Dalam rumah tangga ini, cinta bukan lagi soal rasa, melainkan soal posisi, siapa yang berhak berbicara, siapa yang wajib diam dan siapa yang terus berkorban demi stabilitas semu.

“Pernikahan yang sehat bukan tempat satu orang berkorban dan yang lain berkuasa, Melainkan ruang di mana dua luka bertanggung jawab pada dirinya masing-masing.”

Ketika Haryo berhenti menghilang dan memilih memasang batas, pernikahan diuji pada pertanyaan paling mendasar, “bertahan demi anak atau bertahan demi ketakutan?,” Cerita ini tidak menawarkan akhir bahagia yang mudah, tetapi mengajak pembaca menatap kenyataan pahit bahwa martabat sering kali harus diperjuangkan justru di tempat yang disebut rumah.

Dengan bahasa lirih dan psikologi yang tajam, BATAS merupakan kisah tentang cinta yang lelah, luka yang diwariskan dan keberanian untuk berkata cBATp, sebuah refleksi bahwa menyelamatkan diri bukanlah pengkhianatan, melainkan bentuk cinta paling dewasa.

 

RUMAH TANPA NAFAS

 

Cinta tidak selalu mati karena benci. Kadang ia mati karena satu orang terlalu lama menghilang demi bertahan.”

Raden Haryo Kusumo selalu pulang paling akhir. Bukan karena lembur, melainkan karena rumah itu tidak lagi memberinya jeda untuk bernapas.

Pintu rumah dibuka pelan, Lampu ruang tamu mmenyaladan Televisi hidup tanpa suara.

Baca Juga   Penyerahan Piala Kapolsek Teluknaga Juara Turnamen Mobile Legend

Terlihat di sudut sofa, Raden Ayu Ranta Purbasari duduk dengan punggung sedikit membungkuk, jarinya menari di layar ponsel, dunia yang lebih aman baginya dibanding tatapan suami sendiri. Tak ada sapaan, Tak ada tanya, Tak ada keluhan. Hanya jarak yang tumbuh subur di ruang sempit bernama pernikahan.

“Diam bukan tanda damai. Ia sering kali adalah bahasa terakhir dari jiwa yang kelelahan.” (Psikologi Relasional)

 

MASA LALU

 

Ranta dibesarkan oleh ibunya seorang diri, Ayahnya hanya legenda yang jarang disebut, bukan karena lupa, tapi karena luka. Ia tumbuh dengan satu keyakinan sunyi,

“cinta selalu datang dengan syarat, dan bisa pergi kapan saja.”

Di masa remaja, kehangatan ia cari dari pelukan-pelukan yang tidak pernah menjanjikan masa depan, bukan karena ia liar, melainkan karena ia ingin merasa dipilih, meski hanya sesaat.

Lalu datanglah Haryo Ketika Ia mulai memasuki dunia kampus, Haryo sosok laki-laki yang Tenang, Pekerja keras dan Tidak banyak bicara serta selalu hadir.

Di awal, Ranta mencintai dengan seluruh tubuh dan jiwanya, Karena saat itu, ia belum merasa aman dan orang yang belum aman sudah pasti mencintai dengan berlebihan.

“Manusia yang belum sembuh akan mencintai dengan intensitas,bukan dengan kestabilan.” (Teori Kelekatan – Attachment Theory)

Sepuluh tahun telah berlalu, Seorang anak laki-laki lahir dan sudah mulai menempuh kehidupan yang keras dan rumah itu berdiri dengan utuh, setidaknya dari luar.

Haryo setiap hari bekerja dengan giat, Ia menyerahkan seluruh penghasilannya untuk  membantu pekerjaan rumah, Mengurus anak, Menekan lapar, Menekan lelah dan Menekan harga dirinya sendiri.

Ia percaya, pengorbanan merupan bentuk cinta paling tinggi. Namun tanpa ia sadari, ia perlahan menghilang. Ranta tidak lagi melihat suaminya sebagai partner, melainkan sebagai sesuatu yang selalu ada dan karena itu, tidak lagi disadari nilainya.

Keintiman berubah menjadi kewajiban dan Pelukan menjadi jarang, Kata-kata menjadi tajam atau bahkan tidak ada sama sekali.

“Ketika satu pihak terus mengalah, hubungan tidak menjadi seimbang, ia menjadi pincang.” (Psikologi Pernikahan)

Karena pengaruh lingkungan tempat kerja, Ranta akhirnya berani mengkhianatu janji pernikahan, bukan karena Haryo buruk. Ia berselingkuh karena ia merasa tidak terlihat, bahkan oleh dirinya sendiri. Rekan kerjanya membuatnya tertawa, Mendengarkan ceritanya dan Membuatnya merasa hidup kembali, tanpa beban peran istri dan ibu.

Baca Juga   MAHLIGAI YANG RETAK OLEH PENGKHIANATAN

Ketika pengkhianatan itu ketahuan haryo, rumah itu meledak, Tangis, Amarah Dan akhirnya… diam.

Ponsel Ranta terkunci berlapis, Bukan hanya untuk menyembunyikan rahasia, tapi untuk melindungi diri dari rasa bersalah yang belum siap ia hadapi.

“Perselingkuhan jarang tentang seks. Ia hampir selalu tentang pelarian dari diri sendiri.” (Esther Perel)

 

TITIK BALIK

Suatu malam, Haryo tidak marah, Tidak berteriak dan Tidak memohon. Ia duduk berhadapan dengan Ranta dan berkata pelan:

“Aku memilih bertahan demi anak kita, Tapi aku tidak bisa hidup sebagai bayangan di rumah ini. Aku ingin memperbaiki pernikahan ini. Kalau kamu juga mau, kita cari jalan. Kalau tidak, katakan…agar aku tidak terus menyakiti diriku sendiri.”

Setelah itu, ia diam. Untuk pertama kalinya, Ranta melihat sesuatu yang berbeda di mata suaminya:

BATAS.

“Harga diri bukan tentang meninggikan suara, melainkan keberanian untuk berkata: sampai di sini.” (Psikologi Diri)

Haryo mulai menyisakan uang dan waktu untuk dirinya. Ia berhenti menjelaskan dirinya pada orang yang tidak mau mendengar. Ia tetap ayah yang hadir, Tetap suami yang sopan. Dan Tapi tidak lagi menghilang.

Sedangkan Ranta kebingungan, untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali, bukan atas Haryo, tapi atas pola lama yang selama ini ia kenal.

Mereka belum sepenuhnya sembuh. Namun rumah itu mulai bernapas lagi.

“Hubungan yang sehat bukan tentang siapa paling berkorban, tetapi siapa yang paling berani jujur tanpa melukai diri sendiri.”

Haryo memahami satu hal penting, “anak tidak membutuhkan ayah yang menderita, melainkan ayah yang utuh.” Ia memilih bertahan tanpa kehilangan martabat dan jika suatu hari harus melepaskan, ia akan melakukannya tanpa kebencian, demi jiwa anaknya tetap selamat.

“Bertahan demi anak tidak berarti mengajarkan anak bahwa menderita adalah bentuk cinta.”

Raden Ayu Ranta Purbasari dan Raden Haryo Kusumo belum tentu berakhir bahagia. Namun mereka belajar satu hal yang jauh lebih penting:

“Cinta tidak selalu harus diselamatkan. Kadang yang perlu diselamatkan adalah diri sendiri, agar cinta, jika masih ada, punya ruang untuk bernapas.”

 

Baca Juga   Cerita Fiksi “tanggal merah tak pernah sampai, yang libur hanya mereka”

AKHIR CERITA

Malam itu, rumah kembali sunyi, Tapi kali ini bukan sunyi yang menekan, melainkan sunyi yang jujur.

Raden Haryo Kusumo duduk di ruang tengah, tidak lagi menunggu Ranta berbicara, tidak pula berharap kata-kata akan memperbaiki segalanya. Ia telah sampai pada satu kesadaran paling dewasa dalam hidupnya: cinta tidak selalu harus dimenangkan, tapi diri sendiri harus diselamatkan.

“Diam terlalu lama adalah cara paling halus untuk menghapus diri sendiri. Kadang yang perlu diberi batas bukan pasangan, Tetapi rasa takut kehilangan yang selama ini kita sebut cinta.”

Di kamar lain, Raden Ayu Ranta Purbasari menatap layar ponsel yang kini tak lagi memberinya rasa apa pun, untuk pertama kalinya, ia merasakan kehilangan yang berbeda, bukan kehilangan lelaki, melainkan kehilangan kuasa atas seseorang yang selama ini selalu mengalah.

Di antara mereka berdiri anak mereka, tertidur pulas, tidak tahu bahwa orang tuanya sedang belajar satu hal yang tak pernah diajarkan siapa pun, “Bahwa rumah tangga bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bagaimana bertahan tanpa mematikan jiwa.:

Haryo tidak pergi, juga tidak lagi menghilang. Ia tetap ayah sekaligus suami. Namun kini dengan batas yang jelas. Ranta memahami, meski terlambat, bahwa cinta yang sehat bukanlah tentang siapa yang paling banyak memberi, melainkan siapa yang paling berani bertanggung jawab atas lukanya sendiri.

Rumah itu tidak sepenuhnya sembuh. Namun pada akhirnya, ia jujur dan di situlah perbaikan atau perpisahan yang paling bermartabat selalu bermula.

“Menyelamatkan diri bukan pengkhianatan. Itu adalah bentuk kejujuran paling mahal dalam sebuah hubungan.”

 

==========TAMAT=======

 

Ardhi Morsse, SELASA 27 JANUARI 2026

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *