Sinopsis: Cahaya Di Balik Bayang Rindu

PENGANTAR

“Cinta yang dewasa tidak meminta kesempurnaan, Ia hanya meminta kesadaran untuk kembali, Setelah kita terlalu jauh tersesat oleh ego.”

Advertisements

Di balik hiruk-pikuk ibu kota, hidup seorang aparatur negara bernama Raden Jagad Larang. Ia Seorang lelaki muda yang menjalani dua peran sekaligus: pelayan publik di siang hari, dan penyembuh batin di malam hari. Melalui siaran langsung di media sosial, ia menjadi tempat bersandar bagi banyak jiwa yang terjebak dalam luka rumah tangga, konflik batin, dan krisis cinta.

Suatu malam, Jagad Larang menerima pesan dari negeri seberang. Yasmin, seorang perempuan yang telah lima tahun menikah dengan Rizal, pengusaha sukses sekaligus politisi berpengaruh di Malaysia, tengah berada di ambang kehancuran rumah tangga. Yasmin adalah istri ketiga (Kedua istri sebelumnya sudah bercerai) dan justru menjadi saksi paling sunyi atas perubahan drastis sang suami.

Kelahiran anak perempuan mereka yang istimewa menjadi titik balik. Rizal, yang mendambakan penerus laki-laki “sempurna”, perlahan kehilangan empati dan tenggelam dalam ambisi politik. Dalam pusaran kekuasaan, ia terjerat hubungan dengan Tania, seorang janda politisi parlemen yang mendekatinya bukan karena cinta, melainkan kepentingan karier dan kekuasaan.

Sejak itu, Yasmin terasing dalam pernikahannya sendiri. Ia tak lagi dilibatkan, tak lagi didengarkan, dan harus membesarkan anaknya di tengah rumah yang kehilangan kehangatan. Pertengkaran, jarak emosional, dan rasa ditinggalkan menjadi bagian dari hidupnya.

Melalui bimbingan Raden Jagad Larang, Yasmin menemukan jalan penyembuhan, bukan hanya secara psikologis, tetapi juga spiritual. Jagad Larang menyadari bahwa masalah mereka bukan sekadar konflik rumah tangga, melainkan jeratan ambisi, energi gelap, dan kehilangan kesadaran akan makna cinta. Dengan pendekatan batin yang lembut, doa, dan pemulihan kesadaran, perubahan perlahan terjadi.

Rizal mulai tersadar, menjauh dari Tania, dan menghadapi kesalahan yang selama ini ia abaikan. Ia memilih kembali kepada istrinya, kepada anaknya, dan kepada cinta yang hampir ia hancurkan sendiri.

Cahaya di Balik Bayang Rindu adalah Kisah tentang cinta yang diuji oleh ambisi, tentang rumah tangga yang nyaris runtuh oleh ego, dan tentang harapan yang lahir dari kesadaran. Sebuah kisah reflektif yang menegaskan bahwa tidak semua luka harus berakhir dengan perpisahan sebagian hanya menunggu untuk disembuhkan.

 

RADEN JAGAD LARANG

 

Raden Jagad Larang hidup di dua dunia yang tak pernah benar-benar saling menyapa.

Siang hari, ia adalah Aparatur Sipil Negara di jantung ibu kota, berseragam rapih, bersepatu hitam mengilap, menjalankan tugas melayani masyarakat serta mejalankan perintah atasan yang penuh bahasa kekuasaan dan kepentingan.

Baca Juga   DI TERAS WAKTU: SURYA TERAKHIR MAJAPAHIT

Malam hari, ia menjadi dirinya yang lain, penjaga sunyi, penyelaras batin, dan pembaca luka manusia. Ia tidak pernah memamerkan keahliannya. Dunia supranatural datang padanya sejak hari kelahirannya, bukan karena dicari, tetapi diwariskan oleh garis nasib yang tak bisa ditolak.

Namun Jagad Larang memilih jalan tengah: ilmu itu dipadukan dengan psikologi keluarga, bukan untuk menakuti, melainkan menyembuhkan.

Live sosial medianya bukan tontonan sensasional. Ia berbicara pelan, penuh jeda, seolah setiap kata harus mendapat izin dari hati pendengarnya.

“Masalah rumah tangga bukan soal siapa yang salah,” katanya suatu malam,

“melainkan siapa yang pertama kehilangan empati.”

Di antara ribuan penonton, ada satu nama yang diam-diam menyimak dari negeri seberang: Yasmin.

 

PESAN DARI MALAYSIA

 

“Rumah tangga tidak hancur oleh orang ketiga, Melainkan oleh dua orang yang berhenti menjadi satu.”

Yasmin membaca kolom komentar tanpa ikut menulis. Ia sudah terlalu lelah untuk berbagi cerita secara terbuka. Hidupnya lima tahun terakhir adalah rangkaian penyesuaian yang tak pernah selesai.

Ia istri ketiga dua istri sebelumnya sudah berpisah. Bukan pilihan yang mudah, tapi dulu Rizal menjanjikan ketenangan, bukan kemewahan. Janji yang di awal ditepati, lalu perlahan menguap. Ketika live itu hampir berakhir, Jagad Larang berkata:

“Jika hatimu sesak, jangan melawan. Dengarkan. Karena sering kali, luka ingin didengar sebelum disembuhkan.”

Kalimat itu membuat Yasmin gemetar. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia mengirim pesan pribadi. Bukan keluhan, hanya satu kalimat:

“Tuan Raden, saya lelah mempertahankan pernikahan sendirian.”

Anak perempuan itu lahir dengan mata yang terlalu jernih namun sebelah wajahnya mendapatkan tanda hitam. Dokter menyebutnya “anak spesial” bukan kutukan, bukan juga kelemahan, hanya tak sesuai dengan harapan dunia yang seragam.

Bagi Yasmin, anak itu adalah doa yang menjelma namun Bagi Rizal, ia adalah cermin kegagalan egonya. Sejak hari itu, Rizal berubah, Bukan kasar, tapi dingin, Bukan marah, tapi menjauh, Ia mulai lebih lama di luar rumah, Mulai lebih sering menyebut rapat, agenda partai, dan pertemuan penting.

Yasmin tahu, ada sesuatu yang runtuh dalam diri suaminya, bukan cinta, tapi harga diri.

 

 TANIA

 

“Ambisi boleh membawamu ke puncak, Tetapi hanya empati yang mampu membawamu pulang.”

Tania muncul seperti cahaya di tengah gelap ambisi Rizal, Ia janda, politisi parlemen, dan perempuan yang tahu persis kapan harus tersenyum dan kapan harus menyentuh luka lelaki.

Baca Juga   Cerita fiksi " perjuangan rustam, harapan terakhir keluarga"

Tania tidak mencintai Rizal. Ia mencintai uang, pengaruh dan kekuasaan yang bisa diberikan Rizal. Mereka sering bersama rapat malam, acara partai, diskusi tertutup.

Dan sejak itu, Yasmin tak lagi diajak hadir dalam kehidupan sosial suaminya. Setiap foto Rizal bersama Tania yang tersebar di media adalah pisau kecil yang menancap perlahan di hati Yasmin.

Keributan menjadi bahasa sehari-hari, Bukan teriakan, melainkan diam yang panjang dan menyakitkan. Rizal pulang sebentar, lalu pergi lagi. Yasmin bertanya, Rizal menjawab seperlunya dan anak kecil itu tumbuh di antara ketegangan, seolah belajar bahwa cinta dewasa selalu disertai luka. Yasmin mulai kehilangan dirinya sendiri.

 

 PERTEMUAN BATIN

 

“Anak bukan dilahirkan untuk memenuhi ambisi orang tuanya, Melainkan untuk mengajarkan arti cinta tanpa syarat.”

Yasmin menelpon Raden Jagad Larang menelepon, Raden menjawab dengan Suaranya menenangkan, tanpa menggurui. Ia mendengar dan Hanya mendengar.

Setelah itu barulah ia berkata:

“Ibu tidak sedang gagal menjadi istri. Ibu hanya sedang bertarung sendirian.”

Ia memberi Yasmin latihan pernapasan, afirmasi dan doa sederhana, Namun ia juga merasakan ada gangguan lain, energi yang tidak murni mengikat Rizal.

Dalam keheningan malam Ibu Kota, Raden Jagad Larang melakukan laku batin. Ia melihat bayangan kecanduan kuasa, ambisi, dan pengikat nafsu yang tak kasat mata.

Tania bukan sekadar manipulatif. Ia menggunakan energi pengikat bukan untuk cinta, melainkan kendali.

Raden Jagad Larang tahu, ini tak bisa dilawan dengan kemarahan. Ia memulai penyelarasan jarak jauh. Bukan ritual menakutkan, hanya doa panjang serta mengalirkan energi pembersihan dan pengembalian kesadaran.

Kemudian Raden Jagad larang meminta Yasmin satu hal:

“Jangan membenci perempuan itu. Lepaskan.”

Hal tersebut memang Sulit, tapi Yasmin mencoba.

Perubahan Mulai Terjadi, Rizal mulai gelisah.

Tidurnya tak nyenyak. Ia merasa bersalah tanpa sebab, Tania terasa menjengkelkan. Sentuhannya tidak lagi menggetarkan.

Untuk pertama kalinya, Rizal bertanya pada dirinya sendiri: “Apa yang sebenarnya aku kejar?”

Suatu hari, Rizal pulang lebih awal. Ia Melihat Yasmin menyuapi anak mereka dengan penuh sabar.

Dadanya sesak, Ia duduk, diam, lalu berkata lirih:

“Aku banyak salah.”

Yasmin menangis bukan karena kalah, tapi karena akhirnya didengar.

Akhirnya,  Rizal memutuskan menjauh dari Tania. Ia mengajak Yasmin pergi ke luar negeri. bukan sebuah pelarian, melainkan pengakuan.

Di negeri asing, mereka belajar berbicara kembali, Belajar tertawa tanpa beban.

Yasmin menangis bahagia di bahu suaminya. Tangis yang lama tertahan. Ia akhirnya memahami bahwa,

Baca Juga   Penyerahan Piala Kapolsek Teluknaga Juara Turnamen Mobile Legend

“Tidak semua yang pergi ingin meninggalkan, Sebagian hanya tersesat dan menunggu diingatkan.”

 

CAHAYA YANG KEMBALI

 

Raden Jagad Larang menerima pesan dari Yasmin:

“Terima kasih raden. Rumah tangga kami selamat.”

Ia menutup ponsel, menatap langit Jakarta yang gelap.

Ia tahu, tugasnya bukan menyelamatkan pernikahan, Melainkan mengingatkan manusia bahwa cinta tanpa kesadaran akan berubah menjadi luka.

Dan malam itu, ia kembali live, berkata:

“Cinta yang sejati tidak menuntut kesempurnaan, Tapi kesediaan untuk kembali  meski telah tersesat jauh dan Doa yang paling kuat bukan yang diucapkan dengan keras, Melainkan yang disertai keikhlasan untuk memaafkan.”

 

PENUTUP

“Cahaya sejati tidak pernah memaksa terlihat, Ia hadir diam-diam saat bayangan berhenti disangkal.”

Pada akhirnya, tidak ada rumah tangga yang benar-benar runtuh karena orang ketiga, jabatan, atau kekuasaan. Ia runtuh karena dua hati yang berhenti saling mendengar, lalu membiarkan ego berbicara lebih keras dari cinta.

Raden Jagad Larang memahami satu hal yang tak banyak disadari manusia: bahwa manusia sering kali tersesat bukan karena gelap, melainkan karena terlalu silau oleh cahaya semu. Ambisi, pengakuan, dan gengsi kerap menyamar sebagai kebutuhan, padahal perlahan menggerogoti jiwa.

Yasmin tidak memenangkan pernikahannya dengan kemarahan, air mata, atau tuntutan. Ia memenangkannya dengan kesadaran, bahwa mencintai tidak selalu berarti menggenggam erat, melainkan berani melepaskan kebencian agar ruang pulang tetap ada.

Rizal pun belajar, bahwa kekuasaan tanpa empati hanyalah kesepian yang disamarkan oleh tepuk tangan. Anak yang ia anggap tidak sempurna justru menjadi cermin yang mengembalikannya pada hakikat sebagai manusia, bahwa cinta sejati tidak menuntut kelanjutan nama, melainkan kehadiran jiwa.

Dan Jagad Larang, dalam sunyi yang selalu ia pilih, kembali menegaskan perannya: bukan sebagai penyelamat, melainkan pengingat. Bahwa rumah tangga yang bertahan bukanlah yang tanpa luka, tetapi yang mampu menyembuhkan luka tanpa saling menyalahkan.

Cahaya itu selalu ada. Namun ia baru terlihat ketika manusia berani menatap bayangannya sendiri.

 

ARDHI MORSSE, SENIN 5 JANUARI 2026

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *