“Api Di Ruang Sunyi : Riwayat Haidar Dirga Arsanu”

 PENGANTAR

Api di Ruang Sunyi merupakan cerita pendek sastra politik yang menelusuri perjalanan batin dan ideologis Haidar Dirga Arsanu, seorang pemuda lulusan pesantren yang memilih jalan sunyi di tengah dunia aktivisme yang kian bising oleh kepentingan.

Advertisements

Ditempa enam tahun dalam disiplin pesantren, Haidar tumbuh sebagai pribadi keras, idealis, dan tak mengenal kompromi terhadap nilai. Ketika ia memasuki Fakultas Hukum dan aktif dalam organisasi mahasiswa Islam, ia melihat organisasi bukan sebagai tangga karier, melainkan alat perjuangan moral dan intelektual. Meski berasal dari keluarga mampu, Haidar menolak hidup nyaman. Ia mencukupi hidupnya dengan mengumpulkan barang bekas di kampus, berjualan bawang dari rumah ke rumah, serta membuka jasa konsultasi akademik—sebuah sikap hidup yang ia yakini sebagai bentuk kemerdekaan nurani.

Dalam dunia aktivisme, Haidar menjadi sosok yang lantang dan konsisten. Ia berkeliling Indonesia membangun cabang-cabang organisasi mahasiswa Islam, tidur di masjid, hidup dalam keterbatasan, dan berjuang demi cita-cita kolektif umat dan bangsa. Namun, perjuangan itu berbalik menjadi luka ketika organisasi yang ia besarkan perlahan berubah menjadi alat tawar kekuasaan. Senior-senior pragmatis mengendalikan struktur, menjadikan cabang organisasi sebagai komoditas politik dan proyek kepentingan.

Haidar difitnah, disingkirkan, dan dikhianati oleh sahabat-sahabat seperjuangan sekaligus orang-orang yang dahulu selalu bersamanya. Di titik itu, ia dihadapkan pada pilihan paling sunyi: bertahan dalam struktur yang busuk atau pergi dengan iman yang utuh. Ia memilih pergi.

Tanpa jabatan, tanpa organisasi, Haidar melanjutkan perlawanan dalam bentuk lain: menulis, mengajar dan mendidik di ruang-ruang kecil yang sering diabaikan sejarah. Api di Ruang Sunyi Menggabarkan kisah tentang idealisme yang kalah secara struktural, namun menang secara moral; tentang api keyakinan yang tak pernah padam meski tak memiliki panggung.

Sebuah cerita pendek tentang keberanian untuk sendiri, tentang iman yang menolak tunduk, dan tentang perlawanan yang terus hidup dalam sunyi.

 

 

 

MELANGKAH DARI GERBANG PESANTREN KE DUNIA KAMPUS

 

“Sejarah tidak selalu mencatat pemenang, tapi Tuhan selalu mengingat yang bertahan.”

Tidak semua api lahir dari amarah, sebagian lahir dari kesunyian panjang yang menolak padam. Haidar Dirga Arsanu memahami itu sejak lama. Sejak ruang-ruang sunyi pondok pesantren mengajarinya bahwa kebenaran tidak selalu berteriak, namun selalu terbakar diam-diam, konsisten  dan menyakitkan bagi siapa pun yang mendekat tanpa iman.

“Kesunyian bukan kekalahan. Ia hanya ruang bagi api untuk tumbuh lebih jujur.”

Selama Enam tahun di pesantren telah mengasahnya menjadi pemuda dengan keyakinan keras seperti batu karang. Ia belajar kitab, disiplin, dan hidup sederhana. Ia tahu caranya tunduk, tetapi hanya kepada Tuhan dan nilai, bukan kepada manusia yang menukar prinsip dengan keuntungan pribadi atau kelompok apalagi materi semata.

Baca Juga   Kearifan Lokal Rumah Adat Betawi Di Utan Jati Kalideres

Ketika Haidar telah menyelesaikan pendidikannya dan keluar dari gerbang pesantren, dunia menyambutnya bukan dengan karpet merah, melainkan dengan kenyataan yang tidak pernah Ia temui. Selanjutnya Ia masuk Fakultas Hukum, bukan semata-mata untuk mengejar gelar, melainkan untuk memahami senjata yang selama ini digunakan untuk menundukkan rakyat: hukum itu sendiri.

Keluarganya merupakan keluarga mampu, Orang tuanya sanggup menyokong biaya kuliah dan hidupnya. Tapi Haidar menolak hidup nyaman. Ia tidak pernah duduk di kafe mahal, tidak pernah mengenal pesta malam dan tidak tahu rasa hidup yang disebut “anak orang kaya”.

“Kesederhanaan yang kupilih lebih terhormat daripada kemewahan yang menidurkan nurani.”

Tahun-tahun pertama ia mengikuti kuliah dengan lancar seperti mahasiswa pada umumnya, pagi kuliah malam sudah di rumah.

Siang itu ketika baru selesai mengikuti perkuliahan, ia melihat adanya stand pendaftaran organisasi eksternal kamus yaitu organisasi mahasiswa Islam. Karena ia selama ini belajar di pondok pesantren dan kental dengan nuansa religius, akhirnya Ia mendaftar dan mengikuti pengkaderan.

Setelah pengkaderan dan resmi bergabung dengan organisasi mahasiswa Islam, Ia semakin banyak kegiatan setelah selesai kuliah, baik itu dalam forum-forum diskusi, baca buku maupun kegiatan organisasi lainnya.

Karena kesibukannya di kuliah dan organisasi yang padat, akhirnya dia meminta ijin kepada orang tuanya agar tinggal di rumah kontrakan yang dekat dengan kampus, Ijinpun diberikan dengan berbagai syarat dan nasihat-nasihat orang tua serta harus bertanggung jawab terhadap studinya. Karena biaya kuliah sudah di akomodir orang tua. Dia tidak mau semena-mena, akhirnya ia mulai berpikir untuk berusaha agar bisa membiayai kebutuhan hidupnya sendiri selama ia tinggal di kontrakan tanpa membebani orang tua lagi.

Ia pun berinisiatif mulai berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa mengganggu kegiatan kuliah maupun organisasi.

Demi bertanggung jawab terhadap hidupnya, apapun ia jalani yang penting halal dan tanpa mengeluh. Pagi hari, ia menyusuri lorong-lorong kampus, mengumpulkan botol plastik dan kertas bekas. Siang hari, ia menjajakan bawang dari rumah ke rumah. Malam hari, ia membuka jasa konsultasi skripsi, makalah, dan tugas akhir.

Ia pun akhirnya memenuhi kebutuhan hidup dari keringatnya sendiri, sebuah sikap yang dianggap aneh di kampus, bahkan oleh kawan seperjuangan. Namun itu menjadi kebanggaan untuk dirinya sendiri.

 

DINAMIKA KAMPUS DAN IDEALISME

 

Setelah Haidar bergabung dengan organisasi mahasiswa Islam. Ia cepat dikenal oleh sesama kader, bukan karena pencitraan, melainkan karena keberaniannya melawan arus. Ia tidak tunduk pada senior yang gemar berpidato tetapi tidak pernah turun melihat kondisi di lapangan dan kehidupan  rakyat secara langsung dan Ia menolak pragmatisme yang menyamar sebagai “kedewasaan berpolitik”.

Baca Juga   Damai Yang di rusak Hasutan

“Aku tidak anti strategi. Aku hanya menolak menjual nilai dengan harga murah.”

Dalam kegiatan organisasi, Ia sangat menonjol. Di ruang-ruang diskusi, Haidar keras. Di jalanan aksi, ia paling depan dan Di forum nasional, ia sering dianggap terlalu jujur dan karenanya itu dianggap berbahaya.

Ia berkeliling Indonesia bertemu para pengurus cabang organisasi mahasiswa Islam di kota-kota kecil. Kadang Tidur di masjid, makan seadanyabdan berdebat sampai dini hari tentang masa depan umat dan bangsa. Ia percaya organisasi merupakan alat perjuangan, bukan alat tawar untuk kepentingan kelompok dan golongan.

Perjuangan panjang itu tidak selalu berbuah manis, bahkan kadang kala justru memetik duri. Ia melihat sebuah realitas yang mengkhawatirkan, Cabang yang perjuangkan dan Ia bangun dengan darah dan air mata mulai menjadi Piala yang diperebutkan. Sahabat-sahabat yang dulu satu saf, mulai berbicara dengan bahasa proposal dan proyek.

“Idealisme tidak mati, ia hanya sering dibunuh oleh mereka yang dulu mengaku berjuang.”

Karena Ia Selalu memiliki pendirian yang teguh dalam menjaga marwag organisasi, apun terkena dampak negatif berupa Fitnah dan Disebut terlalu idealis, tidak loyal, bahkan dituduh ambisius.

“Pengkhianatan paling menyakitkan datang dari orang yang pernah sujud bersamamu.”

Para senior organisasi yang kini duduk di kursi empuk kekuasaan semakin hari semakin mengendalikan organisasi seperti papan catur. Cabang yang mulai ramai kader-kader baru dijadikan alat tawar untuk proyek, jabatan, dan legitimasi politik.

“Organisasi tanpa nilai hanyalah tangga kekuasaan.”

Walaupun Ia berjuang dan melawan namun Pada akhirnya, organisasi mahasiswa Islam yang ia bela berubah menjadi ruang transaksi. Rapat-rapat tidak lagi membahas kaderisasi, melainkan rekomendasi politik Dan Mimbar-mimbar dakwah digantikan lobi-lobi gelap.

Haidar berdiri di sudut ruangan kampus, ia menyaksikan kehancuran organisasi mahasiswa Islam dari dalam.

“Ketika organisasi tak lagi melahirkan keberanian, ia hanya pabrik legitimasi kekuasaan.”

Akhirnya memilih pergi, Bukan karena kalah tetapi karena menolak menjadi bagian dari kebusukan. Di cabang organisasi Tidak mempunyai jabatan struktural apalagi kekuasaan. Namun api di dadanya tetap menyala.

“Lebih baik sendiri dalam kebenaran, daripada ramai dalam pengkhianatan.”

Ia terus menulis, mendidik dan bergerak di ruang-ruang kecil tempat yang sering diabaikan sejarah.

“Aku mungkin kalah dalam struktur, tapi tidak dalam iman. Api tidak butuh panggung. Ia hanya butuh keyakinan Dan di ruang sunyi itu, Api tetap hidup.”

Baca Juga   Gelaran kompetisi seni budaya Mahasiswa Di Buka Wakil Walikota Tangerang

 

PENUTUP : MENANG KARENA KEYAKINAN IMAN

 

Haidar Dirga Arsanu tidak pernah mengikuti apalagi memenangkan pemilihan ketua cabang organisasi mahasiswa Islam, tidak mencatatkan namanya dalam struktur dan tidak duduk di kursi kekuasaan mana pun. Sejarah resmi mungkin melewatinya dengan dingin, seolah perjuangannya tidak pernah ada dan justru di situlah letak kekalahannya yang paling jujur sekaligus kemenangannya yang paling bermakna.

Ia kalah dalam sistem yang dibangun untuk mengabadikan kompromi kepentingan pribadi dan kelompok. Ia tumbang di hadapan struktur yang memuja loyalitas buta dan membenci nurani yang merdeka. Tetapi ia tidak pernah kalah di hadapan keyakinannya sendiri.

“Kekuasaan bisa merampas panggung, tapi tak pernah mampu mengalahkan kebenaran apalagi memadamkan iman.”

Ketika organisasi menjelma mesin transaksi, Haidar memilih menjadi manusia. Ketika senior menukar idealisme dengan akses dan proyek, ia memilih sunyi. Bukan karena takut, melainkan karena menolak ikut membusuk. Ia memahami satu hal yang sering dilupakan para pejuang karier: tidak semua perlawanan harus menang hari ini, dan tidak semua kebenaran membutuhkan pengakuan.

“Lebih berbahaya menjadi idealis yang dijinakkan, daripada pemberontak yang sendirian.”

Di ruang-ruang kecil, jauh dari spanduk dan sorot kamera, Haidar menyalakan api dengan cara paling sederhana: berpikir, mengajar, menulis, dan bertahan. Ia menjadi saksi bahwa ideologi bukan milik gedung megah atau organisasi besar, melainkan milik mereka yang sanggup menjaga konsistensi di tengah pengkhianatan.

kisah ini bukan tentang nostalgia aktivisme, bukan pula ratapan atas kekalahan. Api di Ruang Sunyi merupakan peringatan keras: bahwa ketika gerakan kehilangan nilai, ia hanya akan melahirkan elit baru yang lebih licin; dan ketika idealisme dijadikan komoditas, maka pengkhianatan akan selalu tampak rasional.

“Api tidak pernah mati. Ia hanya berpindah dari panggung ke hati.”

Dan selama masih ada satu orang yang menolak tunduk pada kebusukan, selama masih ada yang memilih sunyi daripada menjual iman, sejarah itu baik cepat atau lambat akan dipaksa mengingat. Karena perubahan besar sering kali tidak dimulai dari sorak-sorai, Melainkan dari api kecil di ruang sunyi.

 

ARDHI MORSSE, SENIN 19 JANUARI 2026

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *