Sidikpost.com- Tangerang kota—Desa Kayu Bongkok Kecamatan Sepatan merupakan salah satu wilyah padat di Kabupaten Tangerang ,Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), penduduk Desa Kayu Bongkok tahun 2016 mencapai 6.199 jiwa.
Mayoritas penduduk Desa Kayu Bongkok bekerja sebagai buruh dan pedagang kecil.
“Secara umum, kondisi akses air minum, dan sanitasi di Desa Kayu Bongkok masih perlu dibenahi.” Ujar kepala desa kayu bongkok.
Survei dasar akses air minum dan sanitasi (WASH) yang dilakukan USAID IUWASH PLUS menemukan bahwa sekitar 495 KK dari total sekitar 520 KK di RW I dan 2, Desa Kayu Bongkok masih mengandalkan air dari sumur gali dan sungai sebagai sumbernya.
Namun air dari sumur dan sumur tersebut keruh sehingga hanya bisa digunakan untuk mencuci.
“Untuk konsumsi air minum, warga biasanya membeli 4 hingga 5 botol (I botol -5 galon/20 liter) air isi ulang setiap bulan seharga Rp5.000/galon.” Kata Kepala desa kayu bongkok safrudin.
Sebagian kecil masyarakat mengambil air dari masjd sekitar secara cuma-cuma
Dalam hal akses sanitasi, sekitar 50 KK sudah mempunyai akses ke jamban dengan tangki septik kedap, 162 KK mempunyai jamba tanpa tangki septik kedap, dan sekitar 308 KK sisanya masih
menggunakan sarana MCK (Mandi, Cuci, Kakus) umum atau buang air besar di sungai.
Ir H. Didin Samsudin, M. Si Kepala Bappeda Kab. Tangerang mengatakan bahwa ” Sudah 5 tahun program sanitasi dan akses air bersih sudah ada di kabupaten tangerang , di diantaranya pembangunan wc pesantren , wc sekolah dan program 1000 jamban, sudah di jalankan namun masih terkendala dalam anggaran.
Menurutnya di tangerang bukan tidak ada program ,tetapi memang masih butuh pembenahan dan Program itu sudah di jalan kan target kita 80 persen, mudah- mudahan bisa tercapai target nya.
Rata-rata Penduduk desa kayu bongkok khususnya masyarakat RW I dan 2 tidak mampu membangun jamban dan tangki septik secara swadaya yang menelan biaya antara Rp3,5-4 juta per unit.
Untuk meningkatkan akses air minum warga desa Kayu Bongkok tersebut, pemerintah Kabupaten Tangerang membangun SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) komunal melalui program PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) pada tahun 2017.
Karena keterbatasan dana, PAMSIMAS hanya mampu melayani 40 sambungan dari instalasi PAMSIMAS rumah tangga kurang mampu atau sekitar 8% cari total rumah tangga di RW 1 dan 2.
Untuk membantu lebih banyak warga kurang mampu mengakses air minum PAMSIMAS dan sanitasi yang lebih baik, pemerintah Kabupaten Tangerang bekerja sama dengan USAID IUWASH.
Sedangkan Safran Edi Herianto Siregar, SH – Ketua DPD APERSI BANTEN mengatakan bahwa Apersi menyikapi warga yang mengambil air di kali itu kurang bagus, dan Apersi mendukung pembuatan iwash ini.
” Dari Apersi kita menyumbang kan Bio Tank dari rekanan kita sebanyak 2 tank” ungkap Safran Edi Herianto Siregar, SH –
Selanjutnya Wouter Sahanaya sebagai Regional Manager West Java, DKI Jakarta, Tangerang (WJDT) USAID IUWASH PLUS ” menyikapi tentang akibat penyakit air, salah satu sebab air kotor atau bakteri jahat Contohnya ada di suatu daerah mengambil air dari septitank tetangga dan penuh dengan bacteri ini, karena airnya tercemar.
” Kami memberikan dukungan dan mempasilitasi dengan Pemda dan Apersi, khusus untuk sanitasi dan air karena pemerintah tidak mungkin membiayai program yang besar ini dengan sendiri.” Tutur Wouter Sahanaya .
Dari kemen PUPR, ibu tiara mengatakan bahwa di indonesia masih ada sekitar 20 juta penduduk indonesia yang masih bermasalah dengan sanitasi dan akses air minum.
” Kita tidak boleh putus asa tentang pendanaan, mari kita bersatu bersama-sama mengentaskan masalah ini, salah satunya dengan dana CSR ini dan kami harap media juga dapat membantu pemberitaan yang positif tentang ini” pungkas Tiara.( Ls).













