Wisnu Putra Namaku, Aku Sudah Hampir Tujuh tahun mengenakan seragam cokelat ini, seragam Satpol PP yang katanya melambangkan ketertiban dan kewibawaan, Tapi tidak semua ketertiban terasa adil dan tidak semua wibawa datang tanpa luka.
Hari itu, seperti biasa, kami mendapat perintah untuk menertibkan PKL yang berjualan di trotoar Jalan Irigasi. Wilayah Kecamatan.
Aku sudah hafal wajah-wajah mereka: Bu Marni si penjual bawang dan bumbu-bumbu, Pak Darmin yang mendorong gerobak jual Pisang, Bang Dirman menggelar meja jual cabe, tomat dan bawang, Cak Ipul dan mba ida serta si kecil Fikri yang sering ikut ayah dan ibunya sambil mengerjakan PR di dekat gerobak sate jalannya.
“Segera kosongkan area ini. Ini jalan umum, bukan pasar,” kata salah satu rekanku dengan suara tegas. Megafon menambah tekanan, seperti perang psikologis yang tak pernah mereka minta.
Aku mendekati Bu Marni. “Bu, maaf… sudah ada peringatan sebelumnya. Ibu harus segera merapihkan dan memindahkan barang dagangannya.”
Bu Marni berhenti mengaduk dan menata barang dagangannya setelah di pilih-pilih pembeli. Ia menatapku, bukan dengan marah, tapi dengan tatapan sendu menghujam hati.
Kembali ku sampaikan dengan suara yang Halus, “Bu marni, berkali-kali saya sampaikan, tempat ibu berjualan ini melanggar peraturan, karena dapat mengakibatkan terganggunya Ketertiban masyarakat yang menggunakan jalan, ketentraman warga sekitar serta mengakibatkan kemacetan kendaraan yang melintas.”
“Pak Wisnu,” ucapnya lirih, mengingat namaku. “Kalau saya merapihkan dan mengkat barang dagangan, mau pindah kemana pak?, yang di ruko atau kios pasar sewanya mahal, belum premannya dengan alasan iuran keamanan, terus anak saya makan dan sekolah dari mana?, ini dari pagi baru ada dua pembeli,”
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, Tak ada dalam SOP kami, Tak pernah diajarkan saat pelatihan, Tapi suaranya menghantam langsung ke dada.
Aku menoleh ke arah Komandan Peleton yang sudah memberi aba-aba penertiban lapak-lapak dagangan sepanjang jalan irigasi.
Tubuhku gemetar saat melihat rekan-rekan personil yang bersiap menyita lapak-lapak dagangan. Tidak seberapa jauh dari tempatku berdiri, Fikri memeluk kaki ibunya, wajahnya pucat ketakutan, Ayahnya merapihkan gerobak jualan sate.
Bisikan itu datang… bukan dari luar, tapi dari dalam, dari dalam pori-pori yang terbungkus seragam wibawaku.
“Aku petugas, iya. Tapi aku juga manusia. Aku juga pernah lapar. Aku tahu rasa takut kehilangan.”
Lalu kulangkahkan kakiku mundur. Bukan karena takut, tapi karena sadar, aku tak bisa membungkam hatiku hanya demi laporan, foto dan menyenangkan Pimpinan.
Aku berdiri di antara Bu Marni dan petugas lain. “Tunggu,” ucapku. “Berikan mereka waktu merapihkan dan mengangkat barang dagangannya sendiri, Atau lebih baik… kita bicarakan solusi bersama.”
Semua rekan-rekanku dan para pedagang terdiam.
Mungkin aku akan ditegur pimpinan, Mungkin aku di beri sanksi di kantor, Tapi hari itu, aku memilih mendengar bisikan hatiku sendiri.
Hari itu, aku tahu:
Kami hadir demi ketentraman masyarakat. Tapi mereka berjualan demi bertahan hidup dan yang mereka butuhkan… bukan pengusiran tapi pemahaman dan Solusi seperti memberikan tempat berjualan yang tidak merugikan pedagang.
TAMAT
ARDHI MORSSE, 25 MEI 2025









