RACUN DALAM PELUKAN (Orang yang Selalu Merasa Benar)

SIDIK POST|PROLOG
Kehidupan manusia kadang kala seperti sebuah musim, orang-orang yang datang ke dalam hidup kita seperti hujan di musim kemarau. Ia membawa Angin kesejukan sekaligus membawa sebuah harapan serta membawa perasaan bahwa akhirnya kita telah menemukan tempat untuk pulang bagi sebuah perjalanan yang melelahkan.

Dalam sebuah perjumpaan mereka berbicara tentang cinta, kesetiaan dan masa depan. Kata-kata yang terdengar manis seperti madu, senyuman yang terlihat tulus dan perhatian yang seolah mampu menyembuhkan luka-luka lama yang pernah ditinggalkan oleh kehidupan.

Advertisements

Namun, begitulah realita kehidupan, tidak semua yang manis itu menyehatkan, Ada racun yang tidak terasa pahit, Ada luka yang tidak mengalirkan darah dan ada belenggu yang dibungkus dengan kata-kata indah bernama “cinta.”

Sebab, tidak semua yang memeluk kita sesungguhnya ingin menghangatkan, Sebagian hanya ingin memiliki, Sebagian lagi hanya ingin menguasai dan melampiaskan nafsu birahi.

Sebuah kehadiran absurd yang hanya ingin dicintai, tetapi tidak ingin memahami, ingin dihormati, tetapi tidak mau menghargai, ingin diterima apa adanya, tetapi tidak pernah mau memperbaiki dirinya dan ketika kenyataan tidak berjalan sesuai keinginannya, maka dunia dianggap salah.

Sosok Pasangan dianggap tidak tahu diri, Sahabat dianggap pengkhianat dan Keadaan dianggap tidak adil.

Semua orang dituduh bersalah, menusuk dari belakang, berkhianat, kecuali dirinya sendiri yang selalu “PALING BENAR”.

Karena bagi orang yang selalu merasa paling benar, meminta maaf merupakan kekalahan, mengakui kesalahan merupakan penghinaan dan introspeksi adalah sesuatu yang terlalu menyakitkan bagi ego dan kesombongannya.

Padahal, sebagaimana cermin yang retak tidak akan pernah bisa memantulkan wajah dengan utuh, manusia yang tidak pernah mau melihat kesalahannya sendiri akan terus hidup dalam bayangan yang ia ciptakan sendiri. Jiwanya Selalu gelisah sebelum mendapatkan kambing hitam untuk setiap kegagalan dan akan selalu menciptakan musuh untuk menutupi ketakutannya.

Ia akan selalu menuduh orang lain sebagai racun, padahal racun itu sesungguhnya sedang mengalir dari dalam dirinya sendiri dan yang paling menyedihkan, racun semacam itu jarang datang dalam bentuk kebencian.

Ia datang dalam bentuk perhatian, rayuan, belas kasihan, hingga dalam bentuk cinta. Sebab racun yang paling berbahaya bukanlah racun yang membuat seseorang mati seketika, melainkan racun yang perlahan-lahan membuat seseorang kehilangan harga dirinya, meragukan pikirannya sendiri, merasa bersalah atas hal yang tidak dilakukannyabdan akhirnya percaya bahwa dirinya memang pantas untuk disalahkan.

Konon, seperti seekor ular yang tidak selalu menggigit dengan taringnya. Kadang ia melilit dengan lembut terlebih dahulu, membuat mangsanya merasa aman, sebelum perlahan menghilangkan napas kehidupan sedikit demi sedikit.

Begitulah sebagian manusia. Ia tidak menghancurkan dengan pukulan, ia menghancurkan dengan kata-kata dan Tidak membunuh dengan senjata, Tetapi dengan penghinaan, ancaman, rasa bersalah dan permainan perasaan.

Ironisnya, Ia selalu melakukan manipulasi situasi dengan mengaku sebagai korban. Padahal dirinya yang menciptakan luka. Tapi Ia yang menangis seolah-olah merasa dikhianati, sementara pada saat yang sama, ia sedang mengkhianati kepercayaan orang lain.

Ia berteriak bahwa dirinya ditusuk dari belakang, padahal dirinya yang sibuk menusukkan prasangka kepada siapa pun yang tidak sejalan dengan keinginannya. Karena sesungguhnya, orang yang selalu merasa benar tidak sedang berperang melawan dunia.

Ia sedang berperang melawan dirinya sendiri dan selama ia tidak berdamai dengan bayangan yang ada di dalam hatinya, maka siapa pun yang mendekat akan berisiko menjadi musuh, menjadi tersangka atau menjadi tumbal atas kesalahan-kesalahan yang tidak pernah ingin ia akui.

Inilah kisah tentang persahabatan, cinta, luka dan manusia-manusia yang terjebak dalam cermin kesombongannya sendiri.

Tentang seorang perempuan yang hanya ingin dihargai, lelaki yang tenang menghadapi fitnah dan tentang seorang manusia yang menganggap dirinya selalu benar, sampai akhirnya kehidupannya sendiri berubah menjadi penjara yang ia bangun dengan tangannya sendiri.

Sebab ada pelukan yang menenangkan dan ada pula pelukan yang diam-diam menyimpan racun. Karena tidak semua yang memeluk, mencintai dan tidak semua yang mengatakan “aku takut kehilanganmu”, sesungguhnya sedang berusaha mempertahankan cinta. Kadang, Ia hanya takut kehilangan kendali dan dari situlah, tragedi sering kali bermula.

I. PERSAHABATAN, WARUNG KOPI DAN SPG

Suasana yang begitu hangat menjelang malam di Kota Madya. Lalulintas yang padat, Lampu-lampu kendaraan berkelebat seperti rombongan kunang-kunang yang datang melengkapi keindahan kota serta aroma kopi hitam dan asap rokok bercampur menjadi satu di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Tempat itu bukan sekadar kedai, melainkan persinggahan bagi orang-orang yang sedang lelah menghadapi kerasnya tantangan dan perjalanan hidup.

Di sana sudah berkumpul enam orang pemuda seperti malam-malam sebelumnya. Mereka diantaranya Teguh, Kusuma, Vino, Desta, Kurnia, dan Dimas. Mereka merupakan karyawan di perusahaan bengkel otomotif yang menangani kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun beberapa bulan terakhir, keadaan sedang tidak baik-baik saja. Omset perusahaan menurun drastis, di mulai dari Pelanggan yang semakin sepi, Bonus menghilang, lembur berkurang, hingga pendapatan bulanan yang biasanya cukup kini terasa semakin tipis.

Teguh mulai menyeruput kopinya secara perlahan, lalu ia berkata, “Kalau begini terus, entah sampai kapan kita bisa bertahan,” keluhnya.

Kusuma menghela napas panjang, lalu menimpali, “Harga kebutuhan naik semua, sementara gaji segitu-segitu saja, hanya mereka yang jadi pemilik dapur MBG yang sejahtera dan tidak takut dengan kenaikan kebutuhan hidup.”

Desta yang biasanya paling banyak bicara malam itu terlihat murung, diapun berbicara, “Anak istri di rumah butuh makan, belum lagi BBM baru saja naik, Kadang aku mikir, apa harus cari kerja lain.”

Tiba-tiba Kurnia menepuk meja, mengagetkan yang lainya, lalu berkata, “Hidup kita ini memang kadang seperti ban bocor. Kita sudah isi angin sebanyak apa pun, kalau tertusuk paku ya tetap kempes, terkecuali kalau kita bawa Motor MBG.”

“Hahahahahahha….” Mereka tertawa secara bersamaan, meski tawa itu terasa pahit.

Di antara mereka, haanya satu orang yang tampak tenang. Ia adalah Dimas.

Ia terlihat duduk santai sambil memainkan telepon genggamnya. Sesekali senyum tipis terlihat di wajahnya, Jemarinya sibuk membalas pesan beberapa pelanggan yang sudah menjadi langganan servis ketika ia sedang bekerja di bengkel.

Melihat Dimas yang tenang dan tampak tidak peduli, Vino berseloroh, “Masalah kerja lagi seret, kau malah sibuk chat perempuan mas.”

Dimas hanya menantapnya sambil tersenyum, “Kalau pikiran kita terlalu dipaksa memikirkan kesusahan, kesusahan itu akan tumbuh lebih besar dari kenyataan.” Jawabannya singkat.

“Bijak kali kau malam ini dim,” canda Teguh.

Dimas tertawa kecil, “Kata Orang tua dahulu, hujan tidak pernah berlangsung selamanya. Jadi kenapa kita harus panik?”

Belum sempat percakapan berlanjut, tiba-tiba telepon genggam Dimas berdering, terlihat panggilan Video call, “Riska,” Nama seorang perempuan yang muncul di layar depan handphone dan membuatnya tersenyum.

Dimas segera mengangkat panggilan itu, terlihat di layar handphonenya seorang perempuan berwajah ramah dengan senyum hangat.

“Haiiii Bang Dimas, lagi ngapain?” tanya Riska.

“Ini Lagi ngopi sama anak-anak bengkel Ris.” Jawabnya santai.

“Udah Seharian kerja, ternyata nongkrong juga rupanya.” Risaka menjawab sambil tertawa kecil.

Riska merupakan salah satu pelanggan kecil dibengkel tempat Dimas bekerja. Usianya belum genap tiga puluh tahun. Tapi kehidupannya sudah di hadapkan pada kenyataan yang pahit. Ia seorang janda muda dengan dua anak laki-laki yang sudah bersekolah di SD Negeri Kota Madya. Dari Pagi hingga sore, kadang dari siang hingga malam hari ia bekerja sebagai SPG di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota madya.

Meskipun jalan hidupnya tidak mudah, Riska dikenal sebagai perempuan yang ramah, supel dan selalu berusaha tersenyum kepada siapapun.

Melihat Dimas sedang Asyik ngobrol melalui video call dengan perempuan cantik, Vino langsung mendekat.

Lalu spontan dia berkata, “Wah, siapa ini?”

Riska pun langsung tertawa.

“Halloooo.” Jawabnya

Vino yang memang pandai bergaul terutama kepada perempuan langsung ikut berbincang,

“Kenalkan saya Vino temenya Dimas.” Sapanya memperkenalkan diri.

“Oh iya, Bang Vino,,, salam kenal ya, saya Riska.” Jawab riska dengan senyuman ringan.

Perbincangan yang awalnya biasa saja berubah menjadi hangat dan panjang, Vino terlihat sangat antusias. Lalu sebelum pembicaraan selesai, Vino Memohon ijin meminta Nomor handphone Riska dan riska pun mengizinkan.

Setelah video call selesai, ia langsung mendekati Dimas, “Dim, lo denger kan, gua dah minta langsung sama riska, sini bagi nomor Riska.”

Dimas pun tertawa, “Kalau memang mau kenal lebih dekat dengan riska ya silakan.”

Tanpa banyak berpikir, dimaspun memberikan nomor riska kepada vino.

II. HUBUNGAN, PRASANGKA DAN KOPI PAHIT

Hari demi hari terus berlalu begitu cepat, Hubungan Vino dan Riska pun semakin dekat. Vino yang dikenal sebagai pria yang berasal dari keluarga berada. Penampilannya rapi, tubuhnya tegap dan wajahnya bersih sehingga cukup mudah menarik perhatian bagi seorang perempuan.

Sementara Riska, yang sudah cukup lama menjalani hidup sendiri, perlahan ia mulai membuka hatinya untuk vino.

Setiap waktu mereka saling berkirim kabar melalui pesan WhatsApp, lalu Mereka pun membuat janjian untuk bertemu jalan bersama, Menikmati makan malam serta Berbagi cerita, lalu mereka Akhirnya, mereka menuju Hotel “Mekar Indah” Membawa Motor Berboncengan dengan berhimpitan mesra, Vino tersenyum licik dan penuh gairah. Betapa tidak, Ia memandangi tubuh riska yang super montok dengan ukuran BRA-nya kira-kira 38, Dan pinggulnya, begitu menggemaskan. Sementara tatapan matanya, seolah ada rasa dahaga yang tertahan setelah sekian lama. Hmm.. rasanya itu membuat Vino tak sabar untuk melumatnya. Sehingga, begitu tiba di hotel, mereka bergegas chek-in di kamar nomor 301.

Baca Juga   TIM SEPAKBOLA KELURAHAN SALEMBARAN JAYA RAIH JUARA KE-1 PORCAM KE IX CAMAT CUP 2024

Di kamar hotel 301, dengan cahaya lampu remang-remang, Riska termangu memandangi Vino, Matanya meneliti leku-lekuk tubu Vino yang putih dan atletis, kemudian Riska berkata, “Bang Vino, buruan buka semua pakaian abang, jangan ada yang tersisa di tubuh abang.” Printahnya sambil tersenyum manja.

Vino’pun segera melakukannya dan Riska berdiri mendekatinya, Tak lama kemudian, jemari lentik riska sudah menelusuri lekuk-lekuk tubuh di hadapannya dan tangan riska nakal menggoda bagian sensitif Vino.

Laku Vino Segera memeluk Riska, dengan perlahan merebahkan Riska ke tempat tidur hotel dengan perlahan, Vino menatap wajah riska dengan penuh gairah, lalu membuka baju riska yang masih menutupi tubuhnya serta, segera membuka kancing BH-nya. Tangan Vino pun bergerak bebas mengusap buah dada riska yang super montok. Putingnya di pilin dengan lembut, mereka pun sama-sama hanyut dibuai kenikmatan dan terangsang tak karuan. Nafas mereka semakin memburu.

Di dalam cahaya remang Bibir Vino mengecup puting buah dada riska secara perlahan. Puting riska pun mengeras itu hingga kehitam-hitman.

Riska semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik rambut vino, sedangkan Vino tenggelam di celah buah dadanya yang membusung dan Mulutnya riska mendesah-desah, “Ssssssssshhhhhh.., ssssshhhhhh!”

Puting payudaranya yang kehitaman itu terus di jilati dan si sedoti vino berulangkali sambil di gigit perlahan-lahan. Lalu Lidahnya turun ke bawah bermain di pusar riska, sambil tangannya mulai mengusap- usap paha sang janda.

Tangan riska semakin kuat menarik rambutnya vino. Suaranya melenguh-lenguh. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya di tarik vino ke bawah. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah, tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yang telah melahirkan. Tangan vino pun mulai menyentuh lagi daerah kemaluan riska. Bersih tanpa bulu sedikitpun, lalu di usap-usap secara. Ketika lidah vino baru menyentuh kemalu riska, riska menariknya berdiri.

Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu, Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya hitam-hitaman. Cuma nafasnya saja turun naik. Lalu vinopun duduk di pinggir kasur sambil mendekap dan memeluk dengan gemas sambil lalu melumat mesra bibir ranum riska.

Sambil memegang puting susu riska, vino terus meremas-remas buah dada yang kenyal itu. Nafsu vino semakin hebat. Penisnya menyentuh pinggang, Lalu penisnya ke tangan riska. Digenggamnya penis vino erat-erat lalu diusap-usapnya.

Memang riska tahu apa yang harus dilakukan. Dipegangnya penis penis vino yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mata vino terpejam-pejam ketika lidah riska melumat kepala penisku dengan lembut. Penis vino dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya.

Bibir riska terasa menarik-narik batang penis vino, Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan nikmat.

Vino membuka lebar-lebar paha riska sambil mencari liang vaginanya. Disibak vagina riska yang telah basah itu. Lalu lidah vino menjilat dan melumat clitorisnya. Riskapun mendesah. Liang kemaluan riska semakin memerah, Bau kemaluannya semakin kuat. Vino jadi semakin terangsang. Seketika vino melihat air berwarna putih keluar dari lubang vagina. Tentu riska sudah cukup terangsang.

Riska semakin membuka pahanya ketika vino menjilat clitorisnya, Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku vino, sedangkan lidah vino sibuk merasakan kenikmatan yang telah dirasakan. Erangan riska semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutnya vino di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan.

“Gimana rasanya?” tanya vino lembut dengan nada manja.

Riska tidak menjawab, ia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Tanpa disuruh, Vino mengarahkan penisnya ke arah lubang vagina yang kini telah terbuka lebar. Lendir dan liur vino telah banjir di gerbang vagina riska.

Vino menggesek-gesekan kepala penisnya di cairan yang membanjir itu. Perlahan- lahan Vino menekan ke dalam. Tekanan penis vino memang agak sedikit susah. Terasa sempit, Riska pun menggelinjang seperti kesakitan.

“Pelan-pelan, Yank!”, ujar riska berharap, suaranya terdengar sesak.

Vino sekarang mengerti, lalu ditekan dan di masukkan penis vino perlahan-lahan. Di tekan punggungnya ke depan, Sangat hati-hati dan memeang terasa sempit. Lalu riska memegang lengan vino erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang.

Hanya sebagian penis vino yang masuk. Di biarkan sebentar penisnya berhenti, terdiam. Riska juga terdiam, Tenang. Sementara itu, vino memeluk tubuh riska dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut. Mulutnya dikecup sambil lidahnya dimainkan, Mereka memang sudah sangat bernafsu dan terangsang.

“Mau diteruskan..?” tanya vino kemudian.

Riska membuka matanya, di bibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan. Vino menekan penisnya ke dalam. Kemudian ditarik ke belakang perlahan-lahan dan dihentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan riska, mencengkram seluruh batang peni vino. Penis vino terasa seperti tersedot di dalam vagin riska.

Mereka mulai terangsang! Penis vino mulai memasuki kemaluan riska lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan. Mata riska terbuka menatap vino dengan pandangan yang sayu ketika penis vino mulai dikeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakan selanjutnya. Sedikit demi sedikit penis vino masuk sampai ke pangkalnya.

Riska mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penis vino di kemaluannya. Kadang-kadang punggung riska terangkat-angkat menyambut penis vino yang sudah melekat di kemaluannya. Berpuluh-puluh kali dimaju-mundurkan penis vino seiring dengan nafas mereka yang tidak teratur lagi. Suatu ketika vino merasakan badan riska mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggang vino. Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan.

“Aaahhhhhhhhhhhhhh……Aku Keluar bang,” desahan riska panjang.

Denyutan di kemaluan vino terasa kuat seakan melumatkan penisnya yang tertanam di dalamnya. Goyangan vino semakin kuat. Lehernya vina direngkuh erat sambil badan vino rapat menindih badannya Riska. Ketika itu seolah-olah vino merasakan ada denyutan yang menandakan air maninya akan keluar. Denyutan yang semakin keras membuat penisnya vino semakin menegang keras.

Riska mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya dan Goyangan vino semakin kencang. Kemaluan riska semakin keras menjepit penisnya. Di rangkul tubuhnya kuat-kuat. Vino terus menggoyang hingga tubuh riska seperti terguncang-guncang dan riska membiarkan saja perlakuan vino beserta Nafasnya semakin kencang.

Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya Vino sampai ke puncak. Air maninya muncrat ke dalam kemaluan riska. Bergetar badan vino saat mansaya muncrat. Riska mengait paha vino dengan kakinya. Matanya terbuka lebar memandangnya dengan Mukanya serius. Bibir dan giginya dicibirkan dan Nafasnya terengah-engah.

“Aaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh,,,,,” Vino mengerang agak kuat,

Lalu memuntahkan lahar maninya, tusukan penis vino dengan kuat menghunjam masuk ke dalam. Riskapun menggelepar-gelepar, Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke belakang. Vino lupa segala-galanya.

Untuk beberapa saat mereka merasakan kenikmatan itu. Beberapa sodokan vino memang membuat mereka sampai ke puncak bersama- sama. Memang hebat, Sungguh puas dan inilah untuk ke sekian kalinya Vino melakukan senggama dengan orang lain selain istrinya. Walaupun riska seorang janda, bagi vino dia adalah wanita yang sangat cantik.

Vino terbaring lemas di sisi riska. Mata vino terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati vino puas karena dapat mengimbangi permainan ranjang riska. Setelah saling melampiaskan hasrat masing-masing serta saling memuaskan dan akhirnya mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih.

Awalnya semua berjalan indah saling menyapa, memperhatikan, melepaskan rindu lewat pesan dan penuh cinta kasib.

Namun, Alam perlahan membuka tabirnya, langit yang tak selalu cerah, hubungan mereka mulai memperlihatkan awan-awan gelap.

Vino mulai terlihat memiliki sifat yang aneh, Ia meributkan hal-hal kecil bahkan sepele dan egonya selalu ingin menang.

Jika Riska lambat membalas pesan WhatsAppnya dia akan marah dan uring-uringan dengan kata-kata makian yang kasar, Tapi Jika dia yang lambat membalas pesan riska, Dia Tidak suka disalahkan.

Dan yang membuat riska heran, setiap kali mereka ribut hingga terjadi pertengkaran, selalu ada orang lain yang dijadikan penyebabnya, Orang itu tidak lain adalah Dimas.

Siang itu, ketika Riska sedang menghubungi dan berbincang seperti biasa dengan Dimas melalui Video call, mengenai pekerjaan di bengkel, mereka hanya membicarakan hal-hal biasa, “Bang Dimas, sekarang di bengkel udah mulai ramai lagi ya?” tanya riska santai.

“Belum terlalu ris. Masih lumaya sepi.” Jawab Dimas sekenanya.

“ohhh…Semoga cepat ramai lagi ya bang.” Kembali riska menyapa.

“Aamiin, terimakasih atas doanya ya ris.” Jawab Dimas Santai.

Bagi Dimas sendiri, percakapan itu tidak memiliki arti khusus, hanya sebuah sapaan teman sekaligus pelanggan tetap bengkel.

Namun, Hal berbeda ketika Riska menceritakan percakapan tersebut kepada Vino, entah mengapa pria itu mendadak marah dan uring-uringan tanpa sebab.

Baca Juga   Manfaatkan Lahan Kosong, Babinsa Dan Masyarakat Tanam Jagung

Tiba-tiba vino berkata keras, “Aku tahu! Pasti Dimas yang ngomongin hal-hal jelek tentang aku…!”

Riska secara spontan kebingungan dengan jawaban Vino yang kasar dan keras.

“Enggak ada, Dimas gak ngebahas abang, hanya cerita kerjaan dia.” Jawab Riska singkat.

“Kau jangan bela dia, dia itu mulutnya lemes, ember, orang-orang di jelekin, terutama aku!” Jawab Vino Ketus.

Vino mulai menuduh Dimas atas dasar prasangka sekaligus takut riska berpaling darinya, lalu kembali berkata kasar, “Dimas itu teman busuk, yang berani menjelek-jelekan di belakang!, dia yang mengenalkan aku sama kamu, tapi dia juga yang Menusuk dari belakang!”

Hari itu juga, Vino mendatangi tongkrongan mereka dengan wajah merah, “Kau ini teman macam apa, Dim?” katanya dengan nada tinggi.

Dimas menatapnya tenang, “Ada apa vin?”

“Di belakang Kau jelek-jelekkan aku, kau ingin merusak hubunganku sama riska?” Jawab Vino sambil nunjuk-nunjuk Dimas.

Dimas hanya mengernyitkan dahi, menatap Vino dengan santai lalu menjawab, “Aku tidak punya waktu untuk mengurus hidup orang lain vin, kerjaan aku banyak.”

“Halaah dim, Jangan Sok, Kau munafik!”, tuduh Vino.

Dimas menatapnya dan menghela napas, Lalu ia tersenyum kecil, “Vino, orang yang hatinya penuh prasangka akan melihat racun bahkan di dalam segelas air putih.”

Semua teman-teman dimas dan orang di warung kopi terdiam. Tetapi, Vino tidak mau mendengar, Ia terus berbicara panjang lebar seolah dirinya paling benar. Setelah puas melampiaskan amarah, ia pergi begitu saja.
Teguh yang sejak tadi menyaksikan Vino membentak dan menuduh dimas yang macam-macam hanya menggeleng, lalu berkata, “Dim, Kalau aku jadi kau, mungkin sudah aku pukul itu mulutnya Vino”

“Hahahahahhaaha,,,,” Dimas justru tertawa. Lalu berkata, “Mengapa aku harus marah, guh?”

“Dia sudah keterlaluan menuduh, memfitnah dan menghina kau dim.” Jawab teguh sambil menghisap rokok.

Dimas Pun menatap jalan raya yang ramai dan berkata pelan, “Lumpur tidak akan membuat langit menjadi kotor.”

Kurnia mengangguk pelan, lalu bertanya, “Maksudmu dim?”

“Orang yang baik belum tentu dipuji, dan orang yang buruk belum tentu sadar dirinya buruk.” Jawab dimas.

Desta pun ikut menyahut, “Kalau begitu, kau tidak sakit hati dim dengan tuduhan-tuduhan dan cacian Vino?”

Dimas pun tersenyum, lalu menjawab, “Singa tidak pernah sibuk menjelaskan dirinya kepada sekumpulan anjing yang menggonggong.”

Semua yang berkumpul malam itu tertawa mendengar kalimat dimas. Lalu Dimas melanjutkan dengan wajah tenang, “Kadang hidup mengajarkan kita bahwa tidak semua teman harus dipertahankan. Ada teman yang seperti pohon, memberi teduh. Ada juga teman seperti duri, semakin dekat semakin melukai.”

Dan dimas sudah memprediksi bahwa hubungan antara riska dan vino akan selalu membuatnya sibuk bahkan mungkin sampai membuatnya muntah.

Hari-hari berikutnya, Vino masih terus menjadikan Dimas sebagai kambing hitam setiap kali ia bertengkar dengan Riska. Tapi, Dimas tidak pernah membalas, Ia tetap bekerja seperti biasa dan Tetap memperbaiki mesin kendaraan para pelanggan dengan profesional serta Tetap tertawa bersama teman-teman yang tulus. Dimas tidak mempersoalkan jika dirinya selalu jadi kambing hitam bahkan tumbal dari hubungan toxic Riska dan Vino, Ia tetap menjalani hidup dengan tenang.

Suatu malam di akhir bulan, ketika hujan turun membasahi Kota Madya, Dimas duduk sendirian di warung kopi yang sama. Ia memandang rintik hujan sambil menyeruput kopi hitam dan menikmati setiap batang rokok.

Di kesendirian itu, Dimas teringat pesan ayahnya ketiaka dia masih duduk di bangku sekolah menengah.

“Nak, jangan takut kehilangan teman yang palsu Apalagi yang manipulatif, Takdir selalu memberi ruang bagi orang-orang yang tulus untuk datang padamu.”

Dan malam itu Dimas mulai mengerti, “Tidak semua orang yang datang membawa persahabatan. Ada yang datang hanya membawa pelajaran, Sebab kehidupan ibarat bengkel besar, Ada mesin yang rusak lalu diperbaiki, Ada baut yang longgar lalu dikencangkan dan Ada pula bagian yang sudah terlalu aus sehingga harus diganti.”

“Begitu pula dengan manusia, Tidak semua yang pernah berjalan bersama harus terus dipertahankan. Karena pada akhirnya, ketenangan jauh lebih berharga daripada memenangkan pertengkaran yang tidak menguntungkan apapun.”

“Dan sebagaimana kopi pahit yang selalu mereka minum di pinggir jalan Kota Madya, hidup pun memang tidak selalu manis. Tetapi orang-orang yang sabar tahu satu hal, bahwa rasa pahit bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan untuk memahami arti syukur, ketulusan, menjaga kesehatan mental dan kedewasaan.”

III. KATANYA CINTA, TAPI MENYAKITI ?

Waktu terus berjalan seperti arus sungai yang tak pernah berhenti. Hubungan percintaan Vino dan Riska yang pada awalnya dipenuhi tawa, bunga, dan janji-janji manis, perlahan memperlihatkan wajah Aslinya yang berbeda.

Di balik penampilan yang rapi, gaya bicaranya yang meyakinkan dan kebiasaannya menunjukkan kemewahan di hadapan orang lain, ada sesuatu yang mulai disadari oleh Riska, Sesuatu yang tidak terlihat di awal dan Sesuatu yang hanya akan tampak ketika rasa cinta mulai diuji oleh kenyataan.

Suatu malam, ketika anak-anaknya sudah tertidur, Riska menghubungi Dimas, Bukan untuk membicarakan cinta, apalagi untuk mengeluhkan nasib. Melainkan hanya ingin mencari pendapat dari seorang teman yang selama ini dianggapnya sangat tenang.

“Assalamu’alaikum… bang Dimas…” Sapa Riska ketika Panggilan di terima Dimas.

“Iya, Waalaikumsalam Ris.” Jawab Dimas dengan santai.

“Apa aku salah jika berharap laki-laki yang jadi pasangan itu mau berjuang bersama?” Suara Riska begitu pelan.

Dimas pun terdiam sesaat….

“Maksudnya Berjuang dalam hal apa ris?” Jawab Dimas.

“Ya berjuang hidup bang, Bukan soal kaya atau miskin. Tapi kalau aku lagi kesusahan, setidaknya ada perhatian.” Ungkap Riska.

Dimas pun mengangguk pelan meski hanya terdengar dari seberang telepon, lalu menjawab, “Setiap orang punya cara mencintai yang berbeda ris.”

Riska menghela napas begitu berat, lalu menjawab, “Tapi setiap kali aku bicara soal kebutuhan yang ku tanggung, Bang Vino selalu bilang…”

Lalu Riska menirukan suara Vino…..
“Aku benci bahas materi! Aku trauma sama wanita yang gila materi, Lo ngerti ngga!”

Riska tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar hambar… Ia lalu melanjutkan, “Padahal aku enggak pernah minta yang aneh-aneh, Kadang Cuma uang jajan atau sekadar bantuan saat anak beli alat sekolah.”

Dimas diam… Ia tidak8 langsung menjawab, Kemudian ia berkata pelan, “Orang yang tulus tidak akan menganggap kepedulian sebagai beban dan orang yang mencintai tidak akan menganggap pengorbanan sebagai penghinaan.”

Riska pun terdiam. Karena Ia menyadari, bahwa Semakin lama, hubungan mereka semakin sering diwarnai pertengkaran.

Ketika Riska lelah dan ingin mengakhiri hubungan, Vino justru berubah menjadi sosok yang berbeda, dengan suara penuh drama, ia berkata,“Kalau kau tinggalkan aku, lebih baik aku mati!”, “Aku sudah tidak berharga!,”
“Aku dikhianati! Aku ditusuk teman sendiri!”
“Aku dihancurkan orang yang aku percaya!”
Dan seperti biasanya, nama Dimas selalu disebut.
“Semua ini gara-gara Dimas!”
“Dia yang menghasut kau!, Dia yang mencuci otakmu!”
“Dia teman yang menusuk aku dari belakang!”
Padahal Dimas sendiri sama sekali tidak mengetahui pertengkaran yang sedang terjadi.

Suatu hari, Riska menangis. Ia tidak menangis karena tidak dicintai. Tetapi karena kata-kata yang keluar dari mulut Vino begitu kasar ketika sedang marah. Dia ingat kata-kata Vino dengan mengatakan,
“Kau perempuan enggak tahu diri riska!”
“Kau kan ada mantan suami, dia yang bertanggung jawab atas kebutuhan jajan dan alat sekolah anakmu bukan aku!”
“Kau ngomong materi, terlalu banyak menuntut!”
Kata-kata vino begitu menghantam hati Riska lebih tajam daripada pisau. Karena luka yang ditimbulkan oleh tangan mungkin akan sembuh. Tetapi luka yang diciptakan oleh lidah, kadang membekas bertahun-tahun.

Malam harinya, dengan suara bergetar, Riska kembali menghubungi Dimas.
“Bang dimas…” suara serak riska di handphone.
“Iya, Riska.” Jawab Dimas tenang.
“Kenapa orang yang bilang cinta justru paling sering menyakiti ya bang?”Suara riska yang serak menahan kesedihan.

Dimas pun terdiam cukup lama…. Kemudian ia menjawab dengan suara pelan… “Karena cinta dan rasa memiliki merupakam dua hal yang berbeda ris”
“Maksudnya bang?” Jawab riska.

Dimaspun kembali menjawab, “Orang yang mencintai ingin melihat pasangannya bahagia. Tapi orang yang hanya ingin memiliki, akan marah ketika pasangannya tidak selalu menuruti keinginannya.”

…..Riska pun menangis….

“Kadang aku merasa bersalah kalau membantahnya bang.” Suara riska pelan.
Dimas pun tersenyum tipis, “Perempuan yang mempunyai pendapat bukan berarti durhaka dan laki-laki yang berbeda pendapat dengan pasangannya bukan berarti dikhianati.”

Namun bagi Vino sendiri, semua kesalahan selalu berujung pada satu nama yang di anggap bersalah, Nama itu tidak lain adalah Dimas.
Ketika Riska mulai berani bicara, itu yang salah Dimas. Jika Riska tidak mau mengalah, itu yang salah Dimas dan Jika Riska menangis, itu kesalahan Dimas, Hingga Jika Riska ingin putus, itu juga salah Dimas.

Seolah-olah Dimas menjadi bayangan yang harus disalahkan atas semua keretakan hubungan mereka.

Padahal, seperti kata orang tua dahulu, “Cermin yang retak tidak pecah karena bayangan orang lain, melainkan karena dirinya sendiri.”

Baca Juga   PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Apresiasi Guru Lewat Program Tiket Gratis di Hari Guru Nasional 2025

Hingga suatu hari, Vino memberikan ultimatum pada riska, “Kalau kau masih mau berhubungan sama aku, hapus nomor Dimas!, Blokir dia!”

“Aku enggak suka kau masih komunikasi sama Dimas!, Kalau kau sayang sama aku, buktikan!”

Riska terdiam, lalu perlahan dia menjawab, “Bang Dimas hanya teman.”

Vino kembali membentak Riska, “Aku enggak peduli!, Dia yang merusak hubungan kita!”

Dan akhirnya, demi menghindari pertengkaran yang semakin panjang, Riska menghapus nomor Dimas lalu Memblokirnya.
Menghilangkan semua jejak komunikasinya terhadap dimas, Sementara itu, Dimas sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Ia tetap bekerja seperti biasa dan Tetap melayani pelanggan serta Tetap minum kopi di warung pinggir jalan bersama Teguh, Kusuma, Desta, dan Kurnia.

Suatu malam, Vino kembali datang dengan wajah penuh kemenangan. Seolah-olah ia baru saja memenangkan peperangan besar.

Dengan bangga ia berkata, “Aku sudah suruh Riska blokir kau.”

Dimas yang sedang menyeruput kopi hanya mengangguk.

“Oooh.” Jawab Dimas tenang.

“Cuma begitu?”, balas Vino.

“Iyaa.” Ucap Dimas Santai.

“Kau enggak marah?” tanya Vino.

Dimas tersenyum kecil, lalu berkata “Kenapa aku harus marah?”

Vino mengernyitkan dahi, lalu berkata, “Karena aku sudah menjauhkan riska dari kau.”

Dimas meletakkan gelas kopinya, Kemudian ia berkata tenang, “Vino, persahabatan yang baik tidak perlu dipaksakan dan komunikasi yang sehat tidak perlu dilarang.”

Semua teman yang sedang duduk bersama dimas terdiam.
Lalu Dimas melanjutkan, “Burung yang dikurung mungkin tidak terbang, tetapi bukan berarti ia merasa bahagia.”

“Kau menyindir aku?”, sela Vino.

“Aku hanya bicara tentang hidup Vin.” Jawab Dimas tenang.

Teguh dan yang lainya, sedari tadi mendengarkan hanya menggeleng.

Setelah Vino pergi, teguh bertanya, “Dim, kenapa kau sabar sekali?”

Dimas tersenyum sambil memandang ke arah jalan yang padat lalu lalintas, sambil menjawab, “Karena aku belajar satu hal.”

“Apa itu?” kata teguh.

“Orang yang damai dengan dirinya sendiri tidak perlu memenangkan setiap pertengkaran.” Kata Dimas sambil menikmati secangkir kopi.

Lalu Kurnia bertanya lagi, “Kalau Vino terus menyalahkanmu dim?”

“Hahahahhahah,” Dimas tertawa pelan. Lalu berkata, “Pohon mangga tidak pernah marah ketika dilempari batu. Justru karena berbuah, ia dilempari.”

Desta pun tersenyum, lalu berkata, “Kau memang aneh dim.”

Dimas menghabiskan kopinya, lalu menjawab, “Bukan aneh, Semakin dewasa, aku sadar bahwa tidak semua tuduhan perlu dijawab dan tidak semua kebencian perlu dibalas.”

Ia menatap lampu-lampu Kota Madya yang berkilauan di kejauhan.

Kemudian dimas melanjutkan, “Lagipula, orang yang selalu mencari kambing hitam biasanya sedang berusaha lari dari bayangannya sendiri.”

Dan malam itu, suara kendaraan yang berlalu di jalan raya terdengar seperti irama panjang kehidupan. Karena pada akhirnya, seseorang mungkin bisa mengendalikan pasangan dengan ancaman, amarah, atau rasa takut.
Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memaksa cinta tumbuh dengan cara menguasai. Sebab cinta yang sehat lahir dari rasa hormat, kepercayaan, dan kesediaan untuk bertumbuh bersama.
Sedangkan hubungan yang dipenuhi penghinaan, ancaman dan kebiasaan menyalahkan orang lain, pada akhirnya hanya akan meninggalkan kelelahan bagi mereka yang menjalaninya.
Dan sebagaimana kopi hitam yang perlahan mendingin di atas meja warung pinggir jalan itu, ada hubungan-hubungan yang pada akhirnya kehilangan kehangatannya bukan karena campur tangan orang lain, melainkan karena sifat-sifat yang tidak pernah mau diperbaiki oleh pemiliknya sendiri.

EPILOG

Pada akhirnya, waktu menjadi hakim yang paling jujur. Ia tidak pernah berteriak, tidak juga memihak. Tetapi ia selalu memperlihatkan siapa yang sebenarnya sedang membangun dan siapa yang sesungguhnya sedang merusak.

Di bawah langit Kota Madya yang terus berubah, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Bengkel-bengkel tetap membuka pintunya setiap pagi, warung kopi pinggir jalan tetap dipenuhi canda dan keluhan para pekerja, sementara manusia-manusia terus datang dan pergi, membawa cerita masing-masing.

Dimas masih seperti dulu, Sederhana, Tenang dan tidak banyak bicara. Ia mendengar banyak tuduhan tentang dirinya. Ia tahu namanya sering disebut dalam pertengkaran yang bahkan tidak melibatkannya. Ia tahu dirinya dijadikan kambing hitam untuk kesalahan yang bukan miliknya.

Namun, Dimas tetap memilih diam, Bukan karena takut, bukan pula karena tidak mampu membalas. Melainkan karena ia memahami sesuatu yang tidak semua orang mengerti, Bahwa tidak semua peperangan harus dimenangkan dan tidak semua orang pantas untuk diperdebatkan.

Malam hari, ketika mereka kembali berkumpul di warung kopi langganan, Teguh bertanya dengan nada penasaran, “Dim, kau ini bagaimana sih? Namamu dibawa-bawa terus bahkan Difitnah, disalahkan, dibilang pengkhianat. Tapi kau santai saja.”

Dimas tersenyum sambil meniup asap kopi panas yang mengepul dari gelasnya. Lalu dengan santai ia menjawab, “Atur saja, gimana baiknya.”

“Hahahhahaha,” Teguh tertawa. Lalu teguh berkata sambil menahan tawanya, “Itu jawaban apa dim?”

Dimas tersenyum kecil dan berkata, “Orang yang sedang tenggelam dalam amarah biasanya tidak sedang mencari kebenaran. Mereka hanya mencari orang lain untuk ikut tenggelam bersamanya.”

Desta menggelengkan kepala, sambil berkata, “Kalau aku jadi kau, sudah kubalas dim.”

Dimas memandang kendaraan yang berlalu di jalan raya, dan kembali berkata, “Kita tidak harus masuk ke setiap undangan pertengkaran.”

“Kau tidak sakit hati?”, tanya Desta kembali.

“Heheehehehe…” Dimas tertawa pelan, lalu berkata, “Kalau ada orang melempar sampah ke halaman rumah kita, apa kita harus melempar balik sampah ke rumahnya?”

“Kemudian?” sela teguh.

“Cukup bersihkan halaman sendiri.” Jawab Dimas Santai.

Semua terdiam, Kurnia mengangguk pelan, kemudian bertanya, “Berarti kau sudah memaafkannya ya dim?”

Dimas pun menggeleng dan menjawab pelan, “Memaafkan dan membiarkan orang terus menyakiti merupakan dua hal yang berbeda.”

“Lalu?” sela desta.

“Biarkan saja. Setiap orang akan bertanggung jawab atas sifatnya masing-masing.” Jawab Dimas, Kemudian Dimas berkata perlahan, “Ada penyakit tubuh yang bisa disembuhkan dokter. Tapi ada penyakit kesombongan yang hanya bisa sembuh jika orang itu sendiri mau mengaku bahwa ia sedang sakit.”

Dimas tidak pernah membenci Vino. Tetapi ia juga tidak lagi berharap terlalu banyak. Karena ia sadar, ada orang-orang yang begitu sibuk mencari kesalahan orang lain, sampai lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Ada orang yang selalu ingin dihormati, tetapi tidak tahu cara menghormati. Ada orang yang ingin dicintai, tetapi tidak pernah belajar mencintai dan ada orang yang ingin dimengerti, tetapi menolak memahami orang lain.

Mereka hidup dalam dunia yang dibangun oleh egonya sendiri. Sebuah dunia yang sempit, dunia yang selalu membutuhkan musuh. Sebab bagi orang yang selalu merasa benar, mengakui kesalahan merupakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan orang-orang yang mencintainya.

Dimas teringat pesan ayahnya ketika masih kecil, “Nak, jangan habiskan waktumu berdebat dengan orang yang menjadikan kesombongan sebagai agama dan dirinya sendiri sebagai nabi.”

Dulu ia tidak memahami maksudnya. Kini ia mengerti. Karena ada manusia yang tidak mencari solusi. Mereka hanya mencari pembenaran.

Ada manusia yang tidak menginginkan kedamaian. Mereka hanya ingin menjadi pemenang dan ada manusia yang tidak membutuhkan sahabat.

Mereka hanya membutuhkan penonton yang selalu mengatakan bahwa dirinya benar. Padahal, sebagaimana kata filsuf Yunani Socrates, “Orang bijak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui segalanya.”

Sedangkan orang yang diperbudak oleh kesombongan akan selalu menganggap dirinya paling benar, bahkan ketika seluruh hidupnya sedang runtuh sedikit demi sedikit.

Malam pun semakin larut, Warung kopi mulai sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang basah oleh hujan.
Dimas berdiri, Menghabiskan sisa kopinya. Kemudian merapikan jaket kerjanya.

Sebelum pulang, ia tersenyum dan berkata kepada Teguh, Kusuma, Desta, dan Kurnia, lalu berkata, “Hidup ini terlalu singkat untuk sibuk membalas orang yang tidak ingin memahami.”

“Lalu?”
Tanya Kusuma.

Dimas tersenyum, “Kalau memang dia merasa paling benar…”

Ia berhenti sejenak, Kemudian melanjutkan dengan tenang, “Ya sudah. Atur saja, gimana baiknya.”

Mereka semua tertawa.

Dan Dimas pun melangkah pergi meninggalkan warung kopi iitu, bukan sebagai orang yang kalah, bukan pula sebagai orang yang menang, melainkan sebagai seseorang yang telah memahami bahwa kedamaian lebih mahal daripada kemenangan yang dipaksakan. Karena sesungguhnya, ular tidak berhenti menjadi ular hanya karena kita menjelaskan bahwa bisanya berbahaya dan racun tidak akan berubah menjadi madu hanya karena kita berharap demikian.
Ada orang yang harus didekati, Ada juga orang yang cukup dihormati dari kejauhan dan ada pula orang yang sebaiknya dibiarkan berjalan dengan pilihannya sendiri, sambil menyerahkan segala urusan kepada waktu dan kehidupan.
Sebab pada akhirnya, bukan kemarahan yang menghabiskan manusia. Melainkan sifatnya sendiri dan bukan musuh yang paling berbahaya bagi seseorang. Melainkan bayangan dirinya sendiri yang tidak pernah ingin ia kenali.

========TAMAT======

ARDHI MORSSE, RABU 17 JUNI 2026

 

EDITOR:Muhammad Reza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *