JAKARTA —Sudah tiga hari, air keruh setinggi betis itu tak bergeming di Jalan Bangun Nusa Raya, Pakuwon, Cengkareng Timur. Hujan deras yang mengguyur Selasa lalu memang sudah berhenti, tapi genangan tak kunjung enyah. Jalan berubah menjadi sungai kecil, rumah-rumah bagai pulau-pulau yang terkurung air.
Bukan sekadar air hujan. Warga menunjuk satu penyebab yang mereka sebut sebagai “bom waktu” — puluhan kios permanen yang berdiri di atas parit, menutup rapat saluran air. Di bawahnya, lumpur dan sampah menumpuk, mengubur fungsi drainase yang seharusnya melindungi mereka.
“Setiap hujan datang, kami seperti dihukum,” ujar Eko, warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi. Nada suaranya campuran antara lelah dan marah. “Bongkar itu kios, baru banjir bisa hilang. Kalau tidak, kami hanya menunggu giliran terendam lagi.”
Genangan ini bukan sekadar menghambat lalu lintas. Jalan menuju Pasar Jaya Cengkareng dan akses ke Jalan Daan Mogot kini macet parah. Air yang terjebak di badan jalan merembes ke dalam rumah, menyusup tanpa izin.
Agus, warga lain, tak bisa menyembunyikan rasa iba melihat anak-anak sekolah. “Mereka jalan sambil mengangkat rok atau celana, sepatu di tangan, seragam basah kuyup. Setiap pagi begitu, setiap pulang sekolah pun begitu. Kapan mereka bisa belajar dengan tenang?” katanya.
Bagi warga, banjir Pakuwon bukan sekadar bencana alam. Ini adalah luka yang dibiarkan menganga, masalah yang mereka yakini bisa diakhiri jika keberanian untuk menertibkan kios liar benar-benar ada. Hingga saat itu tiba, air akan tetap menjadi tamu tak diundang yang bertahan terlalu lama. (*)











