Cinta Tak Pernah Di Dengar” (kisah tentang lelah yang diabaikan)

“Bukan karena cinta habis, tetapi karena tak ada lagi yang mau mendengar lelah satu sama lain.”

=======

Advertisements

Cinta Tak Pernah Di Dengar adalah potret getir sebuah rumah tangga yang runtuh bukan semata karena pengkhianatan, melainkan oleh kelelahan yang terus diabaikan dan cinta yang tak pernah benar-benar didengar.

Kamelia Putri biasa di panggil Lia, Ia menikah dengan Danu Budiman, seorang lelaki pekerja keras dengan karier gemilang. Demi Kamelia yang merupakan anak tunggal, Danu rela tinggal di rumah orang tua istrinya, menyerahkan seluruh penghasilannya, dan menekan egonya sebagai kepala keluarga.

“Lelah paling berbahaya adalah lelah yang tak pernah dianggap ada. Ia bekerja keras untuk keluarganya, namun tak pernah didengar saat ia meminta istirahat.”

Namun seiring waktu, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi ruang pertengkaran tanpa jeda. Campur tangan orang tua, tuntutan emosional, dan komunikasi yang timpang membuat cinta mereka perlahan terkikis.

Ketika Danu berpindah kerja ke dunia televisi nasional, jarak fisik berubah menjadi jarak batin. Di tengah lelah dan kesepian, hadir Tania, Ia perempuan yang memberi perhatian tanpa tuntutan dan mendengar tanpa menghakimi. Dari rasa nyaman, Danu terjerumus pada cinta lain yang berujung pada pernikahan siri, disembunyikan dari keluarga pertamanya.

“Ketika cinta pertama tak lagi mendengar, cinta kedua datang sebagai pelarian. Pengkhianatan bukan selalu soal berani mencinta, tapi tentang gagal bertahan.”

Sementara itu, Kamelia yang tengah mengandung anak ketiga terperangkap dalam sunyi, curiga, dan amarah yang tak menemukan jawaban. Hingga suatu hari, kebenaran terbuka dengan cara

paling menyakitkan. Pengkhianatan terungkap, keluarga pecah, dan perceraian tak terelakkan.

Cerita ini menelanjangi kenyataan pahit bahwa nafkah tak selalu menyelamatkan pernikahan, kesetiaan bisa rapuh ketika empati hilang, dan cinta, jika tak pernah didengar, maka perlahan akan mencari telinga lain. Sebuah kisah tentang rumah, luka, dan kegagalan manusia memahami orang yang paling dekat dengannya.

“Kadang, kita kehilangan bukan karena orang itu pergi, tapi karena kita tak pernah menggenggamnya dengan benar. Cinta tak pernah meminta sempurna, ia hanya ingin didengar.”

 

DI ANTARA PULANG DAN PERGI

Kamelia Putri, biasa dipanggil Lia. Ia sosok perempuan yang tumbuh sebagai anak tunggal, dibesarkan dalam rumah yang rapi, penuh aturan dan kasih sayang yang sering diwujudkan dalam bentuk perhatian berlebihan.

Sejak kecil, Lia terbiasa menjadi pusat semesta orang tuanya. Apa pun yang ia inginkan, sebisa mungkin dipenuhi. Bukan karena ia manja, melainkan karena ia tidak pernah belajar berbagi ruang batin dengan orang lain.

Ketika ia menikah dengan Danu Budiman, seorang lelaki pekerja keras yang bekerja sebagai manajer di perusahaan minuman ringan ternama, Lia merasa hidupnya lengkap. Danu sosok tenang, rasional, pekerja keras, dan jarang banyak bicara. Ia bukan lelaki romantis dengan kejutan-kejutan kecil, tapi ia setia dan bertanggung jawab.

Karena Lia merupakan anak tunggal, keputusan besar diambil, setelah menikah mereka tinggal di rumah orang tua Lia.

Keputusan itu tampak sederhana di awal. Bahkan terasa logis. Rumah besar, orang tua Lia karena ayahnya seorang pengusaha dan Danu berpikir ini bagian dari baktinya sebagai menantu. Ia menekan egonya sebagai lelaki yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga di rumahnya sendiri.

Tahun pertama berjalan baik dan penuh kebahagian, kemudian di Tahun kedua mulai muncul gesekan kecil dia antara mereka layaknya rumah tangga dan di Tahun ketiga, pertengkaran mulai menjadi menu rutin walaupun mereka sudah memiliki buah hati. Hingga tanpa terasa, tujuh tahun pernikahan berlalu dan mereka telah dikaruniai dua anak laki-laki.

Baca Juga   Belajar Di Youtube, Perakit Senjata Rakitan di Kukar ini Berurusan Dengan Polisi

Danu setiap hari bekerja keras. Gajinya tidak kecil, sekitar tiga puluh juta rupiah per bulan dan seluruhnya ia serahkan kepada Lia. Ia tidak pernah menghitung berapa yang dipakai, berapa yang disisakan. Ia percaya, karena baginya, rumah tangga harus di bangun dengan kepercayaan. Namun ternyata kepercayaan itu perlahan berubah menjadi senjata.

Setiap kali pertengkaran terjadi, selalu bermuara pada kalimat yang sama. “Kamu itu kepala keluarga, tapi hidup di rumah orang tua aku.” “Kamu kerja, tapi di rumah nggak kelihatan perannya.” “Uang segitu harusnya cukup, tapi kenapa selalu kurang?”

Sebagai manusia biasa, Danu mulai merasa lelah. Bukan lelah bekerja, melainkan lelah merasa tidak pernah cukup.

Ia pulang ke rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat, malah berubah menjadi ruang interogasi. Tubuhnya ingin rebah, pikirannya ingin diam, tapi rumah selalu gaduh oleh tuntutan yang tidak pernah selesai.

Hingga suatu hari, Danu memutuskan pindah kerja. Ia diterima di sebuah stasiun televisi swasta, posisinya strategis, lingkungannya dinamis, dan menuntut mobilitas tinggi. Ia sering keluar kota, liputan ke daerah, rapat hingga larut malam. Pulang ke rumah semakin jarang dan anehnya, Danu merasa lebih hidup.

Di kantor barunya, ia bertemu banyak orang. Salah satunya seorang perempuan bernama Tania.

Tania tidak cantik berlebihan. Tapi ia tahu cara mendengar dan kapan harus bicara dan kapan cukup diam. Ketika Danu mengeluh tentang lelah, Tania tidak menghakimi apalagi membandingkan. Ia hanya berkata, “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kadang, lelah itu bukan karena pekerjaan, tapi karena tak pernah dimengerti.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Danu, itu seperti air di tengah padang kering.

Perhatian kecil Tania dan pesan singkat menanyakan kabar, kopi hangat di sela kerja, senyum tanpa tuntutan, perlahan mengisi ruang kosong yang selama ini tak pernah ia sadari begitu luas.

Di rumah, Lia menunggu dengan harapan yang berbeda.Setiap Danu pulang, Lia berharap ia datang membawa rindu, membawa perhatian, membawa cerita, memanjakannya seperti dulu. Tapi yang datang hanyalah lelaki lelah yang ingin tidur.

Harapan yang tidak bertemu kenyataan menjelma amarah. Amarah menjelma pertengkaran. Pertengkaran membuat Danu semakin enggan pulang.

Ketika gaji bulanan mulai berkurang, Danu berdalih, “Di tempat baru, belum maksimal. Apalagi sebagai karyawan baru.”

Lia mulai curiga, tapi lebih memilih marah daripada bertanya dengan tenang.

Yang Lia tak tahu atau mungkin tak ingin tahu. Danu mulai menjalin hubungan dengan Tania. Awalnya sebatas teman biasa, sahabat curhat sesama rekan kerja hingga menjadi tempat pulang yang lain.

Mereka sering pergi bersama, dengan alasan kerja luar kota. Danu menemukan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, di rumah besar yang sunyi, Kamelia tengah mengandung anak ketiga. Perutnya membesar, emosinya mudah naik turun dan kesepiannya kian menebal.

Danu semakin jarang pulang. Anak-anak mulai bertanya, “Papa ke mana, Ma?” Lia tak punya jawaban selain diam.

Ia mulai merasa ditinggalkan, dikhianati, tapi juga tak pernah benar-benar bercermin: apakah selama ini ia mendengar lelah suaminya, atau hanya menuntut tanpa memberi ruang?

Baca Juga   PJU Bina Marga Kecamatan Kalideres Kunjungi Wilayah Rw.10

Di satu sisi kota, seorang lelaki memilih tinggal di luar rumah demi ketenangan. Sedangkan, disisi lain, seorang perempuan memeluk perutnya yang membesar, menahan tangis, merasa berjuang sendirian.

Tak ada yang sepenuhnya benar dan Tak ada yang sepenuhnya salah, Yang ada hanya dua manusia yang sama-sama lelah, namun lupa saling menggenggam ketika lelah itu datang.

Dan di antara pulang dan pergi itu, sebuah keluarga berdiri di tepi jurang, menunggu apakah masih ada keberanian untuk saling memahami, atau justru memilih jatuh dalam diam.

 

DI ANTARA MARAH DAN SUNYI

 

Setiap kali Danu pulang ke rumah, Kamelia justru semakin berubah. Bukan menjadi lembut karena rindu, melainkan semakin keras oleh akumulasi kecewa yang tidak pernah selesai. Nada bicaranya meninggi, kata-katanya tajam dan kesalahan kecil selalu dibesarkan seolah menjadi dosa besar.

“Pulang-pulang Cuma tidur!”, “Anak-anak jarang kamu perhatikan!”, “Kerja ke luar kota apa ke mana sebenarnya?!”

Pertengkaran itu jarang hanya berdua. Orang tua Kamelia yang sejak awal merasa rumah itu merupakan wilayah mereka, sering ikut masuk ke dalam konflik. Kalimat-kalimat seperti:

“Dulu kalau tidak sanggup, jangan menikah!”, “Laki-laki itu harus tahu diri tinggal di rumah mertua!”, “Uang saja tidak cukup, tanggung jawab itu sikap!”

Kata-kata yang tajam dan menyakitkan, Menjadi bumbu yang membuat api semakin besar. Danu semakin kehilangan ruang. Ia bukan hanya suami yang dimarahi, tetapi lelaki dewasa yang harga dirinya pelan-pelan dikikis di hadapan anak-anak dan mertuanya sendiri. Ia mulai merasa seperti tamu yang tidak diinginkan di rumah yang seharusnya ia sebut rumah.

Hingga akhirnya, Danu mengambil keputusan diam-diam. Ia lebih sering menginap di hotel atau penginapan kecil dekat kantornya. Bukan untuk bersenang-senang. Bukan pula untuk berfoya-foya. Ia hanya ingin tidur tanpa pertengkaran, bangun tanpa bentakan, dan menikmati sunyi yang tidak menghakimi.

Di tempat itu, Danu bisa menjadi dirinya sendiri, Seorang lelaki lelah yang hanya ingin istirahat. Karier Danu justru menanjak, dari satu stasiun televisi ke stasiun lain, hingga akhirnya ia diterima di perusahaan televisi nasional besar, dengan jabatan yang membuat penghasilannya jauh di atas karyawan biasa. Secara ekonomi, ia semakin mapan. Namun secara batin, rumahnya semakin jauh.

Kamelia tetap menerima dua puluh juta rupiah per bulan. Itu merupakan Jumlah yang bagi banyak keluarga sudah lebih dari cukup, Tapi bagi Kamelia, angka tidak pernah mengalahkan rasa. Ia merasa ditinggalkan, dikhianati secara emosional, meski belum memiliki bukti apa pun.

Di sisi lain kehidupan Danu, Tania hadir tanpa tuntutan. Tania tidak menanyakan kenapa Danu jarang pulang dan Tidak menghitung berapa uang yang ia beri, serta Tidak mengungkit masa lalu.

Ia hanya hadir dengan semua bentuk perhatian, motivasi, dan cinta yang membuat Danu merasa dihargai sebagai manusia, bukan hanya sebagai penyedia nafkah.

Pelan-pelan, hubungan itu melewati batas yang seharusnya tidak dilewati, Hingga akhirnya, dalam sebuah keputusan yang lahir dari rasa nyaman, pelarian, dan cinta yang terasa utuh, Danu menikahi Tania secara siri.

Pernikahan itu berlangsung di Puncak, Jawa Barat. Pernikahan dengan acara Sederhana. Tanpa kemewahan, Tanpa tamu ramai. Hanya beberapa saksi, udara dingin pegunungan, dan janji yang diucapkan dengan keyakinan penuh. Bagi Danu, itu bukan sekadar pernikahan. Itu menjadi rasa pulang.

Baca Juga   Mahfud: Rekomendasi Ombudsman ke Menteri Harus Dilaksanakan

Hari berganti, waktu terus berlalu, kebahagiaan yang disembunyikan selalu punya cara untuk menemukan jalannya sendiri.

Suatu hari, Danu pulang ke rumah Kamelia. Tubuhnya lelah setelah perjalanan panjang. Ia tertidur tanpa sempat mengunci ponselnya. Kamelia, yang sejak lama dihantui kecurigaan, tanpa sengaja atau mungkin dengan dorongan hati yang tidak tertahankan membuka handphone suaminya.

Chat itu pun terbuka, Nama seorang perempuan dengan ada percakapan yang terlalu hangat, serta Panggilan yang terlalu intim.

Dunia Kamelia seketika runtuh, Tangannya gemetar saat membuka media sosial. Ia menelusuri akun yang sama. Dan di sanalah ia melihatnya, Sebuah dokumentasi pernikahan. Foto sederhana, tapi penuh kebahagiaan. Wajah Danu yang tersenyum dengan cara yang sudah lama tidak ia lihat di rumah.

Tangis Kamelia pecah, Amarahpun menyusul Dan orang tua Kamelia pun ikut terbakar oleh rasa malu dan dikhianati.

“Kamu mempermalukan keluarga kami!”, “Kamu menghancurkan anak kami!”, “Kamu laki-laki tidak bertanggung jawab!”

Danu tidak membela diri. Kata-kata terasa sia-sia di hadapan luka yang telanjur menganga.

Akhirnya, Kamelia meminta berpisah dan menggugat cerai.

Proses hukum berjalan panjang dan melelahkan. Hakim menunda putusan hingga Kamelia melahirkan anak ketiganya. Di ruang persalinan, Kamelia menahan sakit sendirian, bukan hanya sakit tubuh, tapi sakit karena impian tentang keluarga utuh telah hancur.

Setelah kelahiran itu, perceraian dikabulkan, Tak ada sorak kemenangan dan Tak ada kelegaan sempurna.

Yang tersisa hanyalah: Seorang perempuan dengan tiga anak. Seorang lelaki dengan dua rumah tangga dan beban moral yang tidak ringan.

Dan anak-anak yang kelak tumbuh membawa pertanyaan tentang cinta, kesetiaan, dan luka orang dewasa, Karena pada akhirnya, perselingkuhan tidak pernah lahir dari satu orang saja dan perceraian bukan hanya tentang siapa yang salah, tetapi tentang siapa yang paling dulu berhenti mendengar.

 

PENUTUP : AKHIR SEBUAH KISAH

Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling lama memendam rasa tak didengar.

“Cinta tidak mati karena benci, ia mati perlahan karena lelah yang tak pernah ditanya.”

Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, berubah menjadi ruang penghakiman, hingga seseorang mencari telinga lain untuk sekadar didengar.

“Ketika pulang selalu berujung pertengkaran, pergi terasa seperti bentuk bertahan hidup.”

Tak ada pemenang dalam pengkhianatan dan tidak ada juara dalam perceraian yang ada hanya luka yang diwariskan serta anak-anak yang tumbuh dari reruntuhan janji.

“Kesetiaan rapuh bukan karena cinta kurang, tetapi karena perhatian tak pernah cukup.”

Dan cinta kedua bukanlah solusi, ia hanya pelarian dari cinta pertama yang terlalu lama diabaikan.

“Cinta yang tak pernah didengar akan mencari tempat lain untuk dimengerti.”

Karena sejatinya, lelah paling berbahaya Merupakan lelah yang tak pernah dianggap ada.

“Dalam perpisahan, tak ada yang benar-benar menang yang ada hanya kehilangan yang dibagi rata.”

 

========TAMAT======

 

ARDHI MORSSE, KAMIS 22 JANUARI 2026

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *